
Pak Bayu mencuci mukanya di kran wastafel, kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin, ia menghela nafas panjang meredam amarahnya yang memuncak dan membuat dadanya panas karena terbakar api cemburu.
Jika bukan di depan kepala sekolah, ia tidak mau lagi berbalik dan menjawab pertanyaan Kayla. Tidak tahan rasanya menatap wajah Kayla dan Alex, apalagi perilaku Alex didalam sana tadi.
Pak Bayu tahu Kayla adalah korban, tapi mendengar Alex yang seolah merayu Kayla. Pak Bayu jadi berang. Disamping itu, Pak Bayu tidak bisa menentang Alex, sehingga ia sendiri merasa tidak berguna dan kesal akan posisinya. Kalau saja ia adalah siswa biasa dan bukan guru, ia pasti sudah menghajar si brengsek Alex itu sejadi-jadinya, ingin sekali ia melampiaskan amarahnya itu.
Sekarang ia merasa menyesal, ekspresi wajah Kayla saat memanggil namanya dan suara lirihnya saat memohon pembelaan darinya tadi.. sungguh membuatnya terluka. Akibat amarahnya dan ketidak berdayaannya, ia telah memberikan kesan buruk tentang dirinya dimata Kayla, gadis yang ia sukai.
... ....
... ....
... ....
Setelah menampar Alex Kayla langsung pergi dengan marah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Percuma saja kalau Kayla mengumpat, ia sudah lelah berdebat dengan Alex.
Saking kagetnya, Bima, Sandi dan Vicky yang melihatnya dari jarak dekat sontak terbungkam, wajah Alex tertoleh ke kanan dan sedikit tertunduk akibat tamparan Kayla yang cukup keras. la tidak menyangka sama sekali Kayla akan bertindak seberani itu. Alex menggeram, ia melotot dan mengerekatkan gigi-giginya, tangannya terkepal kuat. Jejak tangan Kayla di pipinya menambah rasa panas yang menjalar ke ubun-ubunnya.
Sebenarnya, saat Kayla mencegat Pak Bayu dan melangkah maju sembari berbicara pada guru olahraga itu, Alex meniliknya saat Kayla menghentikan langkahnya disamping Alex. Entah kenapa saat itu Alex langsung teringat saat dia mencium paksa Kayla tempo hari. Aroma parfum dari tubuh Kayla saat itu begitu membuatnya mabuk, dan tiba-tiba saja saat ini Alex sangat penasaran. la mendekatkan wajahnya ke arah Kayla untuk memastikan apakah gadis itu memakai parfum yang sama atau tidak, Alex penasaran ingin menghirup aroma manis itu lagi. Tapi, indera penciuman Alex tak mendapati aroma yang ia sukai itu dari tubuh Kayla.
"Baguslah!" Batinnya, Setidaknya Alex tidak perlu susah-susah mengendalikan dirinya seperti tempo hari. Tapi entah kenapa hati kecilnya merasa sedikit kecewa ketika tak mencium aroma sejuk yang dirindukannya itu dari tubuh Kayla.
Dan yang terjadi, tanpa sengaja.. kalimat yang sensual sekaligus kasar itu malah keluar dari mulutnya, saat wajahnya berdekatan dengan wajah Kayla, sehingga menyulut amarah gadis itu.
"Cewek sialan!" umpatnya geram hampir tanpa suara.
"Kurang ajar ya tuh cewek! Berani-beraninya dia nampar elu Al" ujar Sandi berang.
"Kita apain tuh biar dia jera?!" sambung Vicky tak kalah berangnya.
"Terserah! Lu urus tuh cewek sialan! Gue muak!" bentak Alex tanpa menoleh seraya berlalu, dengan langkah kasar dan memburu meninggalkan ketiga temannya.
"Eh, kok gue yang kena marah?" keluh Vicky.
"Gak waras apa tuh cewek? Gak ada takut-takutnya! Kita atur rencana, buat bikin dia jera" ucap Bima geram.
"Rencana apa?"
Ketiganya lantas terkesiap mendengar suara lain dari arah belakang. Mereka menoleh serentak, dan mendapati Pak Rahmat yang berdiri di tempatnya dengan tangan yang ia silangkan di depan dada dan ekspresi wajahnya yang serius.
Astaga.. Bima, Sandi, dan Vicky lupa kalau mereka masih berada di ruangan kepala sekolah!
... ....
... ....
... ....
Sementara Kayla duduk di bawah pohon, melamun dan menangis tanpa suara. Adit menghampirinya, agak ragu awalnya tapi ia tekan perasaannya itu dan lantas duduk di samping Kayla.
"Ternyata kamu disini.. aku sama Nia nyariin kamu kemana-mana loh."
Kayla hanya melirik Adit dari balik bulu matanya tanpa menoleh, dan enggan menjawabnya. la bahkan tidak bereaksi apapun saat Adit datang, ia masih betah pada posisinya.
"Mereka semua kaget Iho Kay ngeliat kamu nampar Alex, aku sama Nia juga."
Masih tak ada respon dari Kayla.
"Kamu bisa tegas banget gitu Kay sama dia." Adit tertawa kecil mengingatnya. "Jangankan kita yang ngeliat, Alex sendiri aja pasti bingung mau bereaksi gimana."
Adit melirik Kayla yang masing mematung dengan air mata yang membasahi pipinya. Adit lalu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusapkannya dengan lembut pada pipi Kayla yang basah.
"Buat apa nangisin cowok kayak Alex?"
Kayla terkesiap dan reflek mendongak, menoleh ke arah Adit saat merasakan sesuatu menyentuh wajahnya.
"Siapa juga yang nangisin dia." bantah Kayla sambil menerima sapu tangan dari Adit dan mengelap air matanya.
"Aku bisa ngerti perasaan kamu, maafin aku ya Kay.. aku gak bisa lakuin apa-apa buat kamu, teman macam apa aku ini!"
Kayla menoleh, "Kamu percaya sama aku, Dit?"
"Tentu."
"Kenapa kamu percaya?"
"Karena aku kenal baik sama kamu, dan aku juga tau Alex."
__ADS_1
Kayla sempat terdiam sebelum bertanya lagi, "Apa yang aku lakuin hari ini, salah?"
Adit sedikit terkesiap, "Kok kamu nanya gitu?"
"Karena mereka semua nganggep aku begitu. Masalah yang sangat serius buat aku malah dianggap receh sama mereka, mereka kayak gak percaya sama aku, atau mereka cuman ngomong dibalik topeng? Karena masalah ini dibikin sama Alex, dan mereka masing-masing cari aman, meskipun harus nutupin kebenaran? Aku gak ngerti, Dit!" lirih Kayla.
"Emang gitu keadaannya Kay, mau gimana lagi. Korban gak akan dianggap korban meskipun jelas.. siapa pelakunya dan siapa korbannya. Alex itu bukan lawan yang seimbang buat kamu, jangan nyakitin diri kamu lagi dengan ngeladenin dia, Kay!"
Kayla menoleh menatap Adit yang juga tengah menatapnya. "Kenapa, Dit? Kenapa kamu ngelarang aku buat berurusan sama Alex?"
Adit mengalihkan pandangannya sebelum menjawab, "Kamu tau sendiri alasannya, Nia juga sering ngingetin kamu kan? Apa yang kamu alamin sebelumnya seharusnya bisa jadi peringatan kan buat kamu? Apa kamu gak takut kalo terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi Kay? Aku khawatir sama kamu."
"Makasih udah khawatirin aku" Kayla menatap lurus ke depan seraya tersenyum tipis. "Tapi emangnya apa yang bisa terjadi? Hal paling buruk udah terjadi, Dit. Aku gak takut. Dan aku juga udah sangat dipermalukan, apa lagi yang bikin aku ragu buat ngelawan Alex? Aku udah gak punya harga diri yang bisa ngehalangin aku buat ngelakuin apa pun yang aku mau, apalagi hari ini-.."
"Maafin aku Kay!" lirih Adit memotong ucapan Kayla, membuat Kayla menoleh lagi dengan tatapan bingung.
"Harusnya aku bisa jadi saksi buat ngedukung kamu dan belain kamu." ucap Adit dengan nada yang terdengar menyesal.
"Tapi kamu gak ada di sana waktu itu, apayang mau kamu bilang di depan semua guru? Kamu mau bilang kalo kamu teman aku dan kamu percaya sama aku?" Kayla terkekeh.
"A..aku.." Adit menunduk, "Aku ada di sana Kay." lirihnya, membuat Kayla terkesiap.
"Apa kamu bilang?"
Adit harus mengulangi perkataannya barusan agar Kayla percaya.
"Aku ada di sana saat Alex nyakitin kamu, aku liat semuanya." ucapnya berat.
Kayla terbelalak tak percaya, sebelum Kayla menyergah Adit lebih dulu melanjutkan kata-katanya. "Tapi aku gak berdaya, Kay. Aku diam, gak nolongin kamu, gak belain kamu. Aku pengecut."
Kayla menggelengkan kepalanya dan menatap Adit kecewa, tapi kemudian Kayla menampik rasa kecewanya itu dengan cepat. la kenal Adit, tidak mungkin kan Adit diam tanpa alasan?
"Jelasin! Kenapa kamu diam?"
"Kamu marah Kay? Aku ngerti, aku tau kamu bakal marah sama aku kalo kamu tau ini. Aku emang-...
"Dit! Jelasin kenapa kamu diam? Kamu gak setakut itu kan sama Alex sampai kamu ngebiarin dia nyakitin aku?" kini nada bicara Kayla meninggi dan menatap Adit kesal.
"Adikku, Kay. Adikku lah alasannya."
Kayla mengernyit bingung. "Adik kamu?"
Kayla kaget mendengarnya. Kayla teringat saat Adit bilang kalau ia tidak berdaya melawan Alex karena ia memiliki adik perempuan yang merupakan siswi disini, dan Adit juga pernah bilang kalau adiknya itu pernah menjadi korban bullying Alex dan teman-temannya.
"Adik kamu diapain sama mereka?"
"Mereka ngurung Annisa di gudang, sedangkan di gudang itu banyak banget tikusnya. Mereka sengaja naroh tikus-tikus itu disana buat nakut-nakutin Annisa."
"Emangnya dia bikin salah apa?"
"Bukan dia, tapi aku. Kamu ingat, waktu kamu dibully diikat di tengah lapangan waktu itu, aku nolongin kamu meskipun Alex ngancem gak boleh ada yang nolongin."
Kayla mengangguk, "Gara-gara itu.. mereka ngebully Annisa." lanjut Adit, membuat Kayla terkesiap mendengarnya.
"Apa? Mereka ngebully adik kamu karena kamu nolongin aku?"
"Sebenarnya.. sebelum ini aku sering nolongin anak-anak yang dibully sama mereka, mereka marah karena aku ikut campur dan ngelampiasinnya ke adik aku."
"Meskipun aku gak tega ngebiarin Annisa dibully gara-gara aku, tapi aku juga gak tega ngeliat anak-anak yang dibully. Annisa juga sering ngingetin aku buat gak ikut campur tapi aku gak dengerin."
"Mereka marahnya sama kamu, tapi mereka nyerang adik kamu?" Adit mengangguk.
"Kenapa? Karena adik kamu cewek?" Adit kembali mengangguk.
"Itu mah namanya mereka yang pengecut, Dit. Bukan kamu."
"Ya... mereka mikirnya aku bakal jera kalo mereka nyakitin adik aku, tapi aku gak peduli waktu itu dan tetap bantuin anak-anak yang dibully. Sampai akhirnya mereka berhasil bikin aku jera, mereka nyelakain Annisa Kay." Kayla menaikkan alisnya kaget. "Annisa jatuh dari tangga dan terluka parah, dia sampai opname di rumah sakit hampir seminggu. Aku hampir aja kehilangan adik aku satu-satunya gara-gara itu. Setelahnya aku janji sama Annisa, sama diri aku sendiri juga.. kalo aku gak mau ikut campur urusan mereka lagi, aku gak mau ngebahayain adik aku lagi."
Kayla sampai menutup mulutnya karena kaget saat Adit bilang Annisa sampai terluka dan dirawat di rumah sakit.
"Ya ampun Dit, keterlaluan banget mereka. Orang tua kamu.. tau?"
Adit tersenyum kecut, "Aku bilang itu kecelakaan, aku nggak bilang yang sebenarnya. Papa aku karyawan diperusahaan papanya Alex, Kay. Jadi aku gak mau nambah masalah baru dengan ngelibatin orang tua. Dan Alhamdulillah.. Annisa baik-baik aja sekarang."
"Jadi, hari itu adik kamu dibully gara-gara kamu nolongin aku, aku jadi gak enak sama dia." lirih Kayla.
"Maaf ya Kay."
__ADS_1
"Eh, kok kamu yang minta maaf sih? Harusnya aku-.."
Adit menyela sebelum Kayla selesai bicara. "Kay, aku sama Annisa nyaksiin Alex nyakitin kamu tempo hari, tapi kita cuman diam. Padahal aku udah mau nyamperin kamu, tapi Annisa ketakutan, aku juga sempat dilema antara ngelindungin adik aku atau nolongin kamu. Dan Annisa ngajak aku buru-buru pulang pas Alex maksa nyium kamu."
Kayla tertegun, kemudian ia tersenyum samar.
"Aku ngerti Dit, kamu gak perlu ngerasa bersalah. Kamu bukan pengecut kok, kamu itu kakak yang baik. Justru cowok-cowok jahil itu yang pengecut, bisa-bisanya mereka ngebully adik kamu buat bikin kamu keliatan pengecut. Aku gak abis pikir" ucap Kayla seraya geleng-geleng kepala.
"Kay, setelah semua yang terjadi... apa kamu masih berniat buat ngerubah keadaan? Kamu masih tetap mau ngelawan Alex? Meskipun kamu bakal dipermaluin lagi atau dihujat?"
"Aku udah gak mau peduliin apa kata orang, Dit. Pilihan aku cuman dua, aku keluar dari sekolah ini.. atau aku ngelanjutin apa yang udah aku mulai. Perubahan itu pasti terjadi, Dit. Kalo aku berhenti sekolah, Alex pasti menang. Tapi kalo aku tetap ngelawan dia apalagi setelah tau kelemahan dia.. rencana aku pasti berhasil. Ya meskipun butuh waktu." Kayla mengatakannya sambil membayangkan dan tersenyum tipis.
"Apa yang bisa aku lakuin buat kamu, Kay?"
"Enggak ada, cukup jangan halangin aku, dan gak usah ikut campur."
Adit tersenyum, "Tadi kamu bilang, kamu tau kelemahan Alex? Maksudnya apa Kay?"
"Aku masih mastiin dugaan aku, Dit. Tapi yang jelas.. kita perlu tau titik kelemahan lawan kita kan buat bisa ngalahin dia?!"
Adit tersenyum seraya mengangguk. "Aku bangga bisa jadi teman kamu, Kay. Aku akan selalu dukung kamu."
"Makasih, Dit. Makasih juga udah mau nemenin aku ngobrol. Aku ngerasa lebih tenang sekarang, apalagi liat senyum kamu itu" Kayla menghela nafasnya lega.
Adit terkekeh setelah sempat terpana saat Kayla menyebut tentang senyumannya. "Kenapa senyum aku? Manis? Kamu suka?" tanyanya.
Kayla mengalihkan pandangannya dari Adit, merasa tersipu.
Untuk beberapa menit hanya keheningan yang meliputi mereka, sesekali angin sejuk berhembus menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon sekitar mereka.
"Kay? Kamu tau kita lagi dimana?" suara Adit memecah keheningan.
Kayla mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Di bawah pohon."
Adit tersenyum masam sambil mengedarkan pandangannya juga. Kayla merasa aneh dengan reaksi Adit, sehingga ia penasaran.
"Di belakang sekolah?!" Adit masih memberikan reaksi yang sama. "Kenapa sih Dit? Emang ada yang aneh sama tempat ini?"
Adit lalu menilik lekat tepat ke belakang Kayla, membuat Kayla menoleh ke arah yang sejurus. Detik berikutnya Kayla dibuat terperangah, takjub akan pemandangan yang ada di belakangnya.
"Ya.. ampun, ini bagus banget. Kok aku baru nyadar ya kalo disini ada karya ukiran seindah ini." ucap Kayla berdecak kagum sambil meraba-raba permukaan badan pohon yang terukir sebuah pahatan indah disana.
Pola klasik dari ukiran di pohon itu terlihat begitu mengagumkan, orang yang memahatnya pasti sangat telaten sehingga menghasilkan karya seindah dan serapi itu.
"Apa yang bikin ekspresi muka kamu aneh gitu Dit? Ini bagus banget Iho."
"Ukiran itu emang bagus, tapi kamu gak liat di atasnya juga ada ukiran lain?"
Kayla langsung mendongak ke arah yang dimaksud Adit. Di atas ukiran indah itu ada ukiran lain yang juga tak kalah indah, tapi... itu bukan pola klasik melainkan ukiran sebuah nama. Sebuah nama yang bisa membuat siapa saja langsung gentar saat nengetahuinya.
"ALEX??"
"lya, ini milik Alex."
Kayla terbelalak.
"Pohon ini, tempat ini, dan ukiran yang indah ini.. Alex yang bikin. Kamu tau, saat ini kita lagi ada di markas pribadinya Alex!"
"Apa?? Kayla histeris.
"Jadi ini yang bikin kamu keliatan takut tadi?" Adit mengangguk.
"Kalo kamu tau ini markas pribadi Alex, ngapain kamu kesini? Ntar kamu kena masalah lagi, atau adik kamu yang kena masalah?!" Keluh Kayla.
"Kamu disini, makanya aku kesini. Lagian aku tau kalo kamu lagi sedih dan butuh teman ngobrol, jadi aku disini buat kamu Kay. Aku gak ada waktu itu, waktu kamu sangat membutuhkan uluran tanganku saat kamu terpuruk, jadi sekarang aku gak mau nyesal karena gak ada buat kamu saat ini. Biarin aja kalo aku kena masalah sekali ini, yang penting aku bisa bantu kamu nenangin diri."
Kayla terpana mendengarnya, hatinya serasa menghangat seketika saat Adit mengatakan itu. Tidak peduli sekarang berada dimana, yang jelas Kayla merasa tenang dan nyaman duduk bersama Adit disini, di bawah pohon besar nan rindang yang katanya milik Alex.
"Masa' bodo! Mau ini markas Alex atau bukan. Aku betah disini, sama Adit." gumam Kayla dalam hati.
Adit yang manis. Kayla merasa beruntung bisa mengenal Adit, menjadi teman duduk dan berbagi cerita dengannya. Lupakan saja masalah Alex! Saat ini Kayla merasa senang, tenang dan tidak punya beban apapun. Bersama Adit, Kayla bisa melupakan kesedihannya. Dan Adit adalah pelipur lara baginya.
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...