Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 109


__ADS_3

"Loh kok kakak bangun?" ucap Anisa.


"Karena kamu pergi, kamu mau kemana?" tanya Dika.


"Aku mau ke kamar mandi, kenapa?" tanya Anisa. "Oohh." ucap Dika.


"Ya udah lepas kan aku, aku mau ke kamar mandi." ucap Anisa, dika melepaskan tangan Anisa.


Tidak beberapa lama Anisa keluar dari kamar mandi kaget karena Dika sudah ada di depan pintu.


"Hug kakak membuat ku terkejut!" ucap Anisa.


Dika menatap Anisa.


"Kakak mau ke kamar mandi? Kalau mau masuk, silahkan." ucap Anisa karena diam terus berdiri di depan pintu.


Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak mau ke kamar mandi, saya hanya menunggu kamu." ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.


"Kakak bertingkah cukup aneh hari ini." ucap Anisa sambil berjalan ke kasur, Dika juga mengikuti nya. Anisa menoleh ke arah Dika.


Dia menghela nafas panjang. "Ada apa sih kak? Kenapa kakak membuat ku merasa aneh sih?" ucap Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya dia Duduk di samping Anisa bersandar di pundak Anisa.


"Tadi kakak kamu datang. Karena kita tidak mendengar bel rumah jadi dia memilih pergi." ucap Dika.


"Bagus deh, kalau kak Marsel tau kakak di sini, nanti dia akan kasar lagi kepada kakak. Aku tidak membiarkan itu terjadi." ucap Anisa, diak tersenyum karena pembelaan Anisa.


"Luka yang kemarin saja masih membekas." ucap Anisa menyentuh bibir Dika.


"Sudah baikan kok, kamu tidak perlu khawatir." ucap Dika.


Anisa mencium bibir Dika dengan lembut. "semoga cepat sembuh." ucap Anisa, Dika tersenyum.


"Humm aku mau belanja keluar hari ini karena stok makanan dan banyak barang-barang yang aku butuhkan tidak ada." ucap Anisa.


Dika langsung berdiri. "Saya siap menemani kamu dan mengantarkan kamu " ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Aku belum bertanya. Tapi ya sudahlah kakak sudah menjawab nya." ucap Anisa. Dika tersenyum.


"Kalau begitu aku mandi dulu yah." ucap Anisa. Dika mengikuti Anisa.

__ADS_1


"Mau ikut?" tanya Anisa, Dika mengangguk sambil tersenyum.


"Jangan berharap lebih, karena itu tidak lah mungkin." ucap Anisa langsung menutup pintu kamar mandi, Dika menghela nafas panjang.


Tidak beberapa lama Anisa sudah selesai dia menyusul Dika yang di bawah sedang menyiapkan mobil.


"Ayo, aku sudah siap." ucap Anisa, dika melihat ke arah Anisa. Dia memerhatikan penampilan Anisa.


"Kamu mengikat rambut kamu seperti ini sangat cantik sekali. Terlihat jauh lebih dewasa." ucap Dika.


"Agar orang-orang tidak berfikir kalau kakak jalan sama anak kecil." ucap Anisa. Dika tersenyum.


"Sejak kapan Anisa mulai memikirkan perasaan ku? Biasa nya dia selalu tidak perduli." ucap Dika dalam hati.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan.. Anisa memulai memilih. Dika tersenyum dia mengingat beberapa bulan yang lalu kalau Anisa sama sekali tidak paham tentang belanja namun sekarang dia sudah sangat paham.


"Gigi kakak akan kering kalau tersenyum seperti itu terus." ucap Anisa. Dika langsung menutup mulutnya.


"Kenapa kakak senyum-senyum?" tanya Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya hanya mengingat beberapa bulan yang lalu kamu selalu marah-marah kalau menunggu saya berbelanja lama, selalu marah kalau saya beli yang aneh-aneh, namun sekarang kamu sudah tau semua nya." ucap Dika.


Anisa tersenyum dia menoleh ke arah Dika.


"Mungkin karena Tuhan baik dia mempertemukan kita, dan aku bisa memiliki sosok pria yang baik, perhatian perduli kepada ku " ucap Anisa.


"Biar saya saja yang membayar." ucap Dika, Anisa menggeleng kan kepala nya.


"Aku mohon jangan, uang Kaka sudah banyak habis karena ku." ucap Anisa.


"Saya bekerja untuk kamu, saya semangat bekerja karena kamu. Sudah sewajarnya kamu merasakan uang saya." ucap Dika.


Anisa tersenyum. "Baiklah kalau begitu, kakak memang calon suami yang sangat baik." ucap Annisa.


Selepas selesai belanja Anisa mengingat kalau dua hari mereka akan menghadiri acara dan panti asuhan. Tapi kedua nya tidak memiliki pakaian yang cocok.


Mereka berdua mencari ke butik langganan. Setelah dapat Anisa menemani Dika mencari dompet dan juga sepatu karena sepatu nya sudah rusak.


Dika tidak akan menukar barang nya kalau tidak ada yang protes, Anisa sudah sangat kesal melihat sepatu Dika yang kucel, jelek dan sudah sangat rusak itu sebabnya dia memaksa Dika membeli sepatu... Setelah selesai akhirnya mereka pulang.


Sampai di rumah Dika menyusul Anisa ke dapur.


"Saya akan menyusun semua nya, kamu istirahat lah, kamu pasti sangat lelah." ucap Dika.

__ADS_1


Anisa tersenyum. "Justru kakak yang harus istirahat, kakak sudah membawa semua ini sementara aku hanya memilih-milih saja dan berjalan kaki." ucap Anisa.


Dika membantah menyusun semua nya. "Kamu mau di Masakin apa?" tanya Dika tiba-tiba memeluk Anisa dari belakang.


"Humm bagaimana kalau Spaghetti?" tanya Anisa. "Humm boleh juga, sudah lama saya tidak makan ini." ucap Dika.


Anisah tersenyum. "Ya udah kalau begitu aku bantu buat bumbu nya." ucap Anisa. Dika mengganguk.


Dika terus mengajari Anisa masak, selama mereka masak, Anisa tidak berhenti bertanya tentang masakan.


Dika dengan sabar menjelaskan semua nya, mengajari agar Anisa paham.


Tidak beberapa lama Akhirnya sudah masak.


"Humm seperti nya ini sangat enak, Semoga saja enak." ucap Anisa karena dia merasa kalau dia ikut masak kurang enak.


"Humm enak, kamu sudah bisa masak." ucap Dika. Anisa tersenyum.


Mereka bersenang-senang berdua menghabiskan waktu berdua selalu bersama.


Dika tidak lagi merasa takut karena Anisa sangat berubah, banyak hal yang membuat Dika semakin mencintai Anisa.


Sudah malam, Anisa duduk di ruang tamu sambil membuka handphone nya. Dika baru saja menyusul Anisa karena tadi bekerja di atas sebentar.


Dari jauh dia melihat Anisa yang senyum-senyum membalas pesan.


"Kamu berkirim pesan sama siapa?" tanya Dika kepada Anisa.


namun seperti nya Anisa tidak sadar dia ada di sana.


"Anisa!" ucap Dika, Anisa langsung Sadar.


"Iyah kenapa?" tanya Anisa langsung mematikan handphone nya.


"Kamu kelihatan nya sangat fokus kepada handphone kamu, habis chatan sama siapa?" tanya Dika. "Sama Putri kak, dia mau datang ke sini." ucap Anisa.


"Oohh." ucap Dika.


"Huff untung saja Kak Dika percaya, kebetulan juga Putri ke sini, jadi aku bisa membuat alasan. Aku tidak ingin kak Dika salah paham dan semua nya terjadi konflik." batin Anisa.


"Kamu sudah menghubungi kak Marsel?" tanya Dika.

__ADS_1


"Oohh itu, udah kok kak, aku melarang nya ke sini." ucap Anisa.


"Loh kenapa? Kak Marsel baru Akan tambah marah kalau begitu." ucap Dika.


__ADS_2