Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Dorongan Hati


__ADS_3

Nadia terus menangis, menyesali yang terjadi kemarin. Dulu ia sendiri yang mengajari dan mewanti-wanti Kayla untuk tidak mencoba-coba bermain hati, untuk tidak berpacaran atau menaruh harap dengan mudah pada laki-laki. Nadia tidak ingin Kayla sampai patah hati atau disakiti, Nadia takut Kayla akan menderita jika jatuh cinta pada laki-laki yang salah. Tapi sekarang.. Nadia baru sadar bahwa ia sendirilah yang menempatkan Kayla dalam penderitaan itu. Kini putrinya harus terluka oleh hubungan yang diputuskan paksa padahal baru saja dimulai. Putrinya harus merasakan sakit hati yang dulu sangat ia takutkan terjadi.


Nadia menyesalinya, sangat menyesal. Karena ia sendiri yang telah meminta Kayla mencoba membuka hatinya untuk Alex, meski Kayla takut kala itu. la sendiri yang meyakinkan putrinya itu bahwa Alex bukanlah pria yang salah, dan pantas diberikan cinta. la sendiri yang mendorong Kayla memasuki kehidupannya yang sekarang ini, yang Nadia pikir adalah sebuah impian indah yang telah hadir, namun Nadia tidak sadar bahwa impian itu masih jauh dimata.


"Ini salahku Mas.. salahku.. Aku nyesel..." rutuknya sembari mencengkram baju depan dadanya.


"Nad, udah dong.. jangan terlalu berlarut-larut.." lerai sang kakak.


Nadia sudah menceritakan semuanya kepada sang kakak, perihal yang Pak William katakan padanya dan Kayla kemarin. Semua kata-kata menyakitkan yang bos nya itu lontarkan, ia tumpahkan rasa sakit itu dengan curhat pada sang kakak. Kakaknya, satu-satunya orang yang bisa menjadi tempatnya bersandar dikala rapuh.


"Tega banget Pak William sama aku, sama Lily apalagi, Mas. Kenapa dia nggak mau membuka matanya sendiri, dia selalu melihat dengan mata publik. Padahal harusnya dia tau publik suka mencari-cari kesalahan dari orang seperti dia. Aku nggak abis pikir." sungut Nadia.


Om Iwan sendiri dibuat berang setelah mendengar cerita Nadia, ia pun tidak menduga jika Pak William akan sampai hati berbicara setajam itu. Selama ini ia kira Pak William berbeda dengan konglomerat lainnya, tapi nyatanya sama saja. Berkata seenaknya dengan angkuh, tanpa peduli orang tersakiti oleh kata-katanya. Berlaku semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Selama ini yang lwan dan Nadia lihat dari Pak William tidak ada sikapnya yang seperti itu, namun kemarin.. Pak William sendiri yang mematahkan persepsi lwan dan Nadia tentang dirinya. Pak William sendiri yang membuktikan pada Iwan dan Nadia bahwa dia tidak berbeda dengan t***s ber-jas sekelasnya.


"Aku nggak percaya yang selama ini orang bilang, kalo otak orang berjiwa bisnis itu kejam. Karena aku nggak liat Pak William seperti itu. Tapi Mas, Pak William sendiri yang buktiin ke aku kalo yang dibilang orang-orang itu emang bener. Dia kejam Mas." adu Nadia frustasi.


"lya Nad, udah.. udah ya..! Aku tau kamu kecewa, tapi udah dong. Kuatin diri kamu demi Kayla! Kayla butuh kamu sekarang Nad, gimana kamu bisa nguatin dia kalo kamu sendiri aja rapuh" lerai Om lwan sambil mengusap-usap bahu Nadia.


Nadia mendongak menatap kakaknya, terdiam beberapa saat lalu menghapus air matanya. Nadia tahu kakaknya juga tengah kecewa dan marah, tapi dia tetap tegar demi membuat Nadia kuat.


"Kamu benar Mas, makasih.. kamu ada disini buat aku" lirih Nadia.


Om Iwan tersenyum simpul, tangannya beralih mengusap kepala adik kesayangannya yang malang itu. "Ini udah tugas Mas"


"Sekarang kamu yang jalanin tugas kamu! Samperin Kayla, udah seharian kalian berdua itu diem-dieman, nggak peduliin yang lain selain kesedihan masing-masing. Mas sampe bingung" Om lwan terkekeh.


Nadia pun ikut tersenyum. "lya Mas, maafin aku ya udah ngerepotin Mas. Mas sampe nggak pulang dari kemarin ngurusin aku sama Lily"


Nadia menghela nafas panjang. "lbu macam apa aku ini Mas.." lirihnya kembali.


"Ssst.... udah Nad.. nggak ada selesainya kalo kamu terus nyalahin diri kamu. Kayla butuh kamu sekarang, cuman kamu yang dia harepin bisa ngertiin dia saat ini. Jangan biarin dia terpuruk lama-lama."


Nadia mengangguk.


... ....


... ....


... ....


Malam ini cuacanya sangat dingin, karena bumi baru saja diguyur hujan yang begitu deras. Alex duduk meringkuk di teras rumah Kayla sambil memeluk tubuhnya. Meskipun ia mengenakan jaket, tetap saja ia kedinginan, karena sempat ia kehujanan. Padahal ia tidak duduk di bawah langit langsung, tetapi hujan yang begitu deras membuat teras rumah minimalis Kayla juga ikut terkena guyuran hujan, sehingga membuat Alex ikut basah.


Sudah sejak siang ia duduk dengan setia disini, meski sudah diusir oleh Om Iwan ia tetap betah berada disini. Sejak kekacauan situasi beberapa hari yang lalu Alex sudah berkali-kali bolak balik ke rumah Kayla, demi menemui gadis itu dan bicara padanya. Namun hanya Om lwan yang selalu membukakan pintu untuknya ketika ia datang, dan pria paruh baya itu tidak mengizinkannya untuk menemui Kayla. Jangankan untuk menemui Kayla, Om Iwan sendiri bahkan tidak mau mendengarkan Alex. Om lwan hanya membukakan pintu lalu memintanya pergi, begitu yang terjadi berulang kali.


(Flashback On)


"Ngapain lagi kamu kesini? Saya kan udah bilang, jangan temuin Kayla! Kamu cuman nyakitin dia, nggak bakal saya biarin kamu nambah-nambahin penderitaannya!" ketus Om lwan.


"Justru saya kesini buat memperbaiki semuanya Om. Karena saya nggak mau Kayla terus-terusan menderita gara-gara saya, makanya saya kesini. Saya harus ngomong sama dia Om." pinta Alex memelas.


"Enggak! Harus berapa kali saya bilang, saya eneg liat kamu, Nadia juga muak sama kamu. Dan Kayla.. kamu tau kan, dia butuh waktu buat tenangin diri."


Alex tertegun, merasa begitu bersalah, "Seenggaknya tolong Om dengerin saya dulu, saya bener-bener pengen memperbaiki kesalahan ini Om. Saya nggak bisa tenang sebelum saya ngejelasin semuanya."


'Tapi saya nggak berminat mendengarkan kamu. Pergi kamu dari sini!" usir Om lwan.


"Om..." lirih Alex.

__ADS_1


Om Iwan menutup pintu di depan wajah Alex.


"Saya nggak akan kemana-mana sampai saya ngomong sama Kayla, Om! Saya akan tetap disini sampai Kayla keluar nemuin saya!" pekik Alex dari luar, seolah ia meneriaki pintu di depannya.


"Terserah kamu! Kayla nggak bakal keluar meskipun kamu nunggu sampai besok atau lusa!" balas Om Iwan dari dalam, dengan nada yang geram.


Alex mendesah lemas, namun ia tidak putus asa. la terus memanggil-manggil nama Kayla sampai Om lwan kembali membuka pintu. Kesal karena suara panggilan Alex yang mengganggu, Om Iwan kembali memarahinya dan mengusirnya. Namun Alex tak bergeming, ia tidak mau pulang sebelum bicara pada Kayla, atau setidaknya melihat gadis itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Saya akan tetap disini Om. Saya bener-bener nggak bisa tenang sebelum saya liat Kayla. Tolong Om.. saya juga nggak mau Kayla terus-terusan sedih, makanya saya harus jelasin ke dia."


"Kamu sadar dong! Kayla itu sedih gara-gara kamu, dia bahkan nggak mau liat muka kamu saat ini! Kalo kamu emang sayang sama dia, kasih dia waktu!" sungut Om lwan benar-benar geram.


Alex menunduk, ia semakin merasa bersalah. Sakit sekali hatinya mendengar Om Iwan bilang kalau Kayla tidak mau melihat wajahnya. Semarah itukah Miss Kissable padanya, sampai dia tidak mau melihat wajah Mr Strawberry nya. Alex harap Miss Kissable tidak sampai membenci dirinya.


(Flashback Off)


Alex tidak bisa berhenti memikirkan Kayla, sudah empat hari sejak hari yang buruk itu ia belum juga bisa menemui gadis itu. Sungguh Alex tidak bisa tenang, tidak bisa tidur, makan tidak teratur bahkan nafsu makannya kini hilang. la tidak bisa melakukan apapun dengan benar karena pikirannya kacau. Karena itu, hari ini ia kembali ke rumah gadis itu lagi, dengan tujuan dan harapan yang sama. Namun lagi-lagi ia diusir, baik Om Iwan ataupun Tante Nadia masih enggan mendengarkannya. Sakit hati mereka yang membuat mereka masih tidak bisa menerima kehadiran Alex, apalagi membiarkan pemuda itu menemui putri mereka.


Meski sudah berjam-jam Alex berada di teras rumah Kayla, bahkan sempat kehujanan, tidak juga Om Iwan ataupun Tante Nadia membukakan pintu untuknya. Tapi Alex tetap tidak bergeming, kali ini ia tidak akan pulang sebelum Kayla mau menemuinya. la merasa tidak tahan lagi jika berlama-lama dalam situasi seperti ini. Jarak yang tercipta diantara dirinya dari Miss Kissable, dengan komunikasi mereka yang terputus, hubungan mereka yang berantakan, perasaan yang sama-sama hancur, dan kondisi gadis itu yang tidak baik-baik saja. Alex tidak tahan,semakin berlalunya waktu hari demi hari, hatinya semakin sakit. Meski yang berlalu hanya empat hari, baginya ini sudah sangat lama dan melelahkan.


Kali ini ia harus berhasil menemui gadis pujaannya itu, ia harus memastikan keadaannya. Rasa khawatirnya akan keadaan Kayla kian menggebu-gebu, meski ia tahu gadis itu tidak sedang sendirian. Namun hatinya terus mendorongnya untuk memastikan keadaan gadis itu, karena ia begitu merasa bersalah dan belum berhasil menjelaskan apapun pada gadis itu sampaisekarang. Mungkin saja, saat ini Kayla tengah menangis sedih, gadis itu pasti terluka dengan keputusan sepihak yang dijatuhkan oleh papa Alex. Tapi sungguh, Alex sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyakitinya, Alex tidak pernah berniat untuk menyetujui keinginan papanya.


Alex mendongak ke langit, lalu menilik jam tangannya. Malam semakin larut, hujan pun sudah reda. Namun tekad dan harapan Alex tidak surut, tidak masalah jika ia tetap menunggu disini sampai besok pagi atau sampai besok malam sekalipun. Toh kalaupun ia pulang ia tidak bisa melakukan apa-apa juga. Saat ini yang terpenting adalah membuat pikirannya tenang dengan menemui Miss Kissable nya.


Satu jam berlalu, malam semakin larut dan sunyi, namun tidak dengan pikiran dan perasaan Alex. Kekhawatiran dan kerinduannya pada Kayla tidak juga menepis. Meski ia bisa tetap bertahan duduk disini sampai besok tanpa makan, minum ataupun tidur, tapi semua itu tidak akan merubah apa yang tengah berkecamuk dibenaknya kan. la mulai berpikir kenapa ia hanya diam saja seharian ini, hanya duduk disini dan menunggu Om lwan atau Tante Nadia luluh dengan kegigihannya. Kenapa ia tidak mengambil tindakan sendiri?


Ya, mungkin tidak buruk jika ia sendiri yang langsung menemui Kayla tanpa harus menunggu izin dari Om lwan atau Tante Nadia. Toh ia tidak bisa tenang sebelum melihat gadis itu. Hatinya terus mendorongnya untuk melakukan sesuatu tanpa membuang banyak waktu.


Akhirnya Alex pun beranjak dari duduknya, ia menghela nafas sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir rasa dingin yang beberapa jam meliputi tubuhnya. Kemudian Alex berjalan mengitari rumah, menuju salah satu pintu belakang yang merupakan pintu kamar Kayla. Sesampainya di depan pintu itu, ia berdiri di terasnya sambil tersenyum tipis mengingat momen nya bersama Kayla beberapa bulan yang lalu.


"Miss Kissable.. aku kangen banget sama kamu.." gumamnya pelan.


Alex lantas melangkah mendekati pintu, sedikit gugup karena ia merasa seperti penjahat yang akan melakukan aksinya diam-diam. la juga celingak-celinguk sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh gagang pintu itu.


"Ah gila! Gue gak bakal senekat itu." gumamnya terkekeh, menepis pikiran aneh yang melintas dibenaknya.


la memang tidak berniat ingin menyelinap masuk ke kamar Kayla diam-diam, ia hanya ingin melihat gadis itu. Ah tidak, mungkin ia juga tidak bisa melihat gadis itu sekarang. Yang pasti ia ingin bicara pada gadis itu, menjelaskan sesuatu yang membuat gadis itu kini tidak mau menemuinya. Alex tahu Kayla terluka, karena itu ia ingin mengobati luka Kayla. Mana tahan Alex membiarkan gadis nya terluka tanpa ia melakukan apa-apa untuknya. Apalagi luka itu Alex sendiri yang menciptakannya, jahat sekali jika ia membiarkan luka gadis nya itu terus menganga bukan.


Tok tok tokk


Dengan perasaan gugup dan sedikit takut, Alex akhirnya mengetukkan buku jemarinya ke pintu itu. la tunggu respon dari dalam, tidak terdengar apa-apa.


Tok tok tokk


"Assalamu'alaikum, Miss Kissable" ucapnya setelah berpikir panjang.


Masih tidak ada jawaban. Tapi beberapa detik kemudian Alex mendengar suara sesuatu dari dalam, artinya Kayla memang berada di kamarnya kan. Baiklah, Alex mencoba memanggilnya lagi, karena mungkin gadis itu mendengarnya tapi tidak yakin.


"Miss Kissable... ini aku"


Hening.


"Miss Kissable, maafin aku.."


Alex kembali memanggilnya, namun tidak ada jawaban. Alex memasang pendengarannya lebih jeli, dan ia dapat mendengar suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Senyumnya pun merekah, lega.


Namun setelah beberapa menit menunggu, tidak ada tanda-tanda pintu di depannya ini akan terbuka. Apa dugaan buruknya tadi benar, Miss Kissable belum mau menemuinya. Hati Alex mencelos, ia menelan salivanya getir.

__ADS_1


"Miss Kissable, maafin aku. Enggak papa kalo kamu nggak mau liat aku, seenggaknya kamu dengerin aku ya.."


"Aku tau kamu di dalam, kamu pasti dengar suaraku kan."


Ah, bicara dengan Miss Kissable apa dengan pintu sih ini!


Alex mendengus lesu. "Maafin aku sayang, aku bener-bener nggak nyangka ini bakal terjadi. Aku nggak tau kalo papaku bakal nyatain keputusannya secepat itu. Aku nyesel.. aku telat dan aku gagal.. aku udah bikin kamu kecewa." lirihnya dengar suara yang parau.


"Aku sayang banget sama kamu Miss Kissable, aku nggak pernah berniat buat ninggalin kamu, jangankan niat, aku bahkan nggak pernah berpikir sedikit pun buat mengakhiri hubungan kita. Aku serius sama kamu, dan aku nggak terima keputusan papa." suaranya bergetar, menggambarkan perasaannya yang tak penuh dan berat.


"Aku nggak tau papa bakal ngelakuin ini."


"Ya, emang benar papa udah berniat buat misahin kita sejak dia tau soal papi kamu. Tapi aku selalu nentang itu, aku berusaha ngeyakinin papa soal kamu. Karena aku cinta sama kamu, cuman kamu yang aku butuhin buat ada disisi aku. Aku nggak mungkin menginginkan hal ini terjadi sayang, tapi..aku gagal mencegah papa."


"Ini salahku, ya..ini salahku. Aku bodoh, aku egois, aku.. aku yang udah bikin kamu kayak gini. Aku yang udah bikin kekacauan dalam hidup kamu" Alex mulai terisak.


"Maafin aku nggak jujur sepenuhnya sama kamu waktu itu, aku takut nyakitin kamu Miss Kissable. Aku mau kamu bahagia terus, tapi.. nyatanya aku tetap nyakitin kamu.. maaf..!"


"Miss Kissable, kamu marah kan sama aku? Kamu kecewa, kamu nggak mau liat aku, aku tau. Kamu pantes marah dan kecewa sama aku, aku emang salah. Tapi.. tolong jangan benci aku ya..!"


Alex terdiam lama, masih berharap ada jawaban dari balik pintu ini. Kedua telapak tangan Alex mendekap daun pintu, membayangkan dirinya menyentuh wajah Miss Kissable yang bersedih.


"Kamu.. nggak benci sama aku kan?" Seluruh tubuh Alex meremang saat ia menanyakan itu. la takut dibenci oleh Miss Kissable nya.


"Aku takut banget kehilangan kamu, Miss Kissable. Aku cinta banget sama kamu."


Alex mengatakannya sungguh-sungguh, semua isi hatinya yang tertahan berhari-hari ia keluarkan saat ini. Tidak tahu keadaan Kayla di dalam sana seperti apa, entah gadis itu mendengarkannya atau tidak. Tidak ada jawaban sama sekali.


Sementara Kayla tertegun dengan air mata yang membasahi pipinya. la duduk dilantai, dekat pintu belakang kamarnya. la memandangi pintu itu dengan nanar, hatinya rindu dengan pemuda dibalik pintu itu, tapi hatinya juga perih karena luka yang telah tertoreh. la menahan dirinya dan tetap duduk di tempat, tidak siap melihat pemuda itu sekarang. la ingin marah dan menyalahkan Alex karena tidak jujur sepenuhnya waktu itu, ia ingin menyalahkan Alex atas kacaunya hubungan mereka. Ia juga ingin memaki dan memukul Mr Strawberry nya itu untuk melampiaskan kekesalannya, karena pemuda itu baru menemuinya hari ini. Kenapa Mr Strawberry tidak berusaha membujuknya sebelum ini, kemana dia, apa yang dia lakukan, apa yang dia pikirkan, tidakkah dia mengkhawatirkan Miss Kissable nya sebelum hari ini!


Kayla tidak tahu saja kalau Alex berkali-kali mendatangi rumahnya demi melakukan apa yang gadis itu inginkan. Kayla memang menolak menemuinya di hari pertama setelah kejadian itu, tapi Om lwan ataupun maminya tidak pernah memberitahu dirinya bahwa Alex datang setiap hari untuk menemuinya. Kayla jadi berprasangka buruk pada Alex karena itu, ia pun semakin kesal dan kecewa pada pemuda itu. Dan Alex juga tidak tahu kalau Kayla tidak mengetahui kedatangannya yang berulang kali kemari, karena ia pikir Om lwan dan Tante Nadia memintanya pergi atas keinginan Kayla.


Kayla beranjak dari duduknya untuk mendekati pintu, kemudian ia mendekapkan kedua tangannya ke daun pintu itu. la tidak mengerti apa yang terjadi, hatinya lah yang seolah mendorongnya untuk melakukan ini. Dan yang ia rasakan adalah hatinya sedikit menghangat setelah telapak tangannya menempel di dau pintu itu. la jadi membayangkan Alex tengah tersenyum hangat padanya, senyuman penuh kasih yang ia rindukan.


Cukup lama keduanya dalam posisi itu, sama-sama menikmati rasa yang kini mendekap dada mereka. Meski berjarak, hati keduanya seperti menyatu.


Sampai Kayla menyadari bahwa Alex beranjak dari pintu itu, suara langkahnya terdengar pelan dan menjauh.


Tiba-tiba...


Gedebbuggh.......!!


Aaakhhh........!!


Kayla terperanjat kaget.


Apa yang terjadi? Bunyi apa itu barusan?Kenapa Alex menjerit seperti itu?


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2