Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Luka Yang Masih Terpendam


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Kayla dan Alex beranjak keluar dari dapur, mereka berpapasan dengan mami di depan meja makan.


"Eh, mami belum tidur?" tanya Kayla.


"Hm."


Mami menepuk pundak Alex seraya tersenyum, "Nak Alex, istirahat aja di kamarnya Lily ya, nant-.."


"Hah??" Alex dan Kayla terperangah kaget.


Mami pun terkesiap melihat reaksi keduanya, mami lalu mengangguk. Kayla dan Alex saling melirik, dan mereka sama-sama merasa malu.


"Mami ngomong apa sih?!" protes Kayla.


Mami mendengus senyum, "Lily tidur sama mami, biar Alex bisa pake kamar Lily. Kita cuman punya dua kamar di rumah ini, gak mungkin dong mami biarin Alex tidurnya diluar?"


"Owh..." lega Kayla. Alex pun menghela nafas lega seraya terkekeh.


"Jangan repot-repot tante, saya bisa tidur dimana aja kok. Lagian kan tante bilang ke saya anggap ini rumah sendiri, jadi anggap aja saya anak tante juga." ucap Alex mencoba menghilangkan kecanggungan nya.


Mami tertawa kecil. Kayla jadi merasa malu pada Alex karena sempat berpikir yang berlebihan, sekarang Alex juga malah berbicara seperti itu, membuat Kayla tambah malu saja.


"Yaudah, Lily duluan ya mi."


Kayla pergi lebih dulu meninggalkan mami dan Alex, ia malu. Mami pasti juga mengira Kayla berpikir yang berlebihan.


"lih.. Kayla apaan sih kamu?!" gerutu Kayla pada dirinya sendiri.


"Yaudah, nak Alex istirahat ya! Ini udah larut malam." Sebelum mami menyusul Kayla ke kamarnya, mami membukakan pintu kamar Kayla untuk Alex dan mempersilahkannya masuk.


"Tunggu!" sergah Kayla tiba-tiba keluar dari kamar mami.


"Sebentar." kata Kayla kemudian menyelonong masuk ke kamarnya dan hendak menutup pintu.


"Eh sayang, ada apa?" tanya Mami.


"Sebentar mi.." rengek Kayla.


Alex yang mengerti maksud Kayla lantas mendengus tawa, membuat Kayla cemberut padanya. Kayla lalu menutup pintu di depan muka Alex. Di dalam kamarnya, Kayla sedikit beberes-beres, takut kalau-kalau ada barang pribadinya yang memalukan jika terlihat. Kayla harus mengamankannya agar sesuatu yang tidak ia inginkan tidak akan terlihat oleh Alex. Setelah memastikan semuanya aman, Kayla pun membuka pintu dan mempersilahkan Alex masuk.


Mami yang berdiri di samping Alex, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatap tanya ke arah Kayla, dan yang ditatap malah cengar-cengir.


"Apa ini sayang? Gak sopan deh nutup pintu di depan muka kita."


"Gak papa tante, saya ngerti kok. Lily pasti malu kamarnya mau dipake sama cowok, makanya dia cek dulu. Siapa tau dia tadi ganti sprei tidurnya sama sarung bantalnya dulu kan, yang kemarin abis-.."


"Aku gak ileran ya!" sela Kayla kesal. Mami mengernyit malu, sedangkan Alex tertawa.


"Aku gak bilang gitu kok. Jadi ketahuan kan kalo-.." belum selesai Alex menimpalinya Kayla menyela lagi.


"liih...!" Kayla geregetan, ia meremas tangannya sendiri di depan muka Alex, kemudian pergi dengan kesal.


"Maaf tante, saya bercanda kok."


"Hehe.. gak papa. Yaudah, istirahat ya!"


"Makasih tante." Alex pun masuk ke kamar Kayla.


Alex berdiri di belakang pintu kamar Kayla, dan mulai berjalan gontai melihat-lihat isi kamar. Sederhana, satu kata itu pas untuk kamar minimalis Kayla ini.


Alex tertarik melihat sebotol parfum yang terletak di meja rias Kayla, ia pun menuju kesana dan duduk di depan cermin. la raih botol parfum itu dan ia hirup aromanya, wangi segar dan menenangkan. Ini aroma yang membuatnya selalu rindu, dan selalu ingat akan Miss Kissable. Parfum beraroma stroberi yang sering Kayla pakai, Alex sangat menyukainya. Sebenarnya Alex juga punya di rumahnya, tapi ia gengsi memakainya ke sekolah. Apa kata orang-orang jika seorang Alex yang keren dan macho memakai parfum yang identik dengan perempuan.


Alex lalu menatap pantulan wajahnya dicermin. Masih terlihat bekas pukulan yang menyebabkannya babak belur beberapa jam yang lalu. la terdiam lama, kemudian tersenyum.


"Miss Kissable, mimpi apa aku bisa ada dikamar kamu sekarang ini?!" gumamnya.


la lalu beralih ke tempat tidur Kayla dan membaringkan tubuhnya di sana. Menghela nafas panjang dan menikmati kenyamanan yang lapang itu. la lega, setidaknya Miss Kissable sudah mau bicara padanya, dan yang lebih menyenangkan adalah ia bisa lebih dekat dengan Miss Kissable. Tentang Bima, Sandi, dan Vicky, Alex akan memikirkannya nanti. la akan mengistirahatkan pikirannya dulu untuk malam ini. Dan tentang mama...


Alex berdecak kesal, ia lalu memejamkan matanya dan menutupi wajahnya dengan bantal.


... ....


... ....


... ....


"Jadi Mami cuman modus nih..?" Kayla cemberut.


Mami terlalu penasaran akan apa yang terjadi antara Kayla dan Alex, kenapa mereka bisa hujan-hujanan, dan bagaimana bisa Alex terluka, juga kenapa Kayla harus membawa Alex pulang ke rumah? Mami bilang ingin tahu semuanya sekarang juga, makanya mami meminta Kayla tidur dikamarnya. Padahal sebelumnya mami sudah lebih dulu masuk kamar setelah menyiapkan makanan untuk Kayla dan Alex, tapi karena tidak bisa tertidur memikirkan semua itu, mami pun berpikir untuk mengajak Kayla bicara malam ini juga, meski sudah tengah malam.


"Gak gitu juga sayang, Alex kan tamu kita, jadi gak enak dong kita biarin dia tidur di sofa aja, sedangkan di rumah kita cuman ada dua kamar. Makanya mami inisiatif gitu, jadi kan mami juga bisa tidur bareng Lily." jawab mami cengengesan.


"Ayo dong cerita.. curhat sama mami, mami kepikiran loh sayang.." rengek mami.


"Emm.." Kayla berpikir. "Lily bingung mi"


"Kok kamu yang bingung, kan mami yang penasaran juga ikutan bingung."


"Lily bingung ceritainnya dari mana."

__ADS_1


"Ya dari awal dong sayang, kalo endingnya kan mami udah tau, makanya mami penasaran itu sebelumnya gimana sih ceritanya?"


Kayla terdiam sejenak sebelum menghela nafas, bersiap untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bukan hanya yang terjadi malam ini, tapi juga yang terjadi sebelumnya, yang memicu terjadinya peristiwa malam ini.


Kayla bercerita mulai dari cinta Alex yang ditolaknya sehingga Alex sedih, kemudian Alex bermasalah dengan teman-temannya yang Kayla tidak tahu apa masalah mereka. Yang jelas teman-teman Alex menjauhinya. Lalu kejadian malam ini, ketika Alex bertengkar dengan mamanya, juga pria yang bersama mamanya. Kayla bilang sejujurnya meski ia belum bicara pada Alex tentang masalahnya, Kayla menyimpulkan bahwa Alex tertekan karena masalah-masalah yang ia hadapi sampai ia tidak bisa membendung air matanya.


Mami terenyuh, "Kasian.."


"Jadi, Alex nangis?" tanya mami.


"Hm. Mami pernah bilang, sebesar-besarnya masalah yang dihadapi, cowok selalu bisa menguatkan dirinya sendiri kan mi? Kalo cowok sampe nangis, berarti dia punya beban berat dalam hidupnya."


Mami mengangguk, "Tapi emangnya seberat itu ya beban yang Alex punya?"


"Lily gak tau mi, Lily cuman nyoba buat bantu dia, nenangin dia dan nguatin dia. Lily gak salah kan mi?"


Mami tersenyum, "Enggak sayang, kamu bener kok. Tapi.. " Mami terdiam, membuat Kayla penasaran.


"Apa Mi?"


"Kamu nolak cintanya Alex?" Kayla mengangguk, "Apa kamu nyesel sayang?"


"Kok mami nanyanya gitu sih? Lily gak salah kan, kenapa harus nyesel? Lagian Alex ngerti kok alasan Lily nolak dia, kita tetap temenan"


"Tapi apa kamu yakin kalo Alex terima-terima aja kalian cuman temenan?"


"Apa sih Mi, kenapa bahasnya itu? Bete' ah." rajuk Kayla.


"Mami cuman mikir kalo Alex masih berharap sama kamu walaupun udah ditolak, apalagi tadi kamu ngasih perhatian ke dia."


"Lily tau mi, Alex emang masih berharap sama Lily, tapi gak masalah kok. Karena ada yang lebih penting dari mikirin perasaan." gumam Kayla dalam hati.


"Alex cowok baik kok, dia ngerti Lily Mi. Mami gak usah mikirin itu ya!"


Mami mengangguk, meski tahu Kayla pasti juga berpikir demikian. Tapi Mami tetap menghargai privasi putrinya yang tengah beranjak dewasa ini.


"Trus sayang, kenapa kalian bisa ujan-ujanan? Katanya kamu neduh di bengkel, hayoo jangan bohong.."


"Itu.." Kayla pikir sebaiknya ia tidak menceritakan bagian ini. Entah apa respon mami jika ia bilang Alex menangis sambil memeluknya di bawah derasnya hujan?


"Alex duduk di tengah jalan Mi sambil nangis, padahal ujannya deras banget. Ya Lily gak tega liatnya, jadi Lily susulin. Karena gak ada payung ataupun jas ujan, yaudah.. basah deh. Abis itu kita neduh kok di bengkel tadi" jelas Kayla.


Mami mengangguk sambil membaca gelagat Kayla. Mami curiga ada yang Kayla sembunyikan, tapi yasudah lah, toh pertanyaan-pertanyaan mami sudah terjawab. Dan sepertinya Kayla juga tidak menyembunyikan masalah yang besar, pikir mami.


"Maaf ya Mami maksa kamu curhat."


"Anak mami udah gede" Mami mengelus kepala Kayla. "Yaudah, istirahat ya sayang"


Mami mematikan lampu dan mulai berbaring, Kayla pun mengikuti mami dan masuk ke dalam selimut.


... ....


... ....


... ....


Kayla terbangun karena batuk, ia beranjak untuk mengambil air minum di atas nakas. la raih ceret yang berada di atas nakas, ternyata kosong. Dengan malas, terpaksa ia harus ke dapur untuk mengambil air minum. Kayla melangkah keluar kamar, dan terhenti saat melihat pintu kamarnya terbuka.


"Kok pintunya kebuka, apa Alex keluar?"


Kayla pun menengok ke dalam dari ambang pintu kamarnya, tidak ada Alex di sana.Tidak terdengar suara juga dari kamar mandi. Kemana Alex? Kayla lalu menilik jam dinding, pukul 02.05 dini hari. Kayla pikir ia akan pergi ke dapur dulu untuk membasahi tenggorokannya yang kering dan gatal, setelah curhat panjang lebar dengan mami sebelum tidur tadi ia tidak minum dan langsung saja tidur. Setelah minum, ia pun mencari Alex ke seluruh ruangan rumahnya.


Kayla sampai keluar rumah juga untuk mengecek motornya, kalau-kalau Alex pergi dengan mengendarai motor, tapi tidak. Motor Kayla masih terparkir anteng, pintu depan juga masih terkunci saat Kayla hendak keluar tadi, jadi seharusnya Alex masih dirumah kan? Tapi dimana dia, apa mungkin di kamar mandi? Kayla pun kembali masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya untuk mencari Alex. la baru memperhatikan jika pintu belakang kamarnya terbuka, pintu belakang yang menghubungkan kamarnya dengan taman kecil belakang rumahnya.


Kayla pun menuju pintu itu dan benar saja, Alex ada di sana. Kayla lega, melihat Alex duduk di teras belakang kamarnya dengan menegakkan kedua lututnya dan melipat kedua tangannya di atas lutut, ia menumpu dagunya ke atas kedua tangannya itu. Dia tidak tidur dengan posisi seperti ini kan? Kayla lalu masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu di dalam lemari pakaiannya.


Alex menoleh saat mendengar suara dari dalam kamar, dan ia mendapati Kayla sedang berjalan ke arahnya membawa sesuatu ditangannya. Alex memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, Kayla memakai sendal bulu rumahan, piyama tidur lengan pendek yang ditutupi jaket, dan juga celana panjang. Rambutnya terurai berantakan dan tidak lupa kacamatanya. Langkahnya terhenti untuk mengambil sesuatu di dekat tempat tidurnya, kemudian ia keluar dan duduk disamping Alex.


"Kenapa gak tidur Al?" tanyanya seraya duduk.


"Kamu sendiri?"


"Aku tidur kok tadi, trus kebangun." Kayla menggulung rambutnya ke atas, dan menancapkan jepitan rambut yang besar agar rambutnya rapi. Sehingga leher jenjangnya yang mulus terlihat jelas oleh Alex.


"Kenapa kebangun, mikirin aku?"


"lh pede' amat!"


Kayla lalu menyodorkan sesuatu yang ia bawa ditangannya tadi. "Nih jaket kamu, maaf ya aku belum sempat balikin."


Alex menatap jaket itu. Ya, itu adalah jaket Alex yang ia berikan pada Kayla saat ia menolong Kayla dari jebakan kotor Jessica waktu itu. Alex tersenyum, hanya melirik jaketnya dan Kayla bergantian, tanpa mengulurkan tangannya untuk menerima jaket itu.


"Ambil.. pake Al, dingin loh malam-malam gini."


"Pake'in dong.."


"Ih ya ampun.. sejak kapan kamu manja gini? ujar Kayla terkekeh geli.


"Kenapa belum sempat balikin, sayang ya pisah sama jaket penyelamat ini? Aku aja sampe lupa kalo aku punya jaket ini, padahal ini jaket favoritku loh." kata Alex seraya mengambil jaketnya dan mengenakannya.

__ADS_1


"Favorit kamu, karena warnanya merah?" tanya Kayla, Alex tertawa kecil.


"Tapi Al, waktu itu.." Kayla terdiam dan Alex menunggu, menatapnya bingung.


"Waktu itu apa?"


"Waktu itu situasinya negangin banget buat aku, kamu pasti tau. Dan kalian semua ngetawain aku, aku sempet putus asa dan kamu juga sempat pergi kan waktu itu. Tapi apa yang bikin kamu balik Al? Kamu nyelamatin aku dari kejadian memalukan itu. Bukan cuman aku, semua orang kaget, kamu pasti tau itu. Aku, dan mereka semua gak nyangka kalo kamu bisa lakuin hal sebesar itu"


Alex terdiam, ia lalu mengubah posisi duduknya menyamping menghadap Kayla. "Aku juga. Aku sendiri juga gak nyangka kalo aku bisa lakuin itu."


Kayla mengernyit bingung.


"Waktu itu, aku belum tau kalo kamu Miss Kissable." Kayla mengangguk. Ya, itu juga yang Kayla pikirkan.


"Kamu tau, kenapa aku tiba-tiba pergi, trus balik lagi?"


"Apa?" tanya Kayla.


"Aku pergi karena aku gak tahan liat air mata kamu" Kayla menaikkan alisnya heran. "Dan aku balik karena aku gak tega ngebiarin kamu tersiksa."


"Kenapa coba?" tanyanya sendiri ambigu, membuat Kayla semakin tidak mengerti.


"Waktu itu aku cuman ngikutin kata hati aku. Aku tau yang aku lakuin itu jadi pertanyaan semua orang, mungkin diketawain juga, sebenarnya aku paling anti itu. Tapi aku gak ngerti kenapa aku tetap bisa lakuin itu, padahal kamu adalah cewek paling nyebelin di sekolah!" Alex tertawa kecil.


Kayla tersenyum, "Kalo gitu ikutin terus apa kata hati kamu Al! Hati nurani seseorang gak akan khianatin orang itu sendiri. Jangan kamu turutin ego kamu yang sombong dan suka marah-marah itu Al!"


"Kamu bilang aku pemarah? Aku sombong?" sewot Alex.


"Hm, emang kamu gak nyadar? ltu tuh masalah terbesar kamu Al"


"Maksudnya?"


"Aku tau kamu itu sebenarnya orang baik. Dari diri kamu yang pemarah dan sombong ini, buat jadi lebih baik itu gak terlalu sulit kok Al. Buktinya kamu bisa jadi seorang penyelamat disaat-saat emang dibutuhin. Hati nurani kamu sendiri yang akan bimbing kamu, jadi jangan ragu, dan jangan turutin ego kamu mulu!"


Alex terdiam memikirkan kata-kata Kayla. "Miss Kissable, kenapa kamu mikir kalo aku bisa jadi orang baik?"


"Kamu ngomong apa Al? Aku kenal kamu dari awal itu kamu emang orang baik. Kenapa kamu kayak minder gini?"


"Tapi kamu juga udah liat sisi brutal aku, dan kamu masih mikir aku bisa jadi orang baik?"


Kayla mengubah posisi duduknya menghadap Alex. "Al, setiap orang punya alasan dan tujuan masing-masing saat dia ngelakuin sesuatu. Dan aku percaya, ketika kamu berbuat baik kamu punya alasan dan tujuan tersendiri kan? Begitu juga ketika kamu ngelakuin hal buruk, ada alasan dibalik itu kan AI?"


Alex terdiam.


"Apapun alasannya, itu gak bener!" gumam Alex datar.


"Apapun alasannya, cuman kamu yang ngerti. Bener ataupun enggak, efeknya kamu sendiri yang ngerasain. Apa yang kamu rasain setelah kamu ngelakuin hal buruk Al?"


Alex mengernyit, "Kenapa nanyanya gitu?"


"Karena kondisi kamu sekarang." sahut Kayla ambigu.


"Aku liat kamu tertekan, kamu punya beban, kamu terluka, Al! Gak mungkin itu semua gak pengaruhin perasaan kamu. Makanya aku nanya, apa yang kamu rasain setelah kamu ngelakuin hal buruk? Sebelumnya kamu udah punya masalah, trus kamu berpikir bisa ngelupain masalah kamu dengan ngelakuin sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang menantang. Apa begitu Al?"


Alex terperangah, bagaimana Kayla bisa mengatakan itu? Bagaimana ia tahu tentang perasaan dan tekanan yang Alex rasakan? la bicara tentang luka dan beban, dari mana ia tahu semua ini, apa ia begitu peka sampai ia bisa membaca pikiran Alex hanya dari melihatnya saja?


Alex tertawa, "Kamu bisa ngomong gitu Miss Kissable, apa selama ini kamu merhatiin aku?"


"lya." singkat Kayla, membuat Alex menghentikan tawanya dan membulatkan matanya tak percaya.


"lya?" ulang Alex memastikan.


"Hm, kamu itu orang penting Al." Alex tak menyangka Kayla akan mengatakan itu.


"Kamu tau, sejak aku sekolah di SMA kamu itu, aku udah liat ketidak adilan yang terjadi, dan aku gak bisa diam aja. Kamu adalah orang nomer satu di sekolah, jadi aku pikir kalo aku mau liat keadilan di sana, aku harus mulai dari kamu"


"Maksud kamu, aku orang penting di sekolah? Bukan dihati kamu?" tanya Alex, membuat Kayla tertawa.


"Upss.. sorry Al. Aku gak bermaksud ngeledek kamu kok."


Alex cemberut. "Jadi kamu pengen aku berubah tuh demi sekolah? Bukan karena kamu pengen aku bener-bener berubah?"


"Jangan salah paham Al, kamu gak harus berubah jadi yang aku mau kok. Jadi diri kamu sendiri, Al! Diri kamu yang sebenarnya, sebelum semua luka dan beban itu ngeganggu kamu, sebelum kamu berubah menjadi Alex yang pemarah dan sombong. Alex yang dulu! Aku yakin kamu bisa."


Alex mengernyit dalam, ia belum mengerti apa yang Kayla katakan tapi nada bicaranya itu membuat hati Alex menghangat. Kayla tersenyum tulus pada Alex.


Keheningan malam dan hawa dingin yang meliputi mereka seolah tak ada artinya bagi Alex dibandingkan kata-kata tulus Kayla, juga senyumannya yang indah dan menenangkan itu. Alex terpana melihatnya, dan hatinya pun tersentuh.


Benarkah Kayla bisa membantunya menghapus luka juga menghilangkan beban dalam dadanya ini? Luka yang masih terpendam dan tak pernah sembuh itu, yang membuat Alex merasa memiliki beban dalam hidupnya.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2