
Alex, Bima, Sandi dan Vicky membawa Kayla ke sebuah ruangan tertutup. Kayla mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Di bagian tengah ruangan, Lantainya bergaris persegi panjang, dengan tiga garis lingkaran di dalamnya, satu di tengah dan dua lagi masing-masing disisi kanan dan kirinya, dengan keranjang di masing-masing dua sisinya.
"Lapangan basket.." gumam Kayla.
"Ngapain mereka bawa aku ke lapangan basket?" batinnya menebak-nebak.
Alex dan teman-temannya beringsut duduk di kursi penonton yang tersedia di sisi lapangan, sedangkan Kayla masih berdiri di tempatnya.
"Berdiri di tengah!" perintah Alex seraya menunjuk lingkaran yang ada di tengah lapangan. Kayla pun beranjak, melangkah ke tengah lapangan.
"Good." Bima mengomentari setelah Kayla menghentikan langkahnya di tengah lingkaran.
Vicky dan Sandi beranjak menuju sebuah rak yang terletak di ujung ruangan. Mereka mengambil beberapa bola basket dan melemparkannya pada Alex dan Bima.
"Kalau mereka mau main basket ngapain aku diajak kesini? Apa sih sebenarnya rencana mereka?" Kayla bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.
"Udah siap?" tanya Alex.
"Hah..?" Kayla melongo mendengarnya.
Alex mendecakkan lidahnya. "Main basket lah, apa lagi?"
"Aku?" tanya Kayla menunjuk dirinya sendiri, membuat Alex memutar bola matanya malas.
"Iya, kita yang lempar bola, lu yang tangkep." sahut Bima santai.
"Apa? Aku nggak bisa main basket." sahut Kayla.
Mereka menertawakan Kayla.
"Haelaaah.... Cuma nangkep bola doang.." timpal Bima lagi.
Belum sempat Kayla menjawab lagi, Alex langsung melempar bola ke arahnya. Karena kaget, Kayla reflek beralih menghindari bola itu.
"Tangkep! Bukannya menghindar!" bentak Alex, lalu mengulurkan tangannya meminta bola kembali
Kayla menatap Alex dengan kesal dan melemparkan kembali bola yang Alex lemparkan padanya tadi.
Mereka mulai melemparkan bola ke arah Kayla bergantian, kadang berbarengan, sehingga membuat Kayla kalang kabut dan kewalahan menangkapnya.
4 lawan 1? Mereka berempat hanya duduk santai sambil melemparkan bola seenaknya pada Kayla, dan Kayla harus menangkap bola-bola itu dengan baik, sendirian. Permainan macam apa itu?
Mereka bilang, kalau Kayla gagal menangkap bolanya sekali saja, maka besok Kayla akan mendapat satu hukuman dari mereka, dan jika Kayla gagal menangkap bolanya dua kali maka Kayla akan mendapat dua hukuman. Menyebalkan sekali Kayla harus mengikuti aturan mereka. Apa boleh Kayla menolak? Tapi kata Nia, bahaya kalo sampai Alex marah. Dan sejauh ini tidak ada yang berani melawannya. Memangnya sebahaya apa sih Alex ini?
Mereka menjeda permainan mereka sejenak, memberikan kesempatan untuk Kayla mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Kayla menunduk sambil bertekan lutut, masih berusaha menormalkan deru nafasnya.
Kayla melirik jam yang tersemat di pergelangan tangan kanannya, dan mata Kayla membulat sempurna ketika menyadari sudah jam 10.35 am.
Kayla sontak membenarkan posisi berdirinya, ia lihat empat pria di depannya masih santai dengan obrolan ala mereka dan tertawaannya.
Melihat Kayla yang sudah berdiri tegak, Vicky langsung melemparkan bola ke arah Kayla. Kayla pun langsung menangkapnya dengan baik dan berujar dengan lantang "Cukup!"
"Ini udah jam setengah 11 lewat, pasti udah bel." lanjut Kayla.
"Trus?" tanya Alex cuek.
"Ya kita harus masuk kelas lah.. aku gak mau telat lagi." lanjut Kayla seraya beranjak meninggalkan lapangan.
Alex dan teman-temannya hanya terkekeh melihat Kayla yang mulai panik.
Klekk.. klek klekk...
Kayla berusaha membuka pintu ruangan yang tertutup rapat, ia sampai mengerahkan tenaganya karena pintu sulit dibuka.
"Dikunci?" gumamnya.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menghantam bahu kiri Kayla, membuat Kayla terperanjat kaget. Ia meringis mengusap bahunya yang ternyata baru saja dilempari sebuah bola.
"Permainan belum selesai, mau kemana lu?!" pekik Alex. Mereka kembali menertawakan Kayla.
"Ini udah bel, kalian gak masuk kelas?"
"Penting amat?! Mending main basket" sahut Sandi sambil melemparkan bola ke arah Kayla.
Mau tidak mau Kayla menangkapnya dari pada bola itu harus menghantam tubuhnya lagi. Tapi karena jarak lemparannya terlalu jauh, Kayla gagal menangkap bola itu.
"Empat.." pekik Bima sambil tertawa.
Artinya Kayla sudah empat kali gagal menangkap bola, dan ia harus siap dihukum empat kali besok.
"Terserah kalian mau masuk kelas atau enggak, tapi aku harus keluar dari sini dan masuk kelas." rengek Kayla kesal.
"Keluar aja kalo bisa." sahut Alex lempeng.
Mereka terus melempari bola ke arah Kayla, dan berkali-kali bola itu membentur tubuh Kayla.
Pintunya dikunci dan Kayla tidak bisa keluar. Jadi mereka sengaja melakukan ini agar Kayla tidak bisa menghindari permainan mereka?
__ADS_1
Kayla menghela nafas lemas. Apa gunanya Kayla bersusah payah mengerak-gerakkan knop pintu, membuang-buang tenaga sedangkan pintunya dikunci. Dan keempat pria menyebalkan itu terus melempari Kayla dengan bola basket, Kayla kewalahan meladeni mereka.
Kayla terjebak. Apa Kayla punya pilihan lain selain mengikuti permainan mereka? Apa mereka mau membebaskan Kayla dan membiarkannya mengikuti pelajaran? Kayla harus keluar dari sini bagaimana pun caranya, ia harus mengikuti pelajaran.
Kayla kembali ke tengah lapangan.
"Pliisss.... bukain pintunya, biarin aku keluar.." Kayla memohon dihadapan empat pria menyebalkan itu.
"Sebelas.." gumam Bima, yang sejak tadi menghitung kegagalan Kayla menangkap bola.
Mereka hanya mencibir dan mengabaikan Kayla.
"Pliisss.... aku udah telat masuk pagi ini dan gak bisa ngikutin pelajaran, dan aku gak mau ketinggalan pelajaran lagi.." Kayla memelas sambil menangkupkan kedua tangannya. Ia sungguh-sungguh.
"Hmm.. kasian.." Sandi mencibir.
"Owh... jadi tadi pagi lu telat dan gak diizinin masuk?!" ledek Alex, disambut tawa ketiga temannya.
"Bu Weni?" tanya Vicky.
"Bukan, Pak Sugi" jawab Kayla.
"Kayaknya kita harus berterima kasih sama Pak Sugi." lanjut Alex, membuat ketiga temannya mengernyit.
"Iya, dia udah bantu kita ngasih hukuman buat Si Cupu ini." lanjutnya sambil menunjuk Kayla dengan dagunya. Mereka pun kembali tertawa.
"Pak Sugi si killer, ngasih hukuman apa?" tanya Vicky nampak tertarik.
Kayla mendengus kesal sebelum menjawab Vicky. "Berdiri diluar kelas sampe pelajaran selasai"
"Gitu doang?!" Bima mengkritik. "Ah, Pak Sugi gak asik. Masa' hukumannya cuman berdiri diluar kelas doang" lanjutnya.
Kayla menatap heran ke arah mereka. Mereka menganggap enteng hukuman yang Kayla terima dari Pak Sugi pagi ini, padahal hukuman itu cukup berat untuk Kayla yang sebelumnya tidak pernah dihukum. Kayla dihukum kan juga gara-gara ulah mereka.
"Bukain pintunya dong, buruan." desak Kayla, karena Kayla sudah terlalu banyak membuang waktu dengan meladeni dan menjawab pertanyaan tak penting dari para pria usil ini.
Yang tadinya hanya terlambat 5 menit dan baru bel, mungkin sekarang guru sudah masuk. "Gimana nih kalo aku disuruh berdiri di luar lagi.." gumam Kayla panik.
"Ck.. udah terlanjur telat juga" ujar Bima remeh.
"Udah lah.. bolos aja sekalian" sambung Vicky.
Apa? Bolos? Enggak akan. Bagi mereka mungkin bolos itu hal biasa, tapi Kayla?
Kayla menggeleng dan semakin memelas.
"Dua belas.."
Kayla tidak lagi memperdulikan bola yang datang ke arahnya, ia hanya menghindari bola itu agar tidak menimpa dirinya.
"Tiga belas.." Kayla mendesis kesal mendengar hitungan Bima yang semakin bertambah, apa mereka benar-benar akan menghukum Kayla sebanyak itu?
"Empat belas.."
Cukup! Kayla benar-benar kesal. Mereka tidak peduli sama sekali dengan permohonan Kayla.
Sebelum Bima menambah angka hitungannya Kayla harus bertindak.
"Empat belas! Lima belas! atau lima puluh kali sekalipun, apa bedanya?! Kalian akan tetap gangguin aku kan nanti. Kalian akan tetap kasih aku hukuman kan?!" pekik Kayla bersungut-sungut.
"Sekarang biarin aku keluar dari sini, dan besok kalian boleh hukum aku sepuasnya. Aku gak akan kabur kok." lanjutnya.
Mendengar ocehan Kayla barusan, mereka terdiam untuk beberapa detik, lalu kembali menertawakan Kayla. Suara tertawaan mereka yang menggelegar memenuhi ruangan sangat mengganggu pendengaran Kayla, menjengkelkan sekali. Kayla lemas, melihat raut wajah keempat pria dihadapannya ini tak ada yang mengerti perasaannya, mereka tak peduli sama sekali.
"Kalo gak mau badan lu sakit kena bola, tangkep!" ujar Alex sambil melempar bola ke arah Kayla.
Baiklah.. Kayla kalah.
Mau tidak mau Kayla tetap meladeni mereka sampai Kayla benar-benar letih.
Mereka kok gak ada capek-capeknya yah.. padahal ini udah satu jam lebih..pikir Kayla.
"Aku capek.." Kayla menyerah.
"Heh.. segitu doang capek" cibir Bima.
Alex yang merasa mulai jenuh, beranjak dan melemparkan bola terakhir pada Kayla, dengan lebih kencang dari sebelumnya dan dari jarak dekat. Lemparan mendadak Alex tepat mengenai kepala Kayla, membuat Kayla yang sudah lemas lantas terjatuh karena benturan yang cukup keras itu. Kayla meringis memegang kepalanya yang sakit, belum lagi pinggang dan pant*tnya yang benar-benar nyeri karena berkali-kali jatuh menghantam lantai.
"Cabut yuk!" ucap Alex seraya berjalan mendahului teman-temannya.
Kayla menatap satu persatu pria usil yang beranjak meninggalkannya ini, dengan tatapan tak percaya.
Mereka meninggalkan Kayla begitu saja setelah puas menyusahkan dan menindasnya. Kayla benar-benar tak habis pikir.
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
Adit sama sekali tidak fokus pada pelajaran kali ini. Sampai pelajaran kedua selesai Kayla belum juga menampakkan batang hidungnya.
Adit cemas, apa yang dilakukan Alex dan teman-temannya pada Kayla? Kenapa Kayla sampai meninggalkan pelajaran? Pertanyaan-pertanyaan semacamnya memenuhi kepala Adit, sehingga membuatnya termenung di kelas.
"Dit..!" seruan Nia mengagetkan Adit.
"Kamu ngelamun? Dari tadi aku panggil nggak nyahut-nyahut" tanya Nia.
Adit menghela nafas berat. "Kayla kemana ya?"
"Jadi dari tadi kamu mikirin Kayla?"
"Alex bawa dia, Nia. Aku khawatir Kayla di apa-apain sama mereka"
"Di apa-apain apa maksud kamu? Kamu gak mikir yang aneh-aneh kan" selidik Nia
"Ya gimana, aku coba berfikir positif tapi tetap aja kan ada kemungkinan negatifnya, mereka bisa ngelakuin apa aja, Nia."
"Se'usil-usilnya dan sejahat-jahatnya Alex sama teman-temannya, mereka gak akan berbuat nekat kan. Kamu juga tau itu." kata Nia, mencoba menenangkan Adit, padahal Nia sendiri juga khawatir.
Memang benar, Alex, Bima, Sandi dan Vicky itu anak-anak yang nakal, usil, dan kadang-kadang jahatnya keterlaluan. Tapi mereka tidak pernah melakukan hal-hal nekat seperti membunuh atau melecehkan korbannya.
Paling parah adalah melukai fisik korban sampai berdarah atau sampai korbannya masuk rumah sakit, itu yang para murid simpulkan dari pengalaman mereka selama bersekolah disini dan menyaksikan semua kejahilan Alex dan teman-temannya.
Adit menghela nafas lagi, tapi sudah tak seberat sebelumnya. Ia mencoba tersenyum setelah memikirkan apa yang Nia katakan barusan. "Iya, kamu benar"
... ....
... ....
... ....
Kayla menatap pantulan dirinya di cermin, ia sudah mencuci muka dan merapikan rambutnya, juga seragamnya. Meskipun wajah letihnya masih terlihat, setidaknya Kayla merasa lebih tenang dan segar setelah mencuci mukanya. Kayla menghela nafas kemudian keluar dari toilet.
Beberapa orang yang mengetahui sebelumnya bahwa Kayla dibawa oleh Alex dan teman-temannya kini memperhatikan Kayla yang sedang berjalan, mulai ia keluar dari toilet hingga Kayla sampai ke kelasnya. Kayla menyadarinya, ia hanya memberikan senyuman pada mereka, agak risih.
Sesampainya Kayla di kelas, Nia dan Adit langsung memekik menyapanya.
Karena sudah jam istirahat kini kelas pun sepi, hanya ada Nia dan Adit. Dan Kayla yang baru datang. Kayla duduk bersandar dibangkunya, menghembuskan nafas lega. Sedangkan Nia dan Adit nampak tegang menunggu Kayla bicara.
"Kay, kamu nggak papa kan?" tanya Adit sambil memperhatikan Kayla dari kepala sampai kaki.
"Mereka nggak ngapa ngapain kamu kan?" Nia pun melakukan hal yang sama.
Kayla menggeleng seraya menampilkan senyuman lemasnya.
"Kay, kamu tadi kemana? Ngapain aja?"
"Mereka bawa kamu kemana, sampai kamu nggak masuk kelas?"
"Main basket" jawab Kayla singkat.
"Main basket??" ulang Nia dan Adit bersamaan.
"Iya, main basket" Kayla memastikan.
Nia dan Adit menatap Kayla bingung.
"Main basket gimana? Pasti ada yang salah nih, gak masuk akal ah kalo kamu diajak main basket sama mereka" selidik Adit.
"Iya nih, ada yang gak beres." sambung Nia.
"Bener. Emang gak beres tuh otak mereka." jawab Kayla sambil menggeprak meja, kesal.
"Otak siapa yang gak beres?" sergah suara di belakang mereka, dengan nada ketusnya.
Kayla, Nia dan Adit serentak menoleh ke asal suara. Jessica berdiri di ambang pintu kelas, dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, bersedekap.
Kayla memutar bola matanya malas, melihat Jessica yang datang.
"Ini lagi, yang suka ikut campur." gumam Kayla
"Gawat Kay kalo dia tau kita ngomongin Alex" cicit Nia pelan.
Benar juga kata Nia, kalau Jessica tau mereka ngomongin Alex, dia pasti lapor sama tuh cowok.
Bisa jadi masalah baru buat aku!
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...