
Tiga minggu berlalu, belum juga ada kemajuan dari kondisi Kayla. Dia masih koma, dan keluarganya masih menunggu dengan penuh harap akan kabar baik kesembuhannya.
Hari ini Nia, Adit, Annisa, dan beberapa teman Kayla di SMAN Putra Bangsa datang menjenguknya. Sebagai teman tentu mereka sedih melihat kondisi Kayla, terlebih lagi Kayla telah koma selama lebih tiga minggu. Rasa rindu akan senyum dan bercandaan Kayla pun meliputi perasaan mereka, terutama Nia yang notabenenya paling dekat dengan Kayla.
Nia bersama Adit duduk di kursi samping kanan dan kiri ranjang Kayla masing-masing. Sementara yang lain menunggu di luar. Karena ketentuan rumah sakit tidak mengizinkan semuanya masuk bersamaan ke ruangan, maka mereka menjenguk Kayla bergantian.
"Kay, aku kangen banget sama kamu.." lirih Nia terisak kecil, ia berusaha tidak menangis tapi sungguh hatinya sedih sekali melihat Kayla.
"Kay, cepat bangun ya! Satu minggu lagi acara kelulusan loh, waktu itu kan kamu bilang.. kalo kamu udah nggak sabar mau ngerayain kelulusan bareng kita. Iya kan?" ujar Adit agak termenung.
"Iya Kay, pokoknya kamu harus bangun ya sebelum acara kelulusan. Kamu nggak akan ngelewatin perayaan kelulusan bareng kita kan?!" imbuh Nia agak menuntut.
"Kay, apa yang kamu tunggu?" tanya Adit memandang Kayla lekat. "Aku dengar.. orang koma itu bakal cepat bangun dengan hadirnya orang yang dia inginkan disisinya. Orang koma itu bakal cepat sembuh dengan sentuhan dan interaksi dari orang yang deket sama dia. Jadi, siapa yang kamu mau?"
"Apa Alex?" Nia menyambung.
Tidak ada respon sedikitpun dari Kayla.
"Alex udah jenguk kamu berkali-kali kan Kay, tapi kamu juga nggak ngasih respon ke dia. Bukannya.. hati kalian itu terikat ya, tapi kenapa kamu nggak mau buka mata waktu dia samperin?" kata Adit lagi.
"Kamu mau aku yang disini? Aku disini Kay, tunggu apa lagi.. ayo bangun..." rengek Nia.
"Kay, kasih kita clue buat memahami apa yang kamu mau, dan apa yang harus kita lakuin buat kamu."
Hening.
Nia dan Adit menghembuskan nafas panjang, ingin sekali mereka melakukan sesuatu untuk membantu kepulihan Kayla. Tapi sayangnya tidak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa'. Ini keempat kalinya Nia dan Adit datang menjenguk Kayla, mengajaknya berinteraksi, namun tidak sedikitpun ada respon dari Kayla. Pasrah dan bersabar adalah pilihan terakhir mereka, berdoa dan berharap akan ada kabar baik sebentar lagi dari Allah Sang Penentu keadaan.
... ___________________...
Dinginnya lantai semen yang menjadi tempat berteduh Arman beberapa bulan terakhir, tidak pernah membuat tidurnya terganggu sebanyak malam ini. Selama di penjara memang Arman tidak pernah benar-benar merasa tenang, tapi jika ia sudah tertidur maka kenyamanan akan dirasakannya secara tersendiri begitu saja. Agak berbeda memang sejak ia pulang dari rumah sakit dan meninggalkan putrinya dalam keadaan koma, tapi hari-hari dan malam-malam panjangnya di tempat penghukuman ini tidak membuatnya gelisah sejauh malam ini. Malam ini sangat berbeda, tapi alasannya bukan karena ia terbangun tengah malam. Terbangun tengah malam bukan hal baru bagi Arman, namun kali ini.. ia terbangun karena beberapa menit yang lalu ia bertemu dengan Kayla di dalam mimpinya.
Semakin hari Arman memang semakin merindukan putrinya itu, pertanyaan yang sama selalu muncul dibenaknya mengenai keadaan putrinya saat ini. Dan malam ini, untuk pertama kalinya Kayla datang ke dalam mimpi papinya, sehingga membuat sang papi gelisah dan terus memikirkannya.
Didalam mimpi, Arman duduk sendirian di tempat yang asing. Kemudian terdengar dari arah belakang seseorang menyeru dan memanggilnya sambil berlari, menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.
"Papi...!"
"Lily kangeeeen banget sama Papi." ucap Kayla dalam sembari memeluk papinya dan menjatuhkan kepalanya dipundak sang papi.
Arman tersenyum bahagia, hatinya menghangat mendapat pelukan dan ungkapan kerinduan dari putri kecilnya. Arman menoleh sedikit agar bisa melihat wajah meneduhkan yang kini bersandar dipundaknya. Kayla pun menengok ke wajah sang papi, keduanya tersenyum sambil saling menatap penuh kasih.
"Papi juga kangen sama kamu, nak." Arman menarik Kayla agar duduk disampingnya. Agar ia lebih leluasa memandangi putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa.
Arman mendekat dan membawa Kayla ke dalam dekapannya, menciumi kepala anak gadisnya itu beberapa kali.
"Kalo papi kangen sama Lily, kenapa papi nggak dateng?" tanya Kayla lirih.
"Papi nggak dateng?" bingung Arman.
Arman menunduk, mengintip wajah Kayla yang terbenam didadanya. Gadis itu tidak mengangkat kepala tapi malah mengeratkan pelukannya, sehingga Arman tidak bisa melihat wajahnya.
"Lily nungguin papi, Lily kangen sama papi, tapi papi nggak nengokin Lily..." rengek Kayla manja, suaranya lirih seolah menjabarkan aura kesedihan yang dirasakannya.
__ADS_1
"Lily.." panggil Arman seraya mencoba melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Kayla, tapi Kayla enggan melepaskan diri darinya dan tetap menempel pada sang papi.
"Hei anak papi sayang.. kenapa? Ngambek ya?" goda Arman.
"Lily kan pengen banget ketemu papi, tapi papi malah biarin Lily nunggu lamaaa banget. huhh"
Keluhan manja Kayla yang mulanya terdengar menggelitik bagi Arman membuatnya terkekeh hingga mengusap punggung Kayla sambil memejamkan mata, namun beberapa detik kemudian baru Arman menyadari maksud dari keinginan putrinya itu. Arman membuka matanya dan lantas menunduk, namun betapa terkejut dan herannya ia, Kayla sudah tidak ada dalam dekapannya. Gadis itu menghilang begitu saja dari pandangannya, entah kemana.
"Lily?! Kayla?!" Arman resah seketika dan reflek berdiri.
Dan keterkejutan itu membuat Arman terbangun dari tidurnya, dan menyadari bahwa itu adalah mimpi. Mimpi yang menyisakan kegelisahan dan kerinduan terhadap gadis kecil yang merengek didalam mimpinya itu.
Arman termenung cukup lama ditengah heningnya malam yang pekat. Matanya sudah kehilangan rasa kantuk sehingga ia tidak berminat lagi untuk melanjutkan tidurnya, bahkan hanya untuk membaringkan kembali tubuhnya pun tidak.
"Kayla.. kamu kangen sama papi, sayang?" gumamnya lirih.
...___________________...
Pagi ini setelah menyelesaikan sarapannya yang agak terburu-buru, Alex langsung meluncur menuju rumah sakit dimana Kayla dirawat. Ia ingin segera menemui Tante Nadia dan mengatakan sesuatu yang sejak semalam ingin ia sampaikan. Karena menurut Alex tidak etis jika hanya menyampaikan lewat telpon, maka ia menyambangi Tante Nadia secara langsung. Tanpa bertanya keberadaan wanita 37 tahun itu, Alex tahu jika Tante Nadia pasti berada di rumah sakit. Tidak ada tempat yang lebih memungkinkan untuk ibu dari gadis yang memenuhi pikiran Alex itu, selain disisi putrinya. Dan benar saja, ketika Alex sampai ditempat tujuannya, Tante Nadia baru saja keluar dari ruang ICU tempat Kayla dirawat.
"Assalamu'alaikum Tante." ucap Alex kemudian mencium tangan Tante Nadia hormat.
"Wa'alaikum salam." jawab Nadia agak bingung melihat Alex.
"Ada yang mau saya sampein ke Tante."
"Apa?" tanya Tante Nadia.
Alex nampak mengatur nafasnya yang terdengar sedikit ngos-ngosan. Ia tersenyum tipis seraya menghela nafas panjang. Kemudian Tante Nadia mengajaknya duduk di kursi stainless yang ada didepan ruangan itu.
Nadia mengernyit, tidak menjawab Alex melainkan menatap anak itu, meminta penjelasan segera darinya.
"Didalam mimpi saya, Kayla bilang kalo dia kangen sama papinya. Kayla pengen ketemu sama papinya, Tante."
Nadia tidak lekas menanggapi ungkapan Alex. "Mungkin itu yang Kayla tunggu, Tante. Siapa tau kan, kalo Om Arman yang jenguk dia kesini.. dia bisa cepat bangun." lanjut Alex dengan ekspresi berbinar.
"Menurut kamu begitu?" tanya Nadia.
Alex mengangguk. "Ya, saya yakin mimpi semalam itu clue dari Kayla. Selama ini kan kita udah ngelakuin berbagai usaha supaya dia bisa bangun, tapi kita belum nemuin dia sama papinya. Mungkin dia pengen papinya yang ada disini, Tante."
"Papinya? Orang yang kamu bilang.. terakhir menemui dia sebelum saya datang itu?"
Nadia dan Alex mendongak mendengar sebuah pertanyaan dari seorang pria yang berdiri didepan mereka. Dari ekspresi wajah pria itu, ia nampaknya tertarik dengan obrolan Nadia dan Alex. Ia lantas duduk disamping Nadia sebelum kedua orang itu sempat mengatakan sesuatu.
"Dokter David?"
Pria bersnelli dokter itu menipiskan bibirnya sembari melirik Nadia dan Alex bergantian. Dokter David adalah Dokter spesialis neurologi yang didatangkan khusus dari Singapura oleh papa Alex, untuk merawat Kayla. Ketika mendengar Alex mengatakan kalau mungkin Kayla menginginkan papinya berada disini, Dokter David tidak bisa mengabaikan itu. Ia ingat betul ketika pertama kali ia memeriksa Kayla, ia menemukan pertanda baik dari tubuh pasien koma itu. Ia menyimpulkan bahwa belum lama telah terjadi interaksi yang menimbulkan respon kecil dari tubuh pasien, tapi sayangnya tidak ada satu orang pun dari keluarga pasien yang sependapat dengannya. Mereka bilang tubuh Kayla sama sekali tidak memberi reaksi apapun saat mereka berinteraksi dengannya. Ketika Dokter David bertanya siapa orang terakhir yang menemui Kayla, maka mereka menjawab.. Papinya.
Sebenarnya hari itu juga, Dokter David meminta keluarga Kayla menghubungi Arman. Menanyakan dan memastikan apakah asumsinya benar atau tidak, sayangnya jawaban Arman sama dengan keluarga Kayla yang lainnya. Meski begitu, Dokter David tetap yakin akan asumsinya, bahwa hari itu tubuh Kayla memang memberikan reaksi kecil yang mungkin tidak disadari oleh siapapun. Dan kemungkinan terbaik yang bisa Dokter David simpulkan adalah.. reaksi kecil itu terjadi karena interaksi Kayla dengan Arman.
Karena itulah Dokter David tidak bisa mengabaikan apa yang didengarnya barusan, meskipun yang diungkapkan Alex hanyalah persepsi anak itu sendiri dari sebuah mimpi yang dia alami.
"Iya Dok, orang terakhir yang menemui Kayla sebelum Dokter waktu itu emang papinya. Ada apa Dok?" ujar Nadia tak mengerti.
__ADS_1
Dokter David beralih melihat Alex. "Apa.. ada hubungannya sama mimpi saya yang baru saya ceritain?" tebak Alex.
"Bisa jadi."
"Hah?" Nadia dan Alex sama-sama cengo tak mengerti maksud Dokter David.
Dokter David terkekeh kecil. "Mungkin agak gak masuk akal karena itu cuman mimpi. Tapi saya merasa.. dari awal memang papinya lah yang dibutuhkan Kayla."
Nadia nampak tak terima, tapi ia tak mengatakan apapun. "Maaf, bukan maksud saya mengecilkan hati siapapun yang selama ini merawat Kayla. Tapi.. saya yakin hari itu memang terjadi reaksi dari tubuh Kayla, dan itu terjadi nggak lama sebelum saya datang. Yang artinya kemungkinan besar reaksi itu terjadi setelah interaksi Kayla dengan papinya."
"Saran saya, nggak ada salahnya kita mendatangkan papinya Kayla kemari. Sebagai bentuk dari ikhtiar kita, Bu." ucap Dokter David hati-hati.
Nadia tertegun. Sejujurnya ada rasa cemburu dihati Nadia ketika Dokter mengatakan bahwa mungkin sang papi lah yang dibutuhkan Kayla padahal selama ini Nadia tidak pernah jauh dari Kayla. Namun lebih dari itu, Nadia menyesal karena tidak menyadari kalau ikatan ayah dan anak bisa sekuat itu. Nadia menyesal karena melupakan kalau Kayla juga membutuhkan kasih sayang Arman, dan hatinya pun menyetujui jika mungkin memang Arman lah yang diinginkan Kayla, Arman lah yang ditunggu oleh Kayla. Tak dipungkiri bahwa rasa lega dan sedikit ketenangan dirasakan oleh hati Nadia, setelah berbagai usaha dan ikhtiar ia lakukan agar sang putri bisa bangun dari komanya.. kini ia menemukan ikhtiar baru. Yang memberinya harapan dan kekuatan lebih besar dari sebelumnya.
"Semoga ini benar-benar kabar baik, Dok." ucap Nadia.
Dokter David mengangguk samar seraya menarik sudut bibirnya, tersenyum simpul.
.......
.......
.......
Jika menurut peraturan dan ketentuan Lapas, seharusnya tidak ada tahanan yang bisa mendapatkan izin keluar dengan mudah begitu saja. Tetapi untuk Arman, dengan koneksi dan keluasan jaringan yang dimiliki oleh Elfattar Smith William.. maka Arman diizinkan untuk menjenguk Kayla dirumah sakit. Arman diizinkan keluar penjara selama tidak kurang dari 3 jam, dan Alex sendiri yang menjemput dan menjamin pria paruh baya itu dalam tanggung jawabnya.
Bersama Alex, Arman akhirnya sampai di rumah sakit. Langkahnya agak gemetar saking rindunya ia ingin segera memeluk putrinya, raut wajahnya pun begitu terlihat kalau ia tengah terharu bahagia. Sesampainya didepan ruang ICU, Nadia, Tio, Iwan, dan Elfatt berdiri melihat kedatangannya. Dokter David keluar dari ruangan, menyempatkan bertegur sapa dengan Arman, kemudian mempersilahkan Arman masuk menemui putrinya.
Tidak bisa dijelaskan bagaimana perasaan Arman saat ini, ia bahagia bisa melihat putrinya lagi. Namun rasa sedih juga tak kalah besarnya dari bahagia itu, karena melihat keadaan Kayla yang tak lebih baik dari terakhir ia menemui putrinya kala itu. Bahkan sekarang, gadis manis yang terbaring lemah dihadapannya ini.. terlihat lebih kurus dibandingkan tiga minggu yang lalu.
Arman menggenggam tangan Kayla dan menciumnya penuh kasih. Lalu beralih ke kening mulus yang nampak sedikit berkeringat itu, Arman pun mendaratkan satu kecupan disana. Ia tatap wajah tenang yang dua mata yang tertutup rapat itu lekat-lekat, kilasan balik tentang mimpinya tadi malam pun muncul begitu saja dibenaknya. Mimpi itu terasa sangat nyata ketika Arman mencoba menerima kenyataan bahwa itu hanyalah mimpi. Tapi sekarang ini, ini memang nyata, bukan mimpi lagi. Ia sungguh bisa bertemu putrinya yang sangat ia rindukan.
"Kayla.. ini papi, sayang."
"Papi disini sayang, papi dateng buat kamu. Kamu kangen sama papi kan, hm?"
Cairan bening mulai memupuk disudut mata Arman, ia terenyuh melihat Kayla yang sudah terbaring lama dan tak membuka mata juga. Daripada ketakutan, harapan yang optimis lebih mendominasi perasaan Arman. Ia menarik sudut bibirnya samar, ingin mencoba menyemangati putrinya lagi.
"Sayang, bangun ya. Udah cukup kamu tidurannya, kasian mami kamu nak. Kamu nggak mau kan mami kamu sedih terus? Anak papi ini pinter.. pengertian.. periang.. iya kan nak. Papi kangen liat senyum kamu." ucap Arman lembut dan lirih didepan wajah Kayla.
Beberapa saat berikutnya, hanya suara detikan mesin monitor yang terdengar. Arman diam memandangi Kayla, melepas rindu yang membelenggunya, menyemai perasaan yang lega karena telah bertemu dengan putrinya. Semakin larut Arman dalam renungannya, rasa bersalah dan penyesalan yang sudah ia kubur itu kembali menguar kepermukaan. Ia kembali merutuki dirinya sebagai seorang ayah yang gagal.
"Kayla, kamu mau maafin papi kan nak? Kalo papi minta kamu bangun buat liat penyesalan dan permintaan maaf papi.. kamu mau kan sayang? Hm, bangun ya sayang..." suara Arman semakin lirih.
Sementara dari luar pintu ruangan yang menampakkan sepasang ayah dan anak yang tengah berinteraksi itu, Nadia menatap penuh perasaan. Telapak tangannya ia tempelkan pada daun pintu yang setengah bagian atasnya adalah kaca, yang membuatnya sedikit leluasa melihat pemandangan didalam sana. Pipinya sudah basah dengan air mata yang selama hampir sebulan ini sulit ia hentikan, tak berselang lama pipi itu kering kemudian kembali basah lagi, begitulah yang terjadi padanya selama Kayla sakit.
Empat orang pria yang duduk di kursi tunggu dekat Nadia, sesekali memperhatikannya. Dokter David pergi dari hadapan mereka setelah sedikit berbincang. Kini mereka; Alex, Elfatt, Tio, dan Iwan lebih sering diam dibandingkan mengucapkan kata, hanya sesekali mereka bicara, satu pertanyaan dijawab lalu kembali diam. Seolah situasi ini membuat mereka kehabisan topik untuk dibicarakan, dan akhirnya memilih diam dengan pikiran masing-masing. Yang pasti isi pikiran mereka sama, yaitu Kayla.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...