Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Tuntutan


__ADS_3

Nama Vivi terdaftar dalam agenda Alex dan Kayla. Kali ini keduanya mengunjungi rumah Vivi bersama Bima, Sandi, dan Vicky. Dengan kehadiran mereka bertiga, yang juga tentu membuat kembalinya hubungan baik antara mereka dan Alex, membuat semangat Alex semakin besar. Sekarang Alex yakin semuanya akan baik-baik saja.


Agenda permintaan maaf hari ini berlangsung tegang, karena mereka dihadapkan langsung dengan kedua orang tua Vivi yang tidak terima atas pembullyan yang dialami anaknya. Ayah Vivi adalah seorang politikus yang cukup punya nama, dan ibunya seorang pengacara. Kedua orang tua Vivi menuntut Alex, Bima, Sandi, dan Vicky atas tuduhan pencemaran nama baik dan juga fitnah yang menimpa Vivi.


Vivi dulunya seorang wakil ketua Osis, dia senior Alex dan ketiga temannya. Mereka memfitnah Vivi, lantaran Vivi cukup berani melaporkan tindakan tidak sopan Bima dan Sandi. Tapi fakta yang sebenarnya telah diputar balikkan oleh Alex, sehingga Vivi lah yang terlihat bersalah, bukan Bima dan Sandi. Akhirnya Vivi diberhentikan dari sekolah karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah, dengan bukti video palsu yang diberikan oleh Alex dan teman-temannya.


Karena itulah orang tua Vivi menuntut mereka untuk mempertanggung jawabkannya melalui jalur hukum. Mereka berempat tentu tegang dan gelisah mendengar tuntutan ini, begitu juga Kayla.


Mereka tak menyangka sama sekali jika masalahnya akan membesar seperti ini. Hari ini mereka pulang dengan perasaan yang kacau.


"Kemarin urusannya gak serumit ini kok, bro!" ujar Alex setelah melirik wajah teman-temannya yang kusut.


"Kemarin lu kemana?" tanya Vicky.


"Ke rumah Ello."


"Ello maafin lu gitu aja?" tanya Sandi.


"Dia ngasih syarat sih, tapi no problem lah..dia cuman minta supaya orang tuanya bisa kerja lagi perusahaan gue."


"Al, ayahnya Vivi kan politikus, mungkin dia salah satu rekan bisnis papa kamu atau gimana, aku rasa ini masih bisa dibicarain deh. Kita bisa usaha sebelum dia benar-benar nyerahin urusan ini ke pengadilan!" kata Kayla membuat Bima, Sandi, dan Vicky agak lega


"Tapi ibunya pengacara, Miss Kissable!Gampang buat mereka menangin kasus ini, lagian kita emang salah, gak mungkin bisa ngebela diri"


"Aku tau, tapi kita masih bisa usaha biar mereka mau maafin kalian dan ngebatalin tuntutan ini"


"Bener bro, gue setuju sama Kayla!" timpal Bima.


Alex terdiam, melamun. "Al, fokus nyetirnya!" sergah Kayla.


Alex hanya mengangguk kecil.


"Bro, kalian gak nyesel kan ikut gue?" tanya Alex.


"Nyesel? Kenapa, karena respon orang tuanya Vivi?" tanya Vicky balik.


"Hm."


"Bro, selama ini kita gak pernah nyesel ngikutin elu. Mau elu bener ataupun salah, kita tetap ngikutin elu kan!" ujar Bima.


"Ho'oh, lagian yang elu lakuin kali ini bener kok. Ini udah resiko kita kan, kita harus tanggung jawab sama perbuatan kita. Gue sadar sih kita emang keterlaluan, dan kasus Vivi ini.. awalnya gara-gara gue juga kan." ujar Sandi.


Alex terkekeh. Ya, Alex ingat itu. Demi membela Sandi yang sialan, ia memanipulasi keadaan dan membuat rencana licik untuk memfitnah Vivi. la merasa bodoh, dulu ia selalu melakukan sesuatu sesukanya tanpa peduli apapun. Lihatlah sekarang, ia dalam masalah karena kebodohannya itu. Ah, bukan hanya bodoh.. tapi kurang ajar.


... ....


... ....


... ....


Sepanjang hari Alex memikirkan kasus ini, kasus Vivi yang terjadi hampir satu tahun yang lalu, yang ia anggap remeh dan tidak penting. Tapi sekarang kasus itu bukan hanya sebuah masalah, melainkan tindak kejahatan yang harus dipertanggung jawabkan. Ini bukan hanya tentang Alex, tapi juga ketiga temannya. Hari ini sebelum masuk ke rumah Vivi, Alex begitu senang karena akhirnya Bima, Sandi, dan Vicky kembali seperti dulu. Mereka menerima Alex lagi, canda tawa mereka yang Alex rindukan telah Alex dapatkan kembali. Kehangatan rangkulan mereka pun Alex rasakan kembali. Tapi baru beberapa menit mereka berbaikan, masalah besar datang. Alex harap mereka benar-benar tidak menyesal telah kembali bersamanya, dan Alex akan memastikan bahwa mereka tidak akan menyesal.


Setelah berpikir panjang akhirnya Alex menerima saran Kayla tadi siang. la meminta orang kepercayaannya untuk mencaritahu tentang Pak Satria, ayahnya Vivi. Dan ternyata Pak Satria adalah investor besar di tiga buah perusahaannya, juga beberapa proyek papanya yang masih berjalan. Alex memijit keningnya pusing. bagaimana ini, apa ia harus melibatkan papanya dalam masalah ini? Alex berencana untuk bicara sekali lagi dengan Pak Satria, mungkin dampaknya akan buruk bagi perusahaannya, tapi nama baiknya juga nama baik papanya tidak boleh sampai rusak gara-gara kasus ini.


Sebelum pergi menemui Pak Satria, Alex memberitahu Kayla dan juga ketiga temannya. Alex memutuskan pergi sendirian dan berbicara secara pribadi dengan Pak Satria, untungnya Pak Satria mau berbesar hati dan menyetujui pertemuan dengan Alex.


"Oh, bagus kamu tau siapa saya." kata Pak Satria cuek.


"Saya masih berharap agar Bapak membatalkan tuntutan Bapak terhadap kami." ucap Alex formal.


Pak Satria terkekeh, "Saya bisa membatalkan tuntutan itu, tapi saya gak bisa lupa soal apa yang anak saya alami. Gara-gara kebrengsekan kalian, dia mengalami stres!"


"Saya ngerti, Pak. Karena itu kami datang langsung ke rumah Bapak buat minta maaf."


"Kenapa baru sekarang? Kejadian itu udah hampir setahun, saya juga udah berusaha mati-matian buat bersihin nama baik anak saya yang kalian coreng! Saya juga minta sekolah untuk menghukum kalian, tapi apa, saya dihina! Kamu kira saya bisa terima itu??" sergahnya meninggi.


"Saya sangat menyesal, Pak. Mungkin kami terlambat menyadari kesalahan kami, tapi kami benar-benar meminta maaf atas kejadian itu. Bapak bisa melakukan apa yang menurut Bapak perlu, tapi pasti ada jalan lain selain bawa kasus ini ke meja hijau kan, Pak?"


Pak Satria terdiam marah. la tentu memikirkan posisi dan aksesnya juga didalam perusahaan Pak William dan anak yang duduk di depannya ini. Selama ini ia memang menginvestasikan 70% hartanya di perusahaan ternama itu, ia banyak menanam saham di sana, itulah yang membuatnya terpaksa mengalah dengan keadaan yang sempat mengusik kehidupan putrinya. Tapi kelakuan anak-anak nakal itu membuatnya merasa tetap harus membalas dendam. Sekarang ia bimbang, disatu sisi ia ingin keadilan untuk putrinya, tapi disisi lain perekonomian keluarganya telah banyak bergantung pada perusahaan besar milik Pak William.


Keputusannya dan sang istri tadi siang memang telah mereka pikirkan secara matang, mereka tahu jika kasus ini sampai ke meja hijau, maka mereka akan berurusan dengan Pak William. Pak William bukan orang yang main-main, tapi demi keadilan untuk putrinya, istri Pak Satria meyakinkan dirinya agar menuntut Alex dan teman-temannya.


Sedangkan Vivi sendiri tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk bicara, bahkan hanya sekedar menemui Alex dan teman-temannya pun tidak. Sekarang Alex datang sendirian dan berbicara secara formal pada Pak Satria, seolah mereka benar-benar dalam meeting penting. Alex menunjukkan penyesalan dimatanya, itu seolah menggoyahkan keputusan Pak Satria. Sekali lagi Pak Satria memikirkan tuntutannya yang akan segera diurus istrinya besok. Mengingat istrinya adalah seorang pengacara, mudah saja bagi mereka menangani kasus ini. Tapi yang akan menjadi lawan mereka kali ini adalah anaknya Pak William, apa akan semudah kasus biasanya juga jika mereka tetap menuntut anak-anak ini?


"Gimana kalo saya cabut semua investasi saya di PT SWill Group?" ucapnya setelah berpikir panjang.


Alex tidak kaget mendengarnya. Meski itu akan berdampak pada perusahaannya, mengingat Pak Satria adalah salah satu investor terbesar di perusahaannya, tapi Alex bisa mempertimbangkannya. Mungkin itu akan lebih baik daripada Alex dan teman-temannya harus berurusan dengan pengadilan.


"Kalau Bapak yakin itu yang terbaik, saya tidak keberatan."


Pak Satria sedikit terkesiap dengan jawaban Alex. "Kamu sendiri yakin? Kamu tau, saya investor besar di perusahaan itu. Kalo saya keluar, akan ada dampak besar juga buat perusahaan. Dan, apa papa kamu tau soal kasus ini?"


"Saya rasa saya bisa ngehandle kasus ini tanpa papa saya. Saya sendiri juga megang beberapa bisnis, yang saya juga sangat tau kalo Bapak adalah investor besarnya."


Pak Satria mati kutu. Tadinya dia pikir Alex akan menolak bahkan memohon kepadanya agar tidak mencabut investasi di perusahaannya. Sekarang bagaimana dia akan menanggapi Alex, dia sendiri tidak sungguh-sungguh ingin mencabut investasinya. Jika istrinya tahu hal ini pasti istrinya akan marah, karena dia terlalu gegabah mengatakan akan mencabut investasinya. Sedangkan mereka kali ini punya kesempatan untuk membela putri mereka agar mendapatkan keadilan.


"Kalo itu keputusan Bapak, saya terima. Saya dan teman-teman saya sangat berterima kasih Bapak membatalkan tuntutan itu" ucap Alex lagi.

__ADS_1


"Ets.. tunggu, ini belum keputusan final saya. Besok akan saya pastikan, kalo surat panggilan dari pengadilan enggak datang ke kalian, berarti saya membatalkan tuntutan itu dan benar-benar akan mencabut investasi saya di PT SWill Group."


"Baik, Pak. Saya ngerti. Terima kasih karena Bapak mau mempertimbangkannya!"


... ....


... ....


... ....


Sementara disisi lain, Kayla sedang berbicara serius dengan seseorang yang melakukan video call dengannya.


Beberapa menit sebelumnya..


📱


Selamat malam.. apa kamu cewek yang tadi siang datang ke rumahku bareng Alex dan teman-temannya?


By: Vivi


Kayla menaikkan alisnya seketika, "Vivi?" gumamnya kecil.


📱


"lya benar"


Balas Kayla singkat. Tidak lama setelah itu panggilan video masuk, membuat Kayla bingung.


"Hah, Vivi video call?"


Dengan ragu Kayla menerima panggilannya. Muncullah wajah Vivi di layar ponsel Kayla.


"Hai.." sapa Vivi.


"Hai Kak.." balas Kayla agak canggung.


"Panggil Vivi aja"


"Kakak kan senior, gak enak dong aku manggil nama aja."


"Nama lu Kayla kan?"


"lya, kok Kak Vivi tau?"


Vivi mendengus senyum. "Gue tau, meskipun kita belum pernah ketemu. Satu sekolah kenal elu kan, jadi gak susah cuman buat cari tau nama lu ataupun nomer hp lu"


"Ah iya. Kak Vivi dapet nomer aku darimana?"


Kayla tersenyum, ternyata Vivi orangnya cukup ramah. Melihat gelagatnya, tidak heran jika dulu dia berani melawan Alex dan teman-temannya.


"Soal apa ya Kak?"


"Ya soal tadi siang. Btw, apa peranan lu dalam urusan mereka? Gue denger lu deket sama Alex, lu pacarnya?"


"Bukan Kak, cuman teman kok. Aku cuman bantuin mereka."


"Oke." Vivi mengangguk. "Jadi elu dukung mereka?"


"lya aku dukung mereka buat berubah jadi lebih baik."


"Dan lu.. juga keberatan sama keputusan orang tua gue tadi siang?"


Kayla bingung. "Emm... gimana ya Kak, mungkin sama kayak mereka aku kaget sih. Tapi orang tua Kak Vivi gak salah kok, Alex, Bima, Sandi, sama Vicky emang harusnya tanggung jawab kan sama perbuatan mereka."


Vivi terdengar mendengus. "Kayla, menurut lu apa orang tua gue gak keterlaluan? Gue bingung harus gimana.."


"Maksud Kak Vivi?"


Vivi sempat terdiam sebelum mengatakan sesuatu, "Kejadiannya udah lama, kalo gue tau dampaknya bakal seburuk itu, gue pasti bakal ngelupain kekurang ajaran Bima sama Sandi. Gara-gara video palsu mereka, gue dikeluarin dari sekolah. Elu bisa bayangin Kay, gimana stresnya gue, dua minggu sebelum UAN kelulusan, gue dikeluarin dari sekolah."


"Bokap gue udah mohon-mohon sama kepala sekolah biar gue bisa diterima lagi, seenggaknya gue bisa ikut ujian, tapi gak berhasil. Akhirnya gue terpaksa ngulang kelas XI"


Kayla terdiam sedih, sebagai sesama pelajar dan sesama perempuan ia bisa mengerti perasaan Vivi. Bagaimanapun juga, pasti sulit berada diposisi Vivi kala itu. Saat Kayla pertama kali mendengar cerita kasus ini dari Nia dan Adit, Kayla pun sangat marah dan tidak bisa terima dengan perbuatan Alex dan teman-temannya yang terbilang keterlaluan itu. Apalagi Vivi sendiri sang korban, juga kedua orang tuanya. Tuntutan yang mereka ajukan untuk Alex dan teman-temannya tidaklah salah.


"Tapi Kay, gue udah berusaha ngelupain itu semua. Sekarang orang tua gue malah buka kasus itu." ucapnya cemberut.


"Apa Kak Vivi gak setuju sama keputusan orang tua Kakak?"


"Hm. Gue udah susah payah ngelupain masalah itu, tapi kenapa sekarang masa lalu itu balik lagi! Gue bersyukur sih Alex, Bima, Sandi, sama Vicky nyadarin kesalahan mereka, dan mau minta maaf. Tapi gue rasa cukup sampe disitu, iya nggak sih? Gue gak mau repot-repot berurusan sama hukum, apalagi ini bentar lagi gue ujian."


"Kak Vivi benar, aku setuju. Ngelupain kasus yang kita alamin emang gak mudah, bahkan mungkin gak bisa. Tapi seenggaknya kita maafin mereka yang udah bersalah sama kita, itu udah cukup. Aku pernah berada diposisi sulit kayak Kak Vivi jadi aku ngerti. Dan aku juga setuju, jangan sampe masalah yang udah berlalu dan kita anggap selesai, malah ngeganggu masa depan kita. Apalagi Kak Vivi udah mau ujian."


"lya Kay, gue udah maafin mereka kok. Thanks ya udah ngertiin gue! Gue pasti ngomong sama orang tua gue buat ngebatalin tuntutannya. Gue juga gak mau kasus ini dibuka, gue gak mau lagi ngungkit masa lalu."


Kayla tersenyum lega. "Jadi.. masalahnya selesai Kak?"


"Hm. Anggap aja begitu! Gak bakal ada surat panggilan dari pengadilan, bilang aja sama mereka!"

__ADS_1


"Emm.. Kak, maaf nih aku ngerekam obrolan kita, gak papa kan. Niatnya sih aku pengen Alex, Bima, Sandi, sama Vicky ngedenger ini nanti" ucap Kayla takut-takut.


"Oh, of course! Mereka harus dengar."


"Makasih Kak." kata Kayla lega.


Vivi mengangguk, "Tapi Kay, mereka serius kan?"


"Maksud Kak Vivi.. soal permintaan maaf mereka?"


"lya"


"lya Kak, aku bisa jamin. Mereka udah tobat kok, kalo Kak Vivi gak yakin, Kakak bisa tanya sama teman-teman kita di sekolah!"


"Oke, gue percaya. Semoga gak ada lagi korban bullying di sekolah, apalagi yang bernasib sama kayak gue"


Kayla mengangguk, "lya Kak, Aamiin."


"Thank you ya, Kayla! Gue ngerasa lebih plong abis ngomong sama lu. Gue cuman mau mastiin elu dukung mereka, atau emang dukung perubahan mereka. Gue juga mau ngeyakinin diri gue sendiri, kalo gue gak salah udah maafin mereka. Dan sekarang gue udah lega, masalah selesai!"


"Alhamdulillah Kak, aku juga senang dengernya. Semoga orang tua Kak Vivi gak keberatan ya sama keputusan Kakak!"


"lya, Aamiin.."


"Oke Kay, good night!"


"Good night, Kak!" sahut Kayla sebelum Vivi memutuskan sambungan video call mereka.


... ________________...


Keesokan paginya kedua orang tua Vivi berdebat, ayah Vivi mengatakan bahwa ia akan mencabut investasinya di PT SWill Group, tentu ibunya Vivi tidak terima itu.


"Ayah apa-apaan sih, kita kan udah sepakat buat nuntut mereka. Hari ini ibu akan urus berkasnya, yah!"


"Tapi ayah udah ngomong sama Alex, kalo ayah bisa batalin tuntutan itu dengan syarat investasi ayah di perusahaannya ayah cabut semua."


"Ayah mikir gak sih, yang rugi siapa yang untung siapa?! Kalo ayah cabut semua investasi ayah dari sana, kita bisa rugi besar yah! Orang kayak Pak William ataupun anaknya itu mungkin gampang nyari investor baru, trus kita gimana?"


"Tapi kita belum sepakat kok bu, ayah masih pertimbangin itu."


"lya sama aja kan yah, emangnya ayah gak malu sama Alex kalo ayah ngebatalin cabut investasi ayah? Mau ditaro dimana harga diri kita yah?!"


"Pokoknya ibu tetap akan tuntut mereka, Vivi harus dapat keadilan!"


"Bu, kalo kita nuntut mereka dan berurusan sama Pak William, itu sama aja mempertaruhkan nama kita juga kan, Pak William bukan orang sembarangan."


Vivi memutar bola matanya jengah. "Cukup yah, bu! Apa ayah sama ibu gak mau nanya dulu ke Vivi? Tanya pendapat Vivi sekali aja!"


"Vi, ibu sama ayah lagi memperjuangkan keadilan buat kamu." ujar ibunya.


"Bu, Vivi udah maafin mereka. Gak perlu besar-besarin masalah ini, Vivi gak mau berurusan sama hukum."


"Kamu gak perlu berurusan sama hukum sayang, semuanya biar ibu yang urus!"


"Tetap aja kan bu, kalo nanti ada sidang apa Vivi harus diam aja? Bu, yah, kalian pikirin dong yang lebih penting, bentar lagi Vivi ujian, Vivi gak mau terganggu sama kasus itu. Lagian buat Vivi itu cuman masa lalu, Vivi udah susah payah ngelupain itu, Vivi gak mau lagi inget-inget soal itu, bu, yah!"


Ayah dan ibunya pun terdiam. "Pliss ya, batalin tuntutan itu. Lupain aja kasus itu, ikhlasin apa yang udah terjadi. Lagian kan ayah sama ibu juga udah klarifikasi ke media soal video palsu itu, masalahnya udah selesai kan! Jadi gak perlu dibesar-besarin lagi"


"Vi, mereka yang ngungkit masalah ini lagi, bukan ibu sama ayah." ujar Ayahnya.


"Mereka cuman minta maaf kan, apa salahnya? Bagus kalo mereka nyadarin kesalahan mereka. Vivi ngerti perasaan ayah sama ibu, tapi apa kasus ini lebih penting dari Vivi sendiri? Enggak kan bu, yah? Vivi sekarang mau fokus sama ujian kelulusan, Vivi gak mau direpotin sama masalah yang udah selesai ini!"


"Kok udah selesai sayang? Masalah ini-.."


"Bu.. Vivi kan udah bilang, Vivi udah ngelupain masalah ini, mereka udah minta maaf juga, dan Vivi maafin. Jadi anggap masalahnya selesai!"


"Benar bu kata Vivi, sebaiknya kita lupain masalah ini, kita batalin tuntutannya. Daripada kita cuman nambah masalah kalo berurusan sama anaknya Pak William."


Ibu Vivi menghela nafas panjang sambil memijit keningnya, "Oke, lagian ibu juga lagi repot ini ngurusin kasus perceraian yang berbelit-belit!"


Vivi tersenyum lega. la segera meraih ponselnya dan memberitahu Kayla, ia mengirimkan chat pada Kayla bahwa masalah selesai.


... ....


... ....


... ....


Lima pasang telinga tengah fokus pada sebuah speaker hp, mereka mendengarkan seksama rekaman obrolan Kayla dengan Vivi tadi malam. Akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah Vivi memastikan bahwa masalah selesai, artinya orang tua Vivi membatalkan tuntutan mereka. Dan agenda ini selesai.


Mereka pun bersiap untuk agenda selanjutnya.


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2