Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Waspada


__ADS_3

Buggh


"Aakkhhh...." Arman mengerang keras, sekeras hantaman benda berat yang berhasil dipukulkan Nadia ke kepalanya.


Arman menyadari apa yang baru saja Nadia lakukan, ia melotot dengan wajah yang merah padam. Namun sebelum ia bereaksi lebih dari itu, ia ambruk. Kesadarannya hilang


Sepersekian detik berikutnya barulah Nadia bisa bernafas lega. Segera Nadia menyingkirkan Arman dari atas tubuhnya, lalu keluar dari mobil dalam keadaan yang tidak stabil. Tubuh Nadia masih tegang dan gemetar, perasaannya pun masih gelisah dan pergerakannya gelagapan. Nafasnya juga ngos-ngosan, ia berjalan cepat menuju ke rumah Chika. Sesekali Nadia menoleh kebelakang, waspada dan memastikan kalau Arman tidak akan melihatnya.


Yang dipikirkan Nadia saat ini hanya satu, yaitu membawa Kayla pergi secepatnya dari sini sebelum Arman siuman. Nadia tidak akan membiarkan Arman menemui Kayla apalagi sampai menyentuhnya. Ketakutan Nadia akan terulangnya tragedi buruk di masa lalu membuatnya sangat waspada. Langkah Nadia sampai di rumah Chika, sebelum menemui Kayla dan yang lainnya, Nadia menuju toilet lebih dulu untuk membersihkan wajahnya dan menata kembali penampilannya yang berantakan. Setelah dirasa lebih baik, ia pun keluar dari toilet dan menemui Tante Lia yang masih duduk di tempat.


"Nad, kamu baik-baik aja kan, kok lama amat ke toilet nya?" tanya Tante Lia setelah memperhatikan Nadia dari atas ke bawah.


Sebisa mungkin Nadia menyembunyikan ketegangan dan kegelisahannya di depan Tante Lia. Nadia tersenyum tipis dan mendengus pelan.


"lya Mbak, tadi aku baik-baik aja."


"Mbak, maaf.. aku harus pulang sekarang. Ada sesuatu yang urgen banget, aku gak bisa lama-lama disini." ucap Nadia agak terdesak.


"Loh kok tiba-tiba?" bingung Tante Lia.


"Enggak tiba-tiba kok Mbak, cuman aku lupa ngasih tau Mbak Lia tadi."


"Yah... padahal kita baru aja ketemu lagi. Sorean aja ya Nad pulangnya, ya..?! Bisa kan?"


Nadia tersenyum kecut, "Aku sebenarnya juga masih kangen sama Mbak Lia, sama Bandung, tapi ya gimana... ini urgen banget Mbak, aku bener-bener harus pulang sekarang."


"Nad, liat anak-anak, pasti mereka pengen lebih lama disini. Mereka masih happy-happy, kasian kalo harus pulang buru-buru. Sebenarnya kamu ada masalah ya?"


Nadia mengalihkan pandangannya ke arah pelaminan, dimana anak-anaknya tertawa riang bersama-sama. Memang benar kata Tante Lia, tidak tega rasanya Nadia memudarkan senyum kebahagiaan mereka dengan memisahkan mereka sekarang, karena ini adalah hari yang penting bagi anak-anaknya. Dan ini juga kali pertama Kayla ke Bandung lagi setelah pindah setahun yang lalu. Tapi, masalah saat ini tidak mungkin Nadia abaikan. Nadia merasa diburu waktu dan situasi, ia membuat Arman pingsan beberapa menit yang lalu, dan Arman bisa siuman kapan saja. Akan buruk jika Arman sampai menjalankan rencana jahatnya untuk membawa Kayla.


"Maafin aku Mbak, tapi ini beneran urgen, aku harus bawa Lily pulang sekarang juga. Aku tau mungkin keterlaluan aku cuman datang sebentar buat Mbak dan Kenzo saat ini, tapi aku bener-bener nggak bisa lebih lama lagi disini Mbak."


Tante Lia mendengus lesu, namun ia tetap tersenyum. "Yaudah, makasih ya Nad kamu udah nyempetin dateng. Aku ngerasa lebih nyaman disini, karena ada kamu yang nemenin aku. Tapi, kalo ada masalah kamu cerita aja Nad sama aku!"


Nadia tertegun sesaat. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Tante Lia? Tidak, tidak. Nadia tidak ingin merusak momen pernikahan Kenzo dengan kabar buruk yang ia hadapi saat ini.


"Aku nggak papa Mbak. Maaf aku harus ninggalin Mbak sekarang, tapi lain kali kita ketemu lagi, aku janji kita bakal punya banyak waktu buat ngobrol kayak dulu lagi"


Tante Lia tersenyum lalu berdiri dan memeluk Nadia. "Aku bisa ngertiin kamu, kamu punya kehidupan yang baru sama Kayla di Jakarta. Makasih ya.. kamu udah mau ngunjungin aku dan jadi saksi pernikahan Ken. Lain kali aku yang datang ngunjungin kamu ke Jakarta Nad!"


"Makasih Mbak.."


Nadia dan Tante Lia kemudian menuju pelaminan untuk memanggil Kayla, Alex, dan juga kedua adik kembarnya. Sekalian berpamitan dengan Kenzo dan Chika. Tidak lupa juga berpamitan kepada tuan rumah, yaitu kedua orang tua Chika.


Kayla tentu heran saat sang mami tiba-tiba berpamitan untuk pulang. Kenzo pun tak habis pikir kenapa Kayla dan maminya harus pulang secepat ini. Bahkan Kenzo sempat merajuk, tidak mengizinkan Kayla pergi. Namun mereka tetap berpisah setelah beberapa menit berpamitan bahkan sampai beradu mulut. Dan Kayla, meski ia tak mengerti maksud sang mami yang mengajaknya pulang terburu-buru, ia tetap menurut dan menahan dirinya untuk bertanya di depan Kenzo dan Tante Lia.


Alex pun heran, sambil berpikir dan mencoba mengerti situasi ia didesak Nadia untuk segera mengeluarkan mobil dari parkiran dan bersiap untuk pulang. Nadia merasa terlalu banyak memakan waktu, ia tidak bisa membiarkan Arman sampai muncul dihadapannya. Akhirnya ia pun mendesak Kayla serta Sita dan Fita untuk masuk kedalam mobil, melihat gelagat maminya yang aneh Kayla merasa ada yang tidak beres dengan maminya.


"Ayo Al, tunggu apa lagi?!" desak Nadia saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"I..iya Tante." jawab Alex bingung.


Sebelum mobil benar-benar meninggalkan halaman rumah Chika, mereka menyempatkan bertegur sapa dan melambaikan tangan pada Kenzo, Chika, dan Tante Lia yang berdiri di depan sana untuk mengantarkan mereka.


Nadia berkali-kali menoleh ke belakang sejak mobil Alex mulai melaju, membuat Kayla menoleh ke arah yang dituju maminya. Bingung, Kayla mulai bertanya ada apa dengan maminya namun sang mami tidak menanggapi.


Setelah beratus-ratus meter mobil melaju jauh dari rumah Chika, Nadia menghela nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya. Tentu saja semua gelagatnya tidak luput dari perhatian Kayla dan Alex. Sementara Sita dan Fita masih mengoceh karena terlalu sebentar bertemu dengan Kenzo, namun mereka juga senang sekali bisa menikmati keseruan hari ini.


"Mi..?" tegur Kayla halus.


"lya sayang?"


"Mami kenapa? Apa ada masalah?" tanya Kayla untuk yang kesekian kalinya.


Nadia terdiam. "Tante, maaf.. aku liat Tante kayak gelisah gitu. Tante nggak perlu sungkan sama aku, ngomong aja Tante." kata Alex hati-hati.


"Nanti Tante cerita kalo udah sampe rumah ya!" sahut Nadia seadanya.


"Mi, Lily nggak bisa tenang kalo mami belum bilang. Ada apa sebenarnya mi?"


"Nanti mami cerita, tapi nggak sekarang sayang."

__ADS_1


Meski ada yang mengganjal di hati Kayla, dan meski ia juga merasa cemas, ia akhirnya diam dan berhenti bertanya.


... ....


... ....


... ....


Hari sudah malam saat mereka sampai di Jakarta, Nadia meminta Alex menginap melihat Sita dan Fita telah tertidur pulas. Dan karena Nadia juga ingin menceritakan apa yang ia alami di Bandung tadi siang. Nadia pikir Alex berhak tahu masalah ini, karena Alex akan jadi bagian dari keluarganya. Alex menurut saja, ia menempatkan Sita dan Fita di ranjang Kayla, lalu duduk bersama Nadia dan Kayla di sofa ruang tengah.


Sebelum mulai bicara, Nadia menilik wajah Kayla dan Alex bergantian. Sementara Kayla sudah tidak sabar ingin mendengar alasan sang mami yang tiba-tiba bergelagat tak biasa.


"Lily?"


"lya mi?"


"Apa Alex tau soal papi kamu?" tanya Nadia, membuat Kayla terkesiap dan tak mengerti kenapa sang mami tiba-tiba menanyakan itu.


Kayla tertegun, perasaan cemasnya kian menjadi. la tidak berpikir kesana sebelumnya, tapi mendengar pertanyaan sang mami barusan membuat Kayla menduga hal-hal negatif yang berhubungan dengan papinya.


"lya. Saya tau Tante." jawab Alex.


"Sejauh mana yang kamu tau?" tanya Nadia lagi.


"Mi, ada apa? Mami ketemu papi?" tanya Kayla cepat, sebelum Alex menjawab pertanyaan maminya.


Nadia menghela nafas lalu mengangguk. "lya."


Kayla terperangah. "Mami.. Mami nggak papa kan? Gimana mami bisa ketemu papi? Kapan? Trus apa aja yang terjadi?" tanya Kayla tak sabar.


"Mami nggak papa. Mami cuman khawatir sama kamu, makanya mami ngajak kalian pulang cepat."


"Maaf Tante, apa papinya Lily punya niat jahat?" tanya Alex hati-hati.


"lya. Kalo enggak, Tante nggak bakal segelisah ini"


Kayla menunduk murung. "Papi minta ketemu Lily?" tanya Kayla tanpa melihat maminya.


"Kenapa mami nggak bilang? Lily kangen sama papi.."


Nadia terperangah tak percaya. "Apa kamu bilang?"


"Emang salah kalo Lily ketemu papi? Lily kangen Mi sama papi, seenggaknya biarin Lily liat papi sebentar aja"


"Lily, ngebiarin kamu ketemu dia sama aja nempatin kamu dalam bahaya. Kamu tau itu! Dia nggak berubah, dia masih ngincer kamu buat tujuan yang sama. Kamu pikir mami bisa biarin itu?!" Nadia mulai emosi.


"Tapi dia papi Lily mi, mungkin aja kan papi datang juga karena kangen sama Lily" sahut Kayla.


Nadia mendesah kecil. "Lily, mami nggak bermaksud misahin kamu dari papi kamu. Mami tau kamu sayang sama papi kamu. Tapi sayang.. selama dia belum berubah dan masih nyoba nyakitin kamu, mami nggak bisa biarin dia deketin kamu."


Mata Kayla berkaca-kaca. "Mami kamu benar Miss Kissable, nggak mungkin ngebiarin kamu ketemu sama papi kamu selama itu bahaya buat kamu. Keselamatan kamu yang terpenting." timpal Alex.


"Tapi mungkin aja kan mi papi sekarang udah berubah." kata Kayla keukeh.


Nadia menggeleng lemah. "Sayangnya enggak. Mami sempet cekcok tadi sama papi kamu, dan mami bisa pastiin kalo kamu dalam bahaya. Karena itu mami buru-buru ngajak kamu pulang sebelum dia sadar."


"Sadar?" bingung Kayla.


Nadia mendengus kecil. Sebenarnya ia tidak mau menceritakan bagian ini pada Kayla, tapi ia harus meyakinkan Kayla bahwa papinya memang berniat jahat, dan tindakan yang Nadia ambil tidaklah salah.


"Sebenarnya papi kamu sempat ngancem mami, dan nyoba buat nyakitin mami." Kayla membulatkan matanya, begitu juga Alex.


"Maksudnya Tante?" tanya Alex.


"Dia ngancem, kalo mami nggak nurutin dia maka mami nggak bakal bisa liat Lily lagi. Dia mau bawa Lily pergi dari mami, tapi mami juga nggak mau nurutin dia."


"Emangnya.. papi minta mami nurut buat apa?" tanya Kayla.


Nadia memejamkan matanya, ia ragu untuk menjawab. Bagaimanapun juga itu adalah hal yang memalukan.


"Dia maksa nyentuh Mami. Mami nolak jadi terpaksa Mami mukul dia sampe pingsan." lanjut Nadia.

__ADS_1


Kayla terperangah kaget. "Mami manfaatin waktu saat dia pingsan buat kabur. Karena kalo dia bangun dan liat kamu, dia nggak bakal lepasin kamu. Mami nggak bisa bayangin sesuatu yang buruk terjadi sama kamu sayang" lanjut Nadia.


Kayla merasa menyesal karena tadi sempat menyalahkan maminya. "Maaf Mi.. tapi Mami beneran nggak papa kan?"


Nadia tersenyum seraya mengangguk. "Mami nggak papa sayang."


Alex terdiam berpikir. Meski Kayla dan maminya bisa meloloskan diri dari papi Kayla saat ini, tidak menjamin bahwa mereka benar-benar aman kan. Bisa saja pria berbahaya itu masih mengintai mereka, terlebih Kayla. Alex harus waspada, meski kejadian itu terjadi di Bandung, tidak menutup kemungkinan kalau kejadian seperti itu bisa terjadi juga disini. Pria seperti itu tidak mungkin hanya berdiam diri dan menerima kekalahan begitu saja, setelah menemukan kembali targetnya.


Satu hal yang jelas, jika sebelumnya mereka pindah ke Jakarta untuk mengamankan diri dan menyembunyikan keberadaan mereka, maka kini keberadaan mereka sudah terlacak. Kondisi ini tidak bisa Alex abaikan. Bagaimana pun juga kini Kayla dan maminya adalah bagian dari hidup Alex, keselamatan dan kebaikan keduanya adalah tanggung jawab Alex. Kayla dan maminya mungkin boleh lega dan merasa aman, tapi tidak dengan Alex. Sebagai laki-laki yang harus melindungi keduanya, Alex harus waspada dan mulai memperhatikan segala sesuatu yang bisa saja mempengaruhi keamanan keduanya. Jika perlu Alex akan meminta beberapa ajudannya untuk mengawasi Kayla dan maminya demi memastikan keselamatan keduanya.


... _______________...


Keesokan harinya, Kayla dan Alex menjalani aktivitas sekolah seperti biasanya. Begitu juga Nadia, dia mencoba melupakan kejadian kemarin meski itu sangat mengganggunya. Hari ini Nadia sempat tidak fokus dalam bekerja, karena terlalu terbawa perasaan akan ketakutannya. Namun ia kembali menepis rasa takut itu. Saat ia teringat ketika Arman bilang..


"Jangan kamu kira aku bego Nad, kali ini aku nggak sendiri"


Nadia mulai merasa gelisah lagi. Bagaimana jika kemarin Arman memang tidak sendirian, dan ada anak buahnya yang mengintai Nadia dan Kayla?


... ....


... ....


... ....


Sepulang sekolah Alex mengantar Kayla sampai ke rumah, Nadia juga sempat menelpon Alex untuk tidak meninggalkan Kayla sendirian sampai Nadia pulang. Dan disinilah Alex kini, duduk di teras sambil menunggu Kayla berganti pakaian. Alex berniat mengajaknya makan siang di luar sekalian jalan-jalan, setidaknya sampai Nadia pulang dari kantor Alex akan mengantar Kayla pulang.


Alex melirik jam tangannya. la mengernyit ketika merasa aneh, sudah lebih setengah jam Kayla masuk ke rumah untuk berganti pakaian, tapi gadis itu tak kunjung muncul juga sampai saat ini. Tadinya Alex berpikir mungkin Kayla mandi karena itu dia lama, tapi sekarang Alex mulai merasakan firasat buruk. Tanpa menunggu lagi, ia masuk kerumah Kayla sambil memanggil-manggil Miss Kissable nya berkali-kali. Tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda Kayla ada di kamarnya, meski Alex sudah menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Kayla.


"Miss Kissable..! Miss Kissable.. kamu di dalam kan?" panggil Alex sembari mengetuk pintu kamar Kayla.


Alex semakin tak tenang. "Miss Kissable.. jawab dong, kamu di dalam kan..?!"


"Pliss deh sayang, jangan bikin aku parno, kalo kamu nggak jawab aku, aku masuk nih..!"


Masih tidak ada jawaban. Dengan perasaan cemas sekaligus bimbang, ia memberanikan diri membuka pintu kamar Kayla. la tahu ini lancang tapi demi ketenangan perasaannya maka ia harus memastikan kalau Kayla baik-baik saja.


Ceklekk


Pintu kamar terbuka lebar, Alex membulatkan matanya dengan debaran jantung yang bergemuruh.


"Miss Kissable.." gumamnya lirih.


Sebagian sudut kamar Kayla terlihat berantakan, di sekitar ranjang dan nakas dekat jendela. Gelas dan jam weker yang seharusnya berada di tas nakas malah berserakan pecah di lantai. Entah sejak kapan, Alex tidak mendengar suara yang mencurigakan selama ia duduk di depan. Pintu belakang kamar Kayla juga terbuka lebar, perasaanya pun semakin cemas. la menghambur masuk ke kamar itu dan mencari-cari keberadaan Kayla.


"Miss Kissable.. kamu dimana? Miss Kissable.."


Alex mengamati pecahan gelas di dekat nakas, ia berjongkok untuk memastikan penglihatannya. Ada bercak darah dilantai dekat pecahan gelas itu, Alex lantas terkesiap.


"Miss Kissable.." lirihnya seraya menyentuh darah itu dengan perasaan semakin cemas.


Ternyata bercak darahnya tidak hanya berada di lantai saja, Alex berdiri untuk melihat bercak darah lainnya yang menempel di pintu belakang. Bercak darah yang ini seperti jiplakan telapak tangan, Alex bisa menebak bahwa darah ini berasal dari tangan seseorang. Apa itu milik Kayla? Apa Miss Kissable nya terluka?


Alex keluar kamar dari pintu belakang dan kembali mencari-cari Kayla, namun gadis itu tak terlihat juga. Alex pun panik, ia mengusap wajahnya frustasi.


"Miss Kissable.. kamu dimana sayang..? Apa yang terjadi..?!"


Setelah beberapa menit mencari-cari Kayla di seluruh bagian rumahnya serta di sekitar rumahnya, Alex baru menyadari bahwa mungkin Kayla diculik oleh papinya!


Alex mendesah berat, ia marah sekaligus menyesali kelalaiannya. Seharusnya la mengetahui kejanggalan ini sejak awal, seharusnya ia tidak boleh lengah dalam menjaga Kayla. Alex cukup terkejut papi Kayla akan bertindak secepat ini, jika memang dugaannya benar. Alex kalah cepat, sehingga keselamatan Kayla terancam.


"Ya Allah.. Miss Kissable..!" Alex mengacak rambutnya frustasi.


Apa yang harus ia katakan pada Tante Nadia jika sudah begini?! Bagaimana caranya ia bisa menemukan Kayla? Kemana papi Kayla membawanya jika dia memang menculik Kayla?


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2