Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Mengobati Luka


__ADS_3

Aaakhh..!!


Alex menjerit reflek saat ia terpeleset hingga jatuh ke lantai keramik. Kakinya barusan menginjak lantai yang basah akibat genangan air hujan, terlebih lagi langkahnya yang tidak seimbang telah menginjak pinggiran teras dengan bebatuan di sekitarnya, sehingga kakinya tak sengaja terpelecok. Alex meringis merasakan nyeri yang menjalar ke sekujur tubuh bagian belakangnya. Posisinya tertelentang, bahkan kepalanya sempat terbentur lantai tapi tidak terlalu keras. Sambil meringis ia bangkit duduk.


"AL.."


Alex menoleh kaget, tak menyangka ternyata gadis yang ia rindukan menghampirinya. Rasa bahagianya melihat Miss Kissable didepan mata membuat rasa nyeri di tubuhnya seolah lenyap seketika.


"Kamu kenapa?" tanya Kayla khawatir sambil mendudukkan kedua lututnya di samping Alex dan mengamati pemuda itu.


Alex tercengang, bukannya menjawab ia malah menatap Kayla. Hampir tidak percaya gadis nya kini dihadapannya, menunjukkan perhatian padanya dan mengkhawatirkannya. Alex bahagia sekali.


Kayla tercengang sekaligus mencelos, karena mendapati kondisi Alex yang bajunya basah semua. Mengingat belum lama hujan reda, Kayla pun menduga jika Alex telah kehujanan. Dan sekarang dia malah terduduk disini, dari posisi Alex yang Kayla lihat.. dia pasti baru saja terpeleset atau jatuh. Kasihan, Kayla jadi merasa bersalah karena mengabaikannya sedari tadi.


"Kamu berdarah" kata Kayla sambil menyentuh bagian lutut Alex yang berbalut celana panjang.


"Hah?" Alex terkesiap, ia lantas melihat kearah pandang Kayla.


Alex heran bagaimana bisa ada darah di lutut kirinya, padahal saat terpeleset lututnya tidak tersentuh apapun, ia juga tidak merasakan sakit di area itu. la lantas menyentuh lututnya dengan telapak tangan kirinya, dan darah di permukaan celananya itu malah bertambah. Kayla memegang tangan Alex dan membaliknya, membuat telapak tangan itu terbuka ke arahnya. Dan benar dugaan Kayla, telapak tangan Alex lah yang terluka dan berdarah, bukan lututnya.


"Hah?" bingung Alex. la tidak menyadari kalau tangannya terluka, karena ia tidak merasakan sakit.


"Pasti kegores ini." ujar Kayla sambil menunjuk pinggiran keramik yang telah pecah dan membentuk lancip.


"Ayo!" ujar Kayla sembari menarik Alex untuk berdiri.


"Miss Kissable..." lirih Alex terenyuh.


Kayla menuntun Alex masuk ke kamarnya, membuat Alex menaikkan alisnya tak percaya. Langkah Alex lantas terhenti didepan pintu.


"Aku obatin lukanya." kata Kayla tanpa menatap Alex.


"Makasih Miss Kissable, aku baik-baik aja setelah liat kamu." ucap Alex jujur.


Kayla tidak mendengarkannya. Gadis itu tetap menarik tangan Alex untuk mengikutinya.


"Tapi.. aku basah." sergah Alex lagi.


Kayla tetap menarik tangannya, tak peduli apa yang Alex katakan. Yasudah, Alex menurut saja. Lagipula Alex sangat bahagia dan lega melihat Kayla, terlebih lagi mendapat perhatian dari gadis nya itu. Ini kesempatannya untuk berbicara terbuka dengan Kayla, semoga Kayla mau mendengarkannya.


Kayla menggeret kursi belajarnya dan mendekatkannya ke samping ranjangnya. Kemudian meminta Alex duduk di kursi itu, dan Kayla mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Alex. Kayla duduk di tepi ranjangnya, menghadap Alex yang sudah duduk di depannya.


"Makasih Miss Kissable"


Bagaimanapun juga Alex sangat senang dengan situasi ini. Berkat ia terpeleset, eh! Ya.. tapi memang begitu kenyataannya. Mungkin tadi jika ia baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa, Kayla tidak akan keluar untuk melihatnya.


Alex tersenyum saat menyaksikan Kayla dengan cekatan mengobati luka di telapak tangannya. la terus memperhatikan gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun, bahkan ia tak melirik tangannya yang terluka. Kayla juga hanya diam saja, ia tak membuka suara setelah mengatakan kalau ia mau mengobati luka Alex. Gadis itu betah membungkam, bahkan ia tak menatap Alex sama sekali sejak tadi. Saat ini ia tak berbeda dengan seorang perawat yang fokus melakukan tugasnya dalam mengobati pasien. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dengan pandangan yang fokus ke luka yang ia obati.


"Miss Kissable.."


Kayla tak merespon, seolah ia tidak mendengar apa-apa. la menunduk dan tangannya sibuk membersihkan luka Alex menggunakan kapas.


"Miss Kissable, liat aku!"


"Kamu marah sama aku?"


"Oke, aku ngerti. Tolong maafin aku..."


"Kamu mau maafin aku kan?"


"Oke, kamu punya banyak waktu kok buat bisa maafin aku. Enggak sekarang juga nggak papa kok, aku ngerti."


Tetap tidak ada respon dari gadis cantik didepannya ini. Alex tersenyum geli, sedikit mencelos tapi tidak masalah. la mengerti keadaan Kayla.


"Miss Kissable, kamu boleh marahin aku, pukul aku juga boleh. Lakuin apa aja yang bisa bikin kamu lega. Aku disini, aku ngakuin kesalahanku."


Masih tidak ada respon, Kayla fokus membalutkan kain kasa dan perban ke luka Alex, setelah meneteskan obat merah pada luka itu.


"Aku akuin.. aku bukan cowok yang baik, aku cuman cowok ceroboh yang beruntung dengan kehadiran kamu di hidupku. Tapi Miss Kissable.. cintaku tulus. Meskipun papaku udah mutusin hubungan kita, aku nggak bakal berhenti buat merjuangin kamu. Ini bukan akhir kita sayang, aku nggak pasrah sama keadaan ini"


"Aku masih bisa memperbaiki kekacauan ini, aku akan bikin papa ngerti kalo kamu itu bukan sekedar cintaku, tapi juga hidupku."


"Beberapa hari ini papa udah liat gimana kondisiku tanpa kamu, aku yakin papa pasti bakal ngubah keputusannya, papa pasti nyesel karena udah salah menilai kamu dan memperlakukan kamu."


Alex terdiam memandangi Kayla. Meski gadis itu berperilaku biasa dan tenang, Alex tahu gadis nya ini habis menangis. Wajahnya agak muram dan matanya sembab. Entah sudah sebanyak apa air mata yang gadis nya ini tumpahkan, Alex sangat menyesalinya. Sementara Kayla masih enggan mengalihkan pandangannya, sepertinya Miss Kissable nya ini memang tidak mau melihat dirinya.


"Aku harap kamu masih bisa percaya sama aku" lanjut Alex lagi.


Kayla beranjak, membawa kotak P3K dan meletakkannya kembali ke tempatnya setelah selesai mengobati luka Alex.


"Makasih Miss Kissable, kamu udah obatin aku" Alex tersenyum sambil memandangi tangannya yang berbalut perban.


Alex lega dan bahagia. Ini seperti sebuah hadiah kejutan baginya. la tidak menyesal karena ia terpeleset, tapi justru ia bersyukur. Karena dibalik kecelakaan kecilnya itu, ia mendapat perhatian dari Miss Kissable nya. Kayla bukan hanya mengobati luka ditangannya, tapi juga luka dihatinya.


"Aku sempat mikir kalo kamu nggak mau nemuin aku lagi, berkali-kali aku kemari kamu nggak keluar-keluar juga. Aku takut Miss Kissable, tapi sekarang aku lega. Makasih ya, kamu masih mau merhatiin aku kayak gini."


Kayla mengernyit bingung, ia terdiam ditempat, dengan posisi masih membelakangi Alex setelah meletakkan kotak P3K miliknya.


"Dia bilang apa? Dia berkali-kali kemari tapi aku nggak keluar-keluar?" batin Kayla bertanya. "Kapan dia kemari?"

__ADS_1


Kayla berbalik, melangkah gontai menghampiri Alex. Langkahnya ragu, ia menggigit bibir bawahnya dan masih enggan menatap Alex. Sejak tadi ia berusaha menahan pandangannya untuk tidak melihat Alex, ia takut hatinya kembali rapuh dan tidak bisa menyembunyikan air matanya.


Sampai langkahnya berhenti di depan Alex, ia memberanikan dirinya mengangkat pandangan, ke wajah pemuda yang ia rindukan itu. Alex pun mendongak karena ia tengah duduk sedangkan Kayla berdiri didepannya.


Jantung Kayla berdebar-debar tatkala netranya bertemu pandang dengan nerta Alex. Namun ada yang berbeda dari debaran jantungnya kali ini. Kenapa rasanya aneh begini, mungkin ini perasaan rindunya yang bercampur dengan rasa sakit.


"Kamu liat aku Miss Kissable? Hhh.... senangnya." batin Alex menjerit kegirangan.


"Miss Kissable.." panggil Alex lembut.


Kayla terkesiap, lalu duduk di samping Alex. "Kapan kamu kemari?"


Alex menaikkan alisnya, "Dari tadi siang" jawabnya sambil berpikir. Bukannya Alex mencoba mengingat atau berbohong, tapi ia heran kenapa Kayla bertanya.


Kayla agak terperangah mendengar jawaban Alex. "Maksud kamu.. kamu udah kemari sejak tadi siang dan nggak pulang sampai sekarang?"


"Hm." Alex mengangguk.


Kayla pun mengernyit bingung. Alex mendatangi rumahnya sejak siang tapi baru menemuinya malam hari? Lalu apa saja yang Alex lakukan disini sehingga baru sekarang sempat menemuinya. Janggal bukan?


Alex menyengir. "Maaf, aku tau.. nggak sopan nyamperin kamu kayak gini, lewat pintu belakang lagi. Tapi.. mau gimana lagi" Alex terkekeh, "Aku ngerasa udah terlalu banyak buang waktu, aku nggak bisa tenang sebelum ketemu kamu"


Kayla jadi semakin bingung. Apa maksud Alex? Kenapa dia mengatakan sesuatu seolah dia berusaha untuk menemui Kayla?


"Apa maksud kamu.. mau gimana lagi?"


"Ya mau gimana lagi, kamu.. Mami kamu.. sama Om kamu.. marah kan sama aku. Aku nggak dikasih kesempatan buat ngomong, sampe aku harus ngetok-ngetok pintu belakang kamu diam-diam."


Kayla mendengus. "Kenapa harus diam-diam? Kenapa kamu bilang kamu nggak dikasih kesempatan? Kamu kira ini apa, aku biarin kamu masuk trus ngomong gini.. bukan kesempatan?!" sewot Kayla.


"Aku bersyukur kamu kasih aku kesempatan buat ngomong. Ini keajaiban buat aku Miss Kissable, aku nggak menduga usahaku bakal berhasil malam ini. Kalaupun aku belum berhasil, aku nggak bakal pernah nyerah kok. Tapi maksud aku tadi.. aku nggak dikasih kesempatan sama Mami dan Om kamu buat nemuin kamu, bahkan buat ngomong sama mereka pun enggak."


Kayla ingin langsung menyergah, ia membuka mulutnya namun belum sempat melontarkan sepatah katapun Alex sudah mendahuluinya.


"Enggak, aku nggak nyalahin Mami sama Om kamu kok. Aku ngerti kekecewaan mereka sama aku. Aku juga ngerti keadaan kamu. Sorry kalo aku rada maksa, tapi aku beneran gelisah banget sebelum ini. Sekarang aku lega karena udah bisa ngomong sama kamu." Alex tersenyum hangat.


"Aku nggak ngerti." jawab Kayla dengan alis yang bertaut.


"Emangnya sebelum ini.. kamu juga nyoba buat nyamperin aku?" tanya Kayla.


Alex menaikkan alisnya heran. "lya. Aku kesini tiap hari, bahkan dalam sehari aku kesini berkali-kali. Kamu nggak tau?"


Kayla menggeleng-geleng.


Alex terkekeh seraya mengangguk kecil. "Ya. Mami sama Om kamu pasti khawatirin kamu, makanya mereka nggak ngebiarin aku nyamperin kamu. Mereka pasti takut kalo aku bakal bikin kamu lebih menderita lagi, mereka takut aku bakal nyakitin kamu lagi. Aku harusnya ngerti."


"Mami sama Om lwan nggak pernah ngasih tau aku kalo kamu kesini. Ya, hari itu aku emang nolak ketemu kamu karena aku butuh nenangin diri. Tapi.. aku pikir.. kamu udah nyerah dan nerima keputusan papa kamu"


Alex mendongak menatap Kayla, "Cintaku nggak selemah itu Miss Kissable, mana mungkin aku nyerah dan ngelepasin kamu gitu aja, itu nggak mungkin. Kalo aku harus berjuang lagi buat cinta ini, aku siap. Kalo aku harus nunggu lebih lama lagi pun, dengan senang hati akan aku lakuin. Tapi buat nyerah.." Alex menggeleng, "..enggak!"


Kayla terenyuh, hatinya pun menghangat. Tapi rasa sakit itu masih ada, karena hatinya telah terluka.


"Miss Kissable.." panggil Alex lembut saat melihat mata Kayla mulai berkaca-kaca.


"Aku tau aku udah jahat sama kamu, aku belum bisa jadi cowok yang bertanggung jawab dan pantas buat kamu. Tapi aku nggak akan berhenti buat memperbaiki diriku. Aku tau kamu terluka gara-gara aku. Karena itu aku disini, aku disini buat ngobatin luka kamu, luka yang aku sendirilah penyebabnya. Aku nggak bisa tenang hidup dalam rasa bersalah, apalagi bersalah sama kamu, orang yang sangat berarti dalam hidupku. Karena itu aku nekat nyamperin kamu dengan cara kayak gini"


"Tolong maafin aku.." lanjut Alex lirih.


Kayla terisak kecil dan sebutir kristal bening lolos dari kolam kecil matanya. Membuat Alex segera mengangkat tangannya untuk menghentikan laju kristal bening yang merebak itu. Kayla lantas menaikkan pandangannya ke mata Alex, mata yang memancarkan ketulusan. Alex pun menatapnya, menatap mata indah yang auranya meredup, dengan luka yang menutupi binar mata itu. Alex mengusap lembut pipi Kayla dan sudut matanya, sangat lembut dan hati-hati, seolah-olah ia bisa melukai kulit mulus itu jika sedikit saja ia melakukan kesalahan.


"Tolong maafin aku, Miss Kissable. Aku akan memperbaiki kesalahan ini, aku akan memperbaiki hubungan kita, juga hubungan antara orang tua kamu dan orang tuaku. Percaya sama aku, aku nggak pernah ingin mengecewakan kamu"


Kata-kata Alex membuat air mata Kayla semakin bertambah, bukannya reda. Kayla tidak suka menangis seperti ini, kenapa ia serapuh ini, kenapa ia jadi lemah karena kejadian beberapa hari yang lalu itu. Hatinya penuh dengan perasaan yang bercampur aduk, tak bisa ia kendalikan. Apalagi ia tengah menatap Alex seperti ini, menatap mata yang selalu memandangnya dengan ketulusan. Kayla juga melihat penyesalan dari mata itu, yang menjadi jawaban atas pertanyaan Kayla beberapa hari ini. Bahwa Alex memang menyesali yang telah terjadi, dan Alex tidak menginginkan hubungan mereka berakhir.


Ceklekk


"Kayla?!"


Kayla dan Alex terkesiap, reflek Alex segera menjauhkan tangannya dari wajah Kayla. Keduanya langsung berdiri dengan kaget dan gugup. Dan betapa terkejutnya dua orang yang baru melihat ke dalam kamar Kayla. Mami dan Om lwan berdiri dengan tegang di ambang pintu kamar Kayla. Alex menelan salivanya tatkala langsung mendapat tatapan garang dari Om Iwan.


"Lily?!"


Nadia melangkah cepat dan segera menarik Kayla menjauh dari Alex. Sementara Om Iwan langsung menampar Alex.


Plakk


"Om!" sergah Kayla.


Om Iwan menarik kerah jaket Alex dan menyeretnya dengan kasar. "Brengsek! Ngapain kamu di kamar ponakan saya, heh?!" bentak lwan murka.


"Om," sergah Kayla, "Lepasin Om!"


Nadia memegang Kayla agar tidak ikut campur. Sementara Om lwan menyeret Alex dan membawanya keluar melewati pintu kamar Kayla, ruang tengah, ruang tamu sampai ke depan rumah, dengan langkah kasar yang mengebu-gebu.


"Maaf Om, saya lancang. Tapi saya cuman ngomong sama Lily. Saya ngejelasin semuanya ke dia." Alex memohon ampun pada Om lwan sembari Om lwan menyeretnya.


Om Iwan menanggapi pengakuan Alex dengan mengencangkan cengkeramannya pada kerah Alex, sehingga Alex merasa tercekik dan sedikit meringis. Tatapan tajam Om lwan yang berapi-api begitu menghakiminya, membuat Alex segan. la akui ia memang melakukan kesalahan dengan menemui Kayla diam-diam, dan ia menerima konsekuensi apapun yang akan Om Iwan jatuhkan padanya.


Kayla mengikuti mereka dari belakang dan berusaha melerai tapi Maminya malah menahannya. "Biarin Om lwan ngurus dia, kamu nggak usah ikut campur!" tegur Nadia dingin.

__ADS_1


"Mami.." Kayla tidak percaya maminya akan bereaksi seperti ini, tidak memperdulikan Alex dan malah mendukung Om lwan yang tengah dikuasi amarah itu.


Om lwan menyentak Alex saat sudah berada di teras depan rumah, membuatnya jatuh tersungkur ke lantai hingga menimbulkan suara benturan tubuhnya dengan lantai keramik. Alex sedikit meringis karena tubuhnya yang sudah lebih dulu merasa nyeri kini bertambah sakit, sebab sebelumnya ia juga sempat terpeleset di teras belakang kamar Kayla.


"Om?!" jerit Kayla tak percaya.


Lagi-lagi Nadia menahan Kayla, mencekal tangannya agar tidak ikut campur. Langkah keduanya terhenti di tengah ruangan, dan hanya bisa melihat Alex dan Om lwan dari jauh.


"Lily, nggak usah belain dia!" gertak Nadia.


"Apa salah Alex mi?"


"Harusnya mami yang tanya, kenapa Alex ada di kamar kamu? Gimana dia bisa masuk, dan apa yang dia lakuin ke kamu??" Ada amarah dan kekhawatiran dari mata Nadia.


Kayla berjengkit kaget, ia tidak pernah melihat maminya semarah ini padanya. Nadia memegang kedua bahu Kayla dan mengamati tubuh putrinya dari atas kebawah.


"Alex nggak datang dengan niat yang salah mi, dia cuman mau ngomong sama Lily. Dia mau memperbaiki kesalahannya. Kenapa mami sama Om lwan cegah dia?" tanya Kayla datar.


"Dia udah nyakitin kamu, papanya udah ngehina kamu. Apa mami bakal ngebiarin dia nyakitin kamu lebih banyak lagi?"


"Tapi Alex nggak pernah ingin nyakitin Lily mi"


"Lily, cukup! Jangan belain dia! Kamu lupa gimana cara papanya ngomong sama kamu, gimana cara papanya nilai kamu? Mami nggak bisa terima, sayang"


"Lily juga kecewa mi, tapi Alex nggak terlibat sama keputusan papanya. Alex justru mau memperbaiki kesalahan yang udah dibuat papanya. Kasih dia kesempatan.."


Gedbuggh!!


Ahkkh..!!


Alex menjerit kesakitan setelah dihajar Om lwan. Dan tentu saja Kayla tidak tega melihatnya. la ingin sekali menyusul ke depan rumah untuk menghentikan Om Iwan dan menolong Alex, tapi mami tidak membiarkannya melakukan itu. Kedua tangan Kayla masih dipegang maminya.


"Al.." gumam Kayla lirih.


"Mi? Mami ngebiarin Om lwan mukul Alex? Kenapa Mi? Oke, kalo mami kecewa sama Alex dan nggak mau peduliin dia, biarin Lily yang kesana."


"Enggak Ly! Biarin aja dia! Pukulan yang dia terima nggak seberapa menyakitkan dibanding dengan sakit hati kamu kan, sakit hati mami dan Om lwan juga. Biarin dia ngerasin akibatnya, karena dia udah mempermainkan anak mami."


"Mami ngomong apa sih? Alex nggak pernah niat buat nyakitin Lily mi. lya dia salah, tapi nggak bener dong kalo kita perlakuin dia kayak gini."


Nadia diam dengan tatapan muak ke arah Alex. Pemuda itu tersungkur di lantai sambil memegang perutnya yang habis dipukul Om Iwan. Kayla merasa miris melihat pemandangan di depan matanya.


"Mami balas dendam sama Alex? Mami biarin Om Iwan ngehajar Alex habis-habisan. Apa ini cara ngehukum dia mi?"


"Om.. stop Om.. plis...!" teriak Kayla dengan langkah yang tertahan.


Kayla terisak sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Nadia. "Mi, pliss..hentiin Om Iwan! Mau sampe kapan mami biarin ini, Om Iwan itu lagi kalut mi.. gimana kalo Om lwan nggak mau berhenti mukulin Alex, gimana kalo sampe Alex kenapa-napa mi..?"


Kayla tak menyangka maminya akan bersikap sekeras ini dan sedingin ini. Dimana hati lembut mami yang tidak pernah bisa melihat orang disakiti. Dimana tatapan kasih sayang mami pada Alex yang selalu Kayla lihat. Kayla tidak melihat itu dari maminya saat ini. Kayla menggigit bibir bawahnya getir. Kemudian Kayla menyentak dengan keras tangannya sampai terlepas dari cekalan maminya.


"LILY!" gertak Nadia marah.


Kayla melangkah maju untuk menyusul Alex dan Om lwan, ia berusaha untuk tidak mendengarkan larangan maminya. "Lily, mami nggak pernah ngajarin kamu kalo cinta itu lebih penting dari keluarga. Kalo kamu kesana, artinya kamu ngecewain mami. Mami marah sama kamu!"


Nyuutt......


Langkah Kayla terhenti, hatinya nyeri mendengar mami mengatakan itu. la berbalik menghadap maminya dengan tatapan memelas.


"Mami juga nggak pernah ngajarin Lily kalo ngehukum itu harus pake kekerasan. Tapi apa ini? Liat mi, Om lwan masih mukulin Alex meskipun Alex udah bonyok. Lily nggak bisa diam aja."


"Om Iwan tau apa yang harus dilakuin buat ngehukum Alex. Kalo Om kamu belum berhenti artinya anak itu masih kuat. Kamu jangan cari alasan buat nyamperin dia! Jangan ngebantah mami karena cinta kamu ke dia!"


"Mi, ini bukan soal cinta. Ini soal kemanusiaan mi..! Mami nggak liat, Alex udah nggak berdaya dan Om Iwan nggak mau berhenti" sungut Kayla frustasi.


Kayla berbalik dan melanjutkan langkahnya. "Lily, berhenti!" sergah Nadia yang tetap berdiri di tempatnya.


Kayla mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk mengabaikan maminya. "Lily, kamu lebih milih dia daripada mami?" Langkah Kayla pun kembali terhenti, tapi kali ini ia tidak berbalik.


"Kalo kamu masih nggak mau dengerin mami, artinya kamu lebih milih dia. Dan mami.." Nadia tercekat. "..mami kecewa sama kamu. Jangan harap mami bakal maafin kamu!"


Duaarrrr.....


Kayla memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya getir. Lalu memandang lurus ke depan, disana Alex terus dihajar meski dia letih dan tak berdaya. Sedangkan mami mencegahnya untuk membantu Alex. Apa yang harus Kayla perbuat? Kayla tentu tidak mau jadi anak durhaka, tapi ia juga tidak tahan melihat Alex terus dipukuli oleh Om Iwan.


Dengan hati yang resah dan pikiran yang berkecamuk, Kayla menghembuskan nafas panjang seraya maju selangkah, meski terasa berat. Nadia yang mengamati dari belakangnya lantas membulatkan mata melihat kaki Kayla bergerak maju.


Fix Kayla jadi anak durhaka. "Maafin Lily Mi.. Lily janji setelah ini Lily nggak akan ngelakuin sesuatu yang bikin Mami lebih marah lagi dari ini" lirihnya dalam hati.


Air mata Kayla merebak membasahi pipinya, tapi ia tetap melangkah maju. Membuat Nadia tertegun dengan tatapan tak percaya.


... ....


... ....


... ....


... ....


... Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2