
Setelah mengambil kan pakaian Dika dia mau keluar namun Dika keluar dari kamar mandi langsung menutup pintu kamar agar Anisa tidak keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Dika. Anisa menatap Dika.
"Aku mau keluar, sebaiknya kakak minggir." ucap Anisa.
"Saya mau minta tolong obatin bintik-bintik di badan saya." ucap Dika.
"Ada apa dengan badan kakak?" ucap Anisa. Dia melihat punggung Dika banyak dengan bintik-bintik merah, begitu juga di bagian depan.
"Bagaimana bisa seperti ini kak?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
Anisa mengoleskan salep ke setiap bintik-bintik yang ada. Sekarang di bagian dada dan juga perut.
"Kenapa kamu diam?" tanya Dika.
"Bagian depan kakak sudah bisa melihat nya, kakak bisa mengoleskan nya sendiri." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang..
"Tangan saya sudah sangat lelah dan ini rasanya sangat gatal, kamu tidak kasihan kepada saya menahan rasa gatal ini sepanjang hari?" tanya Dika.
"Tapi kakak bisa melakukan nya sendiri." ucap Anisa.
"Saya memiliki kekasih yang akan menjadi istri saya nanti nya, Anggap saja ini belajar mengurus suami yang sedang sakit." ucap Dika.
Anisa sangat malu, dia juga canggung karena Dika bertelanjang dada.
"Kamu Jijik yah?" tanya Dika..Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Jadi kenapa kamu mengoleskan nya seperti itu? Kamu tidak melihat ke arah sini, kamu mengoleskan salep ke tempat yang berbeda." ucap Dika.
"Aku malu kak, kakak sengaja melakukan ini kepada ku, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini. Kakak bisa mengerti aku tidak?" ucap Anisa.
Dika seketika langsung terdiam.
"Kakak sudah dewasa sementara aku masih anak SMA. Kalau tau seperti ini aku tidak akan mau punya pacar yang cabul." ucap Anisa.
"Saya tidak cabul. Meminta pacar mengobati itu hal yang biasa." ucap Dika.
"Enggak! Ini tidak biasa..Aku tidak bisa melakukan ini." ucap Anisa.
Dia langsung pergi keluar. Dika menghela nafas panjang.
"Apa aku salah?" ucap Dika dalam hati.
Terpaksa dia mengoleskan salep ke dadanya sendiri walaupun rasanya begitu perih sekali.
Setelah selesai di oleskan dia memakai baju nya dan keluar dari kamar.
"Anisa..." panggil Dika mau duduk di samping Anisa namun Anisa melarang nya.
"Kakak jangan dekat-dekat dengan ku! Aku tau maksud kakak apa, sebaiknya kakak pergi istirahat, jangan menganggu ku tidur." ucap Anisa.
__ADS_1
Dika menghela nafas. Dia memasang wajah cemberut dan duduk di sebelah meja tempat Anisa belajar.
"Sudah tiga hari saya tidak mengajari kamu, hari ini saya akan mengajari kamu." ucap Dika.
"Tidak perlu." ucap Anisa..Dika di tolak membuat nya semakin cemberut.
Namun tetap saja dia menjelaskan yang kelihatan nya Anisa bingung.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai belajar. Anisa menonton TV di sofa. Dia melihat Dika yang garuk-garuk di karpet tidak jauh dari dia.
"Aku mau tidur dulu. Kalau kakak mau pulang, jangan lupa untuk mengunci pintu." ucap Anisa. Dika melihat Anisa pergi.
"Apa Anisa benar-benar marah? Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya kepada ku. Apa aku terlalu berlebihan kepada dia?" ucap Dika.
"Huff Dika kamu harus ingat kalau Anisa itu masih SMA. Kamu tidak bisa memakai gaya pacaran kamu sebelum nya kepada dia." ucap Dika kepada diri nya sendiri.
Sudah tengah malam Anisa tiba-tiba terbangun.
"Kenapa aku bisa ketiduran sih? Padahal aku hanya pura-pura tidur." ucap Anisa.
Dia melihat jam sudah jam sebelas dia tidak melihat Dika di kamar nya akhirnya dia memilih Memeriksa Dika keluar.
"Ya ampun kak Dika malah tidur di sini." ucap Anisa. Melihat Dika tidur di karpet bertelanjang Dada, menggunakan kipas bahkan sudah pakai AC juga.
Dia mematikan kipas. "Bisa masuk angin kakak nanti." ucap Anisa.
Namun karena di matikan Dika mengipas tubuh nya.
Dika terbangun. "Anisa..." ucap Dika.
"Diam saja, aku akan mengobati nya." ucap Anisa. Dika diam sambil menahan rasa gatal. Dia memerhatikan wajah Anisa yang sangat serius dan juga khawatir tentang dirinya.
"Terimakasih yah." ucap Dika setelah selesai di oleskan.
"Seperti nya kakak alergi makanan." ucap Anisa..Dika menganguk.
"Klien saya memaksa untuk memakan udang." ucap Dika.
"Kakak alergi udang?" ucap Anisa.
Dika menganguk.
"Kenapa?" tanya Dika.
"Udang adalah makanan kesukaan ku." ucap Anisa.
"Saya bukan tidak suka, hanya saja setelah memakan nya badan saya seperti ini, mungkin karena tidak terbiasa." ucap Dika.
"Seperti kakak harus sering mencoba nya agar tidak seperti ini lagi." ucap Anisa.
Dika tersenyum.
"Ini sudah malam, kenapa kamu belum tidur? Apa saya membuat kamu tidak bisa tidur? Saya akan kembali ke apartemen saya." ucap Dika.
__ADS_1
Anisa menahan lengan Dika.
"Aku terbangun. karena melihat gatal-gatal di badan kakak meradang aku membantu mengoleskan salep." ucap Anisa.
Dika memegang tangan Anisa.
"Terimakasih yah."' ucap Dika. Anisa menganguk.
"Sudah kakak lanjut untuk istirahat." ucap Anisa menyelimuti Dika.
Dika melihat Anisa pergi.. Namun tidak beberapa lama Anisa kembali ke ruang tamu membawa selimut dan juga bantal.
"Aku akan tidur di sini." ucap Anisa.
"Apa kamu tidak takut?" tanya Dika.
"Berhubung kakak sakit, tidak mungkin kakak akan macem-macem." ucap Anisa.
Dika tersenyum tipis. Anisa tidur di atas sofa. Dia menyamping dan melihat Dika.
"Good night Baby..." ucap Dika berusaha untuk duduk dan mencium pipi Anisa.
Anisa tersenyum. "Good night pak guru ku." ucap Anisa. Dika tertawa kecil karena merasa lucu dengan panggilan itu.
Anisa memegang tangan Dika dan akhirnya mereka berdua tidur.
Di pagi hari nya Anisa mendengar ketukan pintu, bunyi bel.
"Hoammm siapa lagi sih pagi-pagi mengganggu saja." ucap Anisa.
Dia membuka mata nya dan ternyata dia sudah tidur di lengan Dika, memeluk nya.. Untung saja Dika sudah berpakaian.
"Loh kenapa aku bisa d sini?" ucap Anisa kaget. Dika membuka mata nya.. Anisa mau langsung beranjak namun Dika menahan pinggang Anisa.
"Kamu sudah bangun?" ucap Dika.
"Bapak jangan berfikir yang aneh-aneh, aku tidak tau kenapa aku bisa di sini, mungkin aku mengigau. Aku minta maaf." ucap Anisa.
Dika tersenyum dia mencium pipi Anisa.
"Good morning sayang." ucap Dika dengan suara kejantanan khas baru bangun tidur sedikit serak-serak.
Anisa langsung meleyot. Entah mengapa dia sangat menyukai hal yang kecil namun sangat romantis.
"Morning.." ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Apa kamu tidak ingin memberikan kis kepada saya?" tanya Dika.
Anisa malu dia mencium pipi Dika dengan singkat. Dik tersenyum. Dia langsung bergerak dan sekarang berada di atas Anisa.
"Kakak mau ngapain?" tanya Anisa.
"Saya tidak bisa menahan diri ketika bersama kamu Anisa." ucap Dika mau mencium bibir Anisa.
__ADS_1