Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Camping


__ADS_3

Empat sahabat ini masih berada di markas pribadi mereka, sambil memikirkan solusi untuk masalah mereka saat ini. Siswi cupu yang dulunya terlihat lemah itu, yang sering mereka bully dan mereka jadikan bahan tertawaan.. nyatanya kini menjadi ancaman. Keberanian dan kenekatannya yang tak mereka duga, ternyata tidak main-main. Sekarang Si cupu itu menempatkan Alex dalam masalah besar. Bagi orang mungkin ini terdengar biasa saja, tapi bagi Bima, Sandi, dan Vicky, masalah yang menimpa Alex akibat ulah Si cupu itu, cukup serius.


Kenekatannya dalam menentang dan melawan mereka saja, sudah tidak bisa dianggap remeh. Sekarang Si cupu itu berani mengganggu hubungan Alex dengan gadis pujaannya? Bahkan gadis pujaan Alex, Miss Kissable itu adalah cinta pertamanya. Bima, Sandi, dan Vicky tidak pernah melihat Alex sebahagia saat ia mulai jatuh cinta beberapa waktu lalu. Mereka lah yang paling bahagia saat mengetahui Alex kebanggaan mereka itu akhirnya menemukan gadis pujaannya.


Mereka sangat ingin bertemu dengan gadis yang disebut Alex sebagai Miss Kissable itu. Mereka ingin berterima kasih dan ingin mengungkapkan rasa bahagia mereka karena membuat Alex jatuh hati padanya, membuat Alex yang selama ini membenci perempuan akhirnya bisa jatuh cinta juga. Mereka juga ingin sekali rasanya memberikan penghormatan kepada gadis itu.


Namun sayang, sekarang Si cupu Kayla itu mencoba merusak hubungan Alex dan Miss Kissable? Bisa-bisanya dia! Bima, Sandi, dan Vicky tidak akan tinggal diam. Mereka tidak sabar ingin membuat perhitungan dan menghukum Kayla. Tapi Alex melarang mereka, Alex bilang jika sampai terjadi pembullyan lagi, maka Kayla bisa saja membuat Alex benar-benar kehilangan Miss Kissable. Apa-apaan itu?!


Tentu saja mereka tidak terima mendengar itu. Siapa Kayla, berani-beraninya dia mencoba mengatur Alex dan membuat teman-temannya menurutinya juga? Pembullyan sudah menjadi kebiasaan dan ciri khas mereka kan, apa jadinya jika hari-hari mereka di sekolah berjalan lurus dan datar tanpa membully siapapun? Siapa Kayla, yang dengan kesombongannya dia pikir bisa memperdaya dan mengubah Alex, juga hobinya dan teman-temannya?


"Untuk sementara waktu, jangan ada pembullyan dulu. Seenggaknya sampe gue baikan sama Miss Kissable." ucap Alex datar, seraya menatap lurus ke atas pohon.


Mereka berempat berbaring di bawah pohon dengan kedua telapak tangan mereka yang bertumpu di belakang kepala sebagai alasnya.


"Hampa bro!" sergah Bima kesal.


"Gila kali, masa' kita harus nurut sama dia?!" timpal Vicky.


"Apa mendingan lu kehilangan Miss Kissable aja Al, daripada kita nurut sama Si cewek sialan itu? Elu bisa cari cewek lain kan, dan kita gak harus keliatan bego gini nurut sama cewek, sama ninggalin hobi kita." ujar Sandi.


"Hussh... sembarangan lu San! Ini Alex, bukan elu! Elu mah gampang suka sama cewek, putus nyambung sama pacar lu. Nah kalo Alex, bagus ada cewek yang bisa bikin dia kecantol, gak bisa disia-sia'in itu aja dong!" kesal Vicky.


"Gue emang sempat kepikiran bakal kehilangan Miss Kissable sih setelah kemarin, gue ragu dia bisa nerima gue. Sandi aja putus nyambung kan sama Melly gara-gara Melly tau Sandi ikut-ikutan gue ngebully cewek di sekolah. Bima juga susah kan nyari cewek yang mau nerima dia yang kelakuannya gini. Dan Vicky juga sering berantem kan sama Lira." ujar Alex tersenyum masam.


"Elu jangan berkecil hati dan cepat nyerah gini dong Al! Gak bakal gue biarin elusama Miss Kissable udahan gitu aja, cuman gara-gara hasutannya cewek sialan itu!" semprot Bima.


"Perjuangin Al, elu beneran kan suka sama Miss Kissable?" Alex mengangguk, "Kalo gitu jangan nyerah dong! Jangan biarin si cupu berhasil ngewujudin ancamannya! Buktiin juga ke Miss Kissable, kalo lu gak kayak yang dibilang si cupu! Buktiin kalo lu beneran serius sama dia, perjuangin cinta pertama lu, Al!" ujar Vicky semangat.


Alex terdiam, mencerna dan memikirkan ucapan Vicky. "Perjuangin?" gumam Alex pelan.


"ASSALAMU'ALAIKUM..." pekik seseorang, membuat mereka berempat terkesiap.


"Wa'alaikum salam!" sahut Vicky reflek.


"Siapa sih ngagetin aja?!" kesal Alex.


"Ck, Ah si Doni!" kata Bima setelah bangun dan melihat siapa yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Oh.. ketua kelas LawGal itu?" ujar Sandi mencibir.


Doni, ketua kelas mereka yang humble dan punya kepercayaan diri yang tinggi. Dia menganggap dirinya humoris, tapi lawakannya selalu terdengar garing. Karena itulah mereka menjulukinya Si LawGal, alias pelawak gagal. Hahahaha...


Doni berjalan ke arah mereka setelah menyapa dari jauh, ia tersenyum lebar menampilkan gigi-giginya yang berbehel. Ditangannya ia memegang selembar kertas yang entah apa itu. Doni berhenti dijarak satu meter dari pagar markas mereka, mengikuti aturan yang memang telah mereka buat.


"Ngapain lu kesini?" tanya Alex malas.


"Ada yang mau ikutan camping gak? Besok otw, itung-itung ngisi waktu libur.. hari ini pendaftaran terakhir."


Mereka menatapnya malas. Buang-buang waktu saja si Doni, dia kan sudah tahu P-four tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah semacam itu. Ekskul saja hanya beberapa yang mereka ikuti, kalau soal kegiatan OSIS atau Pramuka, mereka tidak tertarik, dan camping pun mereka tak pernah ikut sebelumnya.


"Elu ngajak siapa? Kalo kita berempat udah jelas gak minat!" sahut Sandi.


"Ya kali aja ada yang berubah pikiran? Ini acaranya seru loh.. lokasinya deket danau, hutannya asri, bebas polusi, pemandangannya bagus, Instagramable deh pokoknya." ujar Doni semangat.


Mereka menertawakannya, tapi Doni tak terganggu sama sekali, karena ia sudah terbiasa, dan ia juga malah senang.


"Yang namanya hutan jelas bebas polusi lah, kalo hutan juga banyak polusi Tarzan gak bakal betah tinggal di hutan!" lakar Sandi.


"Udah deh Don, kita gak tertarik. Elu buang-buang waktu doang kesini!" kata Vicky.


"Dari mana lu tau seru? Emang lu udah pernah kesana?" ledek Bima.


"Belum sih, tapi gue udah liat gambarnya dikantor guru" jawabnya polos.


"Hm, ngapain juga ke hutan? Mending ke Ancol, ke pantai kek, atau mendingan disini aja! Hahahaha.." lakar Sandi, yang disahuti oleh tertawaan teman-temannya.


"Yee.. kalo Ancol sama pantai mah biasa, apalagi disini. Coba dong yang baru, emang kalian udah pernah eksplor kehutan?" tanya Doni.


"Udah, pas pramuka waktu SD! Hahahaha..." sahut Vicky.


"Ini beda loh, gak ada wahana Ancol.. ada api unggun sama games nya, gak ada pantai.. ada danaunya, ada air terjun juga loh! Sayang dong gak ikutan." kata Doni lagi.


"Ada Tarzan juga? Elu harus kenalan tuh Don, biar bisa duet nge'stand up sama dia!Hahahaha..." ledek Bima.


"Yah... jadi gak ada yang mau ikut nih?"


Mereka mengedikkan bahu acuh. "Yaudahlah." ujar Doni seraya berbalik.


"Tunggu! Gue ikut."


Doni berbalik antusias, Bima, Sandi, dan Vicky serentak menoleh ke arah Alex. Alex bangun dari rebahannya dan melirik satu-persatu wajah bingung teman-temannya.


"Elu bilang apa Al?" tanya Vicky.


"Serius mau ikut camping?" tanya Sandi.


Alex mengangguk, "Lumayan bro, gue mau nyoba sensasi ngelukis di tengah hutan, dekat air terjun!"

__ADS_1


"Ini lu beneran mau ikutan Al? Rame-rame' loh ini berangkatnya, lu gak bakal tenang ngelukis di sana." ujar Bima.


"Ya nggak ada salahnya kan? Dari pada gue tambah pusing mikir-mikir mulu, mending refreshing. Sekalian nantang nyali nginep dihutan!" Alex tertawa kecil.


"Good! Kalo gitu, tanda tangan disini!"


Dengan semangat Doni menyodorkan kertas yang dipegangnya serta sebuah pulpen yang ia ambil dari saku bajunya. Bima, Sandi, dan Vicky saling melemparkan pandangan.


"Oke, kalo gitu kita juga ikutan!" ucap Bima yang diangguki oleh Sandi dan Vicky.


Alex menaikkan alisnya seraya tersenyum senang, ia mengangkat tangan dan ber'tos dengan teman-temannya.


"Sini Don!" pinta Alex.


"Gak papa nih gue masuk?" tanya Doni ragu.


"lya, gue males kesana!" sahut Alex datar.


Doni pun melangkah melewati pagar pembatas markas mereka, dan memberikan kertas beserta pulpennya pada mereka. Mereka pun mencantumkan tanda tangan masing-masing di kertas pendaftaran. Doni tersenyum bangga, ternyata ia berhasil membuat Alex yang katanya tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu, jadi setuju sekarang. Bahkan Bima, Sandi, dan Vicky pun ikut.


"Kayla benar, Alex udah mulai berubah. Gak nyangka ternyata dia setuju ikut camping. Sama rombongannya lagi! Wow Don, lu berhasil bujuk P-four, hebat!" gumamnya dalam hati.


..._______________...


Keesokan harinya


Para siswa dan siswi sudah siap untuk camping dan berbondong-bondong berjalan menuju bus mereka.


"Masuk bus nya sesuai kelas masing-masing ya..!" pekik Bu Weni memberi arahan.


"Baik, Bu..!" sahut mereka.


Sekolah mereka memang mengadakan camping per-libur semester setiap tahunnya. Selain mengisi waktu libur pasca ujian semester, quality time bersama antar guru dan murid juga menjadi alasan utama diadakannya camping ini. Disamping itu, camping atau berkemah di hutan juga bisa menghidupkan kecintaan pada alam dan jiwa sosial antar sesama, itu juga yang diterapkan oleh para guru pada murid-murid mereka.


Dari setiap kelasnya hampir semua siswa dan siswi yang mengikuti camping ini, sebagian diantaranya tidak ikut karena tidak mendapat izin dari orangtuanya.


Ada lebih dari 10 buah Big bus yang disediakan untuk membawa mereka semua, termasuk para guru juga. Tapi ada sebuah Jeep juga yang ikut berjejer di barisan bus paling ujung yang masih terparkir.


"Itu siapa yang pake Jeep ya Pak?" tanya salah seorang guru pada Pak Rahmat.


"Alex." jawab Pak Rahmat singkat.


"Oh, Alex juga ikut camping toh?" Pak Rahmat mengangguk.


"Alex aja ikut Pak, masa' Bapak enggak?" tanya guru itu lagi.


Pak Rahmat tertawa kecil, "Siang ini saya juga mau liburan, sama anak istri saya! Kalian-kalian saja lah yang mewakili camping sama anak-anak!" jawab Pak Rahmat.


Setelah para siswa dan siswi semua sudah duduk tertata di dalam bus masing-masing, para guru pun satu-persatu menaiki bus mereka dan berangkat bersama.


Hanya Alex dan ketiga temannya yang tidak naik bus, karena mereka memilih mengendarai mobil sendiri, Jeep milik Alex.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima jam, mereka pun sampai di lokasi camping. Lokasinya cukup jauh masuk ke tengah hutan, rerumputan tanah lapang yang dikelilingi banyak pohon yang tinggi, menjadi lokasi pilihan mereka. Kurang lebih 1500 meter dari Campground mereka, ada sebuah danau, tepatnya terletak disisi timur. 700 meter disisi utaranya ada air terjun yang menambah pesona pemandangan di hutan itu.


"Nah baik anak-anak, silahkan mulai mendirikan tenda kalian! Kalian bisa memilih kelompok atau teman satu tenda masing-masing ya, kalo mau sendirian saja juga boleh." ucap Bu Fitri.


Kayla bersama Nia dan Anggita teman sekelasnya, mereka mendirikan tenda bersama. Mereka memang sudah berencana sejak kemarin, akan tidur satu tenda.


Sedangkan Jessica, Luna dan Erin masih bingung mencari tempat dimana mereka akan mendirikan tenda.


"Eiuuwh... tempat kayak gini? Gimana gue bisa tidur disini? Disini tanahnya agak becek, disana gak rata, kok bisa sih mereka happy-happy aja?!" rengek Jessica.


"Disini aja deh Jes, lumayan kok." kata Luna yang sudah lelah.


"lya, gak papa lah kita bangun tendanya disini aja! Gue udah pegel nih, pengen cepat-cepat rebahan." timpal Erin.


Jessica mendengus malas dan terpaksa mengalah, toh sebenarnya dia juga lelah, belum lagi cuaca yang cukup terik siang ini. Ketiganya pun akhirnya mendirikan tenda mereka.


Jessica melirik ke arah Alex dan teman-temannya yang sedang mendirikan tenda di tempat yang sedikit terpisah dengan tenda lainnya, tapi masih di satu lokasi. Jika jarak antara tenda satu dengan tenda lainnya hanya satu sampai dua meter saja, maka tenda Alex dan teman-temannya berjarak enam sampai tujuh meter dari tenda lain yang terdekat dengan mereka. Mereka berempat mendirikan tenda di dekat beberapa pohon yang berjejer agak rapat, seolah memagari tenda mereka. Dataran disana sedikit lebih tinggi dari tempat dimana siswa lainnya mendirikan tenda.


"Jes, bantuin dong jangan ngelamun aja! Nih pegang!" ujar Luna sedikit kesal.


"lya, iya..!" sahut Jessica malas seraya memegang salah satu tali tenda.


Sementara Kayla, Nia dan Anggita sudah selesai mendirikan tenda mereka, dan segera beristirahat, melepaskan penat dari perjalanan yang cukup jauh dan rute yang berliku-liku, tentu saja karena jalan masuk ke hutan tidak semulus jalanan ibukota yang beraspal.


Untuk beberapa jam, mereka semua beristirahat. Kemudian para guru mengajak mereka untuk memasak dan makan bersama-sama. Ini momen yang sangat menyenangkan, terutama bagi Kayla yang sebelumnya tidak pernah merasakan kebersamaan dan kehangatan seperti ini. Disekolah Kayla sebelumnya di Bandung, tidak ada kegiatan seperti ini. la memang pernah ikut berkemah, saat ada kegiatan Pramuka disekolahnya, tapi tidak se'akrab kebersamaan seperti saat ini. Dimana para guru dan murid memasak bersama, dan makan bersama dengan murid-murid lainnya dari semua kelas juga, baik itu senior maupun junior.


Setelah selesai makan bersama, hari sudah semakin sore dan mereka mencari kayu bakar untuk bahan api unggun nanti malam. Mereka mulai menjelajahi hutan di sekitar camp ground mereka untuk mencari kayu bakar.


"Wah.. di sana danaunya, kita liat sebentar yuk!" ujar Nia.


Kayla dan Anggita pun menoleh dan agak mengangkat kepalanya untuk melihat danau yang ditunjuk oleh Nia.


"Kita balik aja deh, kejauhan kayaknya kalo kesana, takut nyasar!" kata Anggita.


"Eh.. sebentar aja Ta, aku pengen banget liat!Gimana Kay?"

__ADS_1


"Emm... kita liat sebentar ya Ta, aku juga penasaran. Lagian gak terlalu jauh kok dari lokasi camping kita." kata Kayla.


"lya deh aku ikut aja." sahut Anggita mengalah.


Setelah sampai di tepi danau, mereka terpana akan keindahan pemandangan disana. Air danaunya bersih dan jernih, terlindung dan tidak tercemar seperti sungai kota. Pepohonan disisi danau itu juga tumbuh subur dan baik seperti semestinya. Hutan ini memang terjaga nampaknya, tidak ada penebangan pohon atau pemburu, mungkin.


"Jadi disini ya tadi mereka ngambil air?" gumam Anggita.


"Kayaknya iya." ujar Nia.


Kayla meletakkan kayu-kayu yang sejak tadi dipegangnya ke tanah.


"Kita nikmatin dulu yuk air danaunya, seger banget deh keliatannya!"


Nia dan Anggita setuju dan mengikuti Kayla, meletakkan kayu-kayu mereka dan berjongkok ditepi danau, mengambil air dengan tangan mereka untuk diminum dan dicucikan ke wajah mereka, menikmati kesejukan air danau yang murni terlindung di tengah hutan ini.


Anggita mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, dan mengambil foto. Mulai dari pemandangan danau, sampai foto selfie dirinya sendiri.


"Bagus banget.. liat deh Kay, Ni!" katanya seraya menunjukkan hasil fotonya.


"Hmm... tadi aja nolak diajak kesini, eh taunya paling heboh." cibir Nia, membuat Anggita cengar-cengir.


"Kita selfie yuk!" ajaknya seraya mengangkat ponselnya.


Cekrekk


Cekrekk


Cekrekk*


Mereka lalu menengok hasil foto selfie mereka di ponsel Anggita.


"Nia, Gita, kita nyantai dulu ya disini, enak banget nih.. udara sejuk alam sore-sore gini" Kayla melepaskan sandalnya untuk ia jadikan alas duduk. Kemudian ia duduk sambil mengedarkan pandangannya.


"Bener juga Kay, jadi betah disini ya." Nia pun melepaskan sandalnya dan duduk.


"Yaudah, aku mau kesana dulu ya! Selfie dari sana kayaknya oke" ujar Anggita seraya menunjuk perahu bambu yang terikat pada sebuah pohon dibibir danau.


"lya." sahut Kayla dan Nia.


Anggita pun berjalan menuju perahu bambu itu yang letaknya tidak jauh dari mereka. Nia mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto, ia pun juga tak mau kehilangan momen menyenangkan ini dan hanya merekam pemandangan indah ini dengan matanya saja.


"Kamu gak mau foto-foto juga Kay? Bagus banget ini, sayang dilewatin."


"Kamu aja deh, nanti kirim fotonya ke aku ya Ni." Kayla tertawa kecil.


"Yee... kamu Kay, kirain gak tertarik, taunya males doang!"


"Kalo gak tertarik ngapain aku mau duduk disini. Lagian mandangin langsung gini lebih perfect Ni, daripada liatin fotonya"


"lya, tapi kan foto buat kenang-kenangan Kay. Kapan lagi kita kesini." sahut Nia seraya mengambil foto.


Setelah merasa cukup lama dan hari mulai gelap, mereka pun beranjak untuk pulang ke camp ground.


"Ayo Kay, Ni!" ujar Anggita nampak terburu-buru seraya berjalan mendahului Kayla dan Nia.


Nia dan Kayla pun mengenakan sandal mereka kembali dan mengangkat kayu-kayu yang mereka letakkan di tanah tadi.


Posisi berdiri Kayla memang sangat dekat dengan bibir danau, dan saat Kayla mengenakan sandalnya ia merasa menginjak sesuatu yang licin. Tiba-tiba saja ia terpeleset dan jatuh ke danau.


"Aaakh....." jerit Kayla yang tercebur ke danau.


"Kayla..." jerit Nia reflek.


Anggita yang berjalan lebih dulu pun sontak berbalik dan berlari menyusul ke tepi danau.


Kayla sempat tenggelam kemudian dengan susah payah muncul ke permukaan. la mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berusaha berteriak untuk meminta bantuan.


"Ya Tuhan.. Kayla, gimana nih?" panik Nia.


"Kayla bisa berenang gak?" tanya Anggita.


"Enggak..!"' sahut Nia semakin panik.


"Aduh gawat! Kita harus cari cara nih buat nolongin Kayla." Anggita pun ikut panik.


"lya, kita balik ke lokasi, panggil siapa aja yang bisa nolongin!" ujar Nia menggebu-gebu.


"Tapi Kayla gimana? Masa' ditinggalin?"


"Aduh gimana dong, aku gak bisa berenang, kamu juga kan? Gak ada pilihan lain!" Nia semakin panik dan kelabakan.


"Kay, kamu bertahan ya, kita cari bantuan!"ujar Anggita seraya berbalik.


"Maaf ya Kay, kita gak lama kok. Kita pasti balik buat nolongin kamu" ujar Nia yang juga tidak tega meninggalkan Kayla.


Tanpa berpikir panjang keduanya berlari menuju lokasi camping mereka seraya berteriak minta tolong. Sementara Kayla terus berusaha sebisanya agar ia tidak tenggelam.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2