
(Flashback On)
Arman mengerjap beberapa kali sebelum membuka matanya, saat pandangannya sudah jernih ia mengedarkannya ke sekeliling. Oh, ia berada disebuah kamar rumah sakit. Ia juga mengamati seluruh tubuhnya yang ternyata sudah mendapat perawatan medis. Lengan kanan dan betis kirinya terasa kebas dan nyeri, pasti habis dijahit setelah para petugas medis mengeluarkan peluru dari sana. Ia bergerak kecil, agak terheran karena tangan kirinya seolah tertahan. Oh ternyata ia diborgol, tangan kirinya diborgol dengan sisi ranjang besi tempatnya berbaring ini sebagai penyangganya. Pihak kepolisian tentu berjaga-jaga agar dirinya yang masih berstatus sebagai tahanan itu tak kabur saat siuman dari obat biusnya. Arman mendengus kecil, padahal ia memang tak berniat kabur tapi apalah daya, siapa yang akan percaya jika ia bilang begitu.
Tak lama kemudian, seseorang mendorong gagang pintu dan masuk ke ruangannya. Arman agak heran melihat orang ini, tapi ia dapat menebak-nebak tujuan orang ini menemuinya.
"Pak William."
"Bagaimana perasaanmu?"
Arman terdiam, bingung menanggapi pertanyaan itu. Entah apa maksud dari pertanyaan pria berjas didepannya ini. Sepertinya dugaan Arman salah, pria didepannya ini tidak terlihat marah apalagi mengancam. Elfatt yang tidak mendapat jawaban lantas duduk di kursi samping ranjang Arman.
"Menurut keterangan polisi, kamu sempat menyambangi Kayla ke supermarket sebelum penculikan itu. Seperti yang orang-orang tau kamu adalah komplotan mereka, tapi saksi kejadian itu bilang.. kamu malah bermaksud mau melindungi Kayla waktu itu." Elfatt menjeda kalimatnya, melihat respon Arman.
"Saya udah mutusin hubungan sama mereka. Dan saya kabur dari penjara emang buat ngelindungin anak saya."
Elfatt mengangguk kecil. Bagus, Arman merespon baik atas kalimat pembuka dari Elfatt. "Jadi.. kamu udah berubah?"
"Saya berterima kasih kalo kamu menganggap begitu." sahut Arman singkat, sebenarnya ia cukup canggung mengobrol dengan papa Alex ini. Pasalnya mereka belum pernah bertemu sebelum kejadian kemarin, dan sama sekali belum pernah saling bertegur sapa dengan baik.
Elfatt tersenyum samar, ia pun sebenarnya merasa aneh berbicara santai dengan orang yang terbilang asing baginya, bahkan ia anggap musuh yang harus dihindari sebelumnya. Tapi situasi membuat langkahnya sampai pada ayah dari gadis malang yang telah menyelamatkan nyawanya kemarin.
"Sebelumnya saya mau minta maaf, karena sempat salah paham sama kamu." ucap Elfatt mengingat dirinya sempat menghajar Arman tiba-tiba saat evakuasi kemarin di markas penculik.
Arman terkekeh kecil, "Saya maklum. Emang saya yang salah, semua kejadian naas itu nggak akan terjadi kalo saya nggak berbuat dosa dimasa lalu. Harusnya.. saya yang minta maaf sama kamu."
"Kayla.. udah nyelamatin saya. Dan kamu nyelamatin anak saya. Kenapa?" Arman tidak menjawab, ia hanya menatap tak mengerti pada Elfatt.
"Kamu pasti tau.. kalo saya memutuskan pertunangan Kayla sama Alex, saya membuat anak kamu menderita meskipun saya tau dia nggak bersalah."
"Saya sendiri yang membuat anak saya menderita." Sahut Arman. "Dia memiliki nasib buruk karena saya adalah papinya. Kalo bukan karena itu, dia nggak akan menderita. Saya nggak nyalahin kamu ataupun Alex, saya sadar kalo sayalah yang udah mengacaukan semuanya."
"Sekarang semuanya makin kacau, tapi masih ada satu hal yang baik, King dinyatakan meninggal."
Arman terkejut. "King meninggal?"
"Iya. Kurang lebih satu jam setelah dia mendapat penanganan medis, nyawanya nggak tertolong karena peluru yang bersarang di tangannya itu membuat urat nadinya putus."
Arman terperangah, ia ingat sekali bahwa ia telah menembak King dalam kemarahannya ketika menyadari King telah menembak Kayla. Tembakannya itu mengenai pergelangan tangan King, tapi Arman tidak menyangka satu peluru yang ia lepaskan asal itu akan merenggut nyawa pria kebal seperti King. Haruskah Arman menyesal, sedih, atau malah senang? Karena satu-satunya orang yang membuat dirinya menanggung beban berat itu telah tiada.
Karena King dulu Arman terjerumus dalam jurang dosa, masuk ke dalam bisnis gelap yang merenggut kebahagiaan keluarganya. Yang membuatnya kehilangan cinta dari anak dan istrinya, karena terpaksa menjadi budak King setelah terlanjur masuk ke dalam dunia gelap itu. Yang membuatnya kehilangan jati dirinya hingga tak memiliki hati lagi. Semua itu semua berawal dari kepercayaannya yang salah pada orang berbahaya seperti King, dan berujung petaka yang membuatnya kehilangan segalanya meski berlimpah harta. Orang itu telah tiada, beban hidupnya seolah sirna begitu saja, karena ancaman terbesar yang selalu menghantuinya itu kini tiada lagi. Dan Kayla, putrinya yang malang itu benar-benar aman sekarang, tidak akan ada lagi yang mengincarnya, tidak ada lagi bahaya yang Arman khawatirkan akan terjadi padanya.
Tapi...
"Kayla.." gumam Arman lirih. Ia teringat akan putrinya yang entah bagaimana nasibnya sekarang.
"Gimana Kayla? Apa anak saya selamat?" tanya Arman gusar.
"Itulah tujuan saya menemui kamu."
"Ada apa?" tanya Arman lagi tak sabar.
"Kondisinya nggak baik, dia menjalani prosedur transfusi darah beberapa jam yang lalu, tapi darah itu nggak cocok di tubuhnya. Dia sempat sesak nafas, tapi sekarang udah mendingan. Kondisinya masih kritis, karena dia butuh donor darah secepatnya, tapi belum dapet sampe sekarang."
Arman menghembuskan nafas berat, kasihan sekali putrinya itu. Arman beringsut bangkit dari baringnya dengan memaksakan tubuh lemahnya. Elfatt yang sempat terkejut kemudian membantu Arman. "Hati-hati."
"Bawa saya ke dia. Golongan darah saya sama dengan Kayla, dia akan selamat setelah saya donorin darah buat dia. Ayo!" Desak Arman.
"Enggak sesimpel itu." jawab Elfatt. "Kondisi kamu sekarang nggak memungkinkan buat transfusi darah. Dokter nggak akan mau ngambil resiko menyelamatkan satu pasien dengan mempertaruhkan keselamatan pasien lainnya."
"Kamu kesini buat minta saya jadi pendonor kan? Kenapa malah mencegah saya?"
"Awalnya iya, tapi saya juga nggak berani mempertaruhkan nyawa kamu meskipun buat keselamatan anak kamu sendiri. Saya kesini buat diskusiin masalah itu sama kamu, mungkin kamu punya sanak saudara yang golongan darahnya sama dengan Kayla dan bisa jadi pendonor. Itu harapan terbesar buat Kayla."
"Enggak ada waktu buat diskusi! Dan saya nggak punya saudara! Ayo lepaskan borgol sialan ini, bawa saya ke Kayla!" Desak Arman lagi sambil memberontak dengan borgolnya yang mengekang itu.
"Kamu mau?"
Pertanyaan yang konyol bagi Arman, tapi Arman cukup bisa berpikir untuk memahami pertanyaan Elfatt itu. Ya, siapa yang percaya jika seorang penjahat tak berhati seperti dirinya, hari ini malah mau bertaruh nyawa dengan mendonorkan darah padahal dirinya sendiri dalam keadaan sakit, dan baru kehilangan banyak darah juga. Resiko terbesar seperti kematian bisa saja terjadi, tapi Arman tak peduli.
__ADS_1
"Kayla itu anak saya, dia darah daging saya satu-satunya. Saya nggak butuh waktu buat mikir mau ngasih darah saya buat dia."
"Tapi.. nggak akan ada yang setuju." jawab Elfatt ragu.
Arman terdiam. Ia mengerti. Tapi ia tidak mungkin diam saja setelah mendengar kabar buruk mengenai kondisi putrinya.
"Coba kamu ingat-ingat, mungkin kamu punya saudara yang golongan darahnya sama dengan Kayla?"
"Enggak ada. Saya sendiri yang akan donorin darah buat Kayla. Saya nggak peduli apapun resikonya, cepat kamu bantu saya lepasin borgol ini dan bawa saya ke Kayla!"
Haruskah Elfatt menyesal karena telah memberitahu Arman tentang kondisi Kayla? Sehingga pria yang baru sadar dan belum pulih ini bersikeras ingin mendonorkan darah untuk Kayla. "Saya nggak mau disalahkan karena udah ngasih tau kamu soal kondisi Kayla. Dan saya juga nggak mau disalahkan kalo terjadi apa-apa sama kamu kalo kamu nekat donorin darah buat Kayla. Saya cuman bermaksud mau nolongin Kayla."
"Bego! Siapa yang akan nyalahin kamu, heh?! Saya mau melakukan tugas saya sebagai seorang ayah, enggak ada yang berhak cegah saya!" Marah Arman.
Elfatt menatapnya kaku. Arman terkekeh remeh melihat pria yang melongo didepannya ini. "Tanggung jawab kamu udah selesai, kamu udah ngasih tau saya soal kondisi Kayla. Dan sekarang tanggung jawab saya, harus nolong nyawa anak saya. Kamu nggak perlu jadi pecundang karena takut disalahin." ujar Arman dengan nada agak mengolok.
Elfatt mendengus. "Saya berhutang nyawa sama kamu dan Kayla, karena itu saya memikirkan keselamatan Kayla. Tapi kamu juga udah nyelamatin Alex, saya nggak berani mempertaruhkan nyawa kamu, transfusi darah dalam kondisi kamu ini sangat beresiko."
"Resiko itu saya yang tanggung. Lagian saya nolongin Alex itu cuman reflek kok, mana mungkin saya biarin King melukai orang lagi setelah dia berhasil melukai anak saya. Udah, jangan kebanyakan mikir!"
Akhirnya Elfatt keluar untuk memanggil dua orang polisi didepan ruangan Arman yang berjaga sebelumnya, atas permohonan Elfatt maka polisi setuju melepaskan borgol Arman. Kemudian Arman dibantu beralih ke sebuah kursi roda, ia ditemani polisi beranjak menuju ke ruangan Kayla dirawat. Sedangkan Elfatt hanya melihat dari jauh sebelum ia kembali ke kamar tempat Alex dirawat.
(Flashback Off)
Disinilah Arman kini, diruangan khusus tempat dimana prosedur transfusi darah dilakukan. Ia dibaringkan di ranjang yang bersebelahan dengan Kayla. Diantara keduanya masing-masing ada tiang infus berserta kantong cairan darah yang selangnya terhubung pada tubuh Arman dan Kayla. Arman menaikkan pandangannya ke arah kantong cairan darah itu, tetes demi tetes darah turun mengalir menuju selang yang terhubung ke tubuh Kayla. Pandangan Arman pun mengikuti arah laju darah itu mengalir, darah seorang ayah yang zolim dulunya tapi kini sedang berjuang menebus dosanya.
Sebenarnya Arman sedikit takut darah dari dalam tubuhnya yang tidak sehat itu akan menyakiti Kayla, dokter bilang mungkin tubuh Kayla akan memberikan reaksi berlebihan jika darah pendonor yang kondisinya tidak stabil itu masuk ke tubuh Kayla. Tapi kemungkinan Kayla selamat lebih besar ketimbang konsekuensi terjadinya reaksi berlebihan itu, karena darah Arman dan Kayla memiliki kadar kecocokan yang sangat tinggi. Pernyataan itu cukup untuk meyakinkan Arman untuk tetap melanjutkan prosedur ini, meski dokter berkali-kali memintanya berpikir karena sang dokter juga nampak khawatir, bagaimanapun juga tetap dokter lah yang bertanggung jawab atas pasiennya.
Arman memandangi wajah polos putrinya yang pucat, matanya tertutup rapat dan deru nafasnya sangat pelan. Arman sungguh merindukan putri kecilnya, ingin sekali ia memeluk dan mencium putrinya itu. Berbagai kilasan balik tentang kedekatannya dengan Kayla dulu, bermunculan begitu saja dibenaknya. Ia seolah melihat kembali pertumbuhan putrinya mulai dari bayi hingga menjadi remaja.
"Kayla, anak papi sayang.. maafin papi ya.." gumamnya lirih sembari memandangi wajah Kayla.
"Maafin papi ya sayang, selama ini papi selalu bikin kamu menderita. Hari ini pun kamu harus menderita lagi gara-gara papi. Papi janji mulai sekarang, akan jadi papi yang baik buat kamu."
Lama Arman terdiam, tanpa mengalihkan pandangannya dari Kayla.
"Lily." Panggilan masa kecil putrinya itu tertutur dilidah Arman. Dulu Kayla suka sekali dipanggil Lily, hanya oleh papi dan maminya. Jika ada orang lain yang ikut memanggilnya Lily maka ia akan merajuk dan menangis karena tak suka. Arman merasa akrab kembali dengan putrinya saat panggilan itu yang keluar dari mulutnya.
Tak lama kemudian senyumnya memudar. "Apa Lily benci sama papi, hm?"
"Lily mau kan maafin papi, sayang?"
"Papi tau kamu anak yang baik, tapi kalo kamu nggak bisa maafin papi.. papi maklum kok. Tapi, papi pengen kamu percaya sayang, kalo papi udah berubah. Papi berusaha buat jadi orang baik kayak dulu, papi pengen jadi kebanggan Lily lagi, sayang."
Arman kembali terdiam, cukup lama.
"Setelah hari ini, setelah papi pulih, papi akan balik ke penjara. Seperti janji papi, papi akan menjalani hukuman sampai selesai. Do'ain papi ya, sayang!"
... __________________...
Siang berganti malam, sudah sehari semalaman Kayla dan Alex menjadi pasien rumah sakit, dan sudah 10 jam sejak prosedur transfusi darah Arman kepada Kayla selesai dilakukan. Awalnya proses transfusi darah berjalan lancar, sampai darah telah tertransfer ke tubuh Kayla satu setengah kantong. Tapi kemudian Arman merasakan sensasi hebat yang menyakitkan pada tubuhnya perlahan-lahan, ia tidak mengeluh ataupun protes tapi ringisannya menarik perhatian perawat yang berjaga di ruangan itu. Melihatnya, perawat pun menyadari bahwa kondisi Arman mulai memburuk karena memaksakan tetap menjalani transfusi darah meski kesehatannya tidak stabil.
"Sebentar saya panggilkan Dokter." kata perawat kemudian mengarahkan tangannya untuk memencet tombol bel darurat.
"Enggak perlu sus!" cegah Arman. "Tinggal sedikit lagi transfusi darahnya selesai, saya masih kuat." ujarnya disela ringisannya.
"Tapi ini bahaya Pak." Suster khawatir melihatnya, karena Arman bukan hanya meringis tapi juga diiringi dengan gerak tubuhnya yang blingsatan, menunjukkan kalau ia memang kesakitan.
"Saya masih kuat. Panggil Dokternya sebentar lagi, kalo darahnya udah abis ketransfer Sus."
Perawat yang tak berani ambil resiko lantas bertindak tanpa persetujuan Arman, ia mencoba meraih tiang infus Arman tapi Arman mencegahnya. Karena gagal, kemudian si perawat mendekati ranjang Kayla tapi malah dimarahi oleh Arman dan ditendangnya hingga hampir jatuh. Si perawat mulai emosi tapi ia berusaha tenang, lantas ia pergi keluar ruangan untuk memanggil Dokter, karena Arman tak membiarkannya menyentuh apapun untuk menghentikan proses transfusi darah itu.
Saat Dokter sampai ke ruangan, Arman sudah tak sadarkan diri. Kondisi buruknya itu membuat cairan darah yang masih mengalir masuk ketubuh Kayla, malah menimbulkan efek bagi tubuh lemah Kayla. Denyut jantung Kayla jadi tidak normal, padahal sebelumnya baik-baik saja. Terpaksa dokter menghentikan proses transfusi itu, dan harus menangani dua pasien darurat.
"Tio!"
Tio terkesiap saat suara seseorang menyebut namanya. Tio lantas tersadar dari renungannya tentang peristiwa mencemaskan 10 jam yang lalu. Sekarang Tio bisa lega melihat Arman sudah membuka matanya setelah 10 jam dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Mendapat penanganan cepat dari Dokter saat terjadi reaksi buruk pada tubuhnya ketika proses transfusi darah, kondisi Arman cukup kritis beberapa jam yang lalu. Kata Dokter, jika Arman tidak sadar dalam 12 jam kedepan maka kondisinya bisa semakin buruk. Tapi untunglah sekarang papi Kayla itu sudah membuka matanya dan dari guratan wajahnya dia terlihat baik.
"Alhamdulillah kamu udah sadar." ucap Tio, membuat Arman agak heran.
__ADS_1
"Kamu disini, dari kapan?" Arman bertanya tapi pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, ternyata ia sudah dipindahkan ke ruangan lain.
"Ya, belum lama kok. Nadia khawatir, jadi saya disini buat mastiin keadaan kamu, soalnya kamu udah 10 jam nggak sadar setelah proses donor darah."
Benarkah, 10 jam? Selama itu? Pikir Arman. Ia teringat saat sebelum dirinya hilang kesadaran ia memang sangat kesakitan, mungkin efek darahnya yang terus disedot sedangkan kondisi tubuhnya tidak stabil. Pikirnya.
"Kayla gimana?" tanya Arman.
"Dia juga belum sadar, tapi kata Dokter kondisinya udah lebih baik dari sebelumnya. Darah kalian cocok, jadi tubuh Kayla bisa menerimanya dengan baik, walaupun sempat ada reaksi yang mengkhawatirkan."
"Reaksi mengkhawatirkan?"
"Iya. Waktu kamu nggak sadar, darah kamu masih ketransfer ke tubuh Kayla, jadi kondisi itu menimbulkan reaksi pada tubuh Kayla. Denyut jantungnya kepompa, tapi dokter cepat bertindak. Kayla udah lebih baik kok." terang Tio tenang.
"Alhamdulillah..." Arman pun lega.
Arman memandangi Tio dengan datar, membuat Tio mengernyit tak mengerti. "Ada apa?"
Arman lantas mendengus senyum dengan ekspresi sedikit mencibir Tio. "Enggak papa. Saya cuman baru tau kalo kamu suaminya Nadia."
Tio menaikkan satu alisnya, itukah yang membaut Arman menatapnya aneh barusan? pikir Tio. "Saya kira kamu udah tau."
"Waktu saya kabur dari penjara tempo hari, saya langsung samperin Kayla ke rumahnya, tapi ternyata dia udah nggak tinggal disana. Kata tetangga disana, Kayla sama maminya udah pindah. Dari sana saya baru tau kalo Nadia udah nikah lagi."
Tio menelisik seksama wajah Arman, "Saya harap kamu bener-bener nggak ada maksud lain kabur dari penjara, selain buat nyelamatin Kayla."
Arman terkekeh, "Enggak perlu khawatir. Saya nggak akan ganggu Nadia lagi, justru saya bersyukur dia udah bisa bahagia."
Tio merasa lebih tenang, Arman pun demikian. "Saya nggak kenal kamu. Tapi saya percaya sama pilihan Nadia." Arman menjeda ucapannya, mengalihkan pandangan dari wajah Tio ke langit-langit kamar rumah sakit.
"Saya udah terlalu banyak nyakitin Nadia, bahkan nyakitin anak saya sendiri. Saya udah sia-siain mereka selama ini. Penyesalan selalu datang terlambat." Arman menarik nafas lalu menghembuskan lepas, sehingga terdengar seperti sebuah ******* kecil.
"Dia curhat?" tanya Tio dalam hatinya. Agak canggung, tapi Tio mencoba mengerti perasaan seorang ayah didepannya ini.
"Kamu tau, penyesalan itu nyiksa saya selama saya berada dipenjara. Saya mau menebus semua dosa-dosa saya, saya mau ngelakuin banyak hal buat memperbaiki kesalahan saya, tapi nggak ada yang bisa saya lakuin didalam penjara."
Arman kembali melihat Tio. "Tapi sekarang saya bersyukur karena mereka udah punya kamu, mereka dapetin pengganti yang jauh lebih baik dari saya. Sekarang kamu yang bertanggung jawab buat bahagiain mereka berdua."
Tio mengangguk mantap. "Pasti. Itu tugas saya."
Arman tersenyum miring. "Saya tau. Tanpa saya minta pun, kamu pasti akan lakuin apa yang nggak bisa saya lakuin buat mereka. Kamu pasti akan kasih mereka kebahagiaan yang nggak bisa saya kasih buat mereka." Arman terdiam getir.
Arman merasa malu pada Tio. Tanggung jawab untuk membahagiakan anak dan istrinya yang telah ia sia-siakan, sekarang tanggung jawab itu diambil oleh Tio. Arman benar-benar merasa kerdil dan tak berguna sebagai seorang pria, gunungan dosa dan penyesalannya yang tidak bisa ia perbaiki, kini orang lain yang memperbaikinya. Pria didepannya ini, yang tidak dikenalnya dan yang sebelumnya bukan siapa-siapa, kini telah menjadi orang yang sangat agung dimatanya. Rasanya ungkapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk membalas apa yang Tio lakukan, dengan memberikan kebahagiaan kepada Nadia dan Kayla yang telah ia sia-siakan.
"Kamu nggak perlu khawatir, itu udah tanggung jawab saya. Saya menikahi Nadia karena saya memang mencintainya, bukan karena kasian. Dan saya udah menganggap Kayla itu anak saya sendiri." tutur Tio setelah mengamati wajah Arman yang menunjukkan guratan penyesalan.
"Terima kasih! Terima kasih.. saya nggak tau harus apa, saya cuman bisa bilang terima kasih. Kamu... saya.. saya malu." ucap Arman tulus seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan matanya yang terpejam.
"Saya bersyukur kamu udah nyadarin kesalahan kamu, dan bisa berubah. Itu cukup sebagai tanda terima kasih. Tapi sebenarnya kamu nggak perlu berterima kasih, saya cuman ngelakuin tugas saya sebagai suami dan seorang ayah."
Arman semakin merasa minder. "Terima kasih. Saya nggak akan ganggu Nadia sama Kayla lagi, saya akan jauhin mereka dan nggak akan ganggu kebahagiaan keluarga kalian. Saya janji."
Tio tersenyum. "Enggak ganggu bukan berarti harus jauhin. Kamu papi kandungnya Kayla, kamu punya hak atas dia yang nggak bisa saya ambil alih."
Arman mengangguk mengerti, tersenyum lega. "Terima kasih. Saya bisa lebih tenang menjalani hukuman setelah ini."
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
Apa kabar guys...
Mohon maaf ya lama gak ada kabar, insyaAllah mulai hari ini Miss Kissable & Mr Strawberry bakal update rutin sampe ending.
__ADS_1
Thanks buat dukungan kalian, jangan lupa tinggalin jejak ya.. like & komen.
See you next episode.