
Setelah memarkirkan mobilnya, Alex berjalan menuju pintu utama rumah. Namun belum sempat ia memencet bel, pintu sudah terbuka.
Ceklekk
"Al." Sang mama menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Ma." Alex mencium tangan mamanya, kemudian sang mama mengajaknya masuk.
Alex lebih sering pulang ke rumah sang mama akhir-akhir ini, karena ia merasa lebih tenang jika bersama sang mama. Setelah lelah seharian sekolah dan juga bekerja, ia butuh ketenangan dan kehangatan sang mama untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Apalagi malam ini, ia baru saja pulang dari acara pertemuan bisnis, bertemu para orang dewasa berotak bisnis dan bercengkrama panjang bersama mereka, memusingkan. Ada satu lagi yang membuat Alex merasa tidak bebas, yaitu gadis yang berstatus sebagai tunangannya sejak tiga minggu yang lalu, yang tidak pernah absen mendampinginya saat menghadiri acara-acara semacam itu.
"Kamu jadi perginya sama Felisha?" Tanya sang mama.
"Hm." jawab Alex malas.
Vanessa bisa melihat dengan jelas raut lesu Alex, putranya ini tidak hanya lelah badan dan pikiran, tapi juga hati. Dia memiliki cinta yang kuat didalam hatinya, namun dia juga rapuh disisi lain. Vanessa sangat memahami Alex, namun Alex tetap tidak mendengarkan sang mama, Alex tetap memilih menjalani kisah asmara yang melelahkan seperti ini daripada harus egois dan membangkang pada sang papa. Vanessa sebenarnya juga tidak mau Alex menjadi anak yang pembangkang, tapi sang papa yang keras kepala dan selalu menomorsatukan keinginannya itu.. tidak mau memahami perasaan Alex. Vanessa memandang iba pada sang putra yang terlihat lelah ini.
"Duduk dulu Al, mama bikinin teh hangat ya."
"Enggak usah ma, aku langsung istirahat aja." tolak Alex kemudian melenggang masuk ke kamarnya.
Vanessa tetap membuatkan secangkir teh hangat untuk Alex lalu membawakannya ke kamar putranya itu. Vanessa lihat Alex duduk setengah berbaring, bersandar selonjoran diranjangnya, sebelah tangannya ia angkat untuk menutupi wajahnya. Matanya terpejam, dan ia mengubah posisinya sedikit saat menyadari sang mama telah duduk disampingnya, disisi ranjangnya. Alex menatap sang mama dengan netra redupnya, ia tersenyum tipis.
"Al, mama tau sejauh ini belum ada yang berubah dari perasaan kamu. Meskipun Feli selalu bareng kamu, kamu tetap nggak bisa lupain Kayla kan."
"Aku nyoba buat itu ma." sahut Alex datar.
Sang mama mendengus pelan, selalu itu jawaban Alex. "Sampai kapan Al? Kamu cuman nyusahin diri kamu sendiri, nggak bakal ada ketenangan dalam keterpaksaan nak. Mama tau kamu nggak bahagia, bahkan Feli juga tau itu kan!"
Alex tertegun, kemudian tersenyum getir. Ingatannya berkilas balik ke waktu beberapa bulan yang lalu, disaat sang papa mengutarakan tentang rencana perjodohan dirinya dengan Feli. Entah sejak kapan papanya dan ayah Feli memiliki rencana perjodohan untuk anak-anak mereka, yang jelas hari itu sang papa bilang bahwa ia sudah memilihkan gadis untuk kelak menjadi istri Alex. Tentu saja Alex tidak terima, ia tidak ingin menikah. Sebelumnya ia berniat menikahi Kayla karena ia mencintainya, namun jika ia tidak bisa mewujudkan impiannya itu maka ia tidak berpikir sedikitpun untuk menikahi perempuan lain. Apalagi dalam waktu dekat, Alex sungguh tidak terpikir akan hal itu.
Apalagi ini.. sang papa menjodohkannya dengan seorang gadis yang lebih tua darinya, bahkan gurunya sendiri. Alex terkejut tak habis pikir bagaimana sang papa bisa berpikir untuk menjodohkan dirinya dengan gurunya sendiri. Baiklah jika persoalan umur Alex bisa mengabaikannya, tapi ini.. gadis yang dipilihkan papa adalah Bu Feli? Ibu Felisha Wardhana Arum, yang mengajar kesenian di kelas Alex? Bagaimana itu mungkin! Ketika papa menyebut nama Felisha, Alex langsung menolak mentah-mentah perjodohan itu. Alex tidak bisa membayangkan Bu Feli yang akan menjadi pendampingnya.
__ADS_1
Dulu sang papa memang pernah bilang kalau perempuan yang cerdas dan lebih dewasa sangat cocok untuk Alex yang terbilang labil. Perempuan seperti itu akan sangat pas untuk Alex yang notabenenya baru meniti karir bisnis, dia akan membimbing sekaligus mendampingi Alex dalam mengurus bisnis, juga dalam membina kehidupan berumah tangga. Mungkin yang dijabarkan papanya kala itu ada benarnya, tapi tentu saja Alex merasa aneh jika ia harus menikah dengan Bu Feli, gurunya itu.
Perjodohan Alex dan Feli yang beralasankan bisnis sekaligus mempererat silaturrahmi itu, juga sempat ditolak oleh Feli awalnya. Meski Feli memang mencintai Alex, dia tentu berpikir matang untuk menerima perjodohan dengan pria yang lebih muda darinya, terlebih lagi pria itu adalah muridnya sendiri. Namun perjodohan yang telah diatur itu nyatanya terwujud juga meski sempat tertunda selama satu bulan lebih, disebabkan penolakan Alex dan Feli.
Penolakan keduanya yang sempat terjadi itu jelas memiliki alasan kuat masing-masing, namun para ayah mereka terus membujuk dengan sedikit paksaan agar keduanya menerima perjodohan itu. Feli yang dasarnya memang mencintai Alex, mudah saja luluh oleh bujukan sang ayah. Tapi Alex.. batinnya tidak pernah damai sejak hari itu, hatinya terus berperang melawan logikanya. Alex tidak mau bertunangan dengan guru keseniannya itu, namun ia juga tidak mau menjadi anak yang pemberontak jika terus bertengkar dengan sang papa, yang tidak berhenti membujuknya dan tidak mau mengalah. Akhirnya Alex terpaksa menerima perjodohan itu, keterpaksaan yang membuat papanya puas, tapi membuat hati dan pikiran Alex sendiri tidak berhenti berkecamuk.
Tiga minggu lalu tepatnya, perjodohan antara Alex dan Feli diresmikan dengan ikatan pertunangan, setelah menggelar lamaran satu minggu sebelumnya. Selama itu pula Alex menjalani hubungan hampa itu dengan kebahagiaan yang palsu, hati yang selalu bertentangan dengan apa yang ia lakukan, dan keterpaksaan yang memang membuatnya tidak tenang.. seperti yang selalu mama ingatkan.
Vanessa sang mama, sebenarnya juga enggan menerima perjodohan Alex, karena melihat kondisi sang putra yang kala itu baru putus cintaCV GTT g no Bu dan dalam fase mengikhlaskan. Namun papanya yang tidak tahan melihat sang putra terus meratapi cinta kandasnya itu, ternyata mengambil tindakan dengan cepat. Sang papa tidak membiarkan Alex membuang waktunya lebih lama untuk cinta yang harus dilupakan itu, hingga mengambil langkah untuk menghadirkan cinta yang baru dalam hidup putranya itu. Jika saja Vanessa tidak mengenal Feli yang memang gadis baik dan bijaksana, Vanessa pasti bersikeras menolak perjodohan itu. Tapi karena Vanessa tahu Feli akan mampu menghadapi Alex beserta segala masalahnya.. maka Vanessa akhirnya mengalah, dan dengan berat hati membiarkan pertunangan itu terjadi.
Vanessa bisa mengerti perasaan Alex, karena dulu dirinya sendiri pernah berada dalam situasi berat seperti putranya sekarang ini. Vanessa juga bisa memprediksi, kalau hubungan baru tidak akan membuat Alex lebih baik, tapi justru malah tertekan. Baik itu diri Alex sendiri maupun Feli yang berstatus sebagai tunangannya, keduanya sama-sama tidak bahagia. Apalagi Feli tahu betul bagaimana kisah cinta Alex dengan Kayla sebelumnya, dan bagaimana hancurnya Alex yang harus mengikhlaskan hubungannya dengan Kayla kandas. Bahkan Feli tahu, kalau sampai detik ini Alex masih mencintai Kayla. Vanessa cukup salut dengan gadis itu, dia mau bersabar menghadapi Alex yang sampai sekarang belum bisa menerima kehadirannya dengan baik, juga masih memperlakukannya dengan perlakuan yang bisa dibilang tidak adil.
"Mama tau kamu berusaha nak, mama cuman khawatir kalo kamu nggak akan kuat dengan semua ini. Mama juga khawatir sama Feli, dia mungkin juga capek sama kayak kamu, mama nggak tega kalo dia sampe kecewa."
"Ma, aku nggak akan sia-siain Feli. Aku tau aku nggak adil sama dia, tapi aku belajar buat itu. Dia bisa ngerti dan mau sabar kok. Aku juga nggak mau nyakitin siapapun, mama tau itu kan."
Vanessa menarik paksa sudut bibirnya. Vanessa ingin mempercayai tekad sang putra, tapi jika hati Alex sendiri tidak mendukung dirinya untuk merubah rasa yang ada dihatinya.. bagaimana Alex bisa mewujudkan tekadnya itu. Vanessa selalu takut sejarah kelam akan terulang, Vanessa tidak mau Alex sampai mengalami getirnya kisah asmara seperti yang dirinya alami dulu, yang menyerah berjuang menentang gejolak hati yang semakin lama semakin menyesakkan dada. Hingga ruang hati Vanessa membludak membuatnya jatuh rapuh dan kemudian tenggelam dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Vanessa berharap Alex memiliki hati yang lebih besar darinya, sehingga dia bisa lebih lapang menjalani hari-hari panjangnya yang mungkin akan lebih berat dibandingkan hari ini.
"Al, gimana kamu bisa bersikap adil sama Feli sedangkan kamu nggak mau move on dari Kayla?"
Alex menelan salivanya getir. "Mama nggak setuju kamu lupain Kayla, karena dia adalah cinta kamu. Dia alasan kamu bangkit dan bisa menjadi diri kamu yang sekarang. Tapi mama juga nggak mau kamu sampai jadiin Feli pelarian, dan nempatin dia dalam hubungan yang nggak bahagia ini."
"Mama tau kamu nggak mau nyakitin siapapun. Tapi nak, kalo kamu tetap bertahan sama cinta kamu.. hubungan kamu sama Feli nggak akan bertahan. Mama nggak suka bilang kalo Kayla adalah masa lalu kamu, tapi mau gimanapun juga.. kamu udah biarin Feli masuk ke hidup kamu. Mama takut nantinya kamu malah nyakitin mereka berdua."
"Saat inipun aku udah nyakitin mereka ma, bahkan aku sendiri yang lebih dulu ngerasain sakit itu." sahut Alex getir, tatapannya kosong lurus ke depan tanpa melirik sang mama.
"Tapi saat ini aku nggak bisa lakuin apa-apa. Aku masih berusaha nyesuain diri sama semua keadaan ini, aku masih berusaha nerima kenyataan.. kalo aku kehilangan Kayla, dan harus mulai mikirin masa depan sama Feli."
Bahkan Alex mulai terbiasa menyebut nama guru keseniannya itu tanpa embel-embel apapun. Karena tidak lucu kan jika ia memanggil pasangannya sendiri dengan sebutan 'Bu'. Sungguh itu terasa sangat aneh bagi Alex, janggal dan menggelikan. Tapi mau bagaimana lagi, meski usia Feli delapan tahun lebih tua dari Alex.. Feli tidak mau Alex memanggilnya 'Mbak' atau sejenisnya, karena bagaimanapun juga Alex adalah calon suaminya. Feli, itu saja sudah cukup, itupun sulit bagi Alex membiasakan dirinya dengan Feli sebagai calon istrinya.
Bertemu Feli disekolah setelah pertunangan mereka membuat Alex tidak nyaman. Ia tidak suka situasi menggelikan disana, dimana teman-temannya menggodanya dan para siswa juga guru-guru ikut memandang heran padanya. Astaga.. kisah cinta macam apa itu, setelah putus dari gadis cupu di sekolahnya Alex malah bertunangan dengan gurunya. Momok menggelikan itu terus mengusiknya selama berada dilingkungan sekolah, tapi ia tidak punya pilihan lain selain menjalani hari-harinya yang terasa aneh itu. Karena tidak mungkin ia menghindar dengan tidak masuk sekolah, atau.. memberontak dan kembali jadi dirinya yang bengis seperti dulu.
__ADS_1
Saat berada dalam situasi itu untuk yang kesekian kalinya, Alex sempat merindukan masa-masa kelamnya yang suka membully dan menyakiti orang-orang disekitarnya, ia juga sempat berpikir untuk kembali menjadi dirinya itu. The ruler of school yang kejam. Namun bayangan Kayla dan cinta dihatinya tidak membiarkannya melakukan itu. Meski hari-harinya disekolah terasa berat sejak kepergian Kayla, ia tetap mengingat pesan Miss Kissable nya itu.. bahwa ia akan tetap menjadi Alex yang diinginkan semua orang, yang memiliki hati dan sifat Mr Strawberry, seperti yang selalu ia
tunjukkan didepan Miss Kissable.
Ada Kayla ataupun tidak disampingnya, Alex membiasakan diri menjalani kehidupan normal seperti yang Miss Kissable nya inginkan. Namun Alex tidak menyangka jalan hidupnya akan membawanya pada kenyataan yang berat ia terima, yang hingga detik ini masih menjadi penghalang bagi kedamaian didalam hatinya
... ....
... ....
... ....
Sementara dari sudut pandang Feli, gadis berusia 26 tahun ini memahami dengan jelas kalau hubungannya dengan Alex bukanlah hubungan yang normal. Feli tahu Alex tidak bahagia, Alex tidak mencintainya, dan Alex menerima perjodohan mereka dengan hati yang tidak ikhlas.
Sebenarnya Feli menyadari kalau mungkin dirinya tidak bisa menggantikan Kayla dalam hidup Alex, karena itulah sebelumnya ia juga menolak perjodohan mereka. Namun kemudian ia merasa yakin jika perhatian dan cinta yang ia berikan untuk Alex akan mampu menuntun pemuda itu untuk melupakan cintanya pada Kayla, dan menerima kehadiran dirinya sebagai calon masa depan. Tapi setelah hampir sebulan mereka bertunangan.. belum terlihat perubahan yang ingin Feli lihat. Dan sepertinya.. Alex juga masih enggan membuka pintu hatinya untuk Feli meski mereka telah bertunangan.
Cinta yang Alex miliki untuk Kayla begitu besar, sehingga Feli sangat iri dengan keberuntungan yang gadis itu dapatkan. Ketika Alex tersenyum, senang ataupun bahagia.. Alex selalu mengingat Kayla. Selalu Kayla, selalu Miss Kissable yang ada dihatinya, selalu dia yang membayangi Alex setiap harinya, bahkan mungkin setiap saat. Feli menyadari itu, karena Alex pernah tidak sengaja memanggil Feli dengan 'Miss Kissable' disaat Alex tengah bahagia. Jika saja panggilan Miss Kissable benar-benar ditujukan kepada dirinya, Feli pasti akan senang. Namun Miss Kissable adalah identitas Kayla, panggilan spesial itu tidak mungkin Alex berikan kepada siapapun selain Kayla.
Alex selalu merasa dekat dengan Miss Kissable nya disaat dia sedang bahagia, sehingga dia sampai salah menyebut nama gadis yang mendampinginya kini, dengan nama gadis yang tidak bisa dia lupakan itu. Bukan sekali, tapi berkali-kali Feli menelan pil pahit dikala kebersamaannya dengan Alex. Alex malah menyebut nama Miss Kissable, nama yang memang terukir apik didalam hati Alex, yang entah kapan bisa terhapus dari sana. Feli merasa dirinya tidak berarti apa-apa ketika itu, jika saja hanya satu kali Alex keliru.. Feli bisa mengabaikannya, tapi sepertinya pikiran Alex memang tidak pernah lepas dari Miss Kissable, sehingga Feli harus mendengar kekeliruan Alex memanggil dirinya dengan nama itu berkali-kali. Ketika Alex menyadari kesalahannya, dia hanya bisa meminta maaf tanpa bisa memperbaiki kesalahannya, apalagi menghilangkan ketidak nyamanan dan kesedihan yang Feli rasakan.
Lagipula memang seperti itu konsekuensinya, Feli juga sudah mempertimbangkan kemungkinan terbesar itu sebelum ia memilih menerima perjodohan dengan Alex, pemuda yang sudah jelas mencintai gadis lain. Dan Feli menyanggupi sendiri kalau menjalani hubungan tidak normalnya itu akan membuatnya sakit hati berkali-kali. Terabaikan dan merasa asing. Ia pun tidak yakin bahwa dirinya terlihat spesial dimata Alex.
Namun meski sedemikian menyedihkan posisi Feli saat ini, ia tetap tak berkecil hati. Ia masih yakin jika suatu saat Alex akan menerimanya dan melupakan Kayla, Alex hanya butuh waktu dan Feli harus bersabar untuk itu. Itulah yang selalu Feli ingatkan pada dirinya ketika ia mulai merasa lelah. Feli tetap berusaha membuat hubungan mereka berjalan baik, dan berharap kesempurnaan kedepannya nanti.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ...
... Bersambung...