
Siapa yang berani datang ke markas pribadi The ruler of school ???
Bima beranjak, mencegat orang yang datang dan berteriak panik itu. Bima berdiri didepannya, sebelum orang itu mencapai markas pribadi mereka dan mengganggu Alex.
Dua gadis yang sejak tadi berlari dan meneriakkan nama Alex itu lantas menghentikan langkah mereka melihat Bima berdiri menghalangi jalan mereka, dengan nafas yang masih ngos-ngosan mereka menengok Alex dari balik tubuh Bima, menampakkan wajah memelas mereka.
"Apa-apaan nih?!" sentak Bima.
"Jessica..." kata Luna seraya mengatur nafasnya, salah satu teman Jessica yang tadi berlari. Ia memperlihatkan sesuatu yang ada ditangannya. Sebelah sepatu?
"Iya, Al.. Jessica..." kata Erin, teman yang satunya dengan nafas yang juga ngos-ngosan.
"Ngapain lagi tu cewek?" tanya Bima setengah membentak.
Kedua gadis itu menggeleng.
"Jessica hilang..!" sahut mereka bersamaan.
Alex dan teman-temannya hanya memutar bola mata mereka, jengah. Malas sekali menanggapi gadis-gadis centil ini, yang suka mencari perhatian mereka, terutama Jessica.
Jessica adalah siswi terpopuler di sekolah, ia cantik dengan wajah bule dan rambut pirangnya, berpenampilan modis dan memiliki tinggi badan yang semampai bak model. Gadis itu memang menyukai Alex sejak lama, ia selalu berusaha mendekati Alex dan mencari perhatiannya. Dan ini, drama baru apa lagi? Hilang bagaimana maksudnya, diculik?
"Drama apaan lagi nih.." sahut Bima malas.
"Hilang gimana?" tanya Vicky menimpali, kasian juga kalo dicuekin doang.
"Ya ilang.. kita udah cari dia kemana-mana.. tapi nggak ketemu" jawab Erin panik.
"Udah pulang kali.." timpal Sandi santai.
"Enggak San, tasnya masih ada di kelas, dan kita.." Luna menjeda ucapannya seraya menunjukkan sebelah sepatu yang sejak tadi ditentengnya. "..kita nemuin sepatunya sebelah" lanjutnya.
Bima mengernyit menatap sepatu itu, sedangkan Sandi dan Vicky saling pandang dan mulai berpikir apakah Jessica benar-benar hilang atau ini hanya permainan mereka saja. Dan Alex, dia masih bersandar di pohon sejak tadi sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan mengulurkan kakinya santai.
"Tolongin dong..." rengek mereka berdua sambil menggoyang-goyang lengan Bima.
"Al.. tolong.." pinta Erin pada Alex yang sejak tadi cuek.
"Iya Al.. pliiiss... kita butuh elu." Luna menimpali.
Tidak ada sahutan dari empat pria tampan itu, dua gadis ini tidak diam saja. Mereka berjalan mondar mandir di depan Bima, menghentak-hentakkan kaki dengan gaya manjanya yang dibuat-buat, tentu masih dengan mulut yang berisik merengek juga.
"Telpon kek!" ucap Vicky menyarankan.
"Udah Vick.. tapi hp nya nggak aktif.." sahut Luna frustasi.
"Aduh gimana nih.. kok kalian diem aja sih.. tolongin dong.."
Tiba-tiba Luna tersentak dan mendadak berhenti mondar mandir. "Kalo Jessica diculik gimana..??" katanya panik.
"Aaaa.... NO!!" pekik Erin seraya menggeleng.
"Nggak usah ngaco deh lu" sergah Bima.
"Bim.. kita udah cari dia kemana-mana nggak ketemu, udah nanya-nanya juga ke siapa pun tapi nggak ada yang liat dia.."
"Kita juga udah telponin berkali-kali nggak diangkat, kita malah nemu sepatunya di ujung lorong UKS cuma sebelah lagi, tapi dianya nggak ada disana juga.." mereka berdua masih merengek.
"Al.. lakuin sesuatu dong..!" kata Erin mulai kesal.
"Lapor aja ke guru BK atau kepala sekolah.. kenapa ke gue" sahut Alex malas.
"Udah.. mereka juga udah bantu nyari kok tapi belum ketemu juga.."
"Al.. ini genting tau, kita serius, lu malah nggak peduli!" Luna ikut menimpali
"Kita sama Jessica kan sering bantuin lu buat ngerjain anak-anak.. apa susahnya sih lu bantuin kita nyari Jessica."
"Emang gue pernah minta bantuan kalian buat ngerjain anak-anak?" tanya Alex remeh
"Kok lu gitu sih Al.." jawab Erin terdengar kecewa.
"Iya, kalo terjadi apa-apa sama Jessica gimana..?" Luna menimpali.
"Yaudah.. jadi kalian mau kita gimana?" Vicky akhirnya mengalah.
"ya bantuin kita lah nyari Jessica!"
Alex mendecakkan lidahnya malas. "Kalian yang temennya aja nyari-nyari dia nggak ketemu. Gimana kita?" kata Alex mulai kesal.
Melihat wajah Luna dan Erin mulai putus asa dan mata yang berkaca-kaca akhirnya Bima merasa kasihan juga. "Yaudah.. ayo. Gue bantuin nyari" kata Bima sambil berjalan mendahului mereka.
Vicky dan Sandi pun ikut beranjak, tapi agaknya dua gadis ini enggan pergi melihat Alex yang masih saja cuek.
__ADS_1
"Yuk Al!" ajak Vicky sambil menarik lengan Alex, dengan malas Alex mulai beranjak mengikuti teman-temannya.
Hanya dalam waktu sepuluh menit mereka berhasil menemukan Jessica, kondisinya terikat di dalam gudang dengan mulut yang dibekap dengan plester, wajahnya lusuh dan pipinya basah bekas airmata, rambutnya juga berantakan.
Luna dan Erin segera menghambur memeluk Jessica yang masih terikat. Sementara Bima dan Sandi membukakan ikatan yang melilit tubuh Jessica, Alex dan Vicky mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada siapa pun, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan juga disana.
Fix, mereka di prank.
Setelah ikatannya terlepas, Jessica langsung berlari mendekati Alex. Sambil menangis ia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Alex, tapi Alex menyentaknya sebelum ia menempel ditubuh Alex.
"Gak lucu!!" bentak Alex geram.
Jessica, Luna dan Erin lantas terbelalak melihat perlakuan Alex. Alex kemudian melengos begitu saja meninggalkan mereka semua.
Jessica mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras, ia berteriak kesal.
... ______________...
Setelah mendaftarkan Kayla di sekolah baru, Om Iwan dan mami Kayla menjemput Kayla untuk makan siang di luar bersama. Kemudian mereka pergi ke mall untuk membeli perlengkapan sekolah Kayla.
... ....
... ....
... ....
Keesokan harinya, adalah hari pertama Kayla masuk ke sekolah barunya, dan hari pertama untuk mami Kayla masuk kerja di perusahaan baru yang kemarin ia datangi bersama kakaknya.
Beruntung mami Kayla diterima di salah satu perusahaan terbesar itu. Posisi yang ia dapatkan juga bagus, yaitu sebagai Foreman atau FM yang diantara tugasnya adalah mengontrol job pekerjaan yang dikerjakan oleh leader beserta jajarannya.
Mami Kayla yang sudah rapi dengan setelan kerjanya, tengah duduk di depan meja makan, bersiap untuk menyantap sarapannya. Tapi Kayla, sang putri belum juga muncul.
Kayla sedang berdiri di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Ia sudah rapi dengan seragam sekolah barunya, penampilannya cukup simple dan natural. Kayla hanya memakai bedak tipis, celak mata, dan lip gloss berwarna pink alami seperti warna bibir. Rambutnya dianyam kepang satu, dan poni yang menutupi keningnya. Tak lupa kacamata minusnya yang bertengger apik dihidungnya.
Setelah sarapan, ibu dan anak ini berangkat bersama tapi ke tujuan yang berbeda. Keduanya berjalan menuju halte untuk menunggu angkot, tapi Om Iwan datang lebih dulu sebelum mereka sampai ke halte. Om Iwan memang sudah berniat mengantar adik dan keponakannya itu dihari pertama mereka masuk kerja dan sekolah.
Om Iwan mengantar Kayla dulu ke sekolah barunya, karena memang lokasinya lebih dekat dibandingkan kantor tempat kerja mami Kayla.
Kayla di antarkan Om Iwan dan maminya sampai ke ruang kepala sekolah, untuk mengisi lengkap formulir dan data-datanya sebagai murid baru. Kemudian Om Iwan pamit untuk pergi mengantar mami Kayla ke kantor barunya. Kayla meraih tangan kanan maminya dan omnya itu dan mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Belajar yang giat ya, sayang" pesan Om Iwan sembari mengusap kepala Kayla. Kayla mengangguk.
... ....
... ....
... ....
"Selamat pagi bu.." jawab murid-muridnya serentak.
"Hari ini kita kedatangan murid baru" kata Bu Weni dengan senyum manisnya.
Para murid pun sibuk berbisik-bisik mendiskusikan tentang murid baru yang akan datang ke kelas mereka, membuat Bu Weni mendesis menenangkan murid-muridnya.
"Yuk masuk!" kata Bu Weni pada seseorang di balik pintu. Lantas semua mata para murid pun mengikuti arah pandangan wali kelas mereka itu.
Seorang gadis berponi dan rambut kepang satu serta berkacamata itu menengok ke dalam kelas, kemudian perlahan melangkahkan kakinya memasuki kelas barunya.
Beberapa orang diantara para murid perempuan di kelas itu ada yang menunjukkan wajah kecewanya, karena berharap si murid baru adalah seorang pria tampan. Ada juga yang menunjukkan ekspresi malas dan sombongnya ketika melihat murid barunya ternyata seorang gadis berkepang dan berkacamata yang terlihat culun, ada juga yang menanggapinya hanya dengan senyuman.
Terlihat dua siswi yang duduk dibagian depan saling berbisik dan tersenyum mengejek ke arah si murid baru.
"Silahkan perkenalkan diri kamu!" ucap Bu Weni, yang diangguki oleh si murid baru.
"Hai semuanya.." ucapnya canggung seraya tersenyum.
"Namaku Kayla Aurelly, aku baru pindah dari Bandung beberapa hari yang lalu. Senang bisa bersekolah disini dan bergabung di kelas kalian." tuturnya.
"Bukan murid bajakan kan?" tanya salah seorang murid laki-laki.
"Maksudnya?" tanya Kayla bingung, sambil melirik ke arah Bu Weni.
"Iya kali aja.. lu pinter dan bertalenta, trus lu jadi ditawarin beasiswa dan dipindah kesini" jawab si murid laki-laki itu santai.
Oh.. Kayla mengerti, maksudnya murid beasiswa?! Kayla menggeleng sambil tersenyum menanggapinya.
"Bukan kok, dia masuk sekolah ini karena emang dia baru pindah tempat tinggal." jawab Bu Weni memperjelas.
"Ooh..." jawab serentak sebagian murid yang tadi juga penasaran. Mungkin melihat penampilan Kayla yang nampak seperti gadis kutu buku, mereka jadi berpikir bahwa Kayla murid bajakan.
"Yasudah, silahkan duduk Kayla. Disana." kata Bu Weni mempersilahkan, seraya menunjuk ke sebuah bangku kosong di barisan tengah, disamping seorang siswi berambut ikal serta bertubuh gempal.
Kayla tersenyum mengangguk dan beranjak menuju tempat duduk barunya. Dua siswi yang tadi berbisik, kini salah satunya menyenggol lengan yang lainnya, seolah memberi isyarat yang hanya mereka berdua yang paham.
__ADS_1
Tempat duduk Kayla berjarak satu baris dari tempat duduk siswi yang berbisik-bisik tadi. Sehingga untuk menuju tempat duduknya, Kayla harus melewati siswi itu. Ia nampak tersenyum ke arah Kayla, Kayla pun membalas senyumannya.
Tiba-tiba...
Brrakkk!!
Kayla jatuh tersungkur tepat disamping siswi yang tadi tersenyum padanya. Kini ia jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas barunya, tapi ada juga diantara mereka yang bersimpati padanya. Seorang siswa berdiri didepan Kayla, ia menundukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya pada Kayla. Kayla mendongak menatapnya, kemudian menerima uluran tangannya.
"Sudah.. diam!" Bu Weni mulai emosi.
"Teman kena musibah kok diketawain" gerutu Bu Weni, membuat wajah para murid mematut.
"Dan kamu Luna, jangan ulangi lagi yang tadi!" Luna tersentak mendengar peringatan Bu Weni, ternyata ia ketahuan.
Iya, Luna yang tadi mengulurkan sebelah kakinya ke samping tepat ke hadapan Kayla yang akan lewat, sontak saja Kayla yang fokusnya ke senyuman Luna pun akhirnya terjatuh.
Luna melirik teman sebangkunya dengan wajah kesal, dialah yang tadi menyuruhnya melakukan keisengan itu, Jessica. Tapi Jessica malah mengedikkan bahunya acuh.
Setelah berterima kasih pada siswa yang membantunya berdiri, Kayla duduk di kursi kosong yang tadi ditunjukkan oleh Bu Weni.
Teman sebangkunya gadis berambut ikal serta bertubuh gempal itu tersenyum ke arah Kayla seraya mengulurkan tangannya.
"Hanania Wijaya, panggil aja Nia" ucapnya memperkenalkan diri
Kayla menyambut uluran tangannya
"Kayla" sahutnya singkat membalas senyuman teman pertamanya ini. Senang rasanya bisa mendapat teman baru di sekolah baru, dihari pertama masuk sekolah lagi. Sepertinya Nia ini orangnya asyik, pikir Kayla.
Pelajaran pertama pun dimulai. Kayla mengikuti pelajaran pertamanya dengan tenang dan senang hati. Sesekali dua siswi yang tadi saling berbisik, dan seorang siswi lagi yang duduk dibelakangnya, tepatnya di depan Nia, mereka melirik ke arah Kayla. Entah ada apa sebenarnya Kayla tidak mengerti, dan ia hanya mengabaikannya saja.
Triing... Triririiiing....
Bel istirahat berbunyi. Para murid berbondong-bondong keluar kelas. Nia mengajak Kayla makan di kantin, sekalian Nia ingin mengajak Kayla berkeliling sekolah untuk memperlihatkan pada Kayla setiap tempat yang ada di sekolah baru Kayla ini.
Di kelas XI IPS hanya tinggal tiga orang siswi yang tadi melirik ke arah Kayla, mereka masih betah duduk di kursinya masing-masing.
Jessica, Luna, dan Erin sedang merencanakan sesuatu.
"Mainan baru tuh, Jes" ucap Erin pada Jessica. Jessica menampakkan senyuman smirk nya.
"Enaknya kita apain nih..?" tanya Luna
"Lapor ke My Prince dulu lah.." jawab Jessica santai. My Prince maksudnya adalah Alex.
Jessica menyebutnya My Prince karena dia memang menyukai Alex sejak lama, bahkan pernah menyatakan perasaannya pada Alex, meskipun Alex belum menerimanya. Lebih tepatnya Alex tidak berminat menerimanya. Hahaa...
"Biar dia nanti yang nentuin sambutan buat murid baru yang culun itu." kata Jessica lagi melanjutkan. Mereka bertiga lalu beranjak keluar kelas.
Karena Alex tidak sekelas dengan mereka, jadi mereka harus memberi tahu Alex dulu bahwa ada murid baru di kelas mereka yang harus diberi sambutan, karena hal itu lah yang Alex dan teman-temannya suka lakukan.
... ....
... ....
... ....
Jessica CS menghampiri Alex dan teman-temannya yang sedang menikmati makanan mereka di kantin. Tanpa aba-aba ataupun izin, mereka bertiga duduk bergabung di meja Alex. Membuat para cowok itu menyelis ke arah mereka.
"Di kelas kita ada mainan baru loh, Al." kata Jessica buka suara.
Keempat cowok ini pun nampak tertarik dengan yang namanya mainan baru, itu sebutan mereka untuk murid baru. Karena setiap ada murid baru, mereka suka mengerjainya dan mempermainkannya. Itu yang biasa mereka sebut dengan sambutan untuk mainan baru.
"Cewek apa cowok?" tanya Vicky.
"Cewek." jawab Erin singkat.
"Cantik?" tanya Bima sambil menaikkan alisnya.
"Emangnya kenapa kalo cantik? Mau lu gebet? mainan baru ya tetap aja mainan." sergah Alex memprotes, membuat Bima memanyunkan bibirnya.
"Enaknya di apain nih, Al?" ujar Sandi nampak bersemangat. Alex terdiam berpikir, lalu ia menampakkan senyuman smirknya.
"Besok." ucap Alex singkat.
Tapi satu kata yang Alex ucapkan ini mampu merubah ekspresi wajah semua orang yang mendengarnya.
Why???
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... ....
... Bersambung...