
Hari ini, Alex dan ketiga temannya akan berangkat menuju rumah Gia, yang terdaftar dalam agenda mereka selanjutnya. Kasusnya sudah diceritakan di bab 25 lalu, oleh Nia dan Adit kala itu.
Karena nomer hp nya tidak bisa dihubungi, mereka pun langsung menyambangi rumah Gia. Reaksi Gia hampir sama seperti yang Hanum tunjukkan kemarin, ketika mereka datang ke rumahnya. Tapi Hanum, mamanya yang turun tangan menghadapi mereka. Sedangkan Gia, dia tengah sendirian dirumah dan ia terlihat takut saat mengintip dari celah tenda, siapa orang-orang yang berdiri di depan pintu rumahnya.
Lama mereka menunggu sang pemilik rumah menyambut kedatangan mereka, tapi setelah hampir lima belas menit menunggu, tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Padahal Kayla melihat tenda rumahnya bergerak tadi, menandakan rumah ini ada penghuninya.
Kayla akhirnya berinisiatif untuk meminta Alex, Bima, Sandi, dan Vicky masuk kembali ke mobil. Feeling Kayla, Gia enggan menemui orang-orang yang telah membuatnya dipermalukan itu. Alex dan teman-temannya pun menyetujui ide Kayla, dan masuk ke mobil. Setelahnya Kayla mencoba memencet bel dan mengucapkan salam lagi, Alex dan yang lainnya memperhatikan dari dalam mobil.
Ceklekk
Akhirnya pintu terbuka, menampakkan seorang gadis berambut bob dengan ekspresi tegangnya. Kayla memberikan senyuman, berharap agar ketegangan gadis di depannya ini hilang. Gadis itu melirik ke seluruh halaman rumahnya, lirikannya terhenti pada sebuah mobil yang kacanya tertutup.
"Assalamu'alaikum" ucap Kayla untuk yang kesekian kalinya.
"Wa'alaikum salam" jawabnya agak terkesiap.
"Kamu.. Gia?"
"lya." jawabnya seraya mengangguk.
"Aku Kayla. Siswi kelas XI IPS di SMA Putra Bangsa." ucap Kayla memperkenalkan diri.
Gia nampak melongo bingung, ia lalu menyambut uluran tangan Kayla dan menjabatnya. "Gia."
Gia kembali melirik mobil yang terparkir di depan rumahnya, dari kaca mobil yang tertutup penglihatannya tentu terbatas.
"Mungkin kamu bingung, kita gak saling kenal sebelumnya tapi aku tiba-tiba datang ke rumah kamu, sama cowok-cowok itu"
Gia lantas memfokuskan pandangannya kepada gadis yang berdiri didepannya, ia kembali merasa tegang, ia bingung mau mengatakan apa pada Kayla.
"Kamu gak perlu takut, maksud kita baik kok."
Gia masih terlihat was-was. la menatap wajah Kayla, mencari kejujuran dari sana.
Kayla tersenyum tulus padanya. "Alex, Bima, Sandi, sama Vicky udah nyadarin kesalahan mereka. Mereka datang kesini buat minta maaf sama kamu."
Gia terperangah, "Mi..minta maaf?" ulangnya terbata-bata.
Kayla mengangguk mantap, "Dan aku nemenin mereka. Karena kita sesama perempuan dan aku ngerti perasaan kamu, aku juga pernah jadi korban bullying mereka, tapi sekarang.. mereka udah berubah. Mereka gak nakal dan kejam kayak dulu lagi. Justru mereka mau nurunin gengsi mereka buat nyamperin kamu, buat minta maaf sama cewek yang dulu pernah mereka bikin menderita."
Gia terdiam ragu. "Kalo aku bohong, aku pasti kena karma. Apa kamu pikir mereka bisa nurut sama cewek? Aku yakin kamu gak akan percaya itu. Tapi mereka bukan P-four yang dulu, sekarang mereka enggak beda-bedain cewek sama cowok lagi. Liat kan, aku minta mereka masuk ke mobil mereka nurut!" kata Kayla mencoba meyakinkan.
Kayla mendengus senyum, "Mereka normal, Gia. Kamu gak perlu takut! Kalo mereka sampe berani natap kamu, aku hajar mereka semua." ucap Kayla membuat ketegangan Gia berkurang.
Gia mencoba menarik bibirnya melengkungkan senyuman. la percaya sekarang, bahwa gadis di depannya ini bukan orang yang harus ditakuti, melainkan tamu yang harus dihormati.
"Maaf, ayo masuk!"
Kayla tersenyum lega seraya mengangguk.
"Tapi.. tolong jangan minta mereka keluar dari mobil." lirihnya pelan seraya melirik mobil didepan itu kembali.
"Oke." ucap Kayla menyakinkan.
Gia mempersilahkan Kayla duduk di ruang tamunya. Seperti Kayla menjelaskan maksud kedatangannya, dan alasan yang melatar belakangi tujuannya pada Hanum, begitu juga cara Kayla meyakinkan Gia. Tapi Gia tetap bersikukuh tidak ingin bertemu dengan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky. Gia telah memaafkan mereka, tapi ia tidak siap untuk melihat wajah-wajah menakutkan mereka. Meski Kayla telah menjelaskannya dengan detail, bahwa mereka telah berubah, Gia tetap pada keputusannya.
Gia juga tidak mau terbuka pada Kayla tentang perasaannya ataupun kronologi kasusnya, ia hanya terus mengulang kalimatnya..
"Aku selalu berusaha ngelupain itu, dan aku udah maafin mereka kok!"
Baiklah, Kayla hargai keputusannya. Kayla pun pamit dan berterima kasih karena Gia mau bicara padanya dan mau memaafkan Alex dan teman-temannya.
Meski ada sesuatu yang masih mengganjal dihati Kayla, tapi ia tidak mau membuat Gia merasa terganggu. Semoga di lain kesempatan mereka bisa bertemu dan tidak ada kecanggungan diantara mereka. Sebenarnya Kayla khawatir jika Gia masih trauma atau hanya sekedar takut, Kayla ingin Gia seperti Hanum yang berani mengambil langkah untuk keluar dari rasa takut yang menggelayutinya. Tapi Kayla mengerti situasi dan perasaan Gia, karena itulah Kayla tidak bisa memaksanya untuk melakukan apa yang Kayla inginkan.
__ADS_1
Semua orang punya pilihan dan pendapat masing-masing kan, kita hanya perlu menghargainya jika tidak bisa membantu ataupun mendukungnya.
... _________________...
Keesokan harinya, mereka melanjutkan agenda mereka. Yaitu meminta maaf pada Sherly. Sebelumnya Kayla sudah menghubungi nomer Sherly beberapa kali, Sherly ragu menerima kedatangan mereka kerumahnya. Dua kali Kayla menelpon, Sherly menolak disambangi ke rumah. Dan yang ketiga kalinya Sherly akhirnya mau setelah diajak bicara secara terbuka oleh Kayla.
Kalian masih ingat Sherly? Dia adalah siswi yang pernah ditolong oleh Kayla. Setelah insiden memalukan dan menjijikan yang ia alami hari itu, ia tidak pernah lagi masuk sekolah. Kabarnya, ia juga mengurung diri di rumah, bahkan ia me'non aktifkan nomer hp nya, juga semua akun-akun jejaring sosialnya. Sehingga tidak ada yang tahu kabarnya selama sebulan lebih. Setelah itu ia mulai terbuka kembali, tapi ia tetap enggan untuk kembali sekolah. la tidak pindah sekolah seperti Hanum, Vivi atau Ello, korban bullying sebelumnya.
Masalah itu tentu membuat kedua orang tua Sherly risau. Pasalnya Sherly terbilang anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, bahkan bisa dibilang sombong. Orang tua mana yang bisa tenang melihat anak mereka yang biasanya ceria, berubah menjadi tertutup dan selalu murung. Orang tua Sherly terbilang punya nama, mereka juga bukan orang sembarangan. Mereka tentu mengusahakan agar Sherly mau terbuka tentang masalahnya, dan mau bersekolah lagi.
Orang tua Sherly sempat mengira kalau putri mereka mengalami kejadian buruk seperti kekerasan atau pelecehan seksual, melihat kondisi memprihatinkan nya kala itu. Karena Sherly tidak mau bicara, kedua orang tua Sherly akhirnya menghubungi teman-teman Sherly dan mencari tahu masalahnya dari mereka. Orang tua Sherly juga sudah mengeluhkan masalah itu kepada pihak sekolah, tapi tidak terdengar adanya tindakan dari pihak sekolah atas kasus yang mereka laporkan. Mereka sempat berniat menuntut Alex dan ketiga temannya, tapi mereka tidak memiliki bukti yang bisa memberatkan anak-anak nakal itu di hadapan polisi.
Dan hari ini anak-anak nakal pelaku pembullyan itu akan datang bertamu kerumah mereka, tentu orang tua Sherly marah mendengarnya. Setelah setengah tahun lalu membuat masalah dalam hidup putri mereka, kini anak-anak itu berani menampakkan batang hidung mereka?!
Jika bukan salah satu dari mereka adalah putra tunggal Pak William, papa Sherly pasti sudah membuat perhitungan dengan anak-anak kurang ajar itu. Tapi sayangnya papa Sherly dan Pak William adalah rekan bisnis, bahkan Pak William lah yang dulu meminjamkan modal pada papa Sherly untuk membuka bisnisnya sendiri. Pak William juga menjadi investor terbesar di perusahaan papa Sherly yang sekarang sudah sukses.
Sebelum Alex dan teman-temannya datang ke rumah Sherly, papa Sherly lebih dulu datang menemui Pak William untuk mengadukan perilaku Alex. Ya, mungkin agak terlambat mengadukan kasus ini pada Pak William, karena kejadiannya sudah lumayan lama, tapi baru sekarang papa Sherly mempunyai keberanian untuk membicarakannya pada Pak William.
Saat ini, kedua papa dari masing-masing korban dan pelaku pembullyan itu tengah berbincang serius di ruangan pribadi big bos di salah satu kantornya. Papa Alex mendengarkan seksama penuturan papa Sherly yang terdengar mengeluh itu.
"Saya ngerti. Jadi.. apa Pak Jaya berniat buat nuntut anak saya ke jalur hukum?" ucap papa Alex setelah berpikir.
"Oh bukan gitu, Pak. Saya cuman mau liat anak saya kembali kayak dulu lagi. Sampai saat ini dia belum mau kembali ke sekolah. Pindah sekolah pun gak mau, jadi saya bingung. Saya rasa Pak Wiliam mungkin punya solusi buat masalah ini."
"Biarkan anak-anak mengurus masalah mereka dulu! Saya percaya anak saya betul-betul menyesali perbuatannya, dan dia akan mengurus masalah ini. Kalo masalah mereka masih belum selesai tanpa campur tangan kita, baru saya akan mengambil tindakan. Saya rasa itu saran yang bisa saya berikan, Pak Jaya."
Papa Sherly mengangguk-angguk tapi dalam hatinya ia belum puas dengan jawaban papa Alex.
... ....
... ....
... ....
Sedangkan Sherly dan Kayla mengobrol diruang tamu. Sherly begitu penasaran dengan kejanggalan sikap keempat pria sombong itu, bagaimana mereka mau meminta maaf, bagaimana Kayla bisa berpihak pada mereka, dan sebagainya.
"Elu serius, Kay?" tanya Sherly setelah mendengar penjelasan panjang lebar Kayla.
Kayla mengangguk mantap. Sherly terkekeh, "Aneh tapi nyata yah! Gara-gara mereka gue sekarang pengangguran, tapi kehidupan mereka justru malah lebih baik."
"Kamu trauma emang gara-gara mereka, tapi kamu sekarang nganggur bukan karena mereka, Sher! Coba deh kamu bangkit, aku yakin kalo kamu kesampingin ego dan gengsi kamu, kamu bisa kok jadi diri kamu sendiri, kayak dulu lagi!"
"Elu pikir gampang ngilangin trauma? Itu pengalaman terburuk dalam hidup gue, Kay!" ujar Sherly agak emosi.
"lya aku tau. Pengalaman baik ataupun buruk bakal selalu ada, Sher. Tapi cara kita nyikapin pengalaman itu yang terpenting, itu yang bakal pengaruhin masa depan kita." Sherly diam.
"Gini, aku mau cerita sama kamu. Bukan maksud aku pamer ataupun sombong ya, aku cuman pengen kamu kamu ngambil pelajaran dari cerita ini."
"Cerita apa?" tanya Sherly penasaran.
"Aku. Kamu tau kan aku juga sering dibully sama mereka dulu!" Sherly mengangguk dan mulai mendengarkan Kayla dengan serius.
"Sehari setelah kejadian buruk yang kamu alamin, aku ngalamin kejadian yang lebih buruk dari itu Sher. Kenapa? Karena aku gak takut sama mereka, aku makin nentang mereka dan mancing kelemahan mereka. Aku bodoh sih, aku pikir dengan bikin mereka marah aku akan dapetin kelemahan mereka, dan aku pikir aku bisa nyerang kelemahan mereka buat ngehancurin mereka. Tapi.. aku sendiri yang hancur."
"Maksud lu?" tanya Sherly semakin penasaran.
"Alex ngelecehin aku, Sher" lirih Kayla.
Sherly terperangah kaget sambil menutup mulutnya. "M..maksud lu gimana Kay, elu dilecehin, elu diperko-.."
"Enggak Sher, nggak sampe sejauh itu. Aku bersyukur nasibku gak sampe seburuk itu."
Sherly lega mendengarnya, "Gue kira elu cuman bodoh, ternyata elu juga gila ya! Udah tau Alex orangnya emosian, gak bisa diusik, elu malah sengaja gitu bikin dia marah?! Jadi elu udah diapain aja sama Alex?" sungut Sherly.
__ADS_1
Kayla tersenyum kecut, "Yang jelas aku ngerasa hancur waktu itu, aku sempat depresi dan hampir gak mau masuk sekolah juga. Tapi setelah aku ketemu sama orang yang nasibnya lebih menyedihkan dari aku.. aku sadar aku harusnya masih bisa bersyukur, aku harus kuat, aku gak boleh nyerah sama keadaan"
"Dan..?" sambung Sherly yang penasaran akan kelanjutan cerita Kayla.
"Dan aku bangkit. Kayak yang kamu liat sekarang."
"Sombong." gumam Sherly terkekeh, membuat Kayla juga terkekeh karena Kayla tahu Sherly tidak serius dengan ucapannya.
"Mereka serius mau minta maaf sama kamu, Sher!"
"Menurut lu gue harus gimana?"
"Itu hak kamu. Kamu yang nentuin, kalo hati kamu berat buat maafin mereka ya jangan dipaksain. Tapi mereka juga berhak dapat maaf dari kamu, karena mereka udah nyesalin perbuatan mereka. Aku gak bermaksud buat pengaruhin kamu kok, apalagi maksa kamu, aku cuman pengen hati kamu terbuka. Kamu bisa ngilangin trauma kamu kayak yang aku lakuin. Dan yang terpenting, kamu mau sekolah lagi"
"Aku jamin mereka gak bakal ngebully kamu lagi. Dan gak akan ada yang berani ngelakuin pembullyan lagi di sekolah kita." tutur Kayla lagi.
"Elu yakin? Emang elu bisa ngebungkam mulut cabe nya teman-teman julid gue?"
"Emm..." kalau ítu masalahnya, Kayla tidak bisa berbuat apa-apa.
"Thanks Kay, elu udah bantu gue. Dan sekarang pun elu mau bantu gue, tapi gue kayaknya tetap gak bisa balik ke sekolah itu lagi. Gue udah janji kok sama bokap nyokap gue, kalo awal tahun ajaran ini gue bakal sekolah lagi, gue bakal masuk ke sekolah baru."
Kayla senang mendengarnya. "Btw, itu mereka serius nunggu? Gak percaya gue mereka sesabar itu." sindir Sherly seraya memperhatikan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky dari balik kaca rumahnya.
"Udah aku bilang Sher, mereka beneran mau minta maaf!"
"Elu yang maksa?"
"Ya enggak lah. Mereka mau sendiri, aku cuman ngarahin sama nemenin mereka kok. Biar mereka gak ngerasa minder sama orang-orang yang mereka hadapin."
"Orang-orang?" bingung Sherly.
"Hm. Sebelum kamu, udah ada empat orang yang mereka datengin ke rumah, Sher. Cuman buat minta maaf. Kamu pasti tau, selain kamu ada beberapa orang siswi sama siswa juga yang berhenti sekolah gara-gara malu dibully, bahkan ada yang dikeluarin dari sekolah."
Sherly mengangguk. "Jadi.. Alex, Bima, Sandi, sama Vicky nyamperin mereka semua?"
"lya. Bukan cuman mereka nya, tapi juga orang tua mereka."
"What?! Demi apa, mereka mau ngelakuin itu?!"
Kayla tertawa kecil, "Demi kebaikan mereka sendiri, Sher!"
Sherly hampir tidak percaya jika bukan Kayla yang mengatakan itu semua. Ini terdengar lucu dan aneh bagi Sherly, bagaimanapun juga Sherly sekelas dengan mereka berempat, sedikit banyaknya ia tentu tahu seperti apa kelakuan mereka. Jika dipikir-pikir, memaafkan mereka tidaklah salah. Bagus kan mereka menyadari kesalahan mereka, mereka mau meminta maaf, secara langsung pula!
Ah, jahat rasanya jika Sherly tidak memaafkan mereka, meski keusilan yang mereka lakukan dulu sangat keterlaluan, juga sempat mempengaruhi mental Sherly. Ya, baiklah! Memaafkan itu perbuatan yang mulia bukan, sekesal apapun Sherly, sefatal apapun kesalahan mereka padanya.. dengan memaafkan, Sherly akan jadi orang yang mulia. Masalah akan selesai setelah ini, silahkan mereka berempat menjalani perubahan mereka, dan Sherly akan melupakan bahwa ia pernah berada dalam trauma yang mengganggunya itu.
Benar kata Kayla, Shely harus bangkit. Mau sampai kapan ia hanya akan berdiam diri di rumah karena rasa malu?! Reputasinya mungkin buruk, tapi ia masih punya harga diri dan juga kehormatan. Tidak masalah jika ia tidak lagi sekolah di sana, sekolah elit yang sempat menjadi kebanggaannya. la bisa memulai hari-hari barunya di sekolah lain nantinya.
Sherly tersenyum pada Kayla. "Gimana pun juga.. gue harus berterima kasih banyak sama elu, Kay!"
Kayla membalas senyuman Sherly. "Jangan besar kepala lu ya! Elu beruntung aja, mereka udah jinak sekarang. Coba kalo mereka seliar dulu, elu pasti gak bakal selamat!" celetuk Sherly.
Kayla tertawa mendengarnya, Sherly pun ikut tertawa. Akhirnya satu masalah pun selesai. Sherly mau mengizinkan Alex, Bima, Sandi, dan Vicky masuk ke rumahnya. Berbincang-bincang santai di sore hari, dan saling memaafkan tentunya.
Dengan begitu, tidak ada lagi keluhan dari papa Sherly kepada papa Alex.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...