Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

(Flashback On)


Kayla menghampiri maminya ke kamar, dan ia dapati maminya itu sedang duduk didepan meja rias.


"Mi, ada Om William!" beritahu Kayla.


"Hah?!" Nadia terperangah, "P-..pak William?" ulangnya tak percaya.


Kayla mengangguk mengiyakan. Nadia mendesah perlahan dengan nafasnya yang berat, Pak William berkunjung ke rumahnya semendadak ini, membuat perasaan Nadia jadi resah seketika. Nadia yakin jika kedatangan bos nya itu untuk membicarakan masalah yang sampai sekarang masih ditutupinya dari Kayla. Bagaimana ini!


"Mi?" bingung Kayla.


"Eh, iya sayang" Nadia terkesiap. "Emm..kamu.. kamu kedepan duluan aja ya, temuin Pak William. Mami sekalian bikin minum dulu baru ke depan."


"lya Mi" jawab Kayla kemudian melenggang pergi.


"Ya Allah..." gumam Nadia seperti sebuah *******.


Nadia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Pikirannya berkecamuk membayangkan apa yang akan terjadi, Pak William sudah disini, berhadapan dengan Kayla, artinya apa yang Nadia takutkan bisa terjadi kapan saja. Harusnya pagi ini Nadia keluar untuk membicarakan solusi masalah ini dengan kakaknya dan Alex. Tapi.. sekarang malah jadi begini, kacau. Nadia harus apa.. ketakutannya semakin membludak dan harapannya semakin tipis.


Dengan gerak-gerik yang gelagapan karena panik, Nadia melangkah menuju ruang tamu dengan membawa nampan kecil berisi minuman di tangannya. la semakin gugup ketika melihat wajah Pak William, namun mau tidak mau ia harus menghadapi bos nya itu, yang tak lain juga calon besannya.


"Silahkan Pak." ucap Nadia saat meletakkan segelas teh ke depan Pak William.


"Terima kasih, gak usah repot-repot" sahut Pak William ramah.


Setidaknya jawaban Pak William itu mampu membuat Nadia sedikit rileks dari sebelumnya, meski ketakutannya tidak berkurang. Nadia menoleh ke samping, Kayla tersenyum santai.


"Kira-kira ada apa ya Om, kok Om kesininya tiba-tiba, nggak ngabarin dulu. Mami sampai kaget loh." ujar Kayla santai.


Pak William tertawa kecil menanggapinya. "Hehe.. iya, mumpung hari minggu nih. Om kan gak sibuk. Kalian juga pasti free kan, jadi kedatangan mendadak Om nggak ngeganggu kalian. lya kan?"


"Hehe.. iya Om. Cuman kita kan nggak nyiapin apa-apa buat ngejamu tamu"


"Ah, sama Om ini kok.. ngapain repot-repot ngejamu." celetuk Pak William.


Nadia menghela nafas, suasana di depannya kini baik-baik saja, semoga ketakutannya tidak terjadi.


Sayangnya, kelegaan Nadia tidak berlangsung lama. Setelah berbasa-basi sekaligus bergurau ringan dengan Kayla, Pak William mengubah ekspresinya jadi lebih serius. Meneguk beberapa kali teh hangatnya, lalu menilik Nadia dan Kayla bergantian.


"Jadi begini Kayla, Nadia, kedatangan saya kesini.. buat memperjelas sesuatu yang beberapa hari ini jadi pikiran saya."


Degg


Nadia menelan salivanya, sementara Kayla menatap bingung.


"Kayla, Alex udah bicara sama kamu kan kemarin? Soal kejadian yang sempat menimpa kamu, dan juga soal.. papi kamu"


Oh, Kayla mengerti sekarang. Kenapa ia bisa melupakan kalau Om William mempermasalahkan hal itu. Kenapa ia baru menyadari jika situasi saat iní tidak baik, dan ia baru mengerti kenapa mami terlihat cemas sejak tadi. Kayla menunduk sungkan, lalu mengangkat kepalanya kembali untuk mencoba menghadapi situasinya sebaik yang ia bisa.


"lya Om." jawab Kayla singkat.


Pak William mengangguk-angguk. "Ya, jadi.. kamu pasti ngerti kenapa saya harus kemari dan bicara langsung sama kamu"


"Kayla, kamu tau kan Alex itu bukan pemuda biasa. Sebelum dia jadi calon suami kamu dia adalah anak saya, dan dialah satu-satunya pewaris saya. Dia bahkan udah punya tanggung jawab besar sekarang, sebagian bisnis dan aset saya udah dipegang sama dia. Jadi.. segala sesuatu yang berkaitan dengannya itu sangat penting, termasuk masalah ini."


Kayla mengangguk pelan. Ya, Kayla memahami itu, dan Kayla juga bisa memaklumi tanggapan Om William yang mempermasalahkan tentang papinya.


"Akan buruk bagi image kami kalo kami mengambil anak seorang pelaku kriminal sebagai menantu."


Duaarrrrr..........


Jantung Nadia rasanya hampir meledak mendengar kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Pak William, dan didengar langsung oleh Kayla. Sedangkan Kayla sendiri tentu kaget dan merasa tersinggung mendengarnya, tapi ia tetap diam, ia juga harus tahu diri.


"Tapi Kayla anak yang baik Pak, dia sopan dan menjaga dirinya dengan baik. Saya bisa jamin itu" bela Nadia.


"Saya tau, saya juga cukup mengenal Kayla. Tapi siapa yang mau peduli, orang-orang akan tetap memandangnya seperti itu. Dia anak seorang penjahat, pernah diculik dan bahkan sempat dijual. Dia pernah berada ditempat bordil, meskipun nggak lama. Tapi kasus itu terendus media, meski kasusnya sudah ditutup... media bisa mengungkitnya kapan aja kalo mereka tau gadis itu adalah calon menantu saya. Belum lagi kalo berita yang beredar dilebih-lebihkan, saingan bisnis dan musuh-musuh saya nggak akan tinggal diam untuk hal seperti ini."


"Tapi Bapak kan punya jaringan yang nggak terbatas, bukannya nggak sulit ya Pak untuk membungkam media demi keamanan bisnis Bapak?"


Terdiam. Ya, Nadia tahu yang ia katakan barusan cukup lancang, tapi bukankah memang begitu realitanya. Kenapa mempermasalahkan sesuatu yang seharusnya bisa diatasi, jika untuk mengatasinya juga tidak sulit. Sementara Kayla menyenggol pelan maminya karena merasa tidak enak dengan kata-kata maminya barusan. Sedangkan Pak William hanya menatap, dengan senyuman yang samar.

__ADS_1


"Betul. Tapi saya lebih suka menghindari resiko ketimbang melakukan hal seperti itu. Dan memakai kekuasaan untuk hal seperti itu.. bagi saya sama saja dengan merendahkan harga diri"


Pak William terkekeh, "Apa kalian memikirkan solusi seperti ini sejak awal? Kalian sengaja menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari saya, karena kalian tahu saya punya segalanya, yang bisa dengan mudah mencapai apa saja yang diinginkan. Dan kalian pikir.. masalah ini nggak serius?"


Kayla menggeleng cepat, "Enggak Om, gak gitu. Saya sama sekali nggak niat buat nutupin soal itu dari Om. Tolong maafin mami udah ngomong kayak tadi"


"Pak, tolong jangan mengira seperti itu, saya cuman ngasih pendapat. Saya tau bagi Bapak masalah ini serius, tapi bukan berarti nggak ada solusi baiknya kan. Saya yakin, kehadiran Kayla dalam kehidupan Alex, nggak akan bikin semua yang Bapak khawatirkan itu terjadi"


Kayla menoleh ke wajah maminya.


"Saya ulangi Nadia, saya lebih suka menghindari resiko daripada menghadapi masalah. Karena problematika pekerjaan saya cukup menyibukkan saya, jadi untuk masalah seperti ini.. saya harus cepat mengambil tindakan. Bukan berarti saya nggak mempertimbangkannya ya, saya tentu mau yang terbaik buat anak saya." jelas Pak William lagi, kemudian mengalihkan pandangannya pada Kayla.


"Saya ngerti Om." jawab Kayla singkat meski tercekat.


"Bagus." timpal Pak William.


Jujur saja, perasaan Kayla jadi tak karuan. Dadanya mulai terasa sesak, ia gugup, sekaligus khawatir akan kelanjutan hubungannya dengan Alex. Tapi kemana pria itu sekarang, kenapa dia tidak ikut bersama papanya kemari.


"Jadi intinya Kayla, lebih baik pertunangan kamu dan Alex dibatalkan. Maaf."


Degg


Apa? Kayla pasti salah dengar. la tersentak, terperangah menatap Pak William tak percaya. Mami yang sudah gusar sejak tadi, segera merangkul bahunya dan mengusapnya perlahan.


"Pak, tolong pikirkan lagi, apa Bapak akan benar-benar membiarkan anak-anak terluka? Bapak pasti tau kalau hal ini akan membuat mereka sedih, dan sakit hati. Mereka saling mencintai Pak, gimana mereka bisa berpisah?" Nadia mulai terisak.


Kayla menatap wajah maminya yang memohon sambil menangis. Namun Kayla lihat Pak William tidak bergeming.


"Mereka memang harus sedih dan sakit hati, Nadia."


"Hahh??!" Kayla dan maminya menggumam samar secara reflek, dengan ekspresi terperangah tak percaya.


"Kayla dan Alex harus melupakan perasaan mereka, untuk itu mereka harus tersakiti dengan putusnya hubungan mereka." lanjut Pak William.


Kayla tidak bisa berkata apa-apa, tatapannya mulai nanar. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir di pipinya. la tidak percaya Pak William sampai hati berkata seperti ini padanya.


"Tapi Pak.." lirih Nadia.


Duaaarrrrr...........


"Tapi Kayla nggak bersalah Pak, dia cuman korban." sahut Nadia parau.


"Ya. Tapi media dan semua orang yang kenal saya, akan tetap memandang buruk padanya. Gadis seperti itu nggak bisa jadi menantu saya"


"Apa maksud Bapak.. gadis seperti itu?" timpal Nadia yang sangat tersinggung.


"Gadis yang diculik dan dijual pada laki-laki hidung belang, oleh ayahnya sendiri. Gadis yang pernah masuk ke rumah bordil, akan dicap sebagai.. bukan gadis baik-baik. Gimanapun juga.. image itu nggak akan hilang dari Kayla kan."


"Tapi Kayla nggak sampai ternoda Pak, dia nggak mengalami hal yang lebih buruk dari itu. Anak saya ini gadis baik-baik, dia selalu menjaga dirinya. Dia masih bersih, dan gak ada yang berubah." Nadia menekankan kata-katanya dengan emosi yang meluap.


"Mi.." lerai Kayla lirih, saat melihat maminya yang mulai meninggikan suara.


"Meskipun begitu, kalo Kayla sampai masuk ke keluarga saya.. dia tetap aja nggak bisa lepas dari media. Sedangkan reputasinya sudah dikenal buruk oleh media. Saya nggak mau itu terjadi, karena reputasi keluarga kami dan juga perusahaan kami pun akan ikut tercemar"


"Maksud Bapak, anak saya akan membawa masalah dalam keluarga Bapak?" ujar Nadia tercekat. Geram.


"Ya."


Jawaban yang begitu singkat, namun begitu menyakitkan.


Kayla terus menenangkan maminya meskipun dia sendiri semakin hancur, namun ia tetap tidak bersedia untuk menunjukkan dirinya lemah.


"Bahkan masalah itu sudah muncul." lanjut Pak William datar, terkesan dingin. Menusuk.


"Harusnya dari awal Alex ngasih tau soal papinya Kayla ke Bapak. Karena sebelum Alex melamar Kayla, saya udah ngasih tau semuanya ke dia. Saya tau hal seperti ini nggak boleh disembunyikan, karena itu saya terbuka sama Alex. Tapi... saya nggak tau kalo Alex akan menyembunyikannya dari anda, Pak." lirih Nadia.


"Ya, tapi udah terlanjur. Meskipun Alex menyesali kesalahannya.. itu tetap terlambat."


"Pak saya mohon.. pertimbangkan soal ini sekali lagi..! Kalo ada solusi yang lebih baik tanpa harus ada yang tersakiti, kenapa harus mengambil jalan ini" kembali Nadia memohon.


"Harusnya kamu juga memikirkan dari awal, Nadia. Kamu tau seperti apa keadaan keluarga kamu, dan kamu liat anak kamu berhubungan dengan siapa. Mantan suami kamu itu orang yang nggak pantas dipertimbangkan untuk sebuah hubungan, dan dia ayahnya Kayla kan. Gimanapun dia tetap ayahnya Kayla, kamu pasti mengerti kenapa saya mengambil keputusan ini."

__ADS_1


"Saya tau dia bukan orang baik Pak, karena itu saya ninggalin dia. Saya ninggalin dia demi kebaikan kami, demi masa depan Kayla. Saya tau persoalan seperti ini bisa jadi masalah di masa depan, karena itu sebelum Alex melamar Kayla saya ngasih tau semuanya ke Alex." terang Nadia. "Saya mohon Pak, jangan biarin pengorbanan saya sia-sia dengan menghancurkan hubungan Kayla dan Alex. Saya menjauhkan Kayla dengan papinya demi kehormatan anak saya, demi masa depannya."


"Tapi nama Kayla sudah terlanjur tercoreng, reputasinya sudah cacat. Meskipun dia korban, dia tetap harus menanggung kesalahan papinya. Dan saya, nggak bisa menjalin hubungan dengan keluarga seperti kalian." jawab Pak William.


Nyuuuuut.........


Sakit sekali rasanya ulu hati Kayla mendengar penuturan Pak William.


"Saya dan papinya Kayla udah lama pisah Pak. Kayla nggak tinggal sama dia, Kayla nggak sama dengan papinya. Saya mohon jangan liat anak saya seperti itu Pak." sergah Nadia memelas.


"Nadia, mereka tetap ayah dan anak. Orang selalu bilang buah jatuh nggak jauh dari pohonnya. Meskipun Kayla nggak sama dengan papinya, siapa yang mau peduli itu. Publik tetap akan menyebutnya sebagai anak seorang baj****n, dan memandangnya seperti ayahnya. Bahkan Kayla juga dijadikan pel***r kan olehnya."


Nadia tersentak, sangat kecewa dengan ucapan Pak William. Begitu juga Kayla, yang hanya bisa terdiam dengan luka hati yang tiba-tiba terasa perih begitu saja.


"Bukan publik yang nggak mau peduli, tapi Bapak sendiri kan?! Kenapa Pak, padahal Bapak tau anak saya seperti apa." suara Nadia bergetar.


"Karena bagi saya pandangan publik terhadap keluarga saya dan citra perusahaan saya itu penting. Dan kamu, seandainya dia masih suami kamu, mungkin saya juga nggak akan menerima kamu bekerja di perusahaan saya."


Nadia dan Kayla terperangah. Tidak menyangka Pak William akan menyangkut-pautkan permasalahannya sejauh ini. Bukankah dengan mengatakan itu sama saja Pak william menyatakan bahwa ia menyesal telah mengenal Kayla dan Nadia. Atau mungkin Pak William memang ingin mengakui itu. Entahlah, Nadia jadi dongkol sendiri. Setelah melukai harga diri putrinya, Pak William pun ingin melukai harga diri Nadia juga!


"Meskipun Mas Arman itu ayah kandung Kayla, saya nggak pernah bisa terima ada orang yang mengatai anak saya seperti ayahnya. Saya ibunya, saya yang merawatnya, saya menjaganya, dan saya menjamin kesucian anak saya. Saya mohon jaga ucapan Bapak!" lanjut Nadia dengan emosi yang meluap, namun berusaha ia kendalikan.


Kayla menunduk getir, hatinya sakit dan air mata terus saja mengalir sedari tadi. Kayla sedikit kesal dengan air matanya itu, berkali-kali ia menghapusnya namun air mata itu tidak mau berkompromi dengannya. Bagaimanapun juga ia tidak mau terlihat lemah. Tapi kata-kata Om William sangat menusuk, sakit.


"Baiklah. Tapi saya tetap nggak bisa membiarkan hubungan Kayla dan Alex berlanjut. Saya sendiri yang akan memilih gadis untuk jadi menantu saya satu-satunya. Gadis yang pantas dan terhormat."


"Jadi maksud Bapak, anak saya nggak pantas?"


"Bukan begitu, tapi keadaannya yang membuat Kayla nggak cocok berdampingan dengan Alex."


"Tapi Alex mencintai Kayla Pak, Bapak pasti tau itu kan." sergah Nadia lagi.


Pak William tersenyum miring, "Alex itu baru tau yang namanya cinta. Meskipun dia benar mencintai Kayla atau enggak, saya nggak akan membiarkan cinta menguasai diri Alex. Cinta nggak boleh sampai mengambil alih kendali pikirannya, karena banyak hal yang harus dia utamakan melebihi cinta. Saya nggak khawatir kalo memang dia harus sakit hati karena putus cinta. Dan enggak akan saya biarkan dia lemah karena cinta."


Nadia mendesah tertahan, ia sudah dibuat geram dengan Pak William yang berkata seenaknya merendahkan Kayla. Sekarang Pak William berbicara mengenai anaknya sendiri seolah dia mengatur hidup Alex sedemikian rupa. Selain angkuh dan egois, pria berjiwa bisnis di depannya ini ternyata juga tidak peduli dengan perasaan anaknya sendiri. Nadia menghela nafas untuk meredakan sedikit emosinya, mencoba tenang untuk kesekian kalinya.


"Saya nggak bermaksud menyalahkan Alex sepenuhnya dalam hal ini Pak, tapi Kayla juga nggak salah apa-apa. Pasti ada solusi yang lebih baik untuk masalah ini, tolong pertimbangkan lagi Pak" ujar Nadia.


Pak William mendengus, "Sebenarnya.. yang salah itu saya. Saya kurang teliti menyelidiki latar keluarga kalian dulu, sebelum saya mengiyakan Alex yang mau melamar Kayla waktu itu. Kalo saya tau soal ini dari awal, saya nggak akan merestui hubungan Alex dengan Kayla."


Nyuuuuttt.............


Jantung Kayla berdenyut nyeri, sakit sekali. Jadi Om William menyesal telah memberikan restu untuk pertunangan Kayla dengan Alex! Kenapa jadi begini. Kenapa tidak dari awal saja Om William tidak merestuinya, agar Kayla tidak perlu merasakan sakit seperti ini.


"Pak, mereka saling mencintai, mereka punya niat yang baik untuk menikah, dan mereka punya impian untuk masa depan yang bahagia. Apa pantas kita membiarkan mereka terluka Pak..?" lirih Nadia.


"Terluka bukan berarti hidup mereka akan hancur. Lagian ini cuman pertunangan mereka aja yang berakhir, bukan hidup mereka. Baik Kayla ataupun Alex, masih bisa meraih masa depan setinggi yang mereka mau." jelas Pak William.


Nadia menghela nafas berat, ia kehabisan kata-kata sekarang. Rasanya ia ingin menyerah saja, tapi mana mungkin ia membiarkan putrinya terluka dengan kandasnya hubungan cinta putrinya itu. Nafas Nadia tercekat karena sejak tadi jantungnya berkali-kali terpompa. Perasaan campur aduk antara kaget, sedih, kecewa dan sakit menyatu berantakan, membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar. Baru kali ini ia menghadapi bos nya itu dengan sikap sedingin ini. Ekspresi, dan kata-kata pedasnya begitu melukai harga diri Nadia. Sakit tapi tak berdarah. Nadia melirik ke sampingnya, Kayla menundukkan kepalanya sambil meremas rok depannya, dimana sebelumnya kedua tangannya tergenggam di atas sana.


"Putus cinta bukan akhir dari segalanya, Kayla. Lagian Alex belum mengambil apapun kan dari kamu, jadi meskipun kalian harus berpisah.. kamu nggak kehilangan apa-apa." lanjut Pak William dengan lempengnya.


Kayla tersentil, nyeri sekali hatinya mendengar kalimat itu. "Nggak kehilangan apa-apa?" batinnya.


Mungkin Kayla membenarkan jika ia tidak kehilangan apa-apa kalau hubungannya dengan Alex harus berakhir. Tapi.. entah benar atau tidak yang ia rasakan saat ini, ia merasa seperti ada sesuatu dari bagian dirinya yang hilang. Yang kehilangan itu membuat sesuatu dalam dirinya tersiksa, sakit sekali tapi tak berdarah. Kayla menggeleng kecil. Entahlah, mungkin itu benar tapi mungkin juga tidak. Yang jelas kata-kata Om William melukainya, hatinya, juga kehormatannya.


"Kenapa Om William kayak gini sama aku? Apa segitu menjijikannya papi dimata Om, sampe Om nggak sudi punya mantu kayak aku? Apa aku udah secacat itu dimata Om sampe Om nggak sudi aku berdampingan sama Alex?" Kayla ingin sekali menjawab demikian, tapi sayangnya kalimat itu hanya tertelan dalam kebungkamannya.


"Tolong jangan hukum Kayla atas kesalahan papinya. Jangan hukum Alex juga dengan menghancurkan harapannya. Saya kira Bapak paling mengerti itu, masalah ini masih bisa diatasi tanpa harus menghancurkan hubungan mereka Pak." lagi, Nadia memohon.


Pak William mendengus, sedikit mematut wajahnya dengan tangannya terangkat untuk memijit keningnya.


(Flashback Off)


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2