
Sesampainya Kayla dan Alex di dekat aula, mereka memang menemukan Kenzo disana. Tapi..
Kayla dan Alex terbelalak kaget melihat pemandangan tak biasa di depan mata mereka. Alex mematung di tempat, sedangkan Kayla wajahnya menegang seketika, saking syok nya.
"K-..Ken..." gumam Kayla pelan hampir tanpa suara.
Seketika bayangan masa lalu kelamnya muncul, rasa takut, sedih, sakit hati, tak berdaya, dan hancur berkecamuk menjadi satu. Deru nafas Kayla mulai tak normal, mengikuti debar jantungnya yang semakin kencang.
Sedangkan Alex masih mematung di tempat, antara kaget dan tak percaya akan apa yang dilihatnya. Bagaimana tidak, di depan matanya kini Kenzo dan Jessica sedang berciuman panas. Belum pernah ia melihat pemandangan seperti ini selain di sebuah film yang pernah ia tonton bersama Bima, Sandi, dan Vicky. Aksi Kenzo dan Jessica lebih panas dari adegan yang ia saksikan difilm itu, mungkin karena ini nyata di depan matanya.
Astaga, bahkan Alex tidak bisa berkedip melihatnya. Mereka terlihat bersemangat sekali melakukannya, bahasa tubuh mereka menjelaskan itu. Bukan hanya bibir mereka yang bertautan dan bergerak bersahutan, tangan mereka juga tidak diam saja, bahkan langkah kaki mereka juga. Sudah seperti orang mabuk saja. Kenzo mendesak tubuh Jessica ke dinding, tanpa melepaskan tautan mereka, dan dengan mata yang terpejam. Bahkan mungkin saat ini mereka belum menyadari ada dua pasang mata yang menyaksikan aksi panas mereka yang disertai suara ******* kecil itu.
"KENZO!"
Tiba-tiba Kayla memekik dan menyergah ke arah mereka, mendorong tubuh Kenzo sampai jatuh terpelanting ke lantai. Sontak keduanya pun kaget lalu melihat ke arah Kayla dan Alex. Tapi bukannya menunjukkan ekspresi malu, mereka berdua kompak mendengus dengan tatapan jengah.
Kayla yang melihat ekspresi mereka itu lantas heran. "Ken, apa-apaan ini?! Sejak kapan kamu bisa kayak gitu, apa kamu gak mikir dulu sebelum ngelakuin perbuatan m***m itu?!" bentak Kayla.
Kenzo berdiri, dan raut wajahnya mulai agak canggung setelah ia membalas tatapan tajam Kayla. "Apa masalahnya?" tanyanya tanpa menatap Kayla.
"Apa?!" Kayla tak percaya. "Jadi sekarang kamu udah berani kayak gitu, bukannya dulu kamu udah komit kalo kamu gak akan ngelewatin batasan dalam pacaran?"
Kenzo tersenyum miring sambil melirik Jessica, ia lalu kembali menatap Kayla. "Gue ngelakuinnya sama pacar gue, dan dia gak keberatan."
Kayla tak percaya dengan jawaban Kenzo. Kini tatapannya berubah, tak tajam mengintimidasi seperti tadi lagi. la lalu melirik ke arah Jessica, Jessica berdiri dengan santai dengan menyenderkan punggungnya ke dinding, kedua tangannya terlipat di depan dada. Jessica mengedikkan bahunya saat Kayla menatap tanya kearahnya. Kayla tertunduk sedih.
"Ya Tuhan.. apa ini?! Aku pikir Kenzo gak pernah sejauh ini dalam berhubungan, tapi nyatanya..." batin Kayla lirih.
"Bahkan aku kira Kenzo maksa Jessica ngelakuin itu, tapi ternyata.. hhh.. aku gak percaya mereka bisa kayak gini. Dan Kenzo, dimana rasa malunya, dia gak sungkan sama sekali saat aku pergokin, bahkan dia ngakuin perbuatannya dengan bangga. Apa dia beneran Kenzo? Dia HeroKenzo ku?!" batin Kayla lagi.
Kayla menggeleng-geleng lirih. la lalu mengangkat kepalanya menatap Kenzo, dengan cairan bening yang menggenangi pelupuk matanya, bahkan satu tetes telah lolos mengaliri pipinya.
"Ken, aku gak percaya." ucap Kayla akhirnya.
"Kenapa, elu kira gaya pacaran gue masih kayak dulu? Gak zaman Kay..! Lagian gak perlu kali lu sekaget ini, kayak gak pernah aja."
Kayla mengernyit kesal, "Apa maksudnya..kayak gak pernah aja??" tanyanya dalam hati.
"Gak perlu natap gue kayak gitu Kay, kalo iri ya tinggal lakuin juga, apa susahnya sih."
Lagi. Kata-kata yang keluar dari mulut Kenzo menusuk ke hatinya, nyeri. Kayla melotot dan memundurkan kakinya selangkah dari hadapan Kenzo.
Alex yang sejak tadi hanya diam pun tak terima dengan sikap ketus Kenzo pada Kayla, apalagi kata-katanya yang tak berfilter itu, Kayla bisa saja tersinggung dengannya.
"Maksud elu apa ngomong gitu ke Kayla?" tanya Alex memprotes.
Kenzo terkekeh, "Apa? Elu jelas tau maksud gue. Kalian kan pernah ngelakuin apa yang barusan kita lakuin." Alex mengepalkan tangannya geram.
"Gue heran deh sama lu, harus ya lu bereaksi kayak gini?!" kata-kata itu hanya memancing amarah Alex saja.
"Ken, jaga mulut kamu!" gertak Kayla."
"Emangnya gue salah ngomong? Udah deh Kay, kita urus aja urusan kita masing-masing. Elu gak perlu ngurusin gue sama Jessica, dan gue.. juga GAK BAKAL LAGI ikut campur urusan lu sama Alex!" Kenzo menekankan kata-katanya dengan sarkas.
"Kenzo!" Kayla mengangkat tangannya dengan marah, ia hampir menampar Kenzo tapi urung ia lakukan.
"Apa Kay, elu mau nampar gue? Karena apa, elu tersinggung sama kata-kata gue, atau karena perbuatan gue?"
Kayla menundukkan kepalanya, dan menggigit bibir bawahnya agar tangisannya bisa ia tahan.
"Elu mandang gue rendah kayak tadi lu pikir gue gak tersinggung? Heh?! Cuman karena gue cium cewek gue sendiri. Apa kabar cowok lu yang baj****n itu, bukannya dia lebih ganas dari gue ya? Gak usah munafik deh."
"Ba***at!" Alex maju dengan amarah yang membara, ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak menghajar Kenzo.
"Jangan!" Kayla berbalik, berdiri didepan Alex agar menghalangi Alex mencapai Kenzo.
Hampir saja amarahnya reda dengan sergahan Kayla. Tapi apa yang Alex lihat, Kayla menangis. Alex pun semakin marah melihat air mata Kayla yang disebabkan oleh kata-kata menusuk dari Kenzo.
Tapi Kayla menahan tangan Alex agar tidak sampai melampiaskan amarahnya.
"Sorry Kay, gue sempat mikir kalo dulu kalian ngelakuinnya atas dasar saling suka. Gue masih gak abis pikir aja lu bisa maafin dia semudah itu"
Kayla kembali menghadap ke arah Kenzo. "Tolong jangan ngebahas soal itu lagi, Ken! Maaf aku udah lancang ganggu kalian, aku harap kalian bisa maafin aku" ucap Kayla dengan nafasnya yang tercekat.
Kayla segera berbalik setelah mengatakan itu, dan berlari pergi dari sana. Sementara Alex yang masih marah kini dilema, haruskah ia melanjutkan langkahnya yang tertahan untuk menghajar Kenzo, ataukah segera mengejar Kayla yang terluka.
"Gue bisa ngerti hubungan lu sama Kayla, karena itu gue masih diam. Tapi gue gak nyangka ya, elu bisa ngomong kayak gitu sama dia, apa lu gak mikirin perasaan dia?" kata Alex geram namun dengan nada yang rendah.
Kenzo terdiam. "Dan pliss, jangan pernah ngomongin soal kejadian dimasa lalu itu lagi! Elu gak ngerti seberapa keras Kayla berusaha ngilangin traumanya, gak mudah ngelupain itu. Dan elu gak tau seberapa berat usaha gue buat perbaikin kesalahan gue." lanjutnya dengan lirih.
Alex pun pergi setelah mengatakan itu. Sementara Kenzo masih diam dengan kedua tangan yang terkepal kuat, dan rahangnya yang mengeras geram.
"Elu yang salah, kenapa malah nyalahin gue?!" pekiknya berang.
"Elu yang baj****n, kenapa malah natap gue yang kayak baj****n?!"
"Elu yang gak ngerti gue, kenapa harus gue yang ngertiin lu?!"
Jessica takut mendengar Kenzo mengamuk seperti itu. Meski Kenzo tidak melakukan apapun, matanya yang sudah merah itu melotot, rahangnya menegang dan urat-uratnya menyembul saking tegangnya.
"Kenzo marah sama Alex, apa sama Kayla sih? Kok sampe segitunya." gumam Jessica dalam hati.
"K-..Ken.."
Dengan hati-hati Jessica mencoba menenangkannya. la mengusap pundak Kenzo, saat Kenzo menoleh ke arahnya Jessica bisa melihat mata Kenzo yang merah dan berair. Kalau Jessica tidak salah lihat, ada luka dari sorot matanya itu. Kenapa? Kenapa dia terluka, apa ada sesuatu yang dia pendam sampai dia melampiaskannya seperti ini?
__ADS_1
... ....
... ....
... ....
Kayla menghapus air matanya saat menyadari kedatangan Alex. Alex pun ikut duduk bersama Kayla, mereka ada di kelas Kayla saat ini.
"Ikut aku yuk!" ajak Alex.
"Kemana?"
"Ke tempat yang mungkin bisa bikin perasaan kamu lebih baik."
Kayla tertegun, tak merespon. Kemudian Alex meraih tangannya dan meminta izin, yang dijawab dengan senyuman oleh Kayla.
Alex membawanya menuju bagian paling atas gedung sekolah. Kayla tersenyum takjub melihat pemandangan di depan matanya.
"AI, aku baru tau kalo di sekolah kita ada rooftop nya juga. Bagus banget lagi, saingan nih sama hotel di depan sana." kata Kayla kemudian tertawa kecil.
"Kamu suka?"
"Hm. Suka banget. Dari sini kan kita bisa liat pemandangan lebih bebas, udaranya juga segar ya."
Alex duduk di sebuah kursi besi yang panjang, sambil memperhatikan Kayla yang masih berjalan-jalan mengagumi keindahan tempatnya berpijak sekarang, juga melihat pemandangan di bawah sana.
"Al, makasih" ucap Kayla kemudian duduk disamping Alex.
"Kamu udah gak sedih lagi kan?"
"Hmm.... sedih sih, tapi sekarang perasaan aku udah lumayan kok."
"Miss Kissable, aku mau nanya sesuatu."
"Ya?"
"Kenzo...suka sama kamu ya?"
"Hah?!" Kayla tertawa geli.
"Atau.. kamu yang suka sama Kenzo?" Kayla lantas menaikkan alisnya dan menghentikan tawanya.
''Bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu. Aku sama Kenzo tuh sahabat, dari kecil kita udah bareng Al. Ya.. udah kayak sodara lah, masa' suka sih. Ada-ada aja." celetuk Kayla.
"Tapi aku ngerasa kalo dia cemburu deh" timpal Alex.
"Dia, atau kamu?" tanya Kayla, membuat Alex mengulum senyum.
"Enggak kok. Aku ngerti hubungan kamu sama Kenzo, tapi aku gak suka sama sikap Kenzo tadi. Apa dia suka ngomong sembarangan kayak gitu sama kamu?"
Wajah Kayla murung, "Dia bahkan gak pernah biarin aku nangis, dia selalu bikin aku ketawa dan happy. Dia selalu ngelindungin aku, persis kayak seorang kakak yang selalu ngelindungin adiknya. Karena itu aku suka sebut dia HeroKenzo, dia pahlawan buat aku Al. Aku selalu ngerasa aman dan tenang sama dia."
Kayla menghela nafas panjang, "Tapi sekarang..." Suara Kayla mulai parau, ia tak melanjutkan kalimatnya.
Alex menggenggam tangan Kayla untuk memberinya kekuatan. "Jangan nangis ya!"
"Hm. Aku gak nangis kok" jawab Kayla sambil memperlihatkan wajahnya seraya mengusap sudut matanya yang basah.
Alex mendengus senyum. "Sekarang kamu ngerti kan Al, kenapa tempo hari aku sampe nangis banget di depan kamu sama orang tua kamu. Itu pertama kalinya Kenzo nyakitin hati aku." lanjut Kayla lirih.
Alex mengangguk mengerti. "Aku minta maaf ya Al." ucap Kayla kemudian.
"Loh, kenapa minta maaf?"
"Aku minta maaf atas nama Kenzo, gara-gara dia.. acara tempo hari jadi berantakan"
"Kamu gak perlu minta maaf, aku juga gak nyalahin dia kok. Justru aku yang harusnya minta maaf, sama orang tua kamu juga. Mungkin aku gak pernah bisa berhenti nyesalin perbuatan aku, tapi aku selalu berharap seenggaknya gak ada orang yang ngungkit kesalahan-kesalahanku itu lagi."
"Kamu gak marah sama Kenzo?" tanya Kayla.
"Awalnya aku marah, tapi aku ngerti kok kenapa dia sampe kayak gitu. Dia mungkin ngebentak kamu dan bikin kamu sedih, tapi inget Miss Kissable, dia ngelakuin itu karena dia sayang sama kamu. Kalo aku di posisi dia, aku pasti juga marah saat tau sodaraku sendiri jadi korban kayak kamu. Rasa sayang itu bukan cuman diungkapin dengan kelembutan kan, bisa juga dengan ketegasan dan kekhawatiran yang berlebihan, kayak yang Kenzo lakuin."
Kayla tertegun. Benarkah begitu? Jadi waktu itu Kenzo tidak sungguh-sungguh marah padanya? Dia hanya melampiaskan kemarahan dan kekhawatirannya saja atas apa yang telah menimpa Kayla! Tapi... tetap saja, Kayla merasa terluka saat mendengar Kenzo menyebut Alex 'baj****n'.
Kayla mendongak, menatap mata Alex. "Kamu gak benci sama Kenzo, padahal dia udah ngacauin acara kita."
"Cuman acaranya yang kacau, bukan perasaan kita. Iya kan?"
"Perasaan kita?" gumam Kayla dalam hati.
"Kamu pasti udah jelasin ke Mami sama Om kamu kan soal yang sebenarnya, kamu udah nyelesain masalah tempo hari kan?!"
Kayla menaikkan alisnya seraya mengangguk. "Kok kamu tau?"
"Karena aku liat kamu ceria-ceria aja pagi ini. Kalo situasinya masih kacau muka kamu pasti keliatan kusut."
Kayla cemberut, "Emangnya keliatan?"
"Keliatan lah. Sekarang kamu lagi sewot kan sama aku, tuh muka kamu ngasih tau aku." celetuk Alex, membuat Kayla terkekeh.
"Al?"
"Hm?"
"Gimana sama orang tua kamu? Kamu pasti dimarahin ya, aku liat papa kamu waktu itu kayak marah banget."
__ADS_1
"Itu udah pasti. Orang tua mana yang gak marah kalo anaknya kurang ajar, orang tua mana yang gak malu kalo anaknya ngelakuin sesuatu yang gak bermoral. Mereka marah tapi mereka masih mau dengerin penjelasan aku. Semuanya udah baik-baik aja kok." Kayla merasa lega.
"Gimana sama mami kamu? Om kamu?" tanya Alex.
Kayla diam. "Aku harus ketemu Tante Nadia secepatnya, dan minta maaf. Sama Om kamu juga."
"Enggak Al, mereka udah ngerti kok. Tapi mungkin masih sulit nerima faktanya, aku rasa ini bukan waktu yang tepat. Aku takutnya kalo kamu nemuin mami sekarang, mami belum bisa nerima kamu kayak sebelumnya. Dan Om lwan mungkin..."
"Akan benar-benar nuntut kamu, Al." lanjut Kayla dalam hati.
"Om kamu apa?" tanya Alex.
"Kalo aku harus dihukum aku bisa terima kok. Om kamu gak mungkin diam aja kan"
"Aku udah ngasih pengertian ke Om Iwan. Kebaikan buat diri aku lebih penting dibandingin ngehukum kesalahan kamu yang udah kamu perbaikin itu, Al. Om lwan gak jadi nuntut kamu kok"
Alex tersenyum samar, "Jadi.. sebelumnya Om kamu mau nuntut aku?"
Opss Kayla keceplosan rupanya. Alex pasti merasa bersalah lagi sekarang.
"Trus kenapa kamu gak biarin aja Om kamu nuntut aku?"
"Ya nggak bisa dong, Al! Situasinya sekarang kan udah beda."
"Tapi yang namanya kesalahan itu akan selamanya salah. Setelah tau semua itu.. pasti Mami sama Om kamu gak bisa nerima aku kan."
Kayla terdiam beberapa saat. "Apa kamu udah nyerah?" tanyanya kemudian.
"Enggak. Saat ini aku cuman lagi mulihin kepercayaan diriku, aku gak bakalan nyerah Miss Kissable.."
Kayla mengulum senyum seraya menyembunyikan wajahnya dari Alex. Tapi jangan kira Alex tidak tahu, Alex pun diam-diam tersenyum.
... ___________________...
Mood Kenzo tidak bagus akhir-akhir ini, sejak ia tahu bahwa Alex akan melamar Kayla, dan ternyata Kayla mencintai Alex. Tentang ungkapan cinta.. Kayla menepati janji yang mereka buat sewaktu kecil, bahwa jika nanti Kayla jatuh cinta maka Kenzo lah orang pertama yang akan ia beritahu. Seharusnya begitu juga sebaliknya, namun Kenzo tidak mau memberitahu Kayla siapa cinta pertamanya. Tapi tidak masalah bagi Kayla, karena Kayla tahu siapa pacar pertama Kenzo.
Di tengah kegalauan Kenzo akhir-akhir ini, untungnya masih ada Jessica disisinya. Jadi Kenzo memilih lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacar barunya itu, untuk menghibur hatinya dan mengalihkan pikirannya. Seperti malam ini, Kenzo baru saja keluar dari bioskop bersama Jessica. Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan.
Derrtt..derrrt..
Jessica memutar bola matanya jengah. Ponsel Kenzo berdering lagi, dan lagi. Kenzo pun kesal, ia merogoh saku celananya dan mematikan teleponnya.
"Siapa sih sayang? berisik banget hp kamu." gerutu Jessica.
"Huh, yang kemarin. Gak penting" sahut Kenzo malas.
"Yang kemarin lagi, mantan kamu itu?"
"Hm."
"OMG... jadi yang dari tadi gangguin kita itu dia? Astaga.. maunya apa sih, nelpon-nelpon mulu"
"Ya mana aku tau."
"Emangnya dia gak bilang? Marahin kek sekali-kali biar dia berhenti ngerecokin kamu!"
"Kamu mau aku angkat telpon dia, biar aku ngobrol sama mantanku?! Sampe sekarang aku selalu reject telpon dia loh sayang"
"Enggak enggak, ntar keterusan lagi kamu!" sahut Jessica seraya menyelis kearah Kenzo.
"Nah kan, makanya biarin aja udah. Gak penting juga."
"Dia... gak minta balikan kan?" tanya Jessica lagi.
"Hmm... mungkin sih." jawab Kenzo lempeng.
"lih..." sewot Jessica. "Biasanya ya cewek kayak gitu tuh pasti nge'chat nya bom banget, kalo nggak nelpon mulu. Apa dia nge'chat kamu juga?"
Kenzo mengedikkan bahunya acuh. "Di WA aku tuh banyak chat yang gak aku buka, gak tau juga siapa aja yang nge'chat. Males. Aku cuman mau baca dan balesin chat dari orang-orang penting aja. Yah.. kamu ngertilah" ujarnya sombong.
Jessica terkekeh seraya menepuk lengan Kenzo gemas. "Lagian ngapain juga kamu kepo sama dia, aku gak bakal ngeladenin dia. Dia gak ada apa-apanya dibanding kamu sayang, gak bisa dibandingin"
"Maksudnya?" selidik Jessica.
"Kamu itu.. cewek paling cantik yang pernah aku temuin. Hhh.. nyesel aku baru ketemu kamu."
Jessica mengernyit bingung. "lya. Diantara mantan-mantanku nih, kamu yang paling perfect. Sayang banget aku baru ketemu kamu sekarang. Coba dari dulu, pasti kamu bakalan jadi cewek aku satu-satunya."
Jessica mendengus senyum, antara geli mendengar gombalan Kenzo sekaligus tersanjung. Kenzo paling suka ini, Kenzo suka melihat seorang gadis tersipu malu saat ia rayu, apalagi yang dirayu adalah gebetan sendiri.
Dertt..derttt...
Lagi-lagi ponsel Kenzo berdering, panggilan masuk dari orang yang sama, yang dua hari ini sering menghubunginya. Kenzo tidak berminat menanggapinya, karena ia tidak mau menoleh ke belakang dan ia ingin terus melangkah ke depan bersama Jessica.
Kenzo tidak tahu saja, bahwa orang yang diabaikannya itu akan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dia akan membawa perubahan besar pada pribadi seorang Kenzo, dan mungkin saat Kenzo menyadarinya... badai telah siap menerjangnya.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1