
Sesampai Alex dan Kayla ke UKS, Maya dan dua petugas kesehatan lainnya menyambut mereka berdua.
"Kayla, ada apa?" tanya Maya.
"Gak usah basa-basi, langsung obatin aja!" sergah Alex tak sabar.
"Aku gak papa kak, obatin Alex dulu ya Kak! Lukanya banyak." ujar Kayla pada Maya. Maya pun mengangguk.
"Enggak! Obatin dia dulu!" bantah Alex.
"Aku gak papa Al, cuman luka kecil gini. Kamu yang lebih parah, jadi kamu yang duluan."
"No! Kamu duluan, aku gampang." bantah Alex lagi.
"Kak, obatin Alex dulu ya! Liat kan kak, ini kena pecahan kaca." ujar Kayla lagi.
"Obatin dia dulu!" titah Alex tegas, membuat Maya tak punya pilihan lain selain mengiyakannya.
Kayla mendengus malas. Ya sudahlah, mengalah saja dengan Alex. Maya pun mengobati telapak tangan Kayla yang terluka, sedangkan dua orang petugas lainnya menangani Alex.
Ada pecahan kaca yang menimpa tengkuk Alex sehingga membuat tengkuknya berdarah. Begitu juga dengan punggungnya, ada dua bagian kecil yang juga terkena pecahan kaca. Pecahan kaca itu juga mengenai lengan kiri Alex dan membuat lengannya juga berdarah. Tanpa diduga, lengan kanannya pun terluka, bahkan lebih parah. Pecahan kaca itu bukan hanya menggores lengan kanan Alex, tapi juga menancap tajam ke kulit lengannya. Sehingga saat tadi Kayla memegang lengan Alex dan hendak menariknya, tanpa sengaja Kayla malah tertusuk pecahan kaca itu, dan tangan Kayla pun terluka.
Alex termenung duduk di atas brankar UKS. la tentu terpikir tentang perkelahian dengan ketiga temannya tadi. Alex merasa menyesal dan sedih karena teman-temannya memperlakukannya seperti itu. Disisi lain ia juga sangat marah pada mereka, karena mereka mencoba menyakiti Kayla, akibat kebencian mereka.
Sebenarnya tadi Alex berniat untuk bicara baik-baik kepada mereka, Alex mencari-cari mereka bertiga kemana-mana. Sampai ia menemukan mereka berada di tengah lapangan. Alex hendak menghampiri mereka, tapi sebelum ia sampai pada mereka, ia melihat Sandi melempar bola basketnya dengan serius dan mantap, seolah tidak membiarkan sasarannya lolos. Betapa kagetnya Alex ketika melihat ke arah sasaran bola yang dilempar Sandi, ia terbelalak tak percaya. Bola Sandi akan menimpa Kayla. Tanpa berpikir panjang, dengan cepat dan gesit, Alex berlari sekencang-kencangnya dan berteriak.
"AWAAAAS.....!"
Jeritan serta teriakan histeris para siswa dan siswi yang memperhatikannya pun terdengar ricuh seketika. Kayla yang kaget pun hanya bisa mengangkat kedua tangannya untuk melindungi tubuh bagian atasnya sebisanya. Beruntung, Alex sempat menjauhkan Kayla dari bola itu.
Tidak sampai disitu, bola yang meleset dari sasaran itu malah menimpa kaca jendela, dan menyebabkan kacanya pecah berserakan kemana-mana. Alex segera melindungi tubuh Kayla dari pecahan-pecahan kaca yang berterbangan tak terkendali itu. Sehingga punggungnya dan tengkuknya terluka, kedua lengannya pun juga terluka.
"Al.." sapa Kayla membuat lamunan Alex buyar
"Miss Kissable, kamu baik-baik aja?"
"lya, aku gak papa. Kamu gimana?"
Alex mengedikkan bahunya seraya tersenyum, "Kalo kamu baik, aku juga"
"Kamu mikirin soal tadi ya? Apa yang kamu rasain?"
"Aku sedih Miss Kissable, aku nyesel."
"Mereka gak suka sama aku itu wajar kan, kamu juga udah tau itu. Apa yang bikin kamu sedih?"
"lya itu. Aku juga nyesel karena aku udah ngebentak mereka, mukul mereka, dan mereka juga.. bener-bener nganggep aku kayak musuh, Miss Kissable." ucap Alex dengan ekspresi wajah yang mengiba.
"Mereka cuman ngelampiasin kemarahan mereka AI, kamu maklumin aja ya! Aku juga sedih loh Al.."
"Kenapa?"
"Karena hari ini kamu gagal ngendaliin emosi kamu."
Alex menunduk. "lya, aku juga sedih gara-gara itu. Aku benar-benar nyesel." Alex lalu mengangkat kedua tangannya dan memandanginya, seolah sedang menengadah berdo'a.
"Tanganku ini.. udah nyakitin teman-temanku sendiri." ucapnya lirih.
la lalu menggenggam kedua tangannya dengan perasaan kecut. "Mungkin ini karma buat aku, karena aku sering nyakitin orang. Aku juga sering nyakitin kamu, aku ngehina kamu dengan tangan ini. Sekarang aku dihukum, aku dipukul sama teman-teman aku sendiri. Aku dipukul oleh tangan-tangan yang selama ini selalu ngerangkul aku, selalu megang aku, dan yang selalu siap ada buat aku." lirihnya, membuat Kayla menelan saliva berat.
"Mungkin gak, mereka masih bisa maafin aku setelah hari ini?" tanyanya.
Kayla mencoba tersenyum sebisanya untuk menyemangati Alex. "Bisa kok AI, mungkin bakal sulit tapi kamu gak nyerah kan?"
Alex terdiam. Cukup lama.
"Miss Kissable, biarin aja mereka. Mereka maafin aku atau enggak, itu hak mereka. Biarin mereka ngelakuin apa yang mereka mau, dan aku juga. Jalan perubahan yang aku coba mulai ini.. gak boleh berhenti kan? Aku rasa itu lebih penting dari mikirin mereka bertiga." ujar Alex sambil berpikir.
"Lagian juga, mereka udah coba nyakítin kamu. Mereka mungkin bakal coba lakuin itu lagi, dan aku gak bisa berantem lagi sama mereka. Jadi aku rasa.. lebih baik aku diemin aja kan, daripada kejadian kayak gini terulang lagi"
Kayla bingung menanggapinya.
"Sampai mereka bisa ngerti aku, dan ngerti kamu, mereka mungkin bakal terus coba ulangin hal kayak gini. Sedangkan aku gak bisa jauh dari kamu. Terserah mereka mau apa, karena aku udah mutusin buat nerusin jalan aku, bersama kamu Miss Kissable! Mereka bisa ngehalangin ataupun matahin semangat aku, tapi selama kamu ada di sampingku.. aku gak akan ngubah jalan aku." ucapnya mantap.
"Al, apa kamu gak nyesel sama keputusan kamu?" tanya Kayla ragu.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku gak mau kamu nyesel karena udah milih aku dan ninggalin teman-teman kamu."
"Bukan aku, Miss Kissable! Mereka yang ninggalin aku. Mereka yang mutusin ikatan persahabatan kita, mereka juga yang coba buat ngerusak pertahanan aku. Sebelumnya aku yakin mereka cuman butuh waktu dan pengertian buat bisa maafin aku, tapi apa yang mereka lakuin? Mereka coba nyelakain kamu, mereka bikin aku ngerasa gak dihargain gara-gara ini."
"Ya aku tau mereka gak suka sama kamu, tapi aku pikir mereka gak bakal ganggu kamu karena ada aku, karena aku bersama kamu. Tapi hari ini.. mereka matahin keyakinan aku." tutur Alex lagi.
"Aku ngerti. Tapi pikirin lagi Al!" kata Kayla tak kalah seriusnya.
"Mungkin suatu saat kamu bakal nyesel karena udah milih buat gak memperjuangkan persahabatan kamu. Dan aku gak mau itu terjadi." lanjutnya.
Alex terdiam.
la lalu tersenyum dalam diamnya. "Aku kenal mereka Miss Kissable. Walaupun hari ini mereka udah bikin aku kecewa, aku tetap yakin kalo suatu saat mereka bakal ngerti kenapa aku milih jalan ini."
Kayla tersenyum bangga, "Kalo gitu lanjutin Al! Gak papa hari ini kamu kalah sama amarah kamu, kan masih ada besok dan seterusnya. Yang namanya belajar pasti aja ujiannya kan, secerdas-cerdasnya kamu.. tetap aja kan kamu punya kelemahan?! Lagian ini juga bukan ujian nasional, kalo kamu gak lulus kamu bisa ngulang lagi! lya kan?" celetuk Kayla, membuat Alex tertawa kecil.
... ________________...
Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu, semakin hari semakin terlihat perubahan yang Alex ciptakan. Mulai dari sikapnya yang hangat meskipun masih terlihat agak kaku, kemudian sopan santun pada para guru yang juga ditunjukkannya, sampai pembullyan yang hampir tidak pernah terjadi lagi.
Sejak pertengkarannya dengan Bima, Sandi, dan Vicky, Alex mengambil pelajaran dari sana. Bahwa dalam proses pasti ada rintangan, Alex mencoba mengubah dirinya dan juga keadaan di sekelilingnya, tapi ia tidak mungkin bisa mengubah sudut pandang orang tentang semua itu dengan mudah. Ketiga temannya sendirilah yang menjadi rintangan terberat baginya, sekali lagi Alex mengalahkan mereka bertiga dan memenangkan kata hatinya sendiri. la telah memutuskan untuk melanjutkan jalan yang baru saja ia ambil, dan sebesar apapun rintangan yang akan ia hadapi, ia tidak boleh mundur. Demi kebaikannya dan masa depannya sendiri, demi kebaikan sekolahnya, juga demi semua orang disekelilingnya.
Tentang pembullyan yang selama ini seolah sudah menjadi tradisi di sekolahnya, bagi Alex itu juga sebuah tantangan dan rintangan untuknya. Apalagi melihat tangan gatal ketiga temannya yang sampai sekarang masih menjalankan tradisi mereka itu. Alex merasa sedikit beruntung karena ia dan ketiga temannya itu berjarak sekarang, jika tidak.. pasti Alex terlibat dalam aksi pembullyan yang teman-temannya itu lalukan. Ya, meskipun semakin hari jarak mereka terasa semakin jauh, setidaknya Alex bisa dengan mudah menolak keinginannya untuk melakukan pembullyan.
Sejauh ini, Alex memang tidak pernah membully ataupun mengganggu siapapun lagi, tapi ia juga tidak berusaha menghentikan aksi pembullyan yang dilakukan Bima, Sandi, dan Vicky. la tidak ingin memperburuk hubungannya dengan mereka dengan menegur ataupun melarang mereka. Alex hanya berharap saat nanti mata mereka terbuka untuk melihat Alex yang baru, mereka akan mencoba menghentikan tradisi tidak baik itu. Mengubah kebiasaan memang sulit, karena itulah Alex tidak mau mengusik mereka bertiga dengan menentang ataupun merintangi kebiasaan yang mereka lakukan.
Sejauh ini, Alex juga memendam perasaan rindunya akan rangkulan dan candaan mereka bertiga. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Ini tidak mudah, tapi demi kebaikan semuanya ia harus belajar memenangkan hati dan akal pikirannya daripada hasratnya dan juga egonya.
Selama berbulan-bulan Alex menjalani proses ini, selama itu juga kehampaan hidupnya tanpa ketiga temannya itu ia rasakan. Beruntungnya Kayla selalu disampingnya, Miss Kissable nya selalu ada untuknya, menjadi sandarannya, menjadi tempat keluh kesah dan curahan hatinya.
Beberapa bulan terakhir juga kedekatan Alex dengan Kayla menjadi perbincangan para siswa bahkan para guru. Fakta tentang Miss Kissable pun terkuak, tidak ada yang menyangka jika Kayla lah gadis pujaan Alex yang ia sebut sebagai Miss Kissable. Gosip-gosip dan kabar tentang hubungan mereka pun menimbulkan pro dan kontra. Dikalangan para fans Alex, Kayla hanya mereka lihat sebagai siswi sombong yang sok berani awalnya, dan sekarang malah memanfaatkan ketertarikan Alex padanya. Mereka semakin membenci Kayla, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mencibir dan menghujatnya dari belakang. Meski begitu, mereka sangat senang melihat perubahan sikap Alex.
Siswa-siswi lainnya pun banyak yang beranggapan sama, tapi tidak sedikit juga yang mendukung Kayla dan perubahan Alex tentunya. Alex tidak mempermasalahkan itu semua, hanya terkadang saat Kayla mengalami insecure, Alex juga terpengaruh. Tapi mereka berdua selalu bisa mengatasi itu bersama-sama. Meski mereka tidak memiliki hubungan khusus, bagi Alex cukup dengan berada di dekat Kayla itu sudah membuatnya merasa tenang. Kayla lah yang selalu memegang tangannya dan menyemangatinya beberapa bulan terakhir.
"Terima kasih, Miss Kissable..!" gumamnya.
Kayla hanya menanggapinya dengan senyuman. la lebih tertarik dengan pemandangan di tempat sekarang ia berada, dibandingkan ungkapan terima kasih Alex yang sangat sering Kayla dengar.
Hari ini, Alex membawanya ke ruangan rahasia milik Alex, ruang seni pribadinya yang terletak dibalik ruang kesenian sekolah. Ruangan besar yang Kayla perkirakan seluas lapangan sekolah mereka itu, terdiri dari dua lantai. Kayla menjelajahi setiap bagian dari ruangan itu, di lantai atas dimana pintu masuknya berada, di sana banyak terpajang hasil karya Alex. Tapi ternyata di lantai bawah lebih banyak koleksinya yang lain. Di lantai atas lebih dominan tempat santai untuk Alex, sedangkan di lantai bawah lebih terlihat seperti museum seni.
"Masyaa Allah...." gumam Kayla kecil.
"Wow.. Al, bisa-bisanya kamu punya tempat sebagus ini."
Alex bangkit dari berbaringnya. "Miss Kissable kamu tau nggak, kamu orang pertama loh yang aku ajak kesini."
Kayla menaikkan alisnya, "Masa'?"
"Hm." Alex berjalan gontai ke arah Kayla.
"Kayaknya aku juga harus mempertanyakan.."
"Soal apa?" tanya Alex.
"Kamu gak pernah ngajak Bima, Sandi, sama Vicky kesini?" Alex menggeleng.
"Kenapa? Mereka bertiga kan selama ini deket sama kamu, kamu ngerahasiain tempat ini dari mereka juga?"
"Mereka tau kok tempat ini. Aku cuman gak pernah ngajak mereka masuk aja, dan mereka hargain privasi aku kok."
"Kok kedengerannya kayak kamu ya yang jahat..?" gumam Kayla.
"Maksud kamu?"
"lya, sepengertian itu loh mereka bertiga sama kamu. Mereka tau kamu punya ruangan pribadi, dan mereka gak kepo-kepoin kamu?"
Alex mengangguk kikuk, "lya, mereka emang sahabat terbaik aku. Makanya aku yakin, suatu saat mereka juga bakal ngerti kenapa aku kayak gini sekarang. Suatu saat kita bakal bareng lagi kayak dulu" ucap Alex dalam, sambil menatap kosong ke arah luar kaca.
Lama mereka berdua terdiam sembari berdiri dan menatap keluar kaca. Kayla senang bisa berada dalam situasi dan suasana ini. Bukan hanya melihat perubahan Alex dan juga keadaan sekolah, tapi ia juga mendampinginya sampai sejauh ini. Kayla senang bisa jadi bagian dalam perubahan dan suasana baru di sekolahnya, juga dalam kehidupan Alex. Lihat saja Alex yang sekarang, dia sudah banyak berubah meskipun terkadang sifat angkuh dan pemarahnya muncul.
Namun sejauh ini, keadaan sekolah yang dulu Kayla impikan, kini mulai terlihat di depan mata Kayla. Alex yang sekarang juga sudah menjadi Alex yang dulu ingin Kayla lihat. Dia kembali, dia menjadi Alex yang lembut dan sopan, yang penyayang dan ramah pada semua orang. Dia juga sudah mendapatkan kehormatannya yang memang seharusnya ia dapatkan. Para guru tidak lagi takut padanya, mereka memperlakukan Alex sama seperti murid-murid lainnya. Meski begitu, rasa segan mereka pada Alex tidak hilang, mereka tetap menghormati Alex sebagai anak pemilik sekolah disamping sebagai murid.
Tapi perjuangan dan jalan Alex tidak berakhir sampai disini, masih banyak yang harus ia pelajari, masih ada tugas yang harus ia selesaikan. Salah satunya adalah yang akhir-akhir ini selalu menjadi pikiran Kayla. Dan sekarang Kayla rasa adalah waktu yang tepat untuk menyampaikannya pada Alex.
__ADS_1
"AI!"
"lya?"
"Sejauh ini apa yang kamu rasain? Soal proses dan perjuangan yang kamu laluin."
"Selama ini aku emang banyak nekan emosiku, sama ngalahin egoku. Aku banyak ngelakuin hal yang bertentangan dengan diri aku sendiri. Tapi sejauh ini.. perasaan aku lebih tenang sih. Aku ngerasa beban yang dulu ngeberatin aku, sekarang udah kerasa ringan, Miss Kissable!"
Alex beralih menatap Kayla, "Ini semua berkat kamu. Benar kata papa aku, kamu berpengaruh besar buat hidup aku. Aku beruntung Miss Kissable, aku bahagia." ucapnya sepenuh hati.
Kayla tersenyum berbinar, "Aku juga ngerasa beruntung bisa jadi bagian dalam perubahan kamu. Terima kasih udah mau ngelakuin sebanyak ini, AI!"
"Aku yang terima kasih sama kamu! Lagian aku ngelakuin semuanya juga buat diri aku sendiri, ini pilihanku. Dan aku bisa kayak gini, bisa sampe disini sekarang.. itu karena kamu."
"I Love you Miss Kissable" ucap Alex seraya menatap mata Kayla, membuat Kayla canggung dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Emm.. Al, ada yang mau aku omongin sama kamu."
"lya?"
"Em..." Kayla bingung dan ragu untuk mengatakannya.
"Hei, ada apa, kok diem? Sesuatu yang penting ya?"
"Iya, penting sih." sahut Kayla.
Alex masih menunggu, "Apa serius?" tanyanya lagi.
"lya, lumayan serius."
Alex tersenyum salah tingkah, ia lalu mendengus tawa, "Kok aku jadi deg-degan ya nunggunya.."
"Hm?" bingung Kayla.
Kayla lalu tertawa karena merasa lucu. "Apa Al, kenapa kamu deg-degan, emangnya kamu pikir aku mau ngomong apa?"
"Emangnya apa sesuatu yang penting dan serius, soal.. perasaan kamu?" tanya Alex ragu.
Kayla mengedikkan bahunya. "Bukan kok."
Ada sedikit rasa kecewa dihati Alex mendengar jawaban Kayla. Tapi Alex mengerti, Kayla mungkin tidak akan merubah keputusannya. Baiklah, biarkan saja cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi tangannya selalu dalam genggaman Kayla.
"Jadi..?" tanya Alex.
"Kamu.. udah minta maaf ke semua orang?"
Alex mengangguk sambil mengingat-ingat. "Kenapa emangnya?"
"Kayaknya belum deh"
Alex mengernyit dalam, ia berpikir sambil memegang dagunya dengan ujung jempol dan telunjuknya. "Semua guru udah kok, korban-korban bullying juga udah semua deh kayaknya."
"Belum AI."
"Siapa yang belum?" bingung Alex.
"Korban bullying kamu yang udah keluar dari sekolah."
"Hah?" gumam Alex dalam kebingungannya. la tidak menyangka Kayla akan mengingat mereka juga.
"Jadi.. ini yang mau kamu omongin?"
Kayla tersenyum tipis dan sempat terdiam, "Sebenarnya ini bukan point nya, tapi akan lebih baik ngeberesin masalah ini dulu sebelum masuk ke agenda utama." batinnya.
"Kamu pengen aku minta maaf ke mereka juga?" tanya Alex, Kayla mengangguk.
Alex mendengus. Ya ampun.. Alex melupakan mereka, lagipula apa pentingnya mengingat mereka. Toh sekarang Alex tidak tahu dimana ia bisa menemukan mereka untuk meminta maaf. Jangankan nomer hp mereka, nama-nama mereka saja Alex tidak semuanya ingat. Bagaimana ia akan meminta maaf pada mereka satu persatu?
Alex menggaruk kepalanya bingung.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...