
"Pagi, sayang..!" seru Mami yang baru saja selesai membuat sarapan.
"Pagi, Mi.." jawab Kayla sembari duduk di depan meja makan.
Kayla menguap, membuat mami terkekeh. "Kesiangan ya sayang, kemarin emang tidurnya larut?"
"Mmm...enggak tau Mi" sahut Kayla sambil mengedikkan bahunya.
Padahal ia malu kalau mami menyinggung tentang sesuatu tadi malam. Mami juga sebenarnya ingin bertanya banyak pada Kayla, tapi merasa ragu. Takut kalau-kalau Kayla akan terganggu atau tidak suka dengan pertanyaannya. Akhirnya selama sarapan keduanya hanya diam.
Selesai sarapan, Kayla mencuci piring bekas mereka makan. Dan mami yang sudah mau berangkat kerja, kembali ke dapur. Pertanyaan dalam kepala mami mendorongnya untuk meminta jawaban dari Kayla secepatnya.
"Sayang!"
"lya mi?"
"Mmm...Alex..." aktivitas Kayla terhenti saat mendengar nama Alex disebut.
"Alex emang sebelumnya pernah nembak kamu ya?"
Kayla mengangguk gugup, ia tidak berani menatap mami.
"Trus?"
"Trus apa mi?" tanyanya, masih menunduk.
"Kamu tolak ya?"
"lya."
"Emm... Soal yang tadi malam..." Kayla mendengus kecut, "..apa dia juga udah ngomongin itu sebelumnya sama kamu?"
"Enggak mi. Enggak tau tiba-tiba dia ngomong gitu, cowok aneh!" kesal Kayla.
"Dia.. serius?"
"Enggak tau ah!" sahut Kayla cuek, sebenarnya ia malu.
"Eh.. kok gitu. Gimana kalo dia serius?"
"Mami apaan sih, emangnya kalo dia serius mami gimana?"
Mami menaikkan alisnya, benar juga kata Kayla. Bagaimana jika Alex memang serius, apa yang harus mami jawab?
"Ya..itu tergantung kamu lah, sayang. Makanya mami nanya. Perasaan kamu ke dia gimana?"
Kayla semakin gugup, dan ia merutuki dirinya yang bersikap gugup ini. "Biasa aja." sahutnya cuek.
Mami menatap Kayla yang masih enggan mengangkat kepalanya.
"Ih mami apa sih, gak usah bahas itu ah! Lupain aja soal Alex ataupun omongan dia tadi malam, mana mungkin dia beneran mau-.." Ah, lidah Kayla rasanya kaku dan berat untuk menyebutkan kalimat selanjutnya, ia malu mengatakan itu.
"Kamu emang gak kepikiran ya? Mami kepikiran loh semalaman."
Kayla melirik maminya sekilas. "Lily juga sebenarnya kepikiran, tapi kita anggap aja itu mimpi buruk ya! Lupain aja! Lily harus ngomong sama cowok rese' itu, beraninya dia bikin mami susah tidur semalam!" sungut Kayla jengkel.
... _________________...
... ...
Ujian akhir semester telah berakhir, namun para siswa dan siswi tetap diwajibkan masuk sekolah meski tidak ada pelajaran wajib, selain ekstrakurikuler bagi murid yang mengikutinya. Ada dua minggu sebelum hari penentuan kenaikan kelas, yang artinya selama dua minggu itu tidak ada kegiatan khusus di sekolah.
Kayla masih sangat kesal dan gemas dengan kelakuan Alex tadi malam, bisa-bisanya dia mengucapkan kalimat seperti itu dihadapan mami! Dia bahkan tidak bertanya dulu pada Kayla, malah langsung bicara pada mami.
"Pagi, Kay!" seru Nia yang baru datang.
"Pagi, Nia!"
"Pagi, Dit!" yang disapa malah terkesiap, sepertinya dia melamun sambil berjalan.
"Eh, pagi Kay!" jawab Adit kemudian.
Adit memperhatikan Kayla, tidak ada yang janggal dari ekspresi wajahnya. Kayla terlihat seperti biasanya menyapa Adit.
"Ada apa, Dit?"
"Oh enggak, enggak papa."
"Dia udah tau belum ya.. kayaknya belum deh. Tapi masa' dia belum liat?" tanya Adit dalam hatinya.
"Kay, kamu suka bonekanya?" tanya Adit.
"lya, suka." sahut Kayla berbinar.
Adit terdiam memperhatikan Kayla sekali lagi. "Kenapa Dit, kamu kok kayaknya gak yakin banget aku suka hadiah kamu!"
"Oh bukan Kay, bukan gitu."
"Trus?"
Adit gelagapan, kemudian ia menyengir. "Enggak papa" sahutnya akhirnya.
Kayla mengernyit bingung, tapi ia tak bertanya lagi.
"Kay, aku masih kebayang-bayang tau lukisan Alex, bagus banget..." ujar Nia terpesona.
"Sebesar itu cintanya sama kamu, sampe dia ngelukis kamu sesempurna itu Kay. Bahkan dia bilang itu kamu pas pertama kali kalian ketemu. Gaunnya, dandanannya, ekspresinya, topengnya juga sama. Demi apa coba, bisa sedetail itu?!"
Kayla tersenyum seraya menggeleng-geleng. "Gimana kamu tau kalo itu detail? Kamu kan gak liat aku malam itu. Lagian masa' yang kayak gitu kamu bilang cinta!"
"lya dong. Dia ngebuktiin ke kamu Kay kalo dia beneran cinta sama kamu. Ya ampun...So Sweet..."
Kayla terdiam. Ya mungkin memang Alex membuktikan cintanya, tapi bukan lewat lukisan itu. Dia membuktikannya dengan mengungkapkan pada mami bahwa dia akan melamar Kayla. Kayla menghela nafas panjang.
"Emangnya lukisan bisa ngebuktiin cinta?Semua pelukis juga bisa ngelukis apapun dengan detail kan, seenggaknya Alex emang seniman berbakat." sergah Adit, tak terima agaknya.
"Hmm.. kalo itu aku setuju. Gak usah lebay dengan terlalu ngagumin dia, Nia! Dianya aja yang emang suka ngelukis, makanya hasil lukisannya sebagus itu."
__ADS_1
"Ih kamu Kay! Itu hadiah ulang tahun yang perfect banget loh.. dia bikin itu buat kamu. Special only for you!"
"lya. Aku suka kok, aku hargain. Tapi aku gak anggap itu sebagai pembuktian cinta."
"Huh...terserah lah" ujar Nia pasrah.
Tidak lama kemudian Kayla melihat Alex lewat di depan kelasnya, bersama Bima, Sandi, dan Vicky.
"Itu dia! Aku harus ngomong sama dia!" gumam Kayla dalam hati.
"Eh, mau kemana Kay?" tanya Nia saat melihat Kayla bergegas pergi keluar kelas.
"Ada urusan penting!" sahut Kayla setengah memekik.
Saat Kayla sudah diluar kelas, ia memanggil Alex, membuat Bima, Sandi, dan Vicky ikut menoleh ke belakang.
"Eh Miss Kissable." ujar Alex senang saat tahu Kayla memanggilnya.
"Aku mau ngomong sama kamu!" ucap Kayla sambil menatap Alex tegas.
"lya?"
Kayla melirik Bima, Sandi, dan Vicky bergantian. Kemudian ia menatap Alex lagi, "Face to face"
Setelah mengatakan itu Kayla berbalik dan berjalan mendahului. Mereka berempat pun saling pandang, pandangan Bima, Sandi, dan Vicky terhenti pada Alex yang menampilkan senyuman misteriusnya.
"Wah ada apa nih, pake ngomong face to face segala?" sindir Sandi.
"Feeling gue ini ada hubungannya sama elu yang pulang belakangan semalam." ujar Vicky.
Alex menjentikkan jarinya satu kali seraya mengedip, "Do'ain gue, bro!" bisiknya kemudian berlalu, meninggalkan tanda tanya bagi ketiga temannya.
"Ck ah, sialan ya! Bikin penasaran aja." ujar Bima geregetan.
... ....
... ....
... ....
Samping ruang aula yang terletak di sudut sekolah, dengan beberapa pohon besar yang rindang di sekitarnya, agaknya menjadi tempat yang cocok untuk duduk santai dan membicarakan hal serius seperti yang Kayla lakukan sekarang. Lokasinya agak sepi, jarang ada siswa-siswi yang main ke sana, kecuali mereka yang memang ingin menghindari keramaian.
Kayla duduk tegap dengan menyilangkan kedua tangannya, ekspresi wajahnya serius tapi nampak menggemaskan dimata Alex.
"Ada apa, Miss Kissable?"
"Enggak usah pura-pura, kamu tau apa yang mau aku bahas."
Alex mendengus senyum mendengarnya. "Pura-pura gimana sih, kenapa juga muka kamu gitu, kesel ya?"
"Iih.. pake ditanya! Udah jelas-jelas aku kesal sama kamu, kamu tuh ya...!" Kayla menggeram geregetan.
Alex mengulum senyum, "Maaf deh.."
"Tapi aku bingung kamu kesel tuh gara-gara apa sih, aku bikin salah ya?" tanya Alex membuat Kayla semakin kesal dan merasa diejek.
"Aku?" pertanyaan konyol itu membuat Kayla berdecak kesal mendengarnya.
"Aku ngomong sama mami kamu karena aku pengen ngebuktin keseriusan aku, Miss Kissable"
"Tiba-tiba Al! Kamu bahkan gak nanya dulu ke aku, gak ngomong kalo kamu.. ih...kamu pikir itu bercandaan!?"
"Loh, aku kan udah nyatain perasaan aku ke kamu, aku juga udah dapet jawabannya dari kamu. Walaupun kamu nolak buat pacaran, bukan berarti aku nyerah deketin kamu. Aku serius, dan aku niat buat ngelamar kamu ke mami kamu langsung." tutur Alex agak serius dan dengan nada yang lembut.
Entah kenapa hati Kayla terasa menghangat mendengar penuturan Alex. Tapi tak lantas membuat kekesalannya hilang, ia mendengus panjang.
"Ngelamar Al? Emang kamu ngerti apa soal lamaran, itu bukan hal yang sepele, bukan cuman soal kita berdua, tapi orang tua juga!"
"lya aku tau. Makanya aku ngomongnya sama mami kamu. Kalo aku ngomongnya ke kamu udah jelas reaksi kamu kayak gini, mending langsung kan ke mami kamu. Aku serius Miss Kissable."
Kayla terkekeh kecut, "Emang reaksi aku harus gimana, ya jelas lah aku kaget Al, aku kesel tau! Kamu bahkan belum ngomong kan sama papa kamu?"
"Miss Kissable, aku baru niat ngelamar kamu, belum ngelamar kok. Yah.. padahal kemarin aku sempet mikir beneran ngelamar kamu sih, pas sekalian ngasih hadiah ulang tahun, tapi takutnya para hadirin geger, hehe..."
Kayla terperangah, "Hah? Kamu.. ya ampun...!" Kayla menggeleng-geleng tak habis pikir.
"Miss Kissable, maafin aku ya, aku jadi bikin kamu gusar gini. Aku pengen buktiin kalo aku emang serius, aku cinta sama kamu, aku pengen selalu ada didekat kamu, dan aku pengen habisin seluruh hidup aku bersama kamu. Soal lamaran, aku sendiri juga masih nyiapin semuanya. Gak sekarang kok Miss Kissable, aku pasti kasih kamu waktu. Aku bakal nunggu sampe kamu siap!"
Degg
Kayla tertunduk, wajahnya pasti sekarang sudah memerah, jantungnya pun berdebar tak karuan. Entah gelenyar aneh apa yang muncul di dadanya, Kayla merasa malu sendiri. Setelah Alex menyelesaikan kalimatnya, dan hening tercipta, Kayla mengira mungkin debaran jantungnya yang kencang ini bisa terdengar oleh Alex.
"Bukan cuman kamu, aku juga butuh waktu Miss Kissable. Setelah aku bener-bener siap dan udah ngomong sama papaku, baru aku akan ngelamar kamu. Kita punya banyak waktu buat nyiapin diri, aku gak akan desak kamu kok. Aku bisa nunggu"
"Jangan nunggu lagi, Al!" ucap Kayla tiba-tiba, membuat Alex terkesiap.
Kayla mengangkat kepalanya, menatap Alex. "Al, aku gak mau pacaran bukan berarti aku mau nikah muda. Aku sama sekali belum kepikiran buat nikah, aku baru 17 tahun, Al"
"Aku juga 17 tahun." sahut Alex.
"Trus?"
"Apa? Emang apa salahnya kalo umur kita 17 tahun? Kita udah sama-sama dewasa, dari segi pemikiran dan juga pengalaman, aku yakin aku bisa jadi suami yang baik. Dan aku yakin, pilihan aku itu.. kamu!"
Kayla tak habis pikir, bagaimana Alex bisa berpikir sampai sejauh itu. "Trus apa lagi yang kamu pikirin selain itu? Kamu nggak mikir soal sekolah, kita masih kelas sebelas, Al! Kamu pikir kehidupan pernikahan itu gampang apa?"
"Enggak. Aku tau kehidupan pernikahan itu gak gampang, lagian aku niat nikah bukan cuman mikir enaknya doang kok, aku juga udah pikirin ini serius. Makanya aku milih kamu, karena aku yakin kalo kamu yang jadi pendamping aku, aku bisa ngehadapin dan ngelewatin masalah apapun. Aku pengen kamu yang jadi masa depan aku, Miss Kissable."
Degg
Kayla menghela nafas panjang. "Masih banyak yang harus dipikirin selain itu, Al! Pernikahan itu hubungan seumur hidup, butuh waktu dan pemikiran yang matang buat mutusin.. nikah kapan, dan sama siapa. Aku pikir terlalu cepat buat kita mikirin ini, belum pantes Al. Lupain soal itu, pikirin sekolah aja dulu!" ujar Kayla serius.
"Aku ngerti, aku pasti mikirin semuanya."
Kayla berdiri dan hendak pergi, tapi Alex menahan lengannya. Alex pun berdiri, "Seenggaknya.. aku pengen tau soal perasaan kamu ke aku."
Kayla menaikkan alisnya. Seharusnya ia tahu, cepat atau lambat Alex pasti akan menanyakan ini, tapi sampai sekarang Kayla sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. la tidak pernah merenungkan tentang apa yang hatinya rasakan untuk Alex, ia selalu mengabaikan rasa ini. Lebih tepatnya, berusaha mengabaikannya. Karenanya Kayla tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Alex ini.
__ADS_1
"Maaf Al, aku nggak bisa jawab." Alex terdengar mendengus nafas berat.
"Kalo kamu capek diginiin terus sama aku, udahin aja Al. Aku juga udah bilang berkali-kali kan sama kamu, jangan nunggu aku!"
Alex tersenyum tipis, "Aku nggak akan bosen nunggu kamu, dan aku tetap akan nunggu kamu. Karena aku serius, dan aku yakin."
Kali ini Kayla yang terdengar mendengus. "Dasar keras kepala!" gumamnya sambil berlalu meninggalkan Alex.
Kayla mengambil jalan berbelok menuju koridor, tidak jauh dari tempat mereka duduk tadi. Namun saat Kayla baru selangkah berbelok, ia terhenti.
Di depannya ada Bima, Sandi, dan Vicky. Mereka bertiga berdiri tepat di samping dinding ruang aula sekolah. Jika mereka menengok sekali saja ke balik dinding, maka tempat duduk yang Kayla dan Alex tempati tadi akan terlihat dengan jelas, bahkan pembicaraan mereka pun bisa terdengar.
Bima, Sandi, dan Vicky terlihat sibuk membicarakan sesuatu dan seolah tidak menyadari bahwa Kayla berdiri di depan mereka. Kayla curiga...
"Kalian..?"
Mereka bertiga menoleh ke arah Kayla. "Eh, Kayla!" ujar Bima seolah baru menyadari kehadiran Kayla.
"Kalian nguping ya?!" selidik Kayla, membuat mereka terkesiap dan gelagapan.
"Hah? Eh, apa?" ujar Sandi tak jelas.
"Enggak, kita.. emm.. kita lagi ngomongin..." Vicky berusaha mengalihkan.
"Liburan!" sergah Sandi.
"Juleha!" sergah Bima bersamaan dengan Sandi.
Mereka bertiga jadi gelagapan karena jawabannya berbeda. Kayla mengernyit dan menatap mereka penuh intimidasi.
"Emm.. maksudnya, liburan ini kita jadi ke kampungnya Juleha?"
"Nah itu, itu maksud gue!" dalih Sandi.
"Gimana Kay, jadi?" tanya Bima, mencoba memutus tatapan intimidasi Kayla.
"Jadi. Kalo gak bentrok sama rencana keluarga masing-masing." sahut Kayla.
Mereka mengangguk-angguk sambil cengar-cengir. Kemudian Alex datang dan nampak terkejut melihat ketiga temannya ada disini.
"Kalian...?"
Mereka menatap was-was ke arah Alex, sedangkan Alex mulai merasa cemas. Terakhir saat ia menyembunyikan hal besar dan menutupi kebenaran dari ketiga temannya ini, hubungan persahabatan mereka jadi berantakan. Tidak, kali ini tidak akan lagi!
"Bro, sorry! Kali ini gue beneran gak ada maksud nutupin apa-apa dari kalian. Gue harap kalian gak salah paham."
"Oh enggak kok Al!" sahut Vicky cepat.
"Nyantai bro.. kita ngerti, elu sama Kayla butuh private time." timpal Bima, membuat Kayla mendelik kesal.
"Tapi kalian nguping, iya kan?" pertanyaan Kayla membuat mereka bungkam.
"Sejak kapan kalian disini, kalian udah denger semua?" tanya Alex.
Bima membuang mukanya malu, Sandi menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan Vicky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bro, elu serius mau married?" tanya Vicky langsung, membuat Bima dan Sandi membulatkan matanya.
Alex dan Kayla saling melirik canggung. "Jadi beneran?" tanya Vicky lagi.
Alex mendengus senyum, "Ya.. rencana masa depan"
"Serius?" tanya Sandi memastikan.
"Rencana masa depan gue bilang. Emang lu pada nggak punya rencana masa depan apa?"
"Masa depan gue masih buram. Elu serius ngelamar Kayla? Trus Kay, elu terima?" tanya Sandi ngegas.
"Isshh... apa sih!" rutuk Kayla, ia pergi setelah itu dengan kesal, dan malu tentunya.
Setelah Kayla pergi, mereka bertiga menepuk pundak Alex bersama-sama dan memujinya takjub.
"Very gentleman..!" ujar Bima.
Sandi berdecak kagum, "Temen kita udah mikir married, bro. Kita kapan! Hahaha.."
"Gue gak abis pikir sih, tapi gue salut Al, elu seriusin Kayla secepat ini!"
"Tapi Al, apa elu yakin? Elu bahkan baru pertama kali jatuh cinta kan!" ujar Bima.
"lya juga. Lagian bener kata Kayla tadi, masih 17 tahun bro, bisa geger ini alam semesta.. anak tunggalnya Pak William nikah SMA!" timpal Sandi.
"Gue sih takutnya ada gosip miring ntar. Secara, dari kejadian-kejadian yang udah lumrah zaman sekarang. kalo nikah terlalu muda itu pasti ada apa-apa. Tapi gue percaya kok sama elu!" kata Vicky.
"Gue yakin soal pilihan gue. Tapi..." Alex terdiam. Ia memikirkan apa yang barusan Vicky katakan.
"Thanks bro, gue asli belum mikir kesana" Alex menepuk bahu Vicky.
"Kayla pasti mikirin itu, Al. Dia cewek. Elu mungkin gak peduli soal omongan orang, tapi Kayla mana bisa gak peduliin kalo ada yang ngatain dia macem-macem."
"Gue gak bakal biarin ada orang yang ngomong jelek soal Miss Kissable gue!"
Benar. Alex harus memikirkan banyak hal dari sisi Kayla juga, bukan hanya terpaku pada hubungan mereka dan masa depan saja. Dampak dan efek yang akan terjadi di depan mata, jika rencana menikah muda Alex ini terdengar oleh publik, terutama siswa-siswi di sekolah ini.
Kayla benar, banyak harus dipikirkan. Jika ingin menikah muda, maka bukan hanya segala hal dalam rumah tangga yang harus dipikirkan, tapi lingkungan juga.
Ah, Alex harus belajar banyak dari Kayla. Pemikiran gadis itu lebih luas dan lebih dewasa dari yang Alex kira. Sekarang keraguan dan ketidak siapan yang Kayla rasakan, Alex mulai merasakannya. Alex mempertimbangkan lagi keputusannya, apakah ia siap untuk menikah di usia ini atau belum.
Perihal pendamping hidup, ia sudah yakin Kayla lah gadis yang tepat. Alex mencintainya, dan Alex memilihnya untuk masa depan.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...