Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Heart To Heart


__ADS_3

Kayla terisak kecil meski ia berusaha menyembunyikan air matanya, Feli pun sama. Feli terkekeh kecil seraya menghapus air matanya.


"Tujuan saya nemuin kamu hari ini.. adalah buat ngasih tau kamu sebuah keputusan." Ucap Feli setelah menarik nafas dan menghembuskannya dengan tenang.


Degg


Kayla semakin gugup dan takut.


"Saya butuh persetujuan kamu, Kayla. Karena saya udah memutuskan kalo saya nggak akan menikah sama Alex."


Duaaarrr........


"Pernikahan akan tetap terjadi, tapi bukan antara saya dan Alex, melainkan.. kamu dan Alex."


Duaaaarr.........


Kayla tersentak, terperangah syok. Nafasnya tercekat seketika, ia reflek menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan telapak tangannya.


"Bu..." lirih Kayla bergetar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.


"Kamu sama Alex, Kayla."


Duaaarrrr.......


Kayla tegang, terpaku, ia terkejut bukan main. Feli menarik sedikit sudut bibirnya seraya mengangguk samar. Kata-kata yang keluar dari mulut Feli dengan raut wajah perempuan itu yang serius, membuat Kayla syok. Kayla  mengatur nafasnya yang terasa sesak. Setelah merasa pernafasannya lebih baik, ia kembali menatap Feli. Hati Kayla dibuat berkecamuk oleh kata-kata Feli, namun ia tidak bersedia mempercayai semua itu. Yang Feli katakan semuanya sangat mengejutkan untuk Kayla, Kayla resah dan begitu merasa bersalah atas sakit hati yang dirasakan Feli. Kenapa Alex terlalu keras kepala, kenapa Alex tega menyakiti Feli.


Kayla memejamkan mata sejenak sebelum mengatakan sesuatu. Ia menipiskan bibirnya sebelum membuka mulut dan mengeluarkan kata. "Bu, tolong jangan bercanda dengan hal sebesar ini. Bu Feli calon istrinya Alex, dan hubungan kalian direstui seluruh keluarga."


"Tapi saya sendiri nggak merestuinya, Kayla. Dan saya serius sama keputusan saya."


"Kenapa bilang begitu Bu..?" Secercah ketenangan yang berusaha Kayla bangun sedari tadi, dihancurkan lagi oleh kata-kata Feli.


"Saya nggak akan bahagia dengan menjadi penghalang diantara dua orang yang saling mencintai."


"Saya udah nggak mencintai Alex, Bu. Dia cuman masa lalu saya."


Feli menggeleng, "Belum Kayla. Alex belum jadi masa lalu kamu, cuman keadaan yang membuat takdir cinta kalian terjeda. Alex juga belum nganggep kamu masa lalu dia. Cintanya sangat besar buat kamu, Kayla. Dia tersiksa karena harus memilih melupakan kamu, saya nggak bisa biarin dia hancur."


"Saya nggak percaya kalo Alex akan menyakiti Bu Feli seperti itu. Saya nggak percaya kalo dia akan mengingkari janjinya, Bu."


"Alex berusaha menepati janjinya. Saya tau dia berusaha, tapi usaha itu cuman menyiksa dia. Kalo saya menikah sama Alex, mungkin dia akan merasa terbebani dengan tanggung jawab baru, saya nggak suka itu. Kalo dia nggak pernah bisa lupain kamu, saya nggak akan bertahan lama disampingnya, Kayla."


"Apa Alex selemah itu, Bu? Bu Feli nggak percaya kalo dia bisa lupain saya. Apa Alex nggak cukup dewasa, buat Bu Feli mempercayainya? Dia mungkin butuh waktu dan saya yakin Bu Feli ngerti itu, saya pikir dia cukup bijak buat nggak ngelakuin kesalahan.. yang bikin Bu Feli ngerasa kayak gini." lirih Kayla.


Feli tak lantas menimpali ucapan Kayla, ia diam dengan tetap menatap Kayla. Sementara Kayla terus terisak merasa bersalah pada Feli, dan marah pada Alex.


"Dia butuh waktu, itu yang selalu dia bilang. Dan saya selalu berusaha ngertiin dia, meskipun nggak tau berapa lama saya harus bersabar. Tapi Kayla, saya ini cuman cewek biasa yang punya impian seperti halnya cewek-cewek pada umumnya. Ketika saya merasa impian ada didepan mata, ternyata saya nggak bisa menggapai itu. Saya harus berjuang, dalam jangka waktu yang nggak pasti sama sekali. Sampai akhirnya saya capek, dan saya takut.. kalo saya nggak akan pernah sampai ke tujuan saya, karena jalan yang saya ambil itu salah. Apa yang harus saya lakuin? Kemunginan perjuangan saya sia-sia itu lebih besar, dibandingin keberhasilannya."


"Tapi Bu Feli nggak akan nyerah secepat itu kan Bu?" kata Kayla penuh harap sekaligus takut.


Feli terdengar menghembuskan nafas, "Sejauh ini, yang saya liat.. saya capek dan Alex terbebani. Cuman itu."


Kayla terdiam bingung bagaimana menanggapinya. Feli menundukkan kepala untuk menatap cincin tunangannya dengan Alex. Ia kemudian mengangkat tangannya yang tersemat cincin itu agar Kayla juga melihatnya.


"Kayla, cincin ini sama persis seperti punya kamu yang dulu Alex kasih kan?"


Kayla mengernyit memandang cincin berlian dijari manis Feli. Kemudian ia alihkan pandangannya ke wajah Feli yang ternyata sejak tadi mengamati raut wajahnya.


"Tapi ini cincin yang berbeda. Alex lebih memilih membelikan cincin yang baru buat saya dibandingin ngasih cincin yang waktu itu kamu balikin ke dia. Padahal saya suka sekali cincin itu, bahkan ukurannya juga pas di jari saya."


"Cincin itu.. masih ada di aku sampe sekarang." batin Kayla.


"Kamu tau kenapa, Kayla?"


"Kenapa, Bu?" tanya Kayla langsung tanpa memikirkan jawaban dari pertanyaan Bu Feli yang lebih menginginkannya berpikir.


"Karena cincin itu milik kamu. Dan Alex bilang.. cincin itu cuman milik kamu, nggak bisa dimiliki orang lain."


Kayla tidak menanggapi, ia memilih menunggu Feli melanjutkan kata-kata. "Harusnya saat itu saya sadar, kalo cinta Alex juga cuman milik kamu, dan nggak bisa dimiliki oleh orang lain. Harusnya saya ngerti itu dari awal, jadi saya nggak akan terlalu kehilangan dan sedih seperti sekarang."


"Menurut saya, Alex ngelakuin itu karena dia nganggep Bu Feli masa depannya, makanya dia nggak mau mengaitkan Bu Feli dengan bagian dari masa lalunya. Maksud saya.. cincin itu, Bu."


"Kayla, seperti cincin itu.. yang dulu sempet saya pegang sebentar kemudian saya balikin ke kamu, seperti itulah Alex, cintanya, dan cincin itu, saling berhubungan. Kamu balikin cincin itu ke Alex tapi kemudian cincin itu balik lagi ke kamu kan?" Kayla melarikan pandangannya ke arah lain.


"Saya cuman dikasih kesempatan megang cincin itu sebentar, dan saya dikasih tanggung jawab buat balikin cincin itu ke pemiliknya, ke kamu Kayla. Seperti itu juga Alex. Saya cuman dikasih kesempatan buat dampingin Alex sebentar, sampai saya siap balikin dia lagi ke kamu, ke pemilik cintanya. Dan sekarang waktunya, Kayla."


Kayla menggeleng-geleng gelisah. "Jadi, saya putusin buat ngelepas Alex.. biar saya lega dan Alex bebas. Saya yang akan menyatukan kamu sama Alex, Kayla."

__ADS_1


Kayla menarik nafas seraya menghapus air matanya. "Tapi Bu, saya yakin kalo Alex akan tetap memilih Bu Feli daripada menyetujui keputusan Bu Feli ini."


"Kamu.. yakin?" Bu Feli mengangkat kedua alisnya.


Kayla mengangguk mantap. "Ya. Alex bilang dia nggak akan nemuin saya lagi. Dia tau kesalahannya Bu, dan dia udah bertekad buat memperbaiki itu. Dia juga bilang kalo dia nerima perjodohan kalian dengan sepenuh hati."


Feli terkesima dengan kalimat terakhir Kayla. "Kapan Alex bilang begitu?"


Kayla menunduk sesaat, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya sebelum menjawab Feli. "Kemarin."


Feli tak bereaksi.


"Kemarin dia kesini Bu, dia-.."


"Dia kasih bunga buat kamu, dia nunjukin cintanya ke kamu. Iya kan Kayla?" kata Feli memotong ucapan Kayla.


Kayla menggeleng kalut, tanpa ia sadari setetes airmata mengalir lagi di pipinya. Sementara Feli masih menatapnya dengan tenang padahal mata Feli pun basah.


"Bu Feli tau?"


"Saya tau. Saya berada diposisi mami kamu waktu kalian ngobrol disini kemarin." Feli menunjuk dengan isyarat mata ke arah pintu ruangan Kayla, yang ternyata diluar sana ada Mami Kayla yang tengah mengintip, saat Kayla dan Feli memergoki, Mami langsung bersembunyi.


"Alex datang buat pamit, Bu."


"Dengan menunjukkan cintanya?"


"Bunga itu cuman sebagai tanda terima kasih, sekaligus ucapan selamat ulang tahun buat saya. Cuman itu. Alex beneran pamit sama saya, dia bilang.. akan memulai hidup baru dengan rencana masa depan yang udah dia buat, Bu. Dia juga bilang.. sebelum dia nemuin saya kemarin dia belum yakin sama rencana masa depan yang dia buat, tapi pas dia pamit.. dia yakin kalo dia nggak akan menoleh ke belakang lagi."


"Kamu nolak bunga yang dia kasih?" tanya Feli, Kayla agak bingung tapi ia mengangguk. Dan itu membuat Feli terkekeh kecil, sehingga Kayla mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya hampir bertaut.


"Kamu nolak cintanya, karena itu dia bilang yakin buat nggak nemuin kamu lagi."


Hening sesaat.


"Dia kecewa, Kayla. Dia bilang begitu ke kamu bukan karena dia yakin sama saya, tapi karena dia sakit hati kamu tolak." Tautan kedua alis Kayla sirna seketika, sekarang ia paham maksud Feli.


"Bu Feli juga kecewa kan, makanya Bu Feli ngambil keputusan kayak gini? Sebenarnya Bu Feli nggak bener-bener mau ngelepasin Alex." harusnya Kayla tidak bertanya balik seperti ini kepada Feli, karena bisa saja Feli tersinggung.


"Bukan kecewa Kayla, tapi sedih." Keduanya saling menatap serius. "Saya sedih karena pernikahan saya harus batal, saya sedih karena saya harus terlibat hubungan sama cowok yang mencintai orang lain. Saya nggak marah ataupun menyalahkan Alex soal dia nggak mencintai saya ataupun dia nggak bisa lupain kamu. Saya nggak kecewa karena itu, saya tau cinta nggak bisa dipaksain, dan cinta Alex ke kamu bukan kesalahan, jadi.. nggak ada alasan untuk saya ngerasa kecewa."


"Jadi, Bu Feli berpikir.. kalo Alex belum dewasa karena dia kecewa atas sesuatu yang nggak seharusnya?"


"Tapi kemarin Bu Feli nggak liat seperti apa sorot matanya waktu ngomong ke saya. Menurut saya itu bukan kekecewaan, tapi kebijakan."


Feli mengangkat kedua alis dengan ekspresi santai. "Alex cuman memaksakan diri biar terlihat tegar didepan kamu, dia pintar nyembunyiin ekspresinya, Kayla. Tapi bukan berarti dia bisa nyembunyiin cintanya, karena cintanya itu terlalu besar."


"Mungkin benar kalo sebelumnya dia nggak yakin itu karena masih nggak bisa lupain saya. Tapi Bu, sepanjang yang saya kenal Alex itu nggak akan yakin sama satu keputusan yang dia ambil.. kalo emang dirinya sendiri nggak terima. Saya yakin, kalo waktu dia bilang nerima perjodohan kalian dengan sepenuh hati.. dia emang udah yakin sama hubungannya dengan Bu Feli. Buat kedepannya, dia nggak akan ngulangin kesalahan lagi. Percaya ya Bu!" bujuk Kayla penuh harap.


"Saya juga udah yakin sama keputusan saya, Kayla. Saya nggak akan menikah sama Alex."


Kayla menarik nafas sembari memejamkan mata, dadanya terasa sesak karena perasaannya yang kacau saat ini. Setelah ia menghembuskan nafas dan merasa sedikit lega, ia pun menatap Bu Feli lagi.


"Saya nggak berhak ngehalangin keputusan Bu Feli soal itu. Tapi kalo Bu Feli meminta saya buat nikah sama Alex.. saya berhak nolak."


"Kenapa Kayla? Kamu mencintai Alex kan?"


"Ini bukan soal cinta Bu, tapi restu. Dulu, cinta yang saya punya buat Alex nggak sebesar harap saya atas restu orang tua saya. Dan sekarang setelah saya udah move on dari Alex,


enggak ada yang penting buat saya selain restu kedua orang tua saya."


"Kalo Tante Nadia sama Om Tio setuju...?"


"Mami sama ayah nggak akan setuju."


"Om William merestui kamu sama Alex, Kayla."


Degg


Kayla membulatkan matanya tak percaya. "Enggak ada yang bilang, tapi saya bisa liat cara beliau memperlakukan kamu." lanjut Bu Feli.


"Bu, tolong jangan salah paham. Kejadian waktu itu mungkin bikin Om William ngerasa bertanggung jawab, tapi itu nggak berarti beliau merestui saya."


"Saya bisa pastiin itu, Kayla. Enggak akan butuh waktu lama, Om William, Tante Nadia, Om Tio, bahkan Tante Vanessa akan setuju sama saya. Kalo emang restu mereka yang kamu butuhin."


Kayla mulai merasa kesal, kenapa Feli terkesan memaksa. "Kalo pun mereka setuju, Alex nggak bakal setuju, Bu. Karena dia udah ngambil keputusan buat menikah sama Bu Feli. Dia akan perjuangin hubungan kalian, sampai keraguan Bu Feli hilang, dan mau nerima dia lagi."


"Dia akan memperjuangkan saya seperti dia memperjuangkan kamu, Kayla?" Bu Feli terkekeh sumbang. "Kenapa dia mau buang-buang waktu buat ngelakuin itu, kalo dia nggak mencintai saya."

__ADS_1


Kayla tertegun, ia bisa melihat bagaimana Feli menampakkan ketidak percayaannya kepada Alex, dengan meremehkan dan menganggap kata-kata Kayla itu sesuatu yang konyol dan tidak mungkin. Tapi Kayla juga bisa mengerti bagaimana sakitnya perasaan Feli saat ini.


"Alex bilang apa soal keputusan Bu Feli?"


Feli mengubah mimik wajahnya menjadi lebih serius kembali, namun tak lantas menjawab Kayla.


"Bicarain soal keputusan itu baik-baik sama Alex, Bu. Bu Feli nggak harus nyakitin diri sendiri dengan cara kayak gini, belum tentu Alex setuju. Saya nggak mau terlibat Bu, dan saya nggak mau orang tua saya kepikiran soal ini."


"Tujuan saya.. buat menyatukan kamu sama Alex, Kayla. Saya nggak berniat bikin masalah, saya cuman ngerasa bertanggung jawab sebagai seseorang yang berada diantara kamu sama Alex. Itu aja. Soal orang tua kamu, orang tua saya, dan orang tua Alex... itu urusan saya. Saya yang akan bicara langsung sama mereka, kamu nggak perlu khawatir soal itu."


"Saya bisa percaya sama kebijakan Bu Feli. Saya tau Bu Feli pasti udah mikirin keputusan itu matang-matang, tapi saya tetap nggak bisa terima Bu. Saya nggak mungkin tiba-tiba nikah dan nerima Alex gitu aja, saya nggak mau Bu."


"Kamu akan menikah sama orang yang kamu cintai, dan Alex akan menikah sama orang yang dia cintai. Itu impian yang pernah kamu buat bersama Alex kan? Saya akan merasa lega kalo saya bisa wujudin itu Kayla, saya nggak akan menyesali keputusan saya kalo kamu sama Alex setuju saya lakuin itu buat kalian."


Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maaf Bu, saya akan bicara lagi sama Bu Feli kalo permasalahan antara keluarga Bu Feli dan keluarga Alex udah beres. Saya harap Bu Feli nggak memaksa keinginan buat ngewujudin keputusan itu kalo Alex dan keluarga Bu Feli enggak setuju."


Feli menghembuskan nafas panjang. "Oke." jawabnya pasrah.


Setelah saling bungkam beberapa saat, Feli berdiri dan pamit pulang. Saat didepan pintu ia dicegat oleh Nadia yang sangat penasaran akan obrolan mereka, namun Feli hanya mengatakan.. "Saya akan temui kalian lagi, maaf kalo kedatangan saya mengganggu."


Nadia curiga kalau Kayla tidak bicara dengan baik kepada Feli sehingga Feli harus mengatakan demikian. Saat Nadia bertanya pada Kayla, putrinya itu menghindari pertanyaannya. Sehingga Nadia berkesimpulan kalau ada sesuatu yang kedua gadis itu sembunyikan darinya. Firasat Nadia jadi tidak enak.


.......


.......


.......


Di parkiran rumah sakit, Alex menunggu dengan gelisah. Seharusnya ia sudah menemui Feli sejak 15-20 menit yang lalu, tapi ia dicegat oleh dua bodyguard Feli yang berjaga didekat mobil saat ia sampai di parkiran rumah sakit. Sehingga mau tak mau ia menunggu gadis itu keluar dari rumah sakit, padahal tujuannya kemari adalah untuk mencegah Feli bicara pada Kayla. Entah apa saja yang Feli katakan pada Kayla, dan entah bagaimana pendapat Kayla, Alex begitu gelisah. Kenapa Feli begitu nekat dengan keputusan bodohnya itu, bahkan dia belum memberi Alex waktu untuk bicara dan memberi tanggapan atas keputusannya itu. Alex kesal sekali.


Dengusan panas terdengar berhembus dari pernafasan Alex, saat ia melihat siluet gadis yang sejak tadi ia tunggu. Dari kejauhan Feli agak kaget melihat Alex, langkahnya sempat terhenti. Kemudian ia kembali melangkah dengan percaya diri ke arah Alex.


"Aku nggak nyangka kamu segegabah ini." ucap Alex seraya menahan amarahnya.


"Aku juga nggak nyangka kamu akan langsung ke rumah sakit tanpa ganti seragam dulu." ujar Feli seraya memperhatikan seragam SMA Alex yang penuh coretan perayaan kelulusan.


Alex yang sudah mengepalkan kedua tangannya sejak tadi, dibuat kesal oleh ucapan Feli. Masa bodoh dengan seragam, tiba-tiba saja Alex menarik lengan Feli dan menyentaknya ke sisi mobil, sehingga punggung Feli membentur kaca mobil dan Alex mengurungnya dengan kedua tangan yang ia posisikan disamping kedua bahu Feli. Dua bodyguard Feli nampak siaga melihat aksi mendadak Alex, namun Feli mengisyarat pada mereka untuk pergi. Setelah kedua bodyguard itu pergi, Feli pun membalas tatapan Alex yang tajam.


"Kenapa Fel? Apa sih yang kamu pikirin, bisa-bisanya kamu ngambil keputusan begitu tanpa ngomong ke aku dulu." Alex bicara dengan nada yang tenang tapi sorot matanya penuh intimidasi.


"Aku mempermudah jalan kamu, buat bisa bersatu sama Kayla. Itu impian kamu kan?"


"Sok tau. Emangnya pernah kamu nanya aku maunya apa?"


"Aku tau. Kamu cuman mencintai Kayla, dan dia yang kamu mau. Alasan itu cukup kan buat jadi jawaban kenapa aku ngambil keputusan itu."


"Jangan sok tau kamu, Fel! Aku kira kamu ngerti usaha aku selama ini buat nerima hubungan kita, aku kira kamu ngerti kenapa aku mau berusaha ngelupain dia. Tapi apa yang kamu lakuin ini..?" Alex mulai kesal.


"Aku tau Al, karena itu aku lakuin ini. Kamu nggak perlu lagi berusaha dan nyakitin diri kamu sendiri, karena aku.. udah mundur dari hubungan kita. Aku terima tawaran kamu dulu, aku yang mundur."


"Tawaran itu udah nggak berlaku. Enggak ada dari kita yang akan mundur, hubungan kita udah sejauh ini dan aku nggak akan biarin kamu ngelepasin gitu aja." kata Alex bernada ancaman.


Feli terkekeh heran. "Ada apa sama kamu Al?"


"Kamu yang kenapa? Disaat aku udah berhasil sama usaha aku, malah kamu yang nyerah. Malah kamu yang nyakitin diri kamu sendiri. Demi apa? Biar aku berhenti nyakitin diriku sendiri, tapi aku biarin kamu yang sakit? Kamu kira aku sekejam itu?!" Alex mulai marah.


"Apa maksud kamu.. berhasil sama usaha kamu? Aku nggak ngerti"


"Gimana kamu bisa ngerti, kalo kamu nggak mau ngasih diri kamu kesempatan lagi buat ngerti? Kamu nggak ngasih aku kesempatan buat ngomong sekaliii aja sama kamu. Dari kemarin-kemarin kamu tuh selalu ngehindarin aku, dan semalam pun kamu nggak biarin aku ngomong sedikitpun."


"Kok kamu marah sih? Aku bermaksud menyatukan kamu sama orang yang kamu cintai loh Al, aku ngalah buat kebaikan kita jua. Buat kebahagiaan kamu dan ketenangan aku."


"Aku nggak minta kamu ngelakuin hal gila itu! Aku nggak mau kamu ngalah dengan alasan kebahagiaanku, Fel!" teriak Alex didepan wajah Feli, ia benar-benar kesal.


Feli terkesima, bingung, dan terdiam cengo. Alex mengguyur rambutnya seraya mendengus kasar, lalu ia memegang kedua bahu Feli. "Fel, asal kamu tau, waktu aku mutusin buat nerima perjodohan kita.. aku udah nerima kamu sebagai calon masa depanku, walaupun hatiku berat dan nggak siap. Aku janji sama diriku sendiri buat nggak nyakitin kamu, meskipun aku berkali-kali gagal. Aku belajar banyak hal buat persiapin diriku demi kamu, demi bisa jadi suami yang bertanggung jawab nantinya. Aku serius Fel.."


Degg


Degg


Tanpa sadar, cairan bening yang sudah menumpuk embun di pelupuk mata Feli kini terjun bebas menjalar di pipinya begitu saja. Apa yang keluar dari mulut Alex ini.. terasa begitu lembut menyentuh hati Feli, ia terpaku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2