
Kini, Alex dan Om lwan sedang berbincang serius, begitu juga dengan Nadia dan Vanessa, mereka berada di dua tempat yang berbeda. Bahkan masing-masing dari mereka tidak tahu bahwa yang lainnya sedang melakukan hal yang sama, dalam artian tidak janjian. Sebelumnya Nadia dan Iwan kakaknya berniat untuk menemui ibu dan anak itu untuk membahas hal penting yang tengah menjadi kecemasan mereka bersama-sama, namun ibu dan anak itulah yang lebih dulu menemui mereka secara langsung, dan terbilang mendadak.
Rencananya Nadia dan Iwan sepakat akan menemui Alex dan Vanessa masing-masing malam ini pukul 20.00, tapi ternyata Vanessa berkunjung ke rumah Nadia pukul 19.00, dan Alex menemui Om lwan setengah jam setelahnya. Tujuan yang membuat ibu dan anak itu datang pun tidak lain untuk membahas permasalahan yang sama.
"Saya mencintai Kayla tulus Om, dan saya akan terus memperjuangkannya."
"Kalo gitu buktikan, jangan kecewakan saya! Atau saya gak akan kasih kamu kesempatan lagi."
Alex mengangguk mantap, meski dihatinya juga ada rasa takut dan cemas. Alex tahu, kemungkinan papanya akan mengubah keputusan itu.. kecil. Tapi ia memiliki harapan yang besar, ia percaya cintanya tidak akan kalah, dan ia punya mama yang akan selalu mendukungnya memperjuangkan cintanya.
Sementara di rumah Nadia, kedua ibu ini baru saja menemukan titik terang dari permasalahan mereka. Senyuman tipis dengan sedikit kelegaan hati terpatri diwajah mereka.
"Terima kasih Mbak Vanessa. Aku berharap besar sama Mbak." Vanessa mengangguk.
Sebenarnya Nadia rada risih dan merasa kurang sopan dengan panggilan Mbak nya kepada Vanessa, mengingat perempuan di depannya ini adalah calon besannya sekaligus mantan istri dari bosnya. Namun Vanessa sendiri pun merasa tidak nyaman dengan panggilan lbu yang sebelumnya Nadia lontarkan padanya. Vanessa rasa panggilan Mbak membuat mereka terlihat lebih akrab, dan Nadia pun menyetujuinya. Sedangkan Vanessa memanggil Nadia tanpa embel-embel apapun, karena Nadia juga yang memintanya begitu, lagipula usia Nadia lebih muda lima tahun dari Vanessa.
"lya Nad, aku nggak akan nyerah. Kalaupun sampai ada yang harus tersakiti, maka akulah yang lebih dulu merasa tersiksa. Karena kalo aku nggak berhasil, pasti aku nyesel banget."
"Jangan ngomong gitu lagi Mbak, aku percaya sama Mbak Vanessa. Kita juga sama-sama perempuan, dan kita bisa mudah saling ngerti perasaan sesama perempuan."
"Kamu benar, bahkan aku udah ngerasa terikat sama Kayla. Anak kamu itu luar biasa Nad, dia mengambil hatiku dengan cara yang manis sekali. Mana bisa aku membiarkannya menangis."
Nadia tersenyum haru.
"Nad, kalo seandainya terjadi sesuatu.. percayalah kalo aku selalu menyayangi Kayla seperti anakku sendiri" kata Vanessa dengan ekspresi serius, menatap ke atas seolah menerawang.
"Jangan bikin aku takut Mbak, Mbak kan baru aja ngeyakinin aku kalo semuanya bakalan baik-baik aja."
Vanessa lantas mengubah ekspresi wajahnya dan tersenyum. "lya. Semuanya bakalan baik-baik aja."
Sesaat kemudian terdengar seruan dari arah pintu, membuat keduanya menoleh. Detik berikutnya kedua nampak terkejut.
"Assalamu'alaikum.." Kayla berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikum salam." jawab Nadia pelan, dengan perasaan yang cemas.
Begitu juga Vanessa, "K-..Kayla.. wa'alaikum..salam." jawabnya agak gugup.
Kayla pun masuk dan tersenyum pada kedua perempuan tersayangnya itu, meraih tangan keduanya bergantian dan menciumnya penuh hormat. Namun setelah melihat wajah keduanya lebih dekat, Kayla heran. Kenapa para ibu ini menatapnya seperti itu, seolah terkejut dengan kehadirannya. Bahkan saat baru melihatnya di ambang pintu tadi, kedua ibu ini langsung berdiri. Kayla pikir mereka menyambut kedatangannya dengan senang, tapi ternyata mereka terkejut?
"Ada apa mi? Tante?" tanya Kayla seraya mengernyit.
Vanessa dan Nadia saling melirik satu sama lain, dengan wajah gugup. Kayla membaca situasi yang terasa tidak biasa, kemudian ia tersenyum tipis. Tapi sebelum ia sempat berucap, mami mendahuluinya.
"Sayang, udah pulang? Gimana kerja kelompok nya?" kata mami gugup sambil melirik Kayla dan jam dinding bergantian.
"lya mi, Alhamdulillah lancar kok. Lily kan udah janji sama mami kalo gak akan pulang lewat jam sembilan." jawab Kayla tenang, sembari mengamati ekspresi kedua ibu didepannya.
"Tapi ini baru setengah sembilan" Kayla menaikkan alisnya ketika mami menjawab seperti itu. Aneh.
"Mmm.. maksud mami, iya.. baguslah kamu pulang lebih cepat. Hehehe" kata maminya lagi, diakhiri dengan cengar-cengirnya.
Kayla lantas tersenyum, begitu juga Vanessa yang merasa canggung. Vanessa lalu mengangkat satu tangannya dan mengusap kepala Kayla, sayang. Berharap kegugupannya sirna.
"Tante udah lama ya?" tanya Kayla.
"Lumayan kok nak, kamu sehat-sehat aja kan?" ujar Vanessa lembut.
"Alhamdulilah Tante." jawab Kayla seraya mendudukkan dirinya di sofa.
Vanessa dan Nadia kembali saling melirik. Tadinya keduanya khawatir jika obrolan mereka terdengar oleh Kayla yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Sekarang keduanya khawatir jika Kayla akan bertanya sesuatu yang mungkin membuat keduanya bingung, atau malah ingin bergabung mengobrol bersama.
"Kok mami sama Tante berdiri aja?"
Sunyi. Kayla pun kembali berujar untuk mengusir kecanggungan. Lagipula ia memang sudah bisa menebak apa yang tengah membuat kedua ibu ini gugup didepannya.
"Mami, Tante, Lily udah tau semuanya kok"
"HAHH?!" kaget kedua ibu itu, membuat Kayla sedikit terkesiap.
Lantas Vanessa dan Nadia duduk di kedua sisi kanan dan kiri Kayla. Menatap gadis manis itu dengan tatapan kaget sekaligus cemas.
"Alex udah ngomong sama Lily. Jadi.. mami sama Tante nggak perlu ngebahas ini diam-diam lagi, lebih baik kita omongin secara terbuka kan"
__ADS_1
"Sayang...Alex ngomong apa sama kamu?"
"Yang kemarin bikin mami khawatir" jawab Kayla singkat.
Nadia lantas melirik Vanessa. "Kamu yakin.. Alex ngomongin soal itu? Soal.." Vanessa terhenti karena takut salah bicara.
"Soal tragedi minggu lalu, dan kenyataan soal papi kan? Yang bikin Om William keberatan kalo punya besan kayak papi aku kan, Tante?"
Vanessa menaikkan alisnya kaget, begitu juga Nadia. Tidak salah lagi, memang itu masalahnya. Dan Kayla sudah tahu? Vanessa dan Nadia tidak menyangka Alex akan sanggup mengungkapkan soal itu pada Kayla.
"Tapi mami sama Tante gak usah khawatir. Aku percaya kok sama Alex, dia pasti punya solusi buat masalah ini."
Vanessa dan Nadia sama-sama tertegun, agak bingung dengan ucapan Kayla barusan.
"Maksud kamu?" tanya Vanessa.
"Selama permasalahannya masih bisa diperbaikin, pasti ada solusi kan, Tante"
"lya, selama permasalahannya masih bisa diperbaikin...iya.. pasti ada solusi." ulang Nadia seraya mengernyitkan dahinya, berpikir keras.
"Tapi.." kata Nadia kemudian, namun tidak melanjutkan kalimatnya melainkan hanya menatap tanya ke arah Vanessa, yang ternyata sama bingungnya.
"Tapi Pak William udah ngambil keputusan." lanjut Nadia dalam hatinya lirih.
"Ya. Emang masih bisa diperbaikin, Kayla benar. Aku harus optimis, tapi.. kenapa Kayla bilang begitu ya? Apa mungkin Alex nggak ngomong sejujurnya sama Kayla?" batin Vanessa.
"Kayla, Alex ngomong apa aja sama kamu?" tanya Vanessa, membuat Kayla mengernyit tak mengerti.
Padahal kan Kayla baru saja memberitahunya, apa Tante Vanessa salah paham, atau... ada sesuatu yang lainnya. Pikir Kayla.
"Maksud Tante.. apa Alex nunjukin perasaan sedihnya sama kamu, atau langsung ngomong mungkin.. emm... maksud Tante.. yang berkaitan sama hubungan kalian?" tanya Vanessa takut-takut salah bicara.
Kayla mengangguk. "Ya Tante, sikapnya aneh dari kemarin. Tapi dia selalu ngeyakinin aku kalo semuanya bakalan baik-baik aja"
"Artinya.. Alex nggak ngomong semuanya ke Kayla. Ya, aku tahu pasti Alex nggak akan tega bilang kalo hubungan mereka harus berakhir" batin Vanessa.
Nadia pun menggumamkan pertanyaan dalam hatinya. "Kenapa Lily setenang ini? Apa dugaanku emang benar, Alex nggak tega nyakitin Lily dan dia nggak bilang bagian terpenting dari masalah ini yang sebenarnya? Jadi.. Lily belum tau kalo Pak William minta Alex mutusin pertunangan mereka?"
Vanessa dan Nadia sama-sama mengangkat kepala mereka dengan gontai, dan saling menatap, sedih. Bukan hanya sedih karena Alex tidak jujur sepenuhnya atau karena Kayla yang belum tahu tentang sebenarnya, tapi.. juga sedih karena mungkin besok atau lusa mereka tidak bisa melihat senyuman indah anak-anak mereka lagi. Karena baik Vanessa ataupun Nadia sama-sama tahu, bahwa jika seorang Elfattar Smith William telah memutuskan sesuatu.. akan sulit membuatnya menarik keputusan itu.
... ___________________...
Iwan menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Nadia. Dari dalam mobil, ia mengamati seksama mobil yang terparkir tepat di depan mobilnya, di halaman rumah Nadia.
"Siapa yang bertamu ke rumah Nadia? Apa Alex?" pikirnya.
Iwan lantas melirik jam tangannya, masih pukul 08.30 pagi. Memang ia ada janji temu dengan Nadia dan Alex pagi ini, tentunya untuk membahas solusi dari masalah itu. Tapi niat lwan datang pagi ini hanya untuk menjemput Nadia, mereka akan mengobrol bertiga dengan Alex diluar, bukan di rumah. Karena mereka tidak ingin Kayla tahu masalah yang sebenarnya, yang pastinya akan membuat gadis itu sedih atau bahkan terpukul jika mengetahuinya.
Tanpa buang waktu, lwan pun turun dari mobil dan berjalan memasuki halaman rumah adiknya itu. Namun langkahnya terhenti saat hampir sampai di pintu, suara familiar itulah yang membuatnya terhenti. Suara itu..
"Pak William??"
Iwan membulatkan matanya, dadanya bergemuruh karena saking mengkhawatirkan apa yang terjadi di dalam rumah itu. Kenapa Pak William bertamu sepagi ini ke rumah Nadia? Bagaimana Nadia bisa menghadapinya sendirian, dan apa saja yang dibicarakannya di dalam? Sejak kapan, dan apa... Kayla ada di sana??
Kedua tangan Iwan terkepal erat, marah sekaligus gelisah. Sebelum mengambil langkah masuk ke rumah Nadia, ia terpikir satu hal.
"Alex!" gumamnya kecil.
Iwan berbalik dan melangkah sedikit menjauh dari pintu rumah, menelpon Alex dengan amarahnya yang tertahan.
"AL?" sentaknya langsung di detik pertama penggilan tersambung.
"lya Om?" sahut Alex dibalik sambungan telepon.
"Apa-apaan nih?! Kamu dimana?" tanya Om Iwan dengan suara agak berbisik, agar orang rumah tidak mendengarnya.
"Saya di rumah Om. Ada apa?"
Iwan mendesis geram. "Ada apa kamu bilang? Harusnya saya yang tanya, ada apa papa kamu bertamu ke rumah adik saya sepagi ini??"
"Apa Om?" rupanya Alex masih bingung, mengesalkan sekali. Rasanya lwan ingin sekali memukul anak itu sekarang.
"Jangan pura-pura bodoh!! Kamu mencintai Kayla atau enggak? Kenapa kamu biarin papa kamu datang menemui Kayla? Kamu tau kan apa yang bisa terjadi?!" bentak Iwan.
__ADS_1
Tidak terdengar sahutan Alex langsung setelah bentakan itu. Hanya suara ******* yang bisa tertangkap oleh indera pendengaran lwan.
"Om, saya bener-bener gak tau hal ini. Saya kesana sekarang."
Tutt..tut..tuuut..
... ....
... ....
... ....
Tadinya Alex tengah bersiap-siap untuk janji temunya dengan Om lwan dan Tante Nadia, calon mertuanya. Kemudian Om lwan menelpon, dan memberikan kabar buruk padanya. Jadilah kini Alex mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata demi sampai ke rumah Kayla secepatnya. Perasaan takut dan gelisah nya sudah tidak bisa digambarkan. Apalagi kemarin papanya sudah mewanti-wanti dirinya.. bahwa jika Alex tidak bisa bicara langsung pada Kayla untuk memutuskan pertunangan mereka, maka papanya sendirilah yang akan melakukannya. Alex tidak mengira papanya akan melakukan secepat ini, kenapa sangat terburu-buru dan tidak mengabarinya sama sekali.
Sebelum berangkat Alex sempat menelpon mamanya dan memberitahu kabar mengejutkan yang baru ia terima dari Om Iwan tadi, Alex juga meminta mamanya segera menyusul. Alex butuh mama dalam situasi buruk seperti ini, meski mamanya belum berhasil membujuk papa, Alex tetap percaya bahwa mama tidak akan putus asa dalam usahanya. Karena mama lah yang paling memahami cinta Alex.
... ....
... ....
... ....
Sembari menahan amarah, lwan mendudukkan dirinya di samping kiri Kayla. Menatap tajam ke wajah Pak William, yang ditatap malah tenang-tenang saja, dan sedikit acuh.
"Baik, Pak lwan udah ada disini. Jadi nggak ada yang perlu ditunda-nunda lagi" kata Pak William tenang.
Nadia mendesah kecil, gemuruh dadanya semakin tak terkontrol. la melirik dengan tatapan lirih ke wajah putrinya yang duduk di sisinya, di tengah antara dirinya dan lwan. Kayla terlihat gugup tapi ia lebih tenang dari Nadia, membuat Nadia semakin sedih.
"Gimana ini..? Gimana kalo sampai Pak William bilang sesuatu yang sangat menyakitkan itu." batin Nadia gusar.
Nadia lalu melirik kakaknya, yang dilirik pun membalas dengan tatapan yang hampir sama, tapi tentunya lebih bisa mengontrol dirinya karena dia seorang laki-laki.
"Kayla, seperti yang saya bilang tadi.." Pak William menjeda kalimatnya.
Jujur saja, saat ini Kayla sangat takut dan gelisah. Ingin sekali ia menangis, setelah mendengar penuturan panjang lebar dari pria paruh baya di depannya ini. Pak William sengaja datang ke rumahnya pagi ini, meluangkan waktu dihari libur kerjanya untuk berbicara secara langsung dengan Kayla. Awalnya Kayla pikir kedatangan calon mertuanya itu untuk memperbaiki situasi dan menyelesaikan masalah, tapi Kayla salah. Ya, memang niat Pak William ingin menyelesaikan masalah, tapi Kayla tidak menduga calon mertuanya itu akan mengambil kesimpulan yang bertolak belakang dengan perkiraan dirinya, dan juga tidak sesuai dengan persepsi Alex kemarin.
Pak William menjelaskan secara terbuka pada Kayla, dan dengan kata-kata yang mendetail, tentang apa saja yang ada dipikirannya dan bagaimana tanggapannya mengenai kenyataan yang membuatnya terkejut beberapa hari yang lalu. Semua kata-katanya membuat Kayla sangat sedih, sakit hati, dan ia merasa tubuhnya melemas. Kini Kayla hanya bisa menunduk lesu, sembari berharap ketakutannya tidak akan terjadi.
Sementara Alex masih dalam perjalanan menuju rumah Kayla, Iwan gelisah sekali tapi ia tetap berusaha untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. Tidak tahu berapa lama lagi anak itu akan muncul, yang jelas saat ini Iwan harus berusaha mencegah Pak William untuk memutuskan pertunangan Kayla dan Alex.
"Begini Pak William, anda tau sejauh mana hubungan Alex dengan Kayla, tapi apa anda tetap tidak mau mempertimbangkan perasaan mereka dulu sebelum memutuskan sesuatu? Ya, memang bukan kesalahan anda kalau anda memberikan restu kepada mereka karena ketidaktahuan anda tentang papi Kayla. Tapi, cobalah berpikir dari sisi seorang ayah, bukan dari sisi seorang pimpinan perusahaan" tutur Iwan setenang yang ia bisa.
Pak William tersenyum samar.
... ....
... ....
... ....
Alex mengendarai motor dengan mengebut, membelah kemacetan jalanan kota. Kecamuk pikirannya sempat membuat konsentrasinya terganggu beberapa kali, sehingga motornya oleng. Namun akhirnya ia sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Alex pun bergegas memasuki rumah Kayla, tapi baru ia melangkahkan kaki ke teras rumah Kayla, langkahnya terhenti bersamaan dengan keterkejutannya.
"Papa?!"
Alex terpaku di tempatnya berdiri saat melihat papanya, berjalan seorang diri keluar dari rumah Kayla. Alex mengalihkan pandangannya ke pintu, namun tidak ada tanda-tanda akan ada orang yang keluar setelahnya. Perasaan Alex semakin berkecamuk, nafasnya yang ngos-ngosan sejak tadi pun kian memburu, membuat dadanya sesak. Tubuhnya pun sudah gemetar, apalagi saat sang papa menyadari kehadirannya.
"Al!" seru Pak William seraya menghentikan langkahnya di depan sang putra.
"Pak, tunggu!" seru Om lwan tiba-tiba muncul diambang pintu.
"MAS!" Nadia mengiringi muncul dibelakang Om lwan.
Nadia menghentikan kakaknya yang akan menghentikan kepergian Pak William. Alex terperangah melihat Nadia yang nampak frustasi dengan wajah yang berhias tangisan. Ini buruk! Itulah yang terpikir oleh Alex seketika.
Apa yang telah terjadi? Bagaimana bisa Alex melewatkan ini? Melihat pemandangan di depannya yang tidak baik, membuat degup jantung Alex memburu tak terkontrol, sedangkan tubuhnya gemetaran. Tante Nadia menangis, Om lwan marah dan frustasi, lalu.. bagaimana dengan Miss Kissable??
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...