
Kondisi Kayla berangsur membaik. Hari ketiga setelah bangun dari koma, Kayla sudah bisa berbicara dengan baik dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Hari berikutnya ia mulai mencoba untuk duduk perlahan-lahan. Bagaimanapun juga, 'duduk' seolah menjadi paranoid untuk Kayla, karena tulang belakang hingga kepalanya mengalami cidera akibat kecelakaan kala itu. Dan ia sudah banyak berbaring selama ia koma, jadi sulit bagi tubuhnya menciptakan sirkulasi baru setelah tidak bergerak selama berminggu-minggu.
Kayla juga penasaran akan banyak hal, tentang apa saja yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri, tentang bagaimana keadaan Alex dan papi yang ia ketahui juga terluka dalam insiden perlawanan saat penculikan. Terlebih sejak ia bangun dari koma, kedua pria itu tidak menampakkan batang hidungnya. Mau tidak mau, Nadia dan yang lainnya harus menjelaskan semuanya perlahan-lahan, agar sistem kerja otak Kayla yang sempat cidera itu tidak terganggu.
Kayla jadi termenung memikirkan semua yang baru saja diceritakan maminya, terutama tentang papi. Jika mengingat kronologi kejadian saat itu, Kayla sedikit trauma, ia melihat bagaimana perjuangan papi menghadapi King dan komplotannya, melihat Alex disiksa didepan matanya, dan bahkan dirinya sendiri pun terluka cukup parah. Alhamdulillah nya Alex sekarang sudah sembuh, kata mami.
Dan papi..
Kayla sempat terharu sekaligus cemas mendengar mami mengatakan kalau papi lah yang mendonorkan darah untuknya, padahal saat itu papi juga terluka, papi juga tertembak. Alhamdulillah nya juga, sekarang papi pun baik-baik saja. Pagi ini Kayla mengobrol dengan papi lewat telepon, suara papi terdengar tenang dan baik menandakan bahwa papi memang dalam keadaan baik. Hanya saja, papi tidak bisa menemuinya karena harus menjalani hukuman di penjara. Dari sambungan telepon itulah Kayla penasaran akan banyak hal, sehingga itu terus bertanya pada sang mami dan meminta penjelasan. Bukan hanya pada mami, tapi pada ayahnya, Arsya, dan Om Iwan juga. Sekarang Kayla lega setelah mengetahui semuanya, namun bukan berarti ia melupakan pertanyaan lain yang ada di dalam hatinya.
"Kak?"
Suara Arsya membuyarkan lamunannya. Sekarang Kayla masih duduk setengah berbaring di ranjang rumah sakit, beberapa menit yang lalu ia baru minum obat, dan diminta untuk istirahat. Hanya Arsya yang menemaninya saat ini, mami dan ayah baru beberapa menit yang lalu pamit pulang setelah mereka menyelesaikan makan siang bersama sekeluarga di ruangan ini.
"Jangan banyak mikir Kak, nanti kepalanya sakit."
Kayla tersenyum gemas, "Iya.. kakak nggak banyak mikir kok."
"Aku ngantuk nih Kak, tidur dulu ya." ujar Arsya sambil mengubah posisi duduknya meluruskan tubuhnya di sofa.
"Iya, tidur aja."
"Kakak mau dibantu baring dulu nggak?"
"Boleh."
Arsya pun beranjak untuk membantu membaringkan Kayla, namun belum sempat ia menurunkan bantal Kayla seseorang membuka pintu ruangan dan meminta izin masuk. Arsya dan Kayla saling melirik, yang kemudian pandangan mereka tertuju pada seseorang diambang pintu itu.
"Enggak ganggu kan?" ujarnya sungkan.
"Enggak kok." jawab Kayla kikuk. "Masuk aja."
"Enggak jadi baring?" bisik Arsya.
Kayla menggeleng seraya tersenyum lembut, "Kamu keberatan? O iya, kamu mau tidur ya.."
"Ah santai aja, nggak papa kok." Arsya beralih pada pria yang kini sudah berdiri di dekat ranjang Kayla, ia menatap serius pada pria itu kemudian memperingatkan dengan agak ketus. "Jangan bikin masalah."
"Sya.." tegur Kayla.
"Tenang aja, Kakak disini cuman niat jenguk kok. Enggak ganggu." sahut pria tampan yang tak lain adalah Alex, ia sedikit tersenyum pada Arsya yang nampak keberatan dengan kehadirannya.
Arsya mengedikkan bahu acuh, kemudian beringsut merebahkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Ia meraih ponselnya dan mencolokkan earphone pada ponselnya itu. Gerak-geriknya ternyata diperhatikan oleh Kayla dan Alex, membuatnya mengernyit protes.
"Apa?" sewotnya tak suka.
Sebelum Alex ataupun Kayla sempat mengatakan sesuatu, Arsya lebih dulu berkata. "Aku nggak akan ninggalin Kakakku cuman berduaan sama kamu."
Skak. Kayla maupun Alex menutup mulut rapat-rapat, tidak ada alasan untuk membantah Arsya. Anak itu benar-benar waspada dengan pria yang datang menjenguk kakaknya, bagaimanapun juga Arsya harus menjaga kakaknya hari gangguan yang bisa membuat pemulihannya terhambat. Ya, mungkin Alex adalah salah satu gangguan itu, jadi Arsya tidak bisa mengabaikannya.
Kayla dan Alex saling melirik, lalu pandangan mereka berhenti pada Arsya. Arsya sadar keberadaannya diantara mereka membuat suasana jadi tidak asyik, mungkin mereka merasa tidak bisa mengobrol dengan leluasa. Tapi Arsya bergeming, ia mengacuhkan mereka, memasang earphone nya ke kedua telinga lalu memejamkan mata dengan tenang.
Melihat tingkah adiknya itu membuat Kayla terkekeh pelan, sehingga menarik perhatian Alex. Senyuman Alex pun mengembang melihat Kayla tersenyum, sampai Kayla menyadari kalau Alex memperhatikannya, ia salah tingkah dan menjadi kaku lagi.
"Emm... gimana keadaan kamu, udah enakan kan?" ujar Alex mengikis kecanggungan dengan bicara sesantai mungkin.
Kayla mengangguk, "Ya, kayak yang kamu liat. Kamu sendiri gimana?"
"Alhamdulillah. Aku udah sehat dan baik-baik aja dari 2 minggu lalu. Liat kan, nggak ada tanda-tanda kalo aku pernah sakit." Alex mengangkat bahunya seraya terkekeh.
"Kaki kamu?"
"Udah baikan juga, terapi 2 minggu cukup buat mulihin ini." Alex menggerak-gerakkan kakinya ringan.
Kayla mengangguk, "Alhamdulillah. Awalnya aku mikir, mungkin aku akan sering jenguk kamu karena keliatannya sakit kamu cukup parah. Tapi.. malah aku yang dijengukin."
Keduanya tertawa kecil. "Kamu jangan terlalu banyak gerak dulu, kan masih belum pulih." kata Alex saat melihat keceriaan Kayla.
"Yang masih sakit itu pundak aku, kalo cuman ketawa dikit gini nggak bakal bikin aku kenapa-napa kok. Kalo kamu khawatirin luka jahitan aku, itu udah sembuh kok."
Kayla melihat Alex membawa sebuket bunga segar, bunga Lily kombinasi dengan mawar merah. Wangi segar dari bunga itu membuat Kayla merasa relaks, ia suka. Ketika menyadari arah pandang Kayla tertuju pada bunga ditangannya, Alex lantas tertawa kecil kemudian meletakkan bunga itu ke pangkuan Kayla.
"Aku hampir lupa, ini buat kamu."
"Makasih." Kayla tersenyum seraya menyentuh bunga itu.
"Selamat Ulang tahun Miss Kissable."
Kayla menaikkan alisnya seraya menatap Alex. Benarkah ia ulang tahun, Kayla mengedarkan pandangannya ke atas mengingat-ingat apakah ini memang hari ulang tahunnya?
__ADS_1
"Aku bingung mau ngasih kamu apa, jadi.. aku kasih bunga aja. Sesuai kayak di dalam mimpi aku. Hehe.."
"Makasih loh Al, tapi aku lupa kalo hari ini aku ulang tahun." Kayla meringis kecil seraya menyengir.
"Sebenarnya ulang tahun kamu udah lewat 5 hari, tapi waktu itu kamu belum bangun.. jadi nggak ada yang nginget kalo itu hari ulang tahun kamu."
"Eh tunggu, tadi kamu bilang.. kayak di dalam mimpi kamu? Maksudnya gimana?"
"Iya, aku mimpi.. ngasih bunga itu dihari ulang tahun kamu. Tapi kamunya malah minta yang lain." Alex terkekeh.
"Minta apa?"
"Minta ketemu sama papi kamu."
Kayla tertegun sesaat. "Permintaan kamu didalam mimpi itu aku wujudin kok, aku ngajak papi kamu kesini. Dan hari itu juga kamu bangun." kata Alex kemudian tersenyum lega.
"Makasih udah hadir dalam mimpiku, dan ngasih clue itu. Kamu udah bangun, dan aku beneran bisa ngucapin selamat ulang tahun ke kamu dan ngasih bunga ini."
Degg
Kayla merasa deg-degan ditatap Alex seperti itu, kenapa Kayla merasa tatapan itu tidak berubah meski keadaan dan hubungan mereka telah berubah.
"Emm.. kenapa mawar dan lily?" tanya Kayla random, demi mengalihkan tatapan Alex yang terpaku pada matanya.
"Didalam mimpi aku ngasih bunga ini ke kamu. Aku nggak tau, tapi kebetulan itu.. jadi pilihan yang tepat buat aku. Kamu pasti tau filosofi dari sebuket bunga lily putih dengan sekuntum mawar merah ditengah-tengahnya ini."
"Bunga lily putih melambangkan kesucian dan persahabatan, sedangkan mawar merah melambangkan cinta kan?" Kayla hanya menyebutkan itu dalam hatinya, ia merasa tidak bisa mengatakannya langsung. Apalagi saat ini Alex terus menatapnya.
Entah apa sebenarnya maksud Alex, tatapannya itu membuat Kayla tidak bisa mengalihkan perhatian darinya dan terus membalas tatapannya juga, tapi dalam waktu yang bersamaan.. Kayla juga resah dengan situasi mereka ini.
Degg
Ini tidak benar. Bagaimana bisa Kayla membalas Alex yang sudah menjadi milik orang lain. Alex sudah bertunangan kan, dan pasti sebentar lagi dia akan menikah.
Ini tidak benar. Tidak seharusnya Alex melakukan sesuatu sejauh ini untuk Kayla, sebuket bunga ini.. tatapan ini.. yang sekarang masih dinikmati oleh Kayla, hanya akan menyisakan rasa sakit beberapa saat lagi. Bukan rasa sakit itu hanya untuk Kayla, tapi mungkin Alex juga, dan bahkan untuk seorang perempuan baik yang menantinya diluar sana. Felisha, calon istri Alex.
...__________________...
Alex termenung dengan tatapan kosong yang lurus ke depan, netranya terpaku pada seonggok benda di atas meja yang ia letakkan sepulangnya dari rumah sakit.
(Flashback On)
"Iya, Om?"
"Apa kamu.. masih mencintai Kayla?"
Degg
Alex tertunduk setelah beberapa detik beradu pandang dengan ayah dari gadis yang masih terbaring koma didepan mereka. Pertanyaan itu membuatnya malu sekaligus merasa bersalah, sehingga ia tidak punya kepercayaan diri untuk menatap Om Arman. Meskipun Alex tahu betul tentang perasaannya terhadap Kayla, ia merasa tidak punya kalimat yang pantas ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan Om Arman tadi.
"Apa yang akan kamu lakuin kalo Kayla bangun?"
Alex mendongak, menatap Om Arman mencoba memahami apa yang dimaksud pria paruh baya itu.
"Alex, umur kamu emang masih muda, tapi Om rasa kamu cukup dewasa untuk sebuah pernikahan. Itu kan yang dipercaya sama papa kamu? Dia menjodohkan kamu dan menentukan pernikahan kamu setelah lulus SMA. Jadi, kamu juga udah nentuin keputusan kamu sendiri kan?"
"Om khawatir kalo saya masih mencintai Kayla?" tebak Alex ragu.
"Jujur, Om senang waktu tau kalo Kayla memiliki calon suami seperti kamu. Waktu itu.. waktu kamu memeluk Kayla didepan Om, dan kamu memperkenalkan diri sebagai calon mantu Om."
Alex mengernyit kecil, ia ingat sekarang momen mana yang dimaksud Om Arman. Waktu itu.. pertama kalinya Alex dan Om Arman bertemu, Alex datang untuk menyelamatkan Kayla dari baj****n yang hampir merenggut mahkotanya, Om Arman sendiri yang menjual Kayla kepada pria hidung belang itu dan Alex berhasil mengacaukan bisnis gelap King.
"Waktu itu.. kata-kata kamu bikin saya merasa aneh. Saya marah, tapi juga merasa tenang dalam waktu bersamaan."
'Izinkan saya membawa Lily, Om. Saya tau dia anak Om, tapi dia juga calon istri saya. Sudah jadi tanggung jawab saya memastikan keamanan dan kebahagiaan Lily. Saya akan melindunginya, meskipun itu dari papinya sendiri kalo dia merasa terancam.'
"Ya, kata-kata itu." ucap Om Arman mengulangi momen itu, sekaligus mengembalikan kesadaran Alex dari flashback singkatnya.
"Waktu itu Om nggak langsung paham dengan perasaan Om sendiri, tapi kemudian Om sadar.. jiwa kecil seorang ayah yang terkubur dalam diri Om lah yang membuat Om merasa tenang, ketika tau kalo anak gadis Om aman bersama kamu. Laki-laki baik yang akan menjaganya dari ancaman ataupun bahaya semacam King dan kaki tangannya."
Om Arman tersenyum getir setelah mengungkapkan perasaannya. "Sayangnya.. ketenangan Om nggak berlangsung lama. Nadia ngasih kabar buruk, kalo pertunangan Kayla dibatalkan gara-gara dia punya ayah yang bejat seperti Om."
Alex membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, tapi ia bingung, takut akan mengatakan sesuatu yang salah dan mungkin akan membuat Om Arman tersinggung.
"Tapi sekali lagi Al, kamu membuat Om merasa tenang ketika melihat layar monitor King di markas hari itu, kamu.. ada bersama Kayla. Allah membuat Om merasa beruntung berkali-kali meskipun Om selalu durhaka kepada-Nya. Allah mengirim kamu untuk melindungi Kayla sekali lagi, ketika Om nggak bisa ngelakuin apa-apa buat dia."
Om Arman menatap Alex dalam, begitu juga Alex. "Om nggak tau gimana jadinya kalo kamu nggak ada hari itu." ujar Om Arman lirih mengakhiri curahan hatinya.
"Jangan ngomong gitu Om.." Alex jadi minder. "Justru saya bersyukur atas kehadiran Om hari itu. Saya nggak mungkin sanggup sendirian ngehadapin mereka, saya takut nggak bisa ngelindungin Kayla. Tapi Om datang, sebagai seorang ayah sekaligus pahlawan buat Kayla dan juga saya. Bahkan Om yang nyelamatin saya waktu King mau nembak saya."
__ADS_1
"Saya nggak tau gimana jadinya kalo Om nggak ada." lanjut Alex, menatap Om Arman penuh rasa bangga.
Arman tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangan kepada putrinya. "Om senang kamu masih mau memperhatikan Kayla sejauh ini. Bahkan kalo kamu dekat lagi sama Kayla pun..." Arman terkekeh kecil seraya menggeleng, membuat Alex menunggu kelanjutan kata-katanya. "seandainya bisa."
"Om pikir kamu sama Kayla emang ditakdirkan buat bersama, tapi.. ya siapa yang tau soal takdir selain Allah sang pengatur takdir itu sendiri. Om cuman nggak mau anak Om menderita lagi."
Alex akan mengatakan sesuatu tapi dicegat oleh Arman. "Enggak Al. Enggak ada yang bersalah dan lebih bersalah selain Om sendiri. Kayla menderita selama ini karena Om, justru kamulah penyembuh deritanya itu. Karena itu.. Om sangat berharap Kayla mendapatkan laki-laki baik yang benar-benar akan menjaga dia dan nggak akan menyakitinya."
"Om, kalo saya boleh jujur.. saya masih berharap takdir akan menyatukan saya sama Kayla. Tapi saya nggak akan menghindari takdir yang saat ini ataupun yang selanjutnya saya hadapin nanti. Kalo pun bukan saya, Kayla pasti akan dapetin laki-laki yang jauh lebih baik Om." Alex terdiam dengan tatapan kosong, dalam sekejap kilas balik masa lalu bermunculan dibenaknya.
"Kalo aja Om tau, saya bukan laki-laki yang baik sebelum saya mengenal Kayla. Bahkan saya juga bikin dia menderita dulunya. Kalo Om liat saya sebagai laki-laki baik, Kayla lah yang pantas berbangga dengan itu Om, karena dia yang mengubah saya.. dari bejat menjadi baik kayak sekarang." Alex terus menunduk.
"Kenapa kamu ngasih tau semua itu? Kamu mau Om merubah pandangan Om terhadap kamu." ujar Arman lebih mencari kejelasan dibanding bertanya.
"Saya cuman nggak mau Om menaruh harap sama saya. Bukan karena saya akan menikah sama orang lain, tapi karena Kayla emang terlalu baik buat saya yang udah sering nyakitin dia Om. Meskipun.. saya emang menginginkan dia."
"Kalo gitu.. cukup sampai disini perhatian kamu ke anak Om. Om khawatir, saat dia bangun nanti kamu adalah orang pertama yang dia liat, dan dia mengira kamulah yang merawatnya selama ini. Dia akan mengira kamu masih mencintai dia, walaupun itu benar atau enggak.. dia mungkin akan kecewa."
Alex menelan salivanya, masih dengan kepala tertunduk.
"Om tau maksud kamu baik, Om sama sekali nggak nyalahin kamu apalagi menghakimi kamu. Tapi demi kebaikan Kayla, dan juga kebaikan hubungan baru kamu.. jangan tunjukin cinta itu lagi."
Kali ini Alex mengangkat kepalanya, menatap Om Arman. "Om bisa liat itu dengan jelas dimata kamu Al. Dan Om yakin orang lain pun pasti liat."
Sebegitu tidak mampunya kah Alex menyembunyikan cintanya untuk Kayla? Sehingga Om Arman yang notabenenya tidak mengenal dirinya pun tahu kalau ia memiliki cinta untuk Kayla. Lantas bagaimana dengan orang-orang terdekatnya selama ini, Mama, Papa, Feli, bahkan kedua orang tua Feli?
"Makanya Om tanya, kamu udah ngambil keputusan sendiri kan? Tentang hati kamu, juga bakal masa depan kamu."
Alex mengangguk ragu setelah berpikir beberapa saat. "Tapi.. nanti kalo Kayla bangun, izinin saya ngucapin terima kasih secara langsung ke dia ya, Om." pintanya.
Om Arman tersenyum, bukannya menjawab permintaan Alex Om Arman malah mengalihkan pembicaraan. "Om nggak dekat sama Kayla. Om kehilangan waktu berharga yang harusnya bisa bersama dia, bertahun-tahun Om hidup nggak tenang. Bisa kamu ceritain seperti apa Kayla yang kamu kenal?"
Sedikit canggung, Alex pun mengiyakan kemauan Om Arman. Menceritakan tentang bagaimana sikap dan sifat Kayla yang ia ketahui, bahkan Alex menceritakan beberapa momen berharganya ketika bersama Kayla. Hingga waktu 3 jam Arman hampir habis, keduanya mengakhiri perbincangan. Dengan berat hati Arman keluar ruangan ICU, ia menyempatkan memeluk dan mencium kening Kayla. Sebenarnya Alex ikut keluar bersama Arman, tapi setelah pria paruh baya itu pamit diantar papa Alex, Alex kembali ke ruangan Kayla lagi untuk mengambil ponsel nya yang tertinggal di sana.
Merasa memliki kesempatan, Alex tidak langsung keluar setelah mengambil ponselnya. Ia bertahan di sana, berdiri didekat ranjang Kayla sembari memandangi gadis yang ia cintai itu. Kata-kata Om Arman tadi menjadi pengingat bagi dirinya, sekali lagi. Entah sudah berapa kali ia mengabaikan rencana pernikahannya demi Kayla, padahal tanggal pernikahannya semakin dekat. Tekadnya sudah bulat bahwa ia tidak akan mundur dari perjodohan yang telah ditetapkan itu, tapi semakin dekat hari pernikahannya semakin berat pula hatinya melepaskan Kayla.
Alex memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang, kemudian ia hembuskan perlahan seiring membuka kembali matanya. Alex terkesiap saat ia membuka mata dan memandang wajah Kayla lagi. Ada pergerakan dari gadis itu.
Degg
Alex melebarkan matanya. Benarkah yang ia lihat ini?
Degg
Ya, kelopak mata itu bergerak kecil, sekali, dua kali, dan terus bergerak kian menyingkap ke atas. Alex mendesah tertahan saking membuncahnya perasaan dalam dadanya.
"Miss Kissable..." gumamnya pelan.
Alex mengamati ke seluruh tubuh Kayla, ternyata jari telunjuk dan jempol kirinya juga bergerak. Betapa senangnya Alex melihat reaksi Kayla, ia jadi gelagapan sendiri dan hampir tidak bisa berpikir harus apa sekarang. Ia segera berbalik dan melangkah terburu-buru, bermaksud akan memanggil Dokter untuk melihat keadaan Kayla, tapi baru dua langkah ia berjalan malah terhenti. Ia menepuk jidat merutuki kekonyolan dirinya, bagaimana ia lupa kalau didekat kepala ranjang Kayla terdapat bel yang jika dipencet maka Dokter akan segera datang. Kalau begitu kenapa ia harus susah-susah memanggil Dokter ke luar. Ia lantas berbalik dan kembali mendekati ranjang Kayla, ia pencet bel itu segera dan kembali memperhatikan Kayla.
"Miss Kissable..."
Akhirnya kelopak mata yang tertutup hampir satu bulan itu terbuka lagi, kini Alex bisa melihat manik hazel milik Kayla yang teduh, namun masih redup karena dalam penyesuaian cahaya. Netra indah itu mengerjap pelan beberapa kali, membuat Alex tercengang bahagia, bahkan nafas Alex sedikit terengah-engah saking senangnya melihat Kayla membuka matanya.
Tiba-tiba Alex ingat sesuatu. Bagaimana bisa ia menikmati momen ini sendirian, bodohnya ia karena terlalu senang dan terpaku dengan yang ada didepan matanya. Harusnya ia langsung memberi tahu semua orang kabar baik ini, terutama Tante Nadia. Segera ia beranjak keluar untuk menyampaikan kabar gembira itu, bertepatan saat Dokter sampai di sana dan keduanya hampir membuka pintu berbarengan.
(Flashback Off)
Berhari-hari Alex menahan dirinya untuk tidak menemui Kayla, karena tidak mendapat izin dari Tante Nadia. Sejak gadis itu bangun dari komanya, Alex tidak mendapat kesempatan untuk melihatnya. Setelah hari kedua Kayla dipindahkan ke ruang rawat inap, barulah Alex diizinkan untuk menemui gadis itu. Tanpa Alex sangka, ketika ia menemui Kayla ternyata Tante Nadia tidak ada di sana. Awalnya Alex ragu untuk menemui Kayla dengan membawa buket bunga, karena pasti Tante Nadia tidak suka. Namun setelah melihat Tante Nadia dan Om Tio pergi, Alex akhirnya memiliki keberanian dan kepercayaan diri untuk memberikan bunga kepada Kayla, yang memang sudah ia rencanakan sejak hari dimana Kayla bangun dari koma.
Namun sayangnya, gadis itu mengembalikan bunga yang Alex berikan kepadanya. Dia bilang dia tidak bisa menerimanya meskipun dia menyukai bunga itu. Alex kecewa, padahal harusnya Alex tahu kalau yang ia lakukan itu tidak tepat. Harusnya Alex sadar dari awal bahwa meskipun ia harus datang untuk berterima kasih pada Kayla, tidak perlu ia memberikan bunga dengan lambang cinta kepada gadis itu. Datang menemui Kayla dan berterima kasih tidaklah salah, yang salah adalah bagaimana Alex datang dengan cinta yang ia tunjukkan dengan jelas. Sementara hubungan diantara mereka sudah berbeda.
Kini, seonggok bunga yang masih segar itu terlihat layu dimata Alex. Salah jika Alex berharap cintanya akan merebak wangi sebagaimana bunga didepannya itu, bunga yang ia petik sendiri dari kebun dan kemudian ia rangkai hingga menjadi buket, dengan tangannya sendiri. Salah jika Alex berharap Kayla akan memahami dirinya sedangkan ia mempersembahkan sekuntum mawar merah diantara lily putih dalam buket yang ia hadiahkan. Salahnya, karena Alex melupakan bahwa dirinya calon suami orang lain yang tidak seharusnya melakukan itu pada gadis selain calon istrinya. Salahnya, ia terlalu egois dan hanya membuka mata untuk melihat Kayla seorang.
"Hhh......." desahnya seraya mengusap wajah.
"Udahlah Al.. hentikan semua ini..!" desaknya mengeluh pada dirinya sendiri.
"Cukup Al.. mau sampe kapan elu begini? Yang harusnya elu pikirin itu Feli, bukan Kayla."
"Bukan Kayla lagi." ulangnya getir.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...