
Nadia menghampiri putrinya yang sedang duduk di meja belajarnya. Menyadari kehadiran sang mami, Kayla lantas memutar kursinya menghadap ke arah mami.
"Kamu udah makan siang kan, sayang?"
"Udah mi. Mami baru pulang?"
"lya. Maaf ya, mami lama." ucap sang mami sambil mengerutkan hidungnya.
"Gak papa mi, emangnya Lily masih anak kecil yang suka nangis ditinggal maminya?" Kayla tertawa kecil.
Nadia tersenyum sambil memandangi putri kecilnya yang kini sudah tumbuh dewasa. Kenapa rasanya putrinya ini begitu cepat tumbuh besar, bahkan sudah ada pria yang berniat menikahinya. Jujur, Nadia tidak siap jika harus ditinggal nikah oleh Kayla, meskipun jika pria yang menikahi Kayla adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan... yang terjadi semalam membuatnya semakin tidak yakin melepas putrinya ini dalam waktu dekat.
Selama beberapa bulan terakhir Alex memang sering main ke rumahnya, karena memang Alex berniat untuk meminang Kayla. Nadia mengerti Alex ingin mendekatkan diri dengannya dan juga mengenal Kayla lebih jauh. Nadia menyukai pemuda sopan sepertinya, dan kehadirannya selalu disambut baik oleh Nadia. Namun, Nadia tak menyangka ketika hari H- malah terungkap sisi kelam pemuda yang terlihat sangat baik itu. Nadia kecewa, kepercayaannya pada Alex runtuh begitu saja. la bahkan sempat berpikir bahwa ia tidak akan pernah sudi menyerahkan putri kesayangannya pada Alex.
"Mi?"
"lya sayang?" Nadia agak terkesiap.
"Om Iwan.. bener kan gak jadi nuntut Alex?"
Nadia mendengus kecil, "Kamu ngomong apa sama Om lwan, sampe Om lwan setuju batalin rencananya buat nuntut Alex?"
"Emangnya Om lwan gak ngasih tau mami ya?"
Nadia terdiam beberapa saat. "Om lwan kasih tau alasannya kok. Tapi sayang, Alex juga harus menerima hukumannya kan, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Apa kamu yakin biarin dia bebas gitu aja? Mami khawatir sama kamu."
"Mi, Lily gak mau lagi ngebahas soal kejadian itu. Kalo Alex dituntut kan artinya ngebuka kasus yang udah lama, ngebuka luka lama lagi, Lily gak mau balik ke masa itu. Lagian buat kita, masalah itu udah selesai kok. Alex udah tobat, dia udah minta maaf dan gak kayak gitu lagi, Lily juga udah ikhlas. Mami ngerti kan..?" rengeknya.
Nadia terdiam. Tentu Nadia mengerti penderitaan yang dialami Kayla. Kayla pasti trauma atas insiden buruk itu, tidak tahu berapa banyak air mata yang Kayla tumpahkan, tidak tahu butuh waktu berapa lama dia bisa menyembuhkan traumanya itu. Nadia menyesal sekali, ia merutuki kelalaiannya sebagai seorang ibu.
"Kenapa sayang? Kenapa kamu gak pernah bilang sama mami? Kapan itu terjadi, kenapa mami sampe gak tau?!" lirih mami frustasi.
"Maafin Lily mi, Lily gak mau-.."
"Jangan bilang kalo kamu gak mau bikin mami sedih!" sela mami kesal, membuat Kayla tertunduk merasa bersalah.
"Sayang, mami ngerasa gagal sebagai orang tua. Gimana bisa mami biarin hal seburuk itu menimpa kamu, gimana bisa mami sampe gak tau, gak peka sama kamu. Dengan kamu diam mungkin mami gak akan sadar kalo kamu punya beban. Tapi kamu tau sayang, dengan kamu diam mami jadi nyesel, mami baru tau semua itu dari mulut orang lain." kata mami lirih dan parau.
"Mi..." Kayla pun merasa bersalah, mungkin sebentar lagi air matanya akan tumpah.
"Maafin Lily..!"
"Biarin Alex dihukum ya!" bujuk mami.
Kayla menggeleng, "Dia udah mempertanggung jawabkan kesalahannya mi. Dengan dia berubah jadi orang yang lebih baik, dan ninggalin semua kebiasaan buruknya di masa lalu, menurut Lily itu udah bentuk hukuman yang paling tepat buat dia. lya kan?"
"Sayang, mami takut waktu kamu ceritain kronologi kejadian itu. Mami bisa ngerasain penderitaan kamu. Apapun bisa terjadi sama kamu saat itu, gimana kalo kamu kenapa-napa? Gimana kalo mami gak bisa liat kamu lagi?! Tapi kamu.. maafin dia segampang itu?"
"Mami kok ngomongnya gitu sih. Lily baik-baik aja mi. Mami tau kan anak mami ini bukan anak yang cengeng dan lemah. Mami udah ngajarin Lily jadi anak yang kuat, berani, dan gak putus asa. Mami juga ngajarin Lily buat maafin orang yang jahat sama kita, dan kita gak boleh benci sama orang itu. Kita bisa benci perbuatannya aja, tapi nggak orangnya. Lily belajar itu semua dari mami"
Nadia speechless, ia menitikkan air matanya. "Apa kamu masih trauma sayang?"
Kayla menggeleng seraya tersenyum. "Jujur sama mami!" tanya sang mami lagi.
"Mi, kalo Lily masih trauma Lily gak akan mau dekat sama Alex."
"Tapi gimana mungkin kamu bisa lupain kejadian yang pernah membuat kamu terpukul itu sayang? Kamu punya mental sekuat itu..." Nadia menyentuh pipi Kayla dan menatapnya lirih.
"Ingatan tentang kejadian itu mungkin gak bakal bisa Lily lupain selamanya, mi. Tapi kan kita bisa keluar dari masa lalu, hilangin perasaan-perasaan itu, dan nyembuhin luka kita. Mami sendiri yang pernah bilang itu ke Lily, waktu Lily sempat takut dan benci sama papi, iya kan!"
Nadia terharu mendengarnya. la mencium kening Kayla sayang. Ingatan Nadia kemudian berkelana ke masa lalunya, dimana rumah tangganya dengan papi Kayla mengalami goncangan dan akhirnya hancur.
"Kamu benar sayang, meskipun kita gak mungkin ngelupainnya.. tapi kita bisa keluar dari rasa sakitnya."
Nadia terlihat melamun dengan pandangan yang kosong. Menyadari itu, Kayla lantas menyentuh wajah maminya seraya tersenyum.
"Tapi sayang.. kenapa? Kenapa kamu harus ngalamin itu, kamu anak baik. Kenapa Alex tega sama kamu, mami gak nyangka kalo dia bisa begitu"
"Sayang, kamu jangan deket-deket lagi ya sama Alex. Mami gak mau sampe kejadian lagi" ucap Nadia kemudian, karena kekhawatirannya.
"Mami gak usah khawatir, Alex yang mami kenal sekarang bukan Alex yang dulu kok. Dia udah berubah mi."
"Dia bisa berubah, tapi kita gak tau kalo mungkin nanti dia bisa balik ke dirinya yang dulu lagi kan?! Mami gak mau ambil resiko, pokoknya kamu harus hati-hati."
"Mi, mami inget nggak, waktu Alex nginep disini"
Nadia mengangguk meski bingung kenapa Kayla membahas tentang itu.
"Waktu itu kan Lily ceritain ke mami soal masalah dia. Dia sebenarnya bukan anak nakal dari kecil, tapi karena dampak tekanan perceraian orang tuanya dia jadi depresi dan berubah. Tapi kan sekarang hubungan Alex sama mamanya udah baik-baik aja. Dan Alex yang sekarang ini adalah dirinya yang sebenarnya mi. Lily yakin dia gak akan mau lagi balik ke masa kelamnya itu, orang bijak gak akan jatuh ke lubang dua kali kan mi!"
Nadia terdiam, melihat ketenangan dan keyakinan dimata putrinya, hatinya mulai sedikit lega. Kayla benar, tidak seharusnya dia memandang buruk orang yang sudah berubah, meski bagaimanapun masa lalunya. Alex anak yang baik, Nadia bisa melihatnya sendiri. Bahkan saat kemarin Alex dicerca dan dikatai oleh Kenzo, anak itu hanya diam menunduk. Tidak membantah dan malah mengakuinya, artinya Alex memang merasa bersalah kan. Meski begitu, Nadia tetap tidak boleh lengah, dia tidak boleh mengabaikan persoalan ini begitu saja. Apalagi melihat Kayla yang akhir-akhir ini sudah terlihat nyaman dengan Alex.
"Sayang, apa setelah ini kamu sama Alex akan tetap seperti sebelumnya?"
"Maksud mami?"
"Emm..." Nadia ragu mengatakannya. Kayla pun mencoba memahami maksud maminya dengan memperhatikan raut wajahnya.
__ADS_1
"Mami gak usah khawatir ya, percaya deh sama Lily. Alex itu cowok yang bijak mi, Lily yakin dia bisa ngelupain masalah kemarin dan gak bakal ngebesar-besarin masalah itu. Apalagi sampe berdampak sama Lily, itu gak mungkin, mi."
"Kamu percaya sekali sama dia, sayang. Mami takut kamu..."
"Mi.." sergah Kayla. "Sebelum Lily benar-benar buka hati Lily buat Alex, Lily udah percaya sama dia. Karena Lily udah kenal dia cukup baik."
"Jadi kamu.. udah buka hati kamu buat dia?" tanya mami.
Kayla tersipu malu. "Kan mami yang minta, waktu itu."
"Maafin mami ya sayang..! Mami gak ngertiin kamu, padahal jelas-jelas sebelumnya kamu tuh cemas dan takut banget. Kalo mami tau ada insiden buruk diantara kalian dulunya, mami gak akan minta kamu buat buka hati kamu, mami gak akan minta kamu pertimbangin keseriusan dia. Sekarang.. mami takut kamu menaruh hati sama cowok yang salah."
"Enggak mi, jangan bilang gitu. Justru Lily berterima kasih sama mami, berkat mami minta Lily buka hati buat Alex.. Lily jadi bisa nyadarin perasaan Lily sendiri. Lily gak nyesel kok, jadi mami jangan ngerasa bersalah gini ya..!" ucap Kayla seraya memegang kedua tangan maminya.
Nadia tersenyum lirih, "Semoga kamu gak jatuh cinta sama orang yang salah ya sayang, semoga kamu gak akan pernah ngerasain yang namanya patah hati." gumamnya dalam hati.
... __________________...
Kenzo duduk di taman sekolah bersama Jessica. Mereka kini saling diam, terlihat Kenzo yang menekuk wajahnya, dan Jessica yang bertekan dagu dengan siku yang ia tumpu pada pahanya. Jessica mendengus malas, beberapa hari ini Kenzo selalu membicarakan Kayla di depannya. Begitu juga hari ini, lihat saja sekarang, wajahnya sampai ditekuk begitu sehabis menceritakan kekacauan yang terjadi di rumah Kayla.
Ya, sebelumnya Kenzo meminta pendapat Jessica tentang Alex yang sudah meminta restu Tante Nadia untuk meminang Kayla. Tentu saja Jessica syok mendengarnya, namun bukan Jessica namanya jika tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan kelicikannya. Jadilah Jessica menceritakan semua tentang perilaku Alex yang dulu pada Kayla, bagaimana mereka sering bertemu sampai akhirnya dekat. Jessica tidak begitu tahu tentang yang sebenarnya mengenai hubungan antara Alex dan Kayla karena memang ia tidak suka melihat mereka bersama. Namun ia menceritakannya dengan lancar pada Kenzo dengan ditambah bumbu-bumbu pedas khas mulut julidnya.
Dan berhasil, Kenzo meradang mendengarnya. Tapi prediksi Jessica kurang tepat. la pikir setelah Kenzo marah dan mengacaukan acara lamaran itu, maka semuanya akan berakhir. Tapi ternyata tidak, hanya lamarannya saja yang batal.
Kenzo bilang meski semuanya berantakan, tidak dengan keyakinan hati Kayla. Justru Kayla yang sebelumnya hanya menganggap Alex sebagai teman, malah menyatakan cintanya di depan Kenzo.
Tidak masalah bagi Jessica, jika ia gagal menghancurkan hubungan Alex dan Kayla kali ini, mungkin ia akan berhasil di lain kesempatan. Tapi sepertinya bagi Kenzo, itu adalah sebuah masalah. Memangnya kenapa, apa masalahnya? Kayla kan bukan gadis bodoh yang akan melepas pria sekelas Alex begitu saja, hanya karena aib masa lalunya terbongkar. Dulu saja Kayla begitu berani dan cepat bertindak atas ketidak adilan yang ia alami, ia juga sepertinya mudah melupakan kejadian yang sempat menjadi buah bibir di kalangan para siswi itu. Begitulah pikir Jessica.
Lalu kenapa Kenzo begitu terganggu? Tidak mungkin kan dia cemburu?
"Ken!"
"Hm?" Kenzo agak terkesiap.
"Apa semua yang kamu pikirin itu lebih penting dari kehadiran aku disamping kamu?" ujar Jessica merajuk.
Kenzo tertawa canggung, ia lalu meraih tangan Jessica. "Maafin aku ya, kamu ngerti kan aku lagi mikirin soal kemarin"
"Yang kamu pikirin tuh apa, lamaran yang berantakan, Alex yang cuman diem, apa Kayla yang yang cuman sedih sebentar, trus bilang cinta sama Alex? Huh.. aku bingung deh."
"Sayang, apa menurut kamu aku salah udah bikin lamaran mereka berantakan?"
Jessica mengulum senyum, wajahnya mulai memerah. "Eh kok senyum-senyum gitu sih?" goda Kenzo.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Jessica sambil menormalkan kembali ekspresi wajahnya.
"Kok kamu senyum?" ulang Kenzo, membuat Jessica memutar bola matanya malas.
"Ih udah berani cubit-cubit nih.. sayangnya aku gak suka balas nyubit"
"Trus sukanya apa?"
"Aku sukanya gini." Kenzo mengelus punggung tangan Jessica yang ia pegang, lalu mengecupnya lembut.
Jessica terpaku, wajahnya kembali memerah. Kenzo pun tersenyum lebar, tapi Jessica rasa itu bukan senyuman biasa. Tatapannya nampak sangat mempesona, apa dia sedang merayu Jessica? Sontak Jessica menarik tangannya dan memalingkan muka dari Kenzo.
"Bisa-bisanya ngalihin pembicaraan." ujar Jessica sewot.
Kenzo terkekeh, "Siapa yang ngalihin pembicaraan? Aku, apa kamu? Kan tadi aku nanya kamu, kamu nya aja yang salah fokus sama panggilan 'sayang', iya kan?"
Astaga, dasar Kenzo menyebalkan. Kenapa malah seperti itu jawaban Kenzo, Jessica kan jadi malu.
"Tadi kamu nanya apa ya?" tanya Jessica.
"Tuh kan, kamu salah fokus."
"Pliss deh Ken..! Kamu juga, sejak kapan kamu manggil aku kayak gitu?" sewot Jessica.
"Gak suka ya?"
"Bukan gak suka, ini kan pertama kalinya kamu manggil aku kayak gitu, jadi wajar dong aku salah fokus."
"Kayak gitu? Kayak gitu apa maksudnya?" lagi-lagi kalimat yang keluar dari mulutnya itu adalah respon yang menyebalkan.
"Sayang" sahut Jessica singkat.
Kenzo tersenyum, "Sama. Aku juga sayang sama kamu."
"liih...." Jessica mencubit pinggang Kenzo lagi.
"Nah, tuh kamu udah dapet jawabannya. Ini pertama kalinya aku manggil kamu 'sayang'. Kamu suka kan! Sayang?" Jessica mendengus senyum.
Kenzo menyebalkan tapi juga menggemaskan, ada-ada saja tingkah absurd nya yang ujung-ujungnya pasti membuat Jessica tersanjung. Dia pandai merayu, bahkan hanya dengan tatapan intens nya saja.
Jessica kemudian mengubah mimik wajahnya seraya memalingkan wajahnya dari Kenzo. Gengsi dong ia langsung luluh hanya dengan panggilan sayang saja. Ingat, Jessica masih dongkol dengan sikap Kenzo.
"Eh kenapa lagi nih?"
__ADS_1
"Aku kesal sama kamu"
"Salahku apa, sayang?"
Jessica diam.
"Apa pertanyaan aku tadi ngeganggu kamu?" tanya Kenzo.
Masih diam.
"Kamu gak suka aku bahas Kayla?"Jessica pun menoleh menatap kesal ke arah Kenzo.
"Ya Tuhan... kamu cantik banget sih sayang lagi ngambek gini! Cep cep cep... bidadari emang beda ya."
Dalam hati Jessica tentu merasa senang digoda seperti itu oleh pacarnya sendiri. Tapi ekspresi wajahnya tidak berubah, jangan sampai, nanti Kenzo kepedean.
"Ken, mana ada cewek yang suka cowoknya nyebut-nyebut cewek lain pas lagi berduaan."
"Kayla itu sahabat aku, dia udah kayak sodara aku sendiri, sayang. Jadi kamu gak perlu cemburu, aku gak bakal banding-bandingin kamu sama cewek manapun, termasuk Kayla."
Jessica mendengus, "Ya aku tau, Kayla itu sahabat dekat kamu, udah kayak sodara. Tapi tetap aja, dia kan cewek juga. Harusnya kalo kita lagi berdua gini tuh, yang dibahas ya soal kita aja. Kalo kamu ngomongin Kayla terus, kan aku jadi bete, aku cemburu dong, kamu kayak lebih mentingin dia daripada aku." kata Jessica manja.
"Oke aku ngerti. Maafin aku ya sayang, kita lupain dulu soal Kayla. Jadi, kamu maunya apa?" ujar Kenzo lembut.
"Gitu doang minta maaf nya?" sewot Jessica.
Kenzo mulai bingung. Lagi. Entah kenapa para gadis suka merajuk dengan penyebab yang sulit dipahami oleh pria. Dan yang lebih membingungkan, mereka para gadis gengsi menyebutkan apa penyebab mereka merajuk. Mereka suka membuat pria berpikir, dan berharap memahami mereka tanpa harus ada penjelasan. Dan pria begitu tidak peka pada mereka.
"Jessica sayang, bidadari ku yang paling cantik, aku minta maaf ya.. kamu bisa hukum aku sesuka kamu deh kalo mau, atau gak.. kamu mau apa, pasti aku turutin, ya... Asal kamu mau maafin aku." rayu Kenzo.
Jessica menarik sudut bibir bagian kanannya ke atas, meremehkan Kenzo. "Udah basi yang kayak gitu."
Kenzo menaikkan alisnya, tambah bingung. "Katanya.. kamu itu cowok penggoda, penakluk sejati, harusnya kamu punya banyak cara dong biar aku gak ngambek lagi. Masa' cuman rayuan gitu doang" goda Jessica.
Kenzo lantas tersenyum misterius, membuat Jessica menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan oleh Kenzo saat ini.
"Ikut aku kalo gitu!" ujar Kenzo sambil berdiri dan menarik tangan Jessica.
... ....
... ....
... ....
Kayla berjalan di koridor sekolah sambil mengedarkan pandangannya. la sedang mencari Kenzo, ia harus bicara dengan sahabat konyolnya itu. Tapi entah kemana anak itu, tidak terlihat juga batang hidungnya sejak tadi.
"Miss Kissable."
Langkah Kayla terhenti, ia baru menyadari bahwa saat ini Alex berdiri dihadapannya. Alex tersenyum seperti biasa, tapi kali ini Kayla lah yang berbeda. Entah sejak kapan jantungnya berdetak kencang seperti ini saat berada di dekat Alex, ia tersipu malu sendiri padahal Alex hanya tersenyum saja.
"Kamu nyari siapa, dari tadi celingak-celinguk aja."
Kayla tersenyum canggung. "Kenzo."
"Oh, tadi aku liat dia jalan sama Jessica. Tapi gak tau sih ke mana, kayaknya ke arah taman deh."
Kayla mengangguk-angguk. Detik berikutnya mata mereka bertemu pandang.
Degg
Degg
"Apa kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Alex.
"Oh," Kayla terkesiap. "Ya. Emmm... maksud aku.."
Alex mendengus senyum, ia tentu menyadari sikap canggung Kayla. "Ya. Banyak yang harus kita omongin kan, tapi kayaknya kita ke Kenzo dulu deh."
"Kita?" ulang Kayla mencoba memahami kata-kata Alex.
"Ya. Aku temenin kamu nyari Kenzo."
Kayla mengangguk sembari tersipu malu. Ah, kenapa harus tersipu malu, Kayla sebal dengan dirinya sendiri. Saat ini wajahnya pasti sudah memerah, padahal Alex tidak mengatakan maupun melakukan sesuatu yang membuatnya harus malu kan. Dan bukankah ia sudah terbiasa ditatap Alex seperti itu, tapi kenapa rasanya sekarang beda?!
"Ayo!" ajak Alex, yang disetujui langsung oleh Kayla.
Alhasil Kayla mencari Kenzo ditemani oleh Alex. Mereka ke taman dan bertanya dimana keberadaan Kenzo pada beberapa siswa di sana. Siswa itu bilang Kenzo bersama Jessica sudah pergi beberapa menit yang lalu, dan berjalan ke arah aula. Akhirnya Kayla dan Alex pun mengikuti arahan siswa itu, menuju aula. Belum tentu Kenzo ada di aula sih, bisa saja ke ruang olahraga atau taman kecil di sampingnya, karena lokasi ketiga tempat itu searah dan berdekatan.
Sesampainya Kayla dan Alex di dekat aula, mereka malah menemukan...
Kayla dan Alex terbelalak kaget melihat pemandangan tak biasa di depan mata mereka. Alex mematung di tempat, sedangkan Kayla wajahnya menegang seketika, saking syok nya.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...