
Alex memejamkan matanya seraya menghirup dalam aroma kesukaannya itu. Kemudian ia membuka matanya perlahan dan menghembuskan nafas panjang, entah kenapa saat Alex membuka matanya, arah pandangannya terpaku pada bibir Kayla. Ia berpikir aroma stoberi yang ia hirup ini mungkin berasal dari bibir gadis cupu di dalam cengkeramannya.
Seketika ia langsung terbayang akan gadis pujaannya, Miss Kissable. Namun dengan cepat ia menampik dan membuang bayangan itu. Alex merasa bodoh sendiri, bagaimana ia bisa terbayang gadis pujaannya itu disaat ia sedang berhadapan dengan gadis cupu ini?!
Gadis cupu ini tidak pantas dibandingkan dengan Miss Kissable.
Tanpa sadar, cengkraman kasar Alex melemah, dan ia menggerakkan ibu jarinya mengelus bahu Kayla.
Kayla mengernyit heran, bagaimana bisa ekspresi wajah Alex berubah hanya dalam sekali kedipan mata dan sekali hembusan nafas saja? Secepat itu? Ada apa dengannya?
Yang tadinya penuh amarah sekarang terlihat tenang, cengkraman kasarnya berubah menjadi elusan lembut. Apa, elusan lembut? Dasar brengsek!!
Ketika menyadari itu Kayla buru-buru menyentak kedua tangan Alex dari bahunya. Ia mendorong tubuh Alex agar menjauhinya. Detik berikutnya Kayla menarik tangan Sherly dan berlalu dari hadapan para pria kejam itu.
Ketika aroma stroberi yang membiusnya itu lenyap dari penciumannya, barulah Alex tersadar. Gadis sialan itu sudah tidak ada disekitarnya.
Bima, Sandi dan Vicky menatap bingung ke arah Alex.
"Elu kenapa sih, bro?"
"Al, lu biarin dia pergi gitu aja?!"
Alex menggeleng seraya mengerekatkan gigi-giginya geram. "Kurang ajar tu cewek!!" teriaknya.
Kalau saja Alex tidak terbius dengan aroma manis yang meluruhkan amarahnya itu, Alex pasti sudah mencekik gadis itu.
Stroberi dan segala yang berkaitan dengannya memanglah segalanya bagi Alex, kekuatannya dan kelemahannya. Pemegang kendali dirinya dan hatinya, penenangnya dan obat terampuh baginya. Dan kali ini, aroma manis stroberi telah mengubah amarah Alex menjadi ketenangan, dan mengubah sikap kasarnya menjadi kelembutan.
Alex mendengus nafas kasar.
"Atur! kita bikin dia malu di depan semua orang!" ucapnya geram.
... ....
... ....
... ....
Saat bel masuk berbunyi untuk pelajaran terakhir, Kayla yang kebelet buang air kecil menyempatkan dirinya ke toilet dulu sebelum guru masuk. Setelah Kayla selesai dan hendak keluar dari toilet, ia malah terkunci.
"Kok bisa kekunci? Apa pintunya rusak ya? Atau jangan-jangan ada yang ngunciin dari luar?" gumam Kayla.
"Tolong..! Ada orang nggak di luar..? Tolong.." Kayla berteriak sembari memukul-mukul pintu dan menggerak-gerakkan knop pintu.
"Ini udah jam masuk belajar, pasti di luar udah sepi. Duuuh.. gimana nih.." Kayla mulai gelisah.
"Gak lucu kan kalo aku gak masuk gara-gara kekunci di toilet." Kayla mondar mandir di depan pintu dengan gelisah.
Ia terus mengetuk dan memukul-mukul pintu, berharap ada seseorang di luar yang mendengarnya dan akan menolongnya.
Sedangkan di kelas, pelajaran sudah berlangsung. Bu Alma menjelaskan materi pelajarannya, kemudian menyuruh para murid menyalin soal dan penjelasannya di buku masing-masing.
"Oke, kalau sudah selesai, bukunya dikumpul ya.." ujar Bu Alma sembari menutup buku materinya dan beranjak.
"Iya, Bu.." jawab murid serentak.
"Adit! Nanti kalau semuanya sudah selesai, bukunya antar ke ruangan ibu ya!"
"Baik, Bu." jawab Adit. Bu Alma kemudian berlalu meninggalkan kelas.
Jessica, Luna dan Erin saling pandang dengan senyuman smirk mereka.
"15 menit sebelum bel kita keluar. Buruan selesain!" bisik Jessica yang diangguki oleh kedua temannya.
Ceklekk
Kayla terkesiap mendengar suara yang berasal dari pintu toilet. Wajahnya langsung berbinar karena memang sejak tadi ia menantikan seseorang membukakan pintu untuknya. Ketika pintu sudah terbuka dan menampakkan orang yang telah membukakannya pintu, binar mata Kayla meredup.
"Jessica?"
"Come on!" seru Jessica sebelum berbalik dan beranjak pergi.
"Ayo ikut!" Luna dan Erin menarik tangan Kayla.
"Eh, apa-apaan nih?!" bingung Kayla.
Ketiganya membawa Kayla ke ruangan loker. Mereka mendudukkan Kayla di sebuah kursi dan mengikat kedua tangan Kayla di belakang punggungnya agar pergerakan Kayla tidak mengganggu aksi mereka.
"Kalian mau ngapain?" tanya Kayla panik saat Erin mengikat tangannya.
"Udah..diam!" bentak Erin.
Luna dan Jessica mengeluarkan alat-alat make-up dari loker mereka, membuat Kayla mengernyit bingung. Jessica tersenyum smirk seraya memoleskan make-up ke wajah Kayla.
Perasaan Kayla tidak enak, tidak mungkin mereka mau mendandaninya kan? Apa yang sebenarnya mereka mau?
"Eh, ini apaan sih. Eh udah dong..! Ini aku mau di apain sih.." kata Kayla bersungut-sungut.
Entah jadi apa wajah Kayla setelah ini, rasanya aneh. Jessica sampai melepas kacamata Kayla untuk memoles make-up di bagian matanya.
Mereka hanya tertawa di tengah aksi mereka, tanpa menghiraukan kata-kata Kayla sedikit pun. Mereka bahkan tidak bisa berhenti tertawa saat melihat hasil karya mereka di wajah Kayla yang baru saja selesai mereka buat.
"Pliss deh...lepasin aku! Kalian gak ada bosen-bosennya ya gangguin aku.."
"Iya pasti kita lepasin lah.." sahut Jessica seraya mengisyarat pada Erin dengan matanya.
Erin pun membuka ikatan Kayla, sontak Kayla langsung menyentuh wajahnya yang terasa aneh.
"Heh.. hehh.. jangan dipegang!" semprot Luna sambil menarik tangan Kayla hingga membuatnya bangun, Erin ikut memegang tangan Kayla yang lainnya lalu mereka beranjak keluar dari ruangan.
"Eh, apaan lagi nih.. katanya kalian ngelepasin aku.." gerutu Kayla.
"Iya, tapi gak sekarang. Ini baru permulaan, permainan yang sebenarnya belum mulai!" sahut Jessica dengan nada ketus.
__ADS_1
Jessica lalu membekap mulut Kayla dengan kain yang ia ikat di belakang kepala Kayla, supaya Kayla tidak bisa berteriak dan mengundang perhatian orang-orang yang sedang belajar.
Mereka mengikat Kayla lagi, kali ini Kayla diikat di salah satu sisi penyangga gawang yang terbuat dari besi. Gawang bola yang tentu letaknya di lapangan bola, yang lokasinya tepat di tengah-tengah bangunan sekolah.
Tidak selesai sampai disitu. Mereka menggunting ujung rok Kayla menjadi bentuk rumbai-rumbai yang berantakan. Rok Kayla yang mulanya panjang selutut sekarang jadi lebih pendek dan memperlihatkan sebagian paha mulusnya.
Kayla terbelalak tak percaya dengan apa yang mereka lakukan. Kayla berusaha meronta dan menggerak-gerakkan tangannya, berharap ikatan ditangannya bisa terlepas. Kayla ingin berteriak tapi suaranya tercekat dan tertahan karena mulutnya dibekap, alhasil ia hanya bisa menggeram frustasi dan bergerak gelisah ditengah ketidak berdayaannya.
Jessica, Luna dan Erin berdiri memandangi Kayla setelah mereka selesai mengubah gadis cupu menjadi badut jelek yang compang-camping. Setelahnya barulah Erin melepaskan kain yang membekap mulut Kayla.
"Keterlaluan ya kalian!" semprot Kayla langsung.
Mereka bertiga hanya mencibirnya remeh. Jessica lalu mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Kayla, ia berdecak bangga melihat hasil fotonya.
"Hahahaaa......" Jessica, Luna, dan Erin tertawa puas.
"Apa-apaan sih Jes? Lepasin aku!" kesal Kayla.
"Elu mau liat?" ujar Jessica membalik ponselnya agar layarnya menghadap ke arah Kayla.
Kayla terperangah kaget melihat sebegitu buruk dirinya di dalam foto itu, sangat memalukan. Hati Kayla berdenyut nyeri, tega sekali mereka memperlakukannya begini.
"Jessica, Luna, Erin! Kalian keterlaluan, tega banget sih kalian sama aku? Apa lagi salahku?"
"Hahahahaa....." lakar tawa mereka nampaknya tak bisa berhenti, membuat Kayla sedih dan sakit hati.
"Lepasin!!"
Beberapa menit kemudian bel berbunyi, menandakan pelajaran terakhir hari ini sudah selesai.
"Sempurna!" ujar Jessica takjub sendiri, yang disambut tepuk tangan oleh Luna dan Erin.
"Oke cupu, are you ready?" ledek Luna.
Siswa-siswi pun mulai berhamburan keluar kelas masing-masing. Mereka yang semuanya berjalan menuju parkiran dan gerbang sekolah, tentu saja melihat pemandangan yang asing di tengah lapangan. Yang kemudian membawa rasa penasaran mereka untuk melangkah ke lapangan dan melihat lebih dekat apa yang ada disana.
Begitu juga dengan Alex dan ketiga temannya.
"Ada apaan sih tuh? Kok banyak orang" kata Sandi
"Kayaknya itu Jessica deh, samperin yuk!" ujar Vicky.
Semua orang otomatis memberi jalan untuk dilewati Alex agar ia mudah dan cepat sampai ke lapangan. Setelah mereka sampai ke tengah lapangan dan melihat dengan jelas yang menjadi tontonan saat ini, Jessica langsung menghampiri Alex.
"Gimana Al? Suka nggak?" tanya Jessica semangat.
"Itu si cupu Kayla?" tanya Vicky memastikan. Karena penampilan Kayla yang cukup berantakan dan wajahnya benar-benar dipoles tebal, mereka jadi tidak sulit mengenali kalau itu Kayla.
"Iya, si cupu yang sok berani itu." sahut Erin.
Alex tersenyum miring melihat gadis sialan yang beberapa jam yang lalu berani menantangnya itu, kini ditampilkan di tengah lapangan dengan penampilan yang menjijikan.
Penampilannya sekarang benar-benar menyedihkan. Kedua tangannya terikat ke belakang, rambutnya tergulung berantakan, wajahnya sudah seperti badut yang didandani seperti joker, bajunya tidak rapi lagi karena sudah terkeluar menutupi sebagian roknya, dan roknya...
"Gimana Al?" tanya Jessica lagi ketika pertanyaannya yang sebelumnya belum dijawab Alex. "Tadi itu gue denger elu nyuruh ngatur rencana buat bikin dia malu, jadi gue pikir mending gue aja yang ngerjain." lanjutnya.
"Bagus!" jawab Alex tanpa menoleh pada Jessica.
"Elu seneng?" tanyanya lagi sambil menyentuh lengan Alex.
"Hm." sahut Alex seraya menjauhkan tangannya dari Jessica.
"Jadi...gimana?"
"Apanya?" tanya Alex acuh
Jessica mendengus jengah, selalu saja Alex melupakannya. "Kesepakatan kita Al.."
"Gue gak pernah bikin kesepakatan tuh."
"Elu udah bilang.. kalo gue berhasil ngebully habis-habisan orang yang berani sama lu, lu bakal terima gue jadi pacar lu."
Alex terdiam, kemudian dia tersenyum misterius dengan pandangan yang masih tertuju pada Kayla. "Gue belum puas. Bikin dia lebih menderita lagi dari ini." ucap Alex final.
"Cabut yuk!" Alex beranjak pergi meninggalkan kerumunan bersama ketiga temannya.
Jessica hanya terdiam menatap punggung Alex. Baru beberapa langkah menjauh dari kerumunan, Alex terhenti dan kembali berbalik, membuat semua orang kembali memberikan perhatiannya pada Alex.
"Denger semuanya! Siapa pun yang berani bantuin dia atau ngelepasin ikatannya, besok gak bakal selamat!" ancam Alex.
Adit dan Nia yang juga menyaksikan penderitaan temannya itu pun hanya bisa mendengus pasrah. Kedua teman Kayla itu tentu tidak tega melihat keadaan Kayla yang menyedihkan seperti sekarang.
Kayla hanya bisa menunduk menahan air matanya, karena ia terlalu malu untuk mengangkat kepalanya dan menatap siapa pun di sekitarnya. Kayla berusaha menekan perasaannya yang getir, malu, sedih dan sakit hati. Ia mengerekatkan gigi-giginya dan menutup matanya untuk menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak mau menjadi lemah apa lagi putus asa.
Tega sekali mereka memperlakukannya seperti ini. Apa kesalahan yang ia lakukan sangat besar sampai ia harus dipermalukan seperti ini? Ia hanya berusaha memperingatkan Alex. Ia melakukannya karena peduli dan kasihan dengan pria itu. Apa itu salah?
Siswa berpengaruh seperti Alex seharusnya bisa menjadi teladan dan memberikan rasa aman bagi siswa-siswi lainnya. Apalagi dia punya posisi yang kuat di sekolah, mengingat ayahnya lah pemilik sekolah ini. Tapi Alex malah menjadi contoh yang tidak sepatutnya, dan menjadi ancaman bagi siswa-siswi di sekolah. Dia memberikan image buruk bagi orangtuanya sendiri dan sekolahnya.
Lihat yang dia lakukan bersama teman-temannya! Mereka bisa sampai mempermalukan orang separah ini. Pantas saja para guru memilih angkat tangan dari pada harga diri mereka harus diinjak-injak seperti yang Kayla dan Sherly alami hari ini.
Seharusnya Kayla sadar, masalah sekecil apapun akan dianggap besar oleh seorang pria pemarah seperti Alex.
Sekarang Kayla bisa apa? Ia sudah dipermalukan seperti ini? Menjadi bahan tontonan bahkan tertawaan orang-orang, hanya sedikit dari mereka yang menatapnya iba, karena mungkin mereka sudah terlalu sering menyaksikan keadaan-keadaan semacam ini.
Sampai semua orang pergi dan sekolah sepi, Kayla masih di posisinya. Ia sudah lemas, ia lelah berusaha meronta melepaskan diri, tangannya juga sudah pegal dan perih karena tali yang mengikat tangannya begitu kencang.
Sandi dan Vicky duduk di kursi panjang yang ada di sisi lapangan. Mereka berdua ditugaskan Alex untuk mengawasi Kayla, barangkali ada yang berani melepaskan ikatannya.
"Mau sampai kapan mereka ikat aku kayak gini, mereka aja udah mulai ngantuk tuh" gumam Kayla yang tentu tidak bisa di dengar kedua teman Alex itu.
Benar, Sandi dan Vicky sudah mulai bosan dan beberapa kali menguap karena mengantuk. Ini hampir jam 3 siang, dan mereka hanya duduk saja sambil mengawasi korban bullying mereka itu.
"Pulang yuk!" ajak Vicky
__ADS_1
"Trus dia?"
"Gak ada siapa-siapa lagi disini, semuanya udah pada pulang. Emangnya siapa yang bisa ngebebasin dia.."
"Bener juga, kayaknya ni hari juga udah mau ujan." kata Sandi sambil menengadah menatap langit yang mulai menghitam.
Keduanya akhirnya beranjak meninggalkan Kayla sendirian yang masih terikat di tengah lapangan.
"Hey...! Kok main pergi aja, lepasin aku dulu!" pekik Kayla ketika ia menyadari Sandi dan Vicky hanya melewatinya saja.
"Bodo amat!" Sahut Sandi lempeng.
Mereka benar-benar pergi tanpa memperdulikan nasib Kayla. Kayla hanya bisa meringis dan mendengus putus asa.
... ....
... ....
... ....
Di depan kios yang berada di samping gerbang sekolah, seorang pria yang memakai helm duduk di atas motornya yang terparkir.
Saat ekor matanya menangkap sosok dua orang pemuda keluar dari gerbang sekolah dengan mengendarai motor mereka masing-masing, pria itu menutup helmnya. Ia kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju memasuki gerbang sekolah.
Ia memang sengaja menunggu sampai kedua pemuda itu meninggalkan sekolah. Bukan karena ia takut pada mereka, tapi untuk menjaga image nya sendiri agar tidak jatuh dimata orang lain. Ia sengaja tidak langsung pulang, tujuannya adalah menolong gadis malang yang hari ini mereka bully dan masih terikat di gawang lapangan bola.
Ketika ia melajukan motornya menuju lapangan bola, dari kejauhan ia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan hatinya, ia terkesiap dan reflek menghentikan laju motornya. Di sana sesosok pria tengah berusaha melepaskan ikatan gadis malang itu. Ternyata ada pria lain yang berniat menolong gadis malang itu selain dirinya.
Dan pria itu telah mendahuluinya.
Ada rasa tidak rela, kesal dan kecewa terbesit dihatinya. Ternyata ada pria lain yang juga menaruh perhatian pada gadis yang disukainya itu.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, membuat lamunannya buyar seketika, seolah langit pun mengerti perasaannya saat ini.
Ia memutar motornya dan memilih pergi, meninggalkan gadis imut yang akhir-akhir ini mengisi hati dan pikirannya. Rasanya sakit melihatnya bersama pria lain, walaupun ia tak tahu apakah mereka punya hubungan atau tidak.
Saat ia menyalakan mesin motornya, gadis imut dan pria yang bersamanya itu menoleh ke arahnya karena suara mesin motornya yang menarik perhatian mereka.
"Pak Bayu?"
"Iya, itu Pak Bayu. Kok ada disini ya, aku pikir semua orang udah pulang."
Setelah ikatan Kayla terlepas, keduanya lantas berlari menepi untuk berteduh. Hujannya cukup deras dan keduanya butuh waktu untuk pulang. Kayla pikir ia lebih baik membersihkan riasan make-up badut di wajahnya sekarang.
Setelah Kayla selesai bersih-bersih, ia menyusul Adit duduk di pondok terbuka yang ada di taman sekolah. Sembari menunggu hujan reda, keduanya mengobrol untuk menghilangkan kejenuhan.
"Dit, makasih banget yah!" ucap Kayla lirih.
"Sama-sama Kay.." sahut Adit seraya tersenyum tulus, menampakkan lesung pipinya yang membuatnya sangat manis.
"Jadi... kamu sengaja nunggu Sandi sama Vicky pergi?"
Adit tersenyum kikuk sebelum menjawab, "Enggak. Sebenarnya tadi aku udah pulang, tapi aku cemas mikirin kamu Kay, makanya aku balik kesini. Pas banget waktu aku sampai kesini, mereka udah nyalain motor mau pulang."
"Oh gitu. Makasih banget ya Dit.. aku gak tau kalo gak ada kamu nasib aku gimana.."
"Kok ngomongnya gitu sih, kalo gak ada aku, ada Pak Bayu."
Mendengar nama Pak Bayu disebut Kayla sedikit terkesiap. Tadi memang Pak Bayu ada disini, entah apa yang dia lakukan.
"Pak Bayu?"
"Iya, aku yakin sebenarnya tadi Pak Bayu juga mau nolongin kamu."
Kayla jadi merasa salah tingkah dan agak tercengang, ia juga bersyukur karena ternyata ia tidak benar-benar sendirian, masih ada Adit yang peduli padanya, dan Pak Bayu juga.
Cukup lama berteduh di pondok taman sekolah, akhirnya hujan reda juga. Adit mengantarkan Kayla sampai ke rumahnya.
"Sekali lagi makasiiiiih...banget Dit" ungkapan saja Kayla rasa tidak cukup untuk kebaikan dan kepedulian yang Adit berikan padanya hari ini. Sungguh Kayla sangat bersyukur Adit ada untuknya disaat ia benar-benar membutuhkan.
Adit terkekeh geli. "Iya Kay.. mau berapa kali sih kamu bilang makasih, aku bosen dengernya. Bilang yang lain kek" keluh Adit.
"Yang lain apa?"
"Ya... apa kek. Inisiatif sendiri lah.. kalo dari aku, ntar kesannya aku kayak gak ikhlas lagi nolongin kamu"
Kayla jadi mengernyit sambil tersenyum menatap wajah Adit yang lucu saat mengatakan itu.
Tiba-tiba sebuah mobil angkot berhenti di depan rumah Kayla. Mami Kayla turun dari angkot dan melebarkan senyumnya saat melihat putrinya.
Kayla langsung membulatkan matanya karena kaget.
GAWAT!!!
Kayla langsung deg-degan, ia panik seketika sampai membuat Adit bingung.
"Kenapa Kay?"
"Mami! Mami gak boleh tau kondisi aku berantakan kayak gini!" ujar Kayla berbisik.
Bisa panik gak ketulungan kalau maminya sampai melihat penampilan Kayla yang berantakan. Rambut dan wajahnya memang sudah rapi dan bersih, tapi roknya yang compang-camping pasti akan mengejutkan mami.
Sebentar lagi mami pasti akan menjerit panik.
"Duuuuh.... gimana nih..."
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...