
Seorang pria menghentikan skuternya dihadapan Kayla, ia tersenyum pada Kayla. Kayla mengernyit menatap pria itu.
Ia menyodorkan sebuah helm cadangan pada Kayla.
"Biar aku anter" tuturnya.
Kayla masih menatapnya, seksama. Kayla mencoba menginga-ingat sesuatu, ia rasa mereka pernah bertemu sebelumnya.
Oh, bukankah dia......
(Flashback On)
*Tempat duduk Kayla berjarak satu baris dari tempat duduk siswi yang berbisik-bisik tadi. Sehingga untuk menuju tempat duduknya, Kayla harus melewati siswi itu. Ia nampak tersenyum ke arah Kayla, Kayla pun membalas senyumannya.
Tiba-tiba...
Brrakkk....
Kayla jatuh tersungkur, tepat disamping siswi yang tadi tersenyum padanya. Kini ia jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas barunya, tapi ada juga diantara mereka yang bersimpati ke arahnya. Seorang siswa berdiri didepan Kayla, ia menundukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya pada Kayla. Kayla mendongak menatapanya, kemudian menerima uluran tangannya*.
(Flashback Off)
Senyum Kayla terbit setelah berhasil mengingat siapa dan dimana ia pernah bertemu dengan pria ini.
"Dia cowok yang tadi pagi nolongin aku" gumam Kayla dalam hati.
"Ngelamun ya? Ini ambil, kamu nggak dijemput kan?" tanyanya, masih menawarkan helmnya pada Kayla.
"Eh, iya. Makasih" sahut Kayla seraya menerima helm itu, ragu.
"Emm..kamu serius mau nganter aku pulang?" Kayla nampak heran.
"Iya, ayo naik" katanya, sambil menyalakan mesin skuternya.
Baik banget cowok ini, baru kenal udah mau nganterin aku pulang. Eh tapi kan kita belum kenalan ya, pikir Kayla. Kayla akhirnya naik ke boncengan pria itu, dan diantar pulang sampai ke depan rumah olehnya.
Kayla melepaskan helm dan menyerahkannya kembali pada pria itu.
"Terima kasih banget ya.. udah mau nganterin aku pulang."
"Iya, santai aja" jawabnya.
"Oh iya. Aditama Suryananda, panggil aja Adit." katanya seraya mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
"Kayla." balas Kayla singkat, seraya menyambut uluran tangan Adit.
"Yaudah, aku pulang yah" Adit kemudian menyalakan kembali mesin skuternya dan beranjak pergi.
"Sekali lagi makasih ya" ucap Kayla lagi. Benar-benar bersyukur, di saat ia tengah lelah menunggu angkot dan berdiri panas-panasan, Adit datang menawarkan tumpangan, seperti pangeran penyelamat. Ah, apasih..
Adit tersenyum dan mengangguk, skuternya pun mulai melaju meninggalkan Kayla.
... ....
... ....
... ....
"Gimana sayang, hari pertama kamu sekolah?" tanya mami semangat.
"Baik Mi, Alhamdulillah.. Lily happy" jawab kayla sembari berjalan menuju rak piring, untuk meletakkan piring yang baru ia bersihkan setelah makan malam.
Kayla lalu duduk disamping mami yang sedang menonton tv.
"Mereka welcome aja kan sama kamu?"
Kayla jadi ingat perlakuan Jessica Cs di sekolah, dan juga.. empat pria menyebalkan itu.
"Iya Mi, Lily juga udah punya teman kok, namanya Nia."
"Sama Adit." lanjutnya seraya tersenyum. Mami mengelus kepala Kayla.
"Eh sayang, itu lutut kamu kenapa?" tanya mami setelah melihat plester yang menempel di lutut kiri Kayla. Mami lalu mengelusnya.
"Nggak papa, Mi. Ini tadi Lily cuma jatoh aja kok, lari-larian soalnya
" jawab Kayla cengengesan.
"Hm.. anak Mami ini, kebiasaan deh." kata mami bersungut, memanyunkan bibirnya.
"Oh iya, mami sendiri gimana di kantor?" tanya Kayla mengalihkan.
"Ya.. Alhamdulillah, cukup puas lah sama hasilnya, buat hari pertama kerja."
"Kerjaan Mami di kantor juga nggak terlalu sulit kok, jadi Mami happy. Bosnya jua baik." lanjut Mami.
Obrolan ringan sebelum tidur antara ibu dan anak sebelum menutup hari, memang menjadi hal yang wajib bagi Kayla dan Maminya. Selain menjalin komunikasi yang baik, mereka masing-masing juga bisa memahami perasaan atau permasalahan yang mereka alami. Itu penting, Mami membiasakannya sejak Kayla kecil.
Mereka berdua kemudian beristirahat, untuk besok kembali memulai hari dengan cerita baru.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
Alex berbaring di kasurnya, bersiap untuk tidur. Ketika ia mulai memejamkan matanya, ia melihat bayangan seseorang, seorang gadis berkacamata dan rambut kepang satu serta poninya, muncul dibenak Alex.
Ia kembali membuka matanya, dan teringat kejadian tadi siang saat seorang gadis menabraknya kencang sampai ia hampir kehilangan keseimbangan berdirinya, dan gadis itu jatuh terpelanting.
Tentu itu membuatnya kesal. Sesuatu yang berhubungan dengan perempuan memang selalu mengesalkan menurut Alex.
Dan siapa gadis ini, berani-beraninya dia mengganggu Alex. Oh, ternyata dia hanya seorang murid baru yang culun. Bagus!
Mainan baru datang dan siap diberi sambutan nampaknya. Padahal Alex tidak ingin berkutat dengan hal-hal tak penting hari ini, karena ia masih dalam mode bahagia. Tapi dengan menabraknya, murid baru itu seolah menantang dan mengingatkan Alex tentang hobbynya. Menjahili orang.
Permainan pun dimulai, seperti biasa Alex dan teman-temannya menyudutkan si target dan membuatnya tak berdaya dihadapan mereka. Hal itu selalu membuat Alex merasa puas.
Tapi permainan menjadi tidak seru lagi, saat si target dengan bodohnya berani memeluk tubuh Alex.
Di saat itu, entah kenapa Alex merasakan sesuatu di dalam hatinya, sesuatu yang tidak ia pahami. Sesuatu yang membuatnya tertegun seketika, bahkan saat si murid baru itu mengambil tasnya dari tangan Alex pun, Alex tak bergeming sama sekali.
Alex tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Bagaimana bisa dia diam saja saat targetnya dengan mudah membebaskan diri dari permainannya. Alex benci itu.
"Awas lu, anak baru!"
... _______________...
Kayla baru saja turun dari angkotnya, Nia langsung menghampirinya. Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas.
"Kay.. kamu nggak papa kan?" tanya Nia sambil memperhatikan Kayla dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Maksud kamu?" Kayla mengernyit bingung.
"Kemarin kamu dicegat sama Jessica Cs, kamu nggak di apa-apain kan?" tanyanya lagi, Kayla semakin tak mengerti, ia menangkap sebuah kekhawatiran dimata teman barunya ini.
"Kamu kenapa sih, Ni?"
"Aku khawatir sama kamu." nah benar kan dugaan Kayla, tapi apa alasannya Nia mengkhawatirkannya?
"Kay, disini tu murid baru nggak ada yang bisa bebas dari bullyan mereka. Setiap ada murid baru, mereka pasti bikin ulah, mereka suka jadiin murid baru sebagai mainan mereka."
Kayla tertegun mendengarnya.
"Begitu? Emangnya mereka siapa?"
"Jessica itu anak donatur terbesar sekolah ini, dia cewek paling populer di sekolah ini, karena dia cantik dan seorang model. Dan dua temannya, Luna dan Erin juga anak pejabat." jelas Nia. Kayla hanya mengangguk, menanggapinya dengan santai.
"Sebenarnya mereka bertiga nggak cukup berpengaruh sih dibanding P-four, tapi mereka cukup dekat sama cowok-cowok itu, dan Alex sering nyerahin tugas itu ke mereka." Nia menjelaskan.
"P-four? Alex? siapa itu?"
"Alex itu The ruler of school disini, dia itu anak pemilik sekolah ini, sekolah kita ini kakeknya Alex yang bangun, jadi dia siswa paling berpengaruh disini, bahkan paling ditakutin, gak ada yang berani sama dia."
"Dan P-four maksudnya empat pangeran, karena Alex dan teman-temannya itu cowok-cowok terkeren dan terganteng di sekolah ini, terutama Alex, gak ada yang lebih sempurna dari dia." jelas Nia dengan tersipu, membayangkan wajah cowok-cowok tampan itu nampaknya.
Nia mendengus, "Kamu gak ngerti juga?" agak kesal nampaknya. Kayla masih mengernyit menunggu kelanjutan penjelasan Nia.
"Jessica itu naksir berat sama Alex, jadi dia suka caper sama Alex dengan cara ikut-ikutan ngebully murid-murid disini. Gak cuma murid baru sih, tapi yang pasti kalo murid baru udah wajib tuh kena bully mereka.
Kadang juga mereka inisiatif duluan ngerjain murid baru sebelum Alex dan teman-temannya. Pada dasarnya sih, Alex dan teman-temannya itu emang suka jahil, siapa aja digangguin, jahilnya juga kadang keterlaluan. Selain karena dia anak pemilik sekolah, dia juga sering ilang kendali kalo lagi emosi. Makanya gak ada yang berani sama dia."
Kayla meringis mendengarnya.
"Apa kerennya cowok kayak gitu." gumam Kayla keheranan.
"Etss.. jangan salah, biar pun begitu, dia ganteng pake banget dan cerdas juga loh. Dia sering menangin olimpiade dan ngasih medali buat sekolah ini. Bangga lah.."
Kayla menggeleng tak habis pikir. Ada ya cowok kayak gitu. Biasanya kan kalo orang jahil, nakal, suka gangguin orang, itu tanda dia pemalas dan bukan murid pintar. Nah ini, dia punya karakter yang buruk dan bagus juga secara bersamaan.
"Dia senior ya?"
Nia menggeleng. "Enggak, dia kelas XI IPA"
"Kamu hati-hati ya Kay sama mereka" lanjutnya.
"Kenapa?"
"Ih..kok kenapa? Aku jelasin panjang lebar dari tadi kamu gak ngerti juga?"
"Aku ngerti, tapi mereka gak seserem itu kan sampe kamu harus ingetin aku buat hati-hati"
"Kamu jangan macam-macam, jangan bikin masalah sama mereka. Bahaya Kay kalo sampe Alex emosi, guru-guru juga gak berani ngadepin dia"
Kayla menaikkan alisnya tak percaya.
"Guru-guru juga gak berani?" ulang Kayla bermonolog.
"Iya, makanya lebih baik nanti kamu diemin aja kalo mereka ngelakuin sesuatu ke kamu, ntar juga mereka bosen kok. Beda lagi kalo kamu ngelawan, mereka bakal lebih gencar ngerjain kamu."
"Iya iya, aku ngerti. Makasih ya Ni!" ucap Kayla akhirnya, seraya menepuk bahu Nia.
Tak terasa mereka sudah sampai di kelas. Disana sudah ada Jessica Cs yang menatap remeh ke arah Kayla dan Nia.
"Si cupu sama si gendut, patner yang cocok banget gak sih gaess.." ledek Jessica, disambut tertawaan oleh kedua temannya.
"Yo'i..."
Kayla dan Nia berlalu melewati Jessica Cs, duduk di bangkunya masing-masing.
Tidak lama setelah itu, empat orang pria masuk ke kelas mereka. Kayla mengernyit, "mereka kan cowok-cowok yang kemarin" gumam Kayla sambil memperhatikan wajah para pria itu satu persatu. Kayla masih ingat dengan wajah-wajah menyebalkan mereka.
__ADS_1
Melihat keempat pria ini memasuki kelas Kayla, lantas siswa-siswi sekelasnya keluar satu persatu, dengan terburu-buru.
"Ada apa sih?" gumam Kayla pelan.
Kayla pikir ada sesuatu di luar, yang menarik mereka untuk meninggalkan kelas. Kayla pun beranjak dari tempat duduknya dan ingin mengikuti mereka. Ketika ia menoleh ke arah Nia teman sebangkunya, Nia yang berdiri kaku dan menatap was-was ke sekelilingnya, berlalu begitu saja tanpa mengajak Kayla.
Kayla yang akhirnya menyadari situasinya pun hanya bisa menghela nafas. Dia yang baru saja berdiri dari tempat duduknya tak punya pilihan lain selain diam di tempat, dengan Jessica Cs dan empat pria kemarin yang sudah mengelilinginya.
Kayla juga sudah mengerti sekarang, kenapa teman-teman sekelasnya kelihatan terburu-buru keluar kelas. Ternyata bukan sesuatu diluar kelas masalahnya, tapi yang baru masuk ke dalam.
"Empat cowok ini pasti P-four yang dibilang Nia tadi, hmm..pantesan kemarin perasaan aku gak enak ternyata mereka emang bukan anak baik ya" gumam Kayla dalam hati.
Glekk
Menatap wajah mereka satu persatu membuat Kayla menelan salivanya, cemas. Bagaimana tidak, tidak ada satu pun ekspresi bersahabat dari wajah mereka, semuanya menyeringai dengan tatapan tajam, seperti singa yang baru mendapatkan mangsanya.
Pria yang kemarin tidak sengaja Kayla peluk, kini duduk santai diatas meja Kayla dengan kedua tangan yang ia silangkan didada.
"Hai..murid baru." pria lainnya menyapa Kayla, nada bicaranya cukup ramah tapi ekspresi wajahnya tidak.
"Ini, Alexander Smith William The ruler of school" lanjutnya seraya menepuk bahu pria yang duduk di meja Kayla. Kayla mengangguk paham.
"Ooh.. jadi ini yang namanya Alex. Bener sih kata Nia, dia kelihatan ganteng dan cool, tapi gak keren menurut aku dia gak sopan, liat aja sekarang dia duduk di meja aku" batin Kayla.
"Sebagai penguasa disini, gue bikin sebuah tradisi. Setiap murid baru harus dikasih sambutan." Alex mulai berujar
"Dan seharusnya kemarin kita kasih lu sambutan, tapi karena gue gak ada waktu, ya... sekarang juga belum terlambat kan?!" ujarnya lagi, dengan senyuman misterusnya.
"Eh, tapi kemarin kita udah kasih dia salam perkenalan kan, bro" sergah salah satu temannya yang berdiri disamping Kayla.
Alex mengangguk seraya mengubah mimik wajahnya, kini ia terlihat mengeraskan rahangnya dengan tatapan tajam, Kayla menelan salivanya lagi.
"Oh ya? Jadi kalian udah ketemu dia kemarin?" tanya Jessica, ia nampak menatap Kayla tidak suka.
"Iya, kita sempat main sebentar. Iya kan, Cupu?" tanya seorang teman Alex lagi yang berdiri di depan Kayla.
Kayla hanya diam, menjaga agar tidak membuat mereka kesal. Kata Nia kan harus hati-hati sama mereka.
"Oke, warna favorit lu apa?" tanya Vicky, pria yang tadi pertama menyapa Kayla.
Kayla mengernyit bingung, "Kenapa tiba-tiba nanyain warna favorit? Apa permainan mereka udah dimulai?" batin Kayla bertanya.
"Em...putih" jawab Kayla ragu.
Mereka semua mendengus menatap Kayla dengan malas, membuat Kayla semakin tak mengerti.
"Yang lain?" tanyanya lagi.
"Merah"
"Jangan merah! Yang lain.." sahut pria disamping Kayla yang tadi mengingatkan salam perkenalan.
"Kenapa?" tanya Kayla akhirnya.
"Itu warna kesukaan Alex!" sahut Jessica setengah membentak.
Baiklah. Kayla bisa melihat jika pria yang duduk diatas mejanya ini suka warnah merah, karena Alex memakai jaket berwarna merah.
"Hm..aku juga suka hitam."
Mereka tersenyum mendengar jawaban Kayla kali ini, bahkan Alex sampai bertepuk tangan. "Howw..bagus!" ucap Alex semangat.
Sepertinya memang itu jawaban yang mereka inginkan. Alex kemudian beringsut dari duduknya dan mengisyaratkan sesuatu dengan matanya. "Bim..!" katanya.
Pria bernama Bima yang berdiri dibelakang Kayla, menunjukkan sebuah ember berukuran tanggung ke hadapan Kayla.
Dan...
Byuurr.....
Dia menumpahkan isi di dalam ember itu ke kepala Kayla.
Air berwarna hitam? Dan rasanya cukup hangat atau agak panas menyentuh kulit Kayla. Entah apa yang mereka campurkan di air hangat ini sampai warnanya hitam pekat.
"Uuffft..." Kayla tersedak.
Air hitam itu pun membasahi seluruh badan Kayla, bahkan tempat duduknya dan sekitarnya. Mereka semua memundurkan langkah agar tidak ikut basah oleh air yang baru saja ditumpahkan Bima.
Mereka menertawakan Kayla yang sudah basah dan menghitam seluruh tubuhnya.
"Elu punya waktu 10 menit buat bersihin ini semua." Jessica memperingatkan, seraya melirik jam dinding. Kayla jadi gelagapan, bagaimana ia bisa membersihkan semua ini dalam waktu 10 menit?.
"Seharusnya sih lu dateng lebih pagi, jadi lu punya banyak waktu buat bersih-bersih. Elu kan piket selama seminggu" sambung Luna yang sejak tadi hanya jadi penonton.
"Gimana? Suka, sama sambutan hangat kita?" kata Alex dengan songongnya.
Sambutan hangat katanya? Menumpahkan air hitam yang hangat ini dia sebut sebagai sambutan? Kayla mengepalkan tangannya kesal, tapi ia bisa apa? Memarahi mereka hanya buang-buang waktu saja. Toh, Kayla harus membersihkan dirinya dan lantai yang basah dan kotor ini sebelum bel masuk berbunyi. Menyebalkan.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...