
Hari Minggu ini, Alex dan ketiga temannya ditemani Kayla berangkat menuju rumah kosan yang alamatnya tertulis di agenda mereka. Alamat rumah Juleha, salah satu korban pembullyan mereka. Sebelumnya Kayla mencoba menghubungi nomer hp yang tertera di buku agenda, yang ia dapatkan dari Pak Rudi beberapa hari yang lalu. Namun nomer hp itu tidak bisa dihubungi, sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Jadilah mereka langsung menyambangi rumah kosan Juleha.
Sesampai mereka di sana dan mengetuk pintu beberapa kali, seorang wanita paruh baya datang menghampiri mereka dari arah belakang.
"Teman-temannya Juleha, ya?" tanya wanita itu.
"lya, Bu. Juleha nya ada gak ya?" jawab Kayla.
"Kalian belum tau ya, Juleha udah lama gak tinggal disini lagi"
Mereka pun saling melirik bingung, "Udah lama pindah, Bu?" tanya Kayla lagi.
"Dia pulang kampung, kalo gak salah.. 8 bulan lalu apa 9 bulan ya, ah ibu lupa neng, udah lama soalnya."
"Pulang kampung, Bu?" ulang Alex.
"lya"
"Gimana nih, bro?" tanya Sandi.
"Ibu.. yang punya kosan ini ya?" tanya Vicky.
"lya."
"Ibu tau kampungnya Juleha dimana?"
"Kalo gak salah nama kampungnya.. Cidahu" ujar Si ibu kos sambil mengingat-ingat.
"Cidahu, dimana ya Bu?" tanya Alex.
"Sukabumi"
"Wah jauh ya.." gumam Bima.
"Jadi gimana nih Al, Kay?" tanya Sandi.
"Bu, makasih ya udah ngasih tau." ucap Kayla pada si ibu kos.
"lya. Ibu duluan ya!" ujar si ibu sebelum berlalu.
"Kalo gitu kita ke agenda berikutnya aja dulu! Juleha belakangan deh, kan jauh alamatnya" kata Alex.
"Seriusan Al, apa mending lupain aja? Gue.. rada gimana ya, kita minta maaf gitu ngehadap orang tuanya langsung. Kayak ke Vivi tempo hari." ujar Bima sambil menggaruk tengkuknya.
"Bener juga. Berasa jadi tersangka gimana gitu, ilang martabat gue.." timpal Sandi. Vicky mengernyit berpikir.
"Mau gimana pun kita kan bersalah, orang tuanya Vivi ngeliat kita kayak gitu ya wajarlah. Itu resiko kita." jawab Alex.
Bima, Sandi, dan Vicky menatap Alex seksama. Mereka cukup heran melihat ekspresi santai Alex, entah kemana gengsi tingginya dan sikap angkuhnya yang dulu? Ia sama sekali tak terlihat risih ataupun malu. Benar-benar banyak berubah, mereka salut. Kayla ternyata membawa pengaruh besar ini pada diri Alex. Bima, Sandi, dan Vicky jadi merasa malu dan bersalah karena telah salah menilai Kayla. Mereka juga sudah sadar jika selama berbulan-bulan ini mereka telah menyia-nyiakan waktu mereka dengan memusuhi Alex.
Alex terkekeh geli ditatap seperti itu oleh ketiga temannya. "Ada apa, bro?"
Mereka bertiga saling melirik lalu tertawa cengengesan. "Gak ada apa-apa!" sahut Vicky.
"Kita.. tetap bakal ke kampungnya Juleha kan, Al?" tanya Kayla.
"lya, tapi nanti. Kita cari waktu yang lebih kosong, lagian itu perkampungan kan, pasti agak ribet kalo kita mau kesana." sahut Alex.
Akhirnya mereka mengurungkan dahulu niat menemui Juleha, dan mereka menuju agenda berikutnya. Meminta maaf pada Hanum, yang tempat tinggalnya masih di Jakarta.
... ________________...
Dalam perjalanan ke rumah Hanum, Kayla bertanya tentang bagaimana kasus yang dialami Hanum sehingga dia memutuskan untuk pindah sekolah. Bima, Sandi, dan Vicky menceritakannya pada Kayla, sedangkan Alex fokus menyetir.
Kasus yang dialami Hanum sama dengan yang pernah Kayla alami. Yaitu ketika Kayla dibully oleh Jessica, Luna, dan Erin. Kala itu, Kayla diikat di sebuah kursi oleh mereka, dan mereka memoles wajah Kayla menjadi seperti badut. Rambut Kayla mereka acak-acak sehingga terlihat lucu sekaligus menjijikan. Mereka kemudian membawa Kayla ke lapangan dan mengikatnya disebuah tiang pembatas gawang bola. Tidak sampai disitu, mereka juga memotong-motong rok Kayla sehingga menjadi compang-camping dan berumbai, membuat paha Kayla terbuka sebagian. Sungguh insiden itu sangat memalukan bagi Kayla, ia ditonton dan ditertawakan oleh hampir seluruh siswa-siswi.
Bedanya dalam kasus Hanum, Jessica dan kedua temannya tidak mengikatnya di lapangan, tapi mereka mengarak Hanum berkeliling sekolah seolah sedang menawarkan barang yang dilelang. Dan itu mereka lakukan atas perintah Alex. Kayla dibuat geleng-geleng kepala mendengar cerita miris itu dari Bima, Sandi, dan Vicky.
Kayla mencebik menatap Alex, membuat Alex mematutkan wajahnya. la tak berani melirik Kayla yang sudah pasti kesal setelah mengetahui itu.
"Itu kan dulu, Miss Kissable.. aku dah tobat!" gumamnya dengan tatapan yang lurus ke depan.
Tetap fokus dalam menyetir hanyalah pengalihan bagi Alex, sebenarnya ia malu pada Kayla akan perbuatan jahatnya itu.
"Hm. Aku percaya kok" ujar Kayla sambil mengedikkan bahunya.
"Btw, kasus Hanum ini kan.. ulah Jessica, Luna, sama Erin. Harusnya mereka dong yang minta maaf, masa' kita?!" protes Sandi. Bima dan Vicky mengangguk setuju.
"Gue kan waktu itu minta kalian yang lakuin, mereka aja yang sok-sok'an ikut campur. Mereka juga bersalah sih sama Hanum, tapi kan ini intinya gue yang salah. Kalian emang gak salah soal kasus terakhir itu, tapi sebelumnya kita juga sering bully dia kan!" ujar Alex.
Lagi-lagi mereka mengangguk. "Bener!" timpal Vicky.
Sesampai mereka di rumah Hanum, hanya mamanya yang menjamu dan menghadapi mereka. Mama Hanum bilang, Hanum malu menemui mereka. Untungnya mama Hanum perempuan yang bijak, beliau berbicara dengan tenang dan memaafkan mereka dengan ikhlas.
__ADS_1
"Terima kasih, tante!" ucap Alex lega.
"Tapi.. apa kita bisa ketemu Hanum nya sebentar?" kata Kayla.
Mama Hanum tersenyum simpul, "Hanum udah nyerahin semua urusan ini ke tante, tante rasa kalian bisa ngerti. Dia malu."
Mereka mengangguk, tentu mereka mengerti. Tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikiran Kayla.
"Kalo saya? Saya sama Hanum belum pernah ketemu, tante. Kita gak saling kenal. Boleh saya ngomong sama Hanum, sebentar?" tawar Kayla lagi.
Alex menyenggolnya dan menatap tanya, tapi Kayla hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Mama Hanum sempat terdiam kemudian beringsut masuk kedalam. Selang beberapa menit, mama Hanum keluar dan memanggil Kayla.
Dan disinilah Kayla sekarang, di kamar Hanum. Duduk bersebelahan dengan Hanum di tepi kasurnya. Hanum merasa aneh dan bingung kenapa gadis ini ingin bertemu dengannya, siapa dia, dan apa keperluannya?
"Kayla." Kayla mengulurkan tangannya, memperkenalkan diri.
"Hanum." balas Hanum ramah.
"Kamu sekarang sekolah dimana?" tanya Kayla.
"Di SMA Bina Bangsa 04." Kayla mengangguk.
"Kamu.. siapanya mereka?" tanya Hanum ragu.
"Teman. Aku cuman nemenin mereka, sama mastiin juga kalo mereka beneran minta maaf."
"Hanum, aku mau tau pendapat kamu soal mereka." tutur Kayla, membuat Hanum agak tegang.
"Jangan sungkan, kita kan sama-sama perempuan. Lagian meskipun aku teman mereka, aku bukan orang yang nurut sama mereka kok. Aku nyamperin kamu juga tanpa diminta, ini inisiatif aku sendiri"
Hanum masih diam. "Kamu tau, aku pernah loh berada di posisi kamu!"
Hanum terperangah bingung, "Maksud kamu?"
"Aku juga korban bullying mereka." Sekali lagi Hanum terperangah.
Bukankah barusan gadis disampingnya ini mengaku sebagai teman mereka, tapi kemudian dia mengaku sebagai korban bullying juga?! Hanum tidak mengerti.
"lya. Aku pernah diperlakuin sama kayak kamu, bedanya.. mereka ikat aku di tiang gawang lapangan bola. Aku dijadiin tontonan sama bahan tertawaan mereka. Aku sempat drop, aku juga sempat mikir gak mau masuk sekolah. Tapi.. waktu itu aku pikir aku harus ngelawan mereka, aku gak rela ada korban lagi yang bernasib sama kayak aku. Dan sekarang.. seperti yang kamu liat!"
"Gimana mungkin? Kamu pernah dibully sama mereka, tapi sekarang kamu temenan sama mereka?" heran Hanum.
"Mereka udah berubah, Han. Sekarang udah gak ada pembullyan lagi di sekolah. Emangnya siapa yang berani ngebully kalo penguasanya aja udah tobat!"
"Respon ayah sama ibunya Kak Vivi sempet bikin mereka ciut. Ayah sama ibunya Kak Vivi nuntut mereka, mau nyerahin kasus mereka ke pengadilan, mereka bisa aja kan masuk penjara. Tapi mereka gak nyerah sampe disitu, mereka tulus minta maaf dan akhirnya tuntutan itu dibatalin."
Hanum menaikkan alisnya tak menyangka. "Mereka berubah?" gumam Hanum.
"Hm. Mereka bukan lagi P-four yang dulu, mereka adalah Alex, Bima, Sandi, sama Vicky yang baru. Mereka sekarang cowok-cowok yang baik dan Sopan, mereka gak malu ngakuin kesalahan mereka, dan kamu.. gak perlu takut."
Hanum tersenyum tipis, "Aku bersyukur kalo mereka emang udah berubah jadi lebih baik.Tapi.. gimana bisa itu terjadi?"
"Gak ada yang gak mungkin kan kalo Tuhan pengen mereka berubah?! Yang jelas, sekarang keadaan di sekolah udah lebih baik. Normal, kayak sekolah-sekolah lain pada umumnya." tutur Kayla.
Hanum tersenyum sambil melirik kelangit-langit kamarnya. la membayangkan bagaimana di sekolah lamanya saat ini. Suatu keadaan yang pernah ia impikan juga, tapi ia tak sekuat dan seberani Kayla, sehingga bisa bertahan menghadapi kenakalan empat pria penguasa sekolah itu.
"Kamu.. gak bercanda kan? Yang kamu bilang itu benar kan?"
"Apa aku keliatan bercanda?" Kayla terkekeh.
Kayla lalu meraih tangan Hanum dan menggenggamnya. "Semoga kamu bisa lupain insiden buruk itu ya! Masa lalu kamu, masa lalu aku, dan masa lalu mereka berempat, gak akan pernah ganggu masa depan kita semua."
Hanum terpaku, kemudian senyumnya mengembang. "Terima kasih, Kayla!"
Kayla kemudian menarik Hanum untuk berdiri. "Tolong jangan minta aku buat temuin mereka. Aku maafin mereka kok, tapi aku gak bisa berhadapan sama mereka" ucap Hanum agak lirih.
"Kenapa Han, kamu masih takut? Trauma?" Hanum menunduk, tidak menjawab.
"Hilangin perasaan yang ngeganjel itu, Han! Kamu gak mau kan hidup dalam rasa takut sama trauma kamu itu selamanya? Ini saatnya kamu buktiin kalo kamu gak lemah, kamu bisa bangkit, dan bisa hadapin apapun dengan kepala tegak!"
Hanum mengangkat kepalanya. Kayla tersenyum sambil mengeratkan pegangan tangannya. "Han, mereka yang ada diluar itu, mereka yang datang dengan niat minta maaf, mereka sama kayak anak-anak lainnya. Jangan liat mereka sebagai penjahat yang kamu takutin, liatlah mereka sebagai teman! Kamu bakal ngerasa tenang setelah ini. Aku tau, aku ngerti kalo trauma itu pasti ngeganggu meskipun kejadiannya udah lama. Jadi, sekarang kesempatan kamu buat ngilangin trauma itu, Iiat mereka sekali aja, liat mereka kayak kamu liat teman-teman kamu yang lain!"
Kayla mengharapkan itu. Kayla ingin agar Hanum menghilangkan trauma nya, agar Hanum merasa tenang. Hanum harus bisa melawan rasa takut yang selama ini menghantuinya, dan rasa malu yang dulu pernah ditanggungnya.
"Tapi Kay, yang ngebully aku itu Jessica, Luna, sama Erin, bukan mereka." kata Hanum.
"Jessica, Luna, sama Erin gak lebih menakutkan dari mereka berempat kan? Lagian Jessica ngelakuin itu ke kamu juga atas perintah Alex, mereka bertiga itu cuman pelurunya Alex. Gak ada apa-apanya dibanding Alex sendiri kan, jadi siapa pun yang bersalah sama kamu.. Alex, Bima, Sandi, sama Vicky udah nyadarin kesalahan mereka."
"Aku maafin mereka kok." ujar Hanum.
"lya. Tapi bakalan lebih baik kalo kata maaf itu langsung mereka dengar dari mulut kamu kan?!"
Setelah berpikir panjang, berdebat dengan hati dan logikanya, akhirnya Hanum mau menerima ajakan Kayla. Hanum pun keluar dan bertatap muka langsung dengan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky. Mama Hanum sempat khawatir melihat situasi itu, tapi setelah melihat ekspresi putrinya nampak rileks, mama Hanum pun merasa tenang.
__ADS_1
Tidak lama, hanya beberapa menit mereka bertegur sapa. Setelah meminta maaf langsung pada Hanum, dan Hanum memaafkan mereka, mereka pun beranjak pulang. Alex mengucap salam, Hanum dan mamanya menjawab. Sebelum Kayla masuk ke mobil, Hanum menghentikan Kayla.
"Senang bisa kenal sama kamu" ujar Hanum.
"Aku juga. See you!" sahut Kayla. Kemudian mobil yang membawa mereka melaju meninggalkan rumah Hanum.
Lega. Itulah yang dirasakan mereka. Baik Alex dan ketiga temannya, Kayla, tak terkecuali Hanum sendiri dan juga mamanya.
... ________________...
Alex, Bima, Sandi, dan Vicky nongkrong di taman restoran Alex. Mood mereka masing-masing tengah bagus, terutama setelah sekian lama tidak berkumpul bersama seperti ini.
"Gue lega bro, rasanya tuh enak banget ya, plong!" seru Sandi.
"He'eh, bener lu! Ternyata minta maaf sama cewek gak secemen yang gue kira." timpal Bima.
"Lebih plong juga dibandingin minta maaf ke Vivi tempo hari. Nyokap nya Hanum welcome banget sih sama kita." ujar Vicky.
Senyuman Alex tidak pernah pudar sejak tadi. la sangat bahagia bisa bersama dengan teman-temannya lagi. Mendengar obrolan dan candaan mereka lagi, terlebih sekarang obrolan mereka bukan lagi seputar siapa target kita dan apa rencana kita selanjutnya. Tidak ada lagi obrolan tentang rencana pembullyan, cerita kekesalan ataupun umpatan dendam.
"Kenapa lu Al, tadi tadi mesem-mesem mulu?" tanya Vicky.
"Gue seneng. Thanks bro, kalian udah mau nerima gue lagi."
Bima, Sandi, dan Vicky mengubah mimik wajahnya menjadi lebih serius.
"Al, kita yang harusnya makasih sama lu!Bahkan kita juga yang harusnya minta maaf." ucap Bima.
Alex mengernyit seraya terkekeh.
"Elu bener, kita gak bisa ngertiin elu. Beruntungnya.. elu masih kasih kita kesempatan, gue gak tau gimana nyeselnya kita kalo elu sampe benci sama kita." sesal Vicky.
"Ngomong apa sih kalian?!" celetuk Alex.
"Serius Al, gara-gara sakit hati.. gue sampe niat balas dendam sama elu! Tapi elu masih bisa sabar, elu masih maafin gue." Sandi tertunduk.
"Hei.. come on! Enggak banget sih awkward kayak gini, kita friend bro! Wajar kan ada cek-cok, salah paham, bahkan sampe main tangan, tapi itu gak bikin persahabatan kita hancur dong!" kata Alex.
"Lagian itu semua kan emang salah gue, gue yang mulai. Gue sadar gue salah, sumpah gue nyesel banget! Gue yang beruntung bro, karena kebaikan hati kalian gue bisa gabung lagi sama kalian."
"Elu jangan bikin kita malu Al! Elu ngomong gitu justru bikin kita ngerasa jahat!" sungut Sandi, membuat Alex terkekeh geli.
"Gue udah ngerti Al, kenapa elu lebih belain Kayla dibanding kita. Liat aja elu yang sekarang, dalam beberapa bulan aja elu bisa berubah sebanyak ini. Berkat dia, reputasi lu dimata guru-guru jadi lebih bagus. Gue bangga, sekaligus.. gue malu" ucap Vicky.
"Malu?" bingung Alex.
"Hm. Gue malu sama elu, sama Kayla juga." Vicky terkekeh miris, "Bisa-bisanya gue mikir kotor sama kalian berdua." lanjutnya.
"Tapi gue udah niat minta maaf ke Kayla juga kok." lanjut Vicky lagi.
Alex tersenyum, "Kayla ngerti kok gimana kalian, perasaan kalian, sama situasi kita waktu itu juga. Malah dia yang ngeyakinin gue, kalo kalian pasti mau maafin gue dan mau nerima gue lagi."
Bima, Sandi, dan Vicky merasa menyesal karena telah berprasangka buruk tentang Kayla.
"Kalian tau, betapa hancurnya gue setelah kita berantem di lapangan waktu itu! Gue sempet nyerah buat merjuangin persahabatan kita, gue sempet pasrah kalo gue bener-bener kehilangan kalian. Tapi Kayla nyemangatin gue lagi, dan nguatin gue." Alex mendengus senyum. "Terserah kalian mikir gue apa, tapi gue gak malu ngakuin kalo gue emang lemah, gue cemen, dan Kayla satu-satunya cewek yang buat gue kuat"
"Yaaah...emang bener sih kita mikir elu lemah, banci! Tapi kalo dipikir-pikir Kayla emang great woman yah buat lu, gak salah elu perjuangin dia." kata Bima mulai rileks.
Senyuman Alex semakin mengembang. "Elu tau Al, kita sebenarnya ngerasain sama kayak yang elu rasain, selama gak ada elu.. kita juga ngerasa gak lengkap. Tapi sakit hati kita, yang maksa kita buat ngebenci elu" ujar Sandi jujur.
"Gue ngerti. Makanya gue diemin kalian setelah berantem waktu itu. Bukan karena gue udah capek ataupun muak sama kalian, bukan juga karena gue marah kalian gangguin Kayla, tapi gue berusaha ngasih kalian waktu buat bisa ngerti dan nyadarin perasaan kalian sendiri. Karena gue yakin, kalian sayang sama gue."
Bima, Sandi, dan Vicky sontak mengubah mimik wajah mereka, seolah geli mendengar kalimat terakhir Alex.
"Sayang??" monolog mereka bersamaan.
Mereka kemudian tertawa, Alex pun ikut tertawa. Kini kebersamaan telah kembali mengisi kekosongan hidup mereka, P-four telah kembali bersatu. Mereka bukan lagi empat pangeran penguasa seperti dulu, yang angkuh dan semena-mena. Mereka sudah berubah menjadi P-four yang baru, empat pangeran penguasa yang lebih baik, bersama-sama belajar saling mengerti, belajar dewasa dan menjadi bijaksana.
Benar, persahabatan mereka tidak akan hancur hanya karena masalah perempuan.
Jika sebelumnya mereka yang selalu menciptakan masalah bersama-sama, maka kini mereka pun akan menghadapi dan mengatasi masalah bersama-sama. Tentu di masa depan, besok atau kapan pun itu, masalah bisa saja menimpa mereka, tapi mereka akan berusaha mengatasinya bersama-sama, bukan lagi menambah masalah yang memperburuk keadaan seperti yang dulu suka mereka lakukan.
Ya, mereka bertekad untuk itu. Untuk melangkah dan maju bersama-sama. Mereka seperti merasa terlahir kembali, karena P-four telah kembali. Dengan gaya, serta visi-misi yang baru, bukan kembali seperti dulu.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1