Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 128


__ADS_3

"Apa kamu tidak kasihan?" tanya Arya.


"Itu sudah pilihan mereka berdua, kenapa aku harus kasihan, kalau mereka sudah tau resikonya seperti itu, itu arti nya mereka sudah kuat dan bisa menghadapi nya." ucap Putri.


"Oh iya yah, ternyata kamu cerdas juga." ucap Arya.


"Sebaiknya kamu kembali ke kursi kamu, aku mau lanjut belajar." ucap Putri.


Arya menghela nafas panjang dia langsung duduk di samping Putri.


"Hari ini seperti nya Anisa tidak datang, aku akan duduk di sini." ucap Arya.


"Guru Akan marah." ucap Putri.


"Pak Dika sudah resmi ke Keluar dari sekolah ini, guru baru yang masuk, dia tidak akan tau aku duduk menggantikan Anisa di sini." ucap Arya.


Putri menghela nafas panjang.


"Bisa tidak sehari saja kamu tidak membuat ku kesal?" ucap Putri. Arya menatap putri. Dia menggeleng kan kepala nya.


"Seperti nya tidak bisa deh." ucap Arya.


Putri menghela nafas panjang.


Sementara di rumah Anisa sedang bersama kakaknya Marsel.


Semalaman Anisa tidak bisa tidur. Jadi kak Marsel tidak tega untuk marah. Tiba-tiba bel rumah nya berbunyi.


"Siapa yang datang pagi-pagi?" tanya Marsel. Marsel melihat nya keluar ternyata orang tua Dika.


"Maaf Bu, pak, mau mencari siapa yah?" tanya Marsel dengan baik dan juga sopan.


"Di mana Dika?" tanya Mamah nya Dika.


"Loh kok cari ke sini? Ini rumah saya." ucap Marsel.


"Ini rumah Anisa kan?" tanya orang tua Dika.


"Iyah memang ini adalah Rumah Anisa, tapi Dika tidak ada di sini." ucap Marsel.


"Tidak mungkin. Minggir kamu!" ucap orang tua Dika langsung masuk ke dalam.


"Dika! Dika! Keluar kamu!"


"Ada apa ini teriak-teriak? Dika tidak ada di sini Tante." ucap Anisa.


Orang tua melihat Anisa. "Kemana anak saya? Di mana dia? Kamu jangan menyembunyikan dia dari saya!" ucap Orang tua Dika.


"Saya tidak tau Tante, dia pergi meninggalkan saya tanpa kabar dari tadi malam." ucap Anisa.

__ADS_1


"Saya sudah bilang dari awal untuk menjauhi Putra saya! Sekarang semua nya jadi seperti ini!" ucap Orang tua Dika marah.


"Apa kamu tidak tau malu nya saya seperti apa? Saya sangat malu, karena kamu!" ucap orang tua Dika.


Anisa hanya bisa diam dia menunduk kan kepala nya.


Dika mengajarkan dia untuk tidak melawan orang yang lebih tua dari dia.


"Percuma saja saya ke sini, awas saja setelah ini kamu mendekati Dika!" ucap mamah nya Dika. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Rumah Anisa.


Marsel membantu adiknya Duduk di sofa.


"Sudah tidak perlu terlalu di pikirkan!" ucap Marsel.


"Kenapa semua nya jadi seperti ini kak? aku tidak menginginkan semua nya seperti ini." ucap Anisa.


"Jangan sedih lagi." ucap Marsel.


Di tempat lain.. Dika baru saja sampai di sebuah Rumah bertingkat, pekarangan yang indah tidak jauh dari pantai.


Dari sana masih terdengar suara ombak.


Dika turun dari mobil nya dia melihat rumah yang begitu minimalis itu namun sangat cantik.


"Den Dika.. Kenapa den datang tidak mengabari mamang terlebih dahulu?" tanya bapak-bapak yang baru saja menyapu halaman tua.


Dika menyalim tangan Bapak itu.


"Den Dika datang sendirian saja?" tanya mamang.


"Iyah mang." Jawab Dika. "Ayo silahkan masuk dulu, mamang buatin teh dulu." ucap mamang.


"Silahkan di minum den." ucap Mamang memberikan satu gelas teh


"Terimakasih mang."


"Den Dika sekarang semakin gagah saja, sudah tiga tahun den Dika tidak datang ke sini." ucap Mamang.


Dika tersenyum.


"Walaupun sudah lama rumah ini tetap lah seperti ini." ucap Dika. Mamang tersenyum.


"Bagaimana kabar den Dika di kota?" tanya Mamang.


"Baik-baik saja mang, sibuk bekerja setiap hari nya." ucap Dika.


"Jangan sibuk bekerja terus den, kapan lagi den Dika mencari pasangan hidup? Apa den Dika tidak ingin ada yang mengurus lagi?" tanya Mamang.


Dika tersenyum. "Ya sudah kalau begitu den Dika Istirahat lah di dalam saya sudah menyiapkan tempat tidur, dan rumah juga sudah bersih." ucap Mamang.

__ADS_1


"Mamang mau kemana?" tanya Dika.


"Saya mau pinggir pantai, melihat nelayan lain nya menangkap ikan." ucap Mamang.


"Oohh." ucap Dika. "Apa den Dika mau ikut?" tanya Mamang. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Saya mau istirahat saja mang, saya sudah sangat lelah beberapa lama di perjalanan." ucap Dika.


"Oohh ya sudah kalau begitu." ucap Mamang. Dika pun masuk ke dalam dia melihat isi rumah yang tidak ada berubah nya.


"Semua ini mengingat kan aku kepada masa lalu yang membuat ku merasa sakit dan juga menderita." batin Dika.


Dia masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di kamar yang sudah lama dia tinggal itu.


Hanya beberapa menit dia sudah tidur memeluk bantal guling nya.


Tidak terasa sudah Sore..Dika bangun dan melihat ke arah jendela ada sunset.


Dika bergeliat meregang kan otot-otot nya dan duduk.


Dia mengambil handphone nya menghidupkan ingin mengambil foto itu.. Namun dia tidak jadi mengambil foto karena melihat banyak nya pesan masuk ke handphone nya termasuk dari kekasihnya Anisa.


Dika tidak membalas dia mengabaikan semua nya itu.


"Kalau Anisa tidak bisa menerima ku, aku sudah pasrah dia dengan Candra yang sangat menyanyangi nya." ucap Dika.


"Aku tidak ingin menyakiti kamu Anisa, aku memilih untuk pergi agar kamu tidak merasa terbebani oleh ku." batin Dika.


Dia memasang kaus mengambil topi nya segera keluar melihat nelayan.


Dika biasa melakukan itu ketika dia datang ke rumah lama nya itu.


Dia akan sangat tenang berada di sana, setiap Masalah yang ada dia akan menenangkan diri ke rumah itu.


"Den Dika ayo ikut sini bergabung." ucap Mamang..Dika menyusul mereka ternyata lagi bakar-bakar ikan.


"Ayo ikut bantu bakar-bakar den." ucap Mamang. Dika mengangguk dia mengikuti permintaan Mamang itu.


Setelah beberapa lama akhirnya ikan masak.. Saat memakan nya Dika teringat ikan bakar yang dia masak untuk Anisa.


Anisa sangat menyukai nya, dia meminta terus kepada Dika untuk memasak ikan bakar, namun Dika gak mau karena cukup rumit menurut nya.


"Den Dika kok diam saja sih?" tanya Mamang, Dika menggeleng kan kepala nya. Mamang membawa kan jagung bakar kepada Dika karena berfikir Dika tidak suka dengan ikan bakar.


"Den Dika pasti ada masalah datang ke sini kan?" tanya Mamang. Dika mengangguk.


"Saya memiliki kekasih yang bernama Anisa, dia adalah murid saya di sekolah, saya sudah lama mengincar dia namun beberapa bulan kami baru bersama." ucap Dika.


"Lalu?" tanya Mamang.

__ADS_1


"Dia memiliki kekasih yang tak lain adalah sahabat ku sendiri. Kekasih nya pergi bekerja ke luar negeri dan itu adalah kesempatan saya untuk mendapatkan Anisa." ucap Dika.


__ADS_2