Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Hubungan Yang Hampa


__ADS_3

"Al, tunggu!"


Feli menyusul Alex keluar rumah, setelah Alex menoleh dan menjawab panggilannya, ia duduk di kursi taman depan rumahnya. Alex yang mengerti kalau Feli ingin bicara lantas menyusul duduk disamping gadis itu.


Masih ada kecanggungan diantara mereka setelah insiden kecil di kamar Feli tadi. Feli nampak ragu memulai percakapan, sementara Alex menunggunya dengan perasaan sedikit grogi.


"Sorry, tadi-.."


"Enggak perlu minta maaf Al." Sergah Feli. Ia tahu mungkin Alex merasa lancang atas insiden kecil dikamarnya tadi.


"Al, hubungan kita udah berjalan selama tiga bulan lebih, dan tanggal pernikahan kita semakin dekat. Kurang dari dua bulan lagi, Al. Dan.. untuk kesekian kalinya aku ingetin kamu, kalo kamu mau mundur dari hubungan ini.. silahkan." Tutur Feli serius.


Kalo kamu mau mundur dari hubungan ini.. silahkan.


Berulang-kali Feli mengingatkan Alex tentang itu, berulang-kali Feli meminta Alex memikirkan kembali keputusannya menerima perjodohan mereka, dan berulang kali Feli memberi Alex kesempatan untuk hubungan mereka yang hampa ini. Bahkan Feli tidak masalah jika Alex ingin mundur dan mengakhiri hubungan mereka, namun jawaban Alex selalu sama.


"Aku udah ngambil keputusan ini, dan aku akan belajar nerima hubungan ini dengan sepenuh hatiku."


Selalu itu jawabannya, tapi sampai sekarang Alex masih tidak terlihat menerima hubungan mereka dengan sepenuh hati.


"Aku masih kasih kamu kesempatan Al, pikirin lagi!"


"Kenapa kamu mau aku mundur? Karena aku belum bisa mencintai kamu? Karena kamu nggak ngerasa aku memperlakukan kamu seperti aku memperlakukan Kayla?"


Feli tidak menjawab.


"Kamu tau aku lagi berusaha, Fel. Selama ini aku berusaha buat kebaikan hubungan kita, aku berusaha ngelupain Kayla. Kondisi hatiku lagi nggak baik-baik aja Fel, aku butuh waktu buat pulih. Aku butuh waktu buat bisa menata ulang hatiku, karena ngelupain cinta pertama itu nggak mudah. Aku harap kamu ngerti itu."


"Aku selalu berusaha buat ngertiin kamu kok. Aku tau Kayla itu cinta pertama kamu, tapi dia udah jadi masa lalu kan. Dia juga udah move on dari kamu, dia bisa bahagia sekarang tanpa kamu. Sedangkan kamu, apa yang kamu lakuin selama ini? Kamu selalu bilang kalo kamu lagi berusaha, tapi kamu nggak bisa berhenti mikirin dia, dihati kamu cuman ada dia. Kayaknya emang kamunya deh yang nggak mau ngelupain dia. Sampai sekarang kamu masih belum ikhlas kalo hubungan kamu sama Kayla berakhir kan Al? Kamu belum rela kalo posisi Kayla digantikan dihati kamu, iya kan?" Feli mulai kesal.


Alex mendengus panjang. "Iya, awalnya. Tapi setelah aku liat dia bisa move on, aku beneran berusaha buat move on juga kok." Alex menjeda kata-katanya sejenak. "Cinta itu hadir tanpa paksaan, jadi dia harus kehapus tanpa paksaan juga. Selama ini aku maksa buat nyingkirin perasaan itu dari hatiku, tapi apa? Aku malah makin sakit. Aku bukan nggak mau ngelupain dia Fel, tapi aku cuman belum bisa aja. Kalo kamu capek sama aku yang kayak gini, kamu bisa mundur."


Jujur Feli tersinggung dengan kalimat terakhir yang Alex ucapkan. Feli tidak pernah mengeluh pada Alex selama ini, meski ia memang lelah menjalani hubungan tidak stabil mereka. Tapi bukan berarti Alex tidak tahu kalau Feli lelah, bukan berarti Alex tidak peduli dengan perasaan Feli yang terabaikan. Ketika Feli memberi Alex kesempatan untuk mundur dari hubungan mereka, Alex juga memberi kesempatan yang sama. Karena Alex tahu ia hanya menyakiti Feli dengan mempertahankan hubungan mereka. Namun Feli selalu memilih bertahan daripada mundur, Feli tetap mau mendampingi Alex meski Alex belum bisa menerima kehadirannya sepenuh hati.


Alex mungkin terpaksa menerima Feli, tapi ia tetap menghormati gadis itu. Hanya saja, hal yang paling Feli harapkan darinya belum bisa ia berikan. Cinta. Feli ingin Alex menerima dirinya dengan hatinya juga, memberikan cintanya untuk gadis yang akan menjadi istrinya itu. Alex mengerti, sebagai calon istrinya.. Feli memang berhak untuk itu. Tapi hati Alex belum bisa, itulah yang membuat Alex merasa bersalah dan kasihan pada Feli. Alex juga tidak suka menyakiti Feli, tapi Feli tetap bersedia menerima luka itu. Alex memberinya pilihan untuk mundur dari hubungan mereka, tapi Feli tetap ingin bertahan.


Masing-masing diantara mereka, sama-sama enggan untuk mengakhiri hubungan hampa yang mereka jalani. Feli enggan mundur karena ia mencintai Alex, dan Alex enggan mundur karena ia sudah terlanjur mengizinkan Feli masuk kedalam hidupnya. Jika Alex melepaskan Feli ditengah jalan seperti ini maka banyak pihak yang akan ia kecewakan. Keluarga, Perusahaan, dan orang-orang dalam lingkup bisnisnya yang telah menaruh harapan besar pada hubungan mereka. Dan yang akan menerima dampak paling besar jika Alex memutuskan mundur dari hubungan mereka, adalah Feli sendiri. Feli bukan hanya akan terluka tapi juga malu, orang-orang akan memandang miring terhadap gadis yang ditinggalkan oleh tunangannya. Alex tidak tega, Alex tidak sekejam itu sampai ia menempatkan Feli pada keadaan seburuk itu.


Cukup Kayla yang terluka dan harus menerima pandangan miring dan keadaan seburuk itu, gara-gara dirinya. Itu saja sudah sangat menghancurkan Alex. Alex tidak mau kepahitan pengalaman seperti itu dialami juga oleh Feli, walaupun ia tidak mencintai tunangannya itu.


"Aku bisa nunggu kamu Al. Aku nggak akan mundur. Tapi aku ingetin kamu sekali lagi, pernikahan kita kurang dari dua bulan lagi. Aku sangat berharap kamu udah bisa move on sebelum itu. Selama ini aku udah berusaha ngertiin kamu, aku harap kamu juga bisa ngertiin aku." Suara Feli terdengar sedikit parau.


"Aku bukannya mau maksa kamu kok buat cepet-cepet lupain Kayla, dan aku emang nggak bisa maksa. Aku cuman pengen.. dihari pernikahanku nanti aku bener-bener jadi pengantin yang bahagia, bukan pura-pura bahagia. Makanya Al, aku harap kamu pertimbangin kesempatan yang aku kasih. Kalo kamu mundur sekarang, efeknya nggak akan terlalu buruk kok. Aku nggak papa. Persiapan pernikahan juga belum dimulai, undangan belum disebar, soal fitting baju.. masih bisa dibatalin." lanjut Feli getir.


"Kamu takut aku nggak bisa lupain Kayla? Kamu takut jadi pengantin yang menyedihkan dihari pernikahan kita nanti? Kamu nggak bisa percaya sama aku Fel?"


"Aku terima perjodohan ini karena aku percaya Al, aku percaya kalo kamu bisa move on dan bisa nerima aku. Tapi setelah selama ini.. aku belum liat sesuatu di diri kamu yang bisa bikin aku yakin. Aku pikir hubungan kita bakal membaik seiring dekatnya hari pernikahan kita, tapi enggak. Wajar kan kalo aku ngerasa.. takut kecewa?"


Alex terdiam.


"Trus apa alasan kamu mau bertahan sama aku?" tanya Alex kemudian.


"Karena aku mencintai kamu, Al."


Degg

__ADS_1


Alex mengerti sekarang. Kenapa Feli mau bertahan dalam hubungan hampa yang melelahkan ini. Kenapa Feli mau bersabar dan terus memahami Alex yang belum bisa move on dari Kayla. Kenapa Feli memilih terluka daripada harus melepaskan Alex. Cinta lah alasannya. Seperti dulu Alex yang mencintai Kayla, yang terus memperjuangkan cintanya meski telah ditolak oleh Kayla. Alex yang mau bersabar dan optimis akan bisa menaklukan hati Kayla, yang rela menahan sakit ketika cemburu, dan yang tetap mencintai meski kedekatan mereka telah berubah menjadi jarak yang jauh membentang.


Wajar jika Feli mencemaskan nasibnya sendiri, wajar jika Feli ingin dimengerti. Tidak ada gadis yang tahan diabaikan oleh pasangannya dalam waktu yang lama, semua gadis menginginkan pasangan yang bisa membuat pernikahannya indah.


Alex menghela nafas panjang, ia merasa semakin jahat dan egois. Meski ia telah bertekad untuk menerima Feli sebagai pendampingnya kelak, dan berjanji pada dirinya tidak akan menyia-nyiakan gadis baik ini, nyatanya sampai detik ini ia masih berat untuk melangkah maju. Diam ditempat dalam kerapuhan hatinya, bertekad untuk melupakan cintanya pada Kayla namun sesungguhnya hatinya masih enggan untuk melepaskan cinta itu. Alex ingin memberikan Feli apa yang berhak gadis itu dapatkan, tapi dalam lubuk hatinya.. ia masih berharap bahwa Kayla lah jodohnya.


"Hhh...... Ya Allah.. kenapa begini.." desahnya dalam hati.


... _________________...


Bapak Agus Wardhana, ayah Feli. Seorang pengusaha sukses yang cukup terkenal di ibukota, juga salah satu investor terbesar di PT SWill Group. Karakter seorang Agus Wardhana tidak jauh berbeda dengan calon besannya, Bapak Elfattar Smith William. Perjodohan Alex dengan Felisha, kedua ayah inilah yang mengaturnya. Perjodohan itu merupakan hubungan yang sempurna sekaligus kesepakatan bisnis yang sangat menguntungkan, bagi mereka berdua. Tapi sesungguhnya membuat Alex dan Feli tertekan.


Sore ini katanya ayah Feli itu mau menemui Alex untuk membicarakan hal yang serius. Pria paruh baya yang disapa 'Om Dhana' oleh Alex itu kini berada di lantai dua restoran A.S.W Food, tempat yang disepakati untuk pertemuan pribadi mereka. Tidak lama kemudian Alex datang menghampiri calon mertuanya, berjabat tangan lalu duduk.


"Begini Al, jadi.. ada sesuatu yang sangat penting, nggak ada orang yang tau soal ini kecuali Om sendiri. Tapi kamu adalah calon suami Feli, jadi kamu harus tau soal ini." ucap Om Dhana serius.


Alex mengernyit tak mengerti. "Soal apa Om?"


Om Dhana berdehem untuk menetralkan kegugupannya, "Om harap kamu bisa menerimanya."


Alex menunggu Om Dhana melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya.. Feli itu bukan anak kandung saya."


Alex terbelalak, "M..maksud Om?"


Om Dhana menunduk sekilas sebelum melanjutkan kata-katanya, "Sebenarnya Feli itu bayi yang Om adopsi. Dulu waktu istri Om melahirkan di rumah sakit, bayi kami meninggal. Om terpukul sekali. Kami udah lama menantikan seorang anak di keluarga kami, tapi bayi itu.. nggak selamat. Bahkan dokter sempat bilang dikehamilan istri Om waktu itu sangat rentan karena istri Om udah tiga kali keguguran sebelumnya. Jadi Om nggak sanggup jujur sama istri Om kalo bayi kami sebenarnya meninggal."


Alex merasa iba mendengarnya, Om Dhana sempat terdiam sebelum kembali melanjutkan kisahnya.


"Dihari yang sama, seorang perempuan tanpa identitas juga melahirkan di rumah sakit itu. Bayinya selamat, tapi perempuan itu meninggal. Dokter bilang, perempuan itu sempat meminta pihak rumah sakit menitipkan bayinya ke panti asuhan. Perempuan itu bilang kalo dia hidup sendirian tanpa keluarga ataupun suami, dia bahkan nggak punya uang untuk biaya persalinannya. Setelah mendengar itu, Om langsung berpikir untuk merawat bayinya, memberikan identitas untuk bayi itu sebagai anak kami."


"Enggak ada yang tau soal kebenaran ini selain Om dan pihak rumah sakit. Bahkan istri Om sendiri nggak tau kalo anak yang selama ini dia besarkan bukan anak yang dia lahirkan."


Alex merasa tidak terima mendengar penuturan Om Dhana. Kebenaran sebesar ini dia sembunyikan dari istrinya sendiri? Tidak ada yang tahu selain dirinya, yang artinya Feli juga tidak tahu kalau dia bukanlah anak kandung mereka?


"Apa sampe sekarang Tante Arum juga belum tau yang sebenarnya Om?"


"Iya."


"Dan Feli?"


"Mana sanggup Om ngomong soal itu ke dia Al, buat jujur sama istri Om aja Om nggak bisa." sesal Om Dhana.


"Tapi mereka berhak tau."


Om Dhana menggeleng. Alex mendengus, menyayangkan rahasia sebesar itu ditutupi selama bertahun-tahun lamanya. Alex mencoba memahami posisi sulit Om Dhana, seandainya Feli dan ibunya tahu yang sebenarnya kalau mereka tidak memiliki hubungan darah, maka mereka akan merasa terluka.


"Trus kenapa Om kasih tau saya?"


"Karena kamu calon suaminya. Akad nikah nanti.. nama Feli nggak bisa disambungkan dengan nama Om, karena Om bukan ayah kandungnya. Nama Om nggak bisa disebut ketika kamu mengucapkan ijab kabul nanti." kata Om Dhana getir.


Alex terperangah kecil menyadari hal sebesar itu. Ia hampir lupa bahwa dalam agama, nama mempelai wanita harus disebutkan bersama nama ayah kandungnya ketika prosesi ijab kabul. Sedangkan ayah tiri ataupun ayah angkat tidak bisa menggantikan posisi itu. Jika Om Dhana bukan ayah kandung Feli, lantas nama siapa yang akan disambungkan dengan nama Feli nanti saat ijab kabul?


"Jadi, siapa ayah kandung Feli Om?"

__ADS_1


"Om nggak tau. Selama ini Om udah berusaha mencari informasi tentang ayah kandung Feli, tapi hasilnya nihil. Semakin lama semakin kecil kemungkinan Om bisa menemukan dia."


Alex bingung, "Jadi..?"


"Gimanapun juga enggak ada yang boleh tau soal ini. Dunia akan tetap mengenal Feli sebagai Felisha Wardhana Arum, anak saya. Feli dan ibunya juga nggak boleh sampai tau kalo mereka bukan anak dan ibu kandung."


Alex semakin mengerutkan keningnya, tak mengerti. "Tapi Om, gimana akad nikah nanti? Kalo nama Feli tetap disambungin sama nama Om, pernikahannya nggak akan sah dong?"


"Ya, itulah kenapa saya harus membicarakan ini secara pribadi sama kamu."


"Saya masih belum ngerti." kata Alex jujur.


"Di acara pernikahan kalian nanti, kamu akan tetap menyebut nama Feli dengan nama Om sebagai nisbah ayah kandungnya. Karena semua orang akan menyaksikan itu, dan nggak ada yang boleh tau kalo Om bukan ayah kandung Feli. Tapi sebelum itu kita harus mengadakan akad nikah secara tertutup dulu, akad nikah yang asli."


Alex jadi pusing memikirkan masalah ini, kenapa semakin membingungkan. Ia menunjukkan kebingungannya itu pada Om Dhana, hingga Om Dhana menjelaskan maksudnya secara detail.


"Malam sebelum acara pernikahan, kita berkumpul di tempat yang nanti Om tentuin. Kamu, Om, penghulu dan dua orang saksi. Disana kita ngadain akad nikah secara tertutup, tanpa Feli dan tanpa dihadiri siapapun. Akad nikah yang asli ini harus tersembunyi. Dari ijab kabul malam itu nanti, pernikahan kamu sama Feli akan sah. Jadi besoknya, kamu hanya mengulang ijab kabul saja, akad nikah terbuka, dengan nama wali Feli yang berbeda, Feli Wardhana Arum binti Agus Wardhana. Tentunya akad nikah itu nggak ada nilainya dimata agama. Tapi akan memperjelas status kalian secara hukum." jelas Om Dhana panjang lebar.


Alex menggeleng-geleng tak percaya. Ia tak habis pikir Om Dhana merencanakan hal sebesar itu. Melakukan akad nikah secara tersembunyi tanpa dihadiri anggota keluarga sekalipun? Bahkan mempelai wanita sendiri tidak diberi tahu. Demi apa? Demi reputasi keluarga dan bisnis, begitu? Lalu, apa artinya acara akad nikah yang mewah besok harinya? Hanya perayaan semata, sedangkan kebenaran yang terbesar malah dirahasiakan?


Tidak. Alex tidak bisa melakukan itu.


"Om, saya nggak mau ngelakuin kebohongan publik. Pernikahan itu sakral dan suci, nggak bisa dilakuin sembarangan kayak rencana aneh Om gitu dong. Dan saya juga nggak bisa nutupin fakta yang sebenarnya dari orang tua saya, terutama Feli yang akan menjadi istri saya." tegas Alex.


"Ini demi kebaikan kita semua Al. Demi masa depan Feli dan kebahagiaannya juga. Merahasiakan identitas Feli selamanya itu yang terbaik, buat dia dan reputasi keluarga. Bukan cuman keluarga Om, tapi keluarga kamu juga. Om nggak mau terjadi masalah yang lebih serius nantinya kalo semua orang tau Om bukan ayah kandung Feli."


"Masalah yang sekarang ini juga sangat serius Om. Saya nggak mau ambil resiko sebesar itu dengan nyembunyiin kebenarannya dari orang tua saya, sama dari Feli juga." kata Alex mantap.


"Tapi rencana Om ini adalah cara terbaik agar reputasi kita masing-masing aman. Dengan akad nikah asli yang disembunyiin, kemudian akad nikah yang digelar didepan publik, maka nggak pernikahan kamu dan Feli akan berjalan lancar. Pesta yang kita atur bakal tetap berjalan sesuai rancangan, dan kamu sama Feli sah menjadi suami istri dimata negara dan agama."


"Saya tetap nggak bisa Om. Saya nggak akan memulai hubungan dengan ketidak jujuran kayak gitu. Om tau kan, sampai sekarang saya masih ngerasa bersalah sama Feli karena belum bisa mencintai dia sepenuh hati saya. Saya nggak akan bikin kesalahan baru yang bisa jadi halangan buat kebaikan pernikahan kita, Om. Saya nggak akan bisa natap Feli sementara saya nyembunyiin kebenaran sebesar itu soal identitas dia Om."


Om Dhana menatap harap pada Alex, sedangkan Alex tetap pada pendiriannya. "Saya nggak bisa."


Om Dhana terdiam.


"Kamu mencintai Feli kan Al? Kamu nggak tega menghancurkan hatinya kan dengan jujur soal identitasnya? Kamu mau pernikahan kamu sama Feli berjalan lancar tanpa masalah kan?"


Alex menatap Om Dhana. "Setuju sama rencana Om, maka nggak akan ada masalah!" ujar Om Dhana meyakinkan.


"Enggak papa kan kita nyembunyiin kebenaran demi kebaikan?"


Alex tidak bisa menjawab. Rencana yang diatur Om Dhana untuk akad nikah tersembunyi itu ide yang buruk, tapi tidak juga salah sepenuhnya. Membohongi semua orang dengan pernikahan rekayasa itulah yang salah. Dimata semua orang Om Dhana dan Feli adalah ayah dan anak kandung, dalam akad nikah yang akan digelar didepan publik nanti pun Alex harus menyebut nama Feli dengan nama Om Dhana sebagai walinya. Padahal tentu saja itu tidak sah, karena Feli bukanlah anak kandung Om Dhana. Tapi jika bukan nama Om Dhana yang disebut setelah nama Feli saat ijab kabul nanti, maka pertanyaan besar publik akan membanjiri acara pernikahan mereka, dan bisa bisa saja terjadi kekacauan.


Namun diluar semua itu, Alex lebih mengedepankan kejujuran, Alex tidak bisa menyetujui rencana Om Dhana. Sekarang masalah baru yang sangat serius datang, menambah tumpukan perkara yang memenuhi pikiran Alex. Alex jadi pusing.


"Tolong kamu pertimbangin Al, masalah yang kita hadapi saat ini nggak terlalu sulit dibandingin masalah yang bisa terjadi nanti kalo identitas Feli yang sebenarnya terbongkar. Om melakukannya demi kebahagiaan Feli dan kebaikan dua keluarga."


"Pikirkan itu Al!"


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2