Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Perasaan Vs Logika


__ADS_3

Alex menjelaskan kepada papanya tentang yang sebenarnya Kayla alami. Meski Kayla diculik oleh papinya bahkan dijual, Kayla tidak sempat sampai dilecehkan. Memang terjadi penganiayaan terhadap Kayla karena perlawanannya saat akan dilecehkan, tapi beruntungnya Kayla selamat. Sebenarnya Alex tidak nyaman mengatakan semua itu pada papanya, karena menyangkut privasi Kayla. Tapi mau tidak mau Alex harus menjelaskannya agar papa mengubah pandangannya terhadap Kayla.


Elfatt mendengus panjang sembari duduk bersandar di sofa. Kemudian menatap putranya serius. "Al, ada banyak cewek yang lebih baik dari Kayla. Cewek baik-baik yang nggak punya masa lalu kelam, dan dari keluarga yang terpandang. Kayla nggak cocok jadi menantu di keluarga kita. Papa tau dia anak yang baik, tapi mau gimanapun dia tetap ada hubungan dengan penjahat itu"


"Om Arman, pa." Elfatt mengangguk, ia sengaja tidak menyebut nama papi Kayla.


"Al tau banyak cewek yang baik, tapi Al cuman cinta sama Kayla. Papa tau itu kan."


"Papa tau, tapi dia gak cocok buat kamu."


"Kenapa enggak! Papa kenal Kayla, papa juga bilang kalo Kayla cocok jadi pendamping Al kan?"


"Gak perlu kamu ulangi itu, kalo papa tau dia anak seorang pelaku kriminal papa gak akan ngerestuin kamu sama dia."


"Kayla bukan papinya, dia juga gak tinggal bareng papinya. Papa gak bisa dong menilai Kayla tergantung sama papinya. Al tau siapa Kayla pa, dan Al yakin gak ada cewek yang pantes buat dampingin Al kecuali Kayla."


"Alex, banyak cewek diluaran sana yang lebih baik dan lebih cocok buat kamu selain dia." Elfatt mulai emosi. "Udah papa bilang dia gak cocok jadi bagian dari keluarga kita."


"Karena papinya orang jahat?"


Tidak perlu Elfatt menjawab, karena sudah jelas. Alex bertanya hanya karena tidak terima dengan ungkapan papanya.


"Kita gak akan menjalin hubungan dengan keluarga pelaku kriminal. Itu akan membawa pengaruh buruk buat bisnis kita Al. Tolong kamu ngerti" bujuk Elfatt.


"Jadi maksud papa, AI harus ninggalin Kayla?" tanya Alex tercekat.


"Ya." singkat Elfatt dengan entengnya.


"Papa udah tau jawaban Al kan, Al gak mungkin lakuin itu. Buat Al bukan masalah dia anak siapa, Al sayang sama Kayla tulus pa. Dan Al gak bisa kehilangan dia."


"AI, coba buat ngertiin maksud papa. Demi kebaikan masa depan kamu, dan reputasi bisnis keluarga kita juga. Jangan melulu mentingin perasaan." Elfatt mencoba bicara lebih rileks.


"Kita gak bisa selalu menangin perasaan Al, kadang kita harus lebih berpihak sama logika dan keadaan. Papa tau kamu cinta sama Kayla, papa tau. Tapi ingat, kehormatan keluarga kita ada ditangan kamu. Papa gak mau kamu sampai salah pilih pendamping hidup, yang nantinya bakal ngerusak nama baik keluarga kita atau bisnis kita"


Alex merasa tersinggung. "Kayla itu cewek terhormat pa, dia ngejaga dirinya dengan baik. Maminya juga orang baik, Om Iwan orang baik dan terpandang. Dia hidup sama mereka, bukan sama papinya. Lagian belum tentu Om Arman itu selamanya jahat, semua orang bisa berubah."


"Tetap aja kita gak bisa nganggap masalah ini sepele. Kita bukan orang biasa yang hidup sederhana di lingkungan kecil AI, kehidupan kita selalu disorot. Tolonglah kamu ngerti."


"Papa yang nanggap ini masalah, bukan Al. Bagi Al itu semua gak lebih penting dari kepribadian Kayla sendiri"


"Ini yang harus kamu koreksi! Kamu pikir hidup kamu cuman soal kamu sama Kayla aja, yang lain gak penting? Kamu juga punya tanggung jawab yang lain Al, dan itu lebih penting kamu pikirin dari pada hubungan kamu sama Kayla."


"Kayla itu masih tunangan kamu, belum jadi istri, belum tanggung jawab kamu. Sedangkan kamu lebih dulu punya kerjaan dan bisnis yang harus kamu handle, itu tanggung jawab kamu. Soal cewek, pendamping hidup, nanti dulu lah. itu gampang. Papa bisa cariin calon istri buat kamu, yang setara dengan kita. Biar bisa dampingin kamu ngurus bisnis."


"Al tau tanggung jawab Al pa, Al gak bakal lepas tangan kok. Tapi Al gak bisa lepasin Kayla juga, Al gak mau nyakitin dia. Gak perlu papa repot-repot cariin cewek lain, karena gak ada yang bisa gantiin Kayla dihati Al"


Elfatt memutar bola matanya malas. "Jangan jadi bodoh karena cinta Al, lagian belum tentu cewek yang kamu perjuangin itu bisa jadi seperti yang kamu mau. Perjalanan kamu masih panjang, fokus aja dulu sama sekolah dan kerjaan. Mulailah lupain Kayla"


Alex mendelik kesal. "Papa kok jadi gini sih? Segampang itu papa minta Al ngelupain Kayla?! Pa, dia calon istri Al. Al gak bisa kehilangan dia"


"Batalin pertunangan kamu sama Kayla!"


Alex terbelalak tak habis pikir dengan keputusan papanya.


"Ingat Al, kalahin ego dan perasaan kamu. Pakai logika, liat keadaan, jangan gara-gara cinta kamu malah lupa segalanya. Fokus sama apa yang udah kamu capai Al! Kamu kehilangan Kayla gak berarti masa depan kamu juga hilang"


"Kayla itu masa depan Al, pa." Alex bersikeras.


Elfatt menggeleng, "Belum, dan gak akan. Kalo kamu emang pengen nikah muda, papa bakal cariin cewek yang setara buat kamu dan siap bantu ngehandle perusahaan kita juga. Cewek seperti itu yang cocok buat kamu Al, menurut papa istri yang lebih dewasa sangat cocok buat kamu, biar kamu bisa belajar bisnis dari dia"


"Bisnis bisnis bisnis terus... Al gak suka papa kait-kaitkan semuanya sama bisnis pa!" Alex menghela nafas berat.


"Papa pikir Al ngelamar Kayla itu cuman karena pengen nikah doang?! Al cinta sama Kayla pa dan Al butuh dia, niat Al nikahin dia atas dasar cinta. Gak ada sangkut pautnya sama bisnis." tegas Alex.


"Lagian Kayla itu cewek yang cerdas kok, dia dewasa dan pengertian. Dia juga bisa ngurus bisnis kalo emang papa maunya mantu yang kayak gitu. Pliss pa, jangan mikir buat cariin Al cewek lain sebagai ganti Kayla. Kayla gak bisa diganti sama siapapun."


"Kenapa enggak? Buka mata kamu Al, jangan terlalu ngikutin hati kamu yang isinya cuman Kayla aja. Papa gak mau kamu jadi budak cinta. Hidup kamu gak akan berakhir tanpa dia, masa depan kamu juga bisa cerah tanpa dia."


"Papa nggak ngerti." sergah Alex geram.

__ADS_1


"Kamu kira papa gak peduli sama kamu? Justru papa mikirin buat kebaikan kamu kedepannya Al. Citra baik keluarga kita akan dipertanyakan kalau kita membangun hubungan dengan keluarga seorang pelaku kriminal. Coba kamu pahami itu!" Elfatt mendesah lelah, ia ingin Alex mengerti jalan pikirannya tapi anaknya itu keras kepala.


"Kehadiran Kayla gak bakal ngerusak citra keluarga kita pa, percaya sama Al! Yang bakal masuk ke keluarga kita itu Kayla, bukan papinya. Kayla gak bakal bawa pengaruh buruk buat keluarga kita ataupun bisnis yang papa agung-agungkan itu. Kayla itu cewek cerdas pa, dia tau cara menempatkan diri, dia tau cara bersikap yang sesuai apa yang dia hadapin. Al percaya itu, tolong papa ngerti."


Elfatt diam sambil memijit keningnya. Bingung bagaimana membuat Alex mengerti. Sebenarnya Elfatt sangat menyayangkan Kayla itu anak seorang penjahat, tapi mau bagaimana lagi jika itulah kenyataannya. Kayla anak yang baik dan sopan, Elfatt tahu itu. Tapi tetap saja latar belakang itu penting, publik pasti akan mempertanyakan siapa yang akan menjadi menantu keluarga William, keluarga mana yang mendapat kehormatan berbesan dengan orang terpandang seperti keluarga William. Nanti itu pasti terjadi dimasa depan jika Alex menikah dengan Kayla. Menjaga citra baik bisnis dan kehormatan keluarga itu penting bukan! Kenapa Alex tidak mau mengerti.


Perdebatan sengit antara ayah dan anak berakhir tanpa kesimpulan, Elfatt masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan badan dan pikiran yang lelah bekerja seharian. Ditambah masalah Alex yang tidak bisa ia abaikan. Alex sendiri juga tidak melanjutkan perdebatannya melihat sang papa yang tidak mau mengalah, dia memilih masuk ke kamarnya dan menenangkan pikiran.


... ....


... ....


... ....


Paginya Alex dan papanya sarapan bersama seperti biasa, namun kali ini tidak ada percakapan hangat seperti hari-hari sebelumnya. Setelah Elfatt menyelesaikan sarapannya, ia berdiri sambil merapikan jas dan dasinya.


"Al, selesaikan secepatnya ya! Papa gak mau masalah ini berlarut-larut, yang nantinya akan mengundang masalah lain."


Alex mendongak menatap papanya bingung. "Bicara sama Kayla! Papa akan bicara sama Nadia" lanjut Elfatt sebelum melenggang pergi.


"Pa!" sergah Alex, membuat langkah papanya terhenti.


Alex beranjak dari duduknya lalu menghadap papanya. "Papa beneran mau misahin Al sama Kayla?"


Elfatt sempat terdiam sebelum menjawab. "Itu yang terbaik Al"


Alex mengepalkan tangannya, "Bukannya dulu papa ngedukung hubungan Al sama Kayla? Papa tega misahin Al sama Kayla? Al gak bisa ngehancurin hatinya Kayla pa, Al gak bisa lakuin itu" kata Alex parau.


"Biar papa yang tanganin. Papa akan bicara baik-baik sama Nadia"


"Papa mau mutusin hubungan yang terjalin baik, cuman karena satu masalah yang nggak terlalu berarti, pa?!"


"Papa nggak liat masalah itu kecil Al, masalah itu bisa mempengaruhi kita. Lebih baik menghindari yang belum terjadi daripada menghadapi yang sudah terjadi kan!"


Alex menatap papanya dengan wajah frustasi. "Pikirkan secara logika Al, coba buat nggak melibatkan perasaan dalam hal ini ya! Mulailah melupakan Kayla."


Elfatt menepuk pundak Alex tiga kali sebelum pergi. Alex hanya melongo diam, berdiri mematung dengan amarah yang tertahan dan tatapan nanar. Frustasi.


... ....


... ....


... ....


Derrtt.. dertt..


Kayla meraih ponselnya yang berdering. Satu chat masuk, dari Alex. la segera membukanya. Senyuman Kayla memudar saat membaca chat yang dikirim Alex untuknya.


📱


"Miss Kissable, hari ini aku gak bisa jemput kamu. Maafin aku ya sayang.."


Kayla sedikit sedih, karena ia sudah terbiasa dijemput Alex dan berangkat sekolah bersama-sama. Tapi ia memahami Alex, pasti Alex punya alasan kenapa tidak bisa menjemputnya pagi ini.


... ___________________...


"AI..?" Vanessa heran sekaligus senang.melihat Alex berdiri di depan pintu rumahnya.


"Apa kabar nak?" tanyanya saat Alex menunduk menyalaminya.


Alex belum mengucapkan sepatah katapun. Vanessa lantas membaca ekspresi wajah Alex, murung dan tak bersemangat.


"Ada apa nak? Kamu nggak sekolah?" Vanessa mencoba mencari tahu kondisi Alex, melihat Alex mengenakan seragam sekolah tapi malah datang ke rumah mamanya, padahal hampir jam delapan yang artinya Alex pasti terlambat jika sampai di sekolah jam segini.


Alex hanya diam. Vanessa pun menuntunnya masuk ke rumah. "Ayo Al."


Baru saja Alex duduk bersama mamanya, dan belum sempat Vanessa bertanya kembali, Alex langsung memeluknya seraya terisak kecil. Vanessa akhirnya menyadari bahwa putranya ternyata mengalami masalah. Jika tidak, Alex tidak akan seperti ini, Alex bukan anak yang cengeng.


"Cerita sama mama, ada apa nak?" Vanessa mengelus punggung Alex.

__ADS_1


"Papa.. papa mau misahin aku sama Kayla." ucapnya parau disela isakannya.


"Hah?! Kamu ngomong apa Al? Emangnya ada masalah apa?"


Vanessa cukup terkejut mendengarnya. Setelah beberapa saat Alex menumpahkan tangisnya dipelukan sang mama, ia pun menjelaskan masalah yang ia hadapi. Awalnya Alex sempat takut mama akan bereaksi sama seperti papa saat mengetahui yang terjadi pada Kayla. Tapi tidak, mama mengerti dan tidak marah. Mama merasa prihatin atas apa yang telah terjadi, membuat Alex sedikit tenang.


"Mama ngerti kan ma, kalo aku tuh sayang banget sama Kayla. Aku cinta sama dia ma, gak mungkin aku ninggalin dia."


"lya mama ngerti."


"Aku tau, mama pasti lebih ngerti soal cinta, mama berpengalaman soal ini. Mama pasti bisa ngertiin perasaan aku."


Vanessa tersenyum samar, sejujurnya ia merasa malu saat Alex mengatakan mamanya lebih berpengalaman soal cinta. Memang benar, tapi cinta Vanessa untuk Vino bukan Elfatt papanya Alex. Dan Alex tahu itu, mamanya rela berkorban demi cinta, dan berkhianat karena cinta. Vanessa tidak menyangka akan ada hari ini, dimana Alex memohon sesuatu padanya dengan membenarkan cinta. Padahal dulu Alex sangat membenci segala yang berhubungan dengan pengkhianatan mamanya. Baik itu perempuan, cinta, dan air mata.


"Mama akan ngomong sama papa kamu." kata Vanessa menenangkan Alex.


Alex tersenyum lega sambil mencium tangan mamanya. "Makasih ma."


"Jangan galau-galau Al, mama gak suka muka kusut kamu" goda Vanessa sambil mengacak rambut Alex gemas.


"Hmm.... gimana nggak galau ma, Al gak mau kehilangan Kayla. Al gak bisa nyakitin dia."


"lya mama tau. Mama janji, kamu sama Kayla akan bersatu. Kalian itu saling mencintai dan harus bahagia sama-sama."


Ingatan Vanessa melayang jauh setelah mengatakan itu. la tahu betapa sakitnya cinta yang tidak bisa memiliki, ia tahu bagaimana tersiksa batinnya ketika harus menerima orang lain sebagai pendamping dan menyakiti kekasih. Vanessa tidak mau hal sama terjadi pada Alex, sejarah tidak boleh terulang. Apapun akan Vanessa lakukan agar Alex dan Kayla bersatu, mereka saling mencintai dengan tulus, anak-anaknya itu harus bahagia. Vanessa tidak berani membayangkan jika hubungan mereka kandas, Vanessa lah yang akan lebih dulu tersiksa jika itu sampai terjadi. la tidak mau Alex merasakan hal yang sama seperti yang dulu ia rasakan, putranya harus bahagia, cinta Alex harus berhasil.


Lagipula alasan papa Alex mau memisahkan mereka bukanlah alasan yang kuat. Kayla tidak memiliki aib atau kekurangan yang bisa berpengaruh untuk Alex, apalagi untuk bisnis keluarga yang sangat dikhawatirkan papa Alex. Alex benar, siapa papi Kayla tidak akan berpengaruh pada hubungan mereka dan citra keluarga. Vanessa setuju itu bukanlah masalah besar, dan Vanessa mendukung putranya. Dan gadis baik seperti Kaylatidak pantas disakiti, terlebih lagi hanya karena dia terlahir sebagai anak seorang pelaku kriminal. Vanessa tentu memahami perasaan Kayla, jika gadis itu sampai patah hati karena hubungannya hancur. Apalagi yang menyakitinya adalah putra Vanessa sendiri, Vanessa tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.


"AI, kamu nggak niat bolos kan?"


"Emm.." Alex menggaruk tengkuknya.


"Malu sama Kayla, masa kamu bolos!"


"Mau gimana lagi ma, masalah ini tuh serius, aku gak bakal bisa fokus belajar kalo belum dapet solusinya."


"Sekarang udah ada solusinya. Mama akan ngomong sama papa kamu secepatnya. Dan mama pastiin kamu sama Kayla nggak akan putus."


"Beneran ya ma."


"lya" jawab Vanessa mantap.


"Tapi kalo papa tetap ngotot gimana?"


"Selama ada mama, mama nggak akan biarin anak mama patah hati. Mama yang akan bikin papa kamu ngerti."


Alex tersenyum, "Aku percaya sama mama. Makasih ya ma."


Vanessa menepuk lembut pipi Alex. "Kalo gitu, ayo berangkat sekolah!"


Senyuman sumringah Alex lenyap seketika. "Udah telat banget ma, liat tuh udah jam berapa."


"Nggak papa kelas pertama absen, tapi jangan sampai kamu di cap bolos seharian. Nggak malu apa?"


Alex mendengus malas, "Mama yang nganter tapi." rengeknya.


Vanessa tertawa geli. "Hahahaha.. Kok jadi manja sih."


"Ayo!" kata Vanessa kemudian sambil berdiri.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2