
Seorang pria dewasa berpakaian formal yang terkesan elegan dan sangat rapi terlihat berjalan memasuki lobby hotel XXKink. Langkahnya yang diiringi oleh enam orang bodyguard itu berhenti di lobby, ia mengeluarkan sebuah kartu dan menunjukkannya pada seorang petugas khusus di hotel itu.
Dalam pandangan orang-orang tempat ini hanya hotel biasa, lebih tepatnya hotel yang tertutup bagi masyarakat umum. Karena siapa saja yang ingin masuk ke hotel itu harus menunjukkan kartu identitas khusus yang hanya disediakan oleh pemilik hotel. Dengan kata lain, orang yang ingin masuk dan memakai fasilitas hotel itu harus memiliki akses yang menghubungkannya dengan pemilik hotel, karena si pemilik hotel hanya mengizinkan orang-orang tertentu yang masuk ke sana. Kartu identitas khusus yang mengizinkan pemiliknya masuk ke hotel itu pun hanya diperoleh dari sang pemilik hotel langsung.
"Hotel?" cibir pria itu dalam hati, setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang ia lewati.
Tempat ini tidak pantas disebut hotel, karena sebutan hotel untuk tempat ini hanyalah topeng, sebuah alibi untuk menyembunyikan identitas yang asli. Dan pastinya hanya orang-orang tertentu yang mengetahui identitas tempat ini yang sebenarnya.
Sebenarnya.. tempat ini adalah rumah bordil yang dirahasiakan dibalik nama hotel, tempat maksiat yang dengan lancangnya berani beroperasi di tengah kota. Licik sekali King itu, dia bisa mempertahankan bisnis gelap seperti ini di tengah kota, dan menyembunyikannya dari perhatian polisi dan para petugas keamanan kota.
Dengan amarah yang tertahan dan berusaha ia kendalikan, pria dewasa berpakaian formal ini berjalan lebih cepat tanpa membuang waktu. Tujuannya hanya satu, dan itu sangatlah penting, lebih penting dari nyawanya sendiri. Jika tidak, maka ia tidak akan sudi memasuki tempat seperti ini.
Helaan nafas panas ia hembuskan kasar sesaat setelah menemukan seseorang yang ia cari, seseorang yang menjadi dalang sekaligus kunci lancarnya bisnis kotor yang membuat pria ini melibatkan dirinya. Tanpa buang waktu yang sebenarnya tidak ada waktu lagi, pria ini menyapa dengan tenang dan tegas pada seseorang yang ia maksud.
"Selamat malam, Kang Arman."
Seseorang yang disapa lantas menoleh, memperhatikan pria yang baru saja datang dan menyapanya. Penampilannya tidak diragukan, begitu berkelas dan elegan. Jika dilihat pria ini pastilah seorang pebisnis kelas atas, atau setidaknya pengusaha yang kaya. Parasnya juga rupawan, memiliki kumis yang rapi dan jambang tipis yang membingkai kedua sisi wajahnya. Jika ditaksir, mungkin usianya sekitar 30-33 tahun.
"Selamat malam.." jawab seseorang yang disapa, tak lain adalah Arman.
"Baik, saya tidak salah orang" jawab pria itu seraya mengangguk sekali. la lalu mengulurkan tangan, "Saya Willy Luke Anderson."
Arman menyambut uluran tangannya, "Arman, manager disini."
Pria yang memperkenalkan diri sebagai Willy Luke Anderson itu tersenyum miring. Dalam hatinya ia menggerutu kesal, ia benci berbasa-basi seperti ini, namun ia harus melakukannya. "Saya tau."
"Maaf saya sedikit terlambat, bisa kita langsung transaksi saja?"
Arman mengernyit bingung. "Transaksi?"
"Sebenarnya King bilang dialah yang akan menyambut saya langsung, tapi dia malah tidak ada disini" Willy terkekeh kemudian melanjutkan, "Tapi no problem, anda ada disini. Biasanya juga anda kan yang menghandle segalanya."
"Maaf tuan Willy?" kata Arman sopan, yang diangguki oleh Willy.
"Tapi King tidak menyebut ada klein lain malam ini, saya juga baru mendengar nama anda. Anda orang baru?"
"Apa masalah kalau saya orang baru?Sepertinya komunikasi anda dengan King lah bermasalah. Jangan membuat saya kesal Kang Arman, saya sudah membayar DP nya, bahkan setengah harganya sudah saya kirimkan pada King. Saya hanya perlu melunasi sisanya sekarang, dan saya akan mendapatkan milik saya"
"Tunggu tuan, anda membicarakan yang mana? Sepertinya King lupa memberitahu saya, saya kira malam ini hanya satu agenda saja"
Willy mengernyit, "Itu benar, King juga mengatakan jika saya adalah satu-satunya klien malam ini. Tapi.. kenapa anda bingung? Apa ada orang lain yang datang juga?"
Arman semakin tak mengerti.
"Jangan bilang kalau ada klein lain yang datang sebelum saya!" Willy mulai meninggi, sungguh ia tidak sabar ingin sampai ke point pembicaraannya.
Arman mulai curiga, "Maaf tuan, tapi mungkin ada kesalah pahaman antara anda dan King. Anda membicarakan properti yang mana, dan berapa nominal yang ditawarkan King pada anda?"
"5 triliun." jawab Willy, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya, "Untuk gadis ini"
Arman membulatkan matanya. "Kayla?!"
"Ya, namanya Kayla bukan? Dua hari lalu King menawarkannya pada saya, dan kami sepakat dengan 5 triliun. Saya sudah membayar setengahnya."
"5 triliun?! Apa-apaan nih, 5 triliun itu lebih dari dua kali lipat harga Kayla. Apa Bos mau khianatin gue? Kayaknya gak mungkin Bos bikin transaksi curang dibelakang gue. Tapi..orang ini cukup meyakinkan. Bahkan foto Kayla yang dia pegang itu adalah foto yang sama yang gue kasih ke Bos." kata Arman dalam hati.
"A..anda jangan bercanda tuan." Arman tertawa kecil agar tidak terlalu tegang. "Kami tidak pernah menawarkan harga setinggi itu pada klien-klien kami, entah siapa anda sebenarnya tapi kedatangan anda malam ini tidak tepat. Kita bisa bicara lain kali, karena satu-satunya klein malam ini sudah datang setengah jam yang lalu"
Willy mulai marah. "Anda kira saya bercanda? Apa anda pikir saya ini penipu? Jika memang yang anda katakan tadi benar, maka King lah yang menipu saya. Sialan!"
__ADS_1
"2,5 triliun lenyap begitu saja? Tidak tidak, kalian tidak bisa mempermainkan saya." geramnya.
"Apa anda punya bukti kalau King memang menerima 2,5 triliun dari anda?" tantang Arman.
"Jangan berani meremehkan saya! Anda belum tau siapa saya." jawab Willy seraya mengangkat satu tangannya, memberi isyarat pada salah satu bodyguardnya yang menenteng tas koper.
Dengan sigap si bodyguard membuka tas itu dan mengeluarkan selembar kertas, dan menyerahkannya pada Willy. Willy lalu memberikan kertas yang merupakan bukti transferan itu kepada Arman.
"Silahkan anda cek baik-baik! Berapa nominalnya, dan juga tanggalnya. Anda juga bisa mengecek nomer rekening penerimanya, anda pasti tau betul kan kalau nomer rekening itu milik King."
Arman tergugu tak habis pikir, ia mulai percaya bahwa pria di depannya ini jujur, dan artinya King lah yang penipu. Arman geram, ia meremas kertas itu.
"Ada apa Kang Arman?" tanya Willy menantang balik.
"Maaf tuan tapi saya benar-benar tidak tau, King-.."
"Saya tidak peduli!" potong Willy. "Saya hanya ingin gadis itu, saya sudah membayarnya pada King, gadis itu milik saya."
"T..tapi tuan.. gadis itu.." Arman gelagapan.
"Ada apa? Jangan bilang kalau anda memberikan gadis itu pada orang lain!" marah Willy.
"Gadis itu ada di dalam." Arman menunjuk pintu kamar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Tapi sudah ada yang membelinya."
"APAA!! Anda gila! Anda benar-benar menjualnya?!" Willy menarik kerah baju Arman.
"Jelaskan!" titah Willy yang wajahnya sudah merah padam.
"Dia klien tetap kami, dia sudah datang setengah jam yang lalu. Tidak mungkin kami membatalkan transaksi dengannya"
"Gadis itu di dalam bersama klien mu yang baj***n itu, heh?!!" Arman mengangguk, "Dan anda membiarkannya?!"
"Setengah jam? Brengsek!" gumam Willy kecil sambil melangkah terburu-buru.
"Tuan tunggu, kami akan siapkan gadis lain untuk anda, secepatnya." bujuk Arman menghentikan langkah Willy.
"Minggir, jangan halangi saya!" gertak Willy sambil menyingkir dan mengambil jalan lain.
"Tapi tuan, sudah ada klein lain bersamanya." kata Arman, membuat Willy geram.
"Anda gila?!! Anda membiarkannya bersama orang asing di dalam sana, tidakkah anda memikirkan bagaimana perasaanya? Dan anda juga tidak peduli dengan apa yang dia alami??" Arman bingung dengan perkataan pria dihadapannya ini. Kenapa tiba-tiba pria ini memikirkan perasaan Kayla?
Willy mendengus kasar, "Tidak ada yang tau apa yang terjadi selama setengah jam di dalam sana, tapi saya tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya." katanya sambil melanjutkan langkah.
"Tuan tolong mengertilah, gadis itu sudah menjadi milik klien tetap kami, anda tidak bisa mengganggunya. Ada banyak gadis yang tidak kalah cantiknya dengan gadis itu, saya akan segera menyiapkannya untuk anda."
Kata-kata itu hanya membuat Willy semakin marah dan frustasi. "Dia milik saya, hanya MILIK SAYA! Saya tidak mau yang lain, dan saya tidak akan membiarkan klien baj****nmu itu menyentuhnya. Tidak boleh ada yang menyentuhnya!" pekiknya menggebu-gebu dengan tatapan tajam ke mata Arman.
Arman tertegun, tidak mengerti kenapa pria bernama Willy Luke Anderson ini begitu keras kepala dan nampak terobsesi pada Kayla. Entah itu sebuah obsesi atau yang lainnya, Arman tidak yakin, tapi Arman melihat dengan jelas kalau mata Willy merah dan berkaca-kaca, tapi.. bukankah aneh jika pria itu menangis?
Brakkk
Brakkk
Brakkk
Willy tidak peduli dengan rasa sakit pada tubuhnya yang terus ia benturkan ke daun pintu. la mendobrak pintu kamar itu sekuat tenaganya.
"Tuan muda, biar kami yang melakukannya." kata salah seorang bodyguard nya, namun lagi-lagi tidak dihiraukan oleh Willy. Entah sudah berapa kali bodyguard nya itu menawarkan diri.
__ADS_1
"Tuan Willy tolong mengertilah, ini-.."
"Minggir!!" bentak Willy pada Arman yang masih berusaha menghentikannya.
Pintu akhirnya terbuka, sebelum Willy masuk ia memerintahkan para bodyguard nya menunggu di luar saja, juga meminta mereka menahan Arman agar tidak ikut masuk. Willy melangkah tak sabar, mencari sosok yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini.
"Baj****n!" pekiknya sambil menarik bahu pria yang berdiri kaku karena baru saja menyadari kedatangannya.
Buggh
Tanpa pikir lagi Willy langsung menghajar pria yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan itu, hingga tersungkur ke lantai.
"Siapa kamu? Kurang ajar!" marah pria itu.
Willy hanya melihatnya sebentar setelah memukulnya, sempat terbersit di benak Willy kenapa Arman tega menyerahkan Kayla pada pria tua ini? Pria yang baru saja ia pukul ini pasti lebih tua dari Arman, dan mungkin juga pria ini sudah memiliki keluarga. Willy heran kenapa pria matang semacam baj****n didepannya ini bisa terpikir untuk datang ke tempat kotor ini dan melakukan perbuatan tercela.
Sudahlah, masa bodoh dengan itu semua. Willy segera mengalihkan pandangannya kepada gadis yang duduk di pangkal ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya. Hanya rambutnya yang dapat Willy lihat, wajahnya tidak kelihatan karena dia membenamkannya di selimut, tapi Willy yakin gadis itu adalah Kayla. Hati Willy langsung terbakar dan terluka melihat kondisinya. Mendengar tangisan menyedihkan Kayla, membuat jantung Willy sempat berhenti berdetak beberapa detik.
Bughh!
Karena terlalu terpaku Willy sampai tidak menyadari serangan mendadak pria tua yang sebelumnya ia hajar. Kali ini Willy lah yang tersungkur ke lantai, tapi tentu saja Willy tidak akan diam. Dia segera bangun dan membalas serangan pria itu. Perkelahian pun terjadi. Willy sempat terkejut karena ternyata pria tua itu tidak sendirian, beberapa orang pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul entah dari mana, dan langsung mengeroyok Willy. Segera Willy menekan tombol kecil yang tersembunyi di jam tangannya, membuat para bodyguard nya siaga seketika.
Perkelahian sengit pun tak terelakkan, kericuhan yang sangat jarang terjadi di rumah bordil ini malam ini membuat heboh seisi hotel. Anak buah Arman ikut turun tangan, untuk melerai perkelahian antara anak buah klien yang dipukul Willy dengan para bodyguard Willy. Sedangkan Arman sendiri telah diamankan, diikat tangannya dan dibekap mulutnya dengan lakban oleh bodyguard Willy. Sementara Kayla yang ketakutan hanya diam di tempat tanpa berani mengangkat kepalanya, ia tahu kekacauan tengah berlangsung dihadapannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi alunan yang dapat membuat siapa saja gentar ketika menyadarinya, sirene mobil polisi. Kericuhan pun terhenti seketika, dan suasana yang tegang menjadi semakin menegangkan bagi penghuni rumah bordil, namun melegakan bagi Willy dan bodyguard nya. Para tamu di tempat itu mulai berlarian tunggang langgang menghindari polisi, begitu juga para pekerja dan semua yang terlibat dalam bisnis gelap di hotel XXKink ini. Hanya Arman yang masih diam, berdiri kaku melihat kekacauan yang terjadi.
Willy melangkah menuju ranjang Kayla, menghampiri gadis yang ketakutan itu dengan hati-hati. Dan Arman yang terpaku kaku tak tau harus berbuat apa, hanya mengawasinya dari jarak yang cukup jauh. Dalam kepanikannya, pria paruh baya ini berpikir heran, siapa sebenarnya Willy Luke Anderson ini? Dia sampai nekat mengacaukan seluruh tempat ini, dan menghajar semua orang demi seorang gadis asing? Bahkan dia sampai membawa polisi kemari, apa sebenarnya tujuan pria bernama Willy ini? Dia menginginkan Kayla, atau ingin menghancurkan bisnis gelap di tempat ini? Apa dia datang dengan rencana, atau hanya obsesinya saja yang terlampau besar? Lihatlah, dia berdiri lama di dekat Kayla dan hanya memperhatikan gadis itu saja. Siapa dia sebenarnya? Mungkinkah dia seorang intelejen polisi yang menyamar? Apa mungkin tempat ini terekspos oleh orang-orang seperti mereka?
Entahlah. Tapi saat menyaksikan Willy berada di dekat Kayla, hati Arman seketika berubah, berbanding terbalik dengan kepanikan dan was-was yang ia rasakan. Arman merasa beban berat dalam dadanya sedikit berkurang, ia tidak mengerti apa yang terjadi pada hatinya. Yang jelas terlintas pertanyaan dalam lubuk hatinya...
"Apakah Kayla aman bersama pria itu? Apa dia akan melindungi Kayla?"CV viii RPP t
Perlahan dan hati-hati, Willy menyentuh kepala Kayla. Namun sentuhannya yang sangat hati-hati itupun nyatanya membuat Kayla terganggu.
"AAAAAAAAAAGGHHHHH...........!"
Kayla langsung berteriak histeris dan memundurkan tubuhnya, saat merasakan sentuhan di kepalanya. Willy terperanjat kaget dan reflek menjauh.
Jantung Willy yang sudah berdegup kencang tak karuan kini kian laju memburu, seluruh tubuhnya menegang dan hatinya hancur mendengar teriakan Kayla. Raungan tangis Kayla kian menjadi, membuat Willy tidak tahan untuk tidak meloloskan air matanya. Dadanya sesak melihat Kayla meringkuk dengan tangisan pilu seperti ini.
Apa.. apa yang terjadi? Apa yang telah Kayla alami, kenapa dia sampai berteriak histeris sekencang ini? Apa dia sudah..
Tidak!
Tidak!
Apa pria tua baj****n itu telah menyentuhnya? Tidak! Tidak!
TIDAAAKKK!!
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1