Miss Kissable & Mr Strawberry

Miss Kissable & Mr Strawberry
Antara Kayla, Alex, dan Feli


__ADS_3

Kayla lega ia sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah lebih sebulan berada di rumah sakit. Namun kelegaannya karena berpindah ke tempat tidur yang lebih nyaman dan akrab dengannya itu tak lantas membuatnya terlelap damai. Ia susah tidur, bukan karena kondisi tubuhnya belum pulih total ataupun karena pengaruh obat yang dikonsumsinya, melainkan karena terpikir dan terngiang-ngiang perkataan Bu Feli.


Kayla berusaha melupakannya dan tidak mau berpikir yang berat-berat dulu, tapi perkataan Bu Feli tak bisa ia abaikan. Memang ketika ia menghadapi Bu Feli dan menolak keinginan guru keseniannya itu dengan tegas, ia seolah menunjukkan ketidak peduliannya terhadap perasaan Alex yang kata Bu Feli.. "masih sangat mencintainya." Tapi nyatanya kalimat itu tak bisa Kayla lupakan. Terlebih lagi tentang keputusan Bu Feli yang ingin menikahkan Alex dengan Kayla di tanggal pernikahan yang seharusnya menjadi pernikahan Alex dengan Bu Feli. Kayla tak habis pikir, bagaimana bisa Bu Feli mengambil keputusan sebesar itu padahal dia sendiri tersakiti.


Didepan mami, ayah, dan seluruh keluarganya, Kayla terlihat senang dan tenang saat mereka menggiringnya keluar dari rumah sakit hingga sampai di rumah. Tidak ada yang tahu kalau ada masalah serius yang mungkin tidak lama lagi akan membuat mereka terkejut. Semoga saja Bu Feli melupakan keinginan yang tak wajar itu. Tapi bohong jika Kayla bisa melupakan perbincangan tegangnya dengan Bu Feli tadi pagi, setiap saat ia terpikir akan hal itu sehingga ia harus mengumbar senyum palsu didepan keluarganya, untuk menghindari kecurigaan yang akan menjadi masalah.


Satu jam yang lalu mami keluar dari kamar Kayla setelah memastikan putrinya minum obat dan istirahat, mami mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Namun kini Kayla nyalakan kembali lampu utama kamarnya, sehingga seluruh isi kamar terlihat jelas. Kayla duduk bersandar di kepala ranjangnya sembari termenung. Ia terisak kecil dan terus mengusap pipinya jika ada air mata yang lolos dari tempat produksinya. Masalah ini terlalu serius dan sensitif untuk bisa Kayla abaikan, hatinya merasakan kecemasan yang besar disamping perasaan aneh yang masih ada, perasaan yang Kayla pikir itu adalah cinta yang masih tersisa untuk Alex.


Kenapa, kenapa Kayla masih merasa kalau dihatinya ada cinta untuk Alex? Padahal sebelumnya ia merasa tenang karena ia pikir sudah bisa move on dari pria itu. Kenapa sekarang masalah seserius ini bisa muncul, disaat Kayla dan Alex sudah memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubungan yang ada diantara mereka. Kayla tidak mau menjadi duri didalam hubungan Alex dengan Bu Feli yang sebentar lagi sampai ke pelaminan. Kayla tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan pasangan itu, baik Alex maupun Bu Feli.. keduanya adalah orang yang Kayla kenal baik, keduanya orang yang patutnya Kayla hormati, bukan malah tersakiti oleh keberadaan dirinya.


Dalam rasa cemas dan takutnya, Kayla berharap besar bahwa Bu Feli akan mengurungkan niatnya dan melupakan keputusannya yang tak wajar itu. Semoga Bu Feli dan Alex bisa menyelesaikan masalah mereka, sehingga tidak perlu ada ketegangan dan cekcok antara dua keluarga, apalagi sampai hubungan mereka yang terancam. Demi apapun, Kayla tidak ingin mami dan seluruh keluarganya mendengar berita itu, apalagi sampai terseret dalam masalah keluarga Bu Feli dan Alex.


...____________________...


Kedua mata yang enggan terpejam itu terpaku dengan tatapan kosong, bahkan tak ada reaksi dari kelopak mata itu saat tetes demi tetes cairan bening mengalir membuat dua jalur sungai kecil di kedua pipinya. Hanya helaan nafas yang berkali-kali terdengar dari mulutnya, semua itu efek dari ombak hati yang ia rasakan.


"*Kok kamu marah sih? Aku bermaksud menyatukan kamu sama orang yang kamu cintai loh Al, aku ngalah buat kebaikan kita jua. Buat kebahagiaan kamu dan ketenangan aku."


"Aku nggak minta kamu ngelakuin hal gila itu! Aku nggak mau kamu ngalah dengan alasan kebahagiaanku, Fel!" teriak Alex didepan wajah Feli, ia benar-benar kesal.


Feli terkesima, bingung, dan terdiam cengo. Alex mengguyur rambutnya seraya mendengus kasar, lalu ia memegang kedua bahu Feli. "Fel, asal kamu tau, waktu aku mutusin buat nerima perjodohan kita.. aku udah nerima kamu sebagai calon masa depanku, walaupun hatiku berat dan nggak siap. Aku janji sama diriku sendiri buat nggak nyakitin kamu, meskipun aku berkali-kali gagal. Aku belajar banyak hal buat persiapin diriku demi kamu, demi bisa jadi suami yang bertanggung jawab nantinya. Aku serius Fel*.."


Kali ini Feli mendesah tertahan dengan mata terpejam dan kepala mendongak. Kata-kata yang Alex ungkapkan padanya di parkiran rumah sakit hari ini terus terngiang-ngiang dibenaknya. Karena kata-kata itu, Feli jadi berada dalam kebimbangan besar seketika. Ia sudah yakin akan keputusannya untuk tidak melanjutkan perjodohan dengan Alex, bahkan ia mengutarakan keinginan didepan kedua keluarga untuk menikahkan Alex dengan Kayla dihari yang telah disepakati sebagai hari pernikahannya sebelumnya. Sebelum ataupun setelah ia bicara pada Kayla, keputusan Feli tetap sama. Ia yakin akan keputusannya itu, meski keluarganya belum ada yang menyetujui dan Kayla pun juga menolaknya. Ia bertekad akan mewujudkan pernikahan Alex dan Kayla meski apapun rintangannya.


Namun, tak ia sangka setelah mendengar kata-kata Alex.. keyakinan hatinya jadi goyah.


Feli tahu, Alex tidak mencintainya. Feli tahu siapa yang ada dihati Alex, dan siapa dirinya dimatanya Alex. Tapi kenapa Alex berkata seperti itu kepadanya? Kenapa Alex melakukan itu? Sentuhan Alex di bahunya, tatapan mata indah pria itu, dan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.. membuat hatinya bergetar, dan menciptakan pengaruh besar untuk dirinya. Kenapa Alex ingin memperjuangkannya? Kenapa Alex marah akan keputusan yang ia ambil, dan malah melarangnya untuk mundur dari hubungan mereka? Jika Alex tidak mencintainya kenapa Alex mau melakukan itu?


Feli teringat akan kata-kata yang Kayla ucapkan padanya saat ia berusaha meyakinkan gadis itu, bahwa Alex masih mencintai Kayla, dan Feli ingin mereka berdua yang menikah.


"Mungkin benar kalo sebelumnya dia nggak yakin itu karena masih nggak bisa lupain saya. Tapi Bu, sepanjang yang saya kenal Alex itu nggak akan yakin sama satu keputusan yang dia ambil.. kalo emang dirinya sendiri nggak terima. Saya yakin, kalo waktu dia bilang nerima perjodohan kalian dengan sepenuh hati.. dia emang udah yakin sama hubungannya dengan Bu Feli. Buat kedepannya, dia nggak akan ngulangin kesalahan lagi. Percaya ya Bu!" bujuk Kayla penuh harap.


Feli cukup terkesima, Kayla memiliki rasa percaya yang tinggi terhadap Alex. Padahal Kayla tidak dekat lagi dengan Alex seperti dulu, tapi gadis itu masih mempercayai Alex. Bahkan dia memilih percaya akan pendapatnya terhadap Alex, dibandingkan percaya akan fakta yang Feli katakan, padahal gadis itu tahu Feli benar. Kayla tahu kalau Alex masih mencintainya, tapi dia menolak pria itu dan menolak keinginan Feli juga. Dengan alasan 'restu orang tua yang paling penting', Kayla menolak menyetujui keputusan Feli. Meski Feli meyakinkan Kayla bahwa dirinya sendiri yang akan meminta restu orang tua Kayla dan irang tua Alex.. Kayla tetap menolak.


"*Kalo pun mereka setuju, Alex nggak bakal setuju, Bu. Karena dia udah ngambil keputusan buat menikah sama Bu Feli. Dia akan perjuangin hubungan kalian, sampai Bu Feli dengan senang hati nerima dia".


"Dia akan memperjuangkan saya seperti dia memperjuangkan kamu, Kayla?" Bu Feli terkekeh sumbang. "Kenapa dia mau buang-buang waktu buat ngelakuin itu, kalo dia nggak mencintai saya*."


Lagi-lagi Kayla sepercaya itu pada Alex. Kayla yakin Alex tidak akan melepaskan Feli, apapun alasannya. Feli merasa heran dan geli sendiri ketika Kayla mengatakan itu. Bagaimana mungkin Alex yang jelas-jelas masih mencintai Kayla malah memilih memperjuangkan Feli, yang bahkan sering dia abaikan selama ini. Kenapa Alex akan melakukan itu, tidak masuk akal buat Feli. Mempercayai ucapan Kayla yang terlihat berusaha meyakinkan dirinya itu.. adalah hal konyol buat Feli.

__ADS_1


Tapi sekali lagi Feli terkesima. Ternyata ucapan Kayla terbukti, Alex menunjukkan keseriusannya hari ini. Feli kesal, tapi ia harus mengakui bahwa Alex berhasil meluluhkan hatinya. Namun perasaannya tak lantas tenang dengan begitu mudah, disisi lain sekaligus dalam waktu bersamaan.. akalnya tidak bisa menerima itu. Naluri dan nalarnya bertolak belakang, ia mencintai Alex dan senang mengetahui pria itu menginginkan hubungan mereka, tapi.. ia juga terluka sehingga ia memantapkan hatinya untuk melepaskan pria itu dan mengakhiri kisah diantara mereka.


"Enggak Fel! Kamu nggak boleh lemah, nggak boleh goyah. Kamu akan melepaskan Alex, dan keputusan itu udah benar." tegasnya pada dirinya sendiri.


"Kalo kamu kasih kesempatan lagi buat hubungan ini, artinya kamu siap tersakiti lagi. Alex mungkin ingin memperbaiki kesalahannya, tapi itu nggak memastikan kalo dia bisa mencintai kamu nantinya, Fel."


"Ya! Keputusan kamu udah benar, apapun rintangannya kamu nggak akan ngelanjutin perjodohan ini." ucapnya mantap.


...____________________...


Alex duduk bersama sang mama di kamarnya. Meski malam cukup larut, mama bilang tidak bisa tidur dengan tenang sebelum bicara dengan Alex. Sebenarnya Alex tidak ingin membahas masalahnya sekarang, tapi mama menegaskannya untuk tidak mengulur waktu ataupun menghindari sang mama lagi. Alex tahu mama cemas, Alex tahu mama ingin dirinya bahagia tanpa harus mengalami kesulitan dalam hal asmara, Alex mengerti kegelisahan mama saat ini. Jadi ia mengalah untuk benar-benar terbuka pada mama, hal yang mama inginkan darinya sejak berbulan-bulan lalu.


"Aku serius waktu aku bilang.. nggak akan nyia-nyiain Feli, Ma."


Vanessa -sang mama- mendengus pelan. Tentu Vanessa ingat saat Alex mengucapkan itu. Vanessa tahu bagaimana beratnya hati Alex ketika mengambil keputusan untuk perjodohan beberapa bulan yang lalu. Meski begitu, putranya itu tetap memilih menerima perjodohan padahal dia juga bisa memilih untuk menolak. Vanessa memberikan pengertian dan juga peringatan untuk Alex, namun Alex tetap memilih menerima tanggung jawab itu padahal dia belum siap.


"Salahku selama ini selalu gagal ngendaliin perasaanku, Ma. Salahku yang selalu ngulur waktu buat bener-bener bertanggung jawab sama hubungan itu. Tapi sekarang aku udah sadar, aku udah bangun dari mimpi panjangku yang nggak berujung. Aku nggak akan nyakitin Feli lagi."


"Keputusan kamu buat bertanggung jawab atas hubungan itu.. benar Nak. Tapi keputusan yang Feli ambil buat kamu dan Kayla.. itu juga benar."


Alex mengernyit tak terima, "Keputusan Feli benar?"


"Kenapa enggak, Ma? Kayla udah move on dari aku kok, dia nggak papa kalo aku nikah sama Feli. Dan Feli nggak bersalah dalam hubungan ini, kenapa dia harus berkorban?"


"Kamu yakin Kayla udah move on?"


"Iya." Alex mengangguk.


"Dia.. udah nggak mencintai kamu lagi?"


Alex membuka mulut tapi tak lantas menjawab, ia lalu mengangguk ragu. "Dia udah nggak cinta sama aku." jawabnya kemudian, dengan suara pelan yang terdengar berat.


"Kamu yakin?"


"Yakin Ma..." desah Alex. "Dia nolak aku dengan tegas kemarin." lanjutnya dengan nada yang terdengar memprotes.


"Karena itu kamu memilih memperjuangkan Feli walaupun kamu nggak mencintainya?"


Alex ingin menggelengkan kepala karena ia tidak setuju dengan mama, tapi memang itu alasan yang membuatnya mantap untuk maju. Jadi, harusnya ia mengangguk kan?

__ADS_1


"Itu.. itu cuman salah satu alasan, Ma." akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulut Alex.


Vanessa menatap putranya tak yakin. Alex malah menunduk menghindari tatapan sang mama.


"Dari awal waktu aku mutusin buat nerima perjodohan itu.. aku emang udah berniat buat mempertanggung jawabkan keputusanku, Ma. Cowok emang harus bertanggung jawab sama kata-katanya kan?"


"Iya. Mama percaya anak mama bisa jadi cowok yang bertanggung jawab. Mama cuman khawatir kalo kamu nggak bisa adil sama Feli."


Alex mengerti kalimat 'nggak bisa adil' yang dimaksud mama. Mama selalu mengkhawatirkan itu, mama takut Alex tidak bisa berhenti mencintai Kayla sehingga nantinya ia tidak bisa memberikan cinta untuk Feli yang akan menjadi istrinya. Mama takut akan hal itu sejak awal, karena rasa trauma di masa lalu. Mama takut Alex tidak bisa melupakan cinta pertamanya seperti halnya mama yang tidak bisa melupakan cinta pertama mama dulu. Mama takut pernikahan Alex tidak harmonis tanpa cinta, seperti halnya pernikahan mama dan papa dulu. Mama takut sejarah akan terulang, tapi Alex yakin kisah cintanya tidak akan sama dengan kisah cinta mama.


"Cinta bisa datang setelah nikah kan Ma? Lagian nggak mungkin kan selamanya aku nggak bisa lupain Kayla, kalo aku selalu deket sama Feli.. aku pasti juga bisa mencintai dia. Aku akan berusaha jadi suami yang baik buat dia."


"Cinta itu datang tanpa diminta, tanpa bisa diprediksi apalagi dipilih. Emang benar.. kamu mungkin akan ngelupain Kayla dan akan mencintai Feli, tapi mungkin juga itu nggak terjadi. Enggak mustahil kalo hati kamu akan tetap seperti ini, sampai kapan.. waktunya nggak bisa kamu pastiin. Itu yang Feli nggak mau, Nak. Itu kenapa Feli mutusin buat mundur dari hubungan kalian."


"Katanya mama percaya sama aku. Kok mama masih nggak yakin sih aku bisa? Aku cuman mau memperbaiki semuanya, Ma. Aku mau jadi cowok yang bertanggung jawab, dengan perjuangin Feli dan benar-benar move on dari Kayla. Aku nggak mau nyakitin mereka berdua." Alex mulai frustasi.


"Mama tau, nak. Mama bukannya nggak percaya sama kamu, tapi mama khawatir. Sebagai perempuan, mama ngerti ketakutan Feli.. sampai dia ngambil keputusan itu."


"Aku juga tau, makanya aku ngeyakinin dia kalo aku serius sama hubungan kita. Aku nggak mau dia mundur karena itu bakal nyakitin dia, Ma. Aku nggak mau menempatkan Feli dalam situasi yang sama seperti Kayla dulu. Aku nggak akan ngulangin kesalahan yang sama buat yang kedua kalinya. Aku nggak mau nyesel lagi, Ma." lirih Alex.


"Situasi Feli sama Kayla itu beda, Al. Kamu sama Kayla itu dipisahin, masing-masing diantara kalian nggak ada yang berniat melepaskan. Kalo kamu sama Feli.. enggak ada yang mau misahin kalian, tapi Feli sendiri yang mau melepaskan kamu."


"Tapi pandangan orang-orang ke mereka berdua bakalan sama, Ma. Cewek malang yang pernikahannya batal. Kesan jelek apa yang mereka dapetin gara-gara aku, Ma? Dan aku, pasti akan terlihat sebagai pengecut."


"Enggak Al, kamu jangan terus ngerasa bersalah gini dong nak.." Vanessa mengelus kepala Alex. "Kayla sama Feli itu anak-anak baik, mereka berdua sama-sama cerdas dan bijak. Mereka nggak akan terpuruk dengan pandangan orang seperti itu. Mereka berdua juga sama-sama ngehargain kamu kan selama ini, mereka nggak nganggep kamu bersalah. Enggak ada yang bersalah diantara kalian, cuman takdir kalian aja yang kayak gini."


Alex menelan salivanya getir, kemudian berucap dengan lirih. "Karena itu aku ngambil keputusan.. buat mertahanin Feli, Ma. Kayla biarlah jadi masa lalu aku, dia juga udah bisa ngelanjutin hidupnya dengan baik. Dia bisa hidup tanpa aku Ma, dia sekarang punya keluarga yang utuh, yang sempurna. Dulu dia cuman berdua sama maminya, kalo yang satu sedih yang lainnya juga ikutan sedih, rapuh bersama, dan saling nguatin satu sama lain, cuman berdua. Tapi sekarang udah ada Om Tio, Arsya, bahkan Om Arman juga udah balik." Alex menarik sudut bibirnya, begitu pula dengan sang mama.


"Tapi Feli, kalo aku lebih milih Kayla dibanding dia.. aku akan ngerasa jadi cowok paling jahat di dunia. Karena aku udah kasih dia harapan dan banyak kesempatan, tapi malah aku sia-siain gitu aja. Aku nggak bisa begitu." Alex menghembuskan nafas panjang. "Sekarang aku emang belum mencintai dia, tapi aku akan berusaha buat ngehargain dia, hormatin dia, dan kasih semua hal yang emang harus dia dapetin. Aku akan wujudin semua yang selama ini dia impikan, aku akan berusaha, Ma."


Vanessa tersenyum haru, "Mama percaya kamu bisa, nak. Mama dukung kamu." ucapnya sembari mengelus pipi Alex, kemudian mencium kening putranya itu.


... ....


... ....


... ....


... ....

__ADS_1


... Bersambung...


__ADS_2