Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Perpisahan Dua Sahabat


__ADS_3

Kayla dan Kenzo masih betah duduk di teras rumah, meski malam semakin larut dan dinginnya angin malam semakin menusuk. Saling bertukar kisah tentang pengalaman mereka masing-masing, dimana ketika mereka berdua tidak bersua selama hampir setahun.


"Btw, Jessica gimana?" tanya Kayla.


"Ya mau gimana lagi."


"Kok gitu sih jawabannya. Kayak terpaksa gitu ninggalin Jessica."


"Ya mau gimana Kay, gue masih sayang sama Jessica. Tapi dia udah jadi bagian dari masa lalu gue sekarang, gue udah nggak mau nengok ke belakang lagi."


"Tapi kamu belum ngomong apa-apa ke dia, dan udah nggak ada waktu lagi Ken. Harusnya tadi siang tuh kamu temuin dia sebentar, biar jelas semuanya. Aku jadi nggak enak sama dia, ntar dia nanya macem-macem lagi ke aku."


"Gue udah nulis surat buat Jessica." Kenzo merogoh saku celananya dan mengeluarkan sepucuk surat yang terlipat rapi.


"Tolong kasihin ke dia ya Kay!" Kenzo menyerahkan surat itu pada Kayla.


"Kamu mutusin dia lewat surat? Enggak mau terus terang secara face to face gitu? Kalo kayak gini kamu nyakitin dia banget Ken.. dan aku rasa ini tuh bukan sebuah kejelasan, sedangkan kamu ngehindarin dia dari kemarin."


"Gue nggak bisa ngambil opsi lain, Kay. Karena jujur, gue mulai nyaman sama dia. Meskipun nggak sulit buat gue lepasin dia, tapi kalo sampe gue liat dia melas di depan gue.. gue bisa aja kebawa perasaan. Dan gue nggak mau bikin kesalahan lagi"


"Jadi.. kamu beneran suka sama Jessica?"


Kenzo tersenyum miring, "Awalnya gue cuman jadiin dia pelampiasan sih, setelah gue mutusin buat mendam perasaan gue ke elu. Tapi.. makin kesini gue jadi ngerasa kayak nyaman sama dia, nyambung gitu. Ada sesuatu yang beda dari dia, yang wow gitu, dan itu bikin gue tuh bener-bener suka."


Kayla mendengus, "Yang beda apaan lagi sih Ken? Tadi katanya Chika yang paling beda. Nggak ngerti aku sama kamu"


"Setiap cewek itu punya sisi istimewanya masing-masing Kay, mereka pasti punya sesuatu di diri mereka yang bikin cowok tuh tertarik sama mereka. Dan itu beda-beda, termasuk elu."


"Ih, kok aku juga?" sewot Kayla.


"Ya kan elu juga cewek"


"Gimana kamu bisa tau semua itu, kalo setiap cewek tuh punya sisi istimewanya masing-masing?" bingung Kayla.


"Hei hei.. gue ini kan cowok penggoda, jangankan tau semua itu, isi hati mereka aja gue bisa baca." kata Kenzo dengan songongnya.


Kayla memutar bola matanya seraya menggeleng, "Ken.. Ken.."


"Jessica itu cantik banget ya Kay" Kenzo membayangkan wajah Jessica.


"lya. Emang kenapa? Sayang mutusin?" tanya Kayla sewot.


"He'em.. sayang banget" jawabnya lempeng.


"Belum rela gue dia dimilikin samaorang lain"


"Dasar playboy!" Kayla memukul lengan Kenzo kesal.


Kenzo tertawa, "Bercanda Kay. Seperfect-perfect nya Jessica, tetap nggak ada yang ngalahin Chika buat gue."


Kenzo terdiam sambil bertekan dagu, dia tersenyum memandang ke langit. Kayla memperhatikannya, entah apa dan siapa yang ia bayangkan. Dasar Kenzo!


"Ken?"


"Hm?"


"Waktu itu.. kamu sama Jessica... emm.." Kayla ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


"Apa Kay?" tanya Kenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.


"You guys are kissing"


Kenzo terkesiap, ia melirik Kayla lalu membuang muka, malu. "Astaga.." gumamnya pelan hampir tanpa suara.


"Dan kamu marah aku tegur" lanjut Kayla sebal.


"I-itu.." Kenzo menghela nafas panjang. "Gue galau Kay, gue marah sama elu bukan karena ditegur, tapi karena gue cemburu. Dan gue ngelakuin itupun cuman buat ngalihin pikiran gue yang galau."


Kayla sempat terdiam kemudian ia mendengus panjang. "Tapi Ken, hubungan kamu sama Jessica nggak lebih jauh dari itu kan?"


Kenzo tertunduk, "Enggak Kay. Yang elu sama Alex liat itu udah yang paling jauh."


"Jujur Ken..!"


Kenzo menatap Kayla, "Gue jujur. Kalo elu mikir gue bisa ngelakuin hal yang sama kayak yang gue lakuin ke Chika, elu salah. Gue sama Jessica nggak pernah sejauh itu Kay"


"Dan apa.. sebelum Chika juga pernah?" tanya Kayla hati-hati.


Kenzo mendengus, "Udah susah ya elu percaya sama gue sekarang?"


"Sorry, bukan gitu Ken. Aku cuman khawatir sama nasib Chika, aku nggak mau sampe nanti Jessica ngamuk karena diputusin kamu, trus minta tanggung jawab ke kamu. Hayoo..!"


"Ya ampun Kay, jauh amat mikir lu. Nih ya, gue nggak pernah berhubungan sama cewek manapun sampe sejauh hubungan gue sama Chika. Chika itu satu-satunya Kay. Udah gue bilang kan Chika itu beda dari yang lain, gue juga nggak pernah pacaran lebih dari dua bulan sama siapapun kecuali Chika, karena gue pacaran cuman main-main. Tapi Chika, dia bikin gue nggak bisa berpaling, sampe gue berani berpikir buat milikin dia." terang Kenzo serius, ia menekankan setiap kata-katanya.


Kayla menggigit bibir bawahnya. la sedikit menyesal karena terlalu ikut campur dan kepo urusan pribadi Kenzo, sampai Kenzo harus menjelaskan semua itu padanya.

__ADS_1


"Gue sayang banget sama Chika Kay, kalo elu khawatir soal nasib dia.. gue janji sama elu, gue pasti bakal bahagiain dia. Gue bakal kasih semua cinta gue ke dia, gue bakal jadiin dia satu-satunya. Mulai sekarang!" tekadnya mantap.


Kayla tersenyum bangga pada Kenzo. "Maafin aku ya Ken, aku percaya kok sama kamu. Mulai sekarang kamu bukan cuman HeroKenzo ku, tapi kamu bakal jadi Hero juga buat Chika."


"Ah jangan bikin gue besar kepala Kay


Setelah elu tau gue ini brengsek.. nggak pantes lagi gue disebut Hero. Kalo gue bisa bahagian Chika aja, gue udah pasti bersyukur banget. Karena gue nggak bisa bahagiain elu, gue cuman bikin elu kecewa sama gue selama ini."


"Ken.. kamu emang pernah bikin kesalahan dan dosa, tapi bukan berarti kamu pantes disebut orang jahat selamanya. Kalo kamu mau berubah, mau ngakuin kesalahan, mau bertanggung jawab, dan nepatin janji, kamu juga berhak disebut cowok sejati. Aku bangga sama kamu." Kayla menepuk pundak Kenzo lalu menepuk pipi Kenzo dua kali.


Kenzo tersenyum senang, ia membalas Kayla dengan menepuk pipi Kayla dua kali. Mereka lalu tertawa riang, mengingat mereka suka melakukan hal seperti ini sejak kecil. Pertama kali mereka saling menepuk pipi adalah ketika kelas 1 SD, saat Kenzo terpergok bertengkar di sekolah lalu guru hanya menegurnya tanpa menghukumnya. Guru itu menepuk pipi Kenzo dan mengatakan, 'ini hukumannya sekaligus penghargaannya'. Guru itu bangga karena Kenzo bertengkar untuk melindungi Kayla dari siswa nakal yang menjahilinya dan membuatnya menangis. Saat Kayla melihat perlakuan guru itu, iapun berinisiatif untuk memberi Kenzo hukuman sekaligus penghargaan seperti yang gurunya lakukan. Karena saat itu Kayla marah melihat Kenzo bertengkar tapi ia juga berterima kasih karena Kenzo membelanya.


"Udah ah, nggak ada abisnya kalo nginget masa kecil." Kenzo lalu melihat surat yang tadi ia berikan kepada Kayla.


"Kasih surat itu ke Jessica besok ya Kay! Bilang aja gue balik ke Bandung. Alasannya, semua ada di surat itu. Kalo dia nanya-nanya ya kamu suruh aja dia baca surat itu. Kalo dia marah, elu bisa ngehadapin dia kan?" Kenzo menyengir setelahnya.


"Kamu jujur sama dia soal alasan kamu balik ke Bandung?"


"Enggak lah. Enggak ada yang boleh tau soal itu, cukup elu, Tante Nadia, sama Alex. Gue kasih Jessica alasan yang cukup masuk akal kok di surat itu. Kalo elu mau tau isinya, baca aja!"


"Eh, nggak papa aku baca?"


Kenzo mengangguk santai. "Enggak boleh gitu lah Ken, surat ini buat Jessica, artinya cuman dia yang berhak tau isinya. Seenggaknya aku bisa baca kalo dia yang izinin" kata Kayla.


"Surat itu dari gue, dan gue nggak masalah elu tau isinya."


"Kalo gitu kasih tau aja langsung ke aku!"


E'ekhemm...!!


Kayla dan Kenzo menoleh ke belakang ke asal suara yang barusan berdehem, ternyata Mami Kayla berdiri diambang pintu.


"Udah cukup ngobrolnya, ini hampir jam dua belas. Ayo tidur, ntar kesiangan loh..!" tegur Nadia.


"Eh mami belum tidur..?" tanya Kayla sambil cengar-cengir.


"Udah kok tadi, sekarang mami nggak bisa lanjut tidur kalo kalian belum masuk."


Kenzo tersenyum tipis, kemudian beranjak dari duduknya. "Maaf Tante, udah ngerepotin."


Nadia menyelis, ia agak heran melihat Kenzo tersenyum. Apa sekarang anak ini sudah tidak sungkan lagi padanya, padahal sebelumnya Kenzo takut dan malu menunjukkan wajahnya di depan Nadia.


"Yaudah, kalian masuk!"


"lya mi." jawab Kayla, dan Kenzo ikut mengangguk.


Pukul 06.05 pagi, Kenzo membereskan sekalian memeriksa kembali isi tasnya. Sedangkan Chika dibantu Kayla bersiap-siap di kamarnya, Kayla juga agak terburu-buru memakai seragam sekolah karena ia akan ikut ke Bandara dulu mengantar Kenzo dan Chika, sebelum sekolah. Sementara Nadia sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.


"Chik, udah belum...?" teriak Kenzo dari luar.


"Bentar..!" sahut Chika dan Kayla bersamaan.


Nadia tersenyum, suasana rumah jadi berbeda dan semakin ramai sejak ada Kenzo dan Chika. la jadi merasakan bagaimana menjadi ibu dari tiga orang anak, yang selama ini hanya ia dengar dari kisah keluhan teman-teman sekantornya yang mempunyai banyak anak. Mereka bilang mengurus banyak anak itu repot, tapi bagi Nadia tidak juga, ia malah senang menikmati momen ini. Ya mungkin karena Kenzo dan Chika hanya sebentar bersamanya, tidak benar-benar menjadi anak yang harus diurusnya setiap hari.


Baru saja Chika dan Kayla keluar dari kamar, Kenzo sudah kembali mendesak lagi.


"Buruan, kita harus sampe bandara seenggaknya jam setengah tujuh." kata Kenzo tegang.


"Penerbangannya kan jam tujuh Ken, masih ada waktu kok. Lagian tiketnya juga udah ada kan" sahut Kayla.


"Ya tapi nggak mungkin dong Kay kita nyampe kesana jam tujuh, seenggaknya setengah jam sebelum penerbangan kita udah stay."


"Sarapan dulu, Ken, Chik..!" seru Nadia yang baru selesai menghidangkan makanan.


Kenzo melirik jam tangannya, "Makasih Tante, ntar aja deh kita sarapannya. Lagian kita nggak lama kok di jalan, palingan jam delapan kita udah sampe kok, sarapannya bisa nanti."


"Eh yang bener aja?! Masa' mau naik pesawat nggak sarapan dulu. Ntar mabok loh, sarapan dulu lah Ken, Chik..!" bujuk Kayla.


"Enggak usah Kay, Tante. Kita mending langsung berangkat aja, bener kata Kenzo kita nggak lama kok di jalannya, jadi bisa sarapan nanti pas udah nyampe di Bandung aja." tolak Chika halus.


"Kamu laper?" tanya Nadia sambil memegang kedua pundak Chika. "Kamu mungkin bisa nahan laper, kamu bisa cuekin diri kamu, tapi jangan dia." Nadia menempelkan telapak tangannya di perut Chika yang mulai menonjol.


"Kamu nggak bisa egois lagi nak, ada nyawa yang bergantung hidup sama kamu. Kalo kamu telat makan satu kali mungkin kamu akan baik-baik aja, tapi gimana dia? Dia masih kecil, kesehatannya masih rentan diusia ini"


Chika dan Kenzo tertunduk diam, Kayla pun memilih diam memperhatikan.


"Sarapan ya..!" bujuk Nadia lagi, membuat Chika menoleh ke arah Kenzo, meminta persetujuan.


"Ngapain liat Kenzo? Nggak penting dia setuju atau enggak, yang penting tuh kesehatan kamu sama anak kamu. Kamu nggak akan terlambat kalo cuman sarapan doang" kata Nadia lagi, ia menyelis ke arah Kenzo sekilas.


Chika tersenyum tipis sambil melirik Kenzo. "Maaf Chik. lya kita sarapan dulu, lagian Alex tadi nawarin jemput kan, sekalian kita tunggu dia aja" ucap Kenzo.


Nadia menepuk-nepuk pundak Kenzo, "Bagus. Ayo!"


Saat mereka sedang sarapan, Alex datang dengan mobil sport merah kesayangannya. la pun ikut sarapan bersama keluarga Kayla. Setelah selesai sarapan, Kenzo dan Chika berpamitan pada Nadia. Kayla dan Alex akan mengantar mereka ke Bandara, menaiki mobil Alex. Sesuai yang mereka rencanakan kemarin.

__ADS_1


Chika memeluk Nadia dan Kayla bergantian, mengucapkan maaf, dan banyak terimakasih pada ibu dan anak ini yang telah bersedia menampungnya selama beberapa hari di Jakarta, bahkan melayaninya dengan hangat selama disini.


Giliran Kenzo yang berpamitan, ia mencium tangan Nadia lama. Sepenuh hati ia memohon ampun pada perempuan yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri ini. Nadia pun tidak dapat lagi menahan dirinya, ia sebenarnya masih marah dan kecewa pada Kenzo, tapi dari lubuk hatinya ia tentu sangat menyayangi Kenzo. Nadia pun menarik Kenzo ke dalam pelukannya dan menangis.


"Maafin Ken Tante.. maaf.." lirih Kenzo sambil menangis.


"Tante udah maafin kamu nak.. mana bisa Tante marah lama-lama sama kamu, kamu anak Tante.." ucap Nadia sambil menahan isakannya.


"Makasih Tante, tapi Ken nggak bisa jadi anak yang baik buat Tante.. Ken cuman ngecewain Tante.. maaf.."


"Udah.. yang penting kamu udah nyadarin kesalahan kamu. Tante sayang sama kamu..kamu tetap anak Tante, sampai kapanpun." Nadia mengusap kepala Kenzo, sayang.


Kayla yang menyaksikannya pun ikut terharu dan menangis, Chika apalagi. Dan Alex, melihat interaksi seperti ini ia jadi teringat mamanya. sungguh, kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah berkurang apalagi hilang, meski sang anak telah banyak mengecewakannya. Meski sang anak adalah penjahat sekalipun, dia tetaplah anak bagi sang ibu, kasih sayangnya tetap sama meski telah disakiti hatinya.


Akhirnya keempat muda-mudi itu berangkat ke bandara, dan sampai di sana pukul 06.45. Kenzo dan Chika langsung Check-in setelah sampai di sana. Untungnya tidak ada kendala saat check-in, tapi waktu mereka mepet jadi tidak ada waktu untuk duduk ataupun berbicara banyak lagi. Kayla dan Alex hanya menemani mereka yang sibuk dan nampak tergesa-gesa, karena setelah check-in mereka langsung menuju apron bandara untuk naik ke pesawat.


Sejenak, mereka berhenti di depan pintu kaca tebal penghubung antara terminal dan pelataran pesawat. Sekali lagi berpamitan, Kayla yang sudah sejak tadi menahan air matanya tidak tahan lagi untuk tidak menumpahkannya saat melihat wajah Kenzo.


"Ya ampun Kay, gue cuman pulang ke Bandung, bukan mau pergi keluar negri" ujar Kenzo sambil mencolek ujung hidung Kayla.


Kenzo pun tidak tahan untuk tidak menangis, mungkin ini pertemuannya dengan Kayla yang terakhir kali, sebelum Kenzo memulai hidup barunya bersama Chika. Mungkin Kenzo dan Kayla tidak akan bisa bebas pergi berdua lagi setelah ini, saling curhat dan terbuka lagi setelah hari ini, dan mungkin itu jugalah yang tengah Kayla pikirkan saat ini sehingga dia menangis.


Kayla dan Kenzo tidak pernah berpikir sebelumnya akan ada perpisahan diantara mereka. Dan perpisahan itu terjadi secara mendadak, pertama kali saat Kayla dan maminya pergi meninggalkan Bandung diam-diam. Sangat berat bagi kedua sahabat ini saat mereka berada jauh dari satu sama lain. Sampai takdir mempertemukan mereka kembali, namun kini belum lama mereka bersama, takdir kembali memisahkan mereka.


Kali ini perpisahan dua sahabat ini terasa lebih berat, karena penyebab mereka berpisah adalah hal yang serius. Salah satu dari mereka akan memulai tantangan dan ujian baru dalam hidupnya. Yang artinya mereka berdua benar-benar akan menjalani kehidupan masing-masing, bukan berjalan berdampingan lagi seperti yang selama ini mereka lalui.


"Kay, boleh gue meluk elu? Kali inii...aja!" pinta Kenzo memelas.


"Apaan sih Ken, udah gede' tau!" sahut Kayla disela isak tangisnya.


"Gue nggak tau abis ini bisa meluk lu lagi apa enggak.."


"Emang kapan kita pernah pelukan? Kita bukan anak kecil lagi Ken.. kamu juga nggak malu ya nangis gini di depan umum?"


"Elu yang nangis duluan.."


Alex merasa lucu melihat interaksi Kayla dan Kenzo yang benar-benar seperti anak kecil, saling merengek dan sesekali berteriak kecil. Rasanya Alex ingin tertawa tapi tentu tidak sopan tertawa ditengah kesedihan mereka. Sementara Chika tertegun, ia menyeka sudut matanya yang kembali basah.


"Pliss ya Kay, gue boleh meluk elu. Sebentaaar aja! Boleh ya Al..?!" mohonnya lagi, kali ini meminta izin dari Alex.


Alex menaikkan alisnya bingung, ia melirik Kayla.


"Apa sih Ken.. nggak perlu pelukan aku bilang. Kamu nggak akan kehilangan aku meskipun kamu pergi ninggalin aku. Aku tetap sahabat kamu, aku tetap Kaylily kamu.."


"Chik, boleh ya gue meluk Kayla." kali ini Kenzo meminta izin Chika, Chika tersenyum getir sambil mengangguk.


Kenzo maju selangkah, mendekati Kayla. Mata mereka yang sama-sama bening basah itu saling bersitatap, tangan Kenzo lalu terangkat untuk memegang kuncir rambut Kayla.


"Kaylily gue yang cengeng.. apa permintaan gue terlalu susah buat lu..? Hm? Setelah ini gue gak bakal bisa meluk elu lagi, setelah ini cuman istri gue yang boleh meluk gue. Apa salahnya gue minta satu pelukan dari elu?" katanya lirih dengan wajah yang agak menunduk menatap Kayla, sambil memainkan kuncir rambut Kayla.


Kayla menutup mulutnya karena isakan tangisnya semakin kencang, Kenzo kembali berucap. "Apa gue harus nyanyi dulu biar lu mau, kayak-.."


Grepp


Kayla menubruk dada Kenzo, sehingga otomatis Kenzo terdiam. Apa lagi yang bisa Kenzo lakukan selain memeluk Kayla erat sambil memejamkan matanya. Alex dan Chika yang menyaksikan mereka saling berpelukan dan menangis, hanya bisa terdiam. Ada rasa haru, cemburu, kesedihan dan kelegaan yang meliputi mereka.


"Makasih Ken.. makasih udah jadiin aku orang yang spesial buat kamu, makasih udah nempatin aku di hati kamu, makasih buat semua yang kita laluin sama-sama." bisik Kayla lirih di dalam dekapan Kenzo.


"Makasih Kay.. makasih udah mau jadi orang pertama yang ngajarin gue cinta, makasih udah mau gue repotin selama ini, makasih buat semua yang elu kasih ke gue. Gue cinta sama lu, tapi gue harus lupain perasaan ini. Maaf.. gue bakal kasih cinta gue ke Chika, gue harus nempatin dia posisi yang udah lama elu tempatin. Tapi Kay, elu bakal selalu ada dihati gue, di tempat khusus yang nggak bakal bisa digantiin oleh siapapun." balas Kenzo berbisik, masih dengan mata yang terpejam.


Tiba-tiba terdengar pengumuman keberangkatan, membuat dua sahabat itu melepaskan pelukan mereka. Mau tidak mau, keduanya harus berpisah juga. Kenzo beralih pada Alex, merangkulnya dan memeluknya. Meminta agar dia menjaga Kaylily nya, menitipkan sahabat terbaiknya itu pada Alex. Kenzo percaya, Alex adalah pria yang tepat untuk Kayla.


Sementara Chika menangis sambil memeluk Kayla. la menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan, ia pun mengucapkan kalimat yang akhir-akhir ini ingin sekali ia ucapkan.


"Maafin aku Kay.. maafin aku.. aku misahin kamu sama Kenzo. Aku ngerebut Kenzo dari kamu. Kalo aku bisa milih, aku nggak akan lakuin ini, maaf Kay.. aku egois.."


"Chik, udah aku bilang nggak perlu ngerasa bersalah kayak gini. Kamu nggak ngerebut Kenzo dari aku, dia milik kamu. Dari awal juga dia milik kamu, kamu yang berhak atas dia bukan aku"


"Tapi kamu cintanya.." kata Chika lagi.


"Bukan aku, tapi kamu. Kita dapetin cinta kita masing-masing Chik, kamu datang kesini buat jemput cinta kamu, dan aku tetap disini buat cintaku. Itu adil kan!" Kayla melepas pelukannya lalu menampilkan senyuman terindahnya pada Chika.


Chika pun tersenyum haru. "Makasih Kay.."


Suara panggilan keberangkatan kembali menggema, hanya tinggal Kenzo dan Chika saja yang belum naik ke pesawat. Akhirnya mereka berdua pun melangkah menuju pesawat yang akan mengantar mereka pulang, dan melangkah menjauh dari Kayla dan Alex. Kayla masih menangis, Alex merangkul bahunya dan menenangkannya.


Hingga pesawat lepas landas dan terbang mengecil, Kayla masih menatap pesawat itu dengan nanar. Kenzo dan Chika yang didalam sana pun tak mengangkat kepalanya dari pandangan mereka ke arah Kayla, sampai sosok gadis berhati besar itu lenyap dari pandangan mereka.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2