
"Jadi kalian ngerti kenapa kalian disini, hm?" Suara King membuyarkan renungan Kayla dan Alex.
King tertawa menyebalkan, "Si pecundang Arman itu harus menderita dulu sebelum mati. Dan penderitaannya akan lengkap kalo anak dan mantunya menderita duluan. Hahahaha...."
Duaarr....
Bukan hanya jantung Kayla yang dibuat berhenti berdetak seketika, tapi seluruh tubuhnya pun terasa kebas dan kaku. Betapa takutnya ia membayangkan apa yang dikatakan King barusan.
"Jadi gini ya, gue mau ramal.. masa depan kalian." kata King berbinar, ia lantas tertawa lagi. Entah apa yang membuatnya tertawa.
"Masa depan kalian selama sehari kedepan aja sih, soalnya gue gak bisa mastiin kalian masih hidup sampe besok. Hahahaha.... Mungkin umur kalian cuman sisa beberapa jam kedepan aja kali ya, karena eksekusi kalian kan ntar malem. Hahaha....."
"Etss.. enggak enggak, kalian nggak perlu tegang dulu. Gue nggak bermaksud habisin kalian kok, kalian cuman target buat ngelumpuhin Arman aja. Balas dendam gue emang ke pengkhianat itu, tapi kalian berdua juga ambil bagian dong? Huh, kayaknya dengan siksaan yang bakal gue kasih.. cukup bikin kalian jadi mayat hidup, atau mungkin kalian sendiri ntar yang minta gue habisin. Hahaha..."
Alex menatap muak pada King, ia jengah menunggu apa yang sebenarnya ingin King lakukan padanya dan Kayla. Balas dendam King pada papi Kayla, tapi ia dan Kayla pun jadi targetnya juga.
"Dari sana," King menunjuk layar monitor yang terpajang di atas pintu. "Arman bakal nonton penderitaan kalian dari sana, gue mau liat sejauh mana dia berani nantang gue." King terkekeh, "Enggak perlu gue nyerang fisik si pecundang itu, cukup dengan nonton penyiksaan anak sama mantunya aja.. pasti dia tersiksa. Hahahaha...."
"Nanti, dia bakal liat.. mantunya yang tajir melintir ini dihajar habis-habisan sampe sekarat."
Alex dan Kayla terbelalak, sementara King tersenyum misterius melihat ekspresi keduanya. "Dan anak gadisnya ini.. hahaha Arman bakal bertekuk lutut dikaki gue, atau bahkan minta nyawanya gue cabut.." King terkekeh, "..kalo dia liat anak kesayangannya disiksa, trus diperk**a rame-rame. Hahaha...."
"Ba****t!!" Umpat Alex berang. Darah Alex rasanya mendidih seketika saat King mengeluarkan kata-kata be**tnya itu.
Alex memberontak dari belenggunya, ingin sekali ia menghajar King sekarang juga. Berani-beraninya King berencana untuk melecehkan Kayla. Alex melirik Kayla, gadis itu menangis dengan wajah tertunduk. Demi apapun Alex tidak akan membiarkan satu orang pun dari mereka menyentuh Kayla.
"Sstt... Tenang..!" ledek King pada Alex. "Simpen tenaga lu buat ntar malem, elu butuh itu buat nyelamatin diri lu sendiri. Heh, tapi.. siapa tau cewek lu duluan ya yang dapet jatah? Kayaknya itu lebih greget, selain papinya yang pengkhianat itu kan elu juga bisa nyaksiin sendiri cewek lu di**** rame-rame. Hahahaa...."
"Baj****n!! Jah***m lu!!" Umpat Alex, dan berbagai umpatan kasar lainnya pun keluar begitu saja dari mulutnya. Ia sungguh murka sekali pada King dan anak buahnya ini yang tertawa menang didepannya, ia muak. Ia tetap memberontak meski tau usahanya sia-sia, belenggu rantai sialan itu menyiksanya juga menghalangi dirinya melakukan sesuatu.
Cukup puas King dan anak buahnya tertawa, mereka lantas berhenti ketika King mengisyarat dengan mengangkat satu tangannya. "See, nikmatin saat-saat terakhir kalian bareng! Karena ntar malem hidup kalian bakal berakhir. Bayangin aja dulu, siapa tau kalian pengen menderita duluan sebelum gue beri. Hahahaha...."
King dan anak buahnya beranjak keluar, namun sebelum itu beberapa anak buah King mengambil kesempatan dengan mendekati Kayla, disertai tatapan liar mereka. Alex terdengar membentak melarang mereka, sehingga King berbalik melihat apa yang terjadi. Maka sebelum anak buah King sampai pada Kayla, King sendiri yang menghentikan mereka.
"Heh! Cabut lu pada! Enggak ada yang bisa nyentuh dia sebelum gue! Si Arman pengkhianat harus liat kebanggaannya gue hancurin didepan matanya sendiri." Ujar King tegas.
"Awas! Kunci pintu ini sampe gue dateng ntar malem, kalo ada yang berani masuk.. dia yang bakal abis duluan!" Ancamnya kemudian pada tiga orang anak buahnya yang berada didekat Kayla.
Ketiganya lantas mengangguk patuh. King mengisyarat agar mereka bertiga keluar lebih dulu dan King sendiri yang mengunci pintu itu.
Kini tinggallah Alex dan Kayla berdua di dalam ruangan pengap itu. Alex mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal setelah berteriak marah pada King, juga karena perasaan gelisah yang menguasai dirinya saat ini. Sementara Kayla terus menangis, Alex tidak tega hanya melihatnya dari jauh saja, ingin sekali Alex menghampirinya dan menenangkannya. Tapi ia bisa apa, mereka sama-sama terbelenggu rantai tak bisa beranjak barang satu langkah pun.
"Miss Kissable.." panggil Alex lirih.
Kayla mengangkat kepalanya, "Aku takut Al.." ujar Kayla disela tangisannya.
"Aku nggak akan biarin mereka nyentuh kamu sedikitpun. Aku pasti lakuin sesuatu buat kamu." Alex berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Maafin aku Al.. harusnya kamu nggak ada disini. Hiks.. gara-gara aku kamu ikutan disekap juga." Kayla terus menangis.
"Jangan nyalahin diri kamu Miss Kissable, aku nggak papa. Kita sama-sama nggak tau kan kalo hal kayak gini bakalan terjadi."
"Ini yang papa kamu takutin kan Al, sekarang King beneran balas dendam. Tapi kamu nggak usah khawatir Al, aku akan bilang ke King kalo kamu bukan siapa-siapa aku, kita nggak ada hubungan lagi, aku yakin dia pasti lepasin kamu kalo dia tau itu."
"Trus kamu sendiri? Kamu pikir aku sudi bebas dari sini sedangkan kamu menderita sendirian?"
"Papiku ada disini, aku nggak sendirian. Kalo aku biarin kamu menderita juga, usaha papa kamu selama ini bakal sia-sia. Rasa sakit perpisahan dan air mata yang udah banyak kita laluin.. juga sia-sia. Harapan papa kamu mutusin hubungan kita cuman buat ngehindarin apa yang terjadi hari ini Al, tapi apa.. hari ini mimpi buruk itu beneran terjadi. Harusnya kamu nggak disini, harusnya kamu aman seperti apa yang diharapin papa kamu, dan seperti yang aku mau juga. Aku nyesel nggak bisa ngehindarin hal ini terjadi sama kamu Al.." lirih Kayla.
"Tapi aku nggak nyesel. Hal ini, mimpi buruk hari ini, terjadi karena emang udah takdir, Miss Kissable. Meskipun kita terpaksa pisah, kita jauhan selama apapun itu, kalo Tuhan emang takdirin kita bertemu kayak gini.. usaha apapun nggak bakal bisa ngehindarin kita dari terjadinya hari ini kan."
"Jangan nyalahin diri kamu cuman karena yang terjadi nggak sesuai harapan papaku. Takdir tetap ditangan Allah, kita bisa usaha tapi nggak bisa negindarin takdir. Justru seandainya aku nggak disini, aku akan minta sama Allah supaya aku ada disini Miss Kissable. Kalo aku tau kamu menderita dan sendirian disini, sedangkan aku bebas bahagia.. aku pasti bakal nyesel. Aku pasti nyesel karena nggak ada buat kamu disaat kamu butuh, aku pasti nyesel biarin kamu menderita sendirian."
Kayla terenyuh dengan kata-kata Alex. "Tapi liat kan, permainan takdir bikin kita bersama lagi, meskipun situasinya kayak gini. Takdir ini mungkin musibah buat kita, tapi Miss Kissable.. seenggaknya aku lega karena Allah jadiin aku orang pertama yang tau penderitaan kamu, Allah takdirin aku ada disini buat kamu. Saat ini aku emang nggak bisa ngapa-ngapain, tapi seenggaknya aku harap kehadiranku bisa bikin kamu kuat. Aku harap dari waktu kita yang singkat ini, kehadiranku disini bisa jadi alasan kamu buat nggak nyerah Miss Kissable."
Kayla sempat tertegun mendengar penuturan Alex, tapi kemudian tangisnya kembali meraung. Kayla sangat sedih sekaligus bersyukur dibalik air matanya, setidaknya kehadiran Alex sedikit memberinya harapan untuk berjuang. Tapi Kayla tidak bisa membuang bayangan ramalan mengerikan yang King berikan tadi, ia sungguh sangat takut hal mengerikan itu akan terjadi pada dirinya. Kayla ingin sekali memenuhi otaknya saat ini dengan berpikir positif dan mencari cara untuk menyelamatkan diri, namun sialnya ia tidak bisa berpikir sama sekali saking takutnya.
"Aku takut Al..."
"Aku akan berusaha buat ngelindungin kamu, kita pasti bebas dari sini." ujar Alex mencoba menenangkan meski ia sendiri sangat resah.
Kepada siapa Alex bisa meminta pertolongan, saat ini ia tidak bisa melakukan apapun. Seandainya saja ponselnya ada disini, maka akan mudah untuknya meminta bantuan seseorang. Terakhir sebelum insiden dijalan tadi, ia bersama Feli. Hanya gadis itu yang tahu bahwa ia diculik.
(Flashback On)
Treeeet....
Alex mengerem mobil mendadak, ia kaget saat tiba-tiba sebuah mobil jeep menghalangi jalannya. Feli yang duduk di jok belakang hampir saja kepalanya terbentur kursi depan. Sengaja Feli duduk di belakang agar ia leluasa mengecek barang-barang belanjaannya yang menumpuk di bagasi juga di kursi belakang.
"Ada apa?" tanya Feli bingung seraya melihat jeep didepannya. Alex tidak menjawabnya karena ia juga bingung.
Alex memperhatikan mobil jeep didepannya itu. Terlihat dua orang pria bertubuh kekar keluar dari jeep itu dan berjalan menghampiri mobilnya. Alex memiliki firasat buruk melihat dua orang yang nampak sangar itu, Feli juga terlihat takut.
"Keluar lu!" gertak salah satu pria kekar itu.
Alex menoleh kebelakang, menatap Feli. "Kamu ngumpet ya, mereka nggak boleh liat kamu apapun yang terjadi!" tegas Alex serius.
Feli membulatkan matanya, peringatan Alex barusan terdengar horor ditelinganya. Memangnya ada apa, sampai ia harus bersembunyi dari orang-orang itu? Feli mulai takut akan ada ancaman yang menghampirinya dan Alex.
"Ada apa Al?"
"Plis, kamu ngumpet dulu. Aku akan hadapin mereka. Tapi inget, apapun yang terjadi mereka nggak boleh sampe tau ada kamu disini."
"Al!" sergah Feli seraya menahan tangan Alex, membuat Alex urung membuka pintu mobil. "Bilang dulu ada apa, jangan bikin aku parno."
"Aku nggak tau, tapi perasaanku nggak enak."
__ADS_1
"Kalo gitu jangan turun!"
"Woyy.. keluar lu!" pekik pria kekar itu marah.
Alex menatap Feli tegas, sementara Feli menggeleng-geleng cemas.
"Percaya sama aku, aku bisa hadapin mereka. Kamu cuman perlu diam disini dan saksiin. Jangan sampe mereka tau ada orang selain aku di mobil ini." Alex menggenggam tangan Feli meyakinkannya.
"Emangnya siapa mereka? Kamu nggak akan ngewanti-wanti aku gini kan kalo kamu nggak kenal mereka."
"Fel plis, aku harus turun sekarang. Mereka nggak boleh sampe curiga."
Feli menelan salivanya takut seraya melonggarkan pegangannya pada tangan Alex, terpaksa ia membiarkan Alex turun meski berat. Sebelum benar-benar keluar dari mobil Alex memastikan Feli menyembunyikan diri dibalik kursi mobil, Feli meringkuk menundukkan tubuhnya seraya masih menatap Alex cemas.
Baru saja Alex menutup pintu mobil, dua orang pria kekar itu langsung menyerangnya. Sontak Alex menghindar dan mencoba melawan. Alex tidak tahu apa yang diinginkan orang-orang ini, tapi karena mereka menyerangnya lebih dulu maka Alex pun membela diri.
"Siapa kalian, apa mau kalian, heh?!" tanya Alex ditengah perkelahian mereka.
Mereka tidak menjawab Alex dan terus saja menyerangnya, hingga Alex kewalahan. Tanpa diduga dua orang pria lainnya keluar dari mobil jeep itu, dan ikut menyerang Alex. Tidak butuh waktu lama, empat lawan satu terasa mustahil bagi seorang Alex yang notabenenya tertubuh lebih kecil dari mereka. Alex tersungkur lemas, nafasnya tersengal-sengal, tenaganya tidak lebih besar dari mereka berempat sehingga ia bisa mengalahkan mereka.
Alex pikir mereka akan meninggalkannya yang sudah lemas dan menyerah dengan kekalahan. Tapi tidak, mereka malah menggotong tubuh Alex dan memasukkan ke mobil jeep mereka. Alex berontak dan bertanya-tanya namun tidak dihiraukan oleh mereka. Apa-apaan ini? Apa yang mereka inginkan darinya sehingga mereka menghajarnya kemudian membawanya seperti ini? Dan kemana mereka akan membawanya?
"Periksa mobilnya! Ada orang lain nggak, atau mungkin cctv. Gps nya juga matiin, jangan sampe kita ninggalin jejak!" ujar pria yang duduk dikursi kemudi.
(Flashback Off)
Entah bagaimana keadaan Feli sekarang, dia pasti ketakutan sendirian Alex tinggalkan. Tapi Alex bersyukur Feli tidak menimbulkan suara ataupun gerak-gerak sedikitpun yang bisa membuat orang-orang jahat itu curiga, sehingga mereka berpikir bahwa Alex memang sendirian di mobil itu dan mereka merasa aman karena yakin tidak meninggalkan jejak. Semoga Feli bisa Alex harapkan saat ini, meski tidak mungkin dia melawan sendirian tapi dia bisa melaporkan kejadian itu pada pihak berwajib, atau pada orang-orang kepercayaan keluarganya saja, dan juga keluarga Alex.
Alex menghembuskan nafas panjang, entah bagaimana reaksi papanya mengetahui kejadian ini. Apalagi jika papa tahu penculikan ini berhubungan dengan kejadian dimasa lalu. Alex harap papanya tidak akan menyalahkan Kayla, karena bagaimanapun juga Kayla hanyalah korban, baik di peristiwa masa lalu maupun sekarang ini.
Selain menaruh harapan pada Feli satu-satunya saksi penculikannya, Alex tidak bisa berharap pada yang lain lagi kecuali pada Allah. Takdir-Nya yang membuat Alex dan Kayla berada disini dan mengalami peristiwa ini, dan pasti Dia juga lah yang akan membuat Alex dan Kayla mampu melewati ini. Tidak ada yang lebih benar dilakukan saat ini selain menghamba kepada-Nya dan berharap sebesar-besarnya kepada-Nya. Itulah yang Alex pelajari dari Ustadz Zidan selama ini, sekarang Alex baru mengerti tentang itu disaat ia benar-benar merasa membutuhkannya. Jika dulu sulit baginya menerima takdir cintanya yang kandas ditengah jalan, kini ia mengerti..
bahwa kebaikan pasti akan datang dibalik musibah apapun itu. Mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi kebaikan atau yang biasa orang sebut sebagai HIKMAH itu pasti ada.
Alex sedikit merasa lapang setelah menyadari itu. Namun ia rasa hatinya tidak begitu murni, sehingga ia belum merasa aman akan ramalan mengerikan yang King berikan beberapa saat yang lalu. Jika melihat keadaan dirinya dan Kayla saat ini, mustahil mereka berdua bisa terhindar dari ramalan mengerikan yang akan ditimpakan kepada mereka. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Allah, Alex berharap bisa melihat keajaiban-Nya sebelum ramalan mengerikan itu menjadi kenyataan.
"Miss Kissable.." panggil Alex pada gadis yang masih sibuk menangis.
"Aku takut Al..."
Untuk kesekian kalinya Kayla mengatakan itu, Alex bisa melihatnya, tentu saja dia sangat takut. Alex mencoba menenangkan Kayla dengan membagi pikiran positif yang baru saja ia renungi, tentang takdir dan kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Raja. Jika King merasa hebat dengan bisa menyandera mereka, dan meramalkan masa depan mengerikan pada mereka, maka Allah lebih hebat dengan ramalan-Nya yang tentu sangat akurat dibanding ramalan King yang hanya wacana bagi pria jahat itu. Rencana-Nya yang masih menjadi misteri lebih hebat dari rencana King yang telah ia umbar dan ia bangga-banggakan. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi beberapa jam kedepan selain Dia, sebagaimana misteri rencana-Nya yang mempertemukan kembali Alex dengan Kayla ditempat ini, setelah sekian lama saling berjauhan.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...