
Alex dan papanya berdiri bersisian namun posisi keduanya berselisihan. Sempat hening beberapa detik setelah langkah Om Iwan terhenti oleh cegahan Nadia, Om Iwan tidak bisa menerima keputusan sepihak yang begitu mudahnya diambil oleh Pak William. Sedangkan Alex yang masih berusaha memahami situasi tidak baik didepannya, menatap papanya dengan penuh tanya, lalu beralih memandang Om Iwan dan Tante Nadia lagi bergantian.
"Ayo Al! Urusan kita udah selesai disini" ujar Pak William dingin, ia memegang lengan Alex dan hendak mengajaknya pergi, namun Alex tak bergeming.
"Papa ngomong apa? Gak bisa gini dong Pa, Al gak tau apa aja yang udah papa lakuin disini, papa ngomong apa aja Al gak denger." protes Alex.
Sang papa lantas menatap mata Alex serius. "Apa perlu kamu tanya lagi? Papa udah memutuskan pertunangan kamu sama Kayla, secara resmi." katanya dingin.
Duaarrrrr..............
Jantung Alex bergemuruh bagai disambar petir, matanya melotot dan nafasnya tercekat. Hal yang sangat ia takutkan benar-benar terjadi? Benarkah itu, sampai hati papanya melakukan itu meski tahu bagaimana perasaan Alex.
Alex melepaskan tangan papanya yang memegang lengannya, ia mundur beberapa langkah seraya menggeleng-geleng membantah. Pandangannya lalu tertuju kembali pada Om lwan dan Tante Nadia yang berdiri di depan pintu, ekspresi keduanya juga menunjukkan kebenaran atas ungkapan papa Alex barusan. Tapi Alex tidak bisa mempercayainya begitu saja, lebih tepatnya tidak siap mempercayai itu.
"Om? Tante?" Alex menghambur langkah cepatnya menghampiri Om lwan.
"Alex!!" tegur sang papa mencoba menghentikan langkah Alex, namun Alex mengabaikannya.
"Om, Tante, saya mohon... apapun yang dibilang sama papa tolong jangan ditanggepin. Saya gak tau apa-apa dan saya sama sekali gak setuju. Saya gak pernah kepikir sekali pun buat mengakhiri hubungan ini, saya sayang banget sama Kayla." jelas Alex menggebu-gebu, dengan suara bergetarnya.
Tante Nadia malah memalingkan wajahnya dari Alex, sedangkan Om lwan menatapnya dengan mata yang mengkilatkan amarah. Belum ada jawaban, yang terdengar hanya ******* nafas Alex yang terdengar ngos-ngosan.
"Alex, pulang!" seru Pak William lagi dengan nada membentak.
"Silahkan kalian pulang! Bukankah urusan kita sudah selesai?!" sahut Om Iwan marah.
Pak William lantas membelalakkan matanya, merasa direndahkan dengan ucapan Om Iwan yang bernada sebuah usiran itu. Alex menoleh ke belakang, lalu berbalik untuk menjawab papanya.
"Al gak bisa pulang sebelum memperbaiki ini Pa!"
"ALEX!" geram Pak William.
"Kalo papa gak mau peduli, silahkan papa pulang" kata Alex lagi kemudian berbalik membelakangi papanya.
Pak William semakin marah. Apa-apaan ini, putranya sendiri pun memintanya pergi?
"Maaf Alex, semua masalahnya sudah diselesaikan oleh papa kamu. Semuanya. Gak ada yang harus kamu lakukan lagi, gak ada yang bisa diperbaiki lagi. Jadi silahkan kamu juga pulang." kata Om lwan tanpa menatap wajah Alex.
"Enggak Om. Enggak ada yang selesai begitu aja, saya disini buat memperbaiki semuanya."
"Sudahlah Al, jangan merendahkan harga diri kamu dengan memohon! Ayo pulang!" kata sang papa lagi.
Alex tetap tak bergeming. Sebenarnya Pak William tidak mau pergi sendiri tanpa membawa Alex, tapi ternyata putranya yang keras kepala itu malah memintanya pergi duluan. Tapi jika tetap disini.. bukankah harga dirinya sudah tersentil setelah diusir oleh tuan rumah, malu sekali jika Pak William tidak memperdulikan usiran itu.
"Enggak Pa, Al akan tetap disini"
Dengan berat hati lantaran sang putra tidak mau diajak pergi, Pak William berbalik melenggang pergi meninggalkan rumah Nadia.
"Saya harap saya masih bisa memperbaiki kesalahan ini Om, Tante." ucap Alex memelas, setelah papanya pergi.
Nadia masih tak mau melihat Alex, ia memilih berbalik untuk masuk ke rumah. Namun tiba-tiba Kayla muncul, membuat Nadia mengurungkan niatnya untuk masuk. Alex terperangah melihat wajah sedih Kayla, basah oleh air mata, dan tatapannya mendung. la seperti ingin mengatakan sesuatu pada Alex namun lidahnya tak mengeluarkan satu patah katapun.
"Lily, masuk sayang" kata Nadia seraya menarik tangan Kayla, namun Kayla tak bergeming.
"Miss Kissable.." lirih Alex.
Tiba-tiba Om Iwan mendorong dada Alex hingga pemuda itu terjatuh di lantai, membuat Kayla dan Nadia terkejut. Namun detik berikutnya Kayla memalingkan wajahnya dengan getir, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis meskipun tangisannya tidak berhenti juga.
"Ayo sayang.. tenangin diri kamu" kata Nadia pelan.
Kayla menatap maminya, lalu mencoba menoleh ke arah Alex lagi tapi kemudian ia tahan. la tidak mau memandang pria itu, bukan karena tidak sudi, tapi ia sakit.. marah.. sedih.. dan kecewa. Namun ia tetap tidak mau menatap Alex dengan tatapan kebencian. Akhirnya ia mengikuti tuntunan sang mami yang membawanya masuk ke rumah.
"Miss Kissable.." sergah Alex, ia melangkah maju untuk meraih tangan Kayla namun dicegah oleh Om Iwan.
Om Iwan masih menatap Alex tajam. "Kamu mau perbaiki kesalahan kamu? Bicara sama papa kamu, baru kamu boleh bicara sama Kayla" ucapnya tegas.
"Baik Om. Saya pasti bicara sama papa saya, tapi izinin saya bicara sekarang juga sama Kayla. Saya nggak tenang Om, saya nggak bisa pulang dari sini tanpa ngasih penjelasan"
Om Iwan malah membalikkan badannya tanpa menimpali Alex. "Seenggaknya Om dengerin saya dulu." kata Alex saat melihat Om lwan menolaknya dengan berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
"Suasana hati saya sedang gak baik. Saya nggak mau kasar sama kamu kalo saya berhadapan dengan kamu lama-lama" sahut Om lwan sesaat setelah menghentikan langkahnya. la lantas melanjutkan langkahnya setelah menjawab Alex.
"Tapi Om-.." belum lagi Alex sempat bicara, Om Iwan sudah menutup pintu di depan wajahnya.
Alex hanya bisa mendesah berat sambil mengusap wajahnya frustasi. Tanpa pikir lagi ia langsung bergegas menyusul papanya, dengan kemarahan dan rasa kecewa yang tertahan Alex melangkah kasar dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
... ....
... ....
... ....
Om lwan melemparkan dirinya menduduki sofa sambil mengusap wajahnya frustasi.
(Flashback On)
"Alex itu pewaris saya satu-satunya, citra baik keluarga dan perusahaan.. semuanya ada ditangan dia. Jadi karena itulah bagi saya, penting pandangan orang-orang terhadapnya. Dan.. soal ini, bukannya saya membesar-besarkan masalah tapi memang itu akan sangat berpengaruh bagi nama kami, juga bagi masa depan Alex."
"Gimanapun juga kan orang akan melihat dengan siapa kami menjalin hubungan, orang seperti apa besan kami, dan gadis mana yang akan menjadi pasangan dari pewaris tunggal SWill Group. Karena itu.. penting buat saya sendiri mengambil keputusan untuk masalah ini. Dan saya sudah memikirkannya dengan matang, menurut saya inilah jalan terbaiknya."
"Kamu mengerti kan Kayla?" tanya Pak William akhirnya.
Demi apapun, Nadia bersusah payah menahan air matanya dan amarah yang hampir meluap-luap didadanya. Kalimat-kalimat yang diucapkan Pak William tadi adalah penutup dari kalimat-kalimatnya yang panjang lebar, yang membuat Nadia sangat tersinggung. Nadia merasa tidak dihargai, bahkan merasa bahwa ia baru saja dihina secara halus. Sayangnya sang kakak belum datang saat Pak William mengatakan kalimat pedasnya itu. Jika saja lwan mendengarnya, sudah pasti dia akan marah dan tidak akan duduk setenang sekarang ini.
Sementara lwan sendiri berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya saat ini, melihat mata adiknya berembun dan wajah cemasnya, Iwan tahu bahwa keadaan tidak sedang baik-baik saja. Apalagi melihat keponakannya yang menunduk dengan menggenggam kedua tangan gelisah, itu sudah menjelaskan pada lwan tentang situasinya saat ini.
"Jadi, saya putuskan hubungan Alex dan Kayla cukup sampai disini."
Duaaarrrrr............
Kayla mendongak seketika, ia terbelalak lemas, sedangkan Nadia menunduk serta memejamkan matanya getir. Sebelah tangannya yang ia rangkulkan ke pundak Kayla sejak tadi, kini mengerat. Sementara Om lwan melirik kedua perempuan disampingnya.
"Pertunangannya dibatalkan, saya nggak bisa membiarkan hubungan ini berlanjut. Karena beresiko dan berdampak pada perusahaan saya dan juga pada hidup Alex" lanjut Pak William dengan tenang, tanpa menatap Kayla.
"Tunggu dulu Pak! Gak bisa segegabah ini dong, Alex bahkan belum hadir disini, dia belum tau kan soal keputusan anda ini?" sergah Iwan.
"Dia tahu. Sejak awal saya membantahnya.. dia sudah tahu saya akan melakukan ini. Dia nggak melakukan apapun kan untuk menangani masalah ini sendiri, meski saya berikan kesempatan. Itu artinya Alex nggak keberatan dengan keputusan ini"
Melihat keterkejutan Kayla, Pak William menatap tanya. "Kenapa Kayla? Bukannya Alex udah ngomongin ini sama kamu kemarin, kalian semua juga udah tau kan tentang keputusan ini?"
Kayla melirik Maminya, mami menunduk. Lalu Kayla melirik Om nya, dan Om nya pun menghindari tatapan Kayla. Ada apa ini? Semua orang tahu bahwa Pak William berniat memutuskan pertunangan Kayla dengan Alex, sementara Kayla sendiri tidak tahu?
"Jadi kamu nggak tau, Kayla?"
Kayla hanya menatap Pak William lirih, dengan air mata yang sudah terjun melewati tempat penampungannya.
"Saya sudah memutuskan ini sejak dua hari yang lalu, dan saya kemari hanya untuk meresmikannya saja. Selesai." ucap Pak William dengan santainya.
(Flashback off)
Sialan!! Pria berjas sekelas Pak William memang sadis, demi bisnis dan kelancarannya.. dia tega melakukan ini. Bahkan dia tahu kalau putranya tidak mau hal ini terjadi, dan dia tetap merealisasikan tekad kejamnya itu. Harusnya dia juga memikirkan perasaan orang yang dia perlakukan dengan semena-mena, atau setidaknya dia memikirkan perasaan putranya. Tapi tidak, bagi orang sepertinya tidak ada yang lebih penting dari bisnis dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis.
Iwan yakin jika sebenarnya Pak William tidaklah memperdulikan tentang perasaan Alex, dia menyebut 'demi masa depan Alex' hanya sebagai alibi saja. Sebenarnya dia hanya memikirkan keselamatan perusahannya saja, serta keamanan posisinya. Licik memang.
"Ya Allah...." desah Iwan sembari memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.
Penyesalan menggerogoti hatinya sekarang. Jika ia tahu akan begini akhirnya, maka ia tidak akan mengizinkan Alex melamar Kayla, dan tidak akan membiarkan Kayla bertunangan dengan pemuda itu. Alex memang pemuda baik, tapi seharusnya Iwan tidak melupakan siapa pemuda itu sebenarnya. Tentang siapa orang tuanya, bagaimana lingkungannya, sampai profesi dan posisi yang pemuda itu miliki.
Jika saja sebelumnya lwan mempertimbangkannya sejauh ini, maka kejadian menyakitkan hari ini tidak akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur berantakan. Kini adik dan keponakannya tengah bersedih dan terluka. Ya, keduanya sedang rapuh.. dan tidak seharusnya Iwan hanya termenung memikirkan penyesalannya saja, ia harus menghibur kedua perempuan yang ia sayangi itu. lwan lantas beranjak dari duduknya.
... ....
... ....
... ....
Tok tok tok tok
Suara pantulan high heels Vanessa beradu dengan lantai, menelusuri luasnya rumah megah ini. Langkahnya agak memburu disebabkan suasana hatinya yang buruk dan kegusaran tampak di wajah keibuannya.
__ADS_1
"MAS!" serunya marah.
Vanessa menghentikan langkahnya melihat orang yang ia cari tengah duduk santai di taman belakang rumah. Vanessa berdiri di depan mantan suaminya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Apa-apaan ini?! Bisa-bisanya kamu ngambil keputusan sepihak gitu aja!"
"Sudah kubilang Nes, itu yang terbaik dan aku gak akan mengubahnya. Bukannya perdebatan kita udah selesai?"
Vanessa menggeleng-geleng tak terima. "Aku gak pernah setuju, dan itu bukan yang terbaik Mas. Liat Alex! Dia sedih, dia terpukul sama keputusan ini Mas..! Harusnya kamu bilang dulu dong sama aku sebelum kamu nyamperin Kayla ke rumahnya, atau seenggaknya ajak Alex! Ini.. apa yang kamu lakuin Mas, aku gak abis pikir."
"Aku udah kasih Alex kesempatan buat ngomong sama Kayla, tapi dia menyia-nyiakan kesempatan itu" sahut Elfatt.
"Ngomong kalo pertunangan mereka harus putus, gitu? Ya ampun Mas.. mana mungkin Alex bisa ngomong begitu sama Kayla. Kamu pikir ada orang yang mau nyakitin orang yang dia sayangi?"
"Ya.. itu emang gak mudah, tapi harusnya Alex bisa ngelakuin itu kalo dia mau. Masalahnya dia aja yang terlalu ngedepanin perasaannya, harusnya dia lebih mikirin logika"
"Harusnya harusnya! Kamu selalu pengen semuanya terjadi seperti yang kamu mau. Harus begini.. harus begitu.. kamu gak bisa kayak gitu terus Mas, Alex itu anak kamu sendiri. Jangan jadiin dia alat buat kamu menuhin semua sifat keegoisan kamu" sungut Vanessa.
"Keegoisan?!" Elfatt terkekeh. "Kamu emang nggak pernah ngerti aku Nes, yang aku lakukan itu buat kebaikan Alex juga. Harus berapa kali aku bilang itu!"
"Alex udah dewasa Mas, dia tau apa yang terbaik buat dirinya sendiri. Biarin dia milih jalannya, biarin dia bahagia, toh dia nggak nolak kan ngurus perusahaan kamu."
"Justru itu, Nes. Alex punya tanggung jawab ngurus perusahaan, jadi segala yang berhubungan dengannya harus terkendali dengan baik. Aku tau Alex sudah besar dan dia cerdas, tapi dia belum cukup dewasa untuk urusan jodoh."
"Maksud kamu Alex salah memilih jodohnya?" kesal Vanessa.
"Aku nggak bilang begitu. Latar belakang gadis itu aja yang salah, jadi aku menghentikannya masuk ke kehidupan Alex. Itu beresiko."
"Mas, setiap bisnis, setiap masalah, setiap keadaan, itu pasti ada resikonya kan! Kenapa kamu takut dengan resiko seperti ini, bukannya kamu udah terbiasa ngehadapin hal-hal beresiko begini?"
Elfatt tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Vanessa.
"Kenapa kamu usik kebahagiaan anak kamu sendiri? Kamu itu bukannya menghentikan Kayla masuk ke kehidupan Alex, Mas. Tapi kamu mengusir paksa dia keluar dari hati Alex. Karena Kayla udah masuk ke kehidupan Alex, Kayla udah menempati hati Alex, Mas. Apa kamu nggak sadar akan hal itu?" kali ini suara Vanessa terdengar lirih.
"Bagiku cinta gak lebih penting dari pekerjaan. Dan Alex harus belajar mengerti hal itu"
"Alex lah yang bakal mutusin dia mau seperti apa, Mas. Kenapa dia yang harus ngerti kamu, kenapa bukan kamu yang ngertiin dia?"
"Emangnya kamu sendiri ngertiin dia? Kamu tetap ninggalin dia meskipun dia nangis-nangis minta kamu jangan pergi. Kamu lupa?" Elfatt malah menyindir Vanessa dengan mengungkit masa lalu.
Namun Vanessa menanggapinya dengan tenang. "Itu dulu. Tapi sekarang aku udah ngerti anakku. Aku ngerti cintanya, aku ngerti kesedihannya Mas, karena itu aku disini."
Elfatt menghela nafas. "Ya ya.. kamu emang paling ngerti urusan cinta. Tapi aku tetap pada pendirianku, terserah kamu mau apa." katanya acuh.
"Aku akan memperbaiki ini. Aku gak akan biarin Alex dan Kayla berpisah." ucap Vanessa mantap.
"Tapi mereka udah berpisah, kamu terlambat Nes. Meski sekarang kamu mohon sama Kayla, atau sama orang tuanya sekalipun, aku yakin mereka gak bakal nerima Alex lagi. Usaha kamu akan sia-sia Nes."
Vanessa melotot marah. "Segampang ini kamu bilang mereka gak bakal mau nerima Alex lagi? Kamu keterlaluan Mas, bisa-bisanya kamu tenang dan ngeremehin hal ini! Apa aja yang udah kamu bilang sama mereka, sampai kamu yakin kalo usahaku bakal sia-sia?"
"Aku ngomong semua yang menurutku perlu, dan aku cuman ngingetin mereka aja kok. Tujuanku kan cuman mau memutus hubungan Alex dengan keluarga mereka."
Vanessa mengernyit dalam, menatap mantan suaminya itu dengan tajam. Vanessa curiga pria egois dan gila bisnis di depannya ini bisa melakukan sesuatu yang salah atau mengatakan kalimat yang tidak pantas, demi tujuannya itu.
"Kamu.. nggak ngomong sesuatu atau ngelakuain hal yang menyakiti mereka kan Mas?"
"Loh, udah jelas kan memutuskan pertunangan itu akan menyakiti mereka. Jadi aku bisa apa kalo bukan melakukan itu."
Vanessa terperangah. "Mas?? Kamu tega..?" Geramnya hampir tak percaya.
Dengan perasaan yang semakin cemas dan kecewa, Vanessa lantas duduk didepan Elfatt. "Kamu ngomong apa aja sama mereka? Dengan cara apa kamu menyakiti Kayla, Mas? Jelasin ke aku!" desak Vanessa dengan tatapan mengintimidasi.
Elfatt membalas tatapan Vanessa, tanpa merasa bersalah. Oh Tuhan.. Vanessa benci ini, kenapa pria di depannya ini berubah begitu banyak? Sejak kapan mantan suaminya ini memiliki hati yang keras, sehingga dia bisa menyakiti orang tanpa merasa bersalah sedikitpun!
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...