Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Pulang Ke Rumah Kayla


__ADS_3

Tangisan Alex mereda seiring dengan hujan yang mulai reda. Kayla membantu Alex bangkit dan mengajaknya duduk di kursi panjang yang ada di depan bengkel.


Hening.


Keduanya diam dalam kecanggungan. Kayla lalu mengambil ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di dalam tasnya yang tergantung di motornya. Kayla mengecek ponselnya kalau-kalau mami menghubunginya. Benar saja, ada dua chat masuk dari nomer mami.


📱


"Sayang, kamu dimana? Kehujanan ya dijalan?"


📱


"Lily sayang, cepet pulang ya!"


Kayla kemudian membalas chat mami.


📱


"Lily neduh di bengkel mi, tadi motor Lily kehabisan bensin makanya Lily telat pulang. Mami gak usah khawatir ya, Lily bentar lagi pulang, hujannya juga udah reda."


Setelahnya Kayla menutup ponselnya, kemudian melirik Alex. Pria yang beberapa menit lalu menangis dipelukannya itu kini terdiam menunduk, dia melamun. Kayla lihat wajahnya babak belur akibat berkelahi tadi, dan tangannya terluka juga berdarah akibat ia tinju-tinjukan ke aspal.


"AI?"


Alex mengangkat kepalanya, melirik Kayla. Kayla meraih tangan Alex yang terluka.


"Ada apa Al, kenapa kamu nyakitin diri kamu sendiri?"


Alex meringis dan menjauhkan tangannya. Dia membuang muka dari tatapan Kayla, membuat Kayla heran. Kenapa dia seperti ini, apa dia marah?


Kayla lalu mengalihkan pandangannya kearah motor Alex, "Al, motor kamu rusak?"


Alex tidak meresponnya, Kayla menilik jam tangannya. Sekarang pukul 22.25, ia harus pulang secepatnya, jika tidak mami pasti khawatir.


"Kamu tunggu disini ya, aku ke depan sana bentar, cari taksi."


"Buat apa taksi?" Tanya Alex datar.


"Buat kamu pulang lah, emangnya kamu mau nginep disini?" Celetuk Kayla.


"Gue gak pulang."


"Apa? Gak pulang gimana?"


Alex tidak menyahut. "Oke, kita ke klinik, obatin luka kamu!" kata Kayla.


"Enggak." Jawab Alex singkat.


"Trus kamu maunya apa? Aku harus cepat pulang loh, ntar mamiku khawatir."


"Pulang aja!" sahutnya cuek.


"Trus aku ninggalin kamu sendirian disini? Enggak, kondisi kamu kayak gini AI. Seenggaknya obatin luka kamu dulu, ayo aku anter!" Kayla mengulurkan tangannya pada Alex.


Alex menatap tangan Kayla kemudian mendongak melirik wajah Kayla. "Bukannya lu marah sama gue?"


Kayla mendengus, "Lupain semua itu Al, ayo! Aku harus cepet pulang."


"Elu ngajak gue pulang ke rumah lu?"


"Ya enggak lah! Aku anter kamu cari taksi atau cari klinik deket sini. Motor kamu gak bisa dipake dulu kan, taro aja disini. Aku anter kamu pake motorku"


Alex terkekeh, "Makasih!" Ucapnya acuh lalu memalingkan wajahnya.


Kayla masih berdiri ditempatnya, ia menyilangkan kedua tangannya seraya menatap Alex.


"Apa?" Tanya Alex sewot.


"Nunggu kamu" Sahut Kayla kesal.


"Udah gue bilang, gue gak mau pulang!"


Kayla mendengus. Ponsel Kayla kemudian berdering, mami menelponnya.


"lya mi?" sahut Kayla setelah mengangkat teleponnya.


"Kamu dimana sayang, kamu baik-baik aja kan?"


"lya mi, Lily baik. Mami gak usah khawatir ya, ini Lily udah mau pulang kok, mi!"


Alex langsung merebut ponsel Kayla dan bicara pada mami Kayla.


"Halo tante?"


"Eh, siapa ini?" Kaget mami Kayla.


"AL..." cicit Kayla berusaha mengambil ponselnya, tapi Alex menghalanginya.


"Ini Alex, tante."


"Alex?" Bingung mami Kayla.


"Tante, saya boleh pulang ke rumah tante?"


"Hah?" Histeris Kayla.


"Apa?" Mami pun kaget mendengarnya, ia melirik ponselnya sejenak kemudian menempelkannya kembali ke telinganya.


"Nak Alex? Emm.. kamu bilang apa tadi?" tanya mami memastikan.


"Boleh saya ikut Lily pulang ke rumah tante?" ulangnya, membuat Kayla dan mami bingung.


"Kamu ngomong apa Al?" tanya Kayla pelan.


"Emm.. kasih hp nya ke Lily ya, tante mau ngomong." ujar Mami akhirnya.


Alex pun menurutinya, ia kembalikan ponsel Kayla dan Kayla buru-buru bicara pada mami lagi.


"Mi?"


"Sayang, ada apa, kamu bareng Alex? Trus kenapa dia bilang mau pulang ke rumah kita?" tanya mami ngegas.


"Emm.. gimana ya mi, Lily juga bingung" Kayla berjalan sedikit menjauh dari Alex.


"Loh, maksudnya?"


"Nanti Lily ceritain di rumah ya, Mi. Pokoknya Alex lagi gak baik-baik aja, dan dia gak mau pulang ke rumahnya." kata Kayla pelan.


"Tapi sayang, gak mungkin dong kita bawa masuk laki-laki ke rumah kita malam-malam?! Kamu gak beneran bakal bawa Alex ke rumah kita kan, sayang?" cemas mami.


"Lily harus gimana, Mi? Gak mungkin Lily ninggalin dia di jalan sendirian."

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa sih sayang? Kamu baik-baik aja kan?"


"Lily gak papa. Nanti kita ngomong pas Lily sampe rumah ya!"


"Emm.." Mami ragu, "E..iya sayang. Hati-hati ya!"


"lya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, sayang."


Setelah Kayla menutup ponselnya, ia kembali menghampiri Alex. "Ayo Al!"


Alex masih diam menunduk, Kayla lalu mengambil motornya dan menyalakan mesin motornya. Alex pun akhirnya beranjak, ia berdiri di depan motor Kayla.


"Ada apa lagi? Ayo naik!" ucap Kayla.


"Di boncengan? Cowok dong yang bonceng cewek!" protes Alex.


Kayla mematikan mesin motornya agar suara mereka tidak terganggu.


"Al, tangan kamu lagi sakit kan, jadi yaudah.. gak papa aku yang bonceng."


"Gue bisa kok. Minggir!"


"Jangan ngotot deh, naik aja!"


"Minggir!" kesal Alex, membuat Kayla mendengus dan harus mengalah.


Kayla pun turun dari motornya dan Alex yang mencoba mengendalikan motornya. Karena buku-buku tangannya yang terluka, ia kesulitan menggenggam stang motor. Ia memaksakannya dan membuat tangannya yang terluka itu kembali mengeluarkan darah segar.


"Cukup Al! Biar aku yang bawa. Emangnya kenapa kalo aku yang bonceng kamu? Liat tangan kamu, masih mau maksain bawa motor? Kalo kecelakaan gimana?"


Alex diam, ia lalu melirik Kayla. Kayla yang semula berekspresi cemas kemudian tersenyum hangat pada Alex.


"Al, buat kali ini nurut ya! Biar aku yang bonceng kamu. kita pulang ke rumahku, itu kan yang kamu mau?"


Tanpa menyahut, Alex pun turun dari motor Kayla dan kemudian membiarkan Kayla memboncengnya. Merekapun pulang kerumah Kayla.


... ....


... ....


... ....


Di depan rumah, mami mondar-mandir dengan gelisah, sambil sesekali melihat ponselnya. Sudah hampir jam sebelas tapi putri semata wayangnya belum juga pulang. Ibu mana yang tidak cemas jika anak gadisnya masih diluar rumah di jam malam selarut ini, ditambah lagi ia akan pulang bersama seorang laki-laki.


Tidak lama kemudian, terdengar suara deru motor. Mami bergegas membuka pagar untuk Kayla masuk, mami bisa lega sekarang melihat anak gadisnya pulang dengan selamat. Dan ternyata Kayla benar-benar membawa Alex, bukan Alex yang membawa motornya tapi Kayla, Kayla yang membonceng Alex. Ini tentu jadi pertanyaan dibenak mami, ada apa sebenarnya?


"Alhamdulillah sayang.." gumam Mami.


Kayla memarkirkan motornya setelah Alex turun. Alex menyalami tangan mami Kayla, mami terkesiap melihat wajah Alex merah-merah terluka, dan tangannya juga.


"Ya Allah.. nak Alex kenapa?"


Alex hanya tersenyum kecut, ia tidak menjawab.


"Mi." Kayla menyalami tangan mami.


"Lily, apa-apaan nih sayang, kok kalian basah kuyup gini? Katanya neduh." rajuk mami.


Kayla dan Alex saling melirik, "Mi, kita masuk dulu ya, nanti Lily jelasin!"


Setelah Alex keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian, mami memintanya duduk di sofa. Mami sudah menyiapkan cairan antibiotik, kasa steril, kompres dan lain-lainnya untuk mengobati luka Alex.


"Maaf Tante, saya ngerepotin."


"Jangan sungkan nak Alex. Sini Tante bantu obatin!" Alex ragu untuk mendekat.


Tiba-tiba terdengar decitan pintu, Kayla keluar dari kamarnya sambil menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk. Alex memandanginya tanpa berkedip, wajah polosnya tampak begitu mempesona dimata Alex, sampai Kayla duduk di depannya barulah Alex tersadar.


"Mi, Alex ada baju ganti?" tanya Kayla pelan.


"Punya Om lwan, hehe... kan Om Iwan pernah nginep disini, trus bajunya ketinggalan. Alhamdulillah kan, gak taunya bakal kedatangan tamu laki-laki."


Kayla tertawa kecil, "Muat ya?"


"Jangan ngeledek!" sewot Alex.


"Lily..." tegur mami.


"Sorry.." ucap Kayla seraya mengulum senyum.


"Ayo, yang katanya mau ngobatin lukanya Alex?" sindir mami, membuat Alex dan Kayla saling melirik.


Kayla mengambil botol antibiotik dan kasa, ia mengulurkan tangannya pada Alex, membuat Alex merasa tersipu tapi hatinya menghangat. Setelah Alex memberikan tangannya, Kayla mulai mengoleskan cairan antibiotik pada buku-buku tangan Alex yang lecet.


"Mami siapin makan dulu ya!" kata mami seraya beranjak.


"Mi, tadi Lily udah makan dirumahnya Nia."


"Tapi Alex belum kan?" tanya mami.


Alex merasa kikuk, Kayla dan maminya menunggu jawabannya. la malu menjawab belum sedangkan Kayla sudah makan, maminya juga pasti sudah makan. Alex memang lapar, karena ia tidak makan apapun seharian ini, tapi tidak mungkin kan ia jujur?


"Enggak usah repot-repot, Tante!" itu yang keluar dari mulut Alex.


"Eh.. jangan sungkan! Lily, kalo udah selesai ngobatinnya, ajak Alex makan ya!" ujar mami.


Kayla melirik Alex sebelum menjawab, "lya Mi!"


Setelah mami hilang dari penglihatan Kayla dan Alex, Kayla melanjutkan mengobati luka Alex. Ia membalutkan kasa steril pada luka yang sudah ia beri cairan antibiotik. Dan Alex terus memperhatikannya.


"Terima kasih Miss Kissable.." ucapnya lembut.


"Hm." singkat Kayla tanpa mengangkat kepalanya.


Rambut panjang Kayla yang terurai sehabis mandi nampaknya mengganggu aktivitas Kayla, ia sesekali menyeka helai rambutnya yang terulur menghalangi penglihatannya itu ke belakang telinga. Alex merasa begitu senang bisa menatap Miss Kissable nya seperti ini, bisa sedekat ini dan mendapatkan perhatiannya juga.


"Ini kenapa Al?" tanya Kayla, menyentuh plester yang sudah ada di jempol kiri Alex.


Alex tersenyum tipis.


(Flashback On)


Alex meringis perih, pangkal jari jempolnya terluka oleh goresan pisau ukirnya. la lalu mencari plester untuk membalut lukanya. Sembari mencari plester, ia melampiaskan kekesalannya pada barang-barang yang disentuhnya. Mulai dari laci dimana seharusnya ia menyimpan plester, lalu meja, kursi, bahkan beberapa lukisannya dan kayu-kayu hasil ukirannya. la membanting semua barang-barang itu dengan kesal.


Seusai memukul Bryan beberapa menit yang lalu dan ditegur oleh Kayla, Alex langsung pergi ke ruangan pribadinya di balik ruang kesenian. la mencoba menenangkan dirinya dan pikirannya dengan mengukir sesuatu di salah satu tiang yang ada di ruangan itu.Tapi ia tidak bisa fokus dan malah melukai tangannya.


Setelah puas membanting barang-barangnya, Alex menghempaskan dirinya ke sofa. Ingatan tentang tatapan Kayla tadi kembali muncul dibenaknya. Alex tahu Kayla tidak suka dengan apa yang telah dilakukannya, tapi kenapa ia tetap tidak mau bicara? Padahal ia bisa memarahinya saat itu juga kan, ia punya kesempatan untuk mengeluarkan kekesalannya langsung pada Alex, tapi ia hanya menegurnya sekali, dan tetap tidak bicara padanya.


Bima, Sandi dan Vicky pun tidak ada di sana saat Alex memukul Bryan dengan brutal. Biasanya merekalah yang menghentikannya saat tindakannya sudah melampau batas. Mereka selalu mengkhawatirkannya saat ia hilang kendali. Tapi sekarang, mereka bahkan tidak bersamanya. la sendirian.

__ADS_1


"Sampe kapan..?" gumam Alex lirih.


"Gue harus apa..? Apa gue udah gak bisa ngelakuin sesuatu yang gue suka?"


"Apa gue gak boleh milih sesuatu yang gue mau?"


"Kenapa semuanya jadi kayak gini...?"


Alex menutup matanya, menghela nafas berat dan mencoba menenangkan pikirannya. Kepala juga pusing, karena memang pagi ini ia tidak sarapan, juga tidak makan atau minum apapun sampai sekarang. Pikirannya kacau, dan ***** makannya hilang.


Diluar sesuatu yang berhubungan dengan mamanya, Alex tidak pernah sekacau ini. Baru kali ini ia memikirkan perasaan orang lain, sebelumnya ia adalah orang yang acuh dan tak pedulian. Tapi sekarang, entah sejak kapan hatinya melembut. la tidak bisa berhenti memikirkan perasaan ketiga temannya yang telah ia kecewakan. Juga Miss Kissable nya yang masih marah padanya. Alex merasa mereka begitu berarti untuknya, dan kini mereka meninggalkannya sendirian.


(Flashback Off)


Alex terdiam. Tadi siang di sekolah, itulah yang ia alami. la begitu frustasi dan kacau, tapi sekarang ia bersyukur, Miss Kissable sudah berada disisinya.


"AI?" tanya Kayla lagi.


"Kok ngelamun lagi? Udah dong, Iupain semua yang bikin kamu stres." ujar Kayla.


Alex mendengus senyum, "Emang keliatan ya aku stres nya?"


"Banget!"


"Masa'? Coba liat sini?!" Alex menengok wajah Kayla yang menunduk, memintanya melihatnya.


"Sekarang udah mendingan kok, makanya jangan ngelamun lagi!" sahut Kayla setelah menilik Alex sebentar, kemudian ia kembali menunduk.


Kayla mulai kesal karena ia menyadari Alex terus memperhatikannya, ia pun terpikir untuk menjahili Alex. la mengolesi kapas dengan cairan antibiotik kemudian ia tekan kapas itu dengan kuat ke luka Alex sampai Alex berjengkit.


"Aww! Sengaja ya?" protes Alex.


"lya" sahut Kayla lempeng, membuat Alex tertawa kecil.


"Emangnya gak sakit lagi? Dari tadi kamu diem aja, gak ngeringis-ringis lagi kayak waktu pertama aku pegang tadi."


"Kalo dokternya secantik ini yang ngobatin aku, gak bakalan kerasa lah sakitnya."


"Hussh, beraninya kamu gombalin aku di rumah aku sendiri?! Ntar dimarahin mami loh." celetuk Kayla pelan.


Melihat helaian rambut Kayla yang kembali terulur menutupi sebagian wajahnya, Alex pun berinisiatif untuk membantu menyekanya dan merapikannya ke belakang telinga Kayla.


"Ck, ganggu banget ya." katanya sambil menyentuh rambut Kayla, membuat Kayla sontak mendongak.


Mata merekapun bertemu pandang, tentu saja Alex tidak mau menyia-nyiakan momen ini. la terus menatap Kayla dengan seksama, alisnya yang tebal, matanya yang teduh, pipinya yang chubby, dagunya dan bibirnya.. Alex berdecak kagum dalam hati, sungguh pahatan rupa yang indah mempesona. Degupan jantung Alex semakin tak terkendali.


Sedangkan yang Kayla lihat, tatapan Alex yang semulanya menyiratkan duka dan beban, kini sudah hilang. Tatapannya berubah, artinya ia sudah lebih tenang sekarang, bibir tipisnya yang kata para siswi sangat sensual itu.. juga sudah bisa tersenyum. Meskipun beberapa bekas luka menghiasi ketampanan wajahnya. Lega rasanya hati Kayla, mengingat beberapa  waktu kebelakang kondisi Alex cukup mengkhawatirkan.


"Ekheemm.." keduanya terkesiap saat mami berdehem. Ternyata mami sudah berada didepan mereka.


Alex menunduk malu, wajahnya pasti sudah memerah saat ini, mami Kayla memergokinya sedang menatap Kayla seperti tadi, apa mami Kayla akan marah? pikirnya.


"Makanannya udah siap, kalo udah selesai kalian makan ya!"


Kayla hendak memprotes tapi mami lebih dulu menyelanya. "Lily juga harus makan, pasti laper lagi kan? Kalian abis kehujanan loh, jadi harus diangetin dulu perutnya. Mami juga udah bikin cokelat panas."


"Makasih tante, maaf saya ngerepotin." ucap Alex.


"Jangan sungkan nak Alex, anggap rumah sendiri aja ya!"


"Maksud mami apa?" protes Kayla saat mami mengatakan 'anggap rumah sendiri'.


"lya, Alex kan mau nginep disini, jadi anggap rumah sendiri aja dong, makan minum tidur gak usah sungkan."


"Makasih tante." mami mengangguk sekali sebelum berlalu.


"Tante!" seru Alex menghentikan langkah mami Kayla.


"Jangan bilang papa saya ya!"


Mami mengernyit lalu melirik Kayla, Kayla mengerjap sekali memberi isyarat agar mami menyetujui.


"Oh, iya nak Alex. Tenang aja ya, kamu istirahat aja dulu disini. Tante gak akan ngomong kok sama papa kamu."


Alex lega dan berterima kasih sekali lagi. Setelahnya Kayla kembali melanjutkan mengobati luka Alex, setelah tangan lalu ke wajahnya yang babak belur. Kemudian keduanya menuju dapur untuk makan malam.


Alex menaikkan alisnya heran saat melihat jarum jam menunjukkan pukul 23.38. la tidak menyangka malam sudah selarut ini, padahal saat ia keluar rumah baru jam tujuh malam. Alex dan Kayla duduk berhadapan di meja makan. Alex lihat Kayla agaknya canggung. Ah, Alex jadi merasa tidak enak harus merepotkan Kayla dan maminya malam-malam seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, jika ia pulang ke rumah malam ini, papanya pasti akan cemas melihat kondisinya, mungkin juga papa akan memarahinya. Papa sudah bilang akan pulang dari Australia malam ini, jadi pasti sekarang papa sudah di rumah. Biarkan saja papa mengira kalau Alex sudah tidur dikamarnya, seperti biasanya saat papa pulang larut malam.


"Kamu mau minum apa Al?"


"Hm?" bingung Alex.


"Kamu gak suka cokelat kan? Jadi kamu mau minum apa? Jangan kopi ya, ntar kamu gak bisa tidur."


Alex terkekeh, "Dari mana kamu tau aku gak suka cokelat?"


"Kemarin aku liat Bu Feli nawarin kamu cokelat trus kamu tolak, kamu bilang kamu gak suka cokelat kan?"


"Kamu liat Bu Feli nawarin aku cokelat?" Kayla mengangguk.


"Jadi kamu merhatiin aku?" goda Alex, "Apa kamu cemburu?"


Kayla tertawa kecil seraya menggeleng, "Apaan sih Al, kepedean banget deh."


"Aku bikinin teh ya!" ucap Kayla seraya berbalik.


Setelah mereka selesai makan, mami menghampiri mereka. "Eh mami belum tidur?" tanya Kayla.


"Hm." jawab mami seraya berjalan mendekati keduanya yang baru beranjak dari meja makan.


Mami menepuk pundak Alex dan tersenyum, "Nak Alex, istirahat aja di kamarnya Lily ya, nant-.."


"Hah??" Alex dan Kayla terperangah kaget.


Mami pun terkesiap melihat reaksi keduanya, mami lalu mengangguk. Kayla dan Alex saling melirik, dan mereka sama-sama merasa malu.


Hening,


..dan tegang.


Alex menelan salivanya, lalu kembali menatap tanya pada mami Kayla. Sekali lagi mami mengangguk, sehingga Alex merasa heran.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2