
Meski sudah berjam-jam Kayla dan maminya berbaring di kasur, mata mereka masih enggan terpejam. Posisi keduanya tengah berbaring sambil saling berpelukan, Kayla merasa seperti anak kecil yang habis menangis lalu ditenangkan oleh maminya. Keduanya diam, air mata sudah reda sejak beberapa menit yang lalu, Kayla merasa sangat nyaman dalam pelukan mami, dan tangan mami membelai punggungnya tanpa jemu. Saat ini Kayla sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, ia curhat pada mami tentang segala yang ia alami selama bersama papinya. Semua perasaan yang ia rasakan dan perlakuan yang ia dapatkan, ia curahkan semua pada mami. Mami memang tempat ternyaman untuknya, meski sang mami juga terpukul dengan tragedi itu.
Nadia memundurkan sedikit tubuhnya, memberi jarak agar dapat melihat wajah Kayla. Tangannya terulur menyentuh wajah putri tercintanya.
"Apa masih sakit sayang?"
Kayla tersenyum tipis, "Udah mendingan kok mi."
Nadia menahan air matanya, namun ia tidak bisa menahan kesedihan hatinya. Tapi sudah cukup ia menangis di depan Kayla, ia harus tegar demi kepulihan Kayla. Malang sekali putri kecilnya ini, harus mengalami tragedi seburuk itu dalam hidupnya. Saat ini Nadia hanya berharap agar trauma Kayla hilang secepatnya. Kayla bercerita kalau merah dan bengkak di pipinya itu bekas tamparan keras yang berkali-kali ia dapatkan, dari papinya dan juga dari pria baj****n yang hampir merenggut mahkotanya.
Disamping kesedihan dan penyesalannya, Nadia bersyukur Tuhan masih menjaga putrinya, mengirimkan Alex sebagai penyelamat, sehingga Kayla tidak benar-benar hancur. Nadia pasti akan sangat menyesal dan hancur jika saja Kayla sampai kehilangan mahkotanya. Nadia sangat bersyukur karena bisa kembali memeluk Kayla dan melihat senyumannya.
"Lily dipukul mi, Lily diseret.." Lirih Kayla, lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Nadia memahaminya, perlakuan dibagian itulah yang membekas lekat di ingatan Kayla. Selain itu Kayla melihat langsung saat si pria baj****n menanggalkan pakaian didepannya, itulah yang membuatnya ketakutan dan trauma. Kayla mengulang cerita bagian itu berkali-kali, membuktikan kalau ia tidak bisa melupakan kejadian itu. Ketika ia dihadapkan dengan situasi yang menjijikan, ia dipukul karena melawan pria baj****n yang telah membeli dirinya dengan uang kepada papinya sendiri.
Awalnya pria itu bersikap baik pada Kayla, bahkan sempat mengajak Kayla mengobrol dengan tujuan agar Kayla bisa diluluhkan. Tapi jangan kira Kayla bisa luluh dengan kata-kata yang meski terdengar bersahabat, karena ketakutan telah menguasai dirinya sejak saat melihat pria asing itu berada didepannya. Pria itu mulanya berlaku lembut pada Kayla, tapi karena Kayla terus menghindar akhirnya dia memperlakukan Kayla dengan kasar. Memukul Kayla saat tangannya selalu gagal menyentuh Kayla, dan menyeret Kayla saat Kayla terus menjauhkan tubuhnya dari pria itu. Kayla sempat terjatuh dari ranjang saat menggagalkan pria itu mengunci tubuhnya, tapi kakinya malah diseret kasar oleh pria baj****n itu, sampai ia kembali ke atas ranjang. Untungnya aksi selanjutnya dari pria itu kalah cepat dibanding Kayla, sehingga Kayla berhasil mengunci tubuhnya sendiri ke dalam selimut yang ia balut dengan kuat.
Dan sebelum pria baj****n itu berhasil melepaskan selimut yang melindungi tubuh Kayla, Alex datang dengan penyamaran yang sempat membuat Kayla takut, karena tidak mengenalinya.
Selain pipi Kayla yang meninggalkan bekas dari tragedi itu, tangannya juga terluka kecil dan lengan atasnya terkilir akibat aksi perlawanannya. Begitu juga kakinya yang diseret, menyisakan beberapa lecet akibat tergores benda-benda disekitarnya. Namun semua luka itu akan mudah sembuh, berbeda dengan trauma yang dirasakannya.
"Lily diseret mi.. Lily takut.." ulang Kayla lagi, membuat Nadia lagi-lagi mencelos.
"Ssstt... Lupain semua itu ya sayang.. gak usah diomongin lagi."
Kayla menatap lekat wajah maminya, tanpa menjawab. Nadia kembali menarik Kayla ke dalam pelukannya. Selanjutnya ibu dan anak ini diam dalam keheningan malam, sampai mereka tertidur.
... _________________...
Satu minggu telah berlalu sejak tragedi penculikan dan penganiayaan yang Kayla alami, Kayla kini sudah lebih baik dan menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Arman dan para komplotannya sudah mendekam di balik jeruji besi, begitu juga King sang dalang bisnis gelap itu. Atas laporan dari Alex, akhirnya mereka semua dapat diringkus oleh polisi. Pihak kepolisian sempat meminta Alex untuk menghadirkan Kayla sebagai saksi sekaligus korban, atas kasus yang dialaminya. Namun Alex menolak mutlak, Alex tidak mau melibatkan Kayla dalam hal ini, apalagi sampai membangkitkan trauma Kayla ataupun mengganggu pikirannya. Akhirnya kasus diselesaikan secara singkat dan simpel, semua Alex yang menghandle nya.
"APA?!" Histeris Elfatt, papa Alex.
"Masalah seserius itu terjadi dan kamu gak ngasih tau papa?" kata Elfatt kesal, hampir tak percaya.
"Kamu ngelakuin semuanya sendiri tanpa papa tau?! Kamu harusnya sadar kalo itu bahaya!" suara Elfatt meninggi karena saking kesal dan herannya pada sang putra.
Setelah seminggu berlalu dan urusan beres barulah Alex bicara pada papanya. Elfatt tidak tahu menahu tentang kejadian buruk yang menimpa Kayla, Alex benar-benar menangani semuanya sendirian, hanya ditemani pengacara saja. Alex menghadapi kekesalan papanya dengan tenang. Tapi ternyata bukan itu saja yang membuat Elfatt marah, sesuatu yang tidak disangka-sangka oleh Alex. Ada fakta yang baru diketahui Elfatt dari Alex, bahwa ternyata papi Kayla itu seorang mucikari, pelaku kriminal. Bagi Elfatt ini bukan masalah sepele.
"Udahlah pa, Al udah gede' Al bisa ngehandle semua sendiri. Al juga belajar bertanggung jawab dari pengalaman itu"
"Kamu pikir sesimpel itu? Kamu tau berhadapan dengan siapa? Mereka itu kuat Al, mereka punya banyak jaringan, jangan kira karena mereka sudah dipenjara maka kamu aman. Kamu mengusik mereka, dan mereka gak mungkin diam aja."
"Gimana papa tau? Gak usah nakut-nakutin deh pa."
"Papa serius." tegas Elfatt. "Kamu bukan membereskan masalah, tapi mengundang malasah. Gak mustahil mereka bakal ngincer kamu"
Elfatt mengusap wajahnya, "Astaga.. harusnya kamu ngomong sama papa dari awal"
"Bukannya Al gak mau ngasih tau papa, tapi waktu itu situasinya genting pa. Al gak punya banyak waktu, lagian papa juga selalu sibukkan akhir-akhir ini"
Elfatt mendengus, tidak menimpali. Karena memang benar dia sibuk, sangat sibuk malah. Jika dia sampai melewatkan masalah seserius ini, maka itu wajar. Namun masalah kali ini tidak bisa dia abaikan begitu saja meski kasusnya sudah selesai secara jalur hukum. Elfatt seorang pebisnis, dia tahu betul konsekuensi yang akan dihadapi jika berurusan dengan orang-orang seperti King. Pebisnis yang dihancurkan bisnisnya akan menghancurkan balik bisnis orang yang berani mengusiknya. Itulah yang Elfatt khawatirkan. Apalagi salah satu anggota terkuatnya adalah papi Kayla, calon besannya sendiri.
Tidak. Rasanya Elfatt tidak sudi menyebut papi Kayla sebagai calon besannya. Dia sama sekali tidak tahu sebelum ini, kalau papi Kayla itu seorang pelaku kriminal. Yang lebih membuat Elfatt terkejut adalah Kayla diculik dan dijual oleh papinya sendiri. Jika Elfatt tahu sebelumnya maka dia pasti menjauhkan Alex dari keluarga itu. Masalah ini bukan saja berimbas pada kelangsungan hubungan Alex dan Kayla kedepannya, tapi juga akan berimbas pada bisnis besar Elfatt yang selama ini dipertahankannya.
"Kenapa kamu gak pernah bilang kalo papinya Kayla itu penjahat?" tanyanya mengintimidasi Alex.
"Al gak masalah soal itu pa, yang penting kan Kayla itu cewek baik-baik, maminya juga orang baik."
"Al, kamu akan menikahi anak seorang penjahat? Apa kata orang-orang nanti, pewaris tunggal SWill Group menikah dengan anak seorang pelaku kriminal? Mau ditaroh dimana harga diri kita?!" marah Elfatt.
"Yang jahat itu papinya pa, bukan Kayla. Papa kenal Kayla kan, papa tau Kayla itu cewek baik-baik, dan papa sendiri bilang kalo Kayla itu cewek yang tepat buat Al. lya kan pa!"
Elfatt menghela nafas berat. "Tapi papa gak tau asal usul keluarganya, kamu juga gak pernah ngomong soal papinya. Kamu sengaja nutupin ini dari papa, supaya papa nggak punya alasan buat menghentikan hubungan kamu sama Kayla?"
"Al juga belum lama tau soal itu pa, tapi sebelum kita tunangan Al udah tau soal papinya Kayla. Ya, Al gak ngasih tau papa karena Al gak mau papa mempermasalahkan itu. Bagi Al itu bukan masalah besar pa, Kayla nggak sama dengan papinya."
"Ya papa tau. Tapi tetap aja, Kayla anaknya kan, selamanya si penjahat itu akan dikenal sebagai papinya Kayla. Dan papa gak mau berbesanan dengan seorang penjahat."
__ADS_1
"Pa?!" Alex tak menyangka papanya akan berkata seperti itu, jujur saja Alex tersinggung.
"Pikirkan itu Al, demi kebaikan masa depan kamu, juga demi bisnis keluarga kita." ucap Elfatt dingin.
Alex hanya menatap papanya dengan lirih sekaligus amarah tertahan, ia tidak percaya papanya memberikan respon seperti ini setelah ia menceritakan tragedi yang menimpa Kayla. Alex menceritakannya hanya karena tidak ingin ada yang ditutup-tutupi antara dirinya dan sang papa, jika Alex tahu papanya akan berkata seperti itu maka ia tidak akan menceritakannya. Alex kemudian mendengus kasar seraya beranjak meninggalkan papanya, tanpa menjawab apalagi menyetujui kata-kata papanya.
... __________________...
Melihat mobil Alex berhenti di depan rumahnya, Kayla tersenyum senang. la segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobil Alex. Seperti hari-hari sebelumnya, sejak mereka resmi bertunangan, setiap paginya Alex menjemput Kayla untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Alex tersenyum, tapi Kayla merasa ada yang berbeda darinya hari ini.
"Selamat pagi, Mr Strawberry." ucap Kayla saat sudah duduk di mobil, di samping Alex.
"Pagi, Miss Kissable." balas Alex.
"Ada apa?"
Alex mengernyit bingung. "Maksudnya?"
"Kamu dari tadi cuman liatin aku aja, biasanya kamu duluan yang nyapa aku tapi tadi kamu diam aja. Apa ada masalah? Kamu gak keliatan sesemangat kemarin" ungkap Kayla jujur.
Barulah Alex sadar kalau Kayla menangkap gelagatnya yang memang merasa kurang bersemangat, kata-kata papanya semalam telah mempengaruhi pikirannya.
"I'am fine, sayang." jawab Alex seraya tersenyum lebar.
Meski sedikit dipaksakan, Alex tersenyum demi membuat Kayla tetap nyaman. Kayla tidak boleh tahu yang sebenarnya. Dan untuk menghindari pertanyaan Kayla, Alex mengalihkan pembicaraan sembari mobilnya melaju menuju sekolah.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol, tetap saja Kayla merasa ada yang berbeda dari Alex. Dua kali Alex terpergok tidak fokus dan tidak nyambung diajak bicara.
"Mr Strawberry, sebenarnya kamu kenapa sih?"
"Hah?" Alex gelagapan. "Aku gak papa, cuman.. emm... cuman...aku-.."
"Jangan bohong!" sergah Kayla.
Alex menegang beberapa saat, kemudian ia menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. la menatap Kayla seraya tersenyum.
"Aku senang kamu baik-baik aja sekarang" itu yang keluar dari mulut Alex.
"Ya aku lega kamu udah bisa beraktivitas normal lagi setelah kejadian itu"
"Trus apa yang kamu pikirin sampe kamu gak fokus? Kamu masih mikirin kejadian itu?"
Alex tidak tahu harus memberikan jawaban apa yang tepat untuk Kayla, agar gadis itu berhenti menyelidiki kejanggalan yang dia lihat diwajah Alex.
"Aku.. aku cuman takut kehilangan kamu" mendengar itu barulah Kayla mengubah mimik wajahnya.
"Aku baik-baik aja berkat kamu Mr Strawberry, aku disini sama kamu, apa lagi yang kamu takutin?"
Alex tersenyum kecut.
"Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu. Aku takut kamu ninggalin aku setelah kejadian itu, tapi makasih.. kamu masih ada disamping aku sampe sekarang. Aku bersyukur banget." ucap Kayla lagi.
"Aku gak pernah punya niat buat ninggalin kamu. Apapun yang udah terjadi sama kamu, aku tetap bisa terima kamu. Meskipun keadaan berubah, perasaanku gak akan berubah Miss Kissable, aku tetap cinta sama kamu."
Kayla mengernyit, mencerna ucapan Alex. la lalu mendengus, "Keadaan apa yang berubah Al? Emangnya apa yang terjadi sama aku?"
Alex bingung, wajah Kayla berubah saat ia menanyakan itu. Tidak, sepertinya Kayla bukan bertanya, melainkan protes.
Alex menggeleng seraya tersenyum tipis, "Bukan masalah besar kok buat aku. Gak ada yang bisa ngerubah perasaan aku ke kamu, aku cinta sama kamu"
Kayla masih memasang ekspresi yang sama, seperti bingung sekaligus marah. "Aku gak nanya soal perasaan kamu."
"Liat aku, Mr Strawberry! Apa ada yang berubah dari aku? Aku ini Miss Kissable kamu kan?"
Alex terdiam, kenapa Kayla terlihat kesal, intonasi suaranya meninggi. Melihat Alex yang hanya diam menatapnya seperti orang lemot, Kayla memutar bola matanya jengah.
"Aku tetap Miss Kissable kamu yang sama, Al" lirih Kayla mengubah nada bicaranya.
"Gak ada yang berubah. Iya kejadian itu emang bikin aku trauma, tapi aku tegasin sama kamu.. selain papi, aku gak kehilangan apapun."
__ADS_1
Alex menatap Kayla haru, senang sekali. la mengangguk kecil meminta Kayla mengulangi ucapannya. "Kalo kamu benar-benar berpikir aku udah gak sama lagi, kamu salah. Aku selalu pertahanin prinsipku, aku selalu jaga diriku Al"
Kayla mengatakannya dengan menatap mata Alex serius, "Kamu tau, aku gak pernah ngerasa gagal mertahanin prinsipku dan ngejaga diriku, kecuali.." ia menunduk sambil melanjutkan, "..waktu kamu nyentuh aku."
Alex mendesah tertahan, ia melongo takjub sekaligus menyesal. la merutuk dalam hati, kenapa ia begitu bodoh dan tidak peka, ia pasti menyakiti perasaan Kayla dengan kata-katanya. Kenapa ia malah membuat Kayla sedih, hingga harus menjelaskan semua itu. la jadi terkesan seperti meragukan Kayla.
"Maafin aku Miss Kissable.." Alex menggenggam tangan Kayla seraya menatapnya penuh rasa bersalah. "Pliss maafin aku, aku gak bermaksud nyakitin kamu"
Kayla tersenyum tipis. "Kalo gak ada kamu, mungkin apa yang kamu takutin bakalan beneran terjadi. Kalo itu terjadi, aku gak bakal bisa natap kamu kayak gini lagi Al. Aku juga pasti gak bakal pulih secepat ini atau mungkin gak akan pernah pulih"
"Sstt.. jangan ngomong gitu. Aku gak akan pernah biarin terjadi hal buruk lagi sama kamu, aku gak akan ngulangin kesalahan aku Miss Kissable. Aku nyesel gak becus ngejagain kamu"
"Siapa bilang gak becus? Kalo kamu gak becus kamu gak akan datang tepat waktu malam itu. Tapi buktinya aku baik-baik aja, kamu nyelamatin aku Mr Strawberry. Kamu udah ngejagain aku dengan baik kok"
Kayla tersenyum, Alex pun tersenyum.
"Kamu beneran baik-baik aja kan? Kalo ada sesuatu yang bikin kamu tertekan, bilang ya.. aku gak mau kamu sedih."
"Aku harus apa biar kamu percaya kalo aku baik-baik aja? Stop khawatirin aku, Mr Strawberry!"
"Maafin aku ya.. aku terlalu takut kehilangan kamu"
"Sekarang udah gak ada yang kamu cemasin lagi kan? Hubungan kita bakal baik-baik aja kan?" tanya Kayla.
Alex tidak langsung menjawab, tiba-tiba saja kata-kata papanya semalam terngiang-ngiang kembali, saat Kayla bertanya tentang hubungan.
"Mr Strawberry?"
Alex terkesiap, ia menatap Kayla yang sedang tersenyum. Manis sekali. Ah sudahlah lupakan saja kata-kata papa yang mengesalkan itu, Alex tidak mau merusak mood nya dengan memikirkan itu. Saat ini ia bahagia.
"Miss Kissable.." Alex meletakkan tangannya di atas kepala Kayla, lalu mengusapnya pelan.
"Hm?" tanya Kayla.
"Makasih udah jaga diri kamu, calon istriku"
Degg
Jantung Kayla berdebar-debar mendengar kata-kata Alex, apalagi ditatap intens seperti ini. Wajahnya sekarang pasti sudah memerah, "Ya Tuhan. kenapa rasanya gini banget sih, apa jatuh cinta itu seindah ini!"
Ini bukan pertama kalinya Kayla menatap Alex, tapi kenapa ia merasa gugup. Semakin hari perasaannya pada Alex semakin besar saja. Dan Alex, Alex sangat bahagia mengetahui Miss Kissable nya baik-baik saja dan masih suci. Sekarang tidak ada masalah lagi, papa harus tahu soal ini, pasti papa akan mengubah pandangannya terhadap Kayla. Alex senang sekali, terlebih lagi bisa sedekat ini dengan Kayla. Alex merasa tatapan Kayla padanya kali ini agak berbeda dari sebelumnya. Seperti bunga-bunga yang bermekaran di bawah sinar matahari, mungkin seperti itulah perasaan Alex saat menatap Kayla yang tersenyum manis padanya.
Telapak tangan Alex yang semula diatas kepala Kayla, perlahan turun ke pipinya. Mengamati tiap-tiap bagian dari wajah cantik dihadapannya itu. la lalu terngiang ucapan Kayla beberapa saat yang lalu.
"*Aku tetap Miss Kissable kamu yang sama, Al"
"Gak ada yang berubah. Iya kejadian itu emang bikin aku trauma, tapi aku tegasin sama kamu.. selain papi, aku nggak kehilangan apapun*."
Miss Kissable nya yang manis. Entah apa saja yang ada dipikiran Alex saat ini, telapak tangannya yang masih menempel di pipi kiri Kayla bergerak mengelus pipi mulus itu. Lalu jari jempolnya bergeser menuju bibir kissable Kayla. Kayla merasa permukaan kulitnya meremang, perasaannya mulai tidak enak. Apa yang Alex lakukan?
Perasaan yang mengganjal dihati Kayla saat tangan Alex menyentuh bibirnya, membuatnya segera menghentikan pria itu. Kayla menahan tangan Alex dengan tangannya, menciptakan jarak antara wajahnya dan tangan lancang itu. Kayla rasa Alex sudah terlalu lancang dan berpikir jauh, mungkin dia tidak sadar apa yang dia lakukan.
Menyadari tangannya dipegang oleh Kayla, Alex mengalihkan pandangannya ke mata gadis itu. Kayla menatapnya datar, terkesan tidak suka. Alex pun baru menyadari bahwa dia sudah kelewatan. Lancang sekali dia menyentuh Kayla seperti tadi. Tapi baguslah Kayla menghentikannya, jika tidak.. mungkin Alex akan semakin tenggelam dan lupa diri.
Alex sekarang jadi salah tingkah, malu sekali ia pada Kayla atas perlakuannya tadi. la mengalihkan pandangan pada tangan lancangnya yang masih dipegang oleh Kayla. Dan Kayla pun melepaskannya.
"Ayo jalan, ntar telat." kata Kayla seraya membenarkan posisi duduknya kembali menghadap ke depan.
"A..emmh.. i-iya." jawab Alex canggung.
Alex lagi-lagi merutuki kebodohannya, kenapa ia sampai berani memperlakukan Kayla seperti itu. Apa efek perasaannya yang terlalu bahagia, tapi harusnya kan Alex tetap menjaga batasan. Sekarang mereka malah saling canggung.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...