
Kayla sudah duduk di dalam mobil tepatnya di kursi depan samping kemudi, atas permintaan Om William. Keduanya masih diam dengan tatapan lurus ke depan, dan Om William pun masih enggan menyalakan mesin mobilnya.
"Ada apa Om?" Kayla membuka suara.
"Ya, ada yang harus saya bicarakan sama kamu."
"Saya minta maaf. Mungkin kamu ngerasa saya keterlaluan dan nggak berperasaan, karena saya memutuskan pertunangan kamu dengan anak saya."
Kayla tak menanggapi, ia hanya menundukkan kepalanya.
"Emang benar saya menghindari menjalin hubungan kekeluargaan dengan papi kamu. Bahkan kalo kamu anggap saya nggak sudi berbesan dengannya pun.. itu juga benar. Karena saya memperhatikan reputasi saya, pandangan orang-orang terhadap saya, dan juga Alex. Terlebih lagi soal nama baik perusahaan yang saya bangun dari nol, saya nggak akan membiarkan masalah sekecil apapun membuat celah keretakan bagi bisnis saya yang udah kuat."
Ya, Kayla sudah mengerti jalan pikiran pria paruh baya yang berbicara padanya ini. Jujur saja Kayla tidak suka mendengarnya mengoceh, karena kata-kata yang keluar dari mulutnya itu sudah menyakiti Kayla sebelumnya. Kali ini, mungkin tidak berbeda. Tapi Kayla tetap harus menghormatinya.
"Masalah ini sangat serius bagi saya, Kayla. Ini bukan cuman tentang hubungan kamu dan Alex, tapi juga merambat ke dunia bisnis. Saya tau orang seperti King, meskipun bisnis mereka telah hancur bukan berarti mereka lumpuh. Mereka punya banyak jaringan yang belum terjangkau, itu ancaman."
Om William menghela nafas ke udara. "Demi menyelamatkan kamu, Alex menghancurkan bisnis mereka. Yang artinya.. Alex mengundang bahaya masuk kedalam bisnis kami."
"Hal itu bukan cuman berpengaruh bagi kelancaran bisnis kami, tapi juga berpengaruh bagi masa depan Alex. Orang-orang seperti mereka nggak akan melepaskan Alex begitu saja. Karena Alex udah mengusik mereka."
Kayla mengangkat kepalanya, terperangah kaget. Benarkah Alex berada dalam bahaya? Alex kan hanya menyelamatkan Kayla, dan.. ya, menutup tempat maksiat itu. Kayla tidak tahu jika masalah itu akan membawa pengaruh sebesar itu untuk Alex?
"Dan Kayla, saya juga nggak nyalahin kamu sepenuhnya. Saya tau kamu korban, tapi saya juga nggak bisa membiarkan Alex terlibat lebih jauh lagi dalam urusan kehidupan kamu. Mungkin sekarang papi kamu aman dipenjara, artinya kamu baik-baik aja kan. Tapi Alex, saya belum bisa memastikan dia aman. Mereka bisa melakukan apa saja yang mungkin nggak terpikirkan oleh saya. Karena itu.. saya nggak bisa mengesampingkan masalah ini meskipun kasusnya sudah ditutup."
Hati Kayla berdesir lirih, ia menelan salivanya. la baru sadar bahwa ia telah membuat Alex terkena masalah, setelah mengeluarkannya dari masalah. Kayla jadi merasa bersalah, demi memastikan keamanan dan keselamatannya.. Alex malah tidak aman sekarang.
"Jadi.. menurut saya, jalan terbaiknya adalah memutuskan hubungan kalian. Supaya orang-orang itu sulit untuk menjangkau Alex, dan itu bisa jadi jalan untuk mencegah mereka menghancurkan bisnis kami"
Kayla masih bungkam, ia kembali menunduk. Berpikir dalam tentang masalah ini. la pikir ia tidak perlu cemas lagi sekarang karena Alex telah meyakinkannya bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja, meskipun Mami dan Om nya masih menentang. Tapi, jika sebenarnya masalah yang Alex hadapi memang serius, seperti yang dikatakan Om William, Kayla jadi merasa takut. Kayla takut jika pilihannya untuk mempertahankan hubungan dengan Alex adalah kesalahan. Bagaimana mungkin Kayla bisa membiarkan Alex berada dalam masalah.
"Apa orang-orang itu ngejar Alex Om?" tanya Kayla resah.
"Saya nggak tau, tapi kemungkinannya begitu. Yang jelas, saya tau King itu memiliki banyak anak buah yang tersebar hampir di setiap kota. Nggak menutup kemungkinan di kota besar seperti Jakarta juga ada. Dan yang lebih membuat saya waspada.. mereka yang masih bebas lebih banyak dibandingkan yang sudah tertangkap. Jadi, jujur saja saya mengkhawatirkan Alex."
Kayla juga. Kayla juga mengkhawatirkan Alex setelah tahu keadaannya seperti itu. Kayla mengerti sekarang kenapa Om William mau menjauhkan Alex darinya. Itu karena Kayla adalah jalan mereka untuk bisa mencapai Alex, karena papi Kayla adalah bagian dari mereka. Jika Kayla dan Alex saling menjauh, maka itu akan mempersulit orang-orang King mengganggu Alex kan!
"Orang-orang King mungkin akan sulit menganggu Alex kalo kalian nggak berhubungan lagi, tapi jalan itu sebenarnya juga nggak menutup rapat jangkauan mereka. Seperti polisi, mereka juga punya intel yang berbaur dengan masyarakat biasa. Saya harus lebih waspada, tapi sekarang seenggaknya saya melakukan sesuatu demi menghalangi mereka kan. Saya cuman nggak mau terjadi apa-apa sama Alex, Kayla. Dia anak saya satu-satunya." jelas Om William dengan tenang dan berperasaan.
"Saya ngerti Om" jawab akhirnya Kayla.
Om William tersenyum kecut, "Saya tau saya menyakiti kamu, bahkan menyakiti anak saya sendiri juga. Tapi terkadang keadaan membuat kita harus memilih."
Kayla diam, matanya mulai berembun.
"Pertunangan kamu dan Alex udah dibatalin, jadi mulai sekarang.." Om William terhenti, dia merasa lidahnya berat untuk melanjutkan tapi tetap dia lanjutkan. "..belajarlah buat menjauhi Alex ya!" ucapnya tanpa menatap Kayla.
Kayla tahu Om William akan mengatakan itu, tapi ia tetap merasa terkejut dan hancur. Nafasnya tercekat, dan ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisan. Meski Kayla berharap hubungannya dan Alex tidak akan berakhir, ia juga menduga hari ini mungkin akan terjadi. Hari ini Om William memintanya untuk menjauhi Alex. Dan itu benar, ketakutan Kayla menjadi kenyataan. Kayla tidak siap menjauhi Alex apalagi melupakan pria itu, Kayla bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu setelah ia menyadari cintanya.
Cukup lama keduanya diam. Kayla diam dalam duka hatinya, dan Om William diam dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Jangan khawatir soal Alex! Dia anak saya, meskipun hari ini saya menyakiti perasaannya, tapi jauh dibalik itu saya selalu memikirkan kebaikan untuk dirinya."
Kayla menghapus air matanya dengan tangannya yang bergetar.
"Saya harap kamu sama Alex menerima keputusan ini, dan kalian akan cepat move on satu sama lain. Maafin saya Kayla."
Kayla menarik paksa sudut bibirnya, "Saya pernah bilang kan sama Om, kalo saya pengen yang terbaik buat Alex. Om ingat?"
Om William menatap Kayla seraya tersenyum. "Ya, saya ingat."
Memori keduanya pun berputar ke kilas balik obrolan malam itu. Ketika Om William mengantar Kayla pulang setelah menjenguk Alex di rumah sakit. Kala itu Alex dan Kayla dibawa ke rumah sakit sepulang dari camping sekolah, pasca tersesat di hutan. Alex mengalami kecelakaan di hutan yang menyebabkan kakinya harus dipasangi gips, dan Kayla mengalami dehidrasi berat.
Ya, Kayla masih ingat malam itu adalah kali kedua ia bertemu dengan Om William, setelah pertama di pesta peresmian sekaligus ulang tahun Alex. Om William yang menawarkan diri untuk mengantar Kayla pulang, saat itulah mereka bertukar pikiran, membicarakan tentang Alex. Om William pun tidak melupakan malam itu, dimana dia berkenalan dengan seorang gadis yang baik, yang telah berhasil mengubah putranya yang keras kepala menjadi penurut kembali.
Om William merasa buruk, dulu dia meminta Kayla untuk mendampingi Alex. Tapi yang terjadi sekarang malah berbalik, dia meminta Kayla untuk menjauhi Alex. Tidak tahu diri sekali dia, harusnya dia malu kan pada Kayla. Tapi Om William adalah seorang pebisnis kelas atas yang berprinsip selalu mengedepankan logika dibanding perasaan. Dia tidak akan mengubah keputusannya dengan mudah.
__ADS_1
"Saya pengen yang terbaik buat Alex, dulu dan sekarang. Dulu karena saya kasian sama dia, sekarang karena saya mencintai dia. Saya ngerti kenapa Om lakuin ini, dan saya..." Kayla menghela nafas pelan ke udara, "..saya bisa terima." lirihnya getir.
"Maafin saya, Kayla." sesal Om William.
Sungguh kali ini Om William merasa menyesal. Namun dia tetap pria yang berprinsip, dan tidak mungkin menarik ulur keputusannya.
"Mungkin buat saya dan Alex ini berat Om, dan tentunya karena ini bukan yang kita mau. Tapi kalo emang ini yang terbaik buat Alex, saya nggak akan nentang keputusan Om. Saya nggak papa." tutur Kayla getir.
"Alex beruntung mendapatkan cinta setulus ini dari kamu Kayla, dan saya malah menghancurkannya. Saya mengubah keberuntungan itu menjadi kesialan dengan memisahkan kalian." gumam Om William dalam hati.
... ___________________...
"What?? Demi apa?!" histeris Bima.
"Serius lu Al??" timpal Vicky tak percaya.
"Bercanda kan!" Sandi terkekeh, "Masa' jadi kayak gini sih!"
Tentu mereka bertiga terkejut dengan penuturan Alex barusan. Bagaimana tidak, hubungannya dengan Kayla yang terlihat baik-baik saja, sekarang malah berakhir tiba-tiba. Pertunangan mereka dibatalkan, secara mendadak dan secara sepihak pula. Alex mendengus frustasi lalu membungkukkan punggungnya dan memegang kepala dengan kedua tangannya, serta menopangnya dengan siku yang ia letakkan di atas lutut.
"Tapi ini bukan keputusan final kan? Bokap lu cuman ngegertak doang kan? Enggak serius" ujar Bima.
"Elu pikir kenapa bokap gue sampe nyamperin ke rumah Kayla trus ngomong sama mami dan Om nya juga? Itu enggak serius?" kesal Alex.
Bima, Sandi, dan Vicky terbungkam melihat kegalauan Alex.
"Mana Om Iwan sama Tante Nadia udah muak banget sama gue. Mereka sampe nerima dengan senang hati keputusan bokap gue. Nyesek bro!!"
"Kok bisa?" timpal Sandi.
"Bokap gue ngomong kasar, ngerendahin Kayla, orang tua mana yang terima anaknya digituin!"
Vicky mendesah menyesalkan hal itu, Bima dan Sandi pun saling melirik lirih. Siapa yang menyangka hal seperti iní akan terjadi pada hubungan Alex dan Kayla.
"Jangan nyerah bro, coba lagi! Elu pejuang cinta kan." ujar Bima.
"Hari ini nyokap gue kesana lagi, dan mereka tetap nolak. Tapi nyokap gue juga bilang gitu, jangan nyerah. Nyokap gue juga belum nyerah kok, cuman gue takut aja."
"Takut kehilangan Kayla maksud lu?" timpal Sandi.
Bima dan Vicky berdecak kesal mendengar pertanyaan Sandi yang tak memerlukan jawaban.
"lya gue ngerti, tapi elu sama sekali nggak ngabarin kita apa-apa loh berhari-hari. Coba lu curhat dari sebelumnya, kan kita bisa nyemangatin lu." ujar Sandi mengalihkan.
"Sorry bro, bukannya gue nggak nganggep kalian ya, tapi gue kalut banget sumpah! Hp gue juga diambil sama bokap. Gue jadi nggak bisa ngehubungin siapapun."
Mereka pun ber Oh ria tanpa suara.
"Gue ngerti, Al. Pasti berat banget ya buat lu" ujar Vicky sambil menepuk pundak Alex.
"Emang gimana sih masalahnya, kok bokap lu sampe mutusin pertunangan lu sama Kayla?" tanya Bima hati-hati.
"Kalian udah tau kan kalo bokapnya Kayla itu.. bukan orang baik, mucikari. Nah itu masalah awalnya, bokap gue nggak suka. Trus waktu itu kan gue juga udah bawa-bawa polisi, orang-orang bejat itu ditangkep dan hotelnya ditutup. Kasusnya udah beres kok padahal, gue sendiri yang ngehandle semuanya sampe selesai"
Bima, Sandi, dan Vicky mengangguk mengerti. "Jadi maksudnya, karena bokap lu nggak sudi berbesanan sama bokapnya Kayla.. pertunangan lu sama Kayla diputusin?" ujar Bima.
Alex mendengus panjang. "Itu yang pertama. Dan yang kedua ini gue nggak ngerti. Masa' bokap gue bilang kalo tindakan gue ngelaporin orang-orang bejat itu ke polisi tuh, salah. Karena gue yang bikin bisnis gelap mereka hancur, dan gue bikin mereka mendekam di penjara. Katanya.. mereka bisa balas dendam sama gue, dan nggak bakal ngelepasin gue."
"Wah.. gawat dong!" ujar Sandi.
"Kalo gini sih.. beneran serius Al masalahnya" timpal Vicky.
"Tapi mereka semua udah dipenjara, termasuk bokapnya Kayla. Ya meskipun polisi masih nyelidikin kemungkinan kalo masih ada orang mereka yang belum ketangkep" sahut Alex.
"Buat gue masalah ini udah selesai, Kayla selamat dan gue nggak peduli apa-apa selain itu. Soal bokapnya Kayla itu narapidana gue nggak masalah kok, bokap gue aja yang besar-besarin masalah. Enggak ngerti gue kenapa bokap gue tuh bisa sampe mikir buat misahin gue sama Kayla." lanjutnya lalu mengusap wajahnya frustasi.
__ADS_1
"Al, kalo menurut gue.. ini menurut gue aja loh ya-.."
"lya apaan?" kesal Sandi saat Vicky ingin mengemukakan pendapat tapi agak sungkan.
Vicky berdecak malas menanggapi Sandi. "Menurut gue.. bokap lu ada benernya juga."
"Vick? Kok lu jadi belain bokapnya Alex sih?" sewot Bima, sementara Alex masih diam mendengarkan.
"Bukan gitu bro, kalo Om William misahin Alex sama Kayla gue juga nggak setuju lah!" sungut Vicky.
"Jadi maksud lu gimana?" tanya Alex tak sabar.
"Gini, soal orang-orang bejat yang lu usik itu.. mungkin Om William benar kalo mereka bisa balas dendam sama lu Al"
"Itu cuman kemungkinan kecilnya Vick, bokap gue aja yang kelewat parno. Lagian mereka udah dihukum, jaringan mereka udah berhasil dijangkau sama polisi. Jadi kemungkinan masih ada orang mereka yang bebas itu tipis." jelas Alex.
"Tapi Al, bokap lu sama Si KINGkong itu kan sama-sama pebisnis, ya pasti bokap lu taulah siapa musuh yang dia hadapin. Bokap lu nggak nganggep soal ini sepele, itu nggak salah kok. Kalo elu emang diincar gimana, kan bahaya, nggak mungkin bokap lu diam aja." lanjut Vicky.
"Trus hubungan gue sama Kayla yang harus dikorbanin, gitu?" sewot Alex ngegas.
"Yah.. kalo itu sih gue tetap nggak sependapat."
"Ah elu Vick! Bilang aja elu sependapat tapi enggak enakan ngomongnya sama Alex."
Vicky menoyor kepala Sandi yang bicara seenaknya. "Gue nggak bakalan tenang diatas kesusahan sahabat gue, pe'ak!!"
"Sebenernya gue juga setuju sih sama Vicky soal Om William yang nggak nyepelein masalah itu. Gimanapun juga kan dia mikirin keselamatan elu. Tapi soal Om William yang ngomong kasar sama ngrendahin Kayla... itu keterlaluan sih" kata Bima jujur.
"Kalo Om sama Maminya Kayla marah, wajar. Tapi.. hubungan kalian nggak seharusnya dikorbanin juga." lanjut Bima.
"lya gue tau. Bokap gue keterlaluan, dan gue ngerti Om lwan sama Tante Nadia kecewa sama gue. Gue nyesel sampe kejadian begini" kata Alex lesu.
Vicky menepuk pundak Alex, "Sabar ya bro!"
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya kok, elu jangan putus asa dong!" timpal Bima.
"Hm. Gue sama sekali nggak niat buat nyerah dan lepasin Miss Kissable, cuman sekarang ini gue lagi bingung harus apa, gak bisa mikir." Alex mengguyur rambutnya.
"Jadi, apa yang bakal elu lakuin buat merjuangin cinta lu?" tanya Sandi.
"Itu dia gue belum tau. Kalo gue ngomong lagi sama Om Iwan atau Tante Nadia.. buat saat ini kayaknya gak bisa. Gue harus nunggu sampe perasaan mereka agak baikan, walaupun buat mereka ngelupain kejadian itu tuh nggak mungkin. Seenggaknya gue harap mereka mau ngasih gue kesempatan kedua."
"Trus Om William?"
Alex menarik sudut bibirnya kecut. "Gue nggak ngerti. Bokap gue berkali-kali bilang kalo keputusannya itu yang terbaik, tapi gue nggak bisa terima. Buat gue itu keputusan terburuk, gue yakin kok jalan gue nggak buntu sampe gue terpaksa nerima jalan yang diambil sama bokap. Enggak mungkin gue biarin hubungan gue sama Miss Kissable kandas ditengah jalan."
"Tapi.. gimana kalo jalan itu yang bener, dan keputusan Om William emang yang terbaik?" ujar Vicky berargumen.
Alex memicing protes. "Terbaik dari mananya, gue nggak ngerti kenapa harus itu yang terbaik?!"
"Gue juga nggak tau sih, tapi mungkin aja kan. Yang jelas Om William tuh mikirin elu, demi keselamatan elu.. elu harus mutusin hubungan lu sama anak dari salah satu orang KINGkong itu" ujar Vicky beo, ia mengatakan dengan ragu sambil berpikir.
Alex menatap tajam Vicky. Baru kali ini Vicky tak mendukungnya dan tak mengerti dirinya. Biasanya kan Vicky selalu jadi yang pertama diantara teman-temannya, yang peka terhadap dirinya, dan mengerti perasaannya. Alex selalu setuju dengan pemikiran Vicky yang lebih mengerti dirinya, dan banyak memberikan solusi daripada bertanya-tanya kepo seperti Sandi. Tapi kali ini.. ia tidak sepemikiran.
Bagaimanapun juga Alex tidak merasa bahwa keputusan papanya membatalkan pertunangannya dengan Kayla dan menjauhkan dirinya dari gadis itu, adalah benar. Kenapa cintanya yang harus dikorbankan?
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1