
"Apa? Pak Bayu liat kita ke Dokter kandungan??" histeris Kayla.
"Ya ampun Ken.. kok bisa?! Jadi itu yang bikin Pak Bayu salah paham?" ujar Kayla lagi.
Kenzo tertawa puas sambil memegang perutnya, membuat Kayla jengkel.
"Ih...malah ketawa!"
"Masa' Pak Bayu kira gue ngehamilin elu! Haha... Padahal emang bener sih kita kesana meriksa kandungan."
Sreeeeett....
Gedebaggh!!
Alex mengerem mobil tiba-tiba, membuat Kayla dan Kenzo tersentak kaget. Sampai-sampai Kenzo yang duduk di jok belakang, kepalanya terantuk kursi.
"Busyeet.. kira-kira dong!" gerutu Kenzo.
Alex menghela nafas kasar, "A-..apa?! Kalian ngomongin apa, siapa yang hamil?" tanya Alex panik.
Kayla membulatkan matanya saat Alex bertanya dengan ekspresi syok. Kayla langsung mengangkat kedua tangannya kedepan dada dan menggerak-gerakkannya tanda membantah.
"Enggak, bukan aku!" sahutnya cepat.
Alex lega, benar-benar lega. la menyandarkan punggungnya ke kursi. Sedangkan Kenzo mendengus setelah ditatap horor oleh Kayla.
"Ini lagi satu. Untung otaknya waras, gak kayak Pak Bayu" celetuk Kenzo.
"Siapapun yang dengar lu ngomong begitu pasti kaget, dan pasti mikir macem-macem." jawab Alex bersungut-sungut.
"Kenapa berhenti sih?" tanya Kenzo pada Alex.
"Elu pikir gue bisa fokus nyetir sambil dengerin obrolan kalian yang gak wajar?!" sahut Alex kesal.
"Yaudah.. kita stop deh ngomongin itu. Buruan lanjut!" desak Kenzo, membuat Alex mendengus sambil menyalakan mesin mobilnya lagi, dan melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah beberapa saat suasana hening di dalam mobil, Kayla yang memperhatikan Kenzo memijit-mijit kecil lengannya itu lantas tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Ken, apa lengan kamu sakit juga? Kena pukul juga sama Pak Bayu?"
"Hm."
"Apa kamu sempet ngelawan?"
"Ya sempet lah, malah gue lawan terus. Bodo amat dia guru, dia mukul ya gue balas pukul, dia ngebentak ya gue bentak balik. Orang dia yang mulai kok." sungut Kenzo.
"Ya ampun..." Kayla menggeleng-geleng. "Lain kali jangan gitu lagi Ken, mau gimanapun juga Pak Bayu itu guru kita, lebih tua dari kita. Harus sopan dong!"
"Orang dia yang gak sopan duluan, mana bisa gue toleransi."
"Bisa, Ken! Kamu tahan dong emosi kamu, dewasa Ken.."
Kenzo mendesah malas, "lya..iya.. gue kan masih belajar, wajar dong kalo salah. Lagian susah tau nahan emosi sama orang kayak gitu"
"Ken, inget.. kamu bakal ngehadapin orang yang mungkin bakal memperlakukan kamu lebih buruk dari Pak Bayu! Jangan sampe kamu ulangin kesalahan kayak gini, kendaliin emosi kamu!"
Kenzo tertunduk murung, sedangkan Alex yang tak mengerti ke arah mana pembicaraan mereka hanya diam saja meski penasaran.
"Elu bikin gue parno, Kay."
"Bukannya gitu Ken, kamu harus mikirin soal itu dong. Mau gak mau kamu pasti ngehadapin situasi itu, jangan sampe kamu bikin kesalahan baru di atas kesalahan yang udah terjadi, yang nantinya bakal memperburuk keadaan. Aku ngingetin kamu loh, buat kebaikan kamu juga"
"lya..iya.. elu emang selalu bener" Kayla menyelis mendengar respon Kenzo yang nampak acuh.
Karena merasa terintimidasi oleh tatapan Kayla akhirnya Kenzo meralat. "lya Kay, makasih! Bakal gue inget kok" ujar Kenzo lagi, dan Kayla tersenyum.
Kenzo termenung, memikirkan yang baru saja Kayla katakan. Tidak lama lagi Kenzo akan menghadapi orang yang mungkin akan memperlakukannya lebih buruk dari Pak Bayu. Mungkin Kenzo akan dimarahi habis-habisan, dihajar atau bahkan dipenjarakan. Isshhh.. ngeri sekali Kenzo membayangkannya, tapi mau tidak mau ia harus menghadapi itu semua. Demi tanggung jawabnya atas dosa yang telah ia lakukan, ia harus bersedia dihina dan dihukum. Oleh orang tua Chika, maupun orang tuanya sendiri.
"Kay, Tante Nadia masih marah nggak sama gue?" tanya Kenzo.
"Enggak tau. Aku nggak berani lagi ngomong soal kamu ke mami."
Kenzo mendengus, "Al, bisa cepetan dikit nggak?" desak Kenzo, lagi.
"Ngebut maksud lu? Emang kenapa sih, buru-buru amat. Kebelet?"
Kenzo memutar bola matanya malas, sedangkan Kayla menertawakannya. "Sabar Ken, Chika gak bakal kemana-mana kok"
Kayla mengulum bibirnya spontan setelah menyebut nama Chika. Ya Tuhan... Kayla keceplosan. Seharusnya Alex tidak mendengar ini.
"Chika siapa?" tanya Alex.
"Sorry Ken..." cicit Kayla memelas, sedangkan Kenzo hanya memasang muka datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Alex jadi semakin penasaran. la lalu melirik Kayla dan Kenzo bergantian. "Apa Chika itu ada hubungannya sama masalah yang kalian sembunyiin?"
Kayla dan Kenzo saling melemparkan pandangan, kemudian Kayla mengangguk ragu sedangkan Kenzo menggeleng.
"Bukan ada hubungannya. Tapi emang dia masalahnya." sahut Kenzo.
"Serius gue penasaran. Kalian ngomongnya di depan gue sih, gak papa gitu gue denger?" ujar Alex.
Kayla dan Kenzo saling melemparkan pandangan. "Emm.. maaf Al." ucap Kayla tak enak hati.
"Enggak papa." sahut Kenzo singkat, membuat Kayla menatapnya tak percaya.
"Dia percaya sama gue Kay, apa salahnya kalo gue nyoba percaya sama dia." ujar Kenzo.
Kenzo mendesah lega, karena mereka sudah sampai di depan rumah Kayla. la buru-buru turun dari mobil sambil berkata, "Thanks bro!"
__ADS_1
Alex mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
"Kay!"
"Ya?"
Kenzo berpikir. "Emm... kalo menurut lu dia perlu tau, kasih tau aja nggak papa kok."
"Nggak papa?" ulang Kayla tak percaya.
"Hm. Ya tapi terserah lu sih, elu lebih bijak dari gue. Lagian.. dia bisa dipercaya kan." katanya kemudian berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Kayla.
Kayla terdiam berpikir sambil memperhatikan Kenzo dari belakang, sampai Kenzo menghilang dibalik pintu rumah. la kemudian melirik Alex, "Kenzo percaya sama Alex?" batinnya.
Bagi Kayla ini bukan tentang percaya atau tidak percaya, tapi masalah yang mereka tutupi itu adalah sebuah aib. Bagaimanapun juga, aib harus ditutupi serapat mungkin kan. Kayla tidak mau ada satu orang pun yang menghujat Kenzo atau menghinanya jika aib itu terbuka.
"Apa maksud Kenzo, aku boleh tau masalah kalian?"
Kayla ragu untuk menjawab. "Aku bingung deh, kok Kenzo pulang ke rumah kamu? Dan.. apa yang bikin dia pengen buru-buru pulang? Siapa Chika?" tanya Alex lagi.
Kayla menggerak-gerakkan bibirnya sambil berpikir, ia masih ragu.
"Enggak papa kalo kamu gak yakin buat cerita. Aku bisa ngerti kok." ucap Alex seraya tersenyum tipis.
"Maaf Al, setelah dengar obrolan aku sama Kenzo.. pasti kamu punya banyak pertanyaan. Gak bener dong aku biarin kamu penasaran lama-lama."
"Enggak papa Miss Kissable, kan kamu udah bilang ke aku kalo masalah kalian itu privasi dan sensitif. Aku ngerti kok, kamu gak perlu ngerasa bersalah sama aku."
Kayla tersenyum samar. "Apa yang terjadi hari ini Al? Aku heran Kenzo bisa percaya sama kamu, bahkan ngizinin aku buat ngomong soal privasi dia ke kamu"
Alex mengernyit berpikir, "Apa ya..? Aku bersyukur sih dia bisa percaya sama aku, tapi aku juga gak tau alasannya. Apa mungkin karena aku nolongin dia ya.."
"Al, makasih.."
"Makasih buat apa?"
"Karena kamu percaya sama Kenzo."
"Pasti situasinya beda kalo kamu lebih percaya omongannya Pak Bayu." lanjut Kayla.
"Sebenarnya aku bimbang Miss Kissable, aku gak bisa percaya gitu aja sama Kenzo, tapi yang dibilang Pak Bayu lebih gak bisa dipercaya. Yang jelas aku gak nyesal udah nolongin Kenzo yang hampir kena pukul Pak Bayu."
"Apa kamu.. sempat mikir yang jelek soal Kenzo?" tanya Kayla.
"Kok kamu nanya gitu?"
Kayla hanya tersenyum sambil menunggu jawaban Alex. "Waktu pertama aku dengar pernyataan Pak Bayu, aku syok. Ya, aku sempat mikir jelek soal Kenzo, tapi untungnya saat aku marah dia langsung nenangin aku. Pasti beda ceritanya kalo saat aku marah tadi dia juga balik marah."
"Bukan itu maksudku, Al"
"Trus?" bingung Alex.
"Maksudnya, apa kamu sempat mikir jelek soal kehadiran Kenzo? Emm... maksud aku, apa kamu pernah cemburu gitu sama dia. Karena kan aku deket banget sama dia." terang Kayla agak canggung.
"Boleh aku tanya dulu nggak?"
"Tanya apa?"
"Gimana perasaan kamu ke Kenzo?"
Kayla mengernyit geli, "Perasaan aku ke Kenzo?" ia lalu tertawa kecil dan berpikir. "Ya gimana ya, aku sama Kenzo.. ya kayak yang kamu liat. Hmm... aku lebih ngerasa kayak punya sodara sih kalo sama Kenzo."
"Kamu nggak naksir gitu sama Kenzo?" Kayla menaikkan alisnya heran atas pertanyaan Alex. la kembali tertawa, geli.
"Pertanyaan kamu aneh-aneh aja, Al."
"Eh ini kenapa malah kamu yang jadi nanya aku balik sih?! Kan tadi aku nanya kamu soal Kenzo." Kayla memanyunkan bibirnya.
Alex tersenyum. "Jujur, awalnya aku ngerasa keganggu sama kehadiran Kenzo. Ya pastinya karena kamu deket sama dia. Tapi makin kesini aku makin ngerti tentang hubungan kamu sama Kenzo, dan aku pikir.. buat apa aku cemburu. Kenzo kan udah kayak sodara buat kamu, harusnya aku juga bisa nganggep dia sebagai sodara dong bukannya malah nganggep dia saingan."
"Kenzo anaknya baik, dan yang jelas dia sayang sama kamu. Meskipun dia agak bangor ya, tapi aku liat dia ngebuktiin kalo dia itu bisa jadi sodara yang baik buat kamu. Kamu beruntung Miss Kissable, punya sahabat kayak Kenzo."
Kayla tertegun sesaat. "lya. Dia HeroKenzo ku." gumamnya lirih.
Alex menoleh ke wajah Kayla, karena ia menyadari perubahan dari suara Kayla. Wajahnya juga agak murung sekarang, ada apa?
"Miss Kissable, apa aku salah ngomong?"
"Enggak." Kayla langsung menggeleng. "Aku cuman keinget masalah yang sekarang aja."
"Boleh aku tau masalahnya? Mungkin aku bisa bantu."
"Makasih AI, tapi.. Kenzo pasti bisa kok nanganin masalahnya sendiri. Dan dia harus bisa! Itu masalah dia, dan dia harus bertanggung jawab."
"Aku cuman ngerasa getir aja sama keadaannya sekarang" Suara Kayla mulai parau, dan Alex mencoba memberinya support.
"Jujur, aku gak nyaman nyembunyiin masalah ini dari kamu, tapi aku rasa gak mungkin juga kalo aku ngebeberinnya ke kamu. Sekarang.. Kenzo malah ngeyakinin aku, kalo gak papa kamu tau masalahnya."
"Miss Kissable, masalah seserius apa yang bikin kamu sesedih ini? Aku gak bisa tenang liat kamu begini, kalo masalah ini emang privasi dan sensitif.. aku jamin aku bisa jaga rahasia."
Kayla tersenyum haru, senang Alex begitu memperhatikannya. "Masalah besar Al."
"Kenzo..." Kayla tercekat, ia menghela nafas dengan berat sebelum melanjutkan ceritanya.
"Jadi, Chika itu teman sekelas aku waktu di Bandung. Dia mantannya Kenzo, mereka putus dua hari sebelum Kenzo pindah Ke Jakarta. Beberapa hari yang lalu Chika dateng, dan..." Kayla menggigit bibir bawahnya getir, sembari menyeka sudut matanya yang basah.
"Dia hamil."
"Hah?!" kaget Alex.
__ADS_1
"M-..maksud kamu.. dia hamil.. sama.. K-..Kenzo??"
Kayla mengangguk, tangisnya pun pecah. Sementara Alex masih terperangah, mencerna kata-kata Kayla barusan. Ini sangat mengejutkan, dan ini masalah besar. Pantas saja mereka menutupinya, ternyata masalahnya memang sangat serius.
"Miss Kissable..." Alex menggenggam tangan Kayla dan mencoba menguatkannya.
"Aku nggak pernah nyangka Kenzo bisa sampe sejauh itu Al, aku ngerasa sakit banget pas tau itu...hiks.." ucapnya terisak.
"Dan Chika, aku nyesel sama kejadian ini. Padahal yang aku tau Chika itu cewek baik, tapi kenapa bisa sampe begini.. hiks.."
"Hei.. ssttt..." Alex mendekati Kayla dan menghapus air matanya.
"Kenapa...kenapa mereka kayak gitu.. mereka ngehancurin masa depan mereka sendiri AI.."
"Hei sayang.. kamu bilang Kenzo bisa nanganin masalahnya ini kan, kamu percaya kan sama Kenzo. Dia pasti bisa bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya" ucap Alex lembut sambil memegang kedua sisi wajah Kayla.
"Tapi Al.. ini berat.. Kenzo maupun Chika, hidup mereka bakalan berat. Aku gak tega Al.."
"Mungkin inilah takdir mereka. Dan mungkin ini cara Tuhan buat negur mereka. Setiap orang bisa ngelakuin kesalahan, dan setiap kesalahan itu pasti ada resikonya. Berat ataupun ringannya resiko itu tergantung sebesar apa kesalahannya. Tapi sebesar apapun kesalahannya.. pasti bisa diperbaikin kan."
Kayla mulai bisa mengkondisikan dirinya, tangisannya mulai mereda.
"Bukannya kamu juga udah nanganin masalah ini? Aku yakin kamu udah ngelakuin sesuatu buat Kenzo dan Chika." kata Alex sambil menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipi Kayla.
Kayla menarik sudut bibirnya, tersenyum. Ia menurunkan tangan Alex dari wajahnya dan menggenggam tangan itu. "Makasih Al.."
"Harusnya aku yang bilang makasih, kamu kasih aku kesempatan buat ada di samping kamu saat kamu butuh support. Aku ngerasa beruntung. Aku sayang sama kamu, Miss Kissable.."
Mereka saling menatap, cukup lama. Alex yang memutus tatapan lebih dulu.
"Hmm.. jadi Chika ada di rumah kamu?"
Kayla mengangguk. "Dan Kenzo buru-buru karena pengen nemuin Chika?" Kayla mengangguk lagi.
Alex terkekeh, "Baj****n juga ya si Kenzo" gumamnya pelan, tapi tentu masih bisa didengar oleh Kayla.
"Al..." tegur Kayla sambil menggeleng. "Aku tau, tapi aku gak suka ada yang bilang Kenzo begitu."
"Umm.. maaf sayang." sesal Alex.
Kayla menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu setelah dipanggil sayang dengan lembut oleh Alex.
"Ada apa? Pliss jangan nangis lagi." ucap Alex merasa bersalah.
Kayla pun mengangkat kepalanya sambil mendengus tersenyum. "Siapa yang nangis."
"Aku lega Al, akhirnya Kenzo nemuin Chika. Sejak pulang dari Dokter kandungan waktu itu.. Kenzo bener-bener nutup dirinya, dia frustasi banget, aku sampe takut terjadi sesuatu sama dia. Dan aku juga khawatir sama keadaan Chika, aku takut Kenzo gak mau nemuin dia. Tapi Alhamdulillah sekarang udah lebih baik."
"Jadi.. kalian ke Dokter itu buat meriksa kandungan Chika? Dan Kenzo gak masuk sekolah berhari-hari gara-gara masalah itu?"
"Hm."
"Tapi aku bersyukur banget hari ini Kenzo bisa semangat lagi, dan Chika pasti juga bisa lebih semangat sekarang. Semoga aja mereka gak berantem di dalam" kata Kayla sambil memandangi pintu rumahnya yang tertutup rapat.
"Ya semoga mereka gak berantem di dalam. Tapi.. kalo di dalam mereka ngelakuin sesuatu yang lain.. gimana?"
"Maksud kamu.. sesuatu yang lain, gimana?" bingung Kayla.
Alex cekikikan sendiri, membuat Kayla yang baru memahami maksud 'sesuatu yang lain' nya itu lantas mendengus dan memukul lengannya jengkel.
... ....
... ....
... ....
Chika duduk di tepi ranjang dengan wajah yang tertunduk, wajahnya basah dengan air mata. Sementara Kenzo masih berlutut dihadapannya dengan kedua tangan yang menggenggam tangan Chika. Kenzo juga menangis, ia begitu menyesali kesalahannya.
Keduanya bungkam, hanya isakan tangis keduanya yang terdengar memenuhi ruangan kamar minimalis Kayla.
Tentang penyebab Chika yang baru datang kemari setelah usia kehamilannya mencapai tiga bulan, adalah karena Chika sendiri baru mengetahui kehamilannya seminggu sebelum ia memutuskan pergi menyusul Kenzo. Chika terlalu larut dalam kehampaan dan kehancuran hatinya setelah ditinggalkan oleh Kenzo, hari-hari Chika hanya ia habiskan untuk mengingat Kenzo sehingga ia tak punya waktu untuk memperdulikan dirinya sendiri. Sampai akhirnya suatu hari di sekolah, teman-temannya mendiskusikan tentang menstruasi, kemudian salah satu temannya bertanya pada Chika apakah dia sudah kedatangan menstruasi bulan ini atau belum. Dari sana barulah Chika sadar bahwa periode bulanannya telah terlewat selama dua bulan, dan bulan berikutnya pun ia tak kunjung mens juga. Hingga ketakutan besarnya datang bagai mimpi buruk yang menjadi kenyataan, dia hamil.
Chika kalut dan frustasi berat. Dia mencoba menyembunyikan kehamilannya dari semua orang, namun hanya bertahan selama beberapa hari, kedua orang tuanya akhirnya mengetahui fakta yang menghancurkan dunia mereka itu. Kemudian setelah ratusan kali Chika tak berhasil menghubungi Kenzo, diapun memutuskan menyusul Kenzo ke Jakarta. Kini, meski Chika sempat mendapat penolakan dan rasa sakit lagi, akhirnya Kenzo menyesali kesalahannya dan mau menerima Chika dan calon anak mereka.
Kayla terdiam melihat pemandangan didepan matanya, ia mengintip sedikit dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Kayla juga merasa sesak, tapi setidaknya ia lega Kenzo mau menyadari kesalahannya dan sekarang merendahkan dirinya untuk memohon maaf pada Chika. Pasti mereka berdua sudah saling bicara dengan baik sebelum Kayla datang dan melihat drama air mata ini, Kayla tersenyum samar sambil menyeka sudut matanya yang basah.
Kemudian Kayla keluar membawa dua gelas teh, untuknya dan Alex yang sedang duduk di teras depan rumahnya. Kayla sengaja meminta Alex menunggu sampai Kenzo keluar agar mereka bisa pulang bersama, mengingat Kenzo yang meninggalkan motornya begitu saja di sekolah. Lagipula Alex juga ingin meminta maaf dan bicara langsung dengan mami Kayla. Karena sejak acara lamaran yang kacau malam itu, Alex belum bertemu mami lagi.
"Kay, gue pulang dulu!" ujar Kenzo yang baru muncul dari balik pintu.
"Eh lu masih disini?" tanyanya pada Alex.
"Biar dianter sama Alex pulangnya" sahut Kayla, membuat Kenzo terkekeh geli.
"Motor kamu kan kamu tinggal di sekolah, mau pulang naik apa emang? Gak usah gengsi deh" celetuk Kayla.
"lya.. iya.." jawab Kenzo.
Alex melirik jam tangannya. Ini sudah jam lima sore, seharusnya Tante Nadia sebentar lagi pulang, pikirnya.
"Santai aja dulu Ken, nunggu Tante Nadia" kata Alex, membuat raut wajah Kenzo berubah.
Kenzo belum siap bertemu Tante Nadia. Tante Nadia pasti sangat kecewa padanya setelah mengetahui bahwa Kenzo menghamili anak orang. Sebagai orang tua yang sudah menganggap Kenzo seperti anaknya sendiri, Tante Nadia pasti sakit hati dengan perbuatan Kenzo. Kenzo tidak punya muka untuk bisa menatap Tante Nadia lagi. Tapi mau tidak mau ia harus bertemu Tante Nadia sebelum pulang ke Bandung. la tidak bisa terus menghindar, apalagi nanti ia akan menghadapi orang tuanya sendiri, bahkan orang tua Chika juga.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...