Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sakit


__ADS_3

Kayla membuka matanya perlahan-lahan dan mengerjap beberapa kali, menatap mami dengan sendu. Kemudian Kayla terkesiap dan buru-buru membetulkan syal yang membalut lehernya untuk menutupi bekas cekikan Alex kemarin.


Seketika mami berteriak kaget melihat keadaan Kayla, mami terbelalak dan reflek meletakkan telapak tangannya ke mulut untuk menutupi mulutnya yang terbuka karena saking kagetnya.


Bagaimana tidak? Wajah Kayla terlihat pucat, matanya sayu, dan ada beberapa goresan di pipinya. Dan, apa itu? Kayla seperti menyembunyikan sesuatu di balik syal yang membalut lehernya.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya mami panik seraya bergegas duduk di sisi ranjang Kayla.


Mami memegang wajah Kayla dan menyentuh kening Kayla dengan punggung tangannya. Kayla tersenyum kikuk.


"Ya ampun sayang.. ini muka kamu kenapa? Kok pucat banget gini, badan kamu juga panas, kamu demam!" ucap mami setelah menjauhkan tangannya dari wajah Kayla, lalu beralih mengusap kepala putri kesayangannya itu.


"Gak papa, mi.. Lily cuman gak enak badan."


"Kemarin kamu bilang cuman pilek sedikit, ini kok sampai begini sih sayang..?" tanya mami lagi sambil mengelus-elus bekas cakaran dipipi Kayla.


"Ini.." Kayla gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Ini.. Lily.. emm.. Lily kemarin salah makan Mi. Alergi" itu yang keluar dari mulut Kayla.


Kayla berusaha menyembunyikan raut paniknya dari mami agar mami tidak curiga. Pokoknya mami gak boleh sampai tahu kalau ini adalah luka bekas cakaran, Kayla berusaha berdalih meskipun harus berbohong. Sebenarnya Kayla paling benci kebohongan, tapi ia membohongi mami hari ini! Kayla hanya tidak mau mami khawatir dan berpikiran macam-macam.


"Alergi?"


"lya, mami kan tau sendiri kalo alergi Lily kambuh tuh kayak gimana. Lily meriang..pilek.. gatal-gatal, dan ini kemarin gatal banget mi, jadi Lily garuk deh." lanjut Kayla sambil cengar-cengir dan memegang Pipinya.


Mami menggeleng seraya memanyunkan bibirnya. "Kenapa digaruk..? Kan jadi keliatan bekasnya."


"Maaf Mi, gatel banget soalnya.." sahut Kayla dengan nada manja.


"Kamu bikin mami khawatir aja, ini sekarang kamu demam lagi. Biasanya kalo alergi, minum obat trus tidur, bangunnya udah enakan."


"Em.. ini. Lily gak tau Mi, pokoknya Lily masih gak enak badan." sahut Kayla tanpa menatap mami karena ia benci harus berbohong.


Mami mendengus, "Yaudah, kamu gak usah sekolah dulu, nanti mami izinin ke guru kamu. Sekarang kamu makan dulu ya, sebentar mami ambilin makanannya. Tadi malam pas mami pulang, mami liat kamu udah tidur, jadi mami gak bangunin kamu buat makan. Maaf ya sayang.."


Kayla hanya tersenyum menanggapi, setelahnya mami berlalu menuju dapur untuk mengambilkan makanan.


Kayla memang merasa tidak enak badan pagi ini, sebenarnya sudah sejak tadi malam. Makanya Kayla tidak beranjak sedikit pun dari kasurnya, ia bahkan tidak makan sejak kemarin siang. Bukan karena Kayla malas atau tidak lapar, tapi ia tak ***** makan sama sekali setelah insiden sepulang sekolah kemarin yang membuatnya merasa buruk dan trauma. Kayla sampai demam karena terlalu memikirkan insiden itu. la berusaha melupakan segalanya tentang pembullyan yang ia alami kemarin, melupakan segala tentang Alex dan aksi nekatnya itu. la berusaha mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya dari hal-hal buruk itu, ia memejamkan matanya tapi sangat sulit tertidur. Bahkan saat mami pulang kerja tadi malam, Kayla sebenarnya belum bisa tertidur.


Tidak lama kemudian, mami datang dengan sebuah mangkuk di tangan kanannya dan segelas air hangat di tangan kirinya.


"Ini sayang, mami bikinin kamu sup jagung. Mami gak tau kalo kamu sakit, tadinya mami bikin sup jagung karena kemarin kamu bilang kalo kamu pilek, jadi.. baik sarapan dengan sup jagung. Eh ternyata anak mami sekarang demam. Maaf yah sayang, mami terlalu sibuk sampe lalai merhatiin kamu."


Mami mulai menyendokkan sup jagungnya dan mengarahkannya ke mulut Kayla.


"Gak papa, Mi.. Lily cuman demam sedikit kok, istirahat aja juga cukup.. ntar juga sembuh.." sahut Kayla sebelum membuka mulutnya dan menerima suapan mami.


Setelah selesai sarapan dan minum obat, Kayla beristirahat kembali. Mami sebenarnya berniat untuk tidak masuk kerja hari ini karena mau menjaga Kayla. Sejak tadi, mami hanya terdiam, duduk menatap Kayla dan enggan beranjak meninggalkannya, karena khawatir. Tapi Kayla terus meyakinkan mami untuk berangkat kerja dan mengatakan kalau ia akan baik-baik saja sendirian, apalagi setelah makan sup buatan mami dan beristirahat. Akhirnya mami menuruti Kayla untuk berangkat kerja, karena memang dikantor juga sedang banyak pekerjaan hari ini dan sulit sebenarnya untuk meminta izin.


Setelah mami pergi, Kayla termenung sendiri. Sebenarnya Kayla ingin sekali curhat dengan mami, membagi rasa sedih dan sakitnya pada mami, bercerita tentang semua hal buruk yang ia alami belakangan ini.


Tapi sekali lagi, Kayla tidak mau menyusahkan mami, membuat mami khawatir dan panik. Kayla tidak mau terlihat lemah yang nantinya juga akan melemahkan mami dan membuat mami teringat akan kelemahannya dimasa lalu. Kayla memilih menanggung kesedihannya seorang diri, menyimpan rasa sakitnya rapat-rapat. Meski saat ini ia merasa lemah dan putus asa, ia tetap diam dan menyembunyikannya dari mami.


... ________________...


Pagi ini Alex sempat merasa dilema untuk masuk sekolah atau tidak. Di satu sisi ia merasa malu atas apa yang ia perbuat kemarin, semua orang di sekolah pasti membicarakan insiden kemarin. Entah bagaimana tanggapan mereka, jika Alex menampakkan wajahnya di sekolah hari ini. Jika Alex menjadi bahan gosip dan pusat perhatian.. itu sudah biasa, tapi kali ini.. Alex akan merasa risih karena ia memang melakukan kesalahan yang tak sepantasnya ia lakukan.


Tapi disisi lain, jika Alex tidak masuk sekolah.. maka mereka semua mungkin berpikir bahwa Alex merasa malu atau takut, dan itu akan terlihat sebagai keganjilan dan kelemahan untuknya. Padahal selama ini ia disegani dan ditakuti karena kesempurnaan dan kekuatannya. Jika sampai mereka menganggap Alex punya kelemahan, maka itu akan menjadi aib baginya dan sangat mempengaruhi reputasi dan harga dirinya.


Setelah berpikir panjang, akhirnya Alex berangkat ke sekolah. la harus memastikan pandangan orang-orang terhadapnya tidak berubah, Alex harus menjaga namanya agar tetap dipuja dan tidak diremehkan. Mereka tidak boleh menganggap Alex memiliki cela yang nantinya bisa mereka jadikan peluang untuk menantangnya. Jadi Alex lebih memilih mengesampingkan rasa malu dan rasa bersalahnya, dengan menunjukkan ekspresinya yang seperti biasa di hadapan semua orang. la tidak boleh terlihat berubah atau terpengaruh dengan insiden kemarin yang cukup menggemparkan itu, meski semua orang akan membicarakannya.


... ________________...


Kayla menatap pantulan dirinya di cermin, menyentuh pipinya yang masih terasa sedikit perih akibat luka cakaran itu dan lehernya yang juga masih nyeri. la kemudian keluar kamar dan mengambil kotak P3K, ia berniat mengoleskan salep pada leher dan rahangnya yang terasa nyeri dan menempelkan plester pada pipinya yang luka. Namun, salep dan plester yang dicarinya di kotak P3K itu tidak ada.


"Yah... abis. Terpaksa deh harus beli dulu." gumamnya lesu, seraya membereskan kotak P3k dan menaruhnya kembali ke tempat semula. Kayla lalu beranjak keluar rumah, menuju apotek untuk membeli salep dan plester yang ia butuhkan.


Para pembeli di apotek lumayan banyak siang ini dan penjaga apoteknya hanya satu orang jadi Kayla harus menunggu dan mengantri dulu untuk membeli salep dan plesternya.


Seorang gadis datang dan berdiri di samping Kayla, dia memakai seragam SMA yang ditutupi hoodie, dia terlihat gelisah dan buru-buru. Kayla tersenyum padanya dan gadis itu membalas senyuman Kayla dengan kaku, Kayla tebak gadis ini punya masalah yang membuatnya gelisah, wajahnya terlihat pucat dan berkeringat. Kayla memang tidak mengenalnya tapi mereka sering bertemu, karena selalu naik angkot yang sama sepulang sekolah.


Tiba saatnya giliran Kayla, Kayla mempersilahkan gadis disampingnya lebih dulu, karena gadis itu terlihat tidak sabar dan gelisah sejak tadi. Tapi gadis itu sungkan, ia menolak dan mempersilahkan Kayla terlebih dahulu, karena memang Kayla yang lebih dulu datang. Kayla pun menyebutkan apa yang ingin ia beli, sembari menunggu, Kayla beberapa kali melirik gadis di sampingnya yang berdiri dengan gelisah sambil memilin-milin tangannya, agaknya ia berusaha menghilangkan kegelisahannya? Atau kegugupannya? Apa ia gugup? Keringat terus bercucuran dari kening dan pelipisnya, ia gemetaran. Dan Kayla perhatikan, ia seperti menahan tangisnya karena matanya terlihat berkaca-kaca dan merah, ia juga terus menggigit bibirnya, deru nafasnya juga terdengar tidak beraturan.

__ADS_1


"Ini dek!" si Mbak penjaga apotek menyerahkan sebuah kresek putih bening yang berisi salep dan sekotak plester.


"Oh, ia Mbak." Kayla sedikit terkesiap karena ia sejak tadi terlalu memperhatikan gadis disampingnya.


Sembari Kayla merogoh dompetnya untuk mengambil uang dan membayar belanjaannya, si Mbak penjaga apotek menanyakan apa yang ingin dibeli gadis berhoodie disamping Kayla.


"Mau beli apa dek?"


"I-..itu.." ia terdengar gugup.


"Saya mau beli.. t-test...pack" lanjutnya pelan dan terdengar gemetar.


Degg


Kayla yang mengeluarkan uang dan hendak menyerahkannya pada si Mbak pun lantas terdiam, sedikit terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan gadis disampingnya itu.


Gadis itu terlihat risih sekarang, ia menarik topi hoodienya untuk menyembunyikan wajahnya. Si Mbak nampak mengernyit bingung, lalu mengambilkan satu sachet testpack yang diminta gadis berhoodie itu.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, gadis itu bergegas menyerahkan selembar uang 5000 an pada si Mbak dan buru-buru pergi.


"Eh, dek.. tunggu kembaliannya!" seru si Mbak saat gadis berhoodie itu beranjak dari apotek.


Gadis itu sama sekali tak menghiraukan seruan si Mbak, ia pergi begitu saja. Meninggalkan Kayla dan si Mbak penjaga apotek yang masih bingung. Kayla kemudian membayar belanjaannya dan beranjak pulang.


... ....


... ....


... ....


Sepanjang perjalanan pulang, Kayla terus memikirkan gadis berhoodie tadi.


"Dia beli testpack?" gumam Kayla dalam hati.


Dia masih SMA, seumuran Kayla. Untuk apa dia membeli alat tes kehamilan? Mungkin saja dia membelinya untuk orang lain, tapi dari gelagatnya.. sepertinya dia membeli alat itu untuk dirinya sendiri. Apa dia... ??


Jantung Kayla seketika berdegup kencang, membayangkan apa yang mungkin terjadi pada gadis itu. Apalagi tadi Kayla melihat ekspresi gadis itu, dia pucat, gugup, gelisah, dan gemetaran. Bukankah itu menandakan kalau dia sedang ada masalah. Dia sepertinya ketakutan, dan ingin segera memastikan sesuatu yang membuatnya gelisah. Kayla cemas, apa mungkin dia merasakan tanda-tanda kehamilan sampai dia membeli testpack? Kalau memang benar, berarti dia sudah...


Kayla langsung menggelengkan kepalanya setelah itu. "Enggak enggak! Mikirin apa sih aku? Aku gak boleh su'udzzhon sama orang.


"Hai.. Kayla!" sapa Pak Bayu ramah seraya berdiri.


"Pak Bayu"


Pak Bayu tersenyum seraya menyerahkan sebuah keranjang yang dipenuhi buah-buahan. Seperti yang biasa orang bawa saat menjenguk orang sakit. "Buat kamu"


"Terima kasih Pak." Kayla menerimanya dengan canggung.


Pak Bayu menatap Kayla seksama dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kayla yang menyadarinya pun merasa risih dan mencoba mengalihkan perhatian Pak Bayu.


"Silahkan duduk, Pak!" ucap Kayla mempersilahkan seraya duduk lebih dulu, di kursi yang terletak di seberang Pak Bayu.


Kayla meletakkan keranjang buah dan kresek bening berisi salep dan plester yang baru ia beli.


"Oh?" Pak Bayu sedikit terkesiap kemudian duduk ditempatnya kembali.


"Apa kabar Kayla? Gimana keadaan kamu?" tanya Pak Bayu meskipun setelah melihat wajah Kayla Pak Bayu sudah tahu keadaannya.


"Saya baik Pak, seperti yang Bapak liat.Tadinya saya demam, tapi sekarang udah mendingan, cuman butuh istirahat aja."


Pak Bayu tersenyum kecut, Kayla bilang dia baik-baik saja? Padahal Pak Bayu bisa melihat dari wajahnya kalau Kayla telah banyak menangis, ada bekas luka di pipi dan rahangnya, mata dan bibirnya agak bengkak, dan sorot matanya sayu.


"Pak Bayu disini? Pak Bayu tau rumah saya?"


"Kayla, saya khawatir sama kamu. Hari ini di sekolah hampir semua orang membicarakan kamu, dan kejadian kemarin." ucap Pak Bayu dengan tatapan iba nya.


Kayla hanya menunduk.


"Makanya, sepulang dari sekolah saya langsung kesini. Saya mau liat keadaan kamu secara langsung, saya takut kamu kenapa-napa.


"Oh iya, saya tau alamat kamu dari data formulir murid baru, di kantor sekolah." lanjutnya.


"Kayla, saya gak tau tentang kejadian kemarin, saya hanya mendengarnya dari beberapa murid dan juga guru." Pak Bayu menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Jujur.. saya sangat terkejut mendengarnya, saya marah sekaligus sakit hati."


Kayla langsung mengangkat kepalanya saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Pak Bayu.


"Saya merasa bersalah, Kayla. Saya merasa gak berguna, saya gak ada buat kamu disaat kamu sendirian kemarin, disaat kamu membutuhkan seseorang untuk mendukung kamu dan membela kamu." kata Pak Bayu lirih.


Kayla terdiam mendengarnya.


"Maafkan saya..."


"Pak? Bapak ngomong apa? Kenapa Bapak jadi ngerasa bersalah? Kejadian kemarin sama sekali gak ada hubungannya sama bapak."


"Tapi saya-.."


"Pak, saya bukan siapa-siapa bapak. Bapak gak perlu khawatirin saya, saya udah baik-baik aja kok. Kemarin saya emang sendirian, dan gak ada yang nolongin saya, tapi sekarang saya udah gak papa."


"Tapi saya sayang sama kamu, Kayla. Saya gak rela kamu diperlakukan kayak gitu"


"Tapi gak bisa ngelakuin apa-apa kan? Gak berani ngelawan Alex, selalu begitu." batin Kayla kesal.


Kayla kesal, bukannya ia tidak menghargai perhatian Pak Bayu, tapi setiap kali Kayla dibully.. Pak Bayu selalu menghiburnya dengan kata-kata seperti itu, namun tak bertindak sama sekali. Dia kan guru olahraga yang disegani dan juga banyak dikagumi, tapi sayangnya dia sama saja dengan guru-guru yang lain. Tak berani menentang Alex.


"Anak itu benar-benar keterlaluan!" gumam Pak bayu geram. "Dan kamu tau, Kayla? Hari ini dia masuk sekolah seperti biasa, seperti gak pernah terjadi apa-apa. Dia gak keliatan terpengaruh sama perbuatan kurang ajarnya itu. Benar-benar..!!" Pak Bayu menggeram benci.


Kayla menghela nafas panjang. "Percuma juga kalo cuman marah-marah sendiri." gumam Kayla dalam hati.


"Gimana reaksi para guru? Apa dia dipanggil ke ruang BK?"


Pak Bayu menggeleng lemah.


Kayla pun mendengus lesu. Meskipun kasus yang Alex lakukan kali ini serius.. Alex tak mendapat peringatan sama sekali atas perbuatan kurang ajarnya itu? Para guru seolah tak peduli dengan kasus sebesar ini? Atau mereka sebenarnya tak berani. Kayla hanya bisa menggeleng tak percaya.


"Gak ada yang melapor" singkat Pak Bayu.


Kayla mendengus jengkel seraya memutar bola matanya. "Emangnya siapa yang berani ngelapor? batin Kayla.


"Bukannya.. semua orang tau ya Pak? Guru-guru juga tau kan, apa harus nunggu ada yang ngelapor dulu baru ditindak?"


Pak Bayu menunduk, merasa malu dan tersindir atas ucapan Kayla. Benar, kenapa harus menunggu laporan dulu baru ditindak?Toh, mereka semua sudah tau kan perkaranya.


"Saya ngerti Pak" ucap Kayla dengan ekspresi datar, terdengar dingin dan lirih.


"Oh iya, tadi kamu dari mana?" tanya Pak Bayu mengalihkan pembicaraan.


"Apotek" singkat Kayla jutek, sedikit kesal.


"Keliatannya kamu gak beli obat, apa ini? tanya Pak Bayu seraya melirik kresek bening yang sebelumnya Kayla letakkan di meja yang ada di antara mereka.


"Itu salep sama plester, buat ini" sahut Kayla sambil menyentuh lehernya.


"Saya bantu pake'in yah." Dengan antusias Pak Bayu meraih kresek itu dan mengeluarkan sebuah salep.


"Gak usah Pak!" sergah Kayla cepat seraya mencoba merebut salep dari tangan Pak Bayu.


Tapi Pak Bayu memegang salepnya dengan kuat sehingga tangan Kayla terhenti di sana dan malah bersentuhan dengan tangan Pak Bayu. Keduanya lantas mengangkat kepala dan saling menatap.


Kayla mengalah, ia melepaskan tangannya lebih dulu. "Gak usah Pak, biar saya sendiri aja" tolak Kayla lagi.


"Terima kasih bapak udah peduliin saya.Terima kasih juga karena bapak udah mau datang kesini buat mastiin keadaan saya."


Pak Bayu membuka mulutnya untuk menjawab Kayla, tapi sebelum Pak Bayu mengatakan sesuatu, Kayla berbicara lebih dulu.


"Saya mau istirahat, Pak. Bapak nggak usah khawatir ya, besok saya udah bisa masuk sekolah lagi kok." ucap Kayla seraya berdiri.


Secara tidak langsung meminta Pak Bayu pergi. Kayla tahu, yang ia lakukan ini tidak baik, tapi ia merasa terganggu dengan kehadiran Pak Bayu.


Diam-diam, ada dua orang yang sedang mengintip dari balik pohon besar disisi jalan yang ada di dekat rumah Kayla. Keduanya nampak mengawasi Kayla dan Pak Bayu yang sedang mengobrol sejak tadi.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2