
Alex geram mengetahui papanya telah meminta Kayla untuk menjauhinya, dan ia begitu terpukul ketika papanya bilang bahwa Kayla menyetujui permintaan itu.
Pagi ini Alex begitu tergesa-gesa ingin segera menemui Kayla. Ia harus bicara pada gadis itu, pasti ada yang tidak beres, kenapa Kayla menerima begitu saja permintaan papanya. Alex mengenakan seragamnya lalu menyisir rambut seadanya, ia tidak sabar untuk segera menanyakan hal itu pada Kayla.
Semalam ia sempat berdiskusi dengan mama mengenai hal itu. Mamanya lah yang memberitahu Alex perihal papa yang beralibi menjemput Kayla ke sekolah, dengan maksud membujuk gadis itu agar menerima keputusannya dan menjauhi Alex. Mama tampak begitu menyesal karena merasa gagal memperbaiki keadaan, dan malah membuat keadaannya semakin runyam. Tapi mama tetap berjanji tidak akan membiarkan Alex dan Kayla terpisah. Alex mengerti, dan ia tidak menyalahkan mama. Bagaimanapun juga mama yang paling mengerti dirinya saat ini, dan mama tidak akan menyerah untuk membantunya. Alex tahu mama bersungguh-sungguh, mendukungnya yang ingin memperjuangkan cinta.
Selesai bersiap-siap Alex keluar kamar dengan langkah memburu, ia tidak peduli pada para pelayan yang menegurnya, dan pada papa yang memanggilnya untuk sarapan. Tidak ada waktu untuk semua itu, lagipula Alex sangat marah pada papa yang seenaknya melakukan sesuatu yang papa inginkan.
... ....
... ....
... ....
Meski terburu-buru berangkat ke sekolah, Alex tetap harus menunggu Kayla datang. Karena tidak mungkin ia menemui gadis itu ke rumahnya, Tante Nadia dan Om Iwan tidak akan membiarkannya dan juga tidak ingin melihat wajahnya. Jadilah kini ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah di depan gerbang sekolah. Banyak siswi yang menyapanya dan menanyakan alasan ketidak hadirannya selama hampir seminggu. Tapi Alex tak memperdulikan mereka semua, karena baginya mereka hanya kepo dan mengganggu saja. Ia mengabaikan mereka, dan memarahi beberapa orang yang tetap ngeyel setelah ia suruh pergi.
Bima, Sandi, dan Vicky yang baru beberapa menit lalu sampai ke sekolah pun dibuat bertanya-tanya dengan sikap Alex. Mereka bertiga hanya diam berdiri di dekat Alex, setelah satu kali bertanya namun malah digertak. Tidak masalah bagi mereka, toh mereka memahami permasalahan serius yang kini Alex hadapi. Jadi yang mereka lakukan adalah mendampingi sahabat mereka itu, dan membantu menghalau para makhluk yang mendekat dan mengganggu Alex.
Alex menghela nafas lega saat netranya menangkap sosok gadis yang ia nanti-nanti. Kayla terlihat turun dari angkot dan berjalan ke arahnya. Tanpa buang waktu, Alex segera menghampirinya.
Langkah Kayla terhenti ketika melihat Alex berjalan mendekatinya, entah kenapa perasaannya langsung gelisah. Ia membiarkan Alex menghampirinya dan menyapanya, namun ia tetap diam tanpa tahu harus merespon bagaimana.
"Miss Kissable.." nafas Alex terdengar ngos-ngosan. Ada apa dengannya?
"Ikut aku yuk, kita harus ngomong." Katanya, dan Kayla masih melongo melihatnya.
Alex meraih tangan Kayla tapi tak lantas menariknya, ia menatap Kayla meminta persetujuan gadis itu. Kayla bingung, ia lalu menarik sedikit sudut bibirnya sebagai tanda persetujuan.
... ....
... ....
... ....
Kayla tertegun. Setelah Alex membawanya ke rooftop gedung sekolah, Alex menyampaikan maksudnya dan menanyakan apa yang ingin ia tanyakan. Kini Alex masih menormalkan deru nafasnya yang sebelumnya terasa sesak, ia menghela nafas ke udara berkali-kali. Dan ia masih menunggu klarifikasi dari Kayla.
"Papa kamu udah benar, dan aku nggak mau egois dengan mertahanin hubungan kita yang beresiko."
"Apa? Kamu ngomong apa Miss Kissable, aku nggak ngerti kenapa kamu kayak gini."
Kayla menoleh menatap Alex yang juga tengah menatapnya. Jujur, hati Kayla berat melakukan apa yang sudah menjadi keputusannya, hati Kayla berat mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin ia katakan. Tapi, ia sudah memutuskan dan ia tidak boleh gentar.
Namun saat ini.. menatap mata Alex seolah menggoyahkan pertahanannya. Kayla tidak tega menyakiti Alex, Kayla tidak mau Alex sedih apalagi kecewa. Saat ini Kayla tidak melihat binar dimata itu, sorotnya begitu redup dan sendu. Kayla tahu Alex takut mendengar kata perpisahan darinya, Kayla tahu Alex menaruh harapan besar padanya, tapi Kayla tetap akan melakukan apa yang tidak Alex inginkan. Sebenarnya bukan hanya Alex, bahkan hati Kayla tidak menyetujui apa yang akan dirinya lakukan.
Sebenarnya kegelisahan yang Kayla rasakan saat Alex berjalan menghampirinya di depan gerbang tadi, adalah ketidak siapan dirinya menghadapi Alex. Karena jika ia berhadapan dengan Alex artinya ia harus siap melihat Alex terluka. Kayla harus siap melakukan apa yang telah menjadi keputusannya. Meski ia sendiri tidak menginginkannya, ia tetap harus melakukannya, demi Alex. Demi cintanya, demi keamanan dan keselamatan Mr Strawberry nya.
Meski yang Om William utarakan pada Kayla kemarin masih sebuah kekhawatiran saja, Kayla tetap tidak mau mengambil resiko menempatkan Alex dalam bahaya. Apalagi bahaya itu disebabkan oleh dirinya. Jika Kayla bisa melakukan sesuatu demi melindungi Alex maka Kayla akan melakukannya. Dan memutuskan hubungan dengan Alex adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini. Tidak masalah jika Kayla harus mengorbankan perasaannya, bukankah Alex juga pernah berkorban untuk Kayla, bahkan tidak hanya sekali Alex melakukannya.
Bedanya dalam hal ini, meski Kayla berkorban.. Alex juga akan ikut dikorbankan. Kayla tidak hanya akan menyakiti dirinya sendiri, tapi menyakiti Alex juga. Mau bagaimana lagi, keadaan mereka saat ini sepertinya memang tidak merestui kebahagiaan mereka.
Kayla terkesiap kaget saat tangan hangat Alex menyentuh wajahnya. Rupanya pipi Kayla telah basah oleh air matanya dan Alex menghapus air mata itu.
"Miss Kissable, kamu nggak perlu ngelakuin sesuatu yang ngeberatin kamu. Apapun yang papaku bilang.. kamu nggak harus turutin, kamu cuman perlu dengerin kata hati kamu."
"Sesuatu yang berat buat dijalanin bukan berarti gak bisa Mr Strawberry. Dan jalan yang aku ambil ini pun atas pertimbanganku sendiri."
Kayla tersenyum getir, "Emang benar sih kalo perasaan sama logika bertentangan.. itu bikin kita sulit ngambil keputusan. Tapi sekarang aku udah bisa mutusin apa yang menurut aku emang terbaik. Aku harap.. kamu juga bisa."
"Jadi maksud kamu..?" Tanya Alex berat.
Kayla menggigit bibir bawahnya, menarik nafas lalu menghelanya sebelum bicara. "Hubungan kita cukup sampe disini. Aku setuju sama papa kamu, dan aku ngikutin kemauan Mami sama Om ku. Maafin aku Mr Strawberry.."
Duaarrr.............
"Maksud aku.. Al." ralat Kayla. Bagaimanapun juga Kayla harus membiasakan dirinya kembali memanggil nama Alex, tidak lagi Mr Strawberry. Sungguh lidah Kayla berat menuturkan kalimat menyakitkan itu, tapi ia harus melakukannya.
Alex terdengar mendesah berat, "Enggak Miss Kissable.." lirihnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Alex meraih kedua tangan Kayla lalu menggenggamnya. Sembari menatap ke dalam mata Kayla yang berembun, ia berkata..
"Jujur sama aku, kamu juga cinta kan sama aku?"
Kayla mengalihkan pandanganya dari Alex. "Miss Kissable, kenapa kamu lakuin ini? Kalo kamu sendiri ngerasa sakit dengan keputusan orang tua kita.. kenapa kamu malah nambahin rasa sakit itu? Kenapa kamu gak berusaha buat ngehilangin rasa sakit itu? Kamu tau kan kalo kata-kata kamu barusan itu nyakitin aku, nyakitin diri kamu sendiri juga." Suara Alex terdengar parau.
Kayla semakin menunduk karena tak sanggup menahan air matanya, ia masih berusaha agar Alex tidak melihat air matanya. Namun Kayla salah jika mengira Alex tidak mengetahuinya. Meski susah payah Kayla menahan dirinya, tetap saja suara tangisnya terdengar oleh Alex.
__ADS_1
"Kamu nggak mau mertahanin cinta kita? Kamu nggak mau berjuang? Kenapa kamu nyerah secepat ini Miss Kissable?"
Kayla melepaskan tangannya dari pegangan Alex, dan mengusap wajahnya, menghentikan tangisannya. "Al, terima kasih buat semuanya. Cinta kamu, perjuangan kamu, pengorbanan kamu, keyakinan kamu. Aku bersyukur atas itu semua, aku beruntung menjadi istimewa buat kamu." ucap Kayla sedikit bergetar, berusaha tenang sebisanya.
Alex menatapnya sendu. "Mulai sekarang.. belajarlah buat lupain semua itu Al! Ikatan cinta kita udah terputus, dan jangan berusaha buat berjuang lagi! Karena kita berdua cuman bakal capek dan lebih sakit lagi, aku nggak mau itu terjadi." lanjut Kayla sembari mengendalikan dirinya agar tidak kembali goyah.
Alex mengerekatkan gigi-giginya, geram sekaligus sakit mendengar ucapan Kayla. "Kenapa? Kamu minta aku nyerah, kamu tau kan itu bukan karakterku! Pertunangan kita emang udah diputusin tapi ikatan cinta kita gak bakal bisa diputusin! Jangan bohongin hati kamu Miss Kissable.. aku tau kamu nggak suka ngelakuin ini, kamu juga nggak mau kan kalo hubungan kita berakhir kayak gini?!"
"Aku mau atau enggak, itu nggak penting Al. Yang terpenting.. kamu baik-baik aja. Itu cukup buat aku." jawab Kayla dalam hati.
"Orang tua kita udah nentuin keputusan mereka, mereka tau yang terbaik buat kita, dan mereka pasti selalu pengen yang terbaik buat anaknya."
"Orang tua siapa? Mama aku sama sekali nggak setuju dengan keputusan itu. Mama yang paling ngerti kita saat ini Miss Kissable, mama tau perasaan kita, dan dia nggak akan biarin hubungan kita berakhir. Buat mama, anak-anaknya harus bahagia, dan itu juga yang kita mau kan!"
"Yang terbaik nggak selalu harus kebahagiaan Al, tapi keamanan dan ketenangan itu juga baik. Mamiku ngerti keadaanku, dan ngerti perasaanku juga, tapi mami tetap keberatan aku ngelanjutin hubungan kita."
"Mami kamu cuman masih nggak bisa terima penghinaan dari papa aku Miss Kissable. Aku yakin pasti mami kamu sebenarnya juga nggak mau kamu kehilangan cinta kamu kan!"
"Apapun itu, pertunangan kita putus.. itu udah bener kok Al. Kita harus mulai ngelupain perasaan kita, memutus ikatan hati yang ada diantara kita." ucap Kayla mulai bergetar lagi.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Kayla tak suka. Alex tidak rela Kayla mengambil keputusan itu. Alex rasa bukan hanya hatinya yang sangat terluka mendengar penuturan Kayla, tapi nafas Alex kini juga mulai sesak. Sementara Kayla sendiri sudah bersusah payah menahan gejolak dadanya yang kian bergemuruh, sekarang ia rasa ia tak tahan lagi. Ia tidak mau menangis lagi didepan Alex, ia harus kuat dan menunjukkan kalau dirinya tidak terpaksa melakukan ini.
Kayla berdiri tiba-tiba, dan langsung pergi meninggalkan Alex. Sontak Alex menyusulnya, Alex tidak akan membiarkan Kayla menghindari dirinya.
"Miss Kissable..!"
Kayla semakin mempercepat langkahnya sambil berusaha mengabaikan Alex, juga berusaha menahan tangisannya.
"Miss Kissable, tunggu! Miss Kissable..!"
"Aku nggak terima keputusan kamu! Aku nggak akan berhenti buat perjuangin kamu! Aku nggak akan sia-siain cinta kita, kamu juga nggak boleh ngelakuin itu Miss Kissable.."
Alex terus bicara sambil menyusul langkah Kayla, ia agak memekik karena Kayla semakin jauh didepannya dan mungkin gadis itu tidak mau mendengarkannya. Alex tidak bisa membiarkan ini.
Tiba-tiba Kayla berhenti dan berbalik, membuat langkah Alex reflek terhenti.
"Stop Al! Cukup, cukup! Urusan kita udah selesai, hubungan kita juga udah berakhir. Jangan ngomong apapun lagi, jangan lakuin apapun lagi, udah cukup semuanya sampe disini!" peringatkan Kayla tegas.
Alex tertegun sesaat, "Aku nggak bisa! Aku nggak akan dengerin kamu kali ini, aku akan tetap sama prinsipku dan keputusanku sendiri. Aku nggak akan berhenti dan nggak akan pernah nyerah!" balas Alex dengan nada yang sama.
... ....
... ....
... ....
Tidak ada yang bisa fokus pada pelajaran pertama hari ini, baik Alex maupun Kayla tidak ada yang bisa berhenti memikirkan satu sama lain.
Kayla menghembuskan nafas panjang ke udara, ia memejamkan matanya dan tenggelam dalam suasana hatinya yang kacau. Ternyata seberat ini yang namanya sakit hati karena putus cinta. Tidak, sebenarnya ikatan cinta dihati mereka baik-baik saja, tidak ada yang ingin melepaskan satu sama lain. Keadaan lah yang memutus paksa ikatan mereka, namun sesungguhnya tautan itu tak benar-benar terpisah.
"Kay, ada apa?"
Kayla membuka matanya saat Adit menyapa, Nia yang duduk disampingnya juga menatap dengan ekspresi yang sama. Haruskah Kayla bilang sejujur pada mereka?
"Kamu.. kayak ada beban gitu? Jangan dipendam sendiri Kay, siapa tau kita bisa bantu." ujar Adit lagi yang diangguki oleh Nia.
Kayla berpikir sebelum menjawab, "Diantara kalian.. ada yang pernah pacaran?"
Nia dan Adit lantas bingung, saling melirik. "Aku nggak. Adit pernah sih, iya kan Dit?" ujar Nia.
Adit jadi merasa grogi dan salah tingkah, "Kok nanya begitu Kay?"
"Gimana rasanya putus cinta?" tanya Kayla langsung.
"Hah?!" Lagi-lagi Nia dan Adit saling melirik bingung.
"Perasaan aku kok nggak enak ya denger pertanyaan kamu." Nia menatap Kayla menyelidik, agak cemas.
Dan Adit memikirkan hal sama dengan kecemasan Nia, "Kay..?" tanya Adit.
"Miss Kissable!"
Mereka bertiga serentak menoleh ke arah pintu kelas, Alex berdiri disana. Pandangan Nia dan Adit lalu beralih pada Kayla, dan Kayla mengalihkan pandangannya dari mereka semua.
"Dit, tolong jangan biarin dia kesini! Aku nggak mau ngomong sama dia."
__ADS_1
"Hah?!" Nia dan Adit kembali saling melirik, mereka tentu heran dan langsung menyadari ada yang tidak beres.
"Kay, kamu bilang apa?" tanya Nia.
Alex melangkah masuk ke kelas karena Kayla mengabaikannya.
"Kay?" tanya Adit menengok wajah Kayla.
"Aku nggak mau ngomong sama dia Dit, aku nggak mau liat dia!" cicit Kayla agar tidak didengar oleh Alex.
"Apa?! Kamu yakin Kay?" Kayla mengangguk.
Adit tidak mengerti apa yang terjadi diantara Kayla dan Alex, tapi karena Kayla memintanya menghalangi Alex maka Adit berdiri dengan ragu. Adit melangkah maju dan berdiri didepan Alex, membuat Alex terhenti dan melihat padanya.
"Gue nggak tau ada masalah apa, tapi Kayla minta gue hentiin elu." ujar Adit sungkan.
Alex mencelos, ia memandang Kayla dari balik punggung gadis itu, sambil menelan salivanya berat. "Bilang sama dia, gue cuman pengen perbaikin masalahnya. Kasih gue kesempatan."
Adit mengangguk kecil kemudian menghampiri Kayla. Belum sempat Adit berucap, Kayla mendahuluinya karena Kayla juga mendengar apa yang Alex katakan tadi.
"Urusan aku sama dia udah selesai Dit. Gak ada lagi yang perlu kita bahas, gak ada apapun lagi diantara kita."
"Kay??" Nia dan Adit terperangah tak percaya.
"Miss Kissable-.."
"Stop!" sergah Kayla. "Dit, suruh dia pergi!"
"Bicarain baik-baik Kay, jangan kayak gini." tegas Adit.
"Udah Dit.. udah kita bicarain! Makanya aku bilang nggak ada lagi perlu dibahas."
"Kay..." lirih Nia cemas.
"Udah kita bicarain tapi belum selesai. Dan nggak akan selesai kalo kamu nggak mau dengerin aku." sahut Alex.
Adit menatap tanya pada Kayla, "Udah selesai kok Dit, dianya aja yang keras kepala. Aku capek." ucap Kayla mulai frustasi.
Adit pun berdiri dan kembali kehadapan Alex. "Gue nggak ngerti, tapi gue pikir Kayla butuh waktu."
"Gue udah banyak buang waktu, dan masalah ini nggak bisa ngambil banyak waktu. Semuanya bakal memburuk kalo gak diperbaikin sekarang." jawab Alex yang juga mulai terlihat frustasi.
Alex hendak melangkah maju tapi ditahan oleh Adit. "Sorry, tapi gue nggak akan biarin lu bikin Kayla tertekan."
Alex mendengus, ia tak suka peringatan Adit tapi Adit benar. Ia sendiri pun tidak mau membuat Kayla tertekan, tapi ia tidak bisa membiarkan situasi mereka seperti ini.
"Gue cuman mau perbaikin hubungan kita, elu nggak bisa halangin gue!"
"Tapi Kayla nggak siap buat ngeladenin elu." sergah Adit.
"Mendingan elu nggak usah ikut campur." kata Alex mulai emosi.
"Tapi Kayla yang minta gue ikut campur."
Alex berdecak kesal, ia mendorong bahu Adit agar menyingkir dari jalannya tapi Adit siaga, Adit tetap pada posisinya dan menatap Alex tak suka. Alex benar-benar marah sekarang.
Kayla langsung menoleh saat mendengar umpatan kemarahan Alex dan betapa terkejutnya Kayla melihat Alex menarik kerah baju Adit dan mengangkat kepalan tangan satunya yang siap meninju wajah Adit.
"PUKUL DIA!" gertak Kayla membuat Alex terhenti, kedua pemuda itu lantas menoleh ke wajah Kayla yang kesal.
Kayla melangkah mendekati keduanya. "Pukul dia, dan aku nggak akan mau ngomong sama kamu lagi!"
Kayla pergi dengan kesal setelah menggertak Alex, membuat emosi Alex reda sekaligus berubah menjadi penyesalan. Alex sontak menjatuhkan kedua tangannya gontai, ia menarik nafas dalam seraya memejamkan kedua matanya.
"Kenapa jadi begini...?!" batinnya mengeluh lirih.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1