
Seorang pelayan meletakkan sebuah kotak persegi di depan Alex. Alex menatapnya bingung, ia lalu menyelis ke arah si pelayan.
"Apa nih?"
"Kue ulang tahun-.."
"Ck!" Alex berdecak malas mendengarnya, membuat si pelayan lantas bungkam.
Alex mengerti, ini pasti kue yang tadi dibawa mamanya. Kenapa tetap diberikan, Alex kan sudah menolaknya. Dan lagi, di atas kotak kue ini ada sepucuk surat, sebuah garpu dan pisau khusus yang terbungkus tisu. Apa-apaan mama? pikir Alex.
Alex meraih sepucuk surat itu dan mulai membacanya.
Isi surat:
***Hai Mr Strawberry...
Selamat pagi dan selamat menjalankan tugas baru sebagai bos!
Hari ini aku ketemu mama kamu loh. seneng deh. Aku juga ngobrol-ngobrol sama mama kamu. Ternyata mama kamu bikin birthday cake yang sweet banget buat kamu.
Birthday cake nya cantik banget, pasti rasanya enak, ada stroberinya lagi.
Kamu pasti suka.
Jadi aku inisiatif nawarin diri buat ngasih kuenya ke kamu, ternyata mama kamu mau. Seneng deh. Tapi maaf ya aku nggak bisa ngasih langsung, kuenya aku titipin aja, sama surat ini juga.
Hari ini aku ada acara, jadi aku nggak sempat kalo harus nyamperin kamu dulu. Kalo nggak, pasti aku langsung yang ngasih kuenya. Soalnya ngeliat kue bikinan mama kamu, aku aja ngiler, pasti kamu juga kan?! Hehehehe...
Dimakan ya kuenya!
Aku udah siapin pisau sama garpunya, tapi kok kayaknya ada yang kurang ya?
Mungkin kalo mama kamu langsung yang ngasih kuenya trus nyuapin kamu... pasti lebih istimewa. Maaf ya aku ngambil kesempatan itu dari kamu.
Mr Strawberry, sebenarnya tadi aku liat mama kamu nangis, tapi aku nggak tau apa masalahnya.
Apapun masalahnya, aku nggak berhak tau, tapi aku mau ngingetin kamu.. jangan sampai kamu bikin mama kamu sedih ya, Mr Strawberry!
Dia mama kamu, dan ini adalah hari ulang tahun kamu. Yang artinya itu ngingetin kamu... kalo 17 tahun yang lalu, dia pernah berjuang buat ngelahirin kamu, dia ngerawat kamu dan ngasih kamu banyak cinta.
Hari ini dia bikinin kue buat kamu, kue itu bukan birthday cake biasa, Mr Strawberry. Bukan karena itu adalah birthday cake, tapi karena itu adalah hasil keringat dia dan salah satu bukti kasih sayangnya sama kamu, Mr Strawberry.
Aku yakin, kamu pasti nggak bakal ngecewain mama kamu, dan nggak bakal ngecewain aku juga kan?!
Kamu bakal habisin kuenya kan, Mr Strawberry? Kalo aku ada di samping kamu, aku sendiri bakal pastiin kamu makan kuenya sampe abis. Soalnya kan kue stroberi kesukaan kamu. Hehee....
Oke, kapan-kapan kita ketemu lagi. Selamat menikmati kue yang dibikin dengan kasih sayang seorang ibu!
^^^TTD ^^^
^^^Miss Kissable*** ^^^
Alex mengangkat alisnya dan mulutnya sedikit menganga sambil membaca surat itu. la hampir tidak percaya, Miss Kissable menulis surat ini untuknya? Dan dia sudah bertemu mama Alex?
Awalnya Alex membuka surat itu dengan kesal, tapi saat membaca kalimat pertama dari surat itu, matanya langsung membulat dan senyuman tipisnya seketika terbit. la cukup terkejut dengan isi surat Miss Kissable yang membahas tentang mamanya.
"Miss Kissable ketemu mama? Mama kan barusan..." ucapannya sontak terhenti saat ia dapat menyimpulkan sesuatu.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alex yang mulanya duduk di gazebo tamannya lantas beranjak dan bergegas menuju ruangan utama restoran. Masih dengan memegang surat dari Miss Kissable, Alex melangkah cepat sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kalo Miss Kissable nemuin mama, berarti dia disini kan? Atau dia pasti nggak jauh dari sini."
"Mama? Mana mama, tadi masih disini!? Pasti belum jauh" Alex bergumam kacau sendiri sambil mengelilingi ruangan dan mencari sosok gadis yang baru saja mengirim surat untuknya, juga mamanya yang belum lama ia tinggalkan sendiri di ruangan ini.
Alex kemudian melangkah keluar restoran, berjalan mondar-mandir mencari Miss Kissable dan mamanya, tapi ia tidak menemukannya. Akhirnya Alex kembali ke restoran dan bertanya pada seorang resepsionis.
"Elu liat perempuan yang tadi duduk di sini?Yang bawa kue?"
"Maaf mas Alex, tadi sih masih di sini. Tapi saya nggak tau sekarang, mungkin udah pergi."
"Kapan dia pergi?"
"Maaf mas Alex, saya nggak tau."
"Elu liat ada orang lain sama dia?"
"Emm.... maaf mas Alex, dari tadi saya sibuk ngurusin administrasi pelanggan, jadi saya nggak tau."Ck Alex berdecak kesal.
Ya, sejak tadi petugas resepsionis memang sibuk, karena pelanggan sangat banyak mengingat ini hari pertama restoran ini dibuka dan ada harga promo juga. Alex tidak bisa memarahinya kalau ia memang tidak melihat mamanya atau Miss Kissable. Alex lalu melihat pelayan yang tadi membawakan kotak kue dan surat Miss Kissable padanya.
"Eh tunggu!"
Pelayan itu sedikit terkesiap karena Alex tiba-tiba menyergahnya saat ia membawa senampan minuman pesanan salah satu pelanggan.
"Elu liat perempuan disini tadi?" tanyanya mengulangi sambil menunjuk tempat duduk yang sebelumnya diduduki oleh mama Alex.
"lya mas, tapi sebelum saya ke dalam dia tadi masih disini" sahut pelayan itu.
"Jadi dia belum lama pergi?"
"Ya sepertinya begitu, mas."
"Elu liat ada orang lain sama dia?"
"lya mas."
"Cewek?"
"Iya mas."
"Dia yang minta elu nganterin kotak kue dan surat itu ke gue?"
"Iya betul, mas."
Alex tersenyum mendengus lega. "Dan cewek itu juga baru pergi?"
"Ya sepertinya begitu, mas"
"Oke."
"Kalo gitu saya permisi, mas."
"Ya, lanjutin kerjaan kamu!"
Alex berdiri di tempat sambil melihat kembali isi surat dari Miss Kissable yang sejak tadi ia pegang.
__ADS_1
"Thank you Miss Kissable. Enggak papa kamu cuman ngasih surat, seminggu lagi kita ketemu, Oke?" gumamnya sendiri seraya tersenyum.
"Apa? Ngapain kamu bawa kue itu ke aku, aku nggak suka. Kalo bukan kamu yang minta aku nggak bakal mau makan itu ya walaupun aku suka stroberi" gumamnya lagi sambil memandang surat Miss Kissable, ia mendengus senyum lalu berjalan kembali menuju taman.
... ....
... ....
... ....
Vanessa tersenyum haru melihat Alex dengan lahapnya memakan birthday cake yang ia buat. Vanessa berdiri di balik pintu penghubung antara taman dan ruangan utama restoran.
Ya, Vanessa masih disini. la ingin membuktikan ucapan anak gadis yang beberapa menit lalu meyakinkannya bahwa usahanya membuat kue untuk Alex tidak akan sia-sia. Dia bilang Alex pasti akan memakan kue buatannya. Dan anak gadis itu benar.
Tapi entah dimana anak itu sekarang, padahal tadi Vanessa membawanya kesini. Setelah anak itu meminta pelayan untuk mengantarkan kuenya pada Alex, dia ingin langsung pergi, tapi Vanessa tidak percaya padanya. Vanessa pikir anak itu mempermainkannya dan hanya memberikan kuenya pada pelayan saja, bukan untuk diberikan pada Alex. Karena itulah tadi Vanessa menghentikannya pergi dan menarik tangannya untuk mengajaknya mengintip Alex yang sedang duduk di taman.
Saat pelayan benar-benar mengantar kue itu untuk Alex, Vanessa baru bisa mempercayainya. Tapi itu tak lantas membuat Vanessa yakin akan yang dikatakan anak itu. Vanessa masih menahan anak itu sampai ia benar-benar melihat Alex memakan kuenya.
Saat Alex mulai membaca surat yang ditulis anak itu, Vanessa melihat Alex tersenyum sampai Vanessa sendiri terenyuh dan ikut tersenyum. Sudah lama ia merindukan senyuman manis putranya itu, yang selama bertahun-tahun tidak pernah Alex tunjukkan padanya.
Saat Vanessa menyadari Alex beranjak danakan berjalan keluar dari taman, Vanessa lantas terkesiap dan menoleh ke samping kanannya dimana seharusnya anak gadis itu berdiri bersamanya, tapi anak itu tidak ada di sana. Vanessa jadi gelagapan karena Alex berjalan semakin mendekat ke arahnya. la segera bersembunyi di balik pintu agar Alex tidak melihatnya.
Tidak masalah jika anak itu pergi, sekarang Vanessa sangat bahagia, melihat Alex memakan kuenya sampai habis. Alex menghabiskannya sendirian, dalam sekali duduk saja, bahkan Alex sampai menjilati tangannya yang belepotan dengan mentega kue itu. Ternyata anak gadis itu benar, Alex masih sangat menyukai stroberi. Vanessa harus berterima kasih padanya. Ya, jika nanti Vanessa bertemu dengannya lagi, Vanessa pasti akan mengucapkan terima kasih padanya.
(Flashback On)
"Tapi gimana caranya kamu mastiin Alex mau makan birthday cake nya? Barusan dia nolak secara langsung."
Kayla tersenyum simpul. "Saya punya ide, saya pastiin ini berhasil. Alex pasti makan kuenya sampe abis, sendirian!"
Mama Alex jadi penasaran dengan kata-kata anak gadis di depannya ini, anak ini begitu yakin Alex mau memakan birthday cake buatan mama Alex sendiri, padahal sudah jelas tadi Alex menolak.
Dan anak ini juga bilang kalau Alex akan menghabiskan birthday cake nya sendirian?
Bagaimana caranya anak ini akan meyakinkan Alex agar mau memakan birthday cake nya, bahkan menghabiskannya sendirian?
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Mama Alex saat melihat Kayla berdiri dari duduknya.
"Sebentar tante."
Kayla berjalan menuju meja resepsionis, meminta selembar kertas dan sebuah pulpen pada petugas resepsionis itu, kemudian kembali ke tempat duduknya.
"Saya mau nulis sesuatu buat Alex, nanti tante bisa liat kok. Kalo tante gak suka saya akan batalin ide ini." kata Kayla sambil membuka tutup pulpen dan mulai menulis diatas kertas.
Mama Alex hanya memperhatikannya.dengan penasaran, sampai Kayla selesai menulis.
"Tante boleh baca." ujar Kayla sambil menyodorkan kertas yang sudah tertulis kata-katanya disana.
Mama Alex dengan ragu menerima kertas itu dan membacanya. Seketika mimik wajahnya berubah saat baru saja membaca kalimat pertama yang tertulis di kertas itu.
"Apa-apaan nih? Mr Strawberry?" protesnya dengan ekspresi ilfilnya.
"Em.." Kayla salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya dan menelengkan kepalanya sambil cengar-cengir. "Itu.. panggilan kita tante, saat Alex nanti baca itu, dia bisa langsung tau kalo surat itu dari saya."
Mama Alex menatapnya curiga, Kayla jadi merasa canggung. "Tante terusin aja dulu bacanya."
Setelah mama Alex selesai membaca suratnya, ia terdiam cukup lama sambil mengerjap beberapa kali sebelum menatap mata Kayla.
"Kamu yakin kayak gini bisa bikin Alex mau makan kue yang tante bikin?"
Setelahnya Kayla menempelkan surat itu diatas kotak kue, dan meletakkan garpu juga pisau khusus di atasnya. Sebelum beranjak dan membawa kotak kue itu pergi, Kayla sekali lagi bertanya pada mama Alex.
"Apa tante percaya sama saya?"
"Kamu harus buktiin ucapan kamu!"
"Oke tante, setelah Alex baca surat dari saya, dia pasti makan kuenya. Tante bisa buktiin sendiri nanti. Saya gak bakal ngecewain tante kok." ucap Kayla seraya tersenyum, membuat mama Alex mengangguk ragu.
(Flashback Off)
... _________________...
Kayla dan Nia duduk di angkot. Setelah makan di restoran tadi, keduanya berangkat menuju perpustakaan umum.
"Kay, tadi kamu kemana sih? Aku liat-liat nggak ketemu. Keren sih itu resto, tempatnya gede' mejanya aja sampe 80 an lebih, eh 100 an kali ya" cerocos Nia bahkan sebelum sempat Kayla menjawab pertanyaannya.
Kayla hanya mendengus senyum tanpa menimpali Nia.
"Kay? Ih ditanyain. Tadi kamu kemana?"
"Enggak kemana-mana kok, cuman liat-liat aja. Soalnya nunggu kamu makan lama, kamu nambah berapa kali?"
"Eh? Apa sih Kay, aku nggak nambah kok tadi, kan cuman makan buat ngeganjel sementara. Ntar makan siang baru nambah."
Keduanya pun tertawa bersama. Tak terasa mereka sampai di perpustakaan umum, mengobrol sepanjang perjalanan membuat mereka tak kerasan duduk di angkot meski berdempet-dempetan.
Kayla dan Nia menikmati hari minggu mereka dengan membaca sambil bercengkerama di perpustakaan umum. Setelah makan siang, mereka pergi shoping untuk keperluan camping nanti.
"Udah.. udah.. udah..yes!" gumam Nia sambil mengecek ulang barang belanjaannya.
"Kamu gimana Kay?" tanyanya.
"Aku juga udah semua kayaknya." sahut Kayla setelah mengecek barangnya.
Keduanya pun berjalan keluar dari mal. "Lagian kalo masih ada yang kurang kan nanti bisa balik buat beli lagi. Camping nya juga masih lama." lanjut Kayla.
"Dua minggu lagi itu gak kerasa Iho, Kay. Minggu depan kan kita ujian pertengahan tahun. Jadi palingan kita punya waktu seminggu ini nyiapin buat camping."
"Siapin buat ujian lah Ni, kok buat camping sih. Camping kan bisa belakangan"
"Camping juga penting, Kay. Biar kita semangat ngejalanin ujiannya, jadi kalo lagi mumet mikirin ulangan.. bayangin aja abis ulangan bakal camping."
Kayla mendengus senyum seraya menggeleng, "Ada-ada aja. Emang paling bener deh kamu Ni!."
"Hahahaha..
... _______________...
Bel jam istirahat berbunyi, menandakan pelajaran pertama hari ini sudah selesai.
"Ke kantin yuk!" ajak Kayla.
"Ayok!" sahut Nia semangat.
"Aku gak di ajak nih?" Adit menimpali, membuat kedua gadis itu menoleh.
__ADS_1
"Ya diajak lah Dit! Ayok!" sahut Kayla.
Sesampainya di kantin, mereka memesan menu seperti biasanya. Nia memesan bakso+tes teh. Kayla memesan Sup ayam+teh hangat. Dan Adit memesan nasi udukt-teh hangat. Mereka pun menikmati makanan masing-masing seperti yang lainnya.
Suasana di kantin nampak seperti biasa, cukup tenang dengan bunyi dentingan sendok piring serta sedikit kegaduhan para siswa dan siswi yang bercengkerama sambilmakan. Sampai ketika P-four memasuki area kantin, kegaduhan mulai menghening. Hanya suara-suara bisikan para siswi yang senantiasa mengiringi langkah kaki empat siswa tampan itu.
Entah kenapa, ketika Kayla melihat Alex berjalan hendak melewatinya, tanpa sadar Kayla terhenti beberapa detik dari aktivitasnya. Kayla merasa aneh saat melihat Alex setelah pertemuan mereka yang tak disangka-sangka kemarin, sehingga saat Kayla akan menyuap sup nya ia malah terhenti. Saat menyadarinya, Kayla merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Apaan sih aku?" gerutunya dalam hati sambil menyuap sup nya.
Alex dan teman-temannya duduk tidak jauh dari Kayla, hanya dua buah meja disisi kanan Kayla yang memisahkan mereka.
"Serius lu AI?" sergah Sandi setengah memekik, membuat ketiga temannya kesal dan reflek mendesis agar Sandi diam.
"Sorry, gue kaget." ujar Sandi cengar-cengir.
Entah apa yang mereka bahas, mereka agak berbisik dan sepertinya tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang pembahasan mereka itu. Tapi kenapa membahasnya di kantin, dimana banyak orang berkumpul untuk menikmati makan dan minum sepanjang jamistirahat. Kalau mereka tidak ingin sesuatu yang mereka bahas didengar orang lain, mereka bisa mencari tempat yang lebih sepikan, tidak ramai seperti di kantin? pikir Kayla. Entah kenapa, Kayla merasa kesal melihat mereka.
... ....
... ....
... ....
Baru saja bel masuk berbunyi, Kayla merasa kebelet buang air kecil. Dengan bergegas Kayla pergi ke toilet, agar ia tidak terlambat masuk kelas nantinya.
Usai menunaikan hajatnya di toilet, Kaylapun keluar dan melangkah cepat menuju kelas. Tapi seketika langkahnya terhenti saat mendengar obrolan beberapa orang. Suaranya dari arah kelas XI IPA, setahu Kayla di jam pelajaran kedua ini, kelas XI |PA ada praktek di ruang Lab. Seharusnya semua siswa dan siswi kelas itu kan berada diruang Lab?
"Miss Kissable?" ujar Bima, Sandi danVicky bermonolog setelah Alex menyebut panggilan itu.
Dan panggilan itu pula lah yang membuat langkah kaki Kayla lantas terhenti.
"Jadi elu udah ketemu tuh cewek, Al?" tanya Bima.
"Hm."
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah, emang kenapa?" sewot Alex.
"Gimana caranya elu bisa ngenalin dia?" Vicky pun ikut bertanya.
"Ya karena gue sering liat dia.'
"Sering gimana? Selama ini kan elu nyari-nyari dia gak jelas. Trus lu bilang juga belum pernah liat mukanya secara langsung." timpal Sandi.
"Emang bener. Tapi gue sering mimpiin dia."
"Mimpi, apa ngehayal?" selidik Vicky.
Alex terkekeh sebelum menjawab, "Ngehayal sih. Tapi hayalan gue perfect tau! Yang gue bayangin sama persis sama orangnya asli."
Sandi bedecak kagum, sedangkan Bima dan Vicky menatap Alex heran.
"Kok bisa?"
"Serius? Jangan-jangan lu salah orang, bro?"
"Why not??" seru Alex sambil mengedikkan bahunya. "Dia beneran Miss Kissable gue. Dia juga ngenalin gue kok, dia inget semua tentang pertemuan pertama kita."
"Trus gimana, bro?" tanya Bima penasaran.
"Apanya?"
"Ya elu sama dia?!"
"So happy!" jawab Alex sumringah.
"Dia nerima elu?"
"Ck, belum.." sahut Alex kecut.
"Yaaaah..." sontak ketiga teman Alex itu mendesah lesu.
"Belum maksudnya? Belum dijawab atau sebenarnya dia nolak elu?" tanya Sandi polos, membuat Alex menggeplak kepalanya.
Sandi sedikit meringis, "Gue serius nanya ini, hubungan lu sama si Miss Kissable itu gimana? Elu digantung atau ditolak?" sungut Sandi.
Tiba-tiba Alex tersenyum tipis membuat ketiga temannya lantas bingung dan saling melemparkan pandangan. "Gue pasti dapetin jawabannya malam minggu ini." ucap Alex mantap.
"Malam minggu?" monolog Bima.
"Hm, kemarin dia bilang.. minggu depan bakal nemuin gue!"
Kayla yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka lantas terkesiap mendengar kalimat terakhir yang Alex ucapkan.
"Minggu depan ?" gumam Kayla sambil mengingat-ingat kata-kata terakhirnya ketika akan pulang dari pesta Alex kemarin.
"Hah??" desah Kayla berat saat ia berhasil mengingatnya. Ya, waktu itu Kayla sempat bilang "Minggu depan, disini"
Ya Tuhan.. Kayla melupakan itu. Kayla sungguh tak ingat jika ia telah mengatakan itu pada Alex saat ia buru-buru ingin pulang kemarin, kalau saja ia tidak mendengar pembicaraan Alex dan teman-temannya.
Sekarang bagaimana? Apa Kayla harus menemui Alex malam minggu ini?
"Gimana ya, gak mungkin dong aku nemuin Alex?!"
"Tapi.. secara gak langsung aku udah janjikan? Duuuh... gimana?!"
"Enggak mungkin aku keluar malam-malam nemuin Alex sendiri. Mami nggak bakal ngizinin."
"Trus kalo aku dateng juga, pasti Alex nagih jawabannya. Hedeeuuuh...."
Kayla merasa menyesal telah menguping pembicaraan Alex dan teman-temannya. Seharusnya ia tidak perlu mendengar Alex mengatakan bahwa Miss Kissable akan menemuinya malam minggu ini. Sekarang Kayla bingung memikirkan itu.
"Padahal aku beneran Iupa, kenapa juga sih aku harus denger ini?! Alex jadi ngingetin aku sama kata-kataku itu, padahal waktu itujuga aku sama sekali gak mikir ngomongnya. Uh..."
"Sekarang gimana coba?"
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...