Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Air Mata Kayla


__ADS_3

Air mata Kayla lolos dari tempatnya, bertepatan dengan kata-kata menyakitkan yang baru ia dengar dari mulut papinya. Kayla pikir papi sudah melupakan rencana jahatnya yang lalu, tapi ternyata Kayla salah. Justru alasan dirinya dibawa diam-diam adalah untuk mensukseskan rencana jahat yang tertunda itu.


Kini, Kayla tengah termenung duduk di dalam mobil bersama papinya. Setelah melayangkan penolakan keras dan mendapat amarah dari papinya, Kayla memalingkan wajah dari papinya. la menatap kosong ke arah luar jendela mobil, dengan perasaan yang hancur dan pikiran yang berkecamuk. Mobil ini akan membawa Kayla ke sebuah tempat yang Kayla tidak tahu dimana, tapi yang jelas di sanalah kehancuran Kayla dipastikan oleh papinya sendiri. Sungguh bejat, seorang ayah akan menjual putrinya sendiri untuk uang dan kekuasaan yang menjijikan. Kayla masih berharap hal itu tidak akan terjadi, ia masih berharap papinya akan luluh dengan air matanya dan tidak akan menjerumuskannya ke dalam kehidupan gelap itu.


"Kita udah sampai." kata Arman datar.


Sebelum Arman turun dari mobil, Kayla menahan tangan papinya itu dan menatap memelas.


"Pi.. papi gak bakal bikin Lily menderita kan..?" tanyanya, meski ia tahu apa yang akan papinya lakukan.


Arman terkekeh, "Hidup kamu bakal berubah, kamu bakal hidup enak dan serba berkecukupan. Apa aja yang kamu mau bisa kamu dapetin, kamu bakal kaya mendadak tanpa harus kerja keras. Apa lagi yang lebih enak dari itu? Kamu cuman harus ngelakuin satu hal dan kamu bisa dapetin semua yang kamu mau"


Kayla mencelos. Kehidupan enak macam apa yang disebut papinya barusan, Kayla muak mendengar itu. Kenapa pola pikir papinya jadi dungu dan picik begini? Bagaimana mungkin papi tega memasukkan anaknya sendiri ke jurang kegelapan!


"Papi udah gak sayang sama Lily? Pi, Lily gak mau hidup kayak gitu, papi bakal ngehancurin hidup Lily kalo papi bener-bener nyerahin Lily ke orang itu!" Kayla kesal.


"Diam kamu! Ayo!"


Arman menarik paksa Kayla keluar dari mobil dan menyeretnya masuk ke tempat menjijikan itu, tanpa memperdulikan raungan tangis Kayla dan permohonannya yang terdengar seperti makian. Meski Kayla terus meronta minta dilepaskan, tetap saja Arman ngotot memaksanya ikut. Sepertinya hati papi sudah membatu.


Arman berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup. la memperingatkan Kayla dengan keras agar Kayla diam dan menghentikan tangisannya. Tentu saja Kayla enggan menurut, ia tidak tahan dengan situasi yang semakin berbahaya ini. Hanya satu yang saat ini terpikir di otak Kayla, ia harus pergi dari tempat ini secepatnya.


Plakk!!


"Diam!! Kamu mau papi lebih kasar?!" bentak Arman setelah menampar pipi Kayla, membuat hati Kayla semakin hancur.


Sesaat kemudian, pintu didepan mereka terbuka. Pria sangar yang tadi sore datang menemui mereka berdiri diambang pintu, dengan seringaian puasnya.


"Bagus..! Bagus!" komentarnya, membuat Arman lega.


"Della!" Pria itu memanggil seseorang.


"Yes, King." Seorang wanita dewasa berpakaian minim dan bermake up menor datang memenuhi panggilan.


"Ini anaknya. Kamu siapin dia. Dua jam lagi klien kita datang" ucap pria sangar itu, membuat Kayla semakin takut dan kacau.


"Siap King!" jawab wanita itu patuh.


Arman melepaskan tangan Kayla dan menyerahkannya pada wanita bernama Della itu. Kayla kembali meraung tangis dan memelas pada papinya.


"Pi.. hiks, tolong pi.. Lily gak mau..! Hiks..papi.. pliss... Lily anak papi..!" rengek Kayla sembari tangannya ditarik oleh wanita bernama Della itu.


Arman melotot. "Harus berapa kali papi jelasin sama kamu?! Kamu cuman harus nurut, papi gak minta yang lain! Nurut Kayla!"


"Hhuaaaaa... papi jahat.. Papi tega sama Lily.. papi jahaaatt..!" maki Kayla dengan perasaan hancur, ia terus meronta dalam pegangan Della.


Melihat Della kewalahan menyeret Kayla, King menyuruh anak buahnya yang lain membantu Della. Sehingga Kayla tidak bisa berbuat apa-apa selain terpaksa ikut masuk ke sebuah kamar. Di dalam kamar itu, Della mengajak Kayla bicara dengan tenang dan ramah, membuat tangisan Kayla berangsur reda namun tidak dengan perasaannya yang kacau. Saat ini Kayla hanya berdua dengan Della di kamar itu, Della sibuk mendandani Kayla dan memilihkan pakaian yang cocok untuk Kayla pakai.


Melihat perlakuan Della yang ramah dan lembut, Kayla mencoba memberanikan diri untuk membagi perasaannya dan mengutarakan keinginannya untuk kabur. Della menunjukkan selembar pakaian minim yang menurutnya sangat cocok di tubuh Kayla.


"Nah, ini perfect deh buat kamu. Bagus kan?" tanyanya meminta pendapat Kayla.


Kayla meringis geli, pakaian itu terlalu terbuka dan Kayla tanpa ragu mengomentarinya. Kayla pikir Della akan marah, mengingat tatapan tajamnya saat pertama kali melihat Kayla tadi. Tapi tidak, Della tidak marah, ia mencarikan pakaian lain untuk Kayla.


"Mbak?" Kayla mulai berujar.


"Hm?" Della sibuk menjelajahi isi lemari yang penuh dengan baju-baju seksi.


"Mbak udah lama disini?"


"Ya.. gue udah sepuluh tahun sama King, bisa dibilang gue senior disini."


"Gimana waktu pertama kali Mbak berada disini?"


Della tertawa kecil, "Setiap anak baru pasti nanya gitu ke gue. Pertanyaan bagus! Artinya elu mulai nerima tempat ini buat lu." jawabnya tanpa menoleh.


Tidak! Tidak sama sekali. Kayla menggeleng tanpa suara. Kayla tidak sudi berada ditempat seperti ini, ia ingin sekali keluar dari sini.


"Apa Mbak disini atas kemauan Mbak sendiri?"


"Awalnya enggak sih, tapi gue udah terlanjur masuk, yah..udah jalanin aja. Ntar kalo elu udah kerasan juga lu tau"


Kayla memasang wajah kecut. "Mbak nggak nyesel?"

__ADS_1


"Heheh.. apa yang perlu disesalin. Disini enak, gue bebas nge'ekspresiin diri gue. Gue punya duit sendiri, gak perlu capek-capek ngurus rumah tangga kayak dulu."


"Aku gak mau disini Mbak. Aku mau bebas diluar, aku gak mau hidup kayak gitu, aku mau sekolah dan ngejar impianku sendiri"


Della menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik menghadap Kayla. "Eh, elu tuh harusnya bersyukur. Elu beruntung masih suci, harga lu bisa tinggi banget, bahkan kalo elu mau bebas diluar dan ngejar impian lu.. elu bisa dapetin itu semua. Orang yang bakal ngebeli elu itu cowok tajir melintir, dia bakal bawa lu keluar dari sini. Elu bakal tinggal sama dia, elu bisa dapetin apa aja yang elu mau. Jarang ada anak-anak disini yang seberuntung itu." nada bicaranya mulai tinggi.


Kayla ngeri mendengarnya. "B-..beli? Jadi aku beneran bakal dijual??" tanyanya lirih dengan hati yang teriris.


"lya lah! Elu dijual, bukan bukan disewa. Kalo gue boleh bilang.. gue iri sama lu. Yah.. walaupun kita disini enak dan bebas, kita juga pengen lah punya langganan tetap yang bisa ngejamin duit buat kita. Tapi cewek sewaan yang tiap hari gonta-ganti klien kayak kita disini.. gak bisa dapetin itu."


"Maksud Mbak bebas disini itu gimana?"


Entah kenapa Kayla penasaran dengan itu.


"Kita bisa have fun keluar semau kita kalo siang. Jalan-jalan, makan di resto, pergi kemana aja bebas kayak burung terbang. Dengan syarat, kalo sore udah wajib pulang lagi kesini."


"Beda lagi kalo elu tinggal dirumah cowok tajir yang punya lu. Elu bebas tanpa syarat. Yah.. itu sih kalo yang beli lu itu orang yang bisa diajak kompromi. Kalo nggak ya elu bakal dikurung kayak piaraan. Makanya elu layanin dia sebaik-baiknya, biar elu diperlakuin kayak manusia, bukan barang"


"Apa bedanya sama barang kalo dijual beliin gitu?" sewot Kayla.


Della terkekeh, "Elu gak ngerti. Nih pake, ini udah baju yang paling bagus buat lu!" Della melempar selembar baju ke arah Kayla.


Kayla memajang baju itu di depan wajahnya, dan ia langsung merasa jijik. Baju ketat yang sangat minim, Kayla tidak bisa memakainya. Tiba-tiba terdengar keributan dari luar, membuat Della segera mengeceknya.


"Ada apa?" tanya Della pada salah satu pria yang bertugas jaga disana.


"Ada yang kabur. Anak baru yang kemarin nipu itu.


"Heh sialan! Udah nipu, berani kabur lagi, cari mati aja. Udah sih ngapain diurusin, ngerepotin aja." sahut Della kesal.


"Tapi cewek sampah itu bisa ngebahayain kalo dia berani lapor polisi. Ntar kalo ketemu udah pasti abis dia ditangan King."


"Oh bagus." komentar Della acuh, ia lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.


"Kabur?" batin Kayla. Ia mendapatkan ide untuk bisa keluar dari tempat ini, untuk itu ia harus memastikan rencananya dulu.


"Elu denger, anak yang kabur bakal dihabisin sama King. Karena udah pasti gak bakal ada yang bisa lolos dari King. Jadi jangan berani elu mikir buat kabur."


"Ya. Dia bilang dia masih suci, pas udah dibeli besoknya malah dibalikin sama klein. Tenyata dia udah gak suci, dikira kita yang nipu klien, jadinya kita rugi besar. Sialan emang"


"Kasus kayak gini sebenarnya udah pernah terjadi, tapi yang pertama itu anak yang nipu cuman dilepasin dan dibuang gitu aja. Sayang banget sih padahal masih bening"


Ya, itu dia. Kayla mendapat titik terang dari masalah besarnya ini. Tidak peduli resikonya sebesar apa, Kayla tidak akan membiarkan dirinya sampai disentuh oleh pria manapun. Kayla tersenyum lega dalam hati.


"Kenapa elu diam?" tatap Della curiga, membuat Kayla terkesiap.


"Enggak papa Mbak, aku ngeri aja bayanginnya"


"Bagus."


"Udah buruan elu ganti baju! Gue juga sibuk ya, gak cuman ngurusin elu doang."


Della lalu keluar meninggalkan Kayla sendirian, tak lupa ia mengunci pintu. Kayla lega, ia mulai mencari celah agar bisa kabur dari sini. Kayla mengecek jendela kamar itu, namun terkunci. Kemudian ia beralih ke celah lain yang memungkinkannya bisa mengeluarkan dirinya dari tempat ini. Namun nihil.


Ceklekk


Kayla terperanjat kaget saat pintu kamar terbuka. Arman menyembul masuk, Kayla segera menghampirinya dan memohon sekali lagi. Kayla meraung tangis pilu, merengek dengan hati yang hancur, namun tetap tidak digubris oleh Arman. Tatapan papinya itu dingin bahkan terkesan sangar, tapi Kayla tidak berminat untuk menyerah. Tak lama kemudian King masuk, dia marah karena Kayla belum siap juga. Kedua pria tak punya hati ini berdebat masalah perjanjian dan uang, Kayla sungguh muak mendengarnya.


"Klien bakal dateng lebih awal, karena gue berhasil naikin harga cewek suci ini. Dan bagian elu gue naikin lima kali lipat. Jadi buruan siapin dia! Della mana nih, gak becus amat." kata King pada Arman.


"Oke Bos, beres. Gue sendiri yang urus." sahut Arman semangat, setelah mendengar bagiannya akan dinaikkan lima kali lipat.


Entah berapa nominal yang mereka bicarakan, Kayla tidak mau tau. Yang Kayla pikirkan adalah bagaimana ia bisa segera keluar dari sini. Dan ini kesempatannya untuk mencoba rencana yang beberapa menit lalu terlintas dibenaknya. Setelah berhasil menahan dan menghentikan air matanya, Kayla berkata..


"Papi salah."


Arman dan King lantas menatap memicing ke arah Kayla yang menunjukkan keberaniannya. Kayla menelan salivanya berat, lalu mengumpulkan nyali lebih besar lagi.


"Lily udah gak suci, pi. Kalian gak bisa jual aku."


Duaaarrrr......


Kedua pria paruh baya itu terbelalak dengan tatapan yang berapi-api. Kayla menatap tegas ke arah mereka, dengan kedua tangan yang terkepal menahan rasa gentar dihatinya. Arman sontak memaki dan menampar Kayla setelah mendengar pernyataan Kayla barusan.

__ADS_1


"kamu bohong kan! Papi tau kamu, jangan coba-coba permainin papi!"


"Lily gak bohong, pi. Papi gak kenal Lily, Lily udah bukan anak papi yang polos kayak dulu lagi. Aku gak lemah, dan aku gak bakal pernah nurut sama kalian!" ucap Kayla dengan nada yang tak kalah tinggi, namun hatinya begitu sakit mengatakan itu.


Arman kembali menampar Kayla, hingga Kayla jatuh terduduk. Air mata yang berusaha Kayla tahan akhirnya lolos juga. Pengakuan yang ia buat itu sangat menyakitkan bagi dirinya sendiri, dadanya terasa sangat sesak harus berbicara dengan nada setinggi itu pada papinya sendiri. Arman terus memakinya dan ia terus menangis tanpa henti. King pun memarahi Arman dan menyalahkannya, disaat situasi terdesak begini, malah kekacauan terjadi. Klien yang akan membeli Kayla sudah dalam perjalanan, tapi ternyata Kayla malah mengaku dirinya sudah tidak suci, entah bagaimana reaksi klein nanti. King frustasi, begitu juga Arman.


"Enggak Bos, dia pasti bohong. Kayla ini anak baik-baik, gak mungkin dia begitu. Dia pasti cuman mau ngecoh kita biar kita batal ngejual dia." Arman mencoba mencari solusi.


"Kalo gitu periksa dia! Pastiin kalo anak sialan elu ini emang masih suci!"


Arman terdiam, ia melirik Kayla yang masih menatap memelas padanya. Lalu Arman mengangguk, dan King keluar dari kamar itu dengan amarah yang besar. Arman berjongkok di depan Kayla dan mencengkeram rahang Kayla geram.


"Kamu berani bohongin papi?!" tanyanya dengan gigi yang menggemelatuk.


Kayla menggeleng-geleng lemah, membuat Arman semakin menatapnya tajam penuh amarah.


"Kurang ajar!! Sama siapa kamu ngelakuinnya, heh?!" bentak Arman. "Kamu nyerahin diri sama baj***n mana?! Papi nawarin kamu uang banyak, hidup enak, tapi kamu malah ngasih kep*****nan kamu cuma-cuma?! Dapet apa kamu, apa jangan-jangan kamu jual diri juga?"


"Papi..!!" jerit Kayla muak, ia menyingkirkan tangan Arman dari wajahnya dengan kasar.


"Kenapa papi jahat sama Lily? Papi tega nyerahin Lily sama orang asing demi uang? Papi mau jual Lily? Lily anak papi kan?" dengan terbata-bata Kayla bicara, meski sangat menyakitkan.


"Gak penting! Sekarang bilang sama papi, jujur, kamu cuman bohong kan tadi, kamu masih suci kan?!" bentaknya lagi.


"Apa peduli papi? Lily lebih baik mati daripada harus dijual sama papi. Lily udah gak berharga kan pi sekarang, gak ada yang bisa Lily banggain karena Lily udah gak suci lagi. Kalo gitu kenapa papi nggak bunuh Lily aja sekarang pi?"


Plakk!


Satu tamparan kembali mendarat di pipi Kayla. "Kalo kamu pikir dengan pengakuan kamu itu papi bakal ngurungin niat papi, kamu salah! Hapus air mata kamu, klien sebentar lagi datang."


Kayla tercekat dan mematung seketika. Arman berdiri, membuat Kayla mendongak menatap wajah papinya.


"Kamu tau, kamu gak bakal bisa nolak papi. Malam ini kamu harus jalanin kehidupan baru kamu. Kalo kamu berani nyoba nolak atau kabur. kamu gak bakal bisa liat mami kamu lagi!" ancam Arman sarkas.


Kayla membulatkan matanya dengan jantung yang berdegup bagai sambaran petir. "Mami..?" lirihnya.


"Liat ini!" Arman menunjukkan ponselnya ke depan wajah Kayla.


Arman menunjukkan sebuah video. Bukan, itu bukan hanya video, tapi sambungan video call yang masih berlangsung. Di layar ponsel papinya itu Kayla melihat sang mami terduduk lemas di lantai, dengan kedua tangan terbentang dan terikat pada rantai di kedua sisinya. Kayla merasa dunianya runtuh. la tidak bisa mempercayai apa yang ada didepan matanya.


"Mami..!" jerit Kayla, membuat perempuan yang terduduk lemas di seberang sana mengangkat kepalanya mendengar suara sang putri.


Namun Arman segera menjauhkan ponsel dari Kayla, padahal Kayla dapat mendengar suara teriakan mami memanggil namanya diseberang sana. Tapi Arman malah mematikan ponselnya.


"Papi... mami kenapa..? Papi yang bikin mami kayak gitu... papi tega?!" raung tangis Kayla semakin menjadi.


Arman tersenyum smirk. "Dia satu-satunya penghalang papi, jadi papi harus beresin dia."


"Papi..!" jerit Kayla pilu.


Kayla tidak menyangka papinya akan tega menyandera mami seperti itu, apa hati papi sudah benar-benar batu sampai tega menyakiti perempuan yang pernah menjadi pelengkap hidupnya dulu. Kayla tahu seperti apa harmonis dan romantisnya hubungan papi dan maminya dulu, tidak pernah terbayang hal setragis ini akan terjadi. Kayla hancur.


"Apa yang papi lakuin ke mami..? Apa salah mami, pi.. lepasin mami..!"


"Papi pasti lepasin dia, asal kamu nurut sama papi. Tapi kalo kamu berani kabur atau nolak, papi gak segan-segan habisin mami kamu!" ancam Arman.


"Enggak. Papi gak bakal tega nyakitin mami kan, papi cuman ngancem Lily aja. lya kan pi?! Papi masih sayang kan sama mami?"


Arman tertawa, lalu kembali berjongkok dan menatap remeh Kayla. "Kamu pikir papi bego? Semua itu gak penting buat papi. Apapun yang ngehalangin papi buat dapetin yang papi mau, papi gak segan-segan nyingkirin itu! Termasuk mami kamu, ataupun kamu sendiri."


Tidak ada yang mampu Kayla lakukan saat ini selain menangis, hatinya hancur, hidupnya hancur dan keluarganya pun hancur. Air mata terus membanjiri wajahnya bahkan membasahi bajunya. Air mata derita Kayla yang seharusnya bisa terlihat jelas dimata sang papi, nyatanya tidak bisa meluluhkan hati papinya itu. Apa papi sudah tak punya hati?


Sakit sekali rasanya, rasa sakit itu membuat Kayla tidak berdaya sekarang. la terduduk lemas, menangis sejadi-jadinya meratapi kemalangannya sebagai seorang anak yang tersingkir dihati sang papi.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2