Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Penculikan


__ADS_3

Biasanya untuk mengisi kulkas dengan cemilan, Arsya pergi berbelanja sendiri. Ia memilih makanan ringan, minuman, dan berbagai cemilan basah juga sesukanya, sebanyak yang ia mau. Dulu ketika sang ibu masih ada bersamanya, Arsya suka menemani sang ibu berbelanja. Terbilang anak yang manja, Arsya banyak menghabiskan waktu diluar sekolahnya bersama sang ibu yang memang pekerjaannya hanya mengurus rumah tangga. Sehingga ketika sang ibu sudah tiada Arsya harus merasa kesepian di rumah, sampai ia terbiasa mandiri dan berbelanja pun sendirian. Tapi sekarang Arsya sudah memiliki ibu sambung dan saudara baru, ia tidak lagi kesepian. Memang tidak ada anak yang menginginkan posisi ibu mereka digantikan oleh perempuan lain, namun Arsya bersyukur ibu sambungnya itu sangat baik. Meski Mami barunya dan ibu kandungnya adalah dua orang berbeda, kehangatan kasih sayang yang mereka berikan sama.


Arsya juga sangat senang memiliki saudara perempuan. Dulu ia hanya anak tunggal, terkadang merasa iri jika teman-temannya bercerita tentang betapa menyenangkannya memiliki saudara, tapi sekarang Arsya juga bisa merasakan kesenangan itu.


"Sya, udah?" tanya Kayla yang baru muncul dari belakang Arsya.


"Eh Kak, udah nih kayaknya." Sahut Arsya, tapi matanya masih menilik-nilik ke rak makanan di sekelilingnya.


Kayla mendengus senyum melihat Arsya. "Udah kan Sya, ini aja troli kamu udah penuh. Isinya karbo semua lagi nih kayaknya, ya ampun... Mau tambah gendut lagi kamu? Ntar gantengnya berkurang loh.." sungut Kayla gemas sambil mencubit pipi Arsya yang agak chubby.


"Ih cerewet. Aku nggak gendut kok, Kakak aja yang kurus. Blee.." sahut Arsya kemudian menjulurkan lidahnya meledek Kayla.


Kayla tertawa kecil menanggapinya, sambil mencubit pipi Arsya sekali lagi. Kayla suka menjahili adiknya yang menggemaskan ini, dan Arsya selalu merajuk jika dikatai gendut. Tapi memang postur tubuh Arsya yang tingginya hampir menyaingi Kayla ini terlihat lebih besar dari Kayla, padahal usia mereka terpaut 5 tahun. Dan dari pipi Arsya yang tembem, menurut Kayla adiknya ini terlihat sedikit gendut.


Saat ini Kayla dan Arsya sedang berada di supermarket, berbelanja cemilan dan bahan makanan lainnya. Kayla dan Arsya mendorong troli belanjaan mereka masing-masing, setelah membayar belanjaan di kasir keduanya keluar dari supermarket.


"Eh Sya, kakak mau ke toilet bentar nih. Tungguin ya!" ujar Kayla sambil menyerahkan tentengan belanjaannya pada Arsya.


Arsya mengambil alih belanjaan yang tadinya Kayla pegang. "Yah, kak..." ujar Arsya cemberut karena sekarang kedua tangannya penuh dengan tentengan belanjaan.


Kayla melenggang pergi menuju toilet. Sementara Arsya melanjutkan langkahnya menuju mobil mereka, menaruh semua belanjaan di bagasi.


Setelah menunggu Kayla lebih dari lima belas menit, Arsya melirik jam tangannya heran. Ia duduk di dalam mobil bersama supirnya, menunggu Kayla. Namun kakaknya itu tak kunjung muncul juga.


"Kok lama ya..?" gumamnya.


"Bang, aku susul Kak Kayla ya! Abang keluarin aja dulu mobilnya dari parkiran!" ujar Arsya pada supirnya.


"Baik, Den." sahut si supir.


Baru beberapa langkah Arsya keluar dari mobil, ia berhenti karena melihat Kayla berjalan menuju ke arahnya. Arsya mendengus seraya melipat tangannya didepan dada, memandang Kayla malas. Kayla ini kakak yang menyenangkan tapi juga menyebalkan kadang-kadang. Lihatlah sekarang, dia membuat Arsya jenuh menunggunya tapi ekspresi wajah kakaknya ini tidak menunjukkan rasa bersalah. Eh, tapi tunggu dulu! Ada yang aneh dengan gelagat kakaknya.


Kayla berjalan agak terburu-buru, Arsya perhatikan seperti ada kecemasan atau mungkin kebingungan dari raut wajahnya.


"Kak!"


"Hah! I..iya?" Kayla nampak terkejut saat Arsya panggil, gelagatnya seperti orang ketakutan atau mungkin.. ah Arsya tidak mengerti.


"Kenapa sih, kok mukanya gitu?" tanya Arsya bingung.


Kayla menoleh ke belakang, netranya awas. Karena bingung Arsya pun ikut menoleh ke arah supermarket dimana tadi kakaknya keluar. Apa terjadi sesuatu di dalam sana sehingga kakaknya keluar dengan gelagat yang aneh? Pikir Arsya.


Sreeett.....


Tiba-tiba sebuah mobil jeep berhenti mendadak di belakang mereka, membuat Kayla hampir terserempet. Untung saja Arsya gerak cepat menarik kakaknya agar menghindar. Ingin sekali Arsya mengomeli si pengemudi mobil, namun belum sempat Arsya melontarkan satu katapun seseorang di mobil itu membuka pintu belakang mobilnya lalu melakukan sesuatu yang membuat Arsya hampir jantungan.


"Aaakh......" jerit Kayla.


Arsya terperanjat, seorang pria sangar dari dalam mobil itu tiba-tiba menarik kasar tubuh Kayla masuk ke mobilnya. Reflek tangan Arsya terlepas dari Kayla, tapi tentu Arsya tak tinggal diam, ia sontak menarik kembali kakaknya.


"Woyy lepasin!" Gertak Arsya sembari menarik Kayla dan mendorong pria sangar itu.


Seorang pria sangar lainnya yang juga ada di mobil itu lantas membantu aksi temannya, ia menendang perut Arsya dengan cukup keras sehingga punggung Arsya terbentur mobil dibelakangnya. Arsya menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya, ia jatuh tersungkur.


"Arsya....!!" Panggil Kayla panik melihat adiknya terjatuh kesakitan.


"Kak..!!"


Arsya mencoba bangkit sembari menahan sakit di perutnya, matanya terbelalak panik melihat pintu mobil ditutup dan kakaknya dibawa oleh orang-orang asing itu. Mobil itu melesat cepat sebelum Arsya dapat melakukan apa-apa.


"Kak Kayla..!"


"Den!"


Sopir Arsya bergegas menghampiri majikannya itu, lalu berteriak minta tolong. Dua orang satpam datang beberapa detik kemudian.


"Bang, jangan diem aja dong! Kejar mereka sebelum jauh! Kak Kayla nggak boleh sampe kenapa-napa!" sungut Arsya panik sambil menepuk-nepuk pundak sopirnya.


"Siap Den!" ujar sang sopir segera mengambil mobilnya dan mengejar mobil orang-orang asing yang membawa Kayla.


Kedua satpam supermarket pun ikut mengejar mobil itu, juga melaporkan kejadian penculikan didepan supermarket mereka kepada polisi.


Arsya terduduk lesu didekat pos satpam depan supermarket, ia menghembuskan nafas frustasi berkali-kali karena gagal menyelamatkan kakaknya. Arsya mengusap wajah kusutnya, ia takut, ia menyesal, ia merasa tak berguna sebagai seorang saudara. Apalagi setelah hampir satu jam mobil yang dikemudikan sopirnya bersama mobil petugas supermarket kejar-kejaran dengan mobil para penculik Kayla, mereka malah kehilangan jejak. Yang artinya sekarang mereka tidak tahu para penculik itu membawa Kayla kemana.


Tak lama kemudian mobil polisi yang juga sempat ikut mengejar mobil penculik itu pun datang. Mereka meminta keterangan Arsya dan sopirnya tentang kronologi kejadian penculikan Kayla. Dengan sangat menyesal Arsya harus menelpon ayahnya untuk memberitahukan kabar buruk itu. Jika bisa, Arsya ingin menangani masalah ini sendiri tanpa melibatkan siapapun, terlebih ia tidak ingin melihat kesedihan diwajah kedua orang tuanya. Namun Arsya sadar ia hanya seorang anak 13 tahun yang bahkan membela diri sendiri pun belum mampu.

__ADS_1


.......


.......


.......


Setelah menerima telpon dari Arsya, kedua orang tuanya langsung menyusul ke kantor polisi. Arsya terduduk lemas di kantor polisi, ia disana bersama sopirnya dan seorang satpam supermarket. Arsya tertunduk, menyembunyikan wajah sembabnya yang dipenuhi amarah sekaligus penyesalan.


"Kayla, Ya Allah nak.. Arsya, ada apa..?" Nadia yang baru datang ke kantor polisi bersama Tio, langsung menghampiri Arsya seraya meracau panik.


Arsya mengangkat kepalanya berat, merasa tidak sanggup melihat air mata maminya. "Maafin Arsya mi..."


"Nak.." lirih Tio mengusap wajah sembab Arsya.


"Maaf yah..." ucap Arsya parau hampir tanpa suara.


Tio menenangkan Arsya dan Nadia, agar mereka bisa mendengarkan keterangan mengenai penculikan yang terjadi. Polisi menjelaskan sebagaimana keterangan yang telah diberikan oleh kesaksian Arsya dan sopirnya, serta seorang satpam. Nadia menangis sesenggukan, membuat Arsya merasa semakin bersalah.


"Nad, kamu tenangin diri dulu ya! Polisi pasti bisa temuin Kayla, enggak akan terjadi apa-apa sama Kayla." ujar Tio berusaha menenangkan.


"Tenang gimana mas, mereka aja kehilangan jejak penculik itu. Gimana Lily mas..." rengek Nadia.


"Kami akan berusaha Bu, kami sudah mengantongi nomer plat mobil jeep itu. Dan kami akan melacak petunjuk lainnya yang sudah didapatkan." Ujar seorang polisi.


"Maaf Pak, saya juga mau lapor soal kejadian sebelumnya yang sempat terjadi pada korban, mungkin itu ada hubungannya dengan penculikan ini." Satpam supermarket yang ikut ke kantor polisi tadi angkat suara.


"Kejadian sebelumnya?" Ulang polisi memastikan.


"Benar Pak." Jawab satpam itu.


Arsya mengangkat kepalanya, Nadia dan Tio juga bersiap mendengar kesaksian lainnya yang akan diberikan oleh satpam supermarket itu. Nadia dan Tio sempat melirik Arsya, Arsya memperlihatkan raut bingungnya karena ia memang tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, yang dimaksud oleh satpam supermarket itu.


"Begini. Beberapa menit sebelum terjadi penculikan itu, korban sempat mengalami kejadian tak mengenakkan di toilet supermarket kami."


"Hah..?" desah Nadia kecil.


Arsya membulatkan matanya, ia ingat sekarang. "Iya, Kak Kayla emang ke toilet sebelum pulang. Aku inget, aku sempat nunggu lima belas menitan tapi Kak Kayla nggak dateng juga. Apa yang terjadi Pak?" ujar Arsya pada Satpam itu.


"Seorang perempuan ngelapor ke saya, kalo ada seorang laki-laki misterius tiba-tiba masuk ke toilet perempuan. Sehingga semua perempuan yang ada di toilet itu pada lari karena panik, tapi laki-laki itu menahan seorang remaja perempuan dan mengunci pintu toilet."


"Maksud kamu remaja perempuan itu anak saya?" tanya Tio khawatir.


"Iya Pak."


"Menurut keterangan yang anak ibu berikan, laki-laki itu memaksanya untuk ikut sama dia. Tapi anak ibu nggak mau. Kami juga sempat nangkep laki-laki itu dan menginterogasinya."


"Apa maksudnya, sempat?" kesal Tio.


"Laki-laki itu kabur setelah mendengar anak bapak diculik Pak." Jawab si satpam.


"Apa? Kenapa bisa kabur, dia pasti komplotan penculik itu!" kesal Tio.


"Trus, gimana anak saya? Apa lagi yang dilakuin orang itu ke dia?" tanya Nadia.


"Dia nggak terluka bu. Orang itu emang maksa dia buat ikut tapi.. saya rasa dia nggak bermaksud jahat. Mungkin saya salah tapi menurut saya justru orang itu mau menghindarkan anak ibu dari penculikan."


"Enggak bermaksud jahat gimana, yang jelas dong Pak ngomongnya." Arsya ikut kesal mendengar penuturan si satpam yang semakin membingungkannya.


"Bisa anda perjelas Pak!" Ujar polisi yang menyimak, dan juga polisi lainnya yang mencatat keterangan si satpam.


"Orang itu mengaku sebagai papinya."


"Apa?!" Histeris Nadia. Artinya pria misterius itu adalah Arman? Bagaimana mungkin.


"Dan anak ibu pun mengakui kalo orang itu memang papinya, tapi dia meminta kami ga bisa glapor polisi karena dia bilang papinya itu seorang tahanan yang kabur."


Nadia kembali menangis, kali ini lebih kencang. Nadia takut, ketakutan yang sama seperti dulu. Kenapa, kenapa mantan suaminya itu lagi-lagi mengganggu hidup putrinya? Tidakkah dia bisa diam saja menjalani hukumannya di penjara? Nadia marah, takut, geram, menyesal, kenapa kejadian buruk seperti ini harus menimpa Kayla lagi?


"Mas..."


"Nad.. aku akan lakuin apapun biar Kayla segera ditemukan. Kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya, Kayla pasti baik-baik aja." Tio sang suami kembali menenangkan.


Arsya tertegun. Jadi hal demikian kah yang tadi membuat gelagat kakaknya itu terlihat aneh saat keluar dari supermarket. Kayla bertemu dengan papinya, kejadiannya sangat kebetulan dengan penculikan yang terjadi kemudian. Tapi si satpam ini bilang, pria yang mengaku sebagai papi Kayla itu tidak bermaksud jahat. Bukankah ini janggal?


"Maaf Pak, kenapa Pak Satpam bilang kalo papinya Kak Kayla itu nggak bermaksud jahat? Bukannya dia maksa Kak Kayla buat ikut sama dia?"

__ADS_1


"Mungkin saya salah. Tapi saya juga seorang ayah, sebagai sesama ayah saya bisa liat kekhawatiran di wajah orang itu. Dia bilang berkali-kali kalo dia kabur dari penjara demi menyelamatkan anaknya."


"Dan Pak Satpam percaya?" Nadia kesal.


"Saya nggak langsung percaya bu, apalagi anak ibu sendiri membantah dan nggak percaya sama orang itu. Makanya kami mengamankan dia sampai polisi datang menjemputnya, tapi dia berhasil kabur. Dia panik mendengar anaknya diculik, dia juga marah-marah dan sempat menghajar kami demi bisa menyusul mobil yang membawa anaknya."


Nadia menggeleng tak percaya, baginya keterangan yang diberikan satpam ini tidak masuk akal. "Enggak mungkin Pak, dia aja masuk penjara gara-gara nyakitin anaknya sendiri. Dia.. pasti kabur dari penjara buat ngulangin kejahatannya." suara Nadia hampir tercekat dikalimat terakhirnya.


"Nad.." sang suami kembali menyabari.


"Mas aku takut.. Kenapa sih orang itu nggak puas-puas ngeganggu hidupnya Lily.."


"Aku rasa yang dibilang Pak Satpam mungkin benar, bisa aja kan Arman emang mau ngehindarin Kayla dari penculikan itu. Bisa aja kan dia udah berubah dan mau ngelakuin itu buat Kayla."


"Apa? Kamu percaya Mas? Orang kayak dia mana bisa berubah." bantah Nadia.


"Aku juga sempat liat seseorang yang nggak aku kenal ikut ngejar mobil jeep itu sambil teriak-teriak marah. Mungkin dia papinya Kak Kayla. Dia pake jaket hitam yang dipunggungnya ada gambar singa, sama pake masker hitam dimukanya, benar nggak Pak?" ujar Arsya pada Si Satpam.


"Benar, itu dia."


"Maaf Pak, Bu, menurut saya kata Pak Satpam itu bisa aja benar. Karena kalo papinya Non Kayla bersekongkol sama para penculik itu, pasti mereka pergi bareng dan papinya Non Kayla nggak akan marah sama penculiknya." Sopir Arsya ikut ambil bagian.


"Kamu juga ada disana pas penculikan itu Di?" Tio bertanya pada sopirnya yang bernama Mukdi itu.


"Iya Pak."


"Gimana kejadiannya?"


"Saya waktu itu manasin mobil Pak, saya ngeluarin mobil dari parkiran. Trus saya denger Den Arsya sama Non Kayla teriak, ya saya samperin. Tapi para penculik itu geraknya cepat, mereka juga sempat nendang Den Arsya karena Den Arsya ngehalangin mereka."


"Apa? Nendang?" gumam Tio getir.


Nadia dan Tio lantas memandang Arsya, Arsya hanya menunduk merasa bersalah. "Nak, kamu.. juga disakitin sama mereka? Apa yang sakit, bilang sama mami." ujar Nadia khawatir sambil menyentuh pundak Arsya.


Arsya merasa tersentuh, maminya masih mengkhawatirkan dirinya padahal Kayla jauh lebih penting dikhawatirkan saat ini. Arsya malu mengangkat wajahnya, ia hanya diam menunduk. Bagi Arsya rasa sakit ditubuhnya akibat tendangan penculik itu, sama sekali tidak sebanding dengan kesedihan kedua orang tuanya dan penderitaan kakaknya saat ini. Arsya bisa melupakan rasa sakitnya, tapi tidak bisa berhenti menyesali yang telah terjadi pada kakaknya, padahal ia ada bersama kakaknya saat penculikan itu terjadi, dan ia tidak mampu melakukan apa-apa.


"Kalo benar yang diduga oleh Pak Satpam, berarti dua kejadian ini emang saling berhubungan. Semalam Kapolsek Bandung sempat geger karena salah satu tahanan kabur dengan membunuh seorang polisi penjaga."


"Apa? Mas Arman.. membunuh.." Nadia terperangah tak percaya.


"Bukan bu. Tahanan yang kabur semalam itu adalah King. Sedangkan Arman baru terdeteksi kabur pagi ini, dan itu murni kelalaian penjagaan disana."


"King?!"


Nadia dan Tio syok mendengar nama King. Artinya kekhawatiran yang dulu sempat mendera mereka kini telah didepan mata. Pak William pernah bilang bahwa King mungkin akan balas dendam karena bisnis besarnya telah dihancurkan, setelah Kayla sempat diculik dan dijual kala itu. Nadia semakin takut, bagaimana jika King dan komplotannya lebih nekat dan membabi buta kali ini? Bagaimana nasib Kayla yang telah berhasil mereka culik? Kecemasan dan rasa takut Nadia terasa menyesakkannya hingga ia tak kuasa menanggungnya.


"Nad?"


"Mami!"


Nadia jatuh pingsan ke pelukan suaminya.


... _________________...


Lengkingan suara tawa para pria sangar menggema diseluruh ruangan. Entah ada berapa ruangan di tempat ini, entah ada berapa orang jumlah pria sangar yang jahat itu. Hanya satu hal yang memenuhi rongga hati Kayla saat ini, yaitu ketakutan. Air mata terus saja mengalir membasahi pipinya, ia mengedarkan pandangannya berkali ke sekeliling ruangan tempat ia disekap. Ruangan ini banyak debu dan pengap, kosong dengan benda apapun sebelum Kayla dimasukkan ke dalam ruangan yang mungkin berukuran 3×3 ini. Ia tidak tahu sudah berapa jam ia berada disini, yang jelas Kayla merasa waktu berjalan begitu lambat dan suasananya mencekam. Ia juga belum tahu apa yang sebenarnya orang-orang jahat itu rencanakan untuknya, karena sejak mereka membawa Kayla kemari mereka tidak mengatakan apapun.


Kayla diikat di sebuah kursi beton di salah satu sudut ruangan ini. Kedua tangannya di bentangkan dan dibelenggu pada kedua sisi kursi besar itu, sangat tidak mungkin Kayla bisa melepaskan diri dari ikatannya. Selain kursi yang ia tempati kini terbuat dari beton yang permanen menempel pada lantai ruangan, pengikat tangannya pun menyerupai rantai borgol, bukan tali biasa yang mudah dipaksa lepas. Tapi Kayla sedikit heran mereka membiarkan mulut Kayla bebas tanpa bekapan, dan kaki Kayla juga sebenarnya bebas bergerak, hanya tangannya saja yang diikat. Namun tetap saja Kayla tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis, memberontak pun rasanya percuma, malah akan menyakiti tubuhnya sendiri dan ia tidak punya tenaga besar untuk bebas dari rantai yang membelenggu tangannya itu.


Gubrakk


Kayla berjengkit kaget karena tiba-tiba saja pintu ruangan ditendang paksa sampai terbuka. Yang lebih mengejutkan Kayla adalah siapa yang dibawa masuk ke ruangan ini.


"Alex.." gumam Kayla kecil tanpa suara.


Ada apa ini? Mereka membawa Alex kemari?


Dan kondisinya..


Ya Tuhan.. apa yang terjadi pada Alex?


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... ....


... Bersambung...


__ADS_2