
Tepuk tangan meriah menyambut Alex dan sesuatu yang dibawanya. Kayla terpukau takjub sampai menutup mulutnya. Alex melangkah menuju Kayla sambil mendorong meja kecil yang diatasnya tersuguh sebuah karya indah hasil keterampilan tangan Alex sendiri. Sebuah ukiran yang terbuat dari berbagai buah-buahan dan sayur, berbentuk buket bunga, sebesar topi pantai.
Semua mata menatap takjub pada buket bunga Alex itu, terutama Kayla.
"Happy birthday Miss Kissable... happy sweet seventeen!" ucap Alex sepenuh hati.
"Thank you so much, Mr Strawberry!" jawab Kayla.
"Subhanallah... bagus banget Al!" puji mami Kayla.
Alex beralih, meraih tangan mami Kayla dan menciumnya.
"Kapan lu bikinnya AI, katanya tadi sore elu datang duluan ke rumah Kayla?" tanya Vicky.
"Hm?" bingung Kayla.
"Tadi sore, sebelum gue kesini" sahut Alex.
"Ini kamu bikin sendiri, Al?" Mami Kayla menatap takjub.
Alex mengangguk. Mami pun berdecak kagum, Om lwan, Tante Vina, dan Riana pun menunjukkan ekspresi yang sama.
"Enggak nyangka gue, anak bangor kayak elu punya bakat gini." lakar Riana, yang disambut tertawaan Alex dan teman-temannya.
"Nak Alex, butuh waktu berapa lama bikin ukiran kayak giní?" tanya Om lwan penasaran.
"Emm... hampir 2 jam, Om. Rada susah sih soalnya medianya kan buah, jadi agak lembek dan rentan gitu."
"Wah.. cuman 2 jam. Hebat kamu! Om kira bisa sampai seharian" Alex tertawa kecil mendengar respon Om Iwan.
"Berbakat ya ternyata kamu, belajar darimana?" tanya mami Kayla.
"Mami kepo ih." protes Kayla geli.
"Aku juga baru tau kalo Alex bisa ngukir buah juga, aku pikir cuman kayu-kayuan doang. Hehe..." timpal Nia, membuat Alex terkekeh dan menyelis ke arahnya.
Sementara Adit merasa insecure, ia memberikan Kayla sebuket bunga mawar asli, tapi Alex memberi Kayla sebuket bunga hasil karyanya sendiri, yang terbuat dari buah.
"Ini buah? Ya ampun.." ucap Kayla gemas seraya memegang kedua pipinya.
"Kenapa, enggak suka ya?" tanya Alex.
"Suka lah! Tapi kan kalo kayak gini aku jadi sayang makannya.." sahut Kayla.
"Enggak papa Kay kalo kamu sayang makannya, kan ada kita." celetuk Nia.
"Kita? Kamu aja kali." timpal Kayla, mereka pun kembali tertawa.
"Oh iya. Tunggu sebentar, ada lagi!" ujar Alex kemudian pergi.
Tentu saja para hadirin penasaran akan apa yang dimaksud Alex, tak terkecuali Kayla sendiri. Kayla sedikit tak sabar menunggu Alex tiba. Tak lama kemudian Alex datang dengan membawa sebuah benda berbentuk segiempat pipih yang besar, lebih besar dari separuh tubuhnya sendiri. Entah apa itu Kayla tidak bisa menebaknya, benda itu terselimuti kertas tebal seluruhnya.
Alex menurunkan benda itu dihadapan Kayla, ia masih memegangnya, bersiap membuka kertas yang menutupi benda itu.
"Gue tebak isinya-.."
"Ssstt..!" sergah Alex saat Sandi mencoba mengatakan sesuatu.
"Ini hadiahku buat kamu. Semoga suka ya!" ucapnya sambil membuka kertas yang menutupi benda itu.
Para hadirin pun berkerumun di dekat Alex dan Kayla, tentu karena penasaran dengan apa yang ada dibalik kertas tebal yang dibawa Alex itu. Setelah semua kertas penutupnya tersingkir, nampak lah sebuah lukisan yang mengagumkan, lengkap dengan bingkainya.
Lukisan seorang gadis bertopeng dengan senyuman manisnya, lukisan itu sebatas pinggang, dengan full warna. Para hadirin pun kembali dibuat takjub dengan sesuatu yang disuguhkan Alex.
"Woww... amazing!" gumam Riana takjub.
Nia memegang kedua pipinya seraya menatap sanjung pada lukisan itu. Kemudian mimik wajahnya berubah setelah menilik lekat ke sudut bawah lukisan itu. Disana tertulis 'Miss Kissable'.
"Eh, ini maksudnya.. Kayla ya?" tanya Nia tak percaya.
"Ya iya lah, masa' elu!" sahut Alex tanpa pikir.
"What? Demi apa?? Ini Kak Kayla?" ujar Annisa takjub, membuat Alex memutar bola matanya malas mendengar ungkapan tak penting Annisa.
Sementara Kayla sendiri terkesima tanpa bisa mengatakan apapun. Bagaimana bisa Alex melukis dirinya, dengan goresan seindah dan sesempurna ini. Bahkan Kayla merasa lukisan ini lebih cantik dari dirinya sendiri.
Adit memandang lekat lukisan itu, ia juga sama tidak percayanya dengan teman-temannya, kalau gadis di dalam lukisan itu adalah Kayla. "Tapi kok pake topeng?" gumamnya pelan.
Riana mendengus. "Owh... kayaknya gue paham deh, cewek ini yang elu cari-cari? Yang puas elu tanya-tanyain ke gue?"
Alex menyengir. "Gila ya lu! Ngerecokin gue abis-abisan cuman buat nyari Kayla, padahal kalian kan satu sekolah!" gerutu Riana.
"Jadi Kak Riana sama Kayla..?" bingung Bima.
"Sepupu! Kalo gue tau dari awal yang elu cari itu sepupu gue, enggak bakal gue kasih flashdisk gue ke elu! Sekarang mana flashdisk nya, udah ketemu belum?" gerutu Riana lagi.
"Owh... sepupu." monolog Bima, Sandi, dan Vicky serentak.
"Flashdisk?" bingung Kayla.
"lya. Itu flashdisk rekaman acara ulang tahun gue, dipinjem sama Alex buat nyari elu katanya. Eh.. malah diilangin sama dia." gerutu Riana.
"Sorry Kak, gue beneran enggak tau lagi itu flashdisk nya kemana." sahut Alex seraya menyengir, membuat Riana mendengus pasrah.
"Alex nyari Kayla?" gumam Adit dalam hati.
"Eh tunggu, Alex nanyain Lily ke Riana? Tante nggak ngerti" ujar Mami pada Riana yang hanya menanggapinya dengan mengedikkan bahu.
"Kay, aku gak ngerti. Maksud sepupu kamu apa sih, hubungannya sama topeng apa?" tanya Nia pelan.
"Pertama kali aku ketemu sama Alex itu di pesta topeng, pesta ulang tahunnya Kak Riana"
"Owh...." kini giliran Nia, Annisa, dan Adit yang bergumam serentak.
"Dan.. lukisan ini adalah kamu pas pertama kali kalian ketemu, Kay?" tebak Adit.
"Yups! Gaun yang sama, dandanan yang sama, topeng yang sama, dan ekspresi yang sama." jawab Alex.
__ADS_1
Adit sempat terpaku mendengar jawaban Alex. la lalu mendengus, "Pantesan Alex enggak ngenalin Kayla pas ketemu di sekolah. Ternyata Kayla nya tampil beda." ujar Adit, membuat Nia dan yang lainnya ber Oh ria.
"Kamu cantik banget Kay, pangling tau!" ujar Adit pelan, membuat Kayla salting, sementara Alex berdehem menegur.
Mami Kayla tertawa renyah, membuat semua orang menatapnya heran. "Tenyata bukan cuman mami ya yang pangling liat Lily dandan kayak gini, Alex juga. Sampe enggak ngenalin lagi! Lucu deh." ujar Mami disela-sela tawanya.
Para hadirin pun ikut tertawa, membuat Kayla salting dan geli. Alex hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil mencuri pandang pada Kayla, yang ternyata juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua pun tersenyum dan tersipu malu.
Acara pemotongan kue pun tiba. Sengaja didahulukan acara pemberian kado, daripada pemotongan kue, karena mami Kayla pikir setelah pemotongan kue harusnya langsung makan saja sekalian. Supaya tangan tidak kotor dua kali, ceritanya.
Kayla memberikan potongan kue pertamanya untuk mami tercinta, dan menyuapinya.
"Ada suapan kedua nggak nih..?" celetuk Riana menyindir, sambil melirik Kayla dan Alex bergantian.
"Suapan kedua.. mami yang nyuapin aku." kata Kayla yang diiringi tertawa kecil darinya sendiri.
Sebenarnya Kayla mengerti maksud Riana, tapi ia tidak mau melakukannya. Hanya mami yang berhak mendapat suapan dari Kayla.
... ....
... ....
... ....
Setelah selesai acara makan malam bersama, mengobrol dan sebagainya.Teman-teman Kayla pamit pulang, Om lwan sekeluarga juga beranjak pulang. Tinggal lah Alex sendiri, bersama Kayla dan maminya. Alex menolak diajak pulang bersama oleh ketiga temannya, katanya masih ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Kayla. Alhasil Bima, Sandi, dan Vicky pulang duluan.
Kayla tersenyum melihat buket buah yang Alex buat, sudah tidak berbentuk lagi. Karena tadi teman-temannya berebut mencicipinya. lya katanya hanya mencicipi, tapi mereka malah mengaduknya dan hampir menghabiskannya. Kayla senang, bisa merayakan ulang tahun seperti ini. Rasa kekosongan yang awalnya ia rasakan saat pertama kali mendapat kejutan tadi, sudah bisa ia lupakan. Ya, Kayla tidak pernah merayakan ulang tahun tanpa Dia, tapi kali ini.. Dia tidak ada bersama Kayla. Teman-teman baru Kayla, termasuk Bima, Sandi, dan Vicky telah mengisi kekosongan itu.
Kayla lalu menatap boneka Teddy Bear pemberian Adit. "Kenapa sih aku selalu keinget kamu pas liat boneka Teddy Bear?" tanyanya sendiri.
Saat ini Kayla duduk di sofa, di ruang tengah rumahnya. Sedangkan mami dan Alex sibuk membereskan semua barang dan makanan sisa acara tadi. Kayla awalnya ingin membantu, tapi mami memintanya hanya menyisihkan hadiah-hadiahnya saja. Alhasil kini Kayla duduk sendirian, ditemani hadiah-hadiah yang ia dapatkan di acara tasyakuran ulang tahunnya tadi.
"Ehem... ngomong sendirian? Mau aku temenin?" Alex muncul dan mengagetkan Kayla dari lamunannya.
Alex lalu duduk di samping Kayla. "Liat Al, buket bunga buatan kamu udah gak ada bentuknya lagi!" ujar Kayla.
Alex terkekeh, "Enggak papa. Kan masih ada ini" kata Alex sambil menyentuh lukisannya.
"Aku heran, kok bisa sih kamu ngelukis aku, sebagus ini lagi"
"Kamu itu selalu ada di hati aku, ada dipikiran aku, jadi nggak sulit buat ngelukis kamu."
"Tapi ini, gimana bisa kamu inget pas pertama kali kita ketemu? Aku pake baju apa, dandanan gimana, trus topengnya juga!"
"Kan aku udah bilang, aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama. Jadi mana mungkin aku lupa gimana kamu pas pertama kali aku liat"
Kayla terdiam, ia tidak tau harus menjawab ataupun menanggapi apa lagi. Sampai sekarang pun Kayla masih tidak percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama, tapi bukan berarti ia tidak percaya kalau Alex mencintainya.
"Miss Kissable, ada sesuatu yang mau aku omongin." kata Alex serius.
"lya?"
Alex menatapnya intens, membuat Kayla mulai risih dan jantungnya berdetak tak karuan.
"Ada apa Al?"
"Apa keputusan kamu masih sama? Apa kamu tetap enggak mau pacaran?"
"Bukan cuman nggak mau pacaran Al, aku juga nggak mau jatuh cinta." Alex menaikkan alisnya tak percaya.
"Aku nggak mau jatuh cinta terlalu cepat, apalagi sama orang yang salah. Prinsip aku, aku cuman mau jatuh cinta sama suami aku nantinya."
"Tapi cinta itu perasaan yang bukan kita yang nentuin. Dia datang sendiri, siapapun orangnya dan kapanpun waktunya kita juga nggak bisa milih. Kita cuman bisa ngerasain, trus nyadarin perasaan itu"
"Apa kamu percaya itu?" tanya Alex lagi.
"lya." Kayla mengangguk. "Tapi dengan gak pacaran, aku gak biarin hati aku terbawa perasaan yang mungkin gak bener. Aku cuman berusaha ngehindarin perasaan nyesal atau sakit hati. Aku gak mau jatuh cinta sama orang yang salah."
"Orang yang salah maksudnya gimana?"
"Yang nggak ditakdirin jadi pendamping hidup aku." sahut Kayla singkat, membuat senyuman tipis terbit dari bibir Alex.
"Hhh... Alhamdulillah..." desah mami sembari menjatuhkan dirinya ke sofa.
"Mami, tuh kan mami capek! Lily kan udah bilang nggak perlu bikin acara, mami juga kan yang repot."
"Mami nggak repot. Mami bahagiaaa banget!" ucap mami seraya menyandarkan punggung ke sofa.
"Makasih ya mi!"
"lya. Makasih juga sama Alex, dia bantuin mami loh nyiapin acaranya!" ujar mami, membuat Kayla beralih menatap Alex.
"Dengan senang hati." kata Alex.
"Makasih banyak ya Al, buat semuanya!" ucap Kayla tulus. Alex mengangguk.
Tak mau buang-buang waktu, Alex bermaksud mengungkapkan apa yang ia inginkan dan ia rencanakan. Ia berdehem sebelum memulai.
"Tante!"
"lya?"
Alex melirik Kayla sebelum mengatakan sesuatu. la kembali berpikir dan menimbang-nimbang kalimat yang akan ia ucapkan, agar tidak membuat kesalahan.
"Saya.." Alex terdiam dan kembali melirik Kayla.
"Saya..." Alex berdehem kecil, "Saya jatuh cinta sama Lily"
Kayla dan maminya lantas membulatkan mata mendengar ungkapan Alex. Mami menegakkan punggungnya, menyimak ucapan Alex. Kayla tidak menyangka Alex akan berkata sejujur itu pada mami.
"A-..AI?" Kayla gelagapan.
"Saya tau Lily gak akan mau nerima saya kalo saya ngajak dia pacaran, Tante. Jadi saya langsung ngomong giní ke Tante"
"Emm...." mami pun bingung harus menjawab apa.
"Saya..."
__ADS_1
Kayla dan mami dibuat gelisah dengan kalimat Alex yang ia jeda itu.
"Saya.. berniat buat ngelamar Lily."
Duaarrr......
"Hah??" histeris mami.
Kayla langsung berdiri dari duduknya. "Apa? Kamu gila ya Al, ngomong apa sih barusan, sadar nggak??" geram Kayla.
"lya. Aku sangat sadar, dan aku ngomong jujur. Aku udah bilang kan sama kamu kalo aku serius, dan aku buktiin itu. Aku pengen ngelamar kamu.. jadi istriku!"
Kayla menggeram kecil sambil menutup kedua telinganya, ia geli mendengar pengakuan Alex apalagi yang terakhir tadi.
Kayla berbalik dan menghadap mami. "Mi, jangan dengerin Alex! Dia ngawur!"
Mami masih terpaku dan kebingungan. Seolah tubuh dan pikirannya tidak sejalan.
"Maaf kalo saya ngagetin, Tante. Say-.."
"Ngagetin banget tau! Kamu mau bikin aku sama mami jantungan?!" sungut Kayla.
"Saya serius. Nanti setelah saya ngomong sama papa soal ini, saya bakal balik lagi. Saya pasti buktiin ucapan saya." lanjut Alex.
Degg
Mami masih tak berkutik, hanya menatap Alex melongo.
"Serius, serius, serius mulu yang kamu omongin! Mikir dong Al, sadar apa yang barusan kamu omongin?!"
Kayla marah, kesal, gemas, dan geli dalam waktu bersamaan. Alex mendengus senyum melihat kekalangkabutan Kayla.
"Hei aku gak bercanda ya!" jengkel Kayla.
"Aku juga gak bercanda." sahut Alex tenang.
"Gak lucu Al! Ngerusak mood aku aja!!" bentak Kayla kesal.
la kemudian pergi dan masuk ke kamarnya.
Brakk!!
Kayla membanting pintu kamarnya kesal, membuat Alex dan mami terkejut. Barulah mami tersadar dan kembali ke dunia nyatanya.
"K-..kamu ngomong apa tadi?" tanya Mami yang meski sudah sangat jelas mendengar ucapan Alex.
"Maaf mendadak Tante, saya bikin Tante kaget. Saya nungkapin isi hati saya, dan juga rencana masa depan saya. Saya.. belum ngomong sih sama papa, tapi saya beneran serius kok."
Mami pun kembali dibuat bingung, dan lagi-lagi tidak bisa menjawab apa-apa.
"Saya pamit, Tante!" ucap Alex seraya berdiri.
"Oh iya" sahut mami yang masih melongo.
Alex meraih tangan mami Kayla dan menciumnya. Kemudian mengucapkan salam, sedangkan mami masih bersama pikirannya yang berkecamuk bingung.
"Wa'alaikum salam." ucap mami pelan, saat tersadar mendengar suara deru mobil Alex yang melaju meninggalkan rumahnya.
... ....
... ....
... ....
... ...
Sementara Kayla di kamarnya tengah gelisah. la mondar-mandir tak karuan, kemudian duduk, berbaring, dan begitulah berulang-ulang. Gaun ulang tahunnya bahkan belum ia ganti dengan piyama tidur, menandakan ia tidak bisa tidur. Jangankan tidur, ia bahkan tidak bisa berpikir dengan baik.
Alex sungguh mengejutkannya hari ini. Bukan karena hadiahnya yang mengagumkan, tapi ungkapan keseriusannya itu yang membuat Kayla kalang kabut saat ini. Suara detak jantung Kayla sudah tak bisa dikondisikan lagi, deru nafasnya yang mulai ngos-ngosan pun mulai mengganggunya. la berkeringat serta gemetaran dalam waktu bersamaan.
Kayla tidak pernah menyangka sama sekali Alex akan berkata seperti itu dihadapan mami.
"lih..." Kayla meremas tangannya gemas.
"Ck, apa sih!" kesalnya.
"Huuh... Alex udah gak waras ya!"
"Emmmh... cowok aneh!!"
"Nekat amat sih?!"
Gerutunya tiada henti. la begitu marah, gregetan, dan jengkel sekali dengan Alex. Kayla telah salah menyepelekan Alex.
Ya, Kayla tahu Alex mencintainya. Bahkan Alex sudah menyatakannya berkali-kali pada Kayla, bahwa dia serius dan akan menunggu Kayla. Tapi Kayla tidak tahu jika Alex benar-benar seserius ini, Kayla tidak tahu kalau Alex mengambil keputusan sebesar itu secepat ini. Kayla bahkan tidak pernah berpikir bahwa suatu saat Alex akan melamarnya, meski Alex mengatakan akan tetap menunggunya.
Bagaimana bisa dia punya nyali sebesar itu untuk mengungkapkan keseriusannya? Secepat ini? Bahkan mereka masih duduk dikelas sebelas.
Apa yang Alex pikirkan sebelum dia memutuskan untuk melamar Kayla? Dia bilang ingin menjadikan Kayla istrinya? Astaga.. dia kira hubungan suami istri itu main-main! Dia kira pernikahan itu semudah soal matematika favoritnya!
Disisi lain, Nadia juga belum bisa tertidur. Banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Pernyataan Alex tadi langsung menyita pikirannya.
Benarkan Alex mencintai Kayla?
Dia bercanda, atau serius?
Tapi bagaimana bisa anak seumuran Alex berpikir untuk menikah? Nadia sendiri saja masih menganggap Kayla anak kecil. Dan hari ini, seorang pemuda mengungkapkan keseriusannya untuk melamar putri kecilnya itu?!
Haruskah Nadia melupakan saja ucapan Alex dan menganggapnya sebagai candaan anak-anak? Atau haruskah Nadia berpikir lebih jauh ke depan mengenai putrinya yang akan dilamar?
Benarkah Alex serius ingin melamar Kayla??
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...