
"Kakak yakin? Aku takut kakak akan bangkrut kalau membiarkan ini di tangan ku!" ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak akan pernah bangkrut." ucap Dika.
"Humm baiklah, aku akan menggunakan nya." ucap Anisa. "Tapi jangan lupa kalau kamu harus memijit-mijit Punggung saya." ucap Dika.
Anisah mengangguk dia langsung duduk di samping Dika dan mengoleskan minyak kayu putih.
"Humm cukup Enak." ucap Dika menikmati pijitan tangan Anisa yang sangat lembut.
"Sudah! Aku sudah sangat lapar!" ucap Anisa turun dari tempat tidur, Dika menghela nafas panjang dia menatap wajah Anisa.
"Huff kamu tidak sayang kepada saya." ucap Dika. Anisa mendekati Dika. "Aku sangat mencintai kakak, tapi sekarang aku sangat lapar, aku ingin makan, kakak janji mau masak." ucap Anisa.
Dika tersenyum dia turun dari kasur ke kamar mandi dulu setelah itu keluar ke bawah. Anisa menunggu sarapan masak dia bersih-bersih rumah terlebih dahulu.
Tidak beberapa lama Akhirnya pekerjaan nya selesai.
"Humm semua nya sudah bersih, sekarang perut ku terasa sangat lapar sekali." ucap Dika.
"Udah masak belum? perut ku terasa sakit sekali." ucap Anisa. Dika mengelus kepala Anisa.
"Sudah mau selesai, kamu duduk lah di meja makan." ucap Dika. Anisa mengangguk. Setelah selesai menata makanan di atas meja mereka makan berdua.
"Tadi malam aku bertemu dengan papah. Mobil nya mogok, di perjalanan ketika aku pulang dari panti asuhan." ucap Anisa.
"Saya harap kamu tidak melakukan kesalahan." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Aku mengantarkan papah pulang ke rumah, aku juga memeluk nya, aku sangat merindukan papah.. Sekarang badan papah sangat lusuh dan juga kurus." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Kenapa kakak tersenyum?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Saya sangat bangga kepada kamu." ucap Dika.
Anisa Menaik kan alis nya. "Maksud kakak?" tanya Anisa.
"Yah karena kamu sudah jauh lebih dewasa sekarang, kamu sudah bisa berdamai dengan keadaan. Saya yakin kalau kamu adalah perempuan yang hebat, perempuan yang bisa menerima dan menghadapi masalah yang ada." ucap Dika.
Anisa tersenyum.
"Di mana lagi aku menemukan pria yang bisa mengerti ku seperti ini Tuhan? kak Dika memang laki-laki yang aku inginkan selama ini." batin Anisa.
Setelah selesai sarapan Dika membuka laptop nya dan duduk di ruang tamu. Anisa baru selesai bersih-bersih dia langsung maskeran.
Anisa melihat Dika, dia langsung tidur di paha Dika.
"Apa yang kamu lak? saya sedang bekerja." ucap Dika. "Aku tidak menggangu kakak, aku hanya ingin tidur di sini, meninggalkan masker ku kering." ucap Anisa.
__ADS_1
Dika menghela nafas panjang.
"Kamu sudah memakai ini tadi malam, kenapa kamu memakai nya lagi?" tanya Dika.
"Dua hari lagi sudah sekolah, aku harus tampil lebih cantik dan lebih putih." ucap Anisa.
"Kamu mau tebar pesona kepada Arya?" tanya Dika, Anisa langsung menatap Dika.
"Kenapa? kakak cemburu yah?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya.
"Mana mungkin saya cemburu, Arya adalah murid saya, Mana mungkin saya melawan dia." ucap Dika.
"Humm kakak yakin?" tanya Anisa. Dika mengangguk. "Aku sudah tau, kakak tidak perlu berbohong seperti itu." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang.
"Baiklah saya Jujur, kamu sudah tau jelas kalau saya sangat cemburu kepada pria yang akrab, pria yang dekat dengan kamu." ucap Dika.
"Cemburu itu arti nya tidak percaya diri!" ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Saya bukan tidak percaya diri, hanya saja saya berfikir kalau kamu akan memilih pria yang jauh lebih hangat, Lebih perhatian dan yang lebih penting seumuran." ucap Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak pernah memiliki pacar yang seumuran, aku selalu memilih om-om seperti kakak." ucap Anisa.
Dika tersenyum.
Baru saja tiduran dia sudah ngantuk lagi. "Anisa besok hari Minggu, apa kamu tidak ingin jalan-jalan?" tanya Dika.
Namun Anisa tidak menjawab, Dika menatap Anisa. "Ya ampun baru saja tiduran namun sudah tidur lelap saja." ucap Dika dalam hati.
Dia membangun kan Anisa.
"Hei!! Anisa! Anisa!" panggil Dika. namun Anisa tak kunjung bangun.
"Anisa bangun! Masker kamu sudah kering." ucap Dika.. Namun Anisa tidak kunjung bangun.
"Kalau kamu tidak bangun saja akan mencium Kamu!" ucap Dika, Anisa langsung membuka mata nya.
"Baiklah aku bangun." ucap Anisa.
Dika melihat Anisa ke kamar mandi untuk mencuci wajah nya.
Dika juga mau beranjak tiba-tiba handphone Anisa berdering.
"Candra.." Ucap Dika karena Candra yang menelpon nya.
__ADS_1
"Siapa kak?" tanya Anisa.
"Candra!" ucap Dika.
Anisa mendekati nya dia langsung menjawab nya di depan Dika.
"Halo Anisa.. Kamu ada di mana? Tidak sibuk kan?" tanya Candra. "Aku lagi di rumah." ucap Anisa.
"Kamu memiliki waktu gak besok pagi? Aku mau ngajakin kamu kesesuatu tempat, sebelum kamu sekolah." ucap Candra. "Besok aku ingin di rumah saja." ucap Anisa.
"Aku tidak ingin kemana-mana liburan ku kali ini." ucap Anisa.
"Oohh begitu yah, baiklah." ucap Candra.
"Tapi malam ini aku boleh kan ke rumah kamu?" tanya Candra. Anisa menoleh ke arah Dika.
"Aku mohon, aku sudah sangat merindukan kamu, Hanya sebentar saja." ucap Candra.
"Baiklah kalau begitu." ucap Anisa. "Ya udah kalau begitu, sampai jumpa nanti sayang." ucap Candra.
Anisa menginyakan dan setelah itu langsung menutup telpon. "Kalau kamu mau bertemu dengan Candra malam ini, saya akan Akan keluar sebentar." ucap Dika.
"Aku minta maaf kak, aku tidak tau harus mengatakan apa." ucap Anisa. Dika menepuk punggung Anisa.
"Sudah tidak apa-apa, saya mengerti." ucap Dika.
Anisa tersenyum. "Kak Dika masih mengerti dalam keadaan seperti ini sungguh luar biasa." ucap Anisa dalam hati.
Setelah Candra menelpon Dika tidak banyak berbicara lagi, Anisa yang tadi nya ingin bermanja-manja dengan Dika jadi tidak enak hati.
Anisa duduk di meja ruang tamu memerhatikan Dika yang sedang menjawab telepon dari klien nya di balkon.
"Aku tidak mungkin selamanya seperti ini." ucap Anisa. "Aku dengan kak Dika tidak boleh salah paham, diam-diam seperti ini." ucap Anisa.
Setelah Dika selesai menelpon dia kembali ke meja ruang tamu.
"Klien saya ingin mengajak bertemu di luar sore ini, kebetulan saya mau keluar juga, jadi saya akan bertemu dengan mereka." ucap Dika.
Anisa berdiri dia mendekati Dika. Dia tiba-tiba memeluk Dika.
"Maafin aku kak." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya dia menatap wajah Dika.
"Kakak masih Sabar kan menunggu ku?" tanya Anisa.
__ADS_1