Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Alex Vs Bima, Sandi, dan Vicky


__ADS_3

Di ruangan guru, tepatnya di meja Bu Felisha, keheningan dan kecanggungan meliputi mereka. Bu Feli masih menunggu anak yang duduk dihadapannya itu angkat suara. Alex diam dengan wajah mematut, pandangan matanya berkeliaran kesana-kemari melirik seluruh benda yang berada di meja Bu Feli, tanpa menaikkan pandangan matanya ke arah Bu Feli. la bingung dan merasa aneh sendiri, tangannya sedikit gemetar ,ia mengerekatkan gigi-giginya mencoba menekan dan membantah rasa enggan didalam dadanya.


Kayla sudah terlanjur bicara pada Bu Feli kalau Alex akan minta maaf, malu dong jika Alex malah tidak datang menghadap Bu Feli dan benar-benar meminta maaf. Mau ditaruh dimana harga dirinya jika sampai Bu Feli tahu Alex belum siap untuk meminta maaf. Jadilah sekarang Alex memutuskan untuk menghadap Bu Feli meskipun yang ia lakukan saat ini bertentangan dengan keinginan hatinya. Sungguh, ini sama sekali bukan karakter dirinya, Alex tidak pernah melakukan sesuatu yang diluar keinginan hatinya sendiri. Tapi kali ini, demi Miss Kissable nya dan juga harga dirinya, Alex akhirnya mengalahkan egonya.


"Al.." cicit Kayla, membuat Alex menoleh padanya.


Tidak enak rasanya, mereka berdua sudah duduk di depan Bu Feli sejak beberapa menit yang lalu, tapi Alex tak kunjung bicara. Alex *******-***** tangannya sendiri yang ia sembunyikan di bawah meja Bu Feli. Setelah Kayla memanggilnya, Alex mengulurkan sebelah tangannya pada Kayla. Kayla menatap bingung tangan Alex yang gemetar. Kayla jadi merasa bersalah karena menempatkan Alex dalam situasi ini, ia tegang meski raut wajahnya tidak begitu menampakkan ketegangan, tapi tangannya yang gemetar membuat Kayla menyadarinya.


Karena Kayla hanya diam menatap telapak tangannya, Alex akhirnya meraih tangan Kayla dan menggenggamnya erat. Kayla terkesiap atas perlakuan Alex, tapi ia tetap diam, dan membiarkan Alex menggenggam tangannya. Mungkin ini setidaknya bisa memberi Alex kekuatan. Alex berdehem sebelum angkat Suara.


"Saya.. minta maaf Bu!"


Kayla lega, akhirnya Alex mengucapkannya juga, dan Bu Feli tersenyum tipis.


"lya?" jawab Bu Feli, meminta Alex meneruskan.


"Saya minta maaf, karena waktu itu ngerjain Ibu. Awalnya kita emang sengaja ngerjain Ibu, tapi yang terjadi abis itu bener-bener alami, sama sekali gak kita rencanain. Saya tau itu keterlaluan, makanya saya minta maaf" ucap Alex tanpa melirik Bu Feli, matanya masih berkeliaran melihat-lihat diatas meja Bu Feli dan sesekali melirik Kayla.


"Saya juga minta maaf atas nama teman-teman saya."


Kayla merasa senang dan bangga, Alex meminta maaf atas nama teman-temannya juga. Andai saja Bima, Sandi, dan Vicky menyaksikan ini, mereka pasti mau memaafkan Alex.


"Oh iya, mana teman-teman kamu?"


"Yang salah saya Bu, jadi saya ngehadap lbu. Teman-teman saya cuman nurutin apa kata saya, jadi kalo saya sendiri yang minta maaf. Cukup kan?"


Kayla menaikkan alisnya mendengar ucapan Alex kali ini, nadanya berubah jadi sedikit ketus. Kayla merasa tidak enak pada Bu Feli.


Bu Feli tertawa kecil, "Oke Ibu ngerti. Ibu bisa maafin kamu sama teman-teman kamu, asal kalian gak akan ngulangin kesalahan itu"


"Baik Bu, saya gak akan lakuin itu lagi." Alex melirik Kayla, dan mengatakan "Saya gak akan pernah merlakuin orang kayak gitu lagi, siapapun dia."


Kayla tersenyum, Bu Feli sedikit merasa aneh kenapa Alex mengatakannya sambil menatap Kayla. Dia minta maaf pada Bu Feli, dan Bu Feli memberikan syarat, seharusnya kan dia melihat ke arah Bu Feli, bukan Kayla. Ah sudahlah, Alex mau minta maaf saja itu sudah cukup mengherankan bagi siapa saja yang mengenalnya. Dan ini pencapaian bagus untuknya kan, dia benar-benar meminta maaf pada Bu Feli. Meskipun terdengar tidak tulus, tapi Bu Feli bisa melihat jika Alex sudah berusaha.


"Baik, lbu pegang janji kamu!" Bu Feli mengulurkan tangannya pada Alex.


Alex hanya menilik tangan Bu Feli didepannya, tanpa berminat menerima dan menjabat uluran tangan itu. Alex lalu melirik wajah Bu Feli dengan datar.


"Saya gak janji Bu. Saya benci yang namanya janji, apalagi janji itu dari seorang cewek." ucapnya datar dan terdengar sarkas, membuat Bu Feli dan Kayla sama-sama terperangah.


Kayla menegur Alex dengan menggerakkan tangannya yang digenggam Alex, Alex hanya menanggapinya dengan melirik Kayla sekilas.


"Oh, kayaknya Alex emang bermasalah sama cewek ya." gumam Bu Feli dalam hati.


Bu Feli mendengus senyum sambil menarik kembali tangannya. "Baik, gak masalah. Yang penting kamu udah minta maaf, dan lbu maafin kok. Tapi ingat, jangan diulangin lagi ya!"


Alex mengangguk sekilas kemudian langsung berdiri seraya melepaskan tautan tangannya dengan Kayla.


"Saya permisi." ucapnya datar sebelum berbalik, ia bahkan tak melirik Kayla atau melihat wajah Bu Feli.


"AI?" panggil Kayla bingung seraya berdiri.


Alex melangkah keluar begitu saja tanpa menghiraukan Kayla.


"Emm.. maaf Bu." lirih Kayla pada Bu Feli. Tentu saja Kayla merasa tidak enak pada Bu Feli dengan tingkah Alex.


"Gak papa Kayla, Ibu bisa maklum."


"Saya permisi Bu, sekali lagi saya minta maaf." pamit Kayla.


Bu Feli mengangguk kikuk. Kayla pun keluar dari ruangan Bu Feli dan menyusul Alex. Guru-guru yang lain yang sejak tadi memperhatikan mereka diam-diam, kini masing-masing menghampiri Bu Feli.


... ....


... ....


... ....


"Al..! Alex!" panggil Kayla, Alex masih berjalan lurus tanpa menghiraukan Kayla.


Tatapan para siswa dan siswi tertuju pada mereka berdua yang baru saja keluar dari ruangan Bu Feli. Kayla terus mengikuti Alex, meskipun ia risih diperhatikan.


"Oke, aku gak marah. Aku cuman perlu tau kenapa kamu ngomong kayak gitu ke Bu Feli?" kata Kayla agak memekik.


Alex akhirnya menghentikan langkahnya di ujung taman sekolah. la duduk di kursi panjang yang dinaungi pohon. Kayla berdiri di depannya.


Alex mendengus kesal. "Aku benci dia ngomong janji."


"Kamu serius nanggepin itu?"


"lya lah. Kalimat janji itu ngingetin aku sama mama aku, Miss Kissable!"


Kayla menghela nafas lalu duduk di samping Alex. "Kendaliin emosi kamu Al..! Anggap aja ini salah satu ujian buat kamu. Proses kamu buat berubah pasti ada rintangannya, jadi kamu harus tetap positif thinking ya!"


"Kamu kepikiran soal masa lalu lagi ya? Justru ini saatnya buat kamu belajar ngelupain rasa sakit itu, Al! Kalo kamu bisa ngelewatin ini dengan lapang, kedepannya jalan kamu bakal lebih mudah."


Alex menoleh, menatap Kayla. "Kamu bakal terus ada buat aku kan?"


Kayla mengangguk seraya tersenyum tulus.


... _________________...


Keesokan harinya, kabar tentang Alex meminta maaf kepada Bu Feli kemarin menjadi topik hangat yang diperbincangkan para siswa dan siswi. Awalnya hanya dikalangan para guru, setelah keputusan rapat kemarin yang diadakan dadakan oleh Bu Feli, para guru tidak berhenti memperbincangkan tentang perubahan sikap Alex belakangan. Sampai permintaan maafnya yang kemarin berhasil membuat para guru berdecak kagum dan senang melihatnya.

__ADS_1


Akhirnya hari ini para siswa dan siswi pun ikut memperbincangkannya. Jessica dan teman-temannya pun tak ketinggalan, mereka juga mempertanyakan sikap Alex yang tidak biasa itu. Terlebih lagi, dari berita yang mereka dengar Alex menghadap Bu Feli ditemani oleh Kayla. Banyak yang mengatakan bahwa Alex dan Kayla menjadi dekat satu sama lain setelah mereka sempat menghabiskan waktu bersama saat menghilang di hutan.


Bima, Sandi, dan Vicky yang juga mendengar berita itupun menjadi kesal. Mereka bukan tak merasa bersalah atas kejadian yang mereka timpakan pada Bu Feli, tapi perbuatan Alex lah yang membuat mereka tak habis pikir.


Plug.. plug.. plug..


Sandi mendribel bola basket dan memantul-mantulkannya dengan kesal. Bima dan Vicky duduk di dekat Sandi sambil membicarakan tentang Alex.


"****! Sialan Alex, dia benar-benar udah gak peduli reputasinya ya!" umpat Bima.


"Kelar udah tuh si bucin! Gak abis pikir gue,  bisa-bisanya dia nurut sama Si Cupu." timpal Sandi.


"Gue udah nebak dari kemarin sih kalo dia bakal ikutin maunya Kayla, tapi gue gak terima lah Alex nunduk juga sama Bu Feli. Gila! Mau-maunya dia ngerendahin harga dirinya didepan guru centil kayak Bu Feli" sambung Vicky.


"Pake bawa-bawa nama kita segala lagi. Ck!" Bima berdecak kesal.


"Sekarang semua orang ngomongin itu bro, menurut lu kita mesti gimana nih?" bingung Vicky.


"Ngapain dipikirin, biarin aja dia sendiri yang nanggung. Toh dia udah gak peduli sama reputasinya lagi kan, kita tetap sama pendirian kita lah!" ujar Bima dengan kesal.


"Fix kalo gitu, dia jadi musuh kita." kata Sandi geram.


"Bro, apa kita gak bisa balikin dia kayak dulu? Gue kok gak rela ya dia kayak gitu sekarang. Seenggaknya kalo kita ngalah trus maafin dia, mungkin dia jadi Alex yang dulu lagi. Dan.. everything is alright! lya gak?" kata Vicky mencoba melerai.


"Emang lu bisa maafin dia? Kalo gue sih masih kecewa berat, nambah malah kecewanya. Makin kesini Alex makin keliatan banci tau gak, bukan dia banget lah itu! Udah ancur kebanggaan gue ke dia." ujar Bima.


"Setuju Bim, gue makin kesel kalo liat dia, apalagi kalo lagi berduaan sama si cupu. Pengen gue gampar mukanya!" ujar Sandi jengkel.


"lya gue juga kecewa. Tapi hati gue masih gak bisa terima kalo kita kehilangan kebanggaan kita, bro!" timpal Vicky.


"Gue tau Vick, gue juga sama. Tapi dia sendiri yang hancurin persahabatan kita. Pas Alex minta maaf ke kita, gue juga ngerasa gak tega sama dia, tapi hati gue terlanjur sakit. Sekarang liat! Bukannya dia berusaha buat ngebujuk kita ataupun ngeyakinin kita, dia malah nunjukin sikap kayak gitu. Dia malah bikin kita yakin buat jauhin dia!" sungut Bima.


Vicky mendengus pasrah. Memang benar yang dikatakan Bima, Alex sebelumnya memang meminta maaf dan memelas pada mereka, tapi sekarang dia seolah sudah melupakan penolakan mereka. Dia malah sibuk dengan hal yang lain, yang membuat mereka bertiga semakin kesal dan tak habis pikir dengan perubahannya.


"Sst.. Si cupu tuh!" ujar Bima seraya menunjuk Kayla dengan dagunya.


Kayla berjalan sendirian di koridor kelas. Bima, Sandi, dan Vicky yang sedang berada di lapangan sekolah, lantas terpikir sesuatu untuk melampiaskan kekesalan mereka pada Kayla. Mereka bertiga tersenyum smirk.


"Come on, San! Sasaran lu gak pernah meleset kan!" kata Bima sambil melirik Sandi dan bola basketnya bergantian.


Sandi terkekeh sadis. "Pastiin kena kepalanya, atau gak dadanya, San!" timpal Vicky.


Sandi menjentikkan jarinya, mengisyaratkan bahwa itu pekerjaan yang sangat mudah. Sandi bersiap menyerang Kayla dari jarak jauh.


Plug.. plug.. plug..


Sandi mengasah senjatanya, bersiap membidik sasaran empuk di depan sana. Satu, dua, tiga!


Sandi melempar bolanya tepat ke arah kepala Kayla.


"AWAAAAS.........!"


"Aaaa.....!" jerit Kayla yang kaget saat menyadari bola segera menghantamnya.


Kayla mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajah dan tubuh bagian depannya, ia memejamkan matanya reflek.


Grepp


Alex datang tiba-tiba dan langsung menjauhkan Kayla dari bola yang hampir menimpanya. Alhasil bola itu pun meleset dari sasaran awalnya, dan mengenai kaca jendela kelas yang berada tepat di belakang Kayla sebelumnya.


Ckraangk....


Kraangk..


suara kaca jendela yang pecah berdencang bersahutan dengan suara pecahannya yang berjatuhan ke lantai.


Para siswa dan siswi yang melihatnya pun menjerit kaget, diantaranya sampai histeris karena pecahan kaca yang terhambur ke sembarang arah, saking kencangnya lemparan bola Sandi.


Alex lega. la datang tepat waktu dan berhasil melindungi Kayla dari bola itu, juga dari pecahan kaca. Saat Alex menjauhkan Kayla dari bola, ia reflek menariknya menyembunyikan tubuh Kayla ke dalam dekapannya, dan memeluk kepala Kayla serta menenggelamkannya ke dada bidangnya. Dan Alex membiarkan punggungnya sendiri tertimpa beberapa pecahan kaca.


Setelah suara pecahan-pecahan kaca yang berhamburan itu senyap, Alex melepaskan Kayla dari dekapannya. Mata mereka pun bertemu pandang. Pemandangan itu tentu tak luput dari perhatian para siswa dan siswi yang menyaksikan insiden lemparan bola yang memecahkan kaca tersebut. Termasuk sang pelempar bola sendiri, Sandi, serta kedua temannya Bima dan Vicky.


"Kamu gak papa?" tanya Alex.


Kayla yang masih merasa syok, hanya mengangguk menanggapi Alex. Alex lalu mengalihkan tatapannya pada si pelaku pelemparan bola tadi, Sandi.


"Alex berdarah!" gumam seorang siswi, membuat Kayla terkesiap dan lantas memandangi Alex dari atas ke bawah.


Alex sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Saat ini ia marah pada Sandi, dan ia harus bicara pada Sandi sekarang juga. Alex melangkah gontai ke tengah lapangan, menghampiri ketiga temannya dengan tatapan sedih sekaligus marah.


"Al.." panggil Kayla cemas, saat Alex berjalan melewatinya.


Saat Alex berjalan membelakangi Kayla, barulah Kayla bisa melihat darah yang ada di tubuh Alex. Kayla menutup mulutnya reflek, tengkuk Alex berdarah, dua bagian kecil di punggungnya dan juga lengan kirinya pun berdarah. Kayla menunduk melihat pecahan kaca yang berserakan di dekat kakinya. Dan ia menyadari bahwa Alex baru saja melindunginya dari pecahan-pecahan kaca itu. Tapi malah dia yang terkena, dan tubuhnya terluka sekarang.


Saat Alex menghentikan langkahnya didepan ketiga temannya, mereka bertiga membuang muka dari Alex. Sandi terdengar mengumpat kesal.


"Ck, sialan!"


"Apa-apaan nih bro?" tanya Alex datar.


"Menurut lu apa?" ujar Sandi ketus.


"Elu sengaja, San?" tanya Alex.

__ADS_1


"lya, kita sengaja. Kenapa?" tantang Vicky.


"Kalian? Tapi.. apa maksud kalian?" tanya Alex lagi, agak lirih.


"Apanya? Kalo lu nggak bego lu pasti tau lah maksud kita." timpal Bima.


Alex mendengus berat. "Masalah kalian sama gue, gak usah bawa-bawa dia, bro!" ucapnya sambil menahan marahnya.


Bima terkekeh sadis, "Dia akar masalahnya!"


"Tapi ini berlebihan bro, liat gue! Masih untung gak serius kan lukanya" ujar Alex seraya memperlihatkan lengannya yang terluka.


"Elu pikir kita peduli? Lagian siapa suruh elu ngelindungin dia?" timpal Sandi ketus.


"Elu ngomong apa, San? Kalian sengaja mau celakain Kayla?" tanya Alex.


"Emang kenapa? Ini bukan hal baru kan buat kita, kenapa elu sewot? Lagian kita niatnya mau celakain dia kok, bukan elu!" ujar Vicky.


Alex mencelos. "Bro, pliss.. hentiin ini! Seenggaknya jangan jadiin Kayla target kalian!" ucap Alex seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Justru dia satu-satunya target kita sekarang! Dia luar biasa Al, dia bukan cuman bikin lu gak bisa berpaling dari dia, tapi kita juga. Kita juga gak bisa berpaling ke target lain selain dia, gak ada yang paling pengen kita liat penderitaannya.. selain dia!" ujar Vicky sarkas.


"Dan sekarang bukan cuman dia, tapi elu juga!" Bima menunjuk tepat di depan wajah Alex, dan menekan telunjuknya ke dada Alex.


Alex menggeleng-geleng tak habis pikir, "Gue?"


"lya, elu! Sadar gak sih lu, makin kesini elu tuh makin bikin kita benci sama lu!" bentak Sandi meninggikan suaranya.


"Gue gak lakuin apapun ke kalian! Gue tau kalian marah sama gue, dan gue diemin kalian karena itu kan yang kalian mau?! Trus apa yang bikin kalian tambah marah, tambah menggila gini, heh?!" balas Alex tak kalah tingginya.


Kayla terperangah melihat Alex memarahi teman-temannya. "Enggak, kamu harus tahan amarah kamu, Al!" gumam Kayla dalam hati.


"Justru itu yang bikin kita tambah marah Al, elu bener-bener nunjukin ke kita kalo lu itu pengkhianat!" sahut Vicky membuat suasana semakin memanas.


"Kalian bener-bener nganggep gue pengkhianat?? Gue gak percaya sebusuk itu pikiran kalian ke gue!" ucap Alex geram.


"Elu yang busuk! Elu yang duluan mikir kalo kita gampang elu bodohin kan? Elu Buta, gak bisa liat kebaikan kita! Elu sinting, bisa-bisanya lu lebih milih cewek sombong dan murahan kayak dia daripada kita!" bentak Sandi membuat Alex naik pitam.


"Kurang ajar! Bacot lu!" bentak Alex garang, ia tidak tahan mendengar Sandi mengatai Kayla.


Bugh!


Alex meninju mulut Sandi, membuat Bima dan Vicky tak bisa tinggal diam, merekapun panas. Para siswa dan siswi yang melihatnya pun terbelalak, termasuk Kayla. Alex sendiri pun kaget karena ia gagal menahan emosinya, ia merasa menyesal telah menyerang Sandi dalam kemarahan. Kayla tidak bisa hanya diam saja melihatnya, Kayla berjalan menuju lapangan untuk menghentikan Alex tapi ditahan oleh Adit.


"Enggak Kay, biarin Alex selesain masalahnya sendiri!"


"Tapi Dit, dia marah."


"Kamu mau ngasih Alex kesempatan kan, kamu percaya kan sama dia?"


"lya. Kamu bener, Dit" Kayla pun mengurungkan niatnya.


"Sialan lu!" Bima mendorong bahu Alex kasar.


"Elu juga! Kenapa sih kalian besar-besarin masalah?!" bentak Alex sambil menahan kepalan tangannya.


"Ngajak ribut?!" tantang Sandi sambil menarik kerah baju Alex.


Alex berdecak kesal seraya membuang mukanya dari tatapan sengit Sandi. Sandi yang melihatnya malah bertambah panas dan langsung saja meninju wajah Alex.


Bugh!


Tidak, Kayla tidak bisa diam sekarang! Kayla tidak bisa membiarkan mereka bertengkar seperti ini. Alex yang sudah semakin panas, tidak tahan untuk tidak membalas serangan Sandi, apalagi Bima juga ikut memukulnya. Hanya Vicky yang masih berdiri di tempat dan diam sembari menahan kepalan tangannya.


Mereka saling memukul dan mengumpat. Vicky berusaha melerai mereka, dan Kayla pun akhirnya mendekat dan mencoba menghentikan mereka juga.


"Stop..!" pekik Kayla, tapi tidak dihiraukan oleh mereka.


"Udah bro, udah..! Jangan pada kesetanan gini dong..!" pekik Vicky untuk yang kesekian kalinya.


"Elu jangan munafik ya! Lampiasin amarah lu, orang kayak Alex pantes dapetin ini!" pekik Bima disela aksinya.


Alex terkekeh sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah, "Vicky emang yang paling waras diantara kalian, tapi sama aja, kalian sama-sama egois! Kalian bilang gue yang gak peduli dan gak ngertiin kalian? Kalian lah yang sebenarnya gak peduli sama gue, kalian yang gak ngerti gue! Dan elu Vick, mana rasa peka lu yang sering lu tunjukin itu, heh?! Disaat temen lu ini paling butuh kata-kata bijak lu, elu malah buang muka lu dari gue!" ucap Alex terdengar kecewa, ia mengatakannya sambil menunjuk Vicky, sontak itu membuat amarah yang sejak tadi Vicky tahan kini malah membara.


"Sialan! Brengsek lu!!" pekik Vicky marah, ia pun ikut menghajar Alex.


Kayla mendesah lesu, tapi ia tak putus asa. Kayla pun maju, ia mencoba menghentikan Alex, dengan menarik lengan Alex agar mundur dari aksi kritis mereka itu. Tapi tiba-tiba..


"Awwkh....!" Kayla menjerit seraya berjengkit mundur.


Alex menghentikan aksinya seketika saat mendengar jeritan Kayla. Alex terbelalak melihat Kayla terluka dan berdarah.


"Miss Kissable!"


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2