Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Putra Tersayang


__ADS_3

Alex memutuskan menginap di rumah mamanya malam ini, atas permintaan sang mama. Awalnya Alex merasa sungkan, karena sebelum hari ini ia tidak pernah sekali pun duduk di rumah mamanya sendiri. Dan hari ini, saat hubungan mereka sudah membaik dan kembali hangat, sang mama tidak menyia-nyiakan kebersamaan mereka begitu saja. Lagipula Alex sendiri juga masih sangat merindukan sang mama yang penuh kelembutan itu, ia ingin kembali merasakan belaian lembut sang mama ketika menjelang tidur, seperti yang dulu selalu ia nikmati.


Sejak sore setelah Kayla pulang sampai waktu makan malam tiba, kedua adik kembarnya Sita dan Fita terus saja berceloteh tentang Kayla. Mereka berdua bertanya banyak hal pada Alex, tentang Kakak baik yang baru mereka kenal hari ini. Alex yang sebenarnya tidak menyukai dua anak perempuan ini, nyatanya sangat welcome saat ditanyai perihal gadis pujaannya itu. Jika saja bukan pertanyaan tentang Kayla, Alex pasti sudah jengah dari awal dengan kedua adik kembarnya yang cerewet itu.


"Makan malam sudah siap..! Ayo anak-anak pintar, sini!" pekik sang mama dari arah dapur.


Sita dan Fita bergegas berlarian menuju meja makan, diikuti Alex yang terdengar menghela nafas panjang.


"Akhirnya.. bebas juga gue dari tuh dua kurcaci." gumam Alex pelan.


Sesampai Alex di meja makan, ia tersenyum melihat hidangan yang tersaji di sana. Sayur asem dan sate hati ayam, menu favorit Alex. Sebelum memasak, tadi sang mama sempat bertanya pada Alex ia ingin makan apa, Alex hanya menjawab, 'Aku kangen masakan mama'.


Melihat hidangan lezat yang masih mengepulkan asap di depannya ini, rasanya cacing-cacing perut Alex berdemo kian tak sabar. Memang ada cacingnya? Haha..


"Makasih ma!"


"Kamu masih suka ini nak?"


"Masih. Mama masih ingat?"


"Ingat lah sayang, setiap kali mama bikin menu ini mama selalu keinget kamu."


Alex tertegun sesaat, "Mama senaaang sekali kita bisa makan bareng lagi. Ayo duduk!"


"lya ma" Alex agak tak enak dengan sang mama.


Jika diperhatikan, wajah sang mama begitu berseri dibandingkan sebelumnya. Kelihatannya ia begitu bahagia dengan kebersamaan mereka ini, pikir Alex.


"Hei, semua sate ini jatah Abang ya!" Alex tersenyum jahil sambil menarik piring berisi sate hati ayam ke arahnya, menjauhkan makanan yang satu itu dari jangkauan kedua adiknya.


Kedua gadis kecil itu melirik ke arah Alex kemudian ke arah sang mama, melayangkan protesnya melalui tatapan mereka yang menggemaskan. Sang mama tersenyum hangat seraya mengedikkan bahu.


"Enggak papa ya, Bang Alex kan belum pernah makan bareng kita. Sita sama Fita kan udah sering makan sate, nah ini mama bikinin tongseng ayam kesukaan kalian juga loh." kata sang mama lembut sambil menuangkan tongseng ayam ke piring kedua gadis kecilnya itu satu satu.


Sita tersenyum mengerti, tapi Fita masih nampak keberatan. "Tapi besok mama bikinin satenya lagi ya!"


"lya." jawab sang mama.


Makan malam kali ini terasa begitu nikmat dan hangat bagi Vanessa. Tanpa ia sadari, air matanya kembali menggenang, membentuk kolam kecil di sudut matanya.


"Ya Allah... terima kasih. Ini masih terasa mimpi buatku, mimpi indah yang menjadi kenyataan. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan impianku. Aku bisa bersama Alex lagi, aku bisa berkumpul bersama anak-anakku seperti ini." ucapnya dalam hati seraya menilik satu persatu wajah anak-anaknya yang tengah menikmati makan malam mereka.


... ....


... ....


... ....


Vanessa keluar dari kamar Sita dan Fita setelah kedua anak itu tertidur. la kemudian menengok ke kamar tamu, sebelumnya ia mempersilahkan Alex tidur di sana. Namun saat Vanessa menengok ke kamar itu, Alex tidak terlihat ada di dalam sana. Vanessa pun masuk sambil memanggil Alex. Ternyata Alex berdiri di balkon kamar itu.


"Eh mama." Alex menoleh saat mendengar sang mama memanggilnya.


"Belum tidur nak?"


"Ma?"


"lya nak?"


Alex agak ragu untuk mengutarakan keinginannya.


"Ada apa Al?" Vanessa menyentuh pundak Alex.


"Boleh nggak, aku tidur sama mama? Aku pengen tidur dielus sama mama."


Hati Vanessa menghangat seketika. Dadanya bergemuruh karena begitu senang dan terharu mendengar kalimat itu dari mulut Alex. Kilas balik muncul begitu saja di mata Vanessa, dimana Alex kecil menarik ujung bajunya sambil merengek, 'Aku pengen tidur dielus sama mama..


Setetes bulir bening lolos dari mata Vanessa, membuat tangan Alex terangkat untuk menghapus air mata sang mama.


"Ma.."


"lya nak. Iya, tidur sama mama. Biar mama elus kamu sampe tidur ya!"


Di kamar Vanessa. Alex merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama, sedangkan sang mama duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengelus kepala Alex.


"Ma?"


"lya nak?"


"Mama masih inget, ulang tahun aku?"

__ADS_1


"lya mama inget."


"Mama emang inget apa pake pengingat di hp?"


Vanessa terkekeh, pertanyaan Alex agak menyindir dirinya tapi Vanessa tidak masalah. Mungkin putranya ini punya maksud dari pertanyaannya itu.


"Al, kamu itu anak pertama mama, kamu yang pertama kali menghuni rahim mama. Mana mungkin mama lupa hari kelahiran kamu, mana mungkin mama lupa hari itu, hari yang sangat istimewa buat mama."


Degg


Alex terenyuh. Mama menjawab pertanyaannya seolah-olah sang mama tahu apa yang tengah Alex pikirkan. Akhir-akhir ini Alex memang memikirkan seputar kelahiran, dan perjuangan seorang ibu, sejak ia dan Kayla menemani Alisa melahirkan beberapa hari yang lalu. la ingin mendengar cerita kelahirannya dari sang mama, ia ingin tahu kisah perjuangan sang mama saat melahirkannya belasan tahun yang lalu.


Alex mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang mama. "Ma, apa dulu aku nyusahin mama?"


Vanessa mengernyit, "Nyusahin gimana maksud kamu?"


"Waktu mama ngelahirin aku, apa mama kesakitan? Apa papa ada di samping mama?"


"Kamu ini aneh Al, yang namanya ngelahirin itu ya sakit. lya papa kamu nemenin mama." Vanessa terkekeh kecil.


Alex sempat terdiam sebelum kembali bertanya. "Berapa lama mama nahan sakitnya?"


"Emm..." Vanessa tersenyum, melirik wajah Alex, "Kok kamu tertarik nanyain itu Al?"


Alex tidak menjawab. "Waktu itu mama kebangun tengah malam, mama kebangun karena mulai kontraksi, sekitar jam dua belas malam. Papa kamu langsung bawa mama ke rumah sakit."


Alex mendengarkan dengan seksama. Vanessa menghela nafas tenang, senyumannya mengembang mengingat hari istimewanya itu.


"Kamu lahirnya jam setengah sepuluh pagi"


"Hah?!" Alex kaget mendengarnya. la langsung bangun dan duduk menghadap sang mama.


"Jam setengah sepuluh?" Vanessa mengangguk. "Mama kontraksi dari jam dua belas malam sampe jam setengah sepuluh?"


"lya." jawab sang mama, membuat Alex lemas mendengarnya.


"Ya Tuhan.. Alisa yang cuman kontraksi tiga jam aja udah hampir mati, gimana mama yang hampir sepuluh jam??" batin Alex.


"AI?" Panggil Vanessa ketika melihat Alex tertegun.


Alex menatap wajah sang mama yang senyumannya tidak pudar sedikitpun sejak tadi. Alex menelan salivanya berat, mendengar kisah singkat sang mama yang ternyata berjuang melahirkan dirinya dengan menghadapi kontraksi selama hampir sepuluh jam.


Vanessa tersenyum, "Nak, kamu tau, meskipun melahirkan itu sakit, enggak ada perempuan yang menyesal telah melahirkan anaknya. Menjadi seorang ibu itu anugerah, mama bahagia punya kamu, mama beruntung punya anak seperti kamu"


Vanessa memegang kedua sisi wajah Alex. "Hamil dan melahirkan itu sebuah karunia bagi seorang perempuan. Apalagi itu kehamilan pertama, melahirkan anak pertama. Terima kasih nak, mama beruntung ditakdirkan Tuhan menjadi ibu kandung kamu."


Alex menggenggam tangan mamanya yang masih menempel di kedua sisi wajahnya. Air matanya kembali membasahi pipinya.


"Aku yang beruntung jadi anak pertama mama. Tapi aku bodoh, kenapa aku baru sadar kalo aku punya mama yang hebat. Setelah aku banyak nyakitin mama, aku baru sadar, aku ini anak yang nggak tau diri. Harusnya aku bersyukur, tapi aku malah nyakitin mama." ucapnya sambil terisak.


"Al.." Vanessa menghapus air mata Alex. "Itu bukan salah kamu sayang, mama yang salah. Mama yang jahat sama kamu, mama begitu bodoh karena tega ninggalin kamu."


Alex menggeleng, "Kesalahan mama nggak sebesar penderitaan mama buat ngelahirin aku kan, nggak juga sebesar pengorbanan mama buat ngerawat aku. Apa mama mau maafin anak durhaka ini ma?" tanya Alex lagi.


"Sstt.. Al, jangan ngomong gitu lagi nak! Mama sayang sama kamu, kamu anak baik. Dengar nak, itu semua bukan pengorbanan, tapi cinta. Cinta seorang ibu pada anaknya. Cinta yang tulus itu menghadirkan keikhlasan nak, bukan penderitaan. Mama bahagia"


"Maafin mama ya, mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu."


"Enggak ma, meskipun mama pernah bikin salah mama udah jadi ibu terbaik buat aku." Alex menghapus air mata sang mama.


"Kita lupain kenangan pahit itu ya ma! Aku banyak belajar dari pengalaman masa lalu"


Sang mama mengangguk haru. "Mama juga udah nyadarin kesalahan mama kan, semuanya udah baik-baik aja sekarang. Aku sayang mama."


Kini air mata penderitaan Vanessa sudah berakhir, sudah kering dihapus oleh hangatnya sentuhan putra tersayangnya. Tapi air mata lainnya terus membasahi pipi Vanessa, air mata haru dan kebahagiaan. la menarik sang putra ke dalam dekapannya, memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Mama juga sayaaang banget sama kamu nak. Anak mama udah besar sekarang, udah dewasa, udah makin pinter" Vanessa menciumi kepala Alex.


Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut sang mama yang penuh kasih. Begitu juga Vanessa, ia begitu bahagia. Rasanya momen ini terlalu indah jika hanya dianggap mimpi. Bisa kembali memeluk Alex, yang kini sudah tumbuh menjadi pemuda tampan yang memiliki kebijaksanaan.


"Ma?"


"Hm?"


"Apa mama pernah ngebenci aku?"


Vanessa membuka matanya, "Pertanyaan macam apa itu Al?"


"Aku pernah benci sama mama, mama tau itu kan. Apa mama juga pernah benci aku yang sering nyakitin mama?"

__ADS_1


Vanessa mengusap punggung Alex, "Al, senakal-nakalnya anak-anak, enggak ada orang tua yang membenci anaknya. Bahkan kalo mereka bilang benci sama anaknya, mereka nggak benar-benar bisa membenci anaknya sendiri. Karena cinta orang tua pada anaknya itu terlalu besar, dan tulus. Cinta itu udah ada sebelum anaknya lahir, mana mungkin mereka bisa benci sama anaknya sendiri."


Alex terdiam. "Kamu tau nak, ketika orang tua menyakiti anaknya sebenarnya merekalah yang merasakan sakitnya. Ketika mereka membuat kesalahan sebenarnya mereka lah yang sedih. Dan ketika melihat kesedihan anaknya, merekalah yang menderita lebih dulu. Itu yang mama rasain selama ini."


Alex kembali menangis dipelukan sang mama. "Mama nggak pernah hidup tenang setelah mama ninggalin kamu nak. Mama mungkin bisa tersenyum, tapi hati mama hancur. Mama nggak sanggup liat kebencian dimata kamu, tapi mama tetap ingin melihat wajah kamu, karena mama rinduuu sekali sama kamu."


"Maafin mama ya Al.."


"Maafin aku ma.."


"Aku nyesel ma.."


"Mama lebih nyesel. Mulai sekarang, mama janji mama nggak akan berbuat kesalahan yang bikin kamu sedih lagi. Mama akan berusaha jadi ibu yang baik buat kamu."


Alex melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang mama. "Jangan janji ma, aku takut dengan janji. Aku takut gak bisa percaya sama mama. Aku nggak mau buat kesalahan yang sama lagi. Mulai sekarang nggak akan ada kebencian lagi dimata aku, dan dihati aku juga."


Vanessa mengangguk dalam keharuan, "Kalo gitu mama nggak akan janji. Mama akan berusaha ngelakuin yang terbaik buat kamu, mama nggak mau kamu jauh lagi dari mama."


"Enggak akan ma. Aku nggak akan biarin mama jauh dari aku."


Senyuman Vanessa mengembang, sungguh ia begitu bahagia sekarang. la pegang kedua sisi wajah Alex, mendekatkannya lalu mengecup kening putranya itu cukup lama.


"*Mas, apa kabar? Maaf mengganggu istirahatmu.


Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan denganmu, aku yakin jika kamu mendengar ini kamu pasti terkejut dan senang.


Hari ini Alex menemuiku mas, dia menangis di pangkuanku, dia memelukku, dan dia tertidur di sampingku setelah kepalanya ku elus. Impianku menjadi kenyataan mas, keinginanmu terwujud.


Alex kembali padaku.


Kamu benar mas, Alex kecil kita sudah kembali, aku sudah melihatnya sendiri.


Terima kasih, mas*!"


Senyuman terpatri di bibir pria paruh baya itu. Setelah ia selesai membaca pesan singkat yang dikirim oleh sang mantan istri, beberapa menit yang lalu. Helaan nafas leganya terdengar seperti ******* yang tenang. Sejak kejadian buruk di masa lalu yang membuat perubahan besar dalam diri sang putra, akhirnya hari ini tiba juga. Hari yang paling ingin ia saksikan, hari dimana sang putra dan ibunya bersatu kembali. Akhirnya hari bahagia ini tiba. Sebagai ayah, ia tentu bahagia, meski tak menyaksikan langsung bagaimana sang putra dan ibunya itu saling berbagi air mata dan pelukan.


... ____________________...


Mentari pagi memancarkan cahaya silaunya di langit Jakarta. Di bandara Soekarno-Hatta, seorang pemuda melenggang turun dari pesawat yang baru mendarat beberapa menit yang lalu. Dengan senyum merekahnya ia melangkah sambil menyeret koper besarnya. Memandang ke sekeliling, ia menghentikan langkahnya sejenak seraya memejamkan mata, mendongak ke langit, menghirup udara dan bergumam.


"Welcome to Jakarta!"


la kemudian membuka matanya seraya  berpikir. "Eh kok gue yang ngucapin selamat datang sih, harusnya kan Jakarta yang nyambut gue. Yang dateng kan gue, bukan Jakarta." la terkekeh geli sendiri kemudian melanjutkan langkahnya.


Pemuda itu mengedarkan pandangannya, mencari-cari keberadaan sosok yang telah diminta untuk menjemputnya.


Drrtt....drrtt....


Ponselnya berdering, ia pun merogoh saku jaketnya. Ternyata si penelpon adalah orang yang akan menjemputnya.


"Halo Om?


".........."


"Owh.. yaudah nggak papa."


".........."


"Oke Om, no problem."


Setelah mematikan sambungan teleponnya ia berjalan ke sisi ruangan luas itu dan duduk di salah satu kursi tunggu, menunggu sang Om yang katanya akan terlambat menjemputnya.


Binar matanya tidak memudar sejak tadi, meski mulai bosan menunggu jemputan yang tak kunjung datang. la begitu senang bisa menginjakkan kaki ke tanah Jakarta, karena memang sudah lama ia ingin berkunjung ke lbukota. Namun meski baru kali ini ia ke Jakarta, tujuannya datang ke kota ini bukan untuk berjalan-jalan, melainkan untuk menemui seseorang. Seseorang yang sudah berbulan-bulan ia cari-cari keberadaannya, dialah satu-satunya alasan yang membuat pemuda ini terbilang nekat pergi ke Jakarta sendirian.


Tanpa si pemuda tahu, ada seseorang yang mengintainya sejak ia berangkat dari kota kelahirannya. Seorang pria misterius yang memakai kacamata hitam, dan pakaian yang serba hitam mengikutinya sampai ke Jakarta. Naik pesawat yang sama dengannya dan kini duduk tidak jauh dari pemuda itu sambil terus memperhatikan gerak-geriknya.


Pria misterius itu sebenarnya tidak punya urusan penting dengan si pemuda, tapi mereka memiliki alasan yang sama. Yaitu, seseorang yang mereka cari adalah orang sama. Saat si pria misterius mengetahui bahwa si pemuda akan berangkat ke Jakarta untuk menemui orang yang dia cari selama ini, maka dia tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan memutuskan untuk mengikuti si pemuda ke Jakarta.


Mereka berdua, si pemuda dan pria misterius itu memang datang ke Jakarta untuk seseorang yang sama. Tapi niat dan tujuan keduanya jauh berbeda.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2