
Kayla dan Alex duduk bersandar di kursi tunggu rumah sakit, tepatnya di depan ruangan bersalin. Keduanya terdiam, kilas balik kejadian yang mereka alami dari beberapa jam yang lalu hingga selesai beberapa menit lalu itu kembali memenuhi benak mereka. Masih begitu lekat di ingatan mereka sebuah pengalaman menegangkan yang baru pertama kali mereka hadapi itu.
Bagaimana tidak, dua orang remaja berbeda gender itu dihadapkan pada situasi tegang yang semestinya anak seusia mereka belum siap menghadapinya. Dan itu membuat mereka masih sulit mempercayai bahwa beberapa menit yang lalu mereka bisa melaluinya.
Alex melirik Kayla yang masih termenung diposisinya. Menyadari dirinya sedang ditatap, Kayla pun balas melirik Alex. Helaan nafas lega dan senyuman keduanya pun terlihat.
"Miss Kissable, rasanya kok aneh ya. Enggak tau kenapa hati aku tuh kayak ngerasa puas gitu loh bisa ngelewatin ini."
"Aku juga. Enggak ada yang aneh kok Al, kalo kita emang tulus berbuat baik, hati kita pasti ngerasa damai. Kayak sekarang ini."
"Aku bangga sama kamu Al!" ucap Kayla setelahnya.
"Kok bangga sama aku?" bingung Alex.
"lya. Kamu mau dampingin Alisa kayak tadi, bahkan kamu nunjukin simpati dan perhatian ke dia. Kamu baik banget Al, aku nggak nyesel minta kamu dampingin Alisa. Tapi maaf ya.. aku jadi nempatin kamu di situasi kayak gitu."
Alex tersenyum tipis. "Miss Kissable, ini pengalaman yang luar biasa buat aku. Aku masih nggak percaya kalo aku barusan abis nyaksiin orang lahiran, secara langsung didepan mata aku. Aku tegang banget, sumpah. Aku bahkan sampe ikutan mules tau!" Alex menggeleng-geleng sendiri.
Kayla terkikik geli. "Keliatan kok dari muka kamu, sekarang pun kamu masih ngerasa syok kan!"
"Hm." Alex mengerutkan kening dan bibirnya, kemudian tertawa geli.
"Dari pengalaman ini.. kita dapet pelajaran berharga juga kan Al" ucap Kayla kemudian mulai serius.
Alex lantas mengubah mimik wajahnya. "lya. Kamu benar"
"Pelajaran apa yang kamu dapet?" pancing Kayla bertanya.
"Ternyata cewek itu nggak selamanya lemah ya, dia bisa jadi lebih kuat dari cowok disaat-saat tertentu. Sekarang aku ngerti kenapa ada orang bilang the power of woman. Aku nggak abis pikir loh, Alisa yang aku liat bener-bener nggak berdaya tadi, bahkan hampir pingsan dia, ternyata masih bisa berjuang sampe akhir. Aku sempet ngira dia nggak bakal selamat."
"Kamu benar. Itu salah satu anugerah terbesar buat cewek. Menjadi seorang ibu itu istimewa Al, meskipun perjuangannya berat semua cewek pengen ngerasain jadi seorang ibu. Karena itu sebuah kebanggaan" ucap Kayla menerawang.
"Kamu juga pengen?"
"Hm."
Alex mengulum senyum, membuat Kayla mengernyit kesal melihatnya. "Apa, kamu ngetawain aku ya?"
"Enggak..." elak Alex.
"Kamu serius pengen ada di posisi kayak Alisa tadi? Aku nggak sanggup ngebayangin kalo itu kamu, Miss Kissable. Alisa yang nggak aku kenal aja aku sampe kayak kebakaran jenggot nyaksiinnya."
Kayla tertawa kecil. "Serius amat kamu Al"
"Semua cewek tuh pengen ngerasain jadi seorang wanita yang sempurna. Ya aku juga pengen dong, suatu saat nanti. Kalo sekarang ya aku belum siap lah!"
"Aku pikir pengen cepet." celetuk Alex, "Kalo kamu mau, aku bisa wujudinnya. Nikah aja sama aku!"
Kayla membulatkan matanya. Segampang itu dia ngajak nikah?! Ya, Kayla tahu dia sedang bercanda, tapi kata-katanya itu mampu membuat jantung Kayla berdebar-debar, dan merasa geli.
"Emm..Al, selain itu.. apa lagi pelajaran yang kamu dapetin dari pengalaman tadi?" Kayla kembali ke topik awal.
Alex nampak berpikir, cukup lama. Tiba-tiba Kayla melihat matanya berkaca-kaca, tidak tau apa penyebabnya.
"Al.."
Alex nampak terkesiap, ia terdengar menarik masuk air hidungnya.
"Apa kamu.. keinget mama kamu?" tanya Kayla hati-hati.
Degg
"Kok.. kamu tau?"
Kayla mengembangkan senyumnya. "Jangan pernah mikir kalo mama kamu enggak sayang sama kamu Al. Cinta seorang ibu itu udah hadir sejak kita hadir di dalam rahimnya, bahkan cintanya itu tanpa syarat. Sebelum dia ngeliat gimana rupa kita, kita sempurna ataupun cacat.. cintanya sama, Besar. Itu kenapa seorang ibu mampu berjuang melawan resiko nyawa sekalipun buat ngelahirin anaknya"
Alex kembali menarik cairan hidungnya yang terasa meleleh. la mendongak seraya menghela nafas untuk menahan air matanya yang akan keluar lagi. "Miss Kissable, apa mama aku juga gitu?"
Kayla mengangguk. "Pasti. Aku yakin."
Alex kembali termenung. Wajahnya kian terlihat gelisah. Kayla mengerti, Alex pasti tengah merenungi kesalahannya pada sang mama. Beban yang telah lama ia tanggung sendiri pasti tengah menyiksanya.
"AI..." Kayla meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan Alex.
"Lepasin beban kamu itu, jangan nyiksa diri kamu terus-terusan! Kamu sayang kan sama mama kamu, kamu juga sayang sama diri kamu sendiri, jadi akhirin semua rasa sakit itu, hapus jarak antara kalian, kamu bisa lakuin itu!"
Alex menatap mata Kayla lekat, ada keyakinan dan ketulusan di sana. Hati Alex menghangat menyimak penuturan Kayla, hati batunya kian mencair seiring kedekatannya dengan Kayla, dan kini.. tidak ada lagi kerikil-kerikil keegoisan di dalam hatinya. Kayla berhasil menyentuh hatinya begitu dalam, sampai ia merasakan sesuatu yang kian membuncah di dadanya, sebuah rasa yang tidak bisa Alex jelaskan, tapi rasa itu membuatnya lega sekaligus tertekan dalam waktu bersamaan, dan dia merasa bahagia sekaligus sakit dalam waktu besar pula. Rasa tertekan dan sakit mengingat perilakunya selama ini pada sang mama, rasa lega dan bahagia memiliki gadis lembut nan baik seperti Kayla disisinya.
"Temanin aku nemuin mama." tutur Alex mantap.
Kayla mengembangkan senyumnya seraya mengangguk. Niatnya.. setelah mereka menyapa Alisa, mereka akan berpamitan untuk pulang lebih dulu.
Sesaat setelah Kayla dan Alex masuk ke ruangan dimana Alisa ditangani, seorang suster yang sedang menggendong bayi Alisa mendekat ke arah mereka, bermaksud menyerahkan bayi itu pada Alex.
__ADS_1
"Eh eh, enggak!" tolak Alex cepat dengan kedua telapak tangan yang ia angkat kedepan dada.
"Yang bener aja sus, masa' saya disuruh gendong tuh bayi merah. Tulangnya aja masih lembek." ujar Alex lagi.
"Azanin dulu dek!" pinta Dokter.
"Hah?!" Alex menoleh ke arah Kayla, dan gadis itu mengangguk. Alex bingung sendiri.
Setelah suster meletakkan bayi Alisa di box bayi, dan mempersilahkan Alex untuk mengumandangkan azan di telinga bayi itu, suster pun pergi. Dokter dan para suster yang lainnya juga sudah selesai membersihkan Alisa, mereka pergi setelahnya. Tinggal lah Alex, Kayla, si bayi dan Alisa sendiri yang masih belum siuman.
"Miss Kissable.."
"lya?"
Kayla mengerti maksud Alex. "Ayo Al, azanin!"
"Tapi aku.."
"Al, kasian anak ini. Dia udah lahir tanpa ayah, jangan sampe Alisa sedih karena kamu nggak mau azanin anaknya."
"Bukan, aku bukannya nggak mau. Tapi.."
"Tapi apa? Ayo Al, enggak enak kalo Alisa liat kita debat kayak gini" Kayla melirik Alisa yang masih menutup rapat matanya.
"lya. Tapi.."
"Ada masalah apa?" tanya Kayla akhirnya, membuat Alex mendengus panjang seraya menunduk.
"Masalahnya.. aku nggak hafal lafaz azan." ucapnya lirih serta sungkan, mendengarnya membuat Kayla mendengus tawa geli.
"Ya ampun.. kenapa nggak ngomong dari tadi!" Kayla masih tertawa sambil menutup mulutnya, sedangkan Alex cemberut gemas melihat Kayla yang menertawakannya.
Tiba-tiba Alex tersenyum miring, terbesitlah niat jahil dibenaknya. la maju mendekatkan wajahnya pada Kayla, membuat wajah Kayla seketika memerah malu sekaligus kaget. Tawa Kayla pun lantas terhenti.
"Aku butuh solusi, sayang" ucapnya sensual di dekat wajah Kayla.
Kayla menelan salivanya gugup, ia lantas mundur dua langkah dan menahan bahu Alex agar tidak lebih mendekat. Kemudian suara lenguhan kecil terdengar dari arah belakang mereka, membuat mereka kembali ke posisi semula mereka berdiri. Ternyata itu suara Alisa, yang baru siuman.
"Gimana, kamu udah ngerasa enakan?" tanya Kayla menyapa.
Alisa tersenyum, air mata harunya kembali menguar. "Terima kasih..."
la melirik Alex dan Kayla, kemudian melirik makhluk mungil yang berada dekat dengannya, tepat di sebelah kanan ranjangnya.
"Terima kasih..."
Kemudian Kayla memperlihatkan layar ponselnya pada Alex, dan memintanya untuk mengazani bayi Alisa. Alex mengerti isyarat Kayla, lantas ia mengklik aplikasi browser untuk mencari lafaz azan di sana. Setelah lafaz azan muncul di layar ponsel, Alex mengumandangkan azan untuk bayi Alisa.
Alisa semakin terharu, meski ada luka dan penderitaan di dalam matanya, tapi menyaksikan kebesaran dan kasih sayang Tuhan padanya hari ini, ia sangat bersyukur. Disaat paling penting dalam hidupnya, orang-orang terdekatnya tidak berada disampingnya, tapi Tuhan mengirimkan dua manusia berhati malaikat ini untuknya. Mereka berdua mendampinginya layaknya saudara yang penyayang. Alex mengumandangkan azan di telinga kanan bayi Alisa, dan mengumandangkan iqomat di telinga kirinya, sesuai anjuran syari'at, juga instruksi Dokter tadi.
Seluruh biaya rumah sakit Alisa, Alex yang menjaminnya. Alisa begitu bersyukur ditengah kesusahan yang ia hadapi ini masih ada orang yang peduli padanya. Setelah diusir oleh keluarganya karena dianggap membawa aib, dan ia dicampakkan oleh pacarnya, Alisa menjalani kehidupan yang berat tapi dia tetap mempertahankan bayinya. Dia sempat menyerah dan ingin mengakhiri hidupnya, tapi kemudian dia kembali tersadar akan kehidupan yang tengah bergantung padanya. Akhirnya dia bertahan, dan sekarang dia sangat bahagia karena telah menjadi seorang ibu.
"Alisa, maaf ya kita harus pulang" ucap Kayla akhirnya, setelah mereka berbincang-bincang cukup lama.
"lya. Sekali lagi terima kasih ya, Kayla, Alex!" Keduanya mengangguk.
"Jaga diri lu, kalo lu butuh sesuatu hubungin aja kita." kata Alex sambil memberikan secarik kertas kecil yang sudah tertulis nomer hpnya.
"Terima kasih, aku nggak tau lagi harus gimana ngebalas kebaikan kalian."
"Enggak usah dipikirin. Pikirin aja kesehatan kamu sama anak kamu!" sahut Kayla.
"Sebelum kalian pergi, apa boleh aku minta sesuatu sama kalian? Satu aja.."
"Kalo kita bisa, pasti kita lakuin. Enggak usah sungkan, elu mau apa?" tawar Alex, membuat Kayla tersenyum padanya.
"Aku pengen.. kalian ngasih nama buat anakku"
Alex dan Kayla saling melirik. "Kenapa kita?" tanya Alex.
"Aku pengen anakku nanti punya hati yang baik kayak kalian, dan aku pengen dia selalu mengingat kalian seumur hidupnya, lewat nama yang kalian kasih. Dan aku juga pengen menghormati kalian dengan cara ini, aku harap kalian nggak keberatan."
"Kamu berlebihan Alisa, kita sesama makhluk kan emang harus saling menolong. Kita juga bersyukur loh dengan pengalaman ini, kita bisa dampingin kamu disaat-saat terpenting dalam hidup kamu. Kita pasti penuhin keinginan kamu" ujar Kayla sambil melirik Alex dan Alisa bergantian.
"Terima kasih..." tidak tahu harus berapa kali Alisa berterima kasih pada mereka berdua, rasanya sejuta ungkapan itu pun tidak pernah cukup baginya untuk mewakili perasaan luar biasa dihatinya.
Kayla dan Alex saling menatap dalam, mereka berdiskusi lewat tatapan itu. Sebuah nama untuk putri cantik Alisa, rasanya sulit untuk mereka dapatkan. Karena soal ini belum pernah terlintas dalam pikiran mereka sedikitpun. Tapi melihat mereka berdua, Alisa yakin menyerahkan keputusannya memberi nama untuk bayinya. Setelah beberapa menit saling menatap dengan sorot mata yang berdebat, keduanya mengangguk serentak dan melihat ke arah bayi mungil yang tengah asik dalam lelapnya itu.
"ALIKA" ucap keduanya serentak dan mantap, namun satu kata itu juga membuat keduanya saling menatap takjub.
"Alika." gumam Alisa seraya mengangguk.
Kayla dan Alex saling melirik sekali lagi dan tersenyum. "Elu bisa tambahin nama belakangnya." ujar Alex.
__ADS_1
"lya. Terima kasih..." ucap Alisa haru.
Setelah berpamitan pada Alisa, Kayla dan Alex mencium bayi mungil itu sebelum pergi. Dan Alisa tidak berhenti berterima kasih pada mereka berdua, juga pada Tuhan yang telah begitu baik kepadanya.
... ___________________...
Pukul 22.45, hari mulai larut malam. Rencana awal, mereka harusnya sampai dirumah masing-masing sebelum petang. Tapi karena menolong Alisa dan menemani persalinannya, jadilah kini Alex dan Kayla baru sampai di komplek tempat tinggal Kayla.
Mami langsung keluar saat mendengar suara mobil Alex, mami khawatir karena Kayla pulang terlambat dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Tapi setelah melihat putrinya baik-baik saja, mami pun lega.
"Maaf Tante, saya baru bisa nganterin Lily" ujar Alex setelah mencium tangan mami.
"Kemana aja sih.. mami khawatir tau!"
"Nanti Lily ceritain, kita masuk dulu yuk!" kata Kayla sambil mengelus bahu mami, mencoba menenangkan.
"Mampir dulu nak Alex!"
"Enggak usah Tante, lain kali aja. Ini udah malam, kalo saya mampir dulu, bisa-bisa saya sekalian nginep disini dong, ntar Lily cemberut lagi"
"Apa sih!" sewot Kayla.
Mami dan Alex lantas tertawa kecil. Belum apa-apa, Kayla sudah cemberut.
"Yaudah, makasih ya udah nganterin Lily" ucap mami.
Alex mengangguk kemudian berpamitan.
... ___________________...
Setelah menidurkan kedua putrinya, Vanessa duduk di balkon kamarnya sambil menatap langit malam. Semilir angin malam yang dingin menerpa, membuat Vanessa sedikit bergidik. Sembari mengusap-usap lengannya dan kedua tangannya, Vanessa merenung. la selalu melakukan ini hampir setiap malam, perasaan yang ia utarakan dan air mata yang ia tumpahkan, hanya disaksikan oleh langit malam dan dibawa terbang oleh angin malam yang dingin. Keheningan malam lah yang menjadi teman setianya selama beberapa tahun terakhir.
Selain kepada sang suami, ia tidak pernah berbagi kisah dan perasaannya. Dan ketika sekarang sang suami yang ia cintai tidak lagi berada disisinya, hanya keheningan malam lah yang menjadi tempat curhatnya. Tentang masa lalunya, tentang masa kini nya, dan tentang semua yang ia alami dalam hidupnya. Suka dan duka, tangisnya maupun kebahagiaannya, semua ia ekspresikan sendirian bersama langit malam yang menyejukkan pandangannya. Menatap langit itu, rasanya ia menyaksikan kembali rekaman kisah hidupnya.
Vanessa tidak bisa berhenti memikirkan tentang sebuah nama. Sebuah nama dari seseorang yang begitu ia rindukan, yang wajah dan suaranya tidak pernah hilang dalam ingatan Vanessa. Bahkan di setiap helaan nafas Vanessa ada namanya, setiap Vanessa menutup mata selalu nampak wajahnya. Ketika Vanessa merindukannya, maka ia akan memandangi foto masa kecil orang itu dan membayangkan melihat rekaman tentangnya di langit malam. Seperti yang malam ini Vanessa lakukan.
Di atas sana, Vanessa seolah melihat seorang anak laki-laki yang sedang bermain dan tertawa bahagia bersama ibunya. Mereka bermain seharian sampai sang anak kelelahan, kemudian ia akan tertidur dipangkuan sang ibu. Kemudian ketika sang anak tumbuh lebih besar, ia mulai merasa memiliki jarak dengan sang ibu yang selalu sibuk. Setiap hari ia menunggu sang ibu pulang, sampai ia menahan kantuknya ketika sang ibu belum pulang hingga malam. la enggan untuk tidur sebelum dielus kepalanya oleh sang ibu. Sang ibu yang begitu tidak peka itu malah memarahinya ketika pulang, lantaran mendapati anaknya belum tidur dan masih bermain hingga malam.
Hingga sang anak merasa benar-benar jauh dari sang ibu, dan merindukan kasih sayang sang ibu yang semakin tidak peduli padanya. Suatu malam sang anak merengek pada ayahnya ketika ia tidak bisa tertidur.
"Aku mau mama.. aku mau tidur sama mama, pa..!"
"Sama papa aja yah, ini udah malam banget sayang, mungkin mama masih lama pulangnya, masa' kamu mau nunggu mama sampe pagi. Hm?" bujuk sang papa.
"Enggak pa.. pokoknya aku enggak bisa tidur kalo enggak dielus sama mama."
"Eh.. sayang. Kamu kan udah besar, masa' mau tidurnya dielus sama mama terus. Ntar kalo mama pulang pasti mama capek, jadi mendingan anak papa yang pinter ini tidur duluan, biar mama nanti kalo pulang bisa langsung istirahat, ya!"
Akhirnya sang anak mengangguk pasrah dan mau mencoba untuk tidur. Tapi sebelum ia benar-benar tertidur, ia mendengar suara langkah kaki sang mama. Alhasil matanya yang sudah terpejam pun lantas melek lagi dan bergegas berlari menghampiri sang mama.
"Mama..!" serunya semangat sambil memeluk sang mama.
Dengan malas dan wajah lelah, sang mama membalas pelukannya. "Mama kan udah bilang, enggak usah nunggu mama. Tidur aja sendiri, kamu udah besar!"
Sang anak lantas menatap mamanya yang terlihat kesal dan mengomel. Wajah cerianya berubah menjadi murung, matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap mengungkapkan keinginannya.
"Aku mau tidur dielus sama mama."
"Mama capek"
"Tapi aku maunya dielus samma mama.. ya! Sebentar aja, aku udah ngantuk kok ma."
"Yaudah kalo ngantuk langsung merem aja." sahut sang mama acuh. Kemudian berlalu melewati anaknya.
"Ma..." rengeknya sambil menarik ujung baju mamanya, tapi diabaikan oleh sang mama.
"Mama..." ulangnya lagi.
Dengan kesal sang mama berbalik seraya membentak, "ALEX!!"
"Nes!" sergah papanya yang tiba-tiba muncul di belakang anaknya.
Sang anak yang terkejut pun sontak mundur dan menggenggam tangan sang ayah.
Penglihatan Vanessa nanar menatap langit yang sudah selesai menampilkan rekaman masa lalunya itu. la kembali tertegun setelahnya, sama seperti malam-malam sebelumnya. Matanya yang sudah berkaca-kaca itu pun tidak menunggu aba-aba lagi untuk menumpahkan genangan beningnya. Vanessa menarik cairan hidungnya sembari bulir-bulir bening itu mengalir membasahi pipinya.
... ....
... ....
... ....
... ....
__ADS_1
... Bersambung...