
Vanessa duduk di sofa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Raut kesal begitu kentara di wajahnya, ia memutar bola matanya jengah dengan pria yang duduk di meja kerjanya. Pria itu nampak tengah berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Setengah jam yang lalu Vanessa sampai kemari, ke kantor tempat mantan suaminya bekerja. Pria yang gila bisnis itu mengabaikan kehadirannya dengan alasan sibuk, padahal dia adalah bos besar, direktur perusahaan yang harusnya bisa hanya tinggal menjentikkan jari untuk segala yang dibutuhkannya.
Seorang pria yang lebih muda darinya berdiri dengan setia di samping bosnya, menunggu hasil pengecekan yang ia serahkan pada sang bos setengah jam yang lalu. Pria muda itu datang beriringan dengan Vanessa ke ruangan direktur ini, dan si bos yang profesional itu tentu memilih meladeni pria muda yang merupakan karyawannya lebih dulu dibandingkan Vanessa. Vanessa lihat pria muda itu juga mulai jenuh berdiri menunggu, saat matanya mendongak dari berkas yang ia tunggu, ia malah mendapat tatapan kesal dari Vanessa. Bingung, pria muda itupun mengalihkan pandangan, mungkin dia berpikir apa kesalahannya sehingga mendapat tatapan kesal dari wanita yang tidak ia kenal ini.
"Mas, aku kesini mau ngomong penting. Bukan cuman liatin kamu doang" kata Vanessa jengah.
"Sabarlah Ness, aku masih sibuk" sahut Elfatt tanpa mengangkat kepalanya.
"Berapa lama lagi?"
"Sudah aku bilang kan jangan datang ke kantor, urusan kita bukan urusan pekerjaan, jadi bicarakan diluar jam kerjaku."
"Jam kerja kamu yang gak berbatas itu?" timpal Vanessa bersungut.
"Hal penting apa yang mau kamu omongin? Apa gak bisa sabar sedikit, sebentar lagi jam makan siang, aku pasti ada waktu buat kamu."
"Soal Alex."
"Ya." hanya itu jawaban dari Elfatt.
Jawaban yang menyebalkan. Vanessa memutar bola matanya jengah sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Baiklah, Vanessa akan sabar menunggu sebentar lagi. Elfatt tidak heran jika Vanessa menemuinya untuk membicarakan Alex. Jika mereka bertemu, pastilah Alex yang menjadi satu-satunya topik perbincangan mereka. Karena itu Elfatt hanya menjawab singkat dengan santai, dan terkesan cuek.
Setelah beberapa menit akhirnya Elfatt menutup lembaran berkas ditangannya, lalu meyerahkan berkas itu pada karyawannya yang sejak tadi berdiri menunggu. Vanessa yang semula sempat mengantuk lantas membuka matanya lebar, kembali bersemangat.
"Ini soal Alex sama Kayla, mas." kata Vanessa membuka percakapan, setelah karyawan muda itu keluar.
"Kamu udah tau? Kapan Alex ngomong sama kamu?"
Elfatt mengibaskan kecil jasnya sambil berdiri, melirik Vanessa sekilas lalu beranjak melenggang ke arah balkon. Mengerti gerak-gerik Elfatt yang tidak ingin mengobrol di dalam ruang kerjanya, Vanessa pun mengikuti langkah pria itu menuju balkon.
"Tadi pagi."
"Dan kamu langsung nemuin aku setelah itu?" Elfatt terkekeh, "Jadi Alex ngadu sama kamu"
Vanessa tidak menanggapi ucapan Elfatt, dia langsung saja ke intinya. "Kamu nggak benar-benar akan memutuskan hubungan Alex sama Kayla kan mas?"
"Hubungan mereka nggak baik dipertahankan. Alex harus mengerti itu"
"Kenapa mas? Kamu tega liat anak kamu sedih, patah hati?"
"Kamu udah tau kan kalo papinya Kayla itu seorang penjahat, dan sekarang mendekam di penjara. Kamu mau berbesan dengan orang seperti itu?"
"Tapi apa salah Kayla, yang jahat kan papinya." Vanessa mendengus. "Mas, Alex sama Kayla itu saling mencintai, mereka pantas bersatu dan bahagia."
"Gak selamanya orang yang saling mencintai itu harus bersatu Nes. Kadang mereka harus mengalah pada keadaan. Lagian sakit hati karena putus cinta nggak selalu buruk, aku yakin Alex akan belajar dari pengalamannya"
"Pengalaman apa, putus cinta maksud kamu? Kamu mau biarin Alex patah hati trus terpuruk? Kamu harap dia akan belajar apa dari kisah cintanya yang mau kamu hancurin?"
"Alex itu laki-laki, dia tegar. Dia gak akan terpuruk karena putus cinta. Perjalanan karirnya baru dimulai Nes, dia harus banyak belajar. Termasuk dari kisah cintanya yang harus berakhir, karena dimulai terlalu awal. Menurutku sebaiknya Alex fokus dulu pada pendidikan dan bisnis, baru urusan cinta."
Vanessa menggeleng, "Kamu mau menyalahkan Alex yang jatuh cinta diusianya ini? Itu normal mas. Lagian cinta itu datang sendiri, jangan kamu hancurin impian anak kamu demi ambisi bisnis kamu itu mas. Aku gak mau Alex sampai menyalahkan dirinya sendiri gara-gara kisah cintanya yang gagal."
"Ambisi kamu bilang? Bisnis itu penting buat Alex, Nes. Dia satu-satunya pewarisku, tentu aku mau dia serius mengurus bisnis. Itu demi masa depannya juga. Aku lakukan ini bukan tanpa alasan, coba kamu kesampingkan dulu perasaan dalam hal ini, pikirin buat kebaikan Alex dan karirnya juga!" Elfatt emosi namun ia tetap berusaha bicara dengan tenang.
"Mas, kalo Alex bahagia.. dia akan menjalani semuanya dengan baik dan senang hati. Semuanya bisa dengan mudah dia handle selama dia baik-baik aja. Sedangkan kalo kamu pisahin dia sama Kayla, itu akan menghancurkan hatinya mas. Gimana dia bisa ngehandle semuanya dengan baik kalo dirinya sendiri gak baik-baik aja!" tutur Vanessa serius, namun ekspresinya memelas.
Elfatt menghela nafas, "Aku percaya Alex bisa. Dia anakku, dia akan belajar dan dia pasti akan lebih mengutamakan tanggung jawabnya daripada perasaannya."
"Dia juga anakku, mas. Dan aku gak mau kisah cinta Alex kandas di tengah jalan, dia punya cinta yang tulus dihatinya. Itu bukan hal yang kecil. Aku gak mau kalo sampai dia patah hati, dan sisi buruknya yang dulu balik lagi. Alex belum lama berubah mas, hatinya masih rapuh, aku gak mau sampai dia merasa hancur dan malah kembali seperti dulu." lirih Vanessa.
"Nes, kamu harus sadar. Alex udah tumbuh jadi anak yang tegar dan dewasa. Dia gak akan semudah itu jatuh, putus cinta gak akan membuat dia hancur. Aku percaya itu."
Vanessa menghela nafas berat, kesal sekaligus sedih. Kenapa papanya Alex tidak mengerti, kenapa dia seperti tidak mengenali anaknya sendiri. Bahkan dia juga semudah itu mengubah pandangannya terhadap Kayla. "Kamu itu papanya, tapi kenapa kamu gak bisa ngertiin dia?"
"Justru karena aku ngerti keadaannya sekarang Nes, aku lakuin ini. Aku mau Alex belajar dari pengalaman, supaya dia lebih dewasa menyikapi situasi yang dia hadapi nanti di masa depan."
"Keadaan apa? Semuanya baik-baik aja sekarang. Alex gak ngelakuin kesalahan mas."
"Alex udah mengundang masalah ke dalam hidupnya, dan dia sendiri yang harus menyelesaikan masalah itu. Biarkan dia jatuh dulu, dia pasti akan bangkit! Apa kamu gak mau anak kamu menjadi laki-laki yang kuat?"
Vanessa sempat tertegun sebelum menjawab. "Bukan seperti itu yang aku maksud, mas. Aku percaya Alex bisa tetap melangkah lurus tanpa harus terjatuh, dia punya pegangan. Jangan singkirkan pegangan itu dan membuat langkahnya menjadi sulit!"
Sekarang Elfatt yang terdiam, tapi ia tetap menimpali ucapan Vanessa setelahnya. Perdebatan panjang antara mantan pasangan suami istri yang tidak sejalan ini, tidak membuahkan hasil yang bagus. Perbincangan mereka tidak ada ujungnya, mereka sama-sama bertahan pada pendirian masing-masing, tidak ada yang mau mengalah. Yang satu mengedepankan logika dan kehormatan, dan yang satu mengedepankan hati dan perasaan. Tidak ada yang bersalah sebenarnya, keinginan mereka saja yang bertolak belakang.
... _________________...
Nadia melamun sambil memainkan sendok diatas piring, sambil menatap putrinya yang sedang menikmati makan malam.
"Mi?" Nadia terkesiap saat Kayla memanggilnya.
"Ayo makan, Lily udah hampir selesai nih."
Nadia hanya mengangguk seraya tersenyum kaku, tanpa berminat menyentuh makanan.
"Ada apa mi?"
"Hm? Enggak ada apa-apa sayang."
"Ih mami, jangan bohong ah. Ketahuan kok dari mukanya, mami mikirin apa sih?"
Nadia mengulum bibirnya, ia ragu untuk membuka percakapan. Apalagi Kayla terlihat biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sepertinya. Namun perasaan Nadia tidak tenang sebelum ia mendengar sesuatu dari Kayla.
"Sayang!"
"lya mi?"
"Emm.. kamu sama Alex baik-baik aja?"
Kayla mengernyit bingung. "Maksud mami?"
__ADS_1
"Kamu sama Alex gak ada masalah kan?"
"Enggak ada mi" Nadia mengangguk mendengar jawaban Kayla.
"Kenapa?" tanya Kayla tak mengerti.
"Emm.. Alex ada ngomong sesuatu gak hari ini? Atau kemarin?"
Kayla mengernyit berpikir. "Ngomong sesuatu gimana maksud mami, Lily gak ngerti."
"Sesuatu... Soal papanya mungkin."
"Enggak ada tuh. Emangnya ada apa sama Om William?"
"Enggak ada ya?" ulang Nadia meyakinkan dirinya.
"Ada apa sih mi sebenarnya? To the poin aja deh..."
"Enggak kok sayang. Kalo Alex gak ngomong apa-apa berarti emang gak ada apa-apa."
"Ih mami, bikin Lily penasaran aja. Ada apa mi?" tanya Kayla lagi.
"Udah ah. Lanjutin makannya!" kata Nadia mengalihkan.
"Lily udah selesai" sahut Kayla sambil memperhatikan maminya memasukkan lauk ke piring, bersiap untuk makan.
"Oh udah ya. Hehehe..." mami malah cengar-cengir.
"Apa yang mami sembunyiin? Gak mungkin kan gak ada apa-apa tapi mami malah ngelamun. Tapi.. kok mami gak mau ngasih tau ya?" gumam Kayla dalam hati.
... ....
... ....
... ....
Kayla keluar dari kamar mandi setelah bersih-bersih dan bersiap untuk tidur. la duduk di ranjang sambil mengecek ponselnya. Tiba-tiba panggilan video masuk, membuat Kayla terkekeh lucu melihat nama Mr Strawberry tertera di layar ponselnya.
"Hai Mr Strawberry!" sapa Kayla setelah wajah Alex muncul di layar ponselnya.
Alex tersenyum, "Hai Miss Kissable!"
"Ada apa?" tanya Kayla.
Alex diam, ekspresi wajahnya agak berubah. Lalu ia tersenyum kembali setelah memperhatikan wajah Kayla.
"Cuman kangen aja."
Kayla tertawa geli. "Gombal!"
"Miss Kissable!"
"Kamu udah makan?"
"Hm, udah." Kayla mengangguk. "Kamu?"
"Udah. Biasanya kamu malam-malam gini ngobrol sama mami kamu kan." Alex nampak menebak.
"lya. Udah juga kok tadi, makanya ini siap-siap mau tidur."
"Owh.." gumam Alex pelan.
"Owh doang?"
"Hah?" Alex agak salah tingkah, entah ada apa dengannya.
"Emm.. kamu udah mau tidur?"
"Belum sih, soalnya kamu ngajak ngobrol. Hehe.." Kayla tertawa kecil.
Alex mendengus senyum, "Miss Kissable, apa mami kamu ngomong sesuatu tadi?"
Kayla mengernyit, "Bentar deh, kamu nanya apa barusan?"
"Emm.. mami kamu ada ngomong apa aja sama kamu?"
Kayla terkekeh, ia merasa ada yang janggal disini. Tadi mami bertanya tentang Alex, sekarang Alex yang bertanya tentang mami. Pertanyaan mereka sama pula.
"Mami, ngomong apa? Ini ada apa sih sebenernya, aku gak ngerti. Tadi tuh mami juga nanyain kamu."
"Mami kamu nanyain aku?"
Kayla heran melihat Alex yang agak terkejut dan cemas, entah benar atau tidak, Kayla sendiri tidak yakin akan apa yang dia lihat.
"Mami kamu nanyain apa? Trus bilang apa aja?" tanya Alex ngegas.
"Mami cuman nanya soal hubungan kita, ya aku bilang baik-baik aja. Emang gak ada masalah kan."
"lya, iya gak ada masalah." jawab Alex agak kaku.
"Trus ngapain kamu nanyain mami?"
"Apa mami kamu ngomong yang lain lagi?"
"Yang lain, maksudnya?"
"Mungkin yang ada hubungannya sama papa aku..?"
"Hey.. jangan bilang gak ada apa-apa ya! Mami nanya ke aku soal yang sama. Emangnya ada apa sama papa kamu? Kok kamu sama mami kompak sih nyembunyiin sesuatu dari aku?" Kayla nampak merajuk.
__ADS_1
"Eh, aku cuman nanya loh sayang"
"Mami juga cuman nanya bilangnya. Ada apa sebenarnya Mr Strawberry?" tanya Kayla curiga.
Alex terdiam. "Emm.. kalo mami kamu gak ngomong apa-apa berarti ya emang gak ada apa-apa."
Kayla memutar bola matanya malas, "Fix. Ada yang disembunyiin dari aku, kok kamu kompak sih sama mami! Pliss deh.. ada apa?"
"Miss Kissable, gak usah dipikirin ya! Ayo istirahat, tetap bahagia ya sayang..!"
"Apa sih?! Kok malah ngalihin pembicaraan! Kamu gak mau ngasih tau ada apa sebenarnya, aku bakal tanya langsung ke papa kamu."
"Eh jangan!" sergah Alex cepat.
"Tuh kan, emang ada sesuatu berarti." rajuk Kayla.
Alex terdiam, ia menatap Kayla dengan tatapan yang sulit Kayla pahami. Alex menegang saat Kayla bilang akan bertanya langsung pada papanya. Gara-gara pertanyaannya tadi, yang bahkan ternyata sama dengan pertanyaan Tante Nadia, Kayla jadi curiga dan penasaran. Alex khawatir jika Kayla nekat mencari tahu sendiri dengan bertanya langsung pada papanya, maka semuanya akan benar-benar berantakan. Tidak. Alex belum terlambat, masalah ini masih bisa diatasi tanpa harus Kayla tahu. Bagaimanapun juga, Alex tidak akan membiarkan Kayla tersakiti.
"Oke, kita omongin besok ya!" kata Alex kemudian.
"Enggak sekarang?" tanya Kayla yang sudah penasaran.
"Besok aja. Enakan ngomong langsung daripada kayak gini"
"Oke." jawab Kayla mengerti.
Namun tidak lantas membuatnya tenang, firasatnya mengatakan kalau Alex sedang tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang dia pikirkan, entah apa itu Kayla tidak tahu. Baiklah, Kayla akan mencari tahu jawabannya besok.
"Yaudah, istirahat ya sayang! Sweet dream.." ucap Alex sambil tersenyum manis, membuat Kayla tersipu.
"Thank you.. kamu juga. Selamat malam Mr Strawberry."
Alex yang lebih dulu memutuskan sambungan video call mereka, perasaannya sudah gelisah sehingga ia khawatir Kayla akan menangkap gelagat tak tenangnya saat mereka bertatap muka, meski secara virtual.
"Hhh... Ya Allah.." desah Alex seraya merebahkan tubuhnya ke kasur.
Alex menumpu kepalanya dengan kedua telapak tangan yang ia selipkan antara belakang kepalanya dan bantal. Menatap langit-langit kamar sembari termenung.
Ceklekk
Alex mengalihkan pandangannya ke arah pintu saat pintu kamarnya itu terbuka. Papanya sudah berdiri di depan pintu.
"Papa?" kata Alex sambil mendudukkan dirinya.
Elfatt tersenyum tipis lalu masuk, menarik sebuah kursi dan duduk di depan Alex. "Gimana hari ini?"
Alex tidak langsung menjawab, ia tahu maksud papa yang sebenarnya. Papanya bukan menanyakan tentang bagaimana sekolah Alex hari ini, atau pekerjaannya hari ini, melainkan tentang permintaan papa tadi pagi, yaitu bicara dengan Kayla. Tentu saja Alex tidak mau melakukannya.
"Kayak biasanya pa." jawab Alex singkat, membuat Elfatt memutar bola matanya.
"Belum kamu omongin sama Kayla?" Alex hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Al, selesaikan tanpa menunda-nunda, atau kamu gak akan bisa melakukannya."
"Al emang gak mau ngelakuin itu pa."
"Yang terbaik buat kamu dan Kayla, akhiri hubungan kalian!" tegas Elfatt.
"Apanya yang baik pa? Terbaik buat Al sama Kayla, atau buat ambisi papa?!" kesal Alex.
"Papa tau kamu dan Kayla akan sakit hati, tapi itu bukan akhir dari segalanya Al. Kehidupan kalian akan tetap berlanjut kok, meskipun kalian gak bersama. Papa mau kamu fokus sama bisnis, dan biarin Kayla ngejalanin hidupnya sendiri"
"Gak bisa gitu Pa! Al sama Kayla gak mungkin pisah, kita punya impian, kita saling cinta. Kenapa papa nggak ngerti itu?" Alex mulai menunjukkan kegundahannya.
"Papa tau soal cinta. Dan gak selamanya cinta itu akan bikin kamu bahagia, kamu belum tau kehidupan pernikahan itu seperti apa. Jadi lebih baik kamu lupain dulu soal nikah, fokus sama kerjaan Al!"
"Al bisa fokus sama kerjaan pa, Al selalu belajar kok buat semua itu. Apa salah kalo Al mencintai seseorang dan mau hidup bersama dia?"
"Papa gak bilang itu salah, tapi ini bukan waktu yang tepat."
"Al gak bakal nikah sekarang kok. Al cuman mastiin kalo Kayla lah yang akan jadi masa depan Al."
"AI, berapa kali harus papa bilang, Kayla bukan yang terbaik buat kamu. Dia gak cocok berada di keluarga kita, dan papa gak mau berbesan dengan orang seperti papinya itu"
Alex mendengus kesal sambil memalingkan wajah dari papanya, ia benci mendengar itu.
"Lupakan Kayla! Lupakan urusan cinta, fokus dulu sama tanggung jawab kamu yang sekarang, baru mikirin yang lain."
"Pa, Al yakin kok Al bisa ngehandle perusahaan tanpa harus keganggu sama urusan cinta. Lagian Kayla itu cewek pengertian, dia selalu dukung AI. Dan papa harus tau, gak ada cewek yang tepat buat Al selain Kayla. Gak ada pa." tutur Alex serius dan penuh penekanan.
"Papa gak mau tau. Papa kasih kamu kesempatan buat ngomong sama Kayla baik-baik! Dia cewek pengertian kan, kalo gitu buat dia ngerti keadaan kamu, dan kasih alasan kenapa kamu harus memutuskan hubungan kalian." balas Elfatt.
"AL GAK BAKAL NGELAKUIN ITU, PA!" bantah Alex keras.
Elfatt marah, ia lantas berdiri dan berkata dengan tegas. Kata-katanya berunsur ancaman. "Lupakan Kayla, Al! Batalkan pertunangan kamu dengan dia, secepatnya. Atau papa sendiri yang akan memutuskan hubungan kalian!"
Elfatt pergi setelah memperingatkan Alex. Sementara Alex hanya diam memperhatikan punggung papanya sampai hilang dibalik pintu yang ditutup. Dengan geram, Alex menendang kursi yang tadi diduduki papanya. la mengusap wajahnya frustasi sambil menghela nafas beberapa kali.
Hari ini mama gagal membujuk papa, tapi Alex bisa mengerti. Papanya itu memang keras kepala, Alex tidak kecewa pada mama. Ini belum terlambat, mama pun sudah berjanji akan melakukan apa saja agar Alex tidak terpisah dengan Kayla. Alex harap besok mama sudah bisa menyelesaikan masalah ini, atau setidaknya menemukan solusi agar hubungan Alex dan Kayla tetap baik-baik saja.
... ....
... ....
... ....
... ....
... Bersambung...
__ADS_1