Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Bukan Cemburu?


__ADS_3

Sementara Nia dan Annisa terlelap, Kayla dan Juleha masih betah duduk diatas kasur sambil mengobrol. Juleha bertanya banyak tentang perubahan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky yang cukup mengherankan. Kayla menceritakan point-pointnya pada Juleha, mengenai apa saja yang terjadi di sekolah termasuk pada diri Kayla sendiri, hingga akhirnya Alex bisa berubah, diikuti ketiga temannya.


Juleha sempat tertegun mendengarnya, dulu ia memang berharap Alex dan ketiga temannya itu bisa berubah. Dan akhirnya ia diberi kesempatan melihat perubahan mereka, yang pastinya membuat semua orang disekitar mereka senang. Juleha sama sekali tidak menyangka akan bertemu mereka lagi, mengingat ia sudah tidak bersekolah di sana lagi dan sudah menetap tinggal di kampung halamannya. Tapi hari ini, mereka muncul dihadapan Juleha dengan tampilan dan pembawaan yang berbeda, jauh lebih baik dan menyenangkan.


Tentang gadis baik dihadapannya ini, Juleha semakin penasaran. Berbincang dengannya seputaran tentang Alex, Juleha yakin dia tahu banyak tentang Alex, tapi dia sama sekali tidak menceritakan mengenai hubungannya dengan Alex. Dia hanya membeberkan soal keterlibatannya dalam perubahan Alex.


Ketika Juleha menyinggung hal yang membuatnya penasaran itu, Kayla mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain. Kayla bertanya tentang kehidupan Juleha saat ini, setelah berhenti di SMA Putra Bangsa. Juleha mengerti Kayla menghindari pertanyaannya, dan Juleha mengikuti saja alur Kayla, menceritakan tentang dirinya di kampung. Meski awalnya sangat terluka mendapati dirinya diskorsing dan beasiswanya dicabut, Juleha dan orangtuanya berusaha tegar dan optimis akan masa depan Juleha.


Hingga sekarang akhirnya Juleha diberi kepecayaan untuk mengajar di SD yang ada di kampungnya. Karena belum memiliki ijazah SMA, Juleha mengambil pendidikan paket C untuk memenuhi syarat sebagai pengajar. Untuk saat ini ia mengajar hanya sebagai tenaga pembantu dengan gaji yang minim, disebabkan sekolah itu masih kekurangan guru dan kekurangan dana. Meski demikian Juleha dan orangtuanya sangat bersyukur.


Rasa penasaran Juleha kembali membuatnya memancing Kayla agar mau menceritakan perihal hubungannya dengan Alex. Sampai akhirnya Kayla mau membuka sedikit dari kisah pribadinya itu. Hanya beberapa bagian yang berkaitan dengan pembullyan dan perubahan Alex saja.


"Kamu cocok kok sama Alex."


Kayla tertawa geli mendengar komentar Juleha. "Tapi aku nggak mau pacaran."


"Gimana kalo nanti Alex melamar kamu?"


Degg


Bahkan Alex berniat melamarnya. Tapi bagaimana Juleha bisa berpikir sampai kesana!


"Kok kamu.. mikirnya gitu?" tanya Kayla agak geli.


"Ya cowok baik tuh biasanya gitu. Kalo dia emang serius, dia bakal perjuangin cintanya sampai berhasil. Bahkan dia berani berkomitmen sama satu cewek."


Kayla mengernyit dalam, mencerna kata-kata Juleha, sekaligus merasa heran tentang pemikiran seperti ini.


"Cowok kalo udah serius, -maksudnya serius dalam artian yang sebenarnya ya, bukan serius ngajak pacaran- Nah, dia bisa nggak minat lagi tuh buat main-main, pacaran gak jelas, dia lebih milih langsung datengin orang tua ceweknya loh.. buat ngelamar."


Kayla hampir tersedak ludahnya sendiri. Benarkah seperti itu, bahkan Alex sudah mendatangi mami dan mengatakan bahwa ia berniat melamar Kayla.


"Kok aku jadi parno ya dengernya." kata Kayla seraya tersenyum gusar.


"Emm.. itu sih menurut pengalaman yang aku liat aja ya. Enggak tau sih kalo Alex, tapi tadi kamu bilang dia tetap deketin kamu kan walaupun udah kamu tolak?"


Kayla mengangguk. "Tunggu, kamu bilang...pengalaman? Maksudnya pengalaman gimana?" bingung Kayla.


Juleha mengulum senyum, membuat Kayla menatapnya curiga.


"ltu.." dia menjeda ucapannya, membuat Kayla semakin yakin dengan dugaannya.


"Pengalaman kamu maksudnya?"


"Eh?" Juleha nampak terkesiap dengan tebakan Kayla.


Juleha menyengir. "lya."


"Maksudnya.. kamu udah dilamar gitu?" tanya Kayla memastikan.


"Jadi gini, sebenarnya ini tuh juga pengalaman abangku sih. Dia dulu kayak gitu sebelum nikah sama istrinya."


"Oh kamu punya abang ya?"


"lya, tapi sekarang dia nggak tinggal dikampung ini. Dia merantau sama istrinya."


Kayla mengangguk. "Trus? Kamu gimana?"


Juleha nampak malu-malu mengatakannya pada Kayla. "Kak Rizki"


"Kak Rizki yang anaknya Pak RW tadi?" tanya Kayla agak kaget.


"Hm"


"Seriuosly?! Kamu sama Kak Rizki..?" takjub Kayla.


"lya. Baru minggu lalu kok" sahut Juleha malu-malu.


"Jadi.. Kak Rizki itu calon suami kamu?" ujar Kayla yang masih kaget dengan pengakuan Juleha.


Juleha mengangguk malu.


"Btw, nikahnya.. nggak buru-buru kan?"


"Adat di kampung kita sih, jarak dari lamaran ke nikah itu nggak boleh lebih dari tiga bulan. Jadi kemungkinan aku sama Kak Rizki bakal nikah dalam tiga bulan ini."


"What?? Secepat itu Leha?"


"Hm. Kalo udah nerima lamaran artinya siap nikah. Jadi mau nggak mau ya harus nyiapin semuanya. Kalo nggak mau ya tolak aja lamarannya. Hehee.. ya gitu kalo disini Kay."


"Tapi kamu sama Kak Rizki.. dijodohin apa emang saling suka sih?"


"Katanya sih Kak Rizki udah suka sama aku dari dulu, aku baru tau sih pas dia mau ngelamar" ujar Juleha tersipu.


"Dan kamu?" Juleha mengernyit mendengar pertanyaan Kayla.


"Kamu nya gimana sama Kak Rizki?"


"Ya siapa sih yang bisa nolak cowok kayak Kak Rizki, udah ganteng, pinter, dewasa, udah gitu dia seorang guru lagi." kata Juleha menjabarkan.


"Emm... jadi Kak Rizki nyatain perasaannya dulu kan ke kamu sebelum ngelamar?" Juleha mengangguk. "Trus setelah itu berapa lama Kak Rizki baru ngelamar kamu?"


"Seminggu abis itu Kak Rizki dateng kerumah sama orang tuanya."


Kayla terbelalak. Seminggu? Sesingkat itukah? Tapi Alex, sejak dia mengungkapkan bahwa dia akan melamar Kayla sampai sekarang sudah lebih dari seminggu. Ah, itu lebih baik! Kayla tidak akan siap jika berada di posisi seperti Juleha. Apalagi jika harus menikah dalam waktu tiga bulan setelah lamaran. Kayla mengusap dadanya lega, untunglah Kayla bukan anak kampung sini yang harus mengikuti tradisi seperti itu, dan untunglah Alex belum benar-benar merealisasikan niat melamarnya.

__ADS_1


"Kenapa Kay?" tanya Juleha ketika melihat Kayla mengusap dadanya dan menghela nafas.


"Ngebayangin ya..?" goda Juleha.


"Eh, apaan sih. Enggak kok" dalih Kayla cengengesan.


... _______________...


Di pagi yang cerah ini, Juleha mengajak Kayla dan teman-temannya berjalan-jalan melihat suasana kampungnya, terutama sawah bapaknya. Mereka menjelajahi perkampungan hanya dengan berjalan kaki, meski agak lelah mereka tetap menikmatinya, karena berjalan beramai-ramai sambil mengobrol membuat lelah mereka tidak terlalu terasa.


Sepanjang perjalanan, Kayla yang berjalan berdampingan dengan Juleha disisi Kanannya dan Adit disisi kirinya, beberapa kali memperhatikan Alex dan Rini yang berjalan berdampingan di depannya. Lebih tepatnya Rini yang berambisi memimpin perjalanan, terus mengajak Alex bicara dan tidak memberi kesempatan pada Alex untuk menoleh ke belakang barang sekilas pun. Mereka berdua berjalan di barisan paling depan, meski disebelah kiri Rini ada Bima yang berkali-kali mencoba mengalihkan perhatian Rini dari Alex, tetap saja diabaikan oleh Rini. Di barisan kedua ada Sandi dan Vicky, kemudian dibelakangnya Kayla bersama Juleha dan Adit, sedangkan Nia, Annisa dan  Bang Oki berjalan di barisan paling belakang.


Adit bisa membaca raut kesal Kayla yang sedari tadi agak kurang nyambung diajak bicara. Adit bisa melihat bahwa memang sejak tadi Kayla terus memperhatikan mereka yang berjalan paling depan itu.


"Nikmatin aja Kay, ini kan liburan kita. Jarang-jarang loh kita bisa jalan-jalan santai gini rame-rame, di daerah perkampungan yang asri gini lagi. lya kan!"


Kayla mendengus, lalu tersenyum. "Kamu bener Dit."


Kayla sedikit merutuki kebodohannya. Disisinya ada Adit, tapi Kayla malah memperhatikan Alex yang tidak peduli padanya itu. Kayla sadar sih kalau Rini yang cantik dan supel itu pasti lebih menarik, dibandingkan Kayla yang cupu dan biasa-biasa saja. Tapi ya sudahlah, untuk apa memikirkan hal itu. Mendingan Kayla nikmati saja liburan ini, bersama Adit, Nia, dan Annisa. Juga teman barunya, Juleha.


Sesampai mereka di area persawahan, Juleha mengajak Kayla dan teman-temannya duduk di sebuah pondok di tengah sawah. Matahari mulai meninggi dan cuaca semakin terik. Duduk bersantai di pondok sambil menikmati minuman dingin dan cemilan, agaknya menjadi kegiatan paling pas. Mereka sekalian mengistirahatkan otot-otot kaki mereka yang pegal setelah berjalan-jalan.


"Ini sawah bapak kamu, Leha?" tanya Nia.


"lya."


"Tapi kok.. gini ya?" bingung Sandi.


"Maksudnya?"


"Ini kenapa berantakan? Maksud gue.. sawah itu kan biasa ijo tuh, kayak rumput-rumput gitu."


Kelakar tawa lantas terdengar melengking dari mereka yang mendengar ucapan Sandi itu.


"Enggak pernah liat sawah lu, San!" ujar Vicky meledek.


"Ya pernah lah."


"Tapi cuman gambar!" timpal Bima membuat tawa mereka semakin tak tertahankan.


"Yee.. ngeremehin gue. Gue tau sawah lah, itu!" Sandi menunjuk sawah yang berada diseberang jalan, di sana tanaman padinya masih baru dan nampak menghijau cantik.


"Iya tau sawah. Tapi nggak tau gimana sawah kalo udah panen kan?!" lakar Bang Oki yang juga tak bisa menahan tawanya. Mereka kembali menertawakan Sandi.


"Ini kenapa gue yang kayak orang bego sendiri sih! Jelasin kali!" ujar Sandi sengit, sambil menunjuk Juleha menggunakan dagunya.


"Ini sawah bapakku udah panen, San. Sedangkan yang di sana belum. Kalo udah panen ya jadi gini, kan padi kalo udah tua itu warnanya kuning kecoklatan."


Akhirnya lakar tawa pun berhenti saat Juleha menjelaskan. Dan Sandi merasa kikuk sendiri, karena baru mengetahui tentang hal itu.


"Ck, kalo itu gue juga tau. Yang putih mah beras!" sahut Sandi jengkel, membuat mereka kembali tertawa.


... ....


... ....


... ....


Kayla berjalan gontai di dekat danau, semilir angin sore membuat poni Kayla berterbangan kesana kemari. Kayla menghela nafas panjang, sekarang perasaannya lebih rileks dari beberapa menit yang lalu. Jengah rasanya melihat interaksi dan kedekatan Alex dengan Rini seharian ini. Entah kenapa Kayla merasa terganggu melihat mereka, benarkah yang dibilang Nia kemarin, jika ia cemburu?


Kayla menoleh ke arah teman-temannya yang tengah asyik menikmati kudapan khas kampung yang dibuat oleh ibunya Juleha. Mereka duduk di sebuah tikar yang digelar di atas rerumputan dekat danau. Sebelum berangkat ke danau, ibunya Juleha memang mengajak Kayla, Nia, dan Annisa membuat beberapa kudapan khas kampungnya. Menyenangkan sekali.


"Kay, sendirian aja." sapa Adit.


"Hm. Nikmatin angin sore, Dit. Sejuk ya."


Adit tersenyum manis. Ah, entah kali yang keberapa ini, jantung Kayla berdetak kencang dan rasanya ada sesuatu yang merekah di sana saat ia tengah menatap Adit yang tersenyum semanis ini. Sudut bibir Kayla pun tertarik perlahan, membentuk sebuah senyuman.


Adit memutus tatapan mereka lebih dulu, entah apa yang membuatnya nampak terkesiap.


"Ada apa Dit?"


"Enggak ada apa-apa Kay."


Hening.


Kayla merasa yakin bahwa ada yang ingin Adit katakan tapi dia terlihat ragu. Kayla jadi teringat dengan sepucuk surat berwarna baby violet yang Adit selipkan didalam hadiahnya.


"Dit!"


"Kay!"


Seru mereka bersamaan. Keduanya lalu tertawa kecil, "Kamu aja yang duluan" ujar Kayla.


"Enggak, kamu duluan deh."


"Kamu dulu Dit, aku penasaran kamu mau ngomong apa."


"Aku juga penasaran kamu mau ngomong apa" balas Adit.


"Tapi kayaknya yang mau kamu omongin lebih penting deh." kata Kayla.


"lya kan, makanya kamu nyamperin aku" kata Kayla lagi saat tidak ada jawaban dari Adit.


Adit menoleh sekilas, ia mendengus senyum. "Aku liat kamu ngelamun."

__ADS_1


Kayla mengernyit, "Ah masa' sih, kok kamu ngira kayak gitu"


"Kamu.. mikirin Alex ya?"


Kayla tertawa geli. "Apaan, aku mikirin Alex?!"


"Kamu cemburu ya Kay?"


Kayla lantas menghentikan tawanya. Satu lagi orang yang menganggap bahwa Kayla sedang cemburu.


"Ngapain aku cemburu." gumamnya datar.


Hening sesaat.


"Kay?"


"Ya?"


"Kamu.. suka sama Alex?"


Degg


Itukah yang sejak tadi ingin Adit katakan, kenapa dia bertanya tentang itu? Kayla memperhatikan mimik wajah Adit, jika Kayla tidak salah melihat, ada raut ketidak sukaan yang samar dari wajahnya.


"Kok kamu nanya itu?"


"Pengen tau aja." sahut Adit singkat.


"Setau aku.. cemburu itu tandanya suka. Dan aku liat kamu kayak cemburu gitu liat Alex sama Rini"


Kayla terkekeh, "Kamu sama kayak Nia."


"Sama apanya?" bingung Adit.


"Nia juga ngira kalo aku cemburu. Juleha juga"


"Berarti bener dong?"


"Bukan cemburu kok, cuman gak enak aja liatnya."


"Makanya kamu berdiri disini sekarang? lya kan? Kamu ngehindarin mereka."


Kayla berdecak kecil. "Males ah bahas itu"


"Oke, sorry. Jadi kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Adit.


Kayla terdiam beberapa saat. "Dit, soal-.."


"Miss Kissable!" seruan itu membuat ucapan Kayla terpotong.


Alex sudah berdiri di samping Kayla, Kayla memutar bola matanya malas. Melihat ekspresi Kayla yang nampak cemberut dan diam, Alex lalu melirik Adit yang ternyata menunjukkan ekspresi yang hampir sama. Mereka berdua diam, tanpa melihat ke arah Alex. Alex mendengus tawa, membuat Kayla semakin kesal saja. Adit juga nampak kesal karena merasa diledek oleh Alex.


"Emm.. aku harap aku nggak ganggu" ujar Alex kemudian.


"Ganggu banget!" ketus Kayla, membuat Alex dan Adit kaget.


Kayla segera berbalik setelah mengucapkan kalimat sarkas itu, ia beranjak dan melangkah kasar meninggalkan kedua pria yang tengah melongo itu. Tapi tiba-tiba..


"Aawwwh...."


Kayla terpeleset dan jatuh terduduk.


"Miss Kissable!"


"Kayla!"


Seru Alex dan Adit bersamaan, keduanya sontak beranjak mendekat ke arah Kayla. Mereka berdua tentu kaget mendengar jeritan Kayla yang tiba-tiba terpeleset. Kayla sendiri pun kaget. Dan yang membuat Kayla tak kalah kaget dari dirinya yang terpeleset barusan, adalah..


Kedua pria yang tengah berdiri didepannya ini sama-sama mengulurkan tangan mereka untuk Kayla. Keduanya sama-sama menawarkan bantuan untuk Kayla bangun. Kayla yang terpaku dalam bingung, hanya menatap kedua telapak tangan dari dua orang yang berbeda itu. Keduanya pun nampaknya heran karena mereka serentak dan reflek melakukan hal yang sama, mereka saling melemparkan pandangan sembari menunggu Kayla menyambut uluran tangan mereka.


Pertanyaannya sekarang, kenapa Kayla masih tak berkutik? Mereka berdua tidak merasakan Kayla menyambut uluran tangan salah satu dari mereka. Alex dan Adit menunduk menatap Kayla, yang ternyata tengah menatap mereka berdua dengan ekspresi bingung.


Benar, Kayla bingung. la harus menerima uluran tangan siapa? Adit? Atau Alex?


Sedangkan Kayla tahu, kedua pria didepannya ini sama-sama menyukai dirinya. Jika Kayla menerima uluran tangan salah satu dari mereka, maka yang lainnya mungkin akan merasa tidak dihargai. Kayla tidak tega membuat mereka berdua merasa seperti itu, jadi Kayla harus bagaimana?


Situasi dan kondisi membuatnya harus memilih antara menerima tangan Adit atau tangan Alex. Mungkin bisa saja Kayla menerima keduanya dengan kedua tangannya, tapi masalahnya sekarang tangan kiri Kayla terasa sakit dan kebas sekali akibat terjatuh cukup keras tadi. Jadi hanya tangan kanannya yang saat ini memungkinkan untuk menopang tubuhnya.


Mereka bertiga masih tertegun diposisi masing-masing. Ketika tangan kanan Kayla terangkat perlahan, Adit dan Alex sama-sama berharap Kayla akan menerima uluran tangan mereka. Kayla sendiri masih bimbang akan menerima tangan siapa.


Kira-kira Kayla akan menerima uluran tangan Siapa ya?


Adit?


Atau Alex?


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2